Saturday, September 1, 2012

Level 1


KEDATANGAN

Oslo, Norwegia, 10 Oktober 2010, 22:00. Di sebuah gang yang gelap ada dua-tiga orang gelandangan di dekat tempat sampah, dua orang tidur di dekat tong sampah sementara yang seorang lagi sedang mengais tempat sampah. Gelandangan yang ternyata wanita tua itu menemukan sebungkus roti bekas digigit, tanpa pikir panjang gelandangan wanita itu bersiap-siap untuk memakannya. Tetapi belum sempat dia memasukkannya ke dalam mulut, secercah cahaya yang sangat menyilaukan mendadak muncul di belakangnya. Dari dalamnya keluar dua orang berjubah compang-camping, seorang menabrak tembok hingga temboknya retak sementara yang satu lagi menabrak punggung orang tersebut hingga temboknya hancur. Tidak lama kemudian dari dalam muncul sesuatu seperti nyamuk dari dalam cahaya hanya saja ukurannya sama dengan seekor kucing dewasa, beberapa dari makhluk itu terbang mengapung di hadapan gelandangan wanita yang baru saja memakan roti dari tempat sampah tersebut. Perlahan dia menoleh ke belakang bersamaan dengan lenyapnya cahaya yang menyilaukan dan membuka mulutnya sedikit ketika melihat apa yang dia lihat, seekor dari mereka melihat dengan matanya yang bersinar kehijauan. Dalam pandangan nyamuk itu, tampak seperti layar monitor. Sambil menganalisa orang tersebut, dalam pandangannya muncul tulisan dalam bahasa yang aneh.

Subyek: Manusia (anonim)
Pekerjaan: Pengangguran. Saksi mata. (saat ini)
Ancaman: 10%.
Solusi: Musnahkan di tempat.

Nyamuk itu bersiap-siap untuk menyerang, dari dalam tubuhnya muncul sesuatu seperti moncong pistol dari wajahnya. Sang gelandangan wanita mencoba untuk membangunkan temannya yang tidur di sebelah tong sampah, tetapi dia baru menyadari bahwa kedua orang tersebut sudah tidak ada. Dia sedikit menitikkan air mata karena ketakutan, moncong pistol yang akan ditembakkan serangga tersebut bersinar kekuningan pertanda akan menembak. Gelandangan itu kemudian menutup mata, dalam hitungan detik kemudian terdengar bunyi tembakan. Gelandangan itu masih menutup mata saking ketakutan, tapi perlahan dia membuka matanya dan melihat serangga itu sudah tidak ada di hadapannya. Kemudian dia menoleh ke arah kanan, dia tersadar ketika melihat tembok yang berlubang karena dua orang yang barusan bertabrakan. Dari dalamnya keluar sedikit asap, ternyata ada seseorang yang baru saja menembak dari dalam lubang itu. Seorang berjubah compang-camping keluar dari dalam, di tangan kirinya ada semacam pistol yang mengeluarkan asap. Sang gelandangan kini mundur menjauhi lubang tembok dan tak sengaja menginjak sesuatu, gelandangan itu malah pingsan begitu melihat ke bawah. Ternyata itu adalah nyamuk yang baru saja ditembak orang tersebut, tubuh nyamuk itu mengeluarkan sedikit percikan api dan ternyata nyamuk itu sendiri adalah robot. Kini orang berjubah itu melepaskan jubahnya, sebagai gantinya berdiri seorang pria bertelanjang dada dan hanya memakai celana ketat sampai ke lututnya. Dari dalam bayang-bayang, kepalanya tertutup semacam helm yang bentuknya tidak jelas. Dia perlahan berjalan menuju lubang di tembok, pria itu melepas helm yang dipakainya. Tapi wajahnya sendiri tak terlihat dalam kegelapan, terdengar suara langkah kaki yang berat. Orang bertubuh besar dan berjubah keluar sambil membawa dua orang gelandangan yang tadi berada di dekat tempat sampah dalam kondisi masih tertidur dengan kedua tangannya, mereka berdua mulai berbicara.

?: “Kenapa tadi kau melepaskan genggaman tanganku saat perjalanan? Lihat apa yang telah kau perbuat!”
??: “Diam! Bukankah kau salah satu bagian dari mereka?!”
?: “Tidak, itu tidak benar! Walaupun begitu berikan alasan kenapa aku mau membebaskanmu saat kau sedang dioperasi?!”
??: “Kau mau aku membawamu ke tempat kediaman kami bukan?! Aku takkan mau melakukannya!”
?: (mendesah) “Hei, kalaupun kau mau pulang percuma saja, ini bukan zamanmu, Francis.”
Francis: “...kau bahkan tahu namaku, apalagi yang kau tahu dariku?”
?: (melihat ke belakang) “Ng, bisa kau tanyakan itu nanti? Ada masalah yang belum selesai.”

Tiga sampai lima robot nyamuk terbang mengapung di belakang Francis, dia sendiri menoleh ke belakang dan memandangi mereka satu persatu. Robot nyamuk itu menganalisa keempat orang yang berada di hadapan mereka, orang asing di belakang Francis meletakkan perlahan-lahan kedua gelandangan itu ke tanah. Dalam pandangan robot nyamuk, mereka hanya terlihat seperti bayangan.

Subyek: Professor. Uchida Tomizawa.
Pekerjaan: Peneliti dan Pengembang Organisme Cyber, Mantan Kepala Penelitian Laboratorium Alterion Cabang Asia ke 5.
Kesalahan: Membelot Pemerintahan Alterion, Melarikan Subyek Percobaan Nomor M46 N4120 K, Mengakses dan mendownload secara ilegal 'Proyek Rahasia' melalui komputer utama.
Ancaman: 65 %

Subyek: Francis Zero alias Subyek Percobaan M46 N4120 K
Pekerjaan: Pemberontak
Kesalahan: Menyusup ke dalam Benteng Pertahanan Alterion Cabang Amerika, Menghancurkan Laboratorium Alterion Cabang Afrika ke 3 dan 5.
Ancaman: 45 %

Subyek: Manusia (anonim)
Pekerjaan: Pengangguran
Ancaman: 2%

Solusi: Hancurkan pembelot di tempat, bawa kembali otak pembelot seutuhnya jika memungkinkan, mengembalikan Subyek Percobaan M46 N4120 K ke Laboratorium Alterion Cabang Eropa ke 3.

Francis: “Untuk kali ini aku setuju, setelah ini kau harus jelaskan semuanya padaku.”
Uchida: “Yokai (ok), biar aku amankan mereka dulu, akan kubantu setelah itu.”

Mendadak salah satu robot nyamuk itu mengeluarkan sebilah jarum panjang dari wajahnya dan langsung menyerang Uchida, dengan sigap dia menepuknya dengan kedua telapak tangannya yang besar dan dilapisi besi.

Uchida: “Semudah menepuk nyamuk.”

Dia langsung memanggul kedua gelandangan itu ke dalam lubang, sementara baku tembak terjadi di antara Francis dan robot nyamuk. Kini di gang sempit itu banyak beterbangan sinar laser warna merah dan biru, Francis langsung berguling menuju gelandangan wanita yang tadi pingsan dan memapahnya sambil menembakkan pistol laser. Dua di antara mereka hancur terkena tembakan, satu dari mereka terbang berdesing menuju Francis dan menggores kaki kirinya. Francis berhenti sejenak sambil menahan sakit, Uchida langsung keluar dan menembakkan peluru dari jari-jari di tangan kanannya. Tembakannya mengenai talang air dan membuatnya jatuh menimpa satu robot nyamuk, kini yang tersisa tinggal satu dan terbang berputar-putar di atas mereka. Uchida dan Francis mencoba membidik, tapi robot itu kemudian terbang zigzag.

Uchida: “Francis, jangan seenaknya menembak! Bisa-bisa kau mengenai gedung dan reruntuhannya bisa menimpa kita!”

Francis memandangi gelandangan wanita kemudian melihat robot yang tadinya hancur tertembak, dia sedikit kaget karena melihat salah satu robot yang seharusnya dia tembak hancur masih bisa bergerak. Walau hanya kepalanya saja, kepala itu bergerak dan menggelinding menuju Francis. Terpikir sebuah ide gila, mendadak Francis berdiri dan mengangkat sang gelandangan dengan kedua tangannya dan melemparnya ke arah Uchida. Dia langsung gelagapan melihat tindakan Francis, hasilnya gelandangan itu menimpa Uchida dan membuatnya jatuh. Kini kepala robot nyamuk itu hampir mendekati Francis di belakangnya, kemudian kepala itu menggelinding dan mendadak meloncat menerjangnya. Tak disangka Francis berbalik dan menangkap kepala robot itu dengan tangan kanan, kepala itu langsung memuntahkan semacam cairan kuning ke kepalanya dan dengan sigap dia menghindar. Pandangannya kini tertuju pada robot nyamuk yang sedari tadi terbang ke sana kemari, kali ini sang robot mengeluarkan jarum dari mulutnya dan langsung terbang menyerang dari kejauhan. Sambil memegangi kepala robot dan melempar-lemparnya dengan satu tangan seperti bola kasti Francis menyipitkan mata, kemudian dia mengambil ancang-ancang dan melemparkan kepala itu langsung menuju robot nyamuk yang terbang. Dalam hitungan detik keduanya bertabrakan dan menghasilkan ledakan kecil, sisa-sisanya berjatuhan di hadapan Uchida yang baru saja berdiri.

Uchida: “Naka naka yaru janai.” (tidak buruk juga)

Francis kini berjalan menuju Uchida, wajahnya yang tidak terlihat oleh bayang-bayang kini terlihat jelas, rambutnya merah dengan sedikit warna perak pada poninya. Ada codet di pelipis kirinya, hidungnya pesek, alis tipis, dan sedikit berjanggut. Wajahnya tampak terlihat kesal ketika memandangi Uchida, dia langsung menodongkan pistol ke wajahnya. Tapi kini dia membalikkan pistol sehingga posisi gagang berada di depan wajah Uchida dan moncongnya dipegang Francis, dia memberi isyarat dengan kepala untuk mengambil pistol itu. Tanpa ragu-ragu Uchida mengambil pistol dan langsung meremas dan menghancurkannya dengan kedua tangannya yang besar, Francis sendiri terkejut dan memegang kerah bajunya.

Francis: “Apa yang kau lakukan?!”
Uchida: “Dengan begini kau tak perlu melukai siapapun.”
Francis: “Apa maksudmu 'melukai'? Mereka itu mesin, lebih tepat 'menghancurkan'.”
Uchida: “Tidak, kita tak memerlukan benda seperti itu di zaman ini. Dan lebih baik kau lepaskan tanganmu dariku dan bantu aku membereskan semua kekacauan ini, itu jika kau masih membutuhkan penjelasan.”

Selama beberapa detik Francis hanya diam memandangi Uchida dan akhirnya dia melepaskan cengkeramannya dan berbalik membelakanginya, Uchida mengambil nafas lega dan masuk kembali ke dalam lubang.


Beberapa saat kemudian Uchida menidurkan ketiga gelandangan di sebelah tong sampah, sementara Francis baru saja selesai menumpuk rongsokan dari robot yang dia hancurkan. Uchida mengeluarkan sebuah tas dari balik jubahnya dan berjalan menuju rongsokan yang Francis kumpulkan, dia sekarang mengeluarkan semacam alat kecil. Alat itu kemudian diletakkan di hadapan Francis, setelah itu Uchida meremas-remas kumpulan rongsokan itu menjadi sebuah bola dengan tangannya yang besar. Rongsokan itu kemudian diletakkan di atas alat tersebut, lalu Uchida mulai menekan salah satu tombol di alat yang dia keluarkan. Rongsokan yang diletakkan di atasnya kemudian mengambang dan sedikit-sedikit diremukkan oleh suatu gelombang, kini rongsokan itu telah mengecil menjadi seukuran bola pingpong dan langsung masuk ke dalam alat tersebut.

Uchida: “Minggirlah, kau menghalangi lubangnya.”

Francis minggir ke kanan sedikit, Uchida memberi isyarat dengan kepalanya untuk minggir ke kiri. Kini dia kembali menghalangi lubang, Uchida memberi isyarat sekali lagi dengan kepala agar dia minggir ke kiri dua kali. Dua langkah ke kiri Francis berjalan, kali ini Uchida berdeham keras. Francis langsung berlari ke arah kiri, Uchida mengangguk dan menekan tombol warna biru di alatnya dan sekarang alat itu menembakkan sinar biru ke lubang di tembok. Bebatuan yang merupakan bagian-bagian dari tembok terbang mengapung dan melesat ke lubang, semua terjadi dengan cepat hanya dalam hitungan detik. Kilatan cahaya yang menyilaukan mata membuat Francis menutup matanya kecuali Uchida, Francis membuka mata dan dia melihat tembok yang tadinya berlubang besar kini menutup tanpa ada bekas.

Uchida: “Nah, karena sudah diperbaiki, mari kita bicara.”
Francis: “...bukannya kiri dan kanan sama saja.”
Uchida: “...kita mau berbicara atau berdebat? Jangan ungkit masalah sekecil itu."
Francis: "Lalu bagaimana dengan mereka?" (melihat gelandangan)
Uchida: "Mereka hanya kubuat tidur, begitu bangun nanti mereka akan mengira itu hanya mimpi. Pertama-tama, namaku adalah Uchida, Tomizawa Uchida. Dan karena aku sudah tahu siapa kau, kau tak perlu memperkenalkan dirimu.”
Francis: “Aku pun tak sudi memberitahukan namaku padamu.”
Uchida: “Baiklah, seperti yang kau ketahui, aku baru membebaskanmu ketika kau sedang dioperasi menjadi cyborg. Saat ini kau sudah menjadi manusia cyborg, kau beruntung aku bisa menghentikan mereka saat akan mencuci otakmu.”
Francis: “Apa kau sendiri sama denganku?”
Uchida: “Aku? Yah memang tubuhku sendiri sudah dijadikan cyborg, tapi aku lakukan ini sendirian.”
Francis: “Kurasa aku harus berterima kasih padamu, sebab jika kau terlambat sedikit saja mungkin aku sudah dijadikan sesuatu yang lebih buruk.”
Uchida: “Seburuk apa maksudmu?”
Francis: “Hmm, bagaimana aku menjelaskannya? Jika dibandingkan denganmu, kau jauh lebih buruk.”

Mendadak Uchida menyerang dan mencekik leher Francis sampai tembok yang barusan diperbaiki menjadi retak, Francis memegang tangan kanan Uchida yang membuat seluruh lengannya tersingkap. Di sekujur lengannya ada beberapa kabel yang keluar dari kulitnya, tudung jubahnya tersingkap.

Uchida: “Apa kau bilang?!”

Yang terlihat bagi Francis sekarang adalah seorang pria dengan ubun-ubun yang dilapisi besi, ada semacam lensa di mata kanannya, mata kirinya sipit, hidungnya besar, tidak punya telinga, tidak memiliki bibir sehingga yang terlihat hanya giginya.

Francis: “Kau sudah dengar perkataanku tadi... uhuk..., kau lumayan kuat juga.”

Uchida melepaskan cengkeramannya dari leher Francis, kini dia membantunya berdiri.

Uchida: “Jika kau manusia biasa, lehermu pasti sudah patah. Penampilanku sekarang bukanlah kemauanku, dulu aku pernah mengalami kecelakaan. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membuatku tetap hidup, wajahku pasti tidak akan jadi seperti ini kalaupun sejak saat itu ada cara lain.”
Francis: (meraba-raba telapak tangan sampai tubuhnya sendiri) “Tapi kelihatannya tubuhku biasa saja, (melihat ke dalam celana) masih ada.”
Uchida: “Bisa tolong jangan buka bagian itu?”
Francis: “Baiklah... uhuk... bisa beritahu aku di mana kita sekarang?”
Uchida: “Kita berada di Oslo, Norwegia, tanggal 10 Oktober 2010, jam 10:23 malam.”
Francis: (diam sejenak) “Bung, apa ada yang salah dengan kepalamu?”
Uchida: “Kepalaku baik-baik saja, dan semua yang aku katakan adalah benar. Ah tunggu, sebelum masuk ke mesin tadi sepertinya aku telah mengatakan itu kepadamu.”
Francis: “Yang kuingat setelah kau membebaskan diriku, kau langsung memakaikan jubah kepadaku dan membawaku ke semacam alat teleportasi dan mengirim kita semua ke sini.”
Uchida: “Kalau begitu biar kuingatkan sekali lagi.”

Uchida menempelkan jempolnya ke dahi Francis, mendadak dia merasa seperti disetrum dan badannya kejang-kejang. Dalam kepalanya muncul ingatan-ingatan yang samar-samar, ingatan saat dia dibawa lari dari laboratorium dalam keadaan teler. Dalam ingatannya dia dipapah ke dalam sebuah ruangan secara terburu-buru oleh Uchida, dia mendudukkan dan menyandarkan Francis ke dinding. Uchida melihat secara sembunyi-sembunyi dari balik dinding, ada dua orang ilmuwan mengoperasikan suatu mesin. Kemudian dia menghampiri Francis dan mengatakan sesuatu kepadanya, dia memegangi kepala Francis yang masih memakai helm.

Uchida: “Hei, beritahu namamu.”
Francis: “Zero... Francis...”
Uchida: “Francis Zero? Ini berapa?” (mengacungkan tiga jari)
Francis: “Tiga... sembilan..., ah aku tak peduli.”
Uchida: (bahasa Jepang) “Sepertinya kau masih lemah setelah operasi tadi, tapi paling tidak kau bisa mendengarku. Dengar Francis, kita akan pergi dari tempat ini. Tapi itu bukan berarti kau bebas, kau harus membantuku.”
Francis: “...apa?”
Uchida: (bahasa Jepang) “Di balik dinding tempat kau bersandar adalah sebuah mesin waktu, memang sulit dipercaya. Tapi percayalah, tekhnologi ini sendiri sudah ada sejak 300 tahun yang lalu dan dikembangkan oleh suatu kekuatan yang tak dikenal di masa lalu. Kekuatan inilah yang mendukung pemerintahan Alterion sampai sekarang, karena itu kita akan pergi ke masa lalu dan...” (ditampar Francis)
Francis: “Kau... terlalu banyak bicara..., langsung saja kita pergi.”
Uchida: (jengkel) “Terserah kau saja. Ng?” (bahasa Jepang)

Di belakang Uchida sudah berdiri sesosok robot yang besar, menodongkan senjata seukuran meriam. Mendadak dinding ruangan mesin waktu meledak, membuat kaget ilmuwan-ilmuwan yang ada di dalam. Beberapa serpihan besi terlempar ke hadapan mereka, samar-samar mereka melihat sesosok bayang-bayang dari balik asap ledakan. Kini sosok itu terlihat jelas, Uchida berdiri di atas robot yang tadi menodongnya sambil memapah Francis. Robot itu sendiri kepalanya hancur dan tubuhnya berlubang, salah seorang dari ilmuwan itu langsung mengambil tindakan dengan mencoba menekan tombol alarm. Uchida tak tinggal diam, dia mencabut salah satu bagian dari robot yang dia hancurkan dan melemparnya pada sang ilmuwan. Usahanya berhasil, besi yang dilemparkan menusuk tangan sang ilmuwan sebelum sempat menekan tombol. Sementara itu ilmuwan satunya sedang berusaha mematikan mesin waktu, Uchida langsung memanggul Francis dan berlari menendang perut sang ilmuwan. Kini Uchida mencoba mengoperasikan mesin tersebut, menekan secara acak tombol-tombol yang ada di keyboard. Sebuah portal terbuka di depan mereka, Uchida segera beranjak dari tempatnya menuju portal tersebut. Namun belum sempat dia melangkah, punggungnya ditembak oleh ilmuwan yang ditendang Uchida. Dia langsung jatuh berlutut memegangi punggungnya, Francis sendiri lepas dari pegangan dan jatuh terlentang. Ilmuwan itu berdiri menodongkan pistol laser di belakang kepala Uchida, dia meringis kesakitan dan menoleh ke belakang. Ketika sang ilmuwan akan menekan pelatuk pada pistol, mendadak sebuah pukulan melayang ke wajahnya. Pukulan yang berasal dari Francis yang sudah berdiri tegak dengan wajah kaget, dia melihat ilmuwan yang rahangnya lepas karena pukulannya. Uchida yang baru saja memulihkan punggungnya berdiri dan menghampiri Francis, dia menutupi wajahnya sendiri dengan tudung dan menepuk bahunya.

Uchida: “Sugee, (keren) ayo kita harus pergi.” (bahasa Jepang)
Francis: “Hah?” (tak paham)
Uchida: (bahasa Jepang) “Kita harus cepat pergi dari sini.” (mengambil pistol yang terjatuh)
Francis: “Kau bicara apa?”
Uchida: (jengkel) “Ugh, (menarik lidah sendiri dengan kedua jarinya) kita harus pergi sekarang! Pegang tanganku erat-erat! Jangan dilepas!”
Francis: “Oh baiklah.” (memegang tangan)
Uchida yang sekarang bisa berbahasa sama dengan Francis telah membuatnya mengerti kata-kata yang dia ucapkan, mereka langsung berjalan ke portal. Tetapi baru dua langkah menuju portal, ilmuwan yang tangannya tertusuk itu memanggil Uchida.

Ilmuwan: “Tunggu! Profesor!”
Francis: (berhenti) “Profesor?”
Uchida: “Hei, jangan berhenti!”

Francis menyingkap jubah yang dipakai Uchida, dia melihatnya memakai seragam putih dengan simbol di bagian kiri dada yang sama dengan yang dipakai ilmuwan itu. Simbol V terbalik dibentuk dari pedang dan tombak bersilang dengan latar jam pasir di belakangnya, sementara sang ilmuwan berhasil melepaskan tangannya yang tertusuk. Dia langsung menekan tombol alarm yang membuat langit-langit terbuka dan dari dalamnya keluar robot nyamuk, Francis langsung menyeruduk Uchida begitu saja setelah melihat siapa sebenarnya dirinya. Mereka berdua masuk ke dalam portal, bergumul di dalam aliran ruang dan waktu.

Uchida: “Uwaagh!”
Francis: (memukuli Uchida bertubi-tubi) “Kau salah satu dari mereka!”

Kembali ke masa kini, pada saat Francis yang kepalanya disetrum melalui jempol Uchida. Sekarang dia melepaskan jempolnya dari Francis, ekspresinya tidak karuan setelah disetrum. Matanya terbelalak sangat lebar, kedua alisnya terangkat ke atas dan mulutnya terbuka lebar-lebar dengan memperlihatkan gigi yang tertutup.

Uchida: “Kau sekarang lebih mirip monyet yang sedang marah.”


Beberapa saat kemudian, Francis sedang menyedot sesuatu dari dalam sebuah tabung kecil. Dia kemudian membuang tabung itu ke belakangnya, Uchida sendiri sedang sibuk memperhatikan jalan raya dari dalam gang.

Francis: “Baiklah, untuk saat ini aku percaya bahwa diriku adalah setengah mesin dan sekarang kita berada di era yang berbeda. Tapi ada satu pertanyaan, untuk apa kau membebaskan diriku?”
Uchida: “Sebab yang kau paling dekat dengan tempat di mana aku menyelinap.”
Francis: “Heh, alasan macam apa itu? Jika dilihat dari gaya bicaramu, kau dari negara Asia. Untuk apa kau berada di negara Eropa? Semacam pertukaran ilmuwan?”
Uchida: “Sebenarnya aku menyelinap, diriku hampir ketahuan dan kebetulan saja bertemu dengan dirimu ketika dioperasi. Lagipula aku butuh teman seperjalanan, aku tak terbiasa pergi sendiri.”
Francis: “Kalau begitu kenapa kau tidak minta saja orang yang lebih mengenal seluk beluk tempat yang akan kau kunjungi?”
Uchida: “Itu berbeda, aku minta 'ditemani' bukan 'dipandu'. Untuk sementara ini kita harus melakukan observasi terhadap tempat yang kita kunjungi, sebentar lagi matahari terbit.”

Ketika berbalik, Uchida melihat Francis sudah berbaring bersama dengan para gelandangan. Uchida yang jengkel langsung menyetrum kepalanya dengan jempol.

Francis: “Apa kau tak bisa membiarkan orang untuk istirahat sebentar saja?!”
Uchida: “Paling tidak dengarkan dulu apa yang kukatakan barusan! Dengarlah! Tubuhmu itu sekarang tidak sama dengan manusia biasa, jika kau terasa lelah pun maka kelelahan itu akan lenyap dengan sendirinya!”
Francis: “Tapi kakiku masih terluka karena pertempuran tadi, aku tidak bisa... (memegang kaki)”

Francis melihat kakinya yang tadi terluka karena tadi diserang robot nyamuk, luka di kakinya menghilang dan tidak berbekas sama sekali. Dia kemudian memandangi Uchida yang sekarang sedang melipat tangannya di depan dada, dengan perasaan heran dia pun berdiri dan meloncat-loncat.

Uchida: “Bagaimana?”
Francis: “Lukaku... sembuh?”
Uchida: “Itulah keuntungan jika kau menjadi cyborg, regenerasi atau lebih mudahnya sistem penyembuhan sendiri dengan cepat.”
Francis: “Aku mungkin bisa terbiasa dengan ini.”
Uchida: “Tapi sebelum itu kau harus menangani kekuatan tubuhmu, kau masih ingat ketika dirimu meninju rahang seseorang saat di masa depan? Bisa-bisa kau meremukkan tubuh seseorang dengan tanganmu, untuk itulah kita perlu melatihnya.”
Francis: “Mudah mengatakan daripada melakukan.”
Uchida: “Kita masih punya waktu sampai matahari terbit, setelah kau menguasai beberapa tekhnik kita akan mengobservasi seluruh kota ini.”
Francis: “......”
Uchida: “Ada pertanyaan?”
Francis: “Jujur saja, aku masih belum bisa mempercayaimu sepenuhnya. Tapi... (menjulurkan tangan kanan dan mengepalkannya) aku akan melakukan apa yang diperlukan untuk menghancurkan Alterion.”