KONSTRUKSI
24 Oktober 2010, 07:00, di sebuah
pesawat jet pribadi TDG. James dan Megan, dan Olivia memandangi seseorang yang
sedang makan dengan lahapnya. Di hadapan mereka duduk seorang bapak-bapak yang
memakai kemeja putih dan celana panjang hitam, rambutnya acak-acakan, berhidung
besar, bermata sipit, dan memakai kacamata. Francis sendiri hanya bersikap masa
bodoh dan duduk sambil memandangi pemandangan dari jendela, pria itu langsung
menenggak habis sebotol sake yang ada di atas meja.
?: “Puaaahh!! Rasanya sudah lama sekali
sejak aku menikmati hidangan seperti ini.”
Francis: “Padahal aku lebih suka dengan
tubuhmu yang dulu.”
?: “Jangan bicarakan itu lagi, akhirnya
aku sudah punya tubuh yang mengandung tulang, darah dan daging.”
Megan: “Shinjirarenai.” (Sulit dipercaya.)
?: “Odoroita ka? Kore wa ore no atarashi
karada da.” (Terkejut? Ini adalah tubuhku yang terbaru.)
James: “Memang sulit dipercaya kalau ini
memang Humpty Dumpty, sejak kapan?”
Uchida: “Wajar saja kalau ekspresi kalian
terus seperti itu sejak bertemu di bandara, aku baru memasukkan kesadaranku
kemarin. Terima kasih sejak kejadian di pulau, aku mendapatkan data berharga
mengenai cara membuat tubuh organik untuk diriku sendiri.”
Francis: “Oh, Alvon.”
James: “Tapi aku bisa langsung percaya kalau
dia benar-benar Humpty Dumpty.”
Megan: “Kenapa?”
James
menunjuk hidungnya sendiri, Megan dan Olivia lalu melihat langsung ke arah
hidung Uchida.
James, Megan dan Olivia: “Oh, benar.”
Uchida: (jengkel) “Ya, maaf saja kalau
hanya hidungku saja yang bisa kalian kenali.”
Flashback
pada kejadian di laboratorium tersembunyi di rumah Max sehari setelah insiden,
Uchida yang berbadan seperti telur dan berpenampilan kucing sedang berdiri di
depan rumah dikelilingi oleh anak-anak. Max sendiri sedang menandatangani tanda
terima yang diberikan oleh seorang kurir. Sebuah kotak kardus besar atas nama
perusahaan TDG diletakkan di depan garasi, kurir itu langsung meninggalkan
tempat dengan menaiki truk.
Max: “Catnip! Pesananmu sudah datang!”
Uchida: “Nyaa~”
Beberapa
saat kemudian, semua isi kotak dibuka. Dengan mata berbinar-binar, Uchida
langsung membawa masuk benda yang dikeluarkan dari kotak ke dalam garasi.
Garasi tersebut sudah kembali seperti sedia kala, skuter milik Max yang rusak
sudah diperbaiki dan dimodifikasi menjadi sebuah motor. Uchida membuka pintu sebuah
lemari yang berada di sudut garasi, di dalamnya hanya ada sebuah ember, dua
buah sapu, dan sebuah pel. Uchida melepaskan sarung tangan kucing dengan
bantuan Max dan meletakkan telapak tangannya di langit-langit lemari, ternyata
itu sebuah mekanisme yang membuat lemari tersebut menunjukkan pintu kedua di
dalamnya. Dalam pintu itu ada dua buah lingkaran, satu di atas dan satu di
bawah.
Max: “Apa yang sebenarnya kau pasang dalam
garasi rumah kami?”
Uchida: “Sistem teleportasi.”
Max: “Mustahil, tapi apakah ini masih
dalam tahap percobaan?”
Uchida: “Aku sudah mencobanya di mansion
sebelum ini, tapi hanya aku yang bisa memakainya sampai saat ini.”
Max: “Kenapa?”
Uchida: “Karena hanya benda mati yang
selama ini kupakai untuk percobaan, bukan makhluk hidup. Konsepnya sama seperti
proyek Hermes yang kutanamkan pada kendaraan Francis, dengan menggunakan jalur
elektrostatis.”
Max: “Lalu, tempat apa saja yang bisa
terhubung lewat alat ini?”
Uchida: “Pertanyaan bagus, aku sudah
menyetingnya di 3 tempat. Salah satunya adalah mansion, dua tempat sisanya
masih dalam renovasi.”
Max: “Jadi, apa yang akan kau kirimkan?”
Uchida: “Ini.”
Uchida
melemparkan sesuatu seperti sebuah busi motor ke dalam alat teleportasi, muncul
kilatan cahaya yang membuat barang itu menghilang dalam sekejap.
Max: “Ah! Silau!”
Uchida: “Maaf, aku tidak memperingatkan.”
Max: “Mataku! Aku perlu obat tetes mata!”
Max
menjauh dan bersandar pada motornya, melepas kacamatanya dan mengusap-usapnya.
Tidak lama kemudian muncul lagi kilatan cahaya dari dalam lemari, kali ini
selembar kartu dengan gambar laba-laba dan as keriting.
Uchida: “Pembayaran sudah diterima.”
Max
yang masih mengusap-usap matanya kini memasang kacamatanya lagi, Uchida
menyodorkan sebuah kacamata hitam padanya.
Uchida: “Ini kacamata dengan dua lensa,
lensa hitam berfungsi untuk menghalangi sinar masuk ke mata. Kau bisa membuka
lensa hitam dengan menyentuh bagian kiri gagang dan membuatnya menjadi kacamata
biasa untuk rabun dekat, aku sudah tahu ukuran minusmu.”
Max: “Terima kasih. (menerima kacamata)
Apa ada fitur khusus untuk kacamata ini?”
Uchida: “Kalau maksudmu kegunaan seperti
penglihatan tembus pandang atau mengeluarkan sinar laser, itu tidak ada.”
Max: “Tidak, bukan itu. Aku bukan maniak
komik seperti James, maksudku sesuatu seperti alat telekomunikasi atau
internet. (suara hati) Walau sebenarnya ingin.”
Uchida: “Ada, memang kubuat sedemikian
rupa. Kacamata ini dilengkapi dengan 3 fungsi, internet, telpon dan
penerjemah.”
Max: “Wow, ini bisa mempermudahku jika aku
tidak membawa laptop.”
Uchida: “Terima kasih. Sekarang aku harus
pergi, sisanya tolong kau urus.”
Max: “Tunggu, kau sepertinya tidak akan
bisa masuk dengan pintu sekecil itu.”
Uchida: “Masalah itu sudah teratasi, memang
aku mengatakan seluruh badanku harus masuk ke dalam?”
Uchida
melemparkan kepalanya sendiri ke dalam lemari, kilatan cahaya muncul lagi. Kali
ini Max menutup matanya dengan cepat, dia membukanya setelah beberapa detik.
Lensa kacamatanya berubah menjadi putih dan dia tak bisa melihat apa-apa, dia
melepas kacamata lamanya dan menggantinya dengan kacamatanya yang baru diberi
oleh Uchida. Sekarang dia bisa melihat dengan jelas, gagang kacamata sebelah
kiri disentuhnya. Lensa hitam terangkat, kacamatanya menjadi bening.
Max: “Praktis juga.”
Tapi
di hadapannya kini sudah tidak ada siapa-siapa, hanya tubuh Uchida yang tidak
berkepala dan tidak bergerak sama sekali. Max yang kebingungan hendak keluar
dari garasi, tapi dia dihentikan oleh suara musik yang terdengar di telinganya.
Suara itu terdengar dari kacamatanya, Max yang gelagapan menekan kembali gagang
sebelah kiri. Lensa hitam menutup, dia baru menyadari ada tulisan ‘panggilan
masuk’ di lensanya dan sebuah tanda panah menunjuk ke kanan. Max langsung menekan
bagian kanan kacamata, suara musik terhenti dan terdengar suara Uchida.
Uchida: “Bagaimana?”
Max: (mendesah) “Kau hampir membuatku
terkena penyakit jantung.”
Uchida: “Tak usah khawatir, menurut
pengamatanku orang sepertimu hanya bisa terkena asma atau radang tenggorokan.”
Max: “Itu penyakit yang pernah kualami,
kau bicara dari mana? Kepalamu hilang, badanmu masih ada di sini.”
Uchida: “Memang hanya kepalaku yang bisa
dikirim ke tempatku berada sekarang, unit yang ada di tempatmu itu bekerja
sebagai pengirim dan penerima. Di dua tempat lainnya hanya bisa sebagai 1
fungsi, kau tahu?”
Max: “Penerima dan pengirim di tempat
berbeda?”
Uchida: “Benar sekali, saat ini aku berada
di bagian penerima.”
Max: “Lalu bagaimana kau kembali nanti?
Apa tidak masalah kau terpisah dari tubuhmu.”
Uchida: “Memang, aku akan mati jika
terpisah cukup lama dari tubuhku. Tapi selama kepalaku terhubung dengan aliran
listrik, aku masih bisa bertahan hidup.”
Saat
ini kepala Uchida yang berada di lain tempat sudah berada dalam tabung kaca
dengan banyak kabel menancap di kepalanya, kepala kucing sudah tidak menutupi
kepalanya. Ruangan di mana dia berada cukup luas, ada unit komputer di sebelah
kanannya dan tabung berisi tubuh manusia di sebelah kanan. Sebuah tabung
terbuka, sepasang kaki turun dan menginjak lantai. Seorang manusia dalam
keadaan telanjang keluar dari dalam dan berjalan ke komputer, itulah Uchida
yang sekarang berbentuk manusia.
Uchida: “Dan kau tak perlu khawatir
bagaimana nanti aku akan kembali.”
Kembali
ke masa sekarang, Megan sedang mengelus-elus kepala Jaggy yang sedang makan
daging steak. James, Uchida, dan Francis masih duduk di tempatnya. Olivia
membereskan piring dan gelas yang sudah digunakan, membawanya ke belakang dan
mencucinya.
Uchida: “Dan setelah itu aku bisa pergi ke
tempat manapun yang kusukai, belum ada masalah mengenai soal efek samping
penggunaan sampai saat ini.”
James: “Meggy, duduk kembali ke tempatmu.
Kita akan rapat.”
Megan: “Jaggy, kemari.”
Megan
membawa Jaggy dan meletakkannya di pangkuannya sambil dielus-elus oleh Megan,
James menekan tombol sebuah remote control dan muncullah sebuah layar televisi
dari langit-langit pesawat.
James: “Aku sudah menyuruh orang melakukan
pencarian ke pulau di mana kita terdampar, dan yang kumaksud ‘kita’ adalah
Humpty Dumpty, Francis, Roy, dan tentu saja diriku. Pulau itu benar-benar sudah
lenyap tidak berbekas, mereka mengambil foto ini tiga hari setelah kejadian.”
James
menunjukkan sebuah gambar di layar televisi, ada sebuah lubang yang cukup besar
di dalam dasar laut.
James: “Diameter lubang itu kira-kira
sebesar Las Vegas.”
Uchida: “Itulah kekuatan sistem
penghancuran diri Alterion.”
Megan: “Kalau tempat seperti ini ada di
kota besar dan dilengkapi dengan sistem yang sama...”
Olivia: “...akan ada banyak korban jiwa
berjatuhan.”
Francis
masih memandangi jendela dengan tatapan kosong, semua pandangan mata kini
tertuju pada Francis.
James: “Lalu... apa opinimu mengenai ini?”
Francis: “Maksudmu aku harus makan
spaghetti dengan hidungku saat aku mendengar ini?”
Uchida: “Lagi-lagi dengan sikap acuh tak
acuhmu itu.”
James: “Kami hanya ingin pendapat darimu,
karena kau pernah melihat setidaknya yang seperti ini. Kau bilang kau pernah
menghancurkan beberapa fasilitas mereka di masa depan, bagaimana tepatnya caramu
melakukannya?”
Francis: “Tentu saja... cara yang sama
dengan yang Alvon lakukan.”
Francis
menyeringai dan menatap dengan ekspresinya yang terlihat jahat, Megan merinding
ketakutan dan menelan ludah saat melihatnya. Olivia mencoba menenangkan Megan dengan
mengusap-usap bahunya dan memberinya minuman, tanpa ragu-ragu dia langsung
mengambil dan meminumnya.
James: “Tunggu, tunggu. Maksudmu kau
mengaktifkan penghancuran diri pada setiap fasilitas dan membuatnya meledak
sampai membuat lubang yang berskala sebesar pulau Manhattan?”
Megan: “Apakah tidak ada tawanan sekalipun
di tempat yang pernah kau hancurkan?”
Francis: “Mereka Alterion, tentu saja ada
tawanan di semua fasilitas untuk dijadikan kelinci percobaan.”
Megan: “Dan kau masih memilih untuk menghancurkan
tempat itu... tanpa memikirkan sedikitpun untuk menyelamatkan mereka semua?”
Francis: “Mereka layak menerimanya, banyak
yang memilih untuk mati setelah tertangkap dan menjadi subyek eksperimen
mereka. Bahkan sesuatu seperti harapan sudah tidak ada lagi pada diri mereka,
yang ada hanyalah penderitaan. Pada akhirnya semua yang ada di dunia ini tak
bisa lolos dari apa yang disebut dengan kematian, aku sudah banyak melihat yang
seperti itu.”
Megan: “Kejam.”
Francis: “Kenapa? Kalau kau pikir aku
terlihat peduli dengan orang-orang di sekitarku, itu salah. Biar kuberitahu
sesuatu, mereka yang pernah bertempur bersamaku bisa dengan mudahnya menerima
kematian sebagai jalan keluar terakhir. Sedangkan di jaman ini mereka bisa
dengan mudahnya tidak menghiraukan apapun sementara mereka bersenang-senang,
itu karena mereka tak pernah mengalami apa yang disebut penderitaan.”
Olivia: “Kalau maksudmu kami bisa hidup
seperti biasa tanpa mengenal penderitaan, kau salah besar.”
Olivia
memandang dengan tatapan seram kepada Francis, dia juga balik memandangi Olivia
dengan wajah seram. Megan, Uchida dan James tidak bisa melakukan apa-apa, mendadak
Roy muncul di layar televisi.
Roy: “Semuanya, sebentar lagi kita akan
mendarat di tempat tujuan. Tolong duduk kembali ke tempat masing-masing...”
Roy
melihat suasana yang menegangkan, Uchida memberi isyarat dengan membalikkan
telapak tangannya perlahan. Roy mengangguk dan akhirnya dia memutuskan kontak.
James: “Baiklah, sudah cukup. Kita akan
segera mendarat, jadi... lakukan seperti yang tadi Roy katakan.”
Uchida: (suara hati) “Dia tak pandai
berbicara ya.”
Kota
Mexico, di sebuah gedung yang cukup tinggi dan sedang dalam pembangunan. Ada
beberapa pekerja konstruksi di atasnya, masing-masing dari mereka sedang
mengelas, mengecor, menyemen, dan menggergaji. Seorang operator mengoperasikan
alat derek, namun alat derek itu mendadak berhenti beroperasi. Dia pun keluar
dan memanggil seseorang dari kejauhan, orang itu sendiri berada di lantai
teratas yang cukup tinggi. Orang itu berdiri dan meremas kertas lalu
menyimpannya di saku celananya, dia berbalik dan melompat turun. Memegang tali
katrol untuk meluncur turun, dia kemudian berayun ke tiang besi dan mendarat di
atasnya. Dia berlari meloncati setumpuk semen, merunduk sambil menghindari
orang yang sedang membawa tangga, mengambil selembar kain yang cukup besar dan
membentangkannya. Kain itu digunakannya sebagai parasut, angin yang kencang
mengangkatnya naik dan membawanya tepat di atas mesin derek. Kain itu langsung
dia lepas dan dia mendarat tepat di atas mesin pengendali, dia melepas helm
konstruksinya, menundukkan kepala untuk melihat rekan kerjanya dan memulai
percakapan dengan bahasa Spanyol.
?: “Hay un problema?” (Ada masalah?)
Operator: “(Dereknya tidak bisa berjalan,
apakah bisa diperiksa?)”
?: “Abajo.” (Turun)
Operator
itu turun dan sang pekerja pun masuk menggantikan, dia memandangi mesin
tersebut. Kemudian dia melihat bungkusan snack berserakan di bawah kakinya, dia
mengeluarkan kepalanya dari jendela dan melihat sang operator yang baru turun
dengan pandangan jijik. Rekan kerjanya langsung berlari ketakutan, dia kembali
memfokuskan pandangannya ke mesin. Bagian bawah mesin itu dibongkar dan
beberapa kabel keluar dari dalam, dia memotong beberapa bagian dengan sesuatu
seperti pisau. Kabel-kabel itu kemudian disambungkan silang, mesin derek itu
kini mulai beroperasi. Mendadak sang pekerja yang mengoperasikan mesin derek
kembali dan muncul di depan pintu, dia membawakan sebuah kantong plastik yang
cukup besar dan langsung mengambil semua sampah yang berserakan di kaki
temannya dengan cepat, dia mengikat
kantong plastik itu rapat-rapat dengan karet setelah memasukkan semua. Tapi
sang pekerja masih memelototinya, dia menarik kerah baju sang operator.
?: “(Sudah berapa kali kukatakan untuk
tidak mengkonsumsi apapun pada saat bekerja?)”
Operator: “Lo siento! Lo siento! Coronel!”
(Maafkan aku! Maafkan aku! Kolonel)
Sang
pekerja melakukan headbutt pada operator dan membuat hidungnya berdarah,
tatapan matanya kini berubah seolah-olah hendak membunuh.
?: “(Jangan panggil aku dengan sebutan
itu... saat tidak ada misi.)”
Operator: “E-entiendo... (Pa-paham) Senor
Ramon.”
Wajah
pekerja itu terlihat jelas, rambutnya yang panjang sampai bahu tapi sebelah
kanan dan kirinya rontok tidak berambut, berkulit coklat, beralis tebal,
memakai tindikan di hidung sebelah kiri dan telinga kanannya, tato kepala
burung elang di sebelah kanan kepalanya. Dia keluar dan memaksa masuk sang
operator, memakai kain besar yang tadi dia gunakan untuk parasut dan mendarat
di lantai. Ramon berjalan ke arah dinding, dia melihat sebuah tempat sampah
yang bisa dibuka dengan kaki. Dia mengambil bungkusan yang dia simpan di dalam
saku dan membuangnya bersamaan dengan sampah milik operator, dia menarik nafas
panjang dari mulut dan menghembuskannya keras-keras lewat hidung.
Ramon: “Idiota.” (Bodoh)
?: “Orang bodoh mengatai bodoh pada orang
lain, sudah sering kulihat seperti itu.”
Arachnus
sedang duduk di sebuah kursi lengkap dengan meja bundar, dia sedang duduk bersama
dengan beberapa pekerja sambil bermain kartu. Di atas meja banyak terdapat uang
dan kartu berceceran, beberapa botol minuman, dan burito.
Ramon: “Arachnus, kami sedang bekerja
sekarang.”
Arachnus: “Aku tahu, aku juga.”
Ramon: “Kalau kau menguras uang orang setidaknya
pergilah ke kasino, (dan kalian semua kenapa malah melayaninya? Ini bahkan
belum jam istirahat.)”
Arachnus: “Ini hanya untuk menghilangkan
kebosananku, aku hanya pengawas di sini. Dan selama aku jadi pengawas, bukankah
sudah menjadi kewajiban tuan rumah untuk melayani tamunya yang sedang bosan?”
Ramon: “Yang pertama ini bukan rumah, ini
adalah fasilitas yang masih dalam pembangunan dikepalai oleh...”
Arachnus: “Aku tahu, sebab dialah yang
menyuruhku kemari saat aku mau meninggalkan tempat Argos. Kalaupun anak buahmu
yang tak pernah istirahat menemaniku sebentar, pembangunan ini tidak akan
berhenti begitu saja.”
Ramon: “Mereka pernah beristirahat.”
Arachnus: “Ah, maaf maksudku jarang
beristirahat. Tapi tanpa uang sekalipun, kalian masih bisa bertahan hidup.
Bukankah mereka ini ‘pemakan bangkai’?”
Ramon
membalik meja dan membuat apa yang ada di atasnya jatuh berserakan, Arachnus
dan para pekerja masih duduk sambil memegang kartu. Laba-laba di balik topinya
menembakkan jaring ke segala arah, semua barang yang jatuh menempel pada jaring
yang besar.
Arachnus: “Kau tak perlu semarah itu.”
Ramon: “Ya, mereka adalah ‘Buitres’.”
Arachnus: “Ah, coba lihat waktunya. Aku
harus pergi untuk menjemput beberapa orang, kebetulan sekali aku juga sudah
selesai. Lagipula aku bukan orang yang serakah yang suka mengambil semuanya
dari seseorang, setidaknya aku menyisakan beberapa untuk kalian Royal Straight
Flush.”
Arachnus
menunjukkan kartu raja, ratu, menteri, sepuluh, dan as sekop. Para pekerja
menunjukkan kartunya yang lain dan langsung membubarkan diri, Arachnus juga
beranjak pergi sebelum dia mengambil uang 1000 peso sebanyak 5 lembar, sebuah
burito dan sebotol minuman yang menempel di jaring dengan bantuan laba-laba di
balik topinya.
Arachnus: “Kalian boleh melanjutkan
kegiatan kalian, Silakan ambil kembaliannya, cabron.”
Arachnus
pergi meninggalkan tempat dan memasuki sebuah elevator, Ramon memandanginya
sampai dia tak kelihatan. Ramon berbalik dan melihat jaring yang dibuat
Arachnus, dia mendesah berat.
Ramon: “(Dia pergi tanpa membersihkan
sisa-sisanya.)”