Friday, July 22, 2016

Level 41



KONSTRUKSI

            24 Oktober 2010, 07:00, di sebuah pesawat jet pribadi TDG. James dan Megan, dan Olivia memandangi seseorang yang sedang makan dengan lahapnya. Di hadapan mereka duduk seorang bapak-bapak yang memakai kemeja putih dan celana panjang hitam, rambutnya acak-acakan, berhidung besar, bermata sipit, dan memakai kacamata. Francis sendiri hanya bersikap masa bodoh dan duduk sambil memandangi pemandangan dari jendela, pria itu langsung menenggak habis sebotol sake yang ada di atas meja.

?: “Puaaahh!! Rasanya sudah lama sekali sejak aku menikmati hidangan seperti ini.”
Francis: “Padahal aku lebih suka dengan tubuhmu yang dulu.”
?: “Jangan bicarakan itu lagi, akhirnya aku sudah punya tubuh yang mengandung tulang, darah dan daging.”
Megan: “Shinjirarenai.” (Sulit dipercaya.)
?: “Odoroita ka? Kore wa ore no atarashi karada da.” (Terkejut? Ini adalah tubuhku yang terbaru.)
James: “Memang sulit dipercaya kalau ini memang Humpty Dumpty, sejak kapan?”
Uchida: “Wajar saja kalau ekspresi kalian terus seperti itu sejak bertemu di bandara, aku baru memasukkan kesadaranku kemarin. Terima kasih sejak kejadian di pulau, aku mendapatkan data berharga mengenai cara membuat tubuh organik untuk diriku sendiri.”
Francis: “Oh, Alvon.”
James: “Tapi aku bisa langsung percaya kalau dia benar-benar Humpty Dumpty.”
Megan: “Kenapa?”

            James menunjuk hidungnya sendiri, Megan dan Olivia lalu melihat langsung ke arah hidung Uchida.

James, Megan dan Olivia: “Oh, benar.”
Uchida: (jengkel) “Ya, maaf saja kalau hanya hidungku saja yang bisa kalian kenali.”

            Flashback pada kejadian di laboratorium tersembunyi di rumah Max sehari setelah insiden, Uchida yang berbadan seperti telur dan berpenampilan kucing sedang berdiri di depan rumah dikelilingi oleh anak-anak. Max sendiri sedang menandatangani tanda terima yang diberikan oleh seorang kurir. Sebuah kotak kardus besar atas nama perusahaan TDG diletakkan di depan garasi, kurir itu langsung meninggalkan tempat dengan menaiki truk.

Max: “Catnip! Pesananmu sudah datang!”
Uchida: “Nyaa~”

            Beberapa saat kemudian, semua isi kotak dibuka. Dengan mata berbinar-binar, Uchida langsung membawa masuk benda yang dikeluarkan dari kotak ke dalam garasi. Garasi tersebut sudah kembali seperti sedia kala, skuter milik Max yang rusak sudah diperbaiki dan dimodifikasi menjadi sebuah motor. Uchida membuka pintu sebuah lemari yang berada di sudut garasi, di dalamnya hanya ada sebuah ember, dua buah sapu, dan sebuah pel. Uchida melepaskan sarung tangan kucing dengan bantuan Max dan meletakkan telapak tangannya di langit-langit lemari, ternyata itu sebuah mekanisme yang membuat lemari tersebut menunjukkan pintu kedua di dalamnya. Dalam pintu itu ada dua buah lingkaran, satu di atas dan satu di bawah.

Max: “Apa yang sebenarnya kau pasang dalam garasi rumah kami?”
Uchida: “Sistem teleportasi.”
Max: “Mustahil, tapi apakah ini masih dalam tahap percobaan?”
Uchida: “Aku sudah mencobanya di mansion sebelum ini, tapi hanya aku yang bisa memakainya sampai saat ini.”
Max: “Kenapa?”
Uchida: “Karena hanya benda mati yang selama ini kupakai untuk percobaan, bukan makhluk hidup. Konsepnya sama seperti proyek Hermes yang kutanamkan pada kendaraan Francis, dengan menggunakan jalur elektrostatis.”
Max: “Lalu, tempat apa saja yang bisa terhubung lewat alat ini?”
Uchida: “Pertanyaan bagus, aku sudah menyetingnya di 3 tempat. Salah satunya adalah mansion, dua tempat sisanya masih dalam renovasi.”
Max: “Jadi, apa yang akan kau kirimkan?”
Uchida: “Ini.”

            Uchida melemparkan sesuatu seperti sebuah busi motor ke dalam alat teleportasi, muncul kilatan cahaya yang membuat barang itu menghilang dalam sekejap.

Max: “Ah! Silau!”
Uchida: “Maaf, aku tidak memperingatkan.”
Max: “Mataku! Aku perlu obat tetes mata!”

            Max menjauh dan bersandar pada motornya, melepas kacamatanya dan mengusap-usapnya. Tidak lama kemudian muncul lagi kilatan cahaya dari dalam lemari, kali ini selembar kartu dengan gambar laba-laba dan as keriting.

Uchida: “Pembayaran sudah diterima.”

            Max yang masih mengusap-usap matanya kini memasang kacamatanya lagi, Uchida menyodorkan sebuah kacamata hitam padanya.

Uchida: “Ini kacamata dengan dua lensa, lensa hitam berfungsi untuk menghalangi sinar masuk ke mata. Kau bisa membuka lensa hitam dengan menyentuh bagian kiri gagang dan membuatnya menjadi kacamata biasa untuk rabun dekat, aku sudah tahu ukuran minusmu.”
Max: “Terima kasih. (menerima kacamata) Apa ada fitur khusus untuk kacamata ini?”
Uchida: “Kalau maksudmu kegunaan seperti penglihatan tembus pandang atau mengeluarkan sinar laser, itu tidak ada.”
Max: “Tidak, bukan itu. Aku bukan maniak komik seperti James, maksudku sesuatu seperti alat telekomunikasi atau internet. (suara hati) Walau sebenarnya ingin.”
Uchida: “Ada, memang kubuat sedemikian rupa. Kacamata ini dilengkapi dengan 3 fungsi, internet, telpon dan penerjemah.”
Max: “Wow, ini bisa mempermudahku jika aku tidak membawa laptop.”
Uchida: “Terima kasih. Sekarang aku harus pergi, sisanya tolong kau urus.”
Max: “Tunggu, kau sepertinya tidak akan bisa masuk dengan pintu sekecil itu.”
Uchida: “Masalah itu sudah teratasi, memang aku mengatakan seluruh badanku harus masuk ke dalam?”

            Uchida melemparkan kepalanya sendiri ke dalam lemari, kilatan cahaya muncul lagi. Kali ini Max menutup matanya dengan cepat, dia membukanya setelah beberapa detik. Lensa kacamatanya berubah menjadi putih dan dia tak bisa melihat apa-apa, dia melepas kacamata lamanya dan menggantinya dengan kacamatanya yang baru diberi oleh Uchida. Sekarang dia bisa melihat dengan jelas, gagang kacamata sebelah kiri disentuhnya. Lensa hitam terangkat, kacamatanya menjadi bening.

Max: “Praktis juga.”

            Tapi di hadapannya kini sudah tidak ada siapa-siapa, hanya tubuh Uchida yang tidak berkepala dan tidak bergerak sama sekali. Max yang kebingungan hendak keluar dari garasi, tapi dia dihentikan oleh suara musik yang terdengar di telinganya. Suara itu terdengar dari kacamatanya, Max yang gelagapan menekan kembali gagang sebelah kiri. Lensa hitam menutup, dia baru menyadari ada tulisan ‘panggilan masuk’ di lensanya dan sebuah tanda panah menunjuk ke kanan. Max langsung menekan bagian kanan kacamata, suara musik terhenti dan terdengar suara Uchida.

Uchida: “Bagaimana?”
Max: (mendesah) “Kau hampir membuatku terkena penyakit jantung.”
Uchida: “Tak usah khawatir, menurut pengamatanku orang sepertimu hanya bisa terkena asma atau radang tenggorokan.”
Max: “Itu penyakit yang pernah kualami, kau bicara dari mana? Kepalamu hilang, badanmu masih ada di sini.”
Uchida: “Memang hanya kepalaku yang bisa dikirim ke tempatku berada sekarang, unit yang ada di tempatmu itu bekerja sebagai pengirim dan penerima. Di dua tempat lainnya hanya bisa sebagai 1 fungsi, kau tahu?”
Max: “Penerima dan pengirim di tempat berbeda?”
Uchida: “Benar sekali, saat ini aku berada di bagian penerima.”
Max: “Lalu bagaimana kau kembali nanti? Apa tidak masalah kau terpisah dari tubuhmu.”
Uchida: “Memang, aku akan mati jika terpisah cukup lama dari tubuhku. Tapi selama kepalaku terhubung dengan aliran listrik, aku masih bisa bertahan hidup.”

            Saat ini kepala Uchida yang berada di lain tempat sudah berada dalam tabung kaca dengan banyak kabel menancap di kepalanya, kepala kucing sudah tidak menutupi kepalanya. Ruangan di mana dia berada cukup luas, ada unit komputer di sebelah kanannya dan tabung berisi tubuh manusia di sebelah kanan. Sebuah tabung terbuka, sepasang kaki turun dan menginjak lantai. Seorang manusia dalam keadaan telanjang keluar dari dalam dan berjalan ke komputer, itulah Uchida yang sekarang berbentuk manusia.

Uchida: “Dan kau tak perlu khawatir bagaimana nanti aku akan kembali.”

            Kembali ke masa sekarang, Megan sedang mengelus-elus kepala Jaggy yang sedang makan daging steak. James, Uchida, dan Francis masih duduk di tempatnya. Olivia membereskan piring dan gelas yang sudah digunakan, membawanya ke belakang dan mencucinya.

Uchida: “Dan setelah itu aku bisa pergi ke tempat manapun yang kusukai, belum ada masalah mengenai soal efek samping penggunaan sampai saat ini.”
James: “Meggy, duduk kembali ke tempatmu. Kita akan rapat.”
Megan: “Jaggy, kemari.”

            Megan membawa Jaggy dan meletakkannya di pangkuannya sambil dielus-elus oleh Megan, James menekan tombol sebuah remote control dan muncullah sebuah layar televisi dari langit-langit pesawat.

James: “Aku sudah menyuruh orang melakukan pencarian ke pulau di mana kita terdampar, dan yang kumaksud ‘kita’ adalah Humpty Dumpty, Francis, Roy, dan tentu saja diriku. Pulau itu benar-benar sudah lenyap tidak berbekas, mereka mengambil foto ini tiga hari setelah kejadian.”

            James menunjukkan sebuah gambar di layar televisi, ada sebuah lubang yang cukup besar di dalam dasar laut.

James: “Diameter lubang itu kira-kira sebesar Las Vegas.”
Uchida: “Itulah kekuatan sistem penghancuran diri Alterion.”
Megan: “Kalau tempat seperti ini ada di kota besar dan dilengkapi dengan sistem yang sama...”
Olivia: “...akan ada banyak korban jiwa berjatuhan.”

            Francis masih memandangi jendela dengan tatapan kosong, semua pandangan mata kini tertuju pada Francis.

James: “Lalu... apa opinimu mengenai ini?”
Francis: “Maksudmu aku harus makan spaghetti dengan hidungku saat aku mendengar ini?”
Uchida: “Lagi-lagi dengan sikap acuh tak acuhmu itu.”
James: “Kami hanya ingin pendapat darimu, karena kau pernah melihat setidaknya yang seperti ini. Kau bilang kau pernah menghancurkan beberapa fasilitas mereka di masa depan, bagaimana tepatnya caramu melakukannya?”
Francis: “Tentu saja... cara yang sama dengan yang Alvon lakukan.”

            Francis menyeringai dan menatap dengan ekspresinya yang terlihat jahat, Megan merinding ketakutan dan menelan ludah saat melihatnya. Olivia mencoba menenangkan Megan dengan mengusap-usap bahunya dan memberinya minuman, tanpa ragu-ragu dia langsung mengambil dan meminumnya.

James: “Tunggu, tunggu. Maksudmu kau mengaktifkan penghancuran diri pada setiap fasilitas dan membuatnya meledak sampai membuat lubang yang berskala sebesar pulau Manhattan?”
Megan: “Apakah tidak ada tawanan sekalipun di tempat yang pernah kau hancurkan?”
Francis: “Mereka Alterion, tentu saja ada tawanan di semua fasilitas untuk dijadikan kelinci percobaan.”
Megan: “Dan kau masih memilih untuk menghancurkan tempat itu... tanpa memikirkan sedikitpun untuk menyelamatkan mereka semua?”
Francis: “Mereka layak menerimanya, banyak yang memilih untuk mati setelah tertangkap dan menjadi subyek eksperimen mereka. Bahkan sesuatu seperti harapan sudah tidak ada lagi pada diri mereka, yang ada hanyalah penderitaan. Pada akhirnya semua yang ada di dunia ini tak bisa lolos dari apa yang disebut dengan kematian, aku sudah banyak melihat yang seperti itu.”
Megan: “Kejam.”
Francis: “Kenapa? Kalau kau pikir aku terlihat peduli dengan orang-orang di sekitarku, itu salah. Biar kuberitahu sesuatu, mereka yang pernah bertempur bersamaku bisa dengan mudahnya menerima kematian sebagai jalan keluar terakhir. Sedangkan di jaman ini mereka bisa dengan mudahnya tidak menghiraukan apapun sementara mereka bersenang-senang, itu karena mereka tak pernah mengalami apa yang disebut penderitaan.”
Olivia: “Kalau maksudmu kami bisa hidup seperti biasa tanpa mengenal penderitaan, kau salah besar.”

            Olivia memandang dengan tatapan seram kepada Francis, dia juga balik memandangi Olivia dengan wajah seram. Megan, Uchida dan James tidak bisa melakukan apa-apa, mendadak Roy muncul di layar televisi.

Roy: “Semuanya, sebentar lagi kita akan mendarat di tempat tujuan. Tolong duduk kembali ke tempat masing-masing...”

            Roy melihat suasana yang menegangkan, Uchida memberi isyarat dengan membalikkan telapak tangannya perlahan. Roy mengangguk dan akhirnya dia memutuskan kontak.

James: “Baiklah, sudah cukup. Kita akan segera mendarat, jadi... lakukan seperti yang tadi Roy katakan.”
Uchida: (suara hati) “Dia tak pandai berbicara ya.”


            Kota Mexico, di sebuah gedung yang cukup tinggi dan sedang dalam pembangunan. Ada beberapa pekerja konstruksi di atasnya, masing-masing dari mereka sedang mengelas, mengecor, menyemen, dan menggergaji. Seorang operator mengoperasikan alat derek, namun alat derek itu mendadak berhenti beroperasi. Dia pun keluar dan memanggil seseorang dari kejauhan, orang itu sendiri berada di lantai teratas yang cukup tinggi. Orang itu berdiri dan meremas kertas lalu menyimpannya di saku celananya, dia berbalik dan melompat turun. Memegang tali katrol untuk meluncur turun, dia kemudian berayun ke tiang besi dan mendarat di atasnya. Dia berlari meloncati setumpuk semen, merunduk sambil menghindari orang yang sedang membawa tangga, mengambil selembar kain yang cukup besar dan membentangkannya. Kain itu digunakannya sebagai parasut, angin yang kencang mengangkatnya naik dan membawanya tepat di atas mesin derek. Kain itu langsung dia lepas dan dia mendarat tepat di atas mesin pengendali, dia melepas helm konstruksinya, menundukkan kepala untuk melihat rekan kerjanya dan memulai percakapan dengan bahasa Spanyol.

?: “Hay un problema?” (Ada masalah?)
Operator: “(Dereknya tidak bisa berjalan, apakah bisa diperiksa?)”
?: “Abajo.” (Turun)

            Operator itu turun dan sang pekerja pun masuk menggantikan, dia memandangi mesin tersebut. Kemudian dia melihat bungkusan snack berserakan di bawah kakinya, dia mengeluarkan kepalanya dari jendela dan melihat sang operator yang baru turun dengan pandangan jijik. Rekan kerjanya langsung berlari ketakutan, dia kembali memfokuskan pandangannya ke mesin. Bagian bawah mesin itu dibongkar dan beberapa kabel keluar dari dalam, dia memotong beberapa bagian dengan sesuatu seperti pisau. Kabel-kabel itu kemudian disambungkan silang, mesin derek itu kini mulai beroperasi. Mendadak sang pekerja yang mengoperasikan mesin derek kembali dan muncul di depan pintu, dia membawakan sebuah kantong plastik yang cukup besar dan langsung mengambil semua sampah yang berserakan di kaki temannya  dengan cepat, dia mengikat kantong plastik itu rapat-rapat dengan karet setelah memasukkan semua. Tapi sang pekerja masih memelototinya, dia menarik kerah baju sang operator.

?: “(Sudah berapa kali kukatakan untuk tidak mengkonsumsi apapun pada saat bekerja?)”
Operator: “Lo siento! Lo siento! Coronel!” (Maafkan aku! Maafkan aku! Kolonel)

            Sang pekerja melakukan headbutt pada operator dan membuat hidungnya berdarah, tatapan matanya kini berubah seolah-olah hendak membunuh.

?: “(Jangan panggil aku dengan sebutan itu... saat tidak ada misi.)”
Operator: “E-entiendo... (Pa-paham) Senor Ramon.”

            Wajah pekerja itu terlihat jelas, rambutnya yang panjang sampai bahu tapi sebelah kanan dan kirinya rontok tidak berambut, berkulit coklat, beralis tebal, memakai tindikan di hidung sebelah kiri dan telinga kanannya, tato kepala burung elang di sebelah kanan kepalanya. Dia keluar dan memaksa masuk sang operator, memakai kain besar yang tadi dia gunakan untuk parasut dan mendarat di lantai. Ramon berjalan ke arah dinding, dia melihat sebuah tempat sampah yang bisa dibuka dengan kaki. Dia mengambil bungkusan yang dia simpan di dalam saku dan membuangnya bersamaan dengan sampah milik operator, dia menarik nafas panjang dari mulut dan menghembuskannya keras-keras lewat hidung.

Ramon: “Idiota.” (Bodoh)
?: “Orang bodoh mengatai bodoh pada orang lain, sudah sering kulihat seperti itu.”

            Arachnus sedang duduk di sebuah kursi lengkap dengan meja bundar, dia sedang duduk bersama dengan beberapa pekerja sambil bermain kartu. Di atas meja banyak terdapat uang dan kartu berceceran, beberapa botol minuman, dan burito.

Ramon: “Arachnus, kami sedang bekerja sekarang.”
Arachnus: “Aku tahu, aku juga.”
Ramon: “Kalau kau menguras uang orang setidaknya pergilah ke kasino, (dan kalian semua kenapa malah melayaninya? Ini bahkan belum jam istirahat.)”
Arachnus: “Ini hanya untuk menghilangkan kebosananku, aku hanya pengawas di sini. Dan selama aku jadi pengawas, bukankah sudah menjadi kewajiban tuan rumah untuk melayani tamunya yang sedang bosan?”
Ramon: “Yang pertama ini bukan rumah, ini adalah fasilitas yang masih dalam pembangunan dikepalai oleh...”
Arachnus: “Aku tahu, sebab dialah yang menyuruhku kemari saat aku mau meninggalkan tempat Argos. Kalaupun anak buahmu yang tak pernah istirahat menemaniku sebentar, pembangunan ini tidak akan berhenti begitu saja.”
Ramon: “Mereka pernah beristirahat.”
Arachnus: “Ah, maaf maksudku jarang beristirahat. Tapi tanpa uang sekalipun, kalian masih bisa bertahan hidup. Bukankah mereka ini ‘pemakan bangkai’?”

            Ramon membalik meja dan membuat apa yang ada di atasnya jatuh berserakan, Arachnus dan para pekerja masih duduk sambil memegang kartu. Laba-laba di balik topinya menembakkan jaring ke segala arah, semua barang yang jatuh menempel pada jaring yang besar.

Arachnus: “Kau tak perlu semarah itu.”
Ramon: “Ya, mereka adalah ‘Buitres’.”
Arachnus: “Ah, coba lihat waktunya. Aku harus pergi untuk menjemput beberapa orang, kebetulan sekali aku juga sudah selesai. Lagipula aku bukan orang yang serakah yang suka mengambil semuanya dari seseorang, setidaknya aku menyisakan beberapa untuk kalian Royal Straight Flush.”

            Arachnus menunjukkan kartu raja, ratu, menteri, sepuluh, dan as sekop. Para pekerja menunjukkan kartunya yang lain dan langsung membubarkan diri, Arachnus juga beranjak pergi sebelum dia mengambil uang 1000 peso sebanyak 5 lembar, sebuah burito dan sebotol minuman yang menempel di jaring dengan bantuan laba-laba di balik topinya.

Arachnus: “Kalian boleh melanjutkan kegiatan kalian, Silakan ambil kembaliannya, cabron.”

            Arachnus pergi meninggalkan tempat dan memasuki sebuah elevator, Ramon memandanginya sampai dia tak kelihatan. Ramon berbalik dan melihat jaring yang dibuat Arachnus, dia mendesah berat.

Ramon: “(Dia pergi tanpa membersihkan sisa-sisanya.)”