PERLAWANAN
Oslo,
Norwegia 14 Oktober 2010, 04:30. Uchida beserta James dan Roy berada
di ruangan pribadi Drake, dengan dikelilingi banyak absorber. Mereka
menembaki absorber di sekitarnya, sementara itu Uchida sedang
mendownload data dari komputer utama. Pintu di dadanya dalam keadaan
terbuka dan beberapa kabel keluar dari dalamnya, menancap di komputer
utama. James berada di depannya, sedangkan Roy di belakangnya. Mereka
menembak dengan senjata masing-masing, James dengan gatling gun, Roy
dengan meriam. Senjata itu sendiri ternyata adalah kedua tangan milik
Uchida, dia kini sekarang tak bertangan.
Uchida:
“Kalian paham? Sementara aku mendownload datanya, kalian harus
berusaha menjauhkan mereka dariku.”
James:
“Gampang.”
Roy:
“Mudah bagimu bicara begitu! Kenapa aku juga harus ikut-ikutan?!”
Uchida:
“Jangan banyak bicara, kau masih mau hidup atau tidak?! Saat ini
aku juga dalam mode tempur, aku bisa mendownload lebih cepat jika aku
dalam wujud terdahulu. Tapi sampai Ulkamium yang ada dalam tubuhku
habis digunakan, aku tak bisa kembali seperti semula!”
James:
“Itu benar, saat ini dia tak terlindungi juga tak punya tangan
untuk menembakkan senjata.”
Uchida:
(jengkel) “Berhenti bicara dan tembaki saja mereka!”
Sementara
itu di ruangan generator tempat Francis berada, pertempuran antara
tiga pihak masih berlangsung. Mandrake yang lepas kendali karena
kecanduan Ulkamium, Margo yang bertugas menangkap Francis dan
menghabisi Drake, serta Francis yang dengan santainya melawan
absorber yang mengeroyoknya. Francis baru saja mengeluarkan salah
satu tubuh asli absorber dari tubuh buatannya, dia kemudian
membantingnya ke tanah dan menghancurkannya dengan kakinya yang
bercahaya. Setiap serangan yang dilancarkan oleh setiap bagian
tubuhnya mengeluarkan cahaya keemasan, absorber yang tersentuh cahaya
itu langsung meleleh terkena serangannya. Di belakangnya ada satu
absorber bersiap untuk menyerang, tapi dia mencegahnya dengan
tembakan dari kristal di sikutnya. Tembakan itu mendorong tangannya
dan membuatnya melayangkan uppercut ke absorber di depannya, absorber
di depannya langsung melayang dan terpental menabrak absorber yang
lain sampai hancur lebur dan menyisakan tubuh asli mereka. Francis
kemudian menembakkan laser di kedua tangannya pada mereka sampai tak
bersisa, dia kemudian berlari ke generator dan menyetelnya dalam
waktu 10 menit.
Francis:
“Ini cukup.”
Mandrake
menyabet seluruh absorber di sekitarnya dengan ekornya yang panjang,
beberapa absorber dia lahap. Margo menyemburkan es ke absorber yang
terlempar pada dirinya, mereka hancur berkeping-keping kecuali tubuh
aslinya. Mereka membuat tubuh kembali dari es di sekitarnya, Margo
mengalihkan perhatiannya pada Francis yang sedang mengaktifkan
detonator. Dia berlari ke arahnya dan menyeruduknya, Francis yang
sadar dengan sigap menahannya dengan memegang kedua gadingnya. Mereka
saling mendorong satu sama lain, Margo sendiri melihat detonator yang
sudah mulai menghitung mundur.
Margo:
“Jadi kau bermaksud menghancurkan pangkalan ini?” (menjulurkan
belalai ke detonator)
Francis:
“Takkan kubiarkan!”
Francis
mengangkat tubuh Margo dengan keadaan dua gadingnya masih dipegang,
dia kemudian membawanya terbang menjauh dari generator. Mereka menuju
lubang tempat di mana mereka masuk, keduanya jatuh ke bawah bersama
beberapa absorber mengikuti mereka.
Uchida
dan yang lain baru saja meloloskan diri dari ruangan Drake, mereka
sekarang menaiki lift menuju ke permukaan. Tapi sayangnya lift
mendadak berhenti, absorber menjebol masuk dari atas. Uchida
menembakkan gatling gunnya ke arah absorber dan menghancurkannya,
namun ternyata masih ada banyak absorber mengerumuni lift dari segala
arah. Uchida langsung menghancurkan pintu lift dengan meriam, mereka
bertiga kemudian keluar. Uchida menembakkan lagi meriamnya ke arah
lift, menghancurkan lift dan membuatnya jatuh bersama absorber yang
menaikinya.
Roy:
“Katakan padaku kalau ada lift lain selain ini.”
Uchida:
“Sayangnya itu hanya satu-satunya yang ada di sini.”
James:
“Kalau begitu kau bisa membawa kita terbang keluar.”
Uchida:
“Masalahnya salah satu sayapku dirusak gajah sialan itu, kau tahu
resikonya kalau aku membawa kalian dengan sebelah sayap? Aku bisa
saja tabrakan lalu membuat kalian tewas, kalian mau terima resiko
itu?”
Roy:
“Apa?! Lantas bagaimana kita bisa keluar?! Aku tak sudi jika harus
menggali dan memanjat keluar dari sini!”
James:
“Bagaimana kalau kita kembali ke bawah?”
Roy:
“Dan membiarkan diri kita dibunuh? Tidak!”
James:
“Bukan itu, Humpty Dumpty.”
Uchida:
“Namaku Uchida.”
James:
“Tadi kau mengatakan ada mesin waktu?”
Uchida:
“Ah... kau pasti salah dengar...”
James:
“Tidak, justru terekam jelas.” (mengeluarkan alat berbentuk pena
dan menekan salah satu tombol)
Uchida
(rekaman) : “Memang benar, tapi jika begitu aku tak punya
kesempatan untuk meneliti data mereka dan memperoleh tekhnologi mesin
waktu yang mereka miliki.”
James:
“Walaupun masih dalam masa percobaan, benda ini juga multifungsi.”
Uchida:
“Wah, seperti yang dikatakan. Produk buatan perusahaan kalian
adalah yang terbaik.”
James:
“Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?”
Francis
dan Margo baru saja jatuh ke dalam ruangan penyimpanan Ulkamium,
mereka berdua jatuh tepat di atas timbunan Ulkamium bersama beberapa
absorber. Mereka terbaring sejenak dan melihat keadaan sekitar,
Francis segera bangkit dan berdiri. Margo sendiri keluar dari dalam
Ulkamium dan langsung memuntahkan beberapa butir Ulkamium dari
mulutnya, Ulkamium itu langsung mencair.
Francis:
“Sepertinya perkataanmu benar, suhu dingin mampu melelehkan
Ulkamium ini. Mulutmu itu pastilah sangat dingin sehingga rokok yang
kau hisap selalu membeku, apa aku salah?”
Margo:
“Hampir benar, tapi bukan hanya mulutku saja yang dingin. Di dalam
tubuhku ada cukup nitrogen untuk membekukan sebuah gunung berapi,
tapi sebagai ganti dari kemampuan pembeku itu aku jadi tak bisa
menikmati rokok yang kuhisap.”
Francis:
“Dan kau mau saja diberi kemampuan seperti itu walau harus
kehilangan hak untuk menikmati rokok?”
Margo:
“Jangan salah, aku sendiri yang memilih kemampuan itu.”
Francis:
“Kalau begitu beritahu aku, bagaimana kau berniat mau menangkapku
tanpa harus mengeluarkan es dalam tubuhmu? Kalau kau menghembuskan
nafasmu sedikit saja, semua aset kalian di sini bisa musnah.”
Margo:
“Kau sepertinya lupa bahwa aku punya beberapa bagian tubuh yang
bisa kupakai untuk menangkapmu.”
Francis:
“Yang mana? Hidung atau badanmu yang besar?”
Margo
langsung memanjangkan belalainya, namun Francis berhasil menangkapnya
dengan satu tangan. Margo langsung berlari menyeruduk Francis, tangan
Francis yang satu lagi memegang gadingnya dan kaki kanannya menjejak
perutnya. Serangannya berhasil dihentikan dalam sekejap, namun
sesuatu yang tak terduga terjadi. Tubuh Francis baru saja ditebas
dengan sesuatu sampai menyemburkan darah, Margo berhasil lepas dari
Francis. Luka tebasan yang diterimanya cukup besar, dari bahu sampai
ke dadanya. Perlahan-lahan lukanya mulai sembuh, Francis melihat
Margo memegang sebuah pedang yang besar.
PERINGATAN
PERTAHANAN
BERHASIL DITEMBUS
SEGERA
PERBAIKI DENGAN PARTIKEL CRIMSON
Margo:
“Kau kira... gadingku ini hanya hiasan?”
Francis:
“Machete?”
Margo
menarik lepas gadingnya yang tersisa, gading itu berubah menjadi
Machete. Kini dia menggenggam dua machete dengan kedua tangannya,
luka yang didapat Francis telah pulih terkecuali baju tempurnya.
Margo:
“Aku memang disuruh untuk membawamu hidup-hidup, tapi mereka tak
mengatakan jika aku harus membawamu dalam keadaan utuh.”
Francis:
“Senang mendengarnya.”
Margo:
“Jadi katakan, bagian mana yang ingin kucincang terlebih dahulu?”
Francis:
(melirik ke atas) “Ehm, bagaimana kalau kau cincang saja yang ini
dulu?”
Beberapa
absorber yang habis digigit jatuh dari atas, Margo melihat ke atas.
Mandrake turun merayap dari lubang, air liurnya menetes-netes,
mulutnya menyeringai. Dia langsung terjun ke tumpukan Ulkamium,
dengan rakusnya dia melahap Ulkamium tersebut. Sementara perhatian
Margo teralihkan oleh Mandrake, Francis terbang menyerang Margo.
Namun Margo menyadarinya dan menahan tinjunya dengan Machete
miliknya, dia langsung menebas dan berhasil dihindari oleh Francis.
Margo:
“Usaha yang bagus, tapi aku takkan semudah itu dikalahkan.”
Francis:
“Hei, bukankah kau seharusnya mengurus aset kalian yang berharga
itu? Kita juga tidak memiliki banyak waktu.”
Margo:
“Kalau begitu kenapa kau tidak kabur dan malah menyerangku ketika
perhatianku teralihkan?”
Francis:
“Gampang saja, karena aku belum puas kalau belum menghajarmu.”
Margo:
“Oh, kau punya dendam?”
Francis:
“Tidak, hanya ingin saja. Bagaimana kalau kita seimbangkan keadaan
sedikit?”
Francis
menangkap ekor panjang Mandrake yang berayun ke arahnya, dia menarik
ekor itu bersama dengan seluruh tubuhnya. Mandrake yang sedang
lahapnya menyantap Ulkamium tak menduganya, dengan tubuhnya yang
panjang ia digunakan Francis sebagai cambuk. Dia melecutkannya kepada
Margo, dia merunduk menghindarinya. Ekor Mandrake yang panjang
dililitkan ke tubuh Francis, sedangkan tubuhnya sendiri dilecutkan ke
arah Margo. Beberapa serangannya dihindari dengan merunduk, Mandrake
sendiri yang menjadi senjata terlihat sangat tersiksa. Badannya
diputar-putar, dibanting ke tanah, dan ditabrakkan ke tembok. Dia
sendiri sudah tak sadarkan diri, Francis terus-menerus melecutkan
Mandrake sambil meloncat-loncat.
Margo:
“Ini buang-buang waktu.”
Margo
menebas Mandrake, kepalanya terpenggal dan terlempar ke udara. Margo
perlahan-lahan maju ke depan sambil menebas serangan yang datang, dia
memotong-motong badan Mandrake selangkah demi selangkah. Akhirnya dia
sampai di tempat Francis berdiri, dia sendiri kini tinggal memegang
bagian badan Mandrake yang berupa ekor yang sangat pendek. Ketika
Margo hendak menebasnya, Francis meloncat dan bergelantungan di
dinding ruangan dengan memegang kabel.
Margo:
“Turun dari sana!”
Margo
menjejakkan salah satu kakinya ke tanah dengan keras, tanah yang dia
injak retak. Seluruh ruangan bergetar beserta isinya, dinding tempat
Francis bersandar mulai retak. Dia segera terbang sebelum tembok itu
akhirnya roboh, dia mulai menembaki Margo dengan laser.
Tembakan-tembakannya ditangkis oleh Machete milik Margo, Francis baru
sadar kalau dia masih membawa potongan ekor Mandrake. Dia melempar
ekor tersebut ke sebuah mesin yang mengaktifkan kereta dorong,
Francis mendarat dan naik ke salah satu kereta dorong. Margo mendesah
dan mengeluarkan nafas esnya, beberapa butir Ulkamium di sekitarnya
mulai mencair. Dia segera bergegas mengejar Francis dengan menaiki
kereta dorong yang lain, keduanya keluar dari dalam ruang
penyimpanan. Sementara itu Mandrake yang kepalanya terpenggal
ternyata masih hidup, badannya yang terpotong-potong berubah bentuk
menjadi kadal atau ular. Kepalanya yang besar mengecil dan berubah
bentuk menjadi Drake dengan tubuh normal dan wujud lengkap, dia
bangkit dan melihat sekelilingnya. Kadal dan ular yang tadinya adalah
bagian tubuhnya tengah melahap Ulkamium di dalam ruangan, dia
berjalan dengan sempoyongan.
Drake:
“Keparat kau... Margo. Ugh... seenaknya saja memotong leherku...
Kalau begini jadinya... aku akan membawa kembali subyek M46 dengan
tanganku sendiri, akan kuhabisi Margo keparat itu. Pihak atas pasti
akan memaafkan kesalahanku setelah kubawa dia kembali, takkan
kubiarkan semua Ulkamium ini diambil!”
Kembali
kepada Uchida, James, dan Roy yang saat ini berada di lantai terbawah
markas. Di ruangan mesin waktu, Uchida sedang berusaha untuk
mengoperasikan mesin waktu. Sementara itu Francis dan Margo
kejar-mengejar di kereta dengan tujuan ruangan tempat Uchida berada,
mereka saling tembak-menembak di kereta. Di ruangan generator,
detonator menunjukkan waktu yang tersisa kurang 2 menit 30 detik.
Uchida:
“Oh, beruntung sekali.”
Roy:
“Kau bisa mengoperasikannya?”
Uchida:
“Kau pikir pada siapa kau bicara?”
Roy:
“Ng... Humpty Dumpty?”
Uchida:
(menatap dengan jengkel) “Hm?”
Roy:
“Maaf.”
James:
“Wow, lihat ini. Ada banyak Ulkamium di dalam sini.”
Uchida:
“Pasti itu untuk dikirim ke masa depan, biarkan saja. Yang
terpenting sekarang kita harus kabur, mesin ini paling tidak
desainnya berbeda dengan yang kugunakan di masa depan.”
James:
“Dikirim? Memang mineral ini akan digunakan untuk apa?”
Uchida:
“Kau akan dapat jawabannya nanti setelah kita berhasil keluar.”
James:
“Jadi bagaimana cara kerjanya?”
Uchida:
“Ketika aku pertama kalinya kabur dengan Francis, aku
mengoperasikan dengan cara yang sama dengan mengoperasikan telpon.
Waktu yang dituju angka terakhirnya harus sama, misalnya tanggal 9
bulan ke 9 tahun ke 9 jam ke 9 menit ke 9 dan detik ke 9. Karena aku
baru tahu pemakaian mesin saat itu, untuk lebih mudahnya aku langsung
saja set ulang seperti menekan tombol redial pada telepon. Untuk
berjaga-jaga, aku mengubah tempat kedatangan agar tidak bertemu
langsung dengan musuh yang pergi ke waktu yang sama dengan kami.”
James:
“Kedengarannya membosankan.”
Uchida:
“Bagian terbaiknya adalah mesin ini cara pengoperasiannya berbeda
dengan di masa depan, karena aku bisa menyetel waktu dan koordinat
sesuka kita. Boleh aku tahu, kapan tadi kau meninggalkan tempat
peristirahatanmu?”
James:
“Sekitar 5 jam yang lalu, mungkin.”
Uchida:
“Aku butuh waktu pasti.”
Roy:
“Jam 8 malam kemarin, sekarang kita sudah berganti hari.”
Uchida:
“Terima kasih, Roy.”
Roy:
“James, kemarilah. (berbisik) Kenapa kau bisa percaya begitu saja
pada dia? Dia pasti merencanakan sesuatu yang buruk pada kita, lalu
masalah mesin waktu ini sebenarnya aku kurang percaya.”
James:
“Setelah kau melihat semua itu? Ayolah, kau mau apa lagi agar
dirimu percaya? Uchida-san, apa kau tahu di mana mereka menambang
mineral-mineral ini?”
Uchida:
“Seharusnya ada di lorong tempat kau menerobos masuk tadi, tapi
jangan pernah berpikir untuk pergi ke sana.”
James:
“Mana mungkin aku akan ke sana. Lagipula...”
Pintu
terbuka dan masuklah dua kereta yang dinaiki Margo dan Francis, Margo
meloncat ke kereta Francis. Namun dia berhasil terbang menghindar
dari serangan Margo, kereta itu sekarang hancur karena serangannya.
Francis mendarat membelakangi James, sebuah kereta terlempar ke
arahnya. Francis menangkap kereta itu dengan kedua tangannya, dia
terdorong sedikit ke belakang sambil mengangkat kereta itu.
James:
“...kita tak punya waktu.”
Margo
muncul dari dalam asap, Francis melempar kembali kereta itu kepada
Margo. Kereta itu dibelah menjadi dua oleh Machete-nya, Francis
berada di belakangnya dan menyerang. Namun dia ditebas dengan Machete
yang dipegang belalai Margo, tebasannya mengenai pinggang Francis dan
membuat luka yang besar. Francis terlempar dan menabrak tembok, dia
terkapar dengan pinggang mengucurkan banyak darah. Margo membekukan
setengah dari tubuhnya dengan es dari belalainya, ia kemudian
mengalihkan perhatiannya pada 3 orang di depannya.
James:
“Hei, pinjamkan tanganmu. Kita butuh persenjataan, ada sedikit
masalah.”
Roy:
“Hei, cepat lakukan sesuatu!”
Uchida:
“Tunggu sebentar! Paling tidak beri aku waktu untuk membuka
portal!”
Margo:
(bahasa Norwegia) “Percuma saja, portal hanya bisa dibuka dengan
pengenal suara. Sayangnya kau perlu suara Drake untuk membukanya,
tapi dia sudah kucincang.”
Uchida:
(menarik lidah) “Aku sudah tahu hal itu, karena itu aku sudah
mengatur ulang sistemnya.”
Margo:
“Walau begitu, kau memerlukan waktu sampai portal terbuka. Sebelum
itu terjadi kalian akan kubekukan dan kupotong kecil-kecil.”
Uchida:
“Dan sebelum itu terjadi sebaiknya kau terima saja ini!”
Uchida
menembakkan semua persenjataan di tangan dan kepalanya, Margo
langsung menyemburkan dan membuat dinding es untuk menahan serangan.
Uchida terus menembak, namun serangan tak terduga datang ketika
tembok es itu hancur. Belalai Margo menangkap tangan kiri Uchida,
Margo berlari menerjang Uchida dan memotong tangan kirinya. Tangan
yang lepas itu kemudian dia buang ke belakang, Uchida ditendang jatuh
oleh Margo. Badannya diinjak dengan kakinya yang besar, tubuh Uchida
mulai remuk. Uchida mengacungkan gatling gun di tangan kanannya ke
wajah Margo, namun tembakannya meleset dan mengenai satu-satunya
lampu yang menerangi ruangan. Dalam sekejap ruangan menjadi gelap,
kondisi dalam ruangan menjadi hening seketika. Tanpa diketahui oleh
Margo, James dan Roy berada di belakangnya. James sendiri berada di
tempat di mana Francis dibekukan, Roy mengambil tangan Uchida yang
lepas.
James:
(berbisik) “Kau tak apa-apa? Jangan bicara keras-keras, dia bisa
menemukanmu.”
Francis:
“Aku bisa mendengar dan melihatmu, aku sudah berganti pandangan
menjadi night vision. Penyembuhan lukaku berjalan lambat gara-gara es
ini, darahku masih mengalir.”
James:
“Kau bisa bergerak?”
Francis:
“Kepala, tapi tubuhku mulai tak bisa bergerak karena beku.”
James:
“Shoot, apa ada cara untuk mencairkan es ini?”
Roy:
“James, kau di sana? Aku tak bisa melihatmu dengan jelas.”
James:
“Aku di sini, bersama dengan Francis.”
Roy:
“Bagaimana kalau ditembak dengan meriam? Sekarang aku membawa
tangan meriam robot gila itu, ini bisa digunakan. Tubuhnya akan
banyak terluka, tapi esnya juga akan mencair.”
Mendadak
sesuatu terjadi pada Roy di dalam kegelapan, meriam yang dipegangnya
jatuh dan meletuskan tembakan dengan sendirinya. Tembakannya mengenai
langit-langit dan membuatnya retak, sedikit cahaya terpancar dari
api ledakan. James melihat Roy terkapar di tanah dengan keadaan badan
dari pinggang sampai leher membeku, keadaan kembali menjadi gelap
gulita. Suara langkah kaki terdengar dari dalam kegelapan, diikuti
dengan suara Margo.
Margo:
“Kalian mungkin mengira jika kegelapan ini melindungi kalian, tapi
jangan salah sangka. Aku bisa merasakan panas dari diri kalian, aku
sudah tahu di mana kalian berada. Kalian akan kubekukan sepenuhnya
sama seperti Profesor Uchida dan tikus itu, tapi ada perkecualian
untukmu M46.”
Francis:
(berbisik) “Hey, you still here?” (Hei, kau masih di sini?)
James:
“I am.” (memang)
Francis:
“I need you to do something.” (aku perlu kau melakukan sesuatu)
James:
“What is it?” (Apa itu?)
Francis:
“My chest part haven't frozen yet, can you search it thoroughly?”
(Bagian dadaku belum membeku sama sekali, bisakah kau mencarinya
dengan seksama?)
James:
“Sorry, but I'm not interested in touching a man's chest.” (Maaf,
tapi aku tak tertarik dengan menyentuh dada laki-laki)
Francis:
(jengkel) “This isn't time for joking, you damn pervert! I'm
serious, there is a switch that can help me escape from this
situation.” (Ini bukan waktunya bercanda, mesum sialan! Aku serius,
ada tombol yang bisa membantuku lepas dari situasi ini.)
James:
(segera meraba-raba) “Why don't you say so?” (Kenapa tak katakan
sejak tadi?)
Francis:
“It's a V shaped switch, tell me if you found it.” (Ini adalah
tombol berbentuk V, beritahu jika kau menemukannya.)
James:
“Here?” (di sini)
Francis:
“That's my stomach, go up. No, no, no, no! Wait! You're going down!
Up, up!” (itu perutku, ke atas. Tidak, tidak, tidak, tidak! Tunggu!
Kau malah turun! Naik, naik!)
James:
“Sorry, I didn't mean... there it is!” (Maaf, aku tak
bermaksud... ini dia!)
Francis:
“Good, press it. After that you turn the symbol upside down and
press it, that's all.” (Bagus, tekanlah. Setelah itu putar
simbolnya terbalik dan tekan, itu saja.)
James:
“Done, now I'll press it.” (sudah, sekarang kutekan)
Francis:
“Get down!” (tiarap!)
Sebelum
James sempat menekan tombol, dia mencoba menghindar dari serangan
yang mendadak datang. Tapi terlambat, dia ditangkap oleh Margo dengan
belalainya. Lehernya tercekik dan dia diangkat mendekati wajah Margo,
dia menatap wajah James yang kelihatan tersiksa.
Margo:
“Akhirnya aku menangkapmu tikus kecil.”
Francis:
“Hei, lepaskan dia gajah sialan!”
Margo:
“Aku mammoth, subyek M46.”
Francis:
“Seekor gajah tetaplah seekor gajah, hidung panjangmu itu
buktinya!”
Margo:
“Jangan samakan aku dengan mamalia lemah itu!” (menendang
Francis)
PERHATIAN
KERUSAKAN
YANG DITERIMA MENCAPAI 78%
DIHARAP
SEGERA BERGANTI KE MODE CRIMSON
Francis
berhasil lepas dari es berkat tendangan dari Margo, namun efeknya
membuat baju tempurnya rusak. Francis perlahan-lahan bangkit dan
jatuh berlutut, pandangannya kabur dan kepalanya berkunang-kunang.
Francis:
“Ugh, sial. Aku sudah kehilangan banyak darah, tapi aku berhasil
lepas dari es ini. Aku harus melakukan sesuatu, proses penyembuhanku
sudah mulai berjalan kembali.”
Margo
sudah berada di hadapan Francis yang melemah, dia menebas Francis
dengan Machete-nya. Untungnya Francis berhasil menahannya dengan satu
tangan, Margo melancarkan serangannya yang kedua. Tapi serangannya
juga ditahan, sekarang kedua tangan Francis memegang dan menahan
kedua pergelangan tangan Margo yang memegang Machete. Margo
melepaskan dan menjatuhkan James, kini belalainya melilit leher
Francis.
Margo:
“Bukankah sudah kubilang kalau aku punya bagian tubuh lain untuk
menundukkanmu?”
Francis:
“Aku tak sudi... dibekukan oleh gajah sepertimu...”
Margo:
(memperkuat lilitan) “Aku sudah katakan padamu untuk tidak berkata
seperti itu lagi.”
Francis:
“A... aku... lebih baik...”
Margo:
“Apa katamu?”
Francis:
“Aku tak sudi... dalam keadaan seperti ini...”
Margo:
(melonggarkan lilitan) “Bicara dengan jelas.”
Francis:
“Dalam keadaan seperti ini sungguh memalukan, lebih baik remukkan
saja aku. Bukankah kau punya kaki yang kuat?”
Margo:
“Oh, aku cukup tersanjung. Sesuai permintaanmu, M46.”
Francis
melepaskan genggamannya, Margo meletakkan kembali Machete-nya ke
tempat semula dan kembali menjadi gading. Margo membaringkan Francis
yang lemas dengan belalainya, kemudian dia mengangkat kakinya dan
menginjak dada Francis. Francis tertawa kecil, ternyata itu hanyalah
trik untuk membuatnya menekan tombol di dada Francis.
Francis:
“Fool.” (bodoh)
No comments:
Post a Comment