Wednesday, August 21, 2013

Level 19

PERLAWANAN

Oslo, Norwegia 14 Oktober 2010, 04:30. Uchida beserta James dan Roy berada di ruangan pribadi Drake, dengan dikelilingi banyak absorber. Mereka menembaki absorber di sekitarnya, sementara itu Uchida sedang mendownload data dari komputer utama. Pintu di dadanya dalam keadaan terbuka dan beberapa kabel keluar dari dalamnya, menancap di komputer utama. James berada di depannya, sedangkan Roy di belakangnya. Mereka menembak dengan senjata masing-masing, James dengan gatling gun, Roy dengan meriam. Senjata itu sendiri ternyata adalah kedua tangan milik Uchida, dia kini sekarang tak bertangan.

Uchida: “Kalian paham? Sementara aku mendownload datanya, kalian harus berusaha menjauhkan mereka dariku.”
James: “Gampang.”
Roy: “Mudah bagimu bicara begitu! Kenapa aku juga harus ikut-ikutan?!”
Uchida: “Jangan banyak bicara, kau masih mau hidup atau tidak?! Saat ini aku juga dalam mode tempur, aku bisa mendownload lebih cepat jika aku dalam wujud terdahulu. Tapi sampai Ulkamium yang ada dalam tubuhku habis digunakan, aku tak bisa kembali seperti semula!”
James: “Itu benar, saat ini dia tak terlindungi juga tak punya tangan untuk menembakkan senjata.”
Uchida: (jengkel) “Berhenti bicara dan tembaki saja mereka!”


Sementara itu di ruangan generator tempat Francis berada, pertempuran antara tiga pihak masih berlangsung. Mandrake yang lepas kendali karena kecanduan Ulkamium, Margo yang bertugas menangkap Francis dan menghabisi Drake, serta Francis yang dengan santainya melawan absorber yang mengeroyoknya. Francis baru saja mengeluarkan salah satu tubuh asli absorber dari tubuh buatannya, dia kemudian membantingnya ke tanah dan menghancurkannya dengan kakinya yang bercahaya. Setiap serangan yang dilancarkan oleh setiap bagian tubuhnya mengeluarkan cahaya keemasan, absorber yang tersentuh cahaya itu langsung meleleh terkena serangannya. Di belakangnya ada satu absorber bersiap untuk menyerang, tapi dia mencegahnya dengan tembakan dari kristal di sikutnya. Tembakan itu mendorong tangannya dan membuatnya melayangkan uppercut ke absorber di depannya, absorber di depannya langsung melayang dan terpental menabrak absorber yang lain sampai hancur lebur dan menyisakan tubuh asli mereka. Francis kemudian menembakkan laser di kedua tangannya pada mereka sampai tak bersisa, dia kemudian berlari ke generator dan menyetelnya dalam waktu 10 menit.

Francis: “Ini cukup.”

Mandrake menyabet seluruh absorber di sekitarnya dengan ekornya yang panjang, beberapa absorber dia lahap. Margo menyemburkan es ke absorber yang terlempar pada dirinya, mereka hancur berkeping-keping kecuali tubuh aslinya. Mereka membuat tubuh kembali dari es di sekitarnya, Margo mengalihkan perhatiannya pada Francis yang sedang mengaktifkan detonator. Dia berlari ke arahnya dan menyeruduknya, Francis yang sadar dengan sigap menahannya dengan memegang kedua gadingnya. Mereka saling mendorong satu sama lain, Margo sendiri melihat detonator yang sudah mulai menghitung mundur.

Margo: “Jadi kau bermaksud menghancurkan pangkalan ini?” (menjulurkan belalai ke detonator)
Francis: “Takkan kubiarkan!”

Francis mengangkat tubuh Margo dengan keadaan dua gadingnya masih dipegang, dia kemudian membawanya terbang menjauh dari generator. Mereka menuju lubang tempat di mana mereka masuk, keduanya jatuh ke bawah bersama beberapa absorber mengikuti mereka.


Uchida dan yang lain baru saja meloloskan diri dari ruangan Drake, mereka sekarang menaiki lift menuju ke permukaan. Tapi sayangnya lift mendadak berhenti, absorber menjebol masuk dari atas. Uchida menembakkan gatling gunnya ke arah absorber dan menghancurkannya, namun ternyata masih ada banyak absorber mengerumuni lift dari segala arah. Uchida langsung menghancurkan pintu lift dengan meriam, mereka bertiga kemudian keluar. Uchida menembakkan lagi meriamnya ke arah lift, menghancurkan lift dan membuatnya jatuh bersama absorber yang menaikinya.

Roy: “Katakan padaku kalau ada lift lain selain ini.”
Uchida: “Sayangnya itu hanya satu-satunya yang ada di sini.”
James: “Kalau begitu kau bisa membawa kita terbang keluar.”
Uchida: “Masalahnya salah satu sayapku dirusak gajah sialan itu, kau tahu resikonya kalau aku membawa kalian dengan sebelah sayap? Aku bisa saja tabrakan lalu membuat kalian tewas, kalian mau terima resiko itu?”
Roy: “Apa?! Lantas bagaimana kita bisa keluar?! Aku tak sudi jika harus menggali dan memanjat keluar dari sini!”
James: “Bagaimana kalau kita kembali ke bawah?”
Roy: “Dan membiarkan diri kita dibunuh? Tidak!”
James: “Bukan itu, Humpty Dumpty.”
Uchida: “Namaku Uchida.”
James: “Tadi kau mengatakan ada mesin waktu?”
Uchida: “Ah... kau pasti salah dengar...”
James: “Tidak, justru terekam jelas.” (mengeluarkan alat berbentuk pena dan menekan salah satu tombol)
Uchida (rekaman) : “Memang benar, tapi jika begitu aku tak punya kesempatan untuk meneliti data mereka dan memperoleh tekhnologi mesin waktu yang mereka miliki.”
James: “Walaupun masih dalam masa percobaan, benda ini juga multifungsi.”
Uchida: “Wah, seperti yang dikatakan. Produk buatan perusahaan kalian adalah yang terbaik.”
James: “Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?”


Francis dan Margo baru saja jatuh ke dalam ruangan penyimpanan Ulkamium, mereka berdua jatuh tepat di atas timbunan Ulkamium bersama beberapa absorber. Mereka terbaring sejenak dan melihat keadaan sekitar, Francis segera bangkit dan berdiri. Margo sendiri keluar dari dalam Ulkamium dan langsung memuntahkan beberapa butir Ulkamium dari mulutnya, Ulkamium itu langsung mencair.

Francis: “Sepertinya perkataanmu benar, suhu dingin mampu melelehkan Ulkamium ini. Mulutmu itu pastilah sangat dingin sehingga rokok yang kau hisap selalu membeku, apa aku salah?”
Margo: “Hampir benar, tapi bukan hanya mulutku saja yang dingin. Di dalam tubuhku ada cukup nitrogen untuk membekukan sebuah gunung berapi, tapi sebagai ganti dari kemampuan pembeku itu aku jadi tak bisa menikmati rokok yang kuhisap.”
Francis: “Dan kau mau saja diberi kemampuan seperti itu walau harus kehilangan hak untuk menikmati rokok?”
Margo: “Jangan salah, aku sendiri yang memilih kemampuan itu.”
Francis: “Kalau begitu beritahu aku, bagaimana kau berniat mau menangkapku tanpa harus mengeluarkan es dalam tubuhmu? Kalau kau menghembuskan nafasmu sedikit saja, semua aset kalian di sini bisa musnah.”
Margo: “Kau sepertinya lupa bahwa aku punya beberapa bagian tubuh yang bisa kupakai untuk menangkapmu.”
Francis: “Yang mana? Hidung atau badanmu yang besar?”

Margo langsung memanjangkan belalainya, namun Francis berhasil menangkapnya dengan satu tangan. Margo langsung berlari menyeruduk Francis, tangan Francis yang satu lagi memegang gadingnya dan kaki kanannya menjejak perutnya. Serangannya berhasil dihentikan dalam sekejap, namun sesuatu yang tak terduga terjadi. Tubuh Francis baru saja ditebas dengan sesuatu sampai menyemburkan darah, Margo berhasil lepas dari Francis. Luka tebasan yang diterimanya cukup besar, dari bahu sampai ke dadanya. Perlahan-lahan lukanya mulai sembuh, Francis melihat Margo memegang sebuah pedang yang besar.

PERINGATAN
PERTAHANAN BERHASIL DITEMBUS
SEGERA PERBAIKI DENGAN PARTIKEL CRIMSON

Margo: “Kau kira... gadingku ini hanya hiasan?”
Francis: “Machete?”

Margo menarik lepas gadingnya yang tersisa, gading itu berubah menjadi Machete. Kini dia menggenggam dua machete dengan kedua tangannya, luka yang didapat Francis telah pulih terkecuali baju tempurnya.

Margo: “Aku memang disuruh untuk membawamu hidup-hidup, tapi mereka tak mengatakan jika aku harus membawamu dalam keadaan utuh.”
Francis: “Senang mendengarnya.”
Margo: “Jadi katakan, bagian mana yang ingin kucincang terlebih dahulu?”
Francis: (melirik ke atas) “Ehm, bagaimana kalau kau cincang saja yang ini dulu?”

Beberapa absorber yang habis digigit jatuh dari atas, Margo melihat ke atas. Mandrake turun merayap dari lubang, air liurnya menetes-netes, mulutnya menyeringai. Dia langsung terjun ke tumpukan Ulkamium, dengan rakusnya dia melahap Ulkamium tersebut. Sementara perhatian Margo teralihkan oleh Mandrake, Francis terbang menyerang Margo. Namun Margo menyadarinya dan menahan tinjunya dengan Machete miliknya, dia langsung menebas dan berhasil dihindari oleh Francis.

Margo: “Usaha yang bagus, tapi aku takkan semudah itu dikalahkan.”
Francis: “Hei, bukankah kau seharusnya mengurus aset kalian yang berharga itu? Kita juga tidak memiliki banyak waktu.”
Margo: “Kalau begitu kenapa kau tidak kabur dan malah menyerangku ketika perhatianku teralihkan?”
Francis: “Gampang saja, karena aku belum puas kalau belum menghajarmu.”
Margo: “Oh, kau punya dendam?”
Francis: “Tidak, hanya ingin saja. Bagaimana kalau kita seimbangkan keadaan sedikit?”

Francis menangkap ekor panjang Mandrake yang berayun ke arahnya, dia menarik ekor itu bersama dengan seluruh tubuhnya. Mandrake yang sedang lahapnya menyantap Ulkamium tak menduganya, dengan tubuhnya yang panjang ia digunakan Francis sebagai cambuk. Dia melecutkannya kepada Margo, dia merunduk menghindarinya. Ekor Mandrake yang panjang dililitkan ke tubuh Francis, sedangkan tubuhnya sendiri dilecutkan ke arah Margo. Beberapa serangannya dihindari dengan merunduk, Mandrake sendiri yang menjadi senjata terlihat sangat tersiksa. Badannya diputar-putar, dibanting ke tanah, dan ditabrakkan ke tembok. Dia sendiri sudah tak sadarkan diri, Francis terus-menerus melecutkan Mandrake sambil meloncat-loncat.

Margo: “Ini buang-buang waktu.”

Margo menebas Mandrake, kepalanya terpenggal dan terlempar ke udara. Margo perlahan-lahan maju ke depan sambil menebas serangan yang datang, dia memotong-motong badan Mandrake selangkah demi selangkah. Akhirnya dia sampai di tempat Francis berdiri, dia sendiri kini tinggal memegang bagian badan Mandrake yang berupa ekor yang sangat pendek. Ketika Margo hendak menebasnya, Francis meloncat dan bergelantungan di dinding ruangan dengan memegang kabel.

Margo: “Turun dari sana!”

Margo menjejakkan salah satu kakinya ke tanah dengan keras, tanah yang dia injak retak. Seluruh ruangan bergetar beserta isinya, dinding tempat Francis bersandar mulai retak. Dia segera terbang sebelum tembok itu akhirnya roboh, dia mulai menembaki Margo dengan laser. Tembakan-tembakannya ditangkis oleh Machete milik Margo, Francis baru sadar kalau dia masih membawa potongan ekor Mandrake. Dia melempar ekor tersebut ke sebuah mesin yang mengaktifkan kereta dorong, Francis mendarat dan naik ke salah satu kereta dorong. Margo mendesah dan mengeluarkan nafas esnya, beberapa butir Ulkamium di sekitarnya mulai mencair. Dia segera bergegas mengejar Francis dengan menaiki kereta dorong yang lain, keduanya keluar dari dalam ruang penyimpanan. Sementara itu Mandrake yang kepalanya terpenggal ternyata masih hidup, badannya yang terpotong-potong berubah bentuk menjadi kadal atau ular. Kepalanya yang besar mengecil dan berubah bentuk menjadi Drake dengan tubuh normal dan wujud lengkap, dia bangkit dan melihat sekelilingnya. Kadal dan ular yang tadinya adalah bagian tubuhnya tengah melahap Ulkamium di dalam ruangan, dia berjalan dengan sempoyongan.

Drake: “Keparat kau... Margo. Ugh... seenaknya saja memotong leherku... Kalau begini jadinya... aku akan membawa kembali subyek M46 dengan tanganku sendiri, akan kuhabisi Margo keparat itu. Pihak atas pasti akan memaafkan kesalahanku setelah kubawa dia kembali, takkan kubiarkan semua Ulkamium ini diambil!”


Kembali kepada Uchida, James, dan Roy yang saat ini berada di lantai terbawah markas. Di ruangan mesin waktu, Uchida sedang berusaha untuk mengoperasikan mesin waktu. Sementara itu Francis dan Margo kejar-mengejar di kereta dengan tujuan ruangan tempat Uchida berada, mereka saling tembak-menembak di kereta. Di ruangan generator, detonator menunjukkan waktu yang tersisa kurang 2 menit 30 detik.

Uchida: “Oh, beruntung sekali.”
Roy: “Kau bisa mengoperasikannya?”
Uchida: “Kau pikir pada siapa kau bicara?”
Roy: “Ng... Humpty Dumpty?”
Uchida: (menatap dengan jengkel) “Hm?”
Roy: “Maaf.”
James: “Wow, lihat ini. Ada banyak Ulkamium di dalam sini.”
Uchida: “Pasti itu untuk dikirim ke masa depan, biarkan saja. Yang terpenting sekarang kita harus kabur, mesin ini paling tidak desainnya berbeda dengan yang kugunakan di masa depan.”
James: “Dikirim? Memang mineral ini akan digunakan untuk apa?”
Uchida: “Kau akan dapat jawabannya nanti setelah kita berhasil keluar.”
James: “Jadi bagaimana cara kerjanya?”
Uchida: “Ketika aku pertama kalinya kabur dengan Francis, aku mengoperasikan dengan cara yang sama dengan mengoperasikan telpon. Waktu yang dituju angka terakhirnya harus sama, misalnya tanggal 9 bulan ke 9 tahun ke 9 jam ke 9 menit ke 9 dan detik ke 9. Karena aku baru tahu pemakaian mesin saat itu, untuk lebih mudahnya aku langsung saja set ulang seperti menekan tombol redial pada telepon. Untuk berjaga-jaga, aku mengubah tempat kedatangan agar tidak bertemu langsung dengan musuh yang pergi ke waktu yang sama dengan kami.”
James: “Kedengarannya membosankan.”
Uchida: “Bagian terbaiknya adalah mesin ini cara pengoperasiannya berbeda dengan di masa depan, karena aku bisa menyetel waktu dan koordinat sesuka kita. Boleh aku tahu, kapan tadi kau meninggalkan tempat peristirahatanmu?”
James: “Sekitar 5 jam yang lalu, mungkin.”
Uchida: “Aku butuh waktu pasti.”
Roy: “Jam 8 malam kemarin, sekarang kita sudah berganti hari.”
Uchida: “Terima kasih, Roy.”
Roy: “James, kemarilah. (berbisik) Kenapa kau bisa percaya begitu saja pada dia? Dia pasti merencanakan sesuatu yang buruk pada kita, lalu masalah mesin waktu ini sebenarnya aku kurang percaya.”
James: “Setelah kau melihat semua itu? Ayolah, kau mau apa lagi agar dirimu percaya? Uchida-san, apa kau tahu di mana mereka menambang mineral-mineral ini?”
Uchida: “Seharusnya ada di lorong tempat kau menerobos masuk tadi, tapi jangan pernah berpikir untuk pergi ke sana.”
James: “Mana mungkin aku akan ke sana. Lagipula...”

Pintu terbuka dan masuklah dua kereta yang dinaiki Margo dan Francis, Margo meloncat ke kereta Francis. Namun dia berhasil terbang menghindar dari serangan Margo, kereta itu sekarang hancur karena serangannya. Francis mendarat membelakangi James, sebuah kereta terlempar ke arahnya. Francis menangkap kereta itu dengan kedua tangannya, dia terdorong sedikit ke belakang sambil mengangkat kereta itu.

James: “...kita tak punya waktu.”


Margo muncul dari dalam asap, Francis melempar kembali kereta itu kepada Margo. Kereta itu dibelah menjadi dua oleh Machete-nya, Francis berada di belakangnya dan menyerang. Namun dia ditebas dengan Machete yang dipegang belalai Margo, tebasannya mengenai pinggang Francis dan membuat luka yang besar. Francis terlempar dan menabrak tembok, dia terkapar dengan pinggang mengucurkan banyak darah. Margo membekukan setengah dari tubuhnya dengan es dari belalainya, ia kemudian mengalihkan perhatiannya pada 3 orang di depannya.

James: “Hei, pinjamkan tanganmu. Kita butuh persenjataan, ada sedikit masalah.”
Roy: “Hei, cepat lakukan sesuatu!”
Uchida: “Tunggu sebentar! Paling tidak beri aku waktu untuk membuka portal!”
Margo: (bahasa Norwegia) “Percuma saja, portal hanya bisa dibuka dengan pengenal suara. Sayangnya kau perlu suara Drake untuk membukanya, tapi dia sudah kucincang.”
Uchida: (menarik lidah) “Aku sudah tahu hal itu, karena itu aku sudah mengatur ulang sistemnya.”
Margo: “Walau begitu, kau memerlukan waktu sampai portal terbuka. Sebelum itu terjadi kalian akan kubekukan dan kupotong kecil-kecil.”
Uchida: “Dan sebelum itu terjadi sebaiknya kau terima saja ini!”

Uchida menembakkan semua persenjataan di tangan dan kepalanya, Margo langsung menyemburkan dan membuat dinding es untuk menahan serangan. Uchida terus menembak, namun serangan tak terduga datang ketika tembok es itu hancur. Belalai Margo menangkap tangan kiri Uchida, Margo berlari menerjang Uchida dan memotong tangan kirinya. Tangan yang lepas itu kemudian dia buang ke belakang, Uchida ditendang jatuh oleh Margo. Badannya diinjak dengan kakinya yang besar, tubuh Uchida mulai remuk. Uchida mengacungkan gatling gun di tangan kanannya ke wajah Margo, namun tembakannya meleset dan mengenai satu-satunya lampu yang menerangi ruangan. Dalam sekejap ruangan menjadi gelap, kondisi dalam ruangan menjadi hening seketika. Tanpa diketahui oleh Margo, James dan Roy berada di belakangnya. James sendiri berada di tempat di mana Francis dibekukan, Roy mengambil tangan Uchida yang lepas.

James: (berbisik) “Kau tak apa-apa? Jangan bicara keras-keras, dia bisa menemukanmu.”
Francis: “Aku bisa mendengar dan melihatmu, aku sudah berganti pandangan menjadi night vision. Penyembuhan lukaku berjalan lambat gara-gara es ini, darahku masih mengalir.”
James: “Kau bisa bergerak?”
Francis: “Kepala, tapi tubuhku mulai tak bisa bergerak karena beku.”
James: “Shoot, apa ada cara untuk mencairkan es ini?”
Roy: “James, kau di sana? Aku tak bisa melihatmu dengan jelas.”
James: “Aku di sini, bersama dengan Francis.”
Roy: “Bagaimana kalau ditembak dengan meriam? Sekarang aku membawa tangan meriam robot gila itu, ini bisa digunakan. Tubuhnya akan banyak terluka, tapi esnya juga akan mencair.”

Mendadak sesuatu terjadi pada Roy di dalam kegelapan, meriam yang dipegangnya jatuh dan meletuskan tembakan dengan sendirinya. Tembakannya mengenai langit-langit dan membuatnya retak, sedikit cahaya terpancar dari api ledakan. James melihat Roy terkapar di tanah dengan keadaan badan dari pinggang sampai leher membeku, keadaan kembali menjadi gelap gulita. Suara langkah kaki terdengar dari dalam kegelapan, diikuti dengan suara Margo.

Margo: “Kalian mungkin mengira jika kegelapan ini melindungi kalian, tapi jangan salah sangka. Aku bisa merasakan panas dari diri kalian, aku sudah tahu di mana kalian berada. Kalian akan kubekukan sepenuhnya sama seperti Profesor Uchida dan tikus itu, tapi ada perkecualian untukmu M46.”
Francis: (berbisik) “Hey, you still here?” (Hei, kau masih di sini?)
James: “I am.” (memang)
Francis: “I need you to do something.” (aku perlu kau melakukan sesuatu)
James: “What is it?” (Apa itu?)
Francis: “My chest part haven't frozen yet, can you search it thoroughly?” (Bagian dadaku belum membeku sama sekali, bisakah kau mencarinya dengan seksama?)
James: “Sorry, but I'm not interested in touching a man's chest.” (Maaf, tapi aku tak tertarik dengan menyentuh dada laki-laki)
Francis: (jengkel) “This isn't time for joking, you damn pervert! I'm serious, there is a switch that can help me escape from this situation.” (Ini bukan waktunya bercanda, mesum sialan! Aku serius, ada tombol yang bisa membantuku lepas dari situasi ini.)
James: (segera meraba-raba) “Why don't you say so?” (Kenapa tak katakan sejak tadi?)
Francis: “It's a V shaped switch, tell me if you found it.” (Ini adalah tombol berbentuk V, beritahu jika kau menemukannya.)
James: “Here?” (di sini)
Francis: “That's my stomach, go up. No, no, no, no! Wait! You're going down! Up, up!” (itu perutku, ke atas. Tidak, tidak, tidak, tidak! Tunggu! Kau malah turun! Naik, naik!)
James: “Sorry, I didn't mean... there it is!” (Maaf, aku tak bermaksud... ini dia!)
Francis: “Good, press it. After that you turn the symbol upside down and press it, that's all.” (Bagus, tekanlah. Setelah itu putar simbolnya terbalik dan tekan, itu saja.)
James: “Done, now I'll press it.” (sudah, sekarang kutekan)
Francis: “Get down!” (tiarap!)

Sebelum James sempat menekan tombol, dia mencoba menghindar dari serangan yang mendadak datang. Tapi terlambat, dia ditangkap oleh Margo dengan belalainya. Lehernya tercekik dan dia diangkat mendekati wajah Margo, dia menatap wajah James yang kelihatan tersiksa.

Margo: “Akhirnya aku menangkapmu tikus kecil.”
Francis: “Hei, lepaskan dia gajah sialan!”
Margo: “Aku mammoth, subyek M46.”
Francis: “Seekor gajah tetaplah seekor gajah, hidung panjangmu itu buktinya!”
Margo: “Jangan samakan aku dengan mamalia lemah itu!” (menendang Francis)

PERHATIAN
KERUSAKAN YANG DITERIMA MENCAPAI 78%
DIHARAP SEGERA BERGANTI KE MODE CRIMSON

Francis berhasil lepas dari es berkat tendangan dari Margo, namun efeknya membuat baju tempurnya rusak. Francis perlahan-lahan bangkit dan jatuh berlutut, pandangannya kabur dan kepalanya berkunang-kunang.

Francis: “Ugh, sial. Aku sudah kehilangan banyak darah, tapi aku berhasil lepas dari es ini. Aku harus melakukan sesuatu, proses penyembuhanku sudah mulai berjalan kembali.”

Margo sudah berada di hadapan Francis yang melemah, dia menebas Francis dengan Machete-nya. Untungnya Francis berhasil menahannya dengan satu tangan, Margo melancarkan serangannya yang kedua. Tapi serangannya juga ditahan, sekarang kedua tangan Francis memegang dan menahan kedua pergelangan tangan Margo yang memegang Machete. Margo melepaskan dan menjatuhkan James, kini belalainya melilit leher Francis.

Margo: “Bukankah sudah kubilang kalau aku punya bagian tubuh lain untuk menundukkanmu?”
Francis: “Aku tak sudi... dibekukan oleh gajah sepertimu...”
Margo: (memperkuat lilitan) “Aku sudah katakan padamu untuk tidak berkata seperti itu lagi.”
Francis: “A... aku... lebih baik...”
Margo: “Apa katamu?”
Francis: “Aku tak sudi... dalam keadaan seperti ini...”
Margo: (melonggarkan lilitan) “Bicara dengan jelas.”
Francis: “Dalam keadaan seperti ini sungguh memalukan, lebih baik remukkan saja aku. Bukankah kau punya kaki yang kuat?”
Margo: “Oh, aku cukup tersanjung. Sesuai permintaanmu, M46.”

Francis melepaskan genggamannya, Margo meletakkan kembali Machete-nya ke tempat semula dan kembali menjadi gading. Margo membaringkan Francis yang lemas dengan belalainya, kemudian dia mengangkat kakinya dan menginjak dada Francis. Francis tertawa kecil, ternyata itu hanyalah trik untuk membuatnya menekan tombol di dada Francis.


Francis: “Fool.” (bodoh)