Sunday, March 27, 2022

Level 45

 

LOLOS

 

            24 Oktober 2010, 10:45, di dalam bagian kapal pesiar yang sudah hancur. Terdengar suara teriakan keras yang bergema di dalamnya, suara tersebut didengar oleh sosok misterius yang bergerak dengan cepat dalam laut.

?: “Ketemu.”

                Jeritan Francis memekakkan telinga dan membuat kaca retak, sang wanita perompak langsung menutup telinganya. Di saat bersamaan, kaca jendela kapal pecah satu persatu dan air mulai masuk dengan cepat. Ketinggian air meningkat setinggi lutut, Francis terendam dengan cepat dan dia masih berteriak dalam air. Suaranya sendiri sudah tidak terdengar lagi karena hal tersebut, sang wanita langsung berdiri dan kembali membantu Francis. Dia menyelam dan mencoba menarik lengan Francis namun tetap tidak berhasil, kemudian dia mengambil pisau yang dia simpan di dalam rompinya. Setelah itu dia menusuk lengan Francis yang tersangkut, darah keluar dan bertebaran dari lengan yang ditusuk. Dia berusaha memotong lengannya sekuat tenaga, akan tetapi bilah pisau tersebut patah. Sang wanita langsung keluar dari dalam air dan melihat dengan pandangan tak percaya pada pisaunya yang patah, sementara Francis sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan kondisi mata dan mulut terbuka. Wanita perompak itu mulai panik dan menoleh ke sana kemari mencari sesuatu, namun dia mendadak diam saat mendengar suara seseorang.

 

?: “Francis! Francis! Kau di dalam?!”

 

            Wanita itu menoleh ke arah suara tersebut, dia menyadari ada salah satu jendela yang tersumbat oleh sesuatu sehingga air tidak bisa masuk. Dia berjalan menghampiri jendela dan mengamati benda yang tersangkut di jendela, benda itu menyerupai bola besi.

 

?: “Francis? Apa itu kau?!”

??: “Siapa ini?”

?: “Suara wanita? Kau sendiri siapa?”

??: “Aku... aku penumpang di kapal ini, aku terjebak bersama dengan seseorang.”

?: “Apa dia punya rambut merah dan berwajah tidak ramah?”

??: “Begitulah.”

?: “Di mana dia sekarang?!”

??: “Dia terjepit, lengannya terjepit tembok kapal. Sekarang dia tenggelam dan aku tak bisa mengeluarkannya.”

?: “Apa?! Bagaimana bisa?!”

??: “Dia jatuh ketika kapal ini tenggelam dalam posisi miring, badannya kejang-kejang kemudian dia berteriak kencang sampai telingaku sakit.”

?: “Baiklah, apa sekarang dia ada di bawah situ? Aku akan mengeluarkannya, jadi tolong bantu aku.”

??: “Baik, apa yang harus kulakukan.”

?: “Dorong kepalaku keluar dari jendela ini.”

 

            Wanita itu memasang wajah bengong mendengar perkataannya.

 

??: “Kau terjepit juga?”

?: “Tak usah dipermasalahkan, kau dorong saja kepalaku.”

            Wanita itu langsung menuruti perintah dan mencoba mendorongnya sekuat tenaga, dia juga berusaha mencungkil jendela dengan pisaunya yang patah. Tidak lama kemudian, jendela itu mulai memancarkan air sebagai tanda benda yang menyumbat jendela mulai lepas. Benda itu akhirnya terlepas dan air masuk ke dalam sangat cepat, kini air sudah mencapai ketinggian lehernya. Wanita itu menyelam sekali lagi dan melihat Francis yang sudah tidak bergerak lagi, seolah-olah sudah mati. Mendadak dinding tempat Francis terjepit bergetar, muncul semacam sinar laser yang membuat lubang di sekitar tubuh Francis. Ketika lubang sudah selesai dibuat, tembok tersebut jebol dan membuat seisi kapal tersedot keluar. Francis yang masih pingsan langsung tersadar, sementara wanita itu berpegangan sekuat tenaga agar tidak tersedot. Tapi karena arus yang terlalu kuat, pegangannya terlepas dan dia terlempar keluar. Dia mulai kehilangan kesadaran, sebelum pingsan dia melihat cahaya merah. Sesosok misterius muncul mendekatinya, matanya bersinar kekuningan.

 

 

            Di tepi pantai, Julio sang perompak duduk meringkuk sambil meratapi nasibnya. Sambil menggiti kuku jempolnya, dia melihat bulan yang bayangannya terlihat jelas di laut. Julio mengambil kerikil dan melemparnya ke laut, tepat pada bayangan bulan.

 

Julio: “(Idiota. Seharusnya aku tidak meninggalkan mereka.)”

 

Julio melempar kerikil lagi pada bayangan tersebut, namun hal aneh terjadi. Kerikil itu terlempar kembali tepat di ujung kakinya, Julio yang keheranan mengambil kerikil tersebut dan mengamatinya. Dia melemparnya kembali, kali ini ada suara seperti besi yang berdenting. Kerikil itu terlempar kembali dan tepat mengenai dada Julio, dia melihat sesuatu yang ganjil. Bayangan bulan di laut mendadak bersinar dengan warna kemerahan, bayangan itu sendiri terlihat bergerak. Sesuatu perlahan muncul dari dalam lautan perlahan-lahan, sosok seperti manusia tersebut berjalan keluar dari laut dan menuju pantai. Tubuhnya bersinar kemerahan, dia terlihat membawa seseorang dengan kedua tangannya. Sosok tersebut ternyata adalah Francis dengan baju tempur lengkap, orang yang dia bawa adalah sang wanita perompak. Julio yang melihat hal tersebut langsung berlari menghampiri mereka, dia melihat pimpinannya tidak sadarkan diri.

 

Julio: “Capitana!”

 

            Francis menyerahkan sang pimpinan pada Julio, dia langsung menerimanya dan membaringkannya ke tanah. Sementara Francis berusaha melepaskan helmnya, sesuatu jatuh di bagian belakang. Francis sudah berhasil melepas helmnya dan kembali berpenampilan seperti biasa, hanya jas dan kemejanya robek di bagian lengan sebelah kanan. Dia memandang ke belakang dan menghampiri benda aneh yang jatuh dari belakang tubuhnya. Benda itu diambil dan diangkat tepat di hadapan wajah Francis, ternyata itu adalah kepala robot Uchida.

 

Francis: “Apa yang terjadi dengan tubuhmu?”

Uchida: “Tekhnologi klon tubuh itu belum sempurna, terjadi pembusukan dalam waktu singkat. Untungnya aku sudah menyelaraskan hubungan mental tubuhku yang asli dan menghubungkannya dengan tubuh baruku, tanpa harus takut jika terjadi sesuatu.”

Francis: “Lalu mana sisa tubuhmu sekarang?”

Uchida: “Ada di hotel, sudah jadi debu. Kalau tubuh asliku kutinggalkan di rumah Max, aku langsung pergi ke tujuanmu begitu tahu apa yang terjadi.”

Francis: “Rumahnya itu jauh dari sini bukan? Dan kau hanya tinggal kepala, bagaimana kau pergi kemari?”

Uchida: “Ada sistem roket darurat di kepalaku, aku hanya bisa menggunakannya 3 kali. Tadi aku menggunakannya untuk pergi dari lab ke rumah Max, kemudian terbang kemari. Tubuhku yang asli ada di atas sana sekarang, aku harus segera kembali sebelum tubuhku tidak berfungsi.”

 

            Francis mendongak memperhatikan langit malam, dia melihat bintang-bintang yang bersinar. Tapi dia menyadari salah satu bintang yang sinarnya berbeda dengan yang lain, dia bolak-balik memandangi langit lalu wajah Uchida. Dia tersenyum dengan wajah jahat, Uchida langsung menyadari niatnya. Francis melempar kepala Uchida ke langit dengan kecepatan tinggi, membuat Uchida berteriak kencang

 

Uchida: “FRANCIIIIIIIISSS!!”

 

            Setelah kepala Uchida tidak terlihat lagi, Francis memandang ke arah di mana kapal tadi tenggelam. Banyak penumpang sudah diangkut oleh perahu penyelamat dan dibawa pergi oleh polisi, dia mengalihkan pandangannya pada Julio dan sang wanita. Dia baru saja sadar dan dibantu berdiri oleh Julio, namun dia masih sempoyongan. Dia kemudian melihat Francis, mereka berdua saling berpandangan cukup lama. Francis beranjak pergi, namun wanita itu berusaha memanggilnya. Dia langsung terjatuh karena masih lemas, Julio yang panik langsung memanggilnya.

 

Julio: (“Hei! Hei! Tunggu! Jangan pergi!”)

?: “Kau yang berambut merah... tunggu...”

 

            Francis langsung berhenti, Julio membantu kaptennya berdiri tapi dia mendorongnya. Dia berjalan maju perlahan-lahan, di tangan kanannya sudah ada pistol yang langsung ditodongkan pada Francis.

 

Julio: (“Itu pistolku, sejak kapan?”)

?: “Kau... siapa namamu?”

Francis: “Francis.”

?: “Aku berterima kasih karena kau sudah menolongku, tapi kau sudah melihat wajahku. Aku takkan biarkan kau pergi begitu saja.”

Francis: “Oh...”

 

            Francis berbalik dengan wajah seram, seolah-olah ingin membunuh. Sang wanita dan Julio merinding begitu melihatnya, Francis berjalan mendekati sang wanita. Ujung pistol dan wajah Francis sekarang berdekatan, sang wanita berkeringat saat dipandangi oleh Francis dengan tatapan tajam. Francis lalu mengambil sesuatu dari balik jasnya, sebuah tangan monster berada dalam genggamannya.

 

Wanita: “Itu...”

Francis: “Aku mengambilnya dari mutan yang keluar melarikan diri dari kapal itu, jadi... sepertinya kau tahu... apa yang ada di dalam sana.”

 

            Mendadak terdengar dering telepon, Francis berdecak dan segera mengambil sesuatu dari balik jasnya. Ternyata dering itu sendiri berasal dari kacamata yang dia keluarkan, dia langsung memakainya dan menjawab panggilan.

 

James: “Halo, masih dalam keadaan tubuh lengkap?”

Francis: “Aku masih punya tangan yang bisa mematahkan lehermu dengan sekali putar.”

James: “Oh, itu menakutkan. Aku bisa melihatmu dari sini, kau di pantai bukan? Sepertinya kau sudah mendapat teman.”

 

            James sendiri melihat dari kejauhan dengan teropong, menaiki speedboat yang dikendarai Roy. Selain mereka juga ada Megan dan Olivia, mereka semua menuju pantai. Francis mendesah panjang begitu melihat mereka semua, dia memandang lagi pada sang wanita.

 

Francis: “Aku takkan membunuhmu, kau punya pertanyaan begitu juga dengan diriku. Jadi apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

 

 

            Di sebuah gua bawah laut, mutan berwajah ikan yang baru kabur dari kapal masuk ke dalam. Di dalamnya ternyata ada sebuah markas besar yang dijalankan beberapa absorber, mereka berdua disambut oleh seseorang. Orang itu adalah Braz, pemimpin dari proyek pembuatan terowongan yang saat ini mereka buat.

 

Braz: (“Selamat datang, semuanya. Terutama kau, Mendez.”)

 

            Di hadapan Braz, sudah ada Mendez yang memakai pakaian milik pembajak kapal dalam keadaan basah kuyup. Kepalanya berwujud manusia, tapi kaki dan tangannya seperti katak yang memiliki selaput di jari-jarinya. Di belakangnya ada mutan ikan yang jadi bawahannya, Braz memandangi mereka dan terlihat keheranan.

 

Braz: (“Aneh, mana prajuritmu yang satu lagi? Kau biasanya membawa mereka tanpa kurang satupun.”)

Mendez: (“Itu...”)

 

            Dari belakang Mendez, terdengar suara langkah kaki yang berat dan tetesan-tetesan air. Mendez dan para mutan langsung berbalik dan memberikan jalan pada orang di belakang mereka, dia terlihat sedang memakan sesuatu. Wujudnya tidak terlihat jelas, Braz sendiri terlihat senang melihat orang tersebut. Mendadak terdengar suara derap langkah kaki, Montes berlari dengan kencang ke arah orang tersebut. Orang itu langsung melempar makanannya dan ditangkap oleh Montes dengan mulut di kepalanya, makanan itu sendiri ternyata adalah sebuah kaki milik bawahan Mendez.

 

?: “(Sudah lama sekali ya, Braz, Montes.)”

Braz: “Kapitan!”

Kapitan: “(Maaf karena kedatanganku hari ini dipercepat, beberapa ular laut sudah membangunkanku.)”

Braz: “(Oh, perompak rendahan itu? Jadi mereka masih hidup.)”

Kapitan: “(Aku masih perlu istirahat, ini semua tanggung jawabmu. Kau mengerti, Mendez?)”

Mendez: “(Baik, Kapitan.)”

Braz: “(Kapitan, aku sudah menyiapkan ruanganmu. Kau tak perlu khawatir saat nanti kau bangun untuk menghadiri pesta.)”

 

            Kapitan dan Braz meninggalkan Mendes yang terlihat depresi, dia melihat Montes yang sedari tadi mengunyah-ngunyah kaki bawahannya. Salah satu bawahannya langsung berbisik, seketika itu juga raut wajahnya berubah.

 

Mendez: “(Apa itu betul?)”

Bawahan: “(Ya, dia yang melukai salah satu dari kita. Dia mirip dengan eksperimen M46N4...)”

Mendez: “...120K... (masih ada kesempatan...)”

 

 

            Sementara itu di suatu tempat terpencil, ada sebuah Villa yang terletak di atas sebuah bukit. Di sekitarnya dikelilingi perkebunan kopi yang dikelola oleh beberapa orang pekerja, bagian belakang Villa menghadap ke arah laut. Dari ruangan Villa tersebut, kota Acapulco bisa terlihat jelas dari kejauhan. Pemandangan itu sendiri sedang dinikmati oleh Uchida yang hanya kepala, saat ini sedang memulihkan diri dalam sebuah tabung kaca. Sementara tubuhnya menyedot makanan dan minuman dalam jumlah besar, Olivia baru saja masuk ruangan membawakan makanan. Suara tubuh Uchida yang menyedot makanan terdengar dari kamar sebelah, dalam ruangan itu ada Julio dan sang wanita pemimpin perompak duduk di kursi di depan meja makan. Di depan mereka, Francis dan James juga duduk di kursi memandangi mereka. Tapi James hanya memandangi sang wanita dengan pandangan menggoda, sang wanita hanya memalingkan wajah. Terdengar suara ketukan pintu, Megan masuk dan melihat keadaan di dalam. Dia menahan tawa saat melihat James, sebelah wajahnya terdapat bekas tamparan.

 

Megan: “Sepertinya kau menikmati sekali.”

James: “Apa salahnya? Aku sudah biasa ditampar wanita.”

Megan: “Yeah, yeah. Senorita, ada yang ingin bertemu denganmu.”

 

            Megan masuk sambil ditemani seorang anak lelaki dengan penampilan rapi, kemeja putih dan celana pendek. Warna rambutnya hitam, matanya coklat, dan warna kulitnya sama dengan Julio dan wanita tersebut. Sang wanita kaget begitu mereka bertemu, begitu juga dengan anak tersebut.

 

Wanita: “Martinez?!”

Martinez: “(Kak Amara?)”

 

            Anak lelaki itu memandang Megan, Megan mengangguk dan melepaskan anak itu. Dia berlari dan langsung memeluk wanita yang ternyata bernama Amara itu, James dan Megan saling memandang dan mengedipkan sebelah mata satu sama lain.

 

Amara: “(Kau tidak apa-apa? Kukira polisi sudah membawamu pergi.)”

Martinez: “(Tidak, aku dibius dan dibawa pergi waktu aku menjaga kapal. Waktu aku sadar, aku sudah ada di dalam mobil dengan kakak itu.)”

Megan: “Dia sempat menyerangku dengan pisau, untungnya Olivia berhasil melindungiku.”

Francis: “Seharusnya dia dibunuh saja.”

 

            Megan langsung mengeluarkan alat setrum dan menyerang dahi Francis, dia kejang-kejang sampai menendang meja dan membuat vas bunga kecil di atasnya jatuh dan pecah.

 

Francis: “Hei!”

Megan: “Kalau kau mengatakan sesuatu seperti bunuh atau siksa lagi, kusetrum bagian tubuhmu yang tak bisa kau bayangkan sakitnya.”

James: “Ah, mejanya jadi berantakan. Francis, kau duduk di beranda saja. Biar aku dan Megan yang tangani ini.”

 

            Terdengar ketukan pintu, Megan membukanya dan di depannya sudah ada Olivia membawakan makanan yang didorong dengan meja dorong dan ditutupi tudung saji. Dia mempersilakannya masuk, Olivia langsung memasukkan makanan ke dalam. Ketika dia melihat kondisi meja, dia langsung mengeluarkan lap, sapu kecil, ember kecil dan sebuah pengki kecil dari balik celemeknya. Dia langsung membereskan vas yang pecah, mengelap meja dan lantai yang basah, kemudian memeras airnya ke dalam ember. Bunga yang tadinya ada di vas lama, dimasukkan ke vas yang baru saja diganti dan diisi air. Setelah itu, dia meletakkan hidangan yang sudah disiapkan ke atas meja. Di atas sudah terdapat dua hidangan yang masih ditutup, James dan Megan sudah duduk di kursi masing-masing.

 

James: “Sebelum kita bicara, lebih baik kalian duduk dulu dan ikut makan bersama kami.”

Megan: “Kita takkan bisa membicarakan masalah ini kalau kalian lapar bukan?”

Julio: “(Apa katanya?)”

Amara: “(Dia mengajak kita untuk makan.)”

 

            Setelah dipersilahkan untuk duduk, Olivia membuka tudung. Asap keluar dari dalamnya, di depan mereka sudah ada dua hidangan yang menggugah selera. Satu piring berisi hidangan seperti lumpia yang digoreng, satunya lagi adalah masakan seperti kebab yang berisi daging dan sayur

 

James: “Jadi... di antara, burrito dan chimichanga... kalian lebih suka yang mana?”

 

            Julio langsung menelan ludah dan mencoba mengambil, tapi Amara menampar tangannya. James dan Megan saling memandang, setelah itu mereka memandang Martinez. Suara perutnya terdengar, James langsung mengambil inisiatif. Dia hendak mengambil makanan tersebut, namun mendadak Francis mengambil semua makanan dalam satu piring dan membawanya pergi ke beranda. Olivia langsung berjalan cepat dan mengambil kembali makanan yang dibawa Francis dan menyetrumnya dengan alat, makanan itu diletakkan kembali ke meja.

 

Megan: “Terima kasih, Olivia. Maaf atas yang barusan.”

 

            James dan Megan mengambil satu dari piring, James mengambil Chimichanga, Megan Burrito. Mereka berdua langsung menggigit dan mengunyahnya, mereka berdua terlihat menikmati sampai mereka menelannya.

 

James: “Hm, renyah.”

Megan: “Isinya nasi dan kacang, lumayan.”

 

            Francis memandangi 3 orang yang terlihat kelaparan itu dengan tatapan seram, Amara yang sempat meragukan masakan tersebut langsung menganggukkan kepala pada Julio dan Martinez. Julio dan Martinez langsung mengambil tanpa segan-segan, dengan lahapnya mereka makan hidangan tersebut. Tanpa disadari, Francis sudah ada di belakang Amara. Dia menyuguhkan sepiring Chimichanga di hadapannya, dia sendiri menyuguhkan sambil makan Buritto yang dia kunyah dan lahap bulat-bulat. Amara terdiam melihat bekas terbakar di dahinya karena disetrum, dia hanya menganggukkan kepala. Francis langsung beranjak pergi setelah dia mengambil satu chimichanga di atas meja, Amara memandanginya sambil makan.

 

 

            Beberapa saat kemudian, semua yang ada di dalam ruangan duduk saling berhadapan. Dengan suguhan minuman di atas meja, ada kopi dan teh. Olivia sendiri menuangkan teh untuk Megan dan James, kopi untuk Francis, Julio dan Amara, Martinez sedang minum susu dengan sedotan.

 

James: “Nah, karena kita sudah makan. Mari kita bicara, tapi sebelumnya mari kita perkenalkan diri. Aku James, ini adikku Megan, kalian sudah bertemu tentunya. Yang menyajikan kalian minuman tadi adalah Olivia, pelayan pribadi Megan.”

Megan: “Dia yang ambil perhiasanku di atas kapal.”

Amara: “Maaf, tapi aku tak bisa mengembalikannya.”

James: “Tapi kau masih punya yang lain kan? Jadi tidak masalah.”

Megan: “Benar, aku memaafkanmu.”

James: “Dan ini... adalah Francis, wajahnya memang tidak ramah tapi dia adalah pengawalku.”

Francis: “Hmph, kau bilang memperkenalkan diri tapi kau yang memperkenalkan kami.”

Megan: “Kami takkan melaporkan kalian ke polisi, tidak usah khawatir. Si, Martinez?”

 

            Martinez hanya menganggukkan kepala, James lalu menepuk dada kirinya. Terdengar suara mendenging yang tidak mengenakkan, setelah suara itu berhenti. James mulai berdeham, dia mulai berbicara dengan bahasa Spanyol.

 

James: “(Baiklah, apakah sudah dinyalakan? Sepertinya berhasil)”

Martinez: “(Dia berbicara bahasa kita.)”

James: “(Ini penemuan baru, masih dalam percobaan. Terkejut? Bagaimana dengan kau? Sedari tadi kau diam saja.)”

 

            Julio bengong dengan mulut menganga, menunjukkan gigi-giginya yang hitam. Semua melihatnya dengan perasaan jijik, terkecuali Francis.

 

James: “(Kau mungkin perlu tutup mulutmu sebelum ada lalat masuk ke situ.)”

 

            Julio langsung menutup mulutnya, sebagai gantinya matanya melotot. Membuat suasana menjadi canggung, Francis mengambil sesuatu yang terpasang di dinding dan melemparnya pada Julio hingga mengenai kepalanya. Francis mendongakkan kepalanya, memberinya isyarat untuk memakai apa yang dia lempar. Dia segera memakainya, suasana dalam ruangan berubah ceria. Megan dan Olivia berusaha menahan tawa, begitu juga Amara. Martinez sendiri tertawa terbahak-bahak, ternyata dia memakai topeng dengan wajah Teletubbies.

 

Julio: “(Namaku Julio.)”

Francis: “Jadi... Amara... bukan?”

 

            Suasana tenang kembali setelah Francis mulai bicara, Amara dan Francis mulai saling pandang. Dia kemudian menunduk dan mulai mengambil nafas panjang, setelah itu dia memasang wajah serius.

 

Amara: “Baiklah, aku akan menceritakan semuanya dari awal.”