KEDATANGAN
Oslo,
Norwegia, 10 Oktober 2010, 22:00. Di sebuah gang yang gelap ada
dua-tiga orang gelandangan di dekat tempat sampah, dua orang tidur di
dekat tong sampah sementara yang seorang lagi sedang mengais tempat
sampah. Gelandangan yang ternyata wanita tua itu menemukan sebungkus
roti bekas digigit, tanpa pikir panjang gelandangan wanita itu
bersiap-siap untuk memakannya. Tetapi belum sempat dia memasukkannya
ke dalam mulut, secercah cahaya yang sangat menyilaukan mendadak
muncul di belakangnya. Dari dalamnya keluar dua orang berjubah
compang-camping, seorang menabrak tembok hingga temboknya retak
sementara yang satu lagi menabrak punggung orang tersebut hingga
temboknya hancur. Tidak lama kemudian dari dalam muncul sesuatu
seperti nyamuk dari dalam cahaya hanya saja ukurannya sama dengan
seekor kucing dewasa, beberapa dari makhluk itu terbang mengapung di
hadapan gelandangan wanita yang baru saja memakan roti dari tempat
sampah tersebut. Perlahan dia menoleh ke belakang bersamaan dengan
lenyapnya cahaya yang menyilaukan dan membuka mulutnya sedikit ketika
melihat apa yang dia lihat, seekor dari mereka melihat dengan matanya
yang bersinar kehijauan. Dalam pandangan nyamuk itu, tampak seperti
layar monitor. Sambil menganalisa orang tersebut, dalam pandangannya
muncul tulisan dalam bahasa yang aneh.
Subyek:
Manusia (anonim)
Pekerjaan:
Pengangguran. Saksi mata. (saat ini)
Ancaman:
10%.
Solusi:
Musnahkan di tempat.
Nyamuk
itu bersiap-siap untuk menyerang, dari dalam tubuhnya muncul sesuatu
seperti moncong pistol dari wajahnya. Sang gelandangan wanita mencoba
untuk membangunkan temannya yang tidur di sebelah tong sampah, tetapi
dia baru menyadari bahwa kedua orang tersebut sudah tidak ada. Dia
sedikit menitikkan air mata karena ketakutan, moncong pistol yang
akan ditembakkan serangga tersebut bersinar kekuningan pertanda akan
menembak. Gelandangan itu kemudian menutup mata, dalam hitungan detik
kemudian terdengar bunyi tembakan. Gelandangan itu masih menutup mata
saking ketakutan, tapi perlahan dia membuka matanya dan melihat
serangga itu sudah tidak ada di hadapannya. Kemudian dia menoleh ke
arah kanan, dia tersadar ketika melihat tembok yang berlubang karena
dua orang yang barusan bertabrakan. Dari dalamnya keluar sedikit
asap, ternyata ada seseorang yang baru saja menembak dari dalam
lubang itu. Seorang berjubah compang-camping keluar dari dalam, di
tangan kirinya ada semacam pistol yang mengeluarkan asap. Sang
gelandangan kini mundur menjauhi lubang tembok dan tak sengaja
menginjak sesuatu, gelandangan itu malah pingsan begitu melihat ke
bawah. Ternyata itu adalah nyamuk yang baru saja ditembak orang
tersebut, tubuh nyamuk itu mengeluarkan sedikit percikan api dan
ternyata nyamuk itu sendiri adalah robot. Kini orang berjubah itu
melepaskan jubahnya, sebagai gantinya berdiri seorang pria
bertelanjang dada dan hanya memakai celana ketat sampai ke lututnya.
Dari dalam bayang-bayang, kepalanya tertutup semacam helm yang
bentuknya tidak jelas. Dia perlahan berjalan menuju lubang di tembok,
pria itu melepas helm yang dipakainya. Tapi wajahnya sendiri tak
terlihat dalam kegelapan, terdengar suara langkah kaki yang berat.
Orang bertubuh besar dan berjubah keluar sambil membawa dua orang
gelandangan yang tadi berada di dekat tempat sampah dalam kondisi
masih tertidur dengan kedua tangannya, mereka berdua mulai berbicara.
?:
“Kenapa tadi kau melepaskan genggaman tanganku saat perjalanan?
Lihat apa yang telah kau perbuat!”
??:
“Diam! Bukankah kau salah satu bagian dari mereka?!”
?:
“Tidak, itu tidak benar! Walaupun begitu berikan alasan kenapa aku
mau membebaskanmu saat kau sedang dioperasi?!”
??:
“Kau mau aku membawamu ke tempat kediaman kami bukan?! Aku takkan
mau melakukannya!”
?:
(mendesah) “Hei, kalaupun kau mau pulang percuma saja, ini bukan
zamanmu, Francis.”
Francis:
“...kau bahkan tahu namaku, apalagi yang kau tahu dariku?”
?:
(melihat ke belakang) “Ng, bisa kau tanyakan itu nanti? Ada masalah
yang belum selesai.”
Tiga
sampai lima robot nyamuk terbang mengapung di belakang Francis, dia
sendiri menoleh ke belakang dan memandangi mereka satu persatu. Robot
nyamuk itu menganalisa keempat orang yang berada di hadapan mereka,
orang asing di belakang Francis meletakkan perlahan-lahan kedua
gelandangan itu ke tanah. Dalam pandangan robot nyamuk, mereka hanya
terlihat seperti bayangan.
Subyek:
Professor. Uchida Tomizawa.
Pekerjaan:
Peneliti dan Pengembang Organisme Cyber, Mantan Kepala Penelitian
Laboratorium Alterion Cabang Asia ke 5.
Kesalahan:
Membelot Pemerintahan Alterion, Melarikan Subyek Percobaan Nomor M46
N4120 K, Mengakses dan mendownload secara ilegal 'Proyek Rahasia'
melalui komputer utama.
Ancaman:
65 %
Subyek:
Francis Zero alias Subyek Percobaan M46 N4120 K
Pekerjaan:
Pemberontak
Kesalahan:
Menyusup ke dalam Benteng Pertahanan Alterion Cabang Amerika,
Menghancurkan Laboratorium Alterion Cabang Afrika ke 3 dan 5.
Ancaman:
45 %
Subyek:
Manusia (anonim)
Pekerjaan:
Pengangguran
Ancaman:
2%
Solusi:
Hancurkan pembelot di tempat, bawa kembali otak pembelot seutuhnya
jika memungkinkan, mengembalikan Subyek Percobaan M46 N4120 K ke
Laboratorium Alterion Cabang Eropa ke 3.
Francis:
“Untuk kali ini aku setuju, setelah ini kau harus jelaskan semuanya
padaku.”
Uchida:
“Yokai (ok), biar aku amankan mereka dulu, akan kubantu setelah
itu.”
Mendadak
salah satu robot nyamuk itu mengeluarkan sebilah jarum panjang dari
wajahnya dan langsung menyerang Uchida, dengan sigap dia menepuknya
dengan kedua telapak tangannya yang besar dan dilapisi besi.
Uchida:
“Semudah menepuk nyamuk.”
Dia
langsung memanggul kedua gelandangan itu ke dalam lubang, sementara
baku tembak terjadi di antara Francis dan robot nyamuk. Kini di gang
sempit itu banyak beterbangan sinar laser warna merah dan biru,
Francis langsung berguling menuju gelandangan wanita yang tadi
pingsan dan memapahnya sambil menembakkan pistol laser. Dua di antara
mereka hancur terkena tembakan, satu dari mereka terbang berdesing
menuju Francis dan menggores kaki kirinya. Francis berhenti sejenak
sambil menahan sakit, Uchida langsung keluar dan menembakkan peluru
dari jari-jari di tangan kanannya. Tembakannya mengenai talang air
dan membuatnya jatuh menimpa satu robot nyamuk, kini yang tersisa
tinggal satu dan terbang berputar-putar di atas mereka. Uchida dan
Francis mencoba membidik, tapi robot itu kemudian terbang zigzag.
Uchida:
“Francis, jangan seenaknya menembak! Bisa-bisa kau mengenai gedung
dan reruntuhannya bisa menimpa kita!”
Francis
memandangi gelandangan wanita kemudian melihat robot yang tadinya
hancur tertembak, dia sedikit kaget karena melihat salah satu robot
yang seharusnya dia tembak hancur masih bisa bergerak. Walau hanya
kepalanya saja, kepala itu bergerak dan menggelinding menuju Francis.
Terpikir sebuah ide gila, mendadak Francis berdiri dan mengangkat
sang gelandangan dengan kedua tangannya dan melemparnya ke arah
Uchida. Dia langsung gelagapan melihat tindakan Francis, hasilnya
gelandangan itu menimpa Uchida dan membuatnya jatuh. Kini kepala
robot nyamuk itu hampir mendekati Francis di belakangnya, kemudian
kepala itu menggelinding dan mendadak meloncat menerjangnya. Tak
disangka Francis berbalik dan menangkap kepala robot itu dengan
tangan kanan, kepala itu langsung memuntahkan semacam cairan kuning
ke kepalanya dan dengan sigap dia menghindar. Pandangannya kini
tertuju pada robot nyamuk yang sedari tadi terbang ke sana kemari,
kali ini sang robot mengeluarkan jarum dari mulutnya dan langsung
terbang menyerang dari kejauhan. Sambil memegangi kepala robot dan
melempar-lemparnya dengan satu tangan seperti bola kasti Francis
menyipitkan mata, kemudian dia mengambil ancang-ancang dan
melemparkan kepala itu langsung menuju robot nyamuk yang terbang.
Dalam hitungan detik keduanya bertabrakan dan menghasilkan ledakan
kecil, sisa-sisanya berjatuhan di hadapan Uchida yang baru saja
berdiri.
Uchida:
“Naka naka yaru janai.” (tidak buruk juga)
Francis
kini berjalan menuju Uchida, wajahnya yang tidak terlihat oleh
bayang-bayang kini terlihat jelas, rambutnya merah dengan sedikit
warna perak pada poninya. Ada codet di pelipis kirinya, hidungnya
pesek, alis tipis, dan sedikit berjanggut. Wajahnya tampak terlihat
kesal ketika memandangi Uchida, dia langsung menodongkan pistol ke
wajahnya. Tapi kini dia membalikkan pistol sehingga posisi gagang
berada di depan wajah Uchida dan moncongnya dipegang Francis, dia
memberi isyarat dengan kepala untuk mengambil pistol itu. Tanpa
ragu-ragu Uchida mengambil pistol dan langsung meremas dan
menghancurkannya dengan kedua tangannya yang besar, Francis sendiri
terkejut dan memegang kerah bajunya.
Francis:
“Apa yang kau lakukan?!”
Uchida:
“Dengan begini kau tak perlu melukai siapapun.”
Francis:
“Apa maksudmu 'melukai'? Mereka itu mesin, lebih tepat
'menghancurkan'.”
Uchida:
“Tidak, kita tak memerlukan benda seperti itu di zaman ini. Dan
lebih baik kau lepaskan tanganmu dariku dan bantu aku membereskan
semua kekacauan ini, itu jika kau masih membutuhkan penjelasan.”
Selama
beberapa detik Francis hanya diam memandangi Uchida dan akhirnya dia
melepaskan cengkeramannya dan berbalik membelakanginya, Uchida
mengambil nafas lega dan masuk kembali ke dalam lubang.
Beberapa
saat kemudian Uchida menidurkan ketiga gelandangan di sebelah tong
sampah, sementara Francis baru saja selesai menumpuk rongsokan dari
robot yang dia hancurkan. Uchida mengeluarkan sebuah tas dari balik
jubahnya dan berjalan menuju rongsokan yang Francis kumpulkan, dia
sekarang mengeluarkan semacam alat kecil. Alat itu kemudian
diletakkan di hadapan Francis, setelah itu Uchida meremas-remas
kumpulan rongsokan itu menjadi sebuah bola dengan tangannya yang
besar. Rongsokan itu kemudian diletakkan di atas alat tersebut, lalu
Uchida mulai menekan salah satu tombol di alat yang dia keluarkan.
Rongsokan yang diletakkan di atasnya kemudian mengambang dan
sedikit-sedikit diremukkan oleh suatu gelombang, kini rongsokan itu
telah mengecil menjadi seukuran bola pingpong dan langsung masuk ke
dalam alat tersebut.
Uchida:
“Minggirlah, kau menghalangi lubangnya.”
Francis
minggir ke kanan sedikit, Uchida memberi isyarat dengan kepalanya
untuk minggir ke kiri. Kini dia kembali menghalangi lubang, Uchida
memberi isyarat sekali lagi dengan kepala agar dia minggir ke kiri
dua kali. Dua langkah ke kiri Francis berjalan, kali ini Uchida
berdeham keras. Francis langsung berlari ke arah kiri, Uchida
mengangguk dan menekan tombol warna biru di alatnya dan sekarang alat
itu menembakkan sinar biru ke lubang di tembok. Bebatuan yang
merupakan bagian-bagian dari tembok terbang mengapung dan melesat ke
lubang, semua terjadi dengan cepat hanya dalam hitungan detik.
Kilatan cahaya yang menyilaukan mata membuat Francis menutup matanya
kecuali Uchida, Francis membuka mata dan dia melihat tembok yang
tadinya berlubang besar kini menutup tanpa ada bekas.
Uchida:
“Nah, karena sudah diperbaiki, mari kita bicara.”
Francis:
“...bukannya kiri dan kanan sama saja.”
Uchida:
“...kita mau berbicara atau berdebat? Jangan ungkit masalah sekecil
itu."
Francis: "Lalu bagaimana dengan mereka?" (melihat gelandangan)
Uchida: "Mereka hanya kubuat tidur, begitu bangun nanti mereka akan mengira itu hanya mimpi. Pertama-tama, namaku adalah Uchida, Tomizawa Uchida. Dan karena aku sudah tahu siapa kau, kau tak perlu memperkenalkan dirimu.”
Francis: "Lalu bagaimana dengan mereka?" (melihat gelandangan)
Uchida: "Mereka hanya kubuat tidur, begitu bangun nanti mereka akan mengira itu hanya mimpi. Pertama-tama, namaku adalah Uchida, Tomizawa Uchida. Dan karena aku sudah tahu siapa kau, kau tak perlu memperkenalkan dirimu.”
Francis:
“Aku pun tak sudi memberitahukan namaku padamu.”
Uchida:
“Baiklah, seperti yang kau ketahui, aku baru membebaskanmu ketika
kau sedang dioperasi menjadi cyborg. Saat ini kau sudah menjadi
manusia cyborg, kau beruntung aku bisa menghentikan mereka saat akan
mencuci otakmu.”
Francis:
“Apa kau sendiri sama denganku?”
Uchida:
“Aku? Yah memang tubuhku sendiri sudah dijadikan cyborg, tapi aku
lakukan ini sendirian.”
Francis:
“Kurasa aku harus berterima kasih padamu, sebab jika kau terlambat
sedikit saja mungkin aku sudah dijadikan sesuatu yang lebih buruk.”
Uchida:
“Seburuk apa maksudmu?”
Francis:
“Hmm, bagaimana aku menjelaskannya? Jika dibandingkan denganmu, kau
jauh lebih buruk.”
Mendadak
Uchida menyerang dan mencekik leher Francis sampai tembok yang
barusan diperbaiki menjadi retak, Francis memegang tangan kanan
Uchida yang membuat seluruh lengannya tersingkap. Di sekujur
lengannya ada beberapa kabel yang keluar dari kulitnya, tudung
jubahnya tersingkap.
Uchida:
“Apa kau bilang?!”
Yang
terlihat bagi Francis sekarang adalah seorang pria dengan ubun-ubun
yang dilapisi besi, ada semacam lensa di mata kanannya, mata kirinya
sipit, hidungnya besar, tidak punya telinga, tidak memiliki bibir
sehingga yang terlihat hanya giginya.
Francis:
“Kau sudah dengar perkataanku tadi... uhuk..., kau lumayan kuat
juga.”
Uchida
melepaskan cengkeramannya dari leher Francis, kini dia membantunya
berdiri.
Uchida:
“Jika kau manusia biasa, lehermu pasti sudah patah. Penampilanku
sekarang bukanlah kemauanku, dulu aku pernah mengalami kecelakaan.
Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membuatku tetap hidup, wajahku
pasti tidak akan jadi seperti ini kalaupun sejak saat itu ada cara
lain.”
Francis:
(meraba-raba telapak tangan sampai tubuhnya sendiri) “Tapi
kelihatannya tubuhku biasa saja, (melihat ke dalam celana) masih
ada.”
Uchida:
“Bisa tolong jangan buka bagian itu?”
Francis:
“Baiklah... uhuk... bisa beritahu aku di mana kita sekarang?”
Uchida:
“Kita berada di Oslo, Norwegia, tanggal 10 Oktober 2010, jam 10:23
malam.”
Francis:
(diam sejenak) “Bung, apa ada yang salah dengan kepalamu?”
Uchida:
“Kepalaku baik-baik saja, dan semua yang aku katakan adalah benar.
Ah tunggu, sebelum masuk ke mesin tadi sepertinya aku telah
mengatakan itu kepadamu.”
Francis:
“Yang kuingat setelah kau membebaskan diriku, kau langsung
memakaikan jubah kepadaku dan membawaku ke semacam alat teleportasi
dan mengirim kita semua ke sini.”
Uchida:
“Kalau begitu biar kuingatkan sekali lagi.”
Uchida
menempelkan jempolnya ke dahi Francis, mendadak dia merasa seperti
disetrum dan badannya kejang-kejang. Dalam kepalanya muncul
ingatan-ingatan yang samar-samar, ingatan saat dia dibawa lari dari
laboratorium dalam keadaan teler. Dalam ingatannya dia dipapah ke
dalam sebuah ruangan secara terburu-buru oleh Uchida, dia mendudukkan
dan menyandarkan Francis ke dinding. Uchida melihat secara
sembunyi-sembunyi dari balik dinding, ada dua orang ilmuwan
mengoperasikan suatu mesin. Kemudian dia menghampiri Francis dan
mengatakan sesuatu kepadanya, dia memegangi kepala Francis yang masih
memakai helm.
Uchida:
“Hei, beritahu namamu.”
Francis:
“Zero... Francis...”
Uchida:
“Francis Zero? Ini berapa?” (mengacungkan tiga jari)
Francis:
“Tiga... sembilan..., ah aku tak peduli.”
Uchida:
(bahasa Jepang) “Sepertinya kau masih lemah setelah operasi tadi,
tapi paling tidak kau bisa mendengarku. Dengar Francis, kita akan
pergi dari tempat ini. Tapi itu bukan berarti kau bebas, kau harus
membantuku.”
Francis:
“...apa?”
Uchida:
(bahasa Jepang) “Di balik dinding tempat kau bersandar adalah
sebuah mesin waktu, memang sulit dipercaya. Tapi percayalah,
tekhnologi ini sendiri sudah ada sejak 300 tahun yang lalu dan
dikembangkan oleh suatu kekuatan yang tak dikenal di masa lalu.
Kekuatan inilah yang mendukung pemerintahan Alterion sampai sekarang,
karena itu kita akan pergi ke masa lalu dan...” (ditampar Francis)
Francis:
“Kau... terlalu banyak bicara..., langsung saja kita pergi.”
Uchida:
(jengkel) “Terserah kau saja. Ng?” (bahasa Jepang)
Di
belakang Uchida sudah berdiri sesosok robot yang besar, menodongkan
senjata seukuran meriam. Mendadak dinding ruangan mesin waktu
meledak, membuat kaget ilmuwan-ilmuwan yang ada di dalam. Beberapa
serpihan besi terlempar ke hadapan mereka, samar-samar mereka melihat
sesosok bayang-bayang dari balik asap ledakan. Kini sosok itu
terlihat jelas, Uchida berdiri di atas robot yang tadi menodongnya
sambil memapah Francis. Robot itu sendiri kepalanya hancur dan
tubuhnya berlubang, salah seorang dari ilmuwan itu langsung mengambil
tindakan dengan mencoba menekan tombol alarm. Uchida tak tinggal
diam, dia mencabut salah satu bagian dari robot yang dia hancurkan
dan melemparnya pada sang ilmuwan. Usahanya berhasil, besi yang
dilemparkan menusuk tangan sang ilmuwan sebelum sempat menekan
tombol. Sementara itu ilmuwan satunya sedang berusaha mematikan mesin
waktu, Uchida langsung memanggul Francis dan berlari menendang perut
sang ilmuwan. Kini Uchida mencoba mengoperasikan mesin tersebut,
menekan secara acak tombol-tombol yang ada di keyboard. Sebuah portal
terbuka di depan mereka, Uchida segera beranjak dari tempatnya menuju
portal tersebut. Namun belum sempat dia melangkah, punggungnya
ditembak oleh ilmuwan yang ditendang Uchida. Dia langsung jatuh
berlutut memegangi punggungnya, Francis sendiri lepas dari pegangan
dan jatuh terlentang. Ilmuwan itu berdiri menodongkan pistol laser di
belakang kepala Uchida, dia meringis kesakitan dan menoleh ke
belakang. Ketika sang ilmuwan akan menekan pelatuk pada pistol,
mendadak sebuah pukulan melayang ke wajahnya. Pukulan yang berasal
dari Francis yang sudah berdiri tegak dengan wajah kaget, dia melihat
ilmuwan yang rahangnya lepas karena pukulannya. Uchida yang baru saja
memulihkan punggungnya berdiri dan menghampiri Francis, dia menutupi
wajahnya sendiri dengan tudung dan menepuk bahunya.
Uchida:
“Sugee, (keren) ayo kita harus pergi.” (bahasa Jepang)
Francis:
“Hah?” (tak paham)
Uchida:
(bahasa Jepang) “Kita harus cepat pergi dari sini.” (mengambil
pistol yang terjatuh)
Francis:
“Kau bicara apa?”
Uchida:
(jengkel) “Ugh, (menarik lidah sendiri dengan kedua jarinya) kita
harus pergi sekarang! Pegang tanganku erat-erat! Jangan dilepas!”
Francis:
“Oh baiklah.” (memegang tangan)
Uchida
yang sekarang bisa berbahasa sama dengan Francis telah membuatnya
mengerti kata-kata yang dia ucapkan, mereka langsung berjalan ke
portal. Tetapi baru dua langkah menuju portal, ilmuwan yang tangannya
tertusuk itu memanggil Uchida.
Ilmuwan:
“Tunggu! Profesor!”
Francis:
(berhenti) “Profesor?”
Uchida:
“Hei, jangan berhenti!”
Francis
menyingkap jubah yang dipakai Uchida, dia melihatnya memakai seragam
putih dengan simbol di bagian kiri dada yang sama dengan yang dipakai
ilmuwan itu. Simbol V terbalik dibentuk dari pedang dan tombak
bersilang dengan latar jam pasir di belakangnya, sementara sang
ilmuwan berhasil melepaskan tangannya yang tertusuk. Dia langsung
menekan tombol alarm yang membuat langit-langit terbuka dan dari
dalamnya keluar robot nyamuk, Francis langsung menyeruduk Uchida
begitu saja setelah melihat siapa sebenarnya dirinya. Mereka berdua
masuk ke dalam portal, bergumul di dalam aliran ruang dan waktu.
Uchida:
“Uwaagh!”
Francis:
(memukuli Uchida bertubi-tubi) “Kau salah satu dari mereka!”
Kembali
ke masa kini, pada saat Francis yang kepalanya disetrum melalui
jempol Uchida. Sekarang dia melepaskan jempolnya dari Francis,
ekspresinya tidak karuan setelah disetrum. Matanya terbelalak sangat
lebar, kedua alisnya terangkat ke atas dan mulutnya terbuka
lebar-lebar dengan memperlihatkan gigi yang tertutup.
Uchida:
“Kau sekarang lebih mirip monyet yang sedang marah.”
Beberapa
saat kemudian, Francis sedang menyedot sesuatu dari dalam sebuah
tabung kecil. Dia kemudian membuang tabung itu ke belakangnya, Uchida
sendiri sedang sibuk memperhatikan jalan raya dari dalam gang.
Francis:
“Baiklah, untuk saat ini aku percaya bahwa diriku adalah setengah
mesin dan sekarang kita berada di era yang berbeda. Tapi ada satu
pertanyaan, untuk apa kau membebaskan diriku?”
Uchida:
“Sebab yang kau paling dekat dengan tempat di mana aku menyelinap.”
Francis:
“Heh, alasan macam apa itu? Jika dilihat dari gaya bicaramu, kau
dari negara Asia. Untuk apa kau berada di negara Eropa? Semacam
pertukaran ilmuwan?”
Uchida:
“Sebenarnya aku menyelinap, diriku hampir ketahuan dan kebetulan
saja bertemu dengan dirimu ketika dioperasi. Lagipula aku butuh teman
seperjalanan, aku tak terbiasa pergi sendiri.”
Francis:
“Kalau begitu kenapa kau tidak minta saja orang yang lebih mengenal
seluk beluk tempat yang akan kau kunjungi?”
Uchida:
“Itu berbeda, aku minta 'ditemani' bukan 'dipandu'. Untuk sementara
ini kita harus melakukan observasi terhadap tempat yang kita
kunjungi, sebentar lagi matahari terbit.”
Ketika
berbalik, Uchida melihat Francis sudah berbaring bersama dengan para
gelandangan. Uchida yang jengkel langsung menyetrum kepalanya dengan
jempol.
Francis:
“Apa kau tak bisa membiarkan orang untuk istirahat sebentar saja?!”
Uchida:
“Paling tidak dengarkan dulu apa yang kukatakan barusan! Dengarlah!
Tubuhmu itu sekarang tidak sama dengan manusia biasa, jika kau terasa
lelah pun maka kelelahan itu akan lenyap dengan sendirinya!”
Francis:
“Tapi kakiku masih terluka karena pertempuran tadi, aku tidak
bisa... (memegang kaki)”
Francis
melihat kakinya yang tadi terluka karena tadi diserang robot nyamuk,
luka di kakinya menghilang dan tidak berbekas sama sekali. Dia
kemudian memandangi Uchida yang sekarang sedang melipat tangannya di
depan dada, dengan perasaan heran dia pun berdiri dan
meloncat-loncat.
Uchida:
“Bagaimana?”
Francis:
“Lukaku... sembuh?”
Uchida:
“Itulah keuntungan jika kau menjadi cyborg, regenerasi atau lebih
mudahnya sistem penyembuhan sendiri dengan cepat.”
Francis:
“Aku mungkin bisa terbiasa dengan ini.”
Uchida:
“Tapi sebelum itu kau harus menangani kekuatan tubuhmu, kau masih
ingat ketika dirimu meninju rahang seseorang saat di masa depan?
Bisa-bisa kau meremukkan tubuh seseorang dengan tanganmu, untuk
itulah kita perlu melatihnya.”
Francis:
“Mudah mengatakan daripada melakukan.”
Uchida:
“Kita masih punya waktu sampai matahari terbit, setelah kau
menguasai beberapa tekhnik kita akan mengobservasi seluruh kota ini.”
Francis:
“......”
Uchida:
“Ada pertanyaan?”
Francis:
“Jujur saja, aku masih belum bisa mempercayaimu sepenuhnya. Tapi...
(menjulurkan tangan kanan dan mengepalkannya) aku akan melakukan apa
yang diperlukan untuk menghancurkan Alterion.”