KANTOR
New York, Amerika Serikat, 19
Oktober 2010, 13:45. Gedung utama perusahaan TDG, Francis dan James keluar dari
elevator di lantai 25. Mereka berada di sebuah kantor yang dipenuhi dengan
karyawan, di sepanjang tembok banyak poster dipasang. beberapa dari mereka
mengerjakan tugas mereka di depan computer. Francis melihat salah satu dari
mereka sedang bermain game RPG, dia kemudian melihat computer yang berada di
sebelah. Karyawan yang berada di computer itu juga sedang memainkan game, tapi
game itu sendiri adalah sebuah game olahraga sepakbola. Francis kemudian
memandang sekelilingnya, semua karyawan itu ternyata sedang bermain game.
James:
“Bagaimana pendapatmu?”
Francis:
“Aku tak melihat ada satu orang pun bekerja di sini.”
James:
“Jangan salah, tentu saja mereka sedang bekerja. Di sini adalah tempat di mana
kami merancang game untuk beberapa konsol tertentu, yang mereka lakukan saat
ini adalah menguji apakah game tersebut layak untuk diedarkan pada konsumen.”
Francis:
“Hm?”
Francis melihat kerumunan orang yang
sedang menyaksikan dan menyoraki sesuatu, dia kemudian mendekati mereka. Di
dalam kerumunan itu terlihat ada dua orang yang berhadapan dan mengenakan
semacam peralatan, alat yang mereka gunakan adalah sebuah helm, sepasang sarung
tangan, dan sepasang sepatu.
James:
“Mereka sedang menguji game pertarungan dengan proyeksi visual menggunakan
simulator, kau beruntung bisa melihatnya sekarang.”
Francis:
“Lalu maksudmu aku harus congkel kedua mataku saat melihat hal itu?”
James:
“Sebenarnya kau cukup mengaguminya saja, aku sampai lupa memberimu tanda
pengenal.” (memberi sebuah kartu)
Francis:
“Apa ini perlu?”
James:
“Tentu saja, pasang di dadamu. Kalau tidak ada ini, kau tidak bisa dengan bebas
keluar masuk dari bangunan ini. Paling tidak mereka sudah tahu jika kau bekerja
untukku begitu melihat wajah ceriamu, (suara hati) walau sebenarnya tidak
begitu.”
Francis memasang tanda pengenal itu
di dadanya, di sana terpasang foto Francis yang berwajah kaku. Kini dua orang
di tengah kerumunan mulai menyalakan alat dengan menekan tombol di helm, di tengah-tengah
kerumunan itu ada semacam arena. Mendadak muncul dua bayangan hologram dalam
sosok pria yang memakai baju zirah, bentuk tubuh mereka sama dengan pemain.
Pemain yang satu besar dan gemuk, sedangkan lawannya sendiri pendek dan kecil.
Mendadak seseorang muncul dari kerumunan, memakai baju hitam dan dasi
kupu-kupu.
James:
“Ini dia, sang wasit.”
Wasit:
“Baiklah, dengan ini kita akan menguji ‘Metal Force’. Pembuat game ini sendiri
adalah Duval ‘Fox’ Hernandez, dengan Allan ‘Giant’ Forgus mewakili pihak
pemilik, dengan lawan tanding Maximillian ‘Nuke’ Cronos sebagai penguji
didampingi dengan Valerie ‘Swan’ Agnus.”
Semua yang menonton bersorak sorai
mendukung Nuke, sedangkan Giant malah dicemooh. Dia berbalik ke belakang dan
memarahi orang yang mencemoohnya, gerakan bayangan hologram miliknya juga ikut
bergerak sama seperti pemainnya. Di belakang Giant sendiri adalah seorang pria
dengan rambut mencuat ke atas, kumisnya seperti Charlie Chaplin. Di belakang Nuke
ada seorang gadis yang cukup manis, rambutnya dikuncir twintail.
James:
“Mereka lagi ya?”
Francis:
“Kau kenal mereka?”
James:
“Pembuat kekacauan, Fox adalah desainer game tingkat 3. Dia selalu
menyombongkan hasil karyanya sebagai yang terbaik dengan penjualan sebanyak 200
ribu kopi, padahal itu hanya seperlima dari penjualan desainer tingkat 1. Pria
yang seperti bakpau itu adalah rekannya, Giant. Setiap Fox membuat game
pertarungan baru dia selalu menjadi orang pertama untuk menguji, dia selalu
memilih lawan yang sangat lemah untuk jadi bulan-bulanan.”
Francis:
“Aku bisa lihat itu.”
James:
“Orang yang terlihat… agak kuat itu adalah Nuke, dia desainer game perang. Dia
desainer tingkat 5, penjualan gamenya sudah 3 ribu kopi. Gadis di belakangnya,
Swan adalah desainer game khusus untuk anak perempuan seperti Barbie atau
semacamnya.”
Francis:
“Kukira dia asisten wanita itu.”
James:
“Sebelum menjadi desainer, sudah wajar jika orang tersebut harus menjadi
asisten terlebih dahulu. Jika kemampuan mereka sudah mencukupi, mereka punya
hak untuk menjadi seorang desainer.”
Francis:
“Mereka sudah mulai bertarung.”
Proyeksi milik Nuke mendadak
diserang jatuh oleh Giant, dia sendiri juga ikut jatuh. Penonton malah
mencemooh Giant, dia tidak mempedulikan dengan menutup telinganya dan bersiul.
James:
“Mulai lagi, menyerang sebelum bel berbunyi.”
Denting bel terdengar berkali-kali,
tanda pertandingan telah dimulai. Nuke kemudian berdiri, tapi dia tak diberi
kesempatan oleh Giant. Dia dipukuli bertubi-tubi, dengan brutalnya dia menyiksa
Nuke. Kakinya diseret, tubuhnya diangkat dan dibanting ke tanah berulang kali.
Francis:
“Dia sudah tidak ada harapan.”
Penonton
A (wanita): “Benar, sudah berkali-kali seperti ini.”
Penonton
B (lelaki): “Sudah 5 tahun bekerja di sini dia sama sekali tak ada
perkembangan.”
James:
“Mau bagaimana lagi, itu bukanlah game andalannya tapi dia tetap saja dipaksa.”
Francis:
“Kenapa dia tidak memilih orang lain yang lebih lemah selain dirinya?”
Penonton
A: “Selain dia tidak ada lagi, sebab dia sudah seperti korban langganan baginya.”
Penonton
B: “Ng? Tunggu, kau siapa?”
Francis:
“Hanya menonton.”
Penonton
A: (melihat tanda pengenal) “Francis… Zero? Kau orang baru?”
Francis:
“Memangnya kau pernah melihat diriku sebelum ini?”
Penonton
B: “Dingin sekali, apa kau programmer?”
Francis:
“Aku tak perlu menjawab pertanyaanmu.”
Penonton
A: “Dingin sekali, kalau begitu di divisi mana kau bekerja?”
Penonton
B: “Kau bekerja untuk siapa?”
Francis:
“Dengan seorang bocah yang suka lari dari pekerjaannya.”
Penonton
A: “Sepertinya aku ingat ada orang yang seperti itu.”
Penonton
B: “Benar, dan kita tahu persis siapa dia.”
Penonton
A dan B: “Direktur James.”
Penonton
A: “Dia sudah lama tidak masuk selama dua minggu dan melepas semua tanggung
jawabnya ke sekretaris pribadinya, sementara dia dengan santainya
bersenang-senang dengan gadis-gadis cantik.”
Penonton
B: “Tapi dia yang terbaik dari yang terbaik, berkat dialah kita bisa bermain
dan bekerja seperti ini.”
Penonton
A: “Terakhir kudengar dia ada di Norwegia, sepertinya masih sibuk sejak
kejadian itu.”
Penonton
B: “Bisa saja sekarang dia sudah ada di sini.”
James:
“Memang benar, andai saja dia bisa melihat ini.”
Penonton
B: “Aku setuju dengan… mu?”
Mereka berdua melihat James berdiri di
sebelah Francis, sang wanita langsung pingsan. Sang lelaki langsung berlari ke
arah wasit dan membisikkan sesuatu, mendadak wasit membunyikan bel dan
menghentikan pertandingan. Tapi Giant masih saja membanting Nuke berkali-kali,
para penonton berbalik ke belakang begitu menyadari apa yang terjadi. Mereka
semua langsung bubar dan memberi jalan pada James, Fox yang melihat langsung
menepuk-nepuk bahu Giant untuk menyuruhnya berhenti. Tapi dia tetap tidak mau
berhenti, dia mendorong jatuh Fox. Ada seseorang yang menggantikan menepuk
bahunya, karena kesal akhirnya dia menghentikan dan menjatuhkan Nuke. Dia
berbalik ke belakang dan melihat di belakangnya sudah ada Francis dan James, tak
ada reaksi sama sekali dari mereka. Namun ekspresi Giant berubah drastis, dia
nampak sangat terkejut. Dia buru-buru mematikan peralatan visualnya, Fox juga
ikut membantunya. James disoraki oleh karyawan seisi ruangan, kebanyakan
sorakan yang keras berasal dari karyawan wanita.
James:
“Nampaknya di sini terlihat menyenangkan.”
Duval:
“Maafkan kami, Presiden Yorgins! Kami tidak tahu kalau anda akan datang,
maafkan atas segala kekacauan ini!”
James:
“Jangan panggil aku presiden, ayahku yang memiliki posisi itu.”
Duval:
“Maaf, Direktur. Maafkan kami, saya akan pastikan hal seperti ini tak terjadi
lagi! Allan, minta maaf!”
Allan:
“Ba-baik, maafkan aku.”
James:
“Yah, kesampingkan dulu masalah itu. Francis, bantu dia berdiri.” (menunjuk Max)
Francis langsung berjalan menuju Max
yang sedang shock berat karena baru dihajar, Valerie melepaskan peralatan
visual yang dipakai Max. Tubuhnya gemetaran dan berkeringat deras, Francis
memandanginya selama beberapa saat.
Francis:
“Menyedihkan.”
Valerie:
“Hei, tidakkah kau bisa bersikap baik padanya?”
Francis:
“Sekarang aku baru mau melakukannya.”
Francis mengangkat dan membantunya
berdiri, tapi dia sendiri masih tidak kuat untuk berdiri dengan kedua kakinya
sendiri. Pada akhirnya dia menyerahkannya pada Valerie, Francis berbalik dan
berjalan menuju James.
Valerie:
“Hei! Kembali kemari! Setidaknya bantu dia untuk berjalan!”
Francis:
“Aku tak mau membantu orang yang masih punya kaki tapi tidak mau berjalan
sendiri.”
Max:
“Ti-tidak apa-apa, Valerie. Aku sudah bisa berdiri sendiri, aku masih bisa
berjalan.”
James:
“Setidaknya tunjukkanlah sedikit kebaikan, Francis.”
Valerie memapah Max ke kursi, namun
mendadak Francis mengangkat Max dan meletakkannya di atas kursi dengan kasar.
Valerie:
“Hey!”
Francis:
“Apa? Dia sudah duduk di tempatnya.”
Valerie:
“Tapi dia itu bukan barang, perlakukan dia dengan baik!”
Francis:
“Memangnya dia akan mengeluh dengan rasa sakit sekecil itu? Kurasa itu bukan
urusanku.”
Valerie:
“Apa katamu?!”
James:
“Francis, Valerie, kemari! Aku memerlukan kalian.”
Valerie:
“Direktur James, sudah berapa lama sejak anda terakhir kemari?”
James:
“Jangan berwajah masam begitu, kau tahu aku orang sibuk.”
Valerie:
“Anda menyebut bersenang-senang ke luar negeri sebagai kesibukan?!”
Duval:
“Apa ada yang bisa saya bantu Direktur Yorgins?”
James:
“Aku hanya ingin memeriksa keadaan, sepertinya kalian sudah bekerja cukup baik
selama aku tidak ada.”
Valerie:
“Mohon maaf Direktur, tapi sudah banyak permintaan untuk mengekspor produk
terbaru kita yang belum anda tandatangani ketika anda tidak berada di sini.”
James:
“Dan bukankah sudah kukatakan kirim saja itu ke rumahku? Rasanya aku sudah
mengirimkan berkas itu seminggu yang lalu.”
Valerie:
“Yang anda kirimkan kemari adalah berkas untuk memasukkan fasilitas baru untuk
kantor kita, dengan tidak mengurangi rasa hormat. Direktur James, bisakah anda
setidaknya sedikit bertanggung jawab?”
James:
“Aku jelas bertanggung jawab, akan kutandatangani berkas itu sekarang. Izin
peluncuran konsol game WE-480 bukan? Akan kuurus itu di kantor, dan kuharap tak
ada yang berubah di dalamnya.”
Duval:
“Tentu saja, semua masih pada tempatnya. Allan, segera antarkan beliau ke
tempat kerjanya. ”
Allan:
“Siap!”
James:
“Ah, tunggu. Sebelum itu biar kukenalkan kalian pada pengawalku yang baru,
namanya Francis Zero. Francis, sapalah mereka.”
Francis memandangi mereka semua
dengan tatapan menyeramkan, membuat seluruh karyawan sedikit ketakutan dan
mundur selangkah.
James:
“Dia selalu dingin seperti ini, tapi biasakanlah untuk menyapa dia jika bertemu
dengannya.”
Duval:
“Ba-baik… jadi mari kita ke ruangan anda sekarang.”
Valerie:
“Max, maaf. Kau tidak apa jika kutinggalkan?”
Max:
“Tidak apa-apa, direktur membutuhkanmu sekarang. Pergilah.”
Valerie:
“Kalau begitu kutemui kau nanti sepulang kerja, tunggulah.”
Max:
(berseri-seri) “Ohohoho, tentu saja akan kutunggu.”
Duval:
“Semuanya kembali bekerja!”
Dalam sekejap, seluruh karyawan
langsung membubarkan diri. Duval menjentikkan jari, datanglah dua buah mobil kecil
yang dikendarai seseorang. Mereka bertiga langsung naik setelah pengendara
turun, Allan naik dengan Valerie. James naik dengan Francis, yang menjadi supir
adalah Allan dan James. Mobil yang disupir Allan memandu mobil yang disupiri
James, mereka menyetir begitu jauh sehingga sampai ke depan sebuah pintu. Mereka
kemudian turun, masing-masing menunjukkan tanda pengenal mereka ke depan sebuah
pemindai. Pintu itu terbuka, mereka masuk ke dalam ruangan sempit dan sebuah
pintu kecil. Ada sebuah kamera di atas pintu dan computer di sampingnya, James
mengetikkan sebuah kata sandi di computer itu.
KATA SANDI DITERIMA
PEMINDAIAN GERAKAN DIMULAI
James:
“Kau bisa pergi, urusanku sekarang dengan Valerie.”
Allan:
“Ba-baik, siap!”
James:
“Baiklah, semuanya berbaris ke samping. Francis, kau ikuti saja gerakan kami.”
Allan keluar dari dalam ruangan
meninggalkan mereka bertiga, James berdiri di antara Valerie dan Francis.
James:
“Mulai lagunya.”
Mendadak terdengar sebuah lagu dari
dalam ruangan, James dan Valerie mulai melakukan sebuah tarian. Francis agak
terlambat tapi masih bisa menyamai gerakan mereka, mereka melakukan chicken
dance. Francis melihat James melakukan tarian dan terlihat begitu menikmati,
sementara Valerie menundukkan kepala dengan wajah merah karena malu.
SINKRONISASI 69%
SELAMAT DATANG
JAMES ARCHIBALD YORGINS
VALERIE AGNUS
FRANCIS ZERO
James:
“69%, kau harus lebih ceria saat melakukan itu.”
Valerie:
“Justru itu memalukan!”
Pintu kecil itu terbuka, secercah
cahaya keluar dari dalam ruangan. Ketika mereka masuk, bagian dalam terlihat
lebih besar dan mewah. Di kantor James banyak terdapat lemari berjejer,
masing-masing lemari berisi action figure dan buku komik, poster-poster film
dan video game. Di ujung ruangan ada sebuah meja dengan tiga kursi, sebuah unit
computer lengkap dengan fax, scanner dan printer. Sebuah tempat tidur dan dua
buah sofa di samping meja tersebut, di depannya ada tiga TV dan bermacam konsol
video game terpasang di masing-masing TV. James berjalan menuju meja, dia
sekarang duduk di depan computer. Ketika dia menyalakan computer, dirinya
disambut dengan sebuah gambar kepala Mickey Mouse di layar computer.
Mickey:
“Selamat datang, James. Apa yang bisa kubantu hari ini?”
James:
“Tunjukkan data yang sudah dikirim oleh Valerie seminggu yang lalu ke rumahku
yang ada di California.”
Mickey:
“Ada dua buah data, mana yang akan kau pilih? Berkas persetujuan pengiriman
produk atau surat ijin cuti?”
James:
“Yang pertama, segera kirim dan tempelkan tanda tanganku di atasnya.”
Mickey:
“Siap, silahkan tunggu dalam 30 menit.”
Valerie:
“Setidaknya tanda tanganilah dengan tangan Direktur sendiri, inilah sebabnya
seluruh karyawan jadi pemalas seperti anda.”
James:
“Maaf, tapi kulihat mereka masih bekerja dengan giat walau aku tidak datang.”
Valerie:
“Itu 30% dari isi lantai ini, sisanya adalah mereka yang tadi menonton
pertandingan.”
James:
“Mereka juga bekerja, Valerie. (mendesah) Jadi kau benar-benar mau minta cuti?”
Valerie:
“Benar, Direktur James.”
James:
“Untuk berapa lama?”
Valerie:
“Sebulan.”
James:
“Hey, hey, hey. Yang diizinkan cuti selama itu hanya orang yang punya masalah
kesehatan parah atau baru saja menikah, kulihat kau tak memenuhi dua syarat
itu.”
Valerie:
“Aku sudah cukup stress mengurusi masalah selama Direktur tak ada di tempat,
sudah terlalu banyak beban yang kubawa. Duval dan Allan sudah membuat masalah
besar selama kau tidak ada, (menutup mulut) maaf.”
James:
“Tidak apa-apa, kau berhak untuk marah. Aku paham perasaanmu, tak perlu bicara
seformal itu. Panggil aku James, bukankah sudah kuingatkan untuk memanggilku
seperti itu saat kita berada di sini?”
Valerie:
“Tidak, tidak bisa. Direktur adalah pemimpinku, aku tak punya hak untuk bicara
begitu.”
James:
“Benarkah? Apakah mungkin… (memangku kepala sambil tersenyum) kau takut akan
menyukaiku jika kau memanggilku begitu?”
Valerie:
(wajah merah) “Bu… Bukan! Kau salah!” (menutup mulut)
James:
“Hahahaha, bercanda. Lagipula aku tahu kau sudah punya kekasih, mana mungkin
kau akan tergoda olehku.”
Valerie:
(wajah merah padam) “A-aku permisi dulu!”
James:
“Hei, tunggu. Berkasnya belum kau bawa.”
Valerie:
“Letakkan saja di mejaku!”
Valerie berlari keluar ruangan
dengan terburu-buru, meninggalkan Francis dan James. James sendiri tertawa geli
melihatnya, dia membuka sebelah kanan laci mejanya. Ternyata itu adalah sebuah
kulkas, dia mengambil dua buah gelas dari dalamnya.
James:
“Dia selalu seperti itu, kau mau minum?”
Francis:
“Jus apel.”
James:
“Sepertinya kau suka apel, apa kau juga menikmatinya di masa depan?”
Francis:
“Sebenarnya tidak ada buah semacam itu di sana, aku baru pertama kali
merasakannya saat aku ke rumah Claudia.”
James:
“Bicara soal Claudia, dia menitipkan salam padamu. Aku baru mendapat email darinya
kemarin, lihatlah di computer.”
Francis memutar layar computer
sehingga berhadapan dengannya, dia melihat ada sebuah surat yang masuk. Dengan
otomatis surat itu terbuka, ada sebuah foto bergambar keluarga Claudia yang
kini rumahnya sedang direnovasi bersama dengan sekelompok anak-anak yang
sepertinya teman sebayanya. James menuangkan sebotol jus apel ke salah satu
gelas, setelah itu dia mengeluarkan sekotak susu coklat cair dan menuangkannya
di gelas sisanya.
James:
“Dia terlihat senang di sana, ini jus apelmu.” (menyerahkan segelas jus)
Francis:
(menerima jus) “Dia jauh lebih baik sejak pertama kali kutemui.”
James:
“Kalau saat itu kau tidak datang ke jaman ini, kau pasti tahu seperti apa
nasibnya.”
Francis:
“Entahlah, tapi itu tetap tidak mengubah takdir seseorang.”
James:
“Kita bisa mengubahnya, tergantung dari seberapa keras usaha yang kita perbuat.
Seperti dirimu saat ini yang berusaha untuk mengubah masa depan, kau juga
berusaha mengubah takdirmu.”
Francis menenggak habis jus apelnya
bersamaan dengan James yang meminum susu coklat, mendadak bunyi dering
terdengar dari suatu tempat di ruangan itu. James langsung mengetikkan beberapa
kata di computer. Layar computer di hadapan James langsung berbalik kembali ke
hadapannya, muncul beberapa rekaman semacam kamera pengawas. Di dalam rekaman
itu terlihat kondisi beberapa ruangan di mansion, James melihat salah satu
kamera merekam keadaan sebuah ruangan yang berasap. Sebuah siluet muncul dari
dalam asap, namun sosok itu mendadak menghilang dalam sekejap.
Francis:
“Ada masalah?”
James:
“Bukan aku, tapi...”
Francis:
“Uchida...”
James:
“Kau bawa helm-mu?”
Francis mengeluarkan sesuatu dari
dalam saku jasnya, sebuah alat seperti pulpen dengan tombol di atasnya. Dia
menekan tombol itu, dalam sekejap muncul cahaya merah di udara. Sesuatu jatuh
dari atas, Francis langsung menangkapnya. Helm transformasinya kini sudah
berada di tangannya, James hanya bisa bersiul kagum.
Francis:
“Selalu.”