Thursday, August 28, 2014

Level 34



TELEPORTASI

            New York, Amerika Serikat, 19 Oktober 2010, 1:00. Di laboratorium yang sementara dipakai oleh Uchida, Megan juga ada di sana. Uchida sudah berubah wujud menjadi sebuah kendaraan yang dinaiki oleh Megan, seluruh peralatan elektronik dalam ruangan tersebut mendadak menyala dan berkedip-kedip.

Megan: “A… ada apa ini? Tadi kau mengatakan ada musuh?”
Uchida: “Benar, sepertinya mereka berhasil melacak sinyal komunikasi yang kupakai sampai ke sini. Aku tak bisa ambil resiko tempat ini ditemukan musuh, jadi kita harus pergi dari sini.”
Megan: “Tunggu dulu, aku tak mau kita menarik perhatian orang dengan menaiki kendaraan seperti ini dan keluar dari sini.”
Uchida: “Tenang saja, sebab kita tak perlu keluar dari ruangan ini.”
Megan: “Maksudmu?”
Uchida: “Tarik tuas di depanmu lalu tekan tombol biru maka kau akan mengerti.”

            Megan segera melakukan seperti yang dikatakan oleh Uchida, dia menarik tuas dan menekan tombol biru. Kendaraan itu langsung melayang di udara, atap kaca di atasnya langsung menutupi tempat Megan duduk. Sebuah senapan muncul dan menembakkan sinar biru, membuka sebuah portal. Ketika kendaraan itu hendak masuk, mendadak ada sesorang muncul di belakang mereka.

Megan: “Hei, bagaimana ini?! Dia di belakang kita!”
Uchida: “Dorong tuasnya ke depan dan tekan tombol merah!”

            Setelah Megan melakukan apa yang Uchida suruh, booster di belakang kendaraan mengeluarkan api yang sangat besar. Orang yang berada di belakangnya terbakar oleh kobaran api, kendaraan itu kini melaju dengan kecepatan tinggi ke dalam portal. Orang itu sendiri masih bisa bergerak setelah terbakar, dia mencoba mengejar mereka tapi portal menutup dengan cepat. Api di tubuhnya perlahan padam, peralatan elektronik di sekitarnya mati dengan sendirinya.

?: “Sudah kabur ya? Padahal aku hanya ingin memberikan sambutan.”


            Sementara itu di kantor James, Francis sudah berpakaian tempur lengkap. James sendiri sudah berganti pakaian, memakai T-shirt merah dengan lambang yang mirip dengan yang ada di dada Francis, celana pendek kuning, dan sebuah topi yang juga berwarna merah dan kuning.

James: “Jadi, kita berangkat sekarang?”
Francis: “Seharusnya kau tak perlu ikut, selain itu kita masih belum tahu pasti di mana mereka sekarang.”
James: “Satu hal yang pasti mereka berhasil kabur, lalu selanjutnya bagaimana?”
Francis: “Aku sedang melacaknya sekarang, seharusnya Uchida juga memiliki pelacak di dalam tubuhnya. Dia pernah mengatakan padaku bahwa tubuhnya mengeluarkan semacam sinyal, saat ini aku sedang mencoba menyamakan sinyal.”
James: “Benar-benar tekhnologi masa depan.”
Francis: “Aku mendapatkan sinyalnya, tapi… dari tadi sinyalnya selalu berpindah tempat dengan cepat.”
James: “Mungkinkah mereka sedang dikejar?”
Francis: “Andai saja mereka berhenti, aku bisa tahu pasti ke mana mereka pergi dan langsung ke sana dalam hitungan menit.”
James: “Kau mau terbang dari sini? Kau akan terlihat mencolok bila terlihat orang-orang.”
Francis: “Uchida sudah menambahkan sistim kamuflase dari flying drone yang dia ambil di Norwegia dulu, jadi tak perlu khawatir jika ada yang melihat ke langit.”
James: “Kalau begitu aku tak perlu cemas jika kita pergi bersama nanti.”
Francis: “Jangan berharap, sebab jika aku membawamu akan terlihat aneh. Kau bisa bayangkan dirimu melayang-layang seorang diri dan dilihat oleh orang-orang?”
James: “Hm…”
Francis: “Dan terlebih lagi aku tak ingin dinasihati oleh orang yang memperdulikanmu karena kau sering lari dari pekerjaan.”
James: (tersenyum simpul) “Katakan saja kau perduli padaku.”
Francis: “Akhirnya mereka berhenti, 15 km dari arah barat daya.”
James: “Tunggu, aku tak ingin kau terbang menjebol tembok. Keluarlah dari pintu di belakangku, aku akan segera menyusulmu.”
            Francis langsung keluar dari kantor melalui sebuah pintu kaca di belakang kursi James, di balik pintu itu ada kolam renang pribadi dan tempat duduk lengkap dengan payung. Tanpa basa-basi, Francis langsung terbang memutari gedung dan melaju cepat ke barat daya. James melihatnya sambil menghubungi seseorang lewat HP, dia berjalan ke salah satu lemari dan membukanya. Di dalamnya banyak terdapat action figure, dia mengubah posisi beberapa dari action figure itu. Lemari itu kemudian ditutup kembali, kali ini lemari itu bergeser dan menampakkan sebuah pintu di baliknya. Pintu itu terbuka dengan sendirinya dan ternyata itu adalah sebuah lift, dia masuk ke dalam dan pintu menutup kembali. Dia langsung membuka seluruh pakaian yang dia kenakan, ternyata dia memakai pakaian lain di balik pakaiannya. Kini dia mengenakan sebuah T-shirt biru dengan lambang kilat dan celana pendek putih, dia kemudian membuka semacam laci di sebelah kirinya. Di dalamnya ada sepasang sepatu olahraga dan sebuah topi yang berwarna biru dan putih, dia langsung mengambil dan memakainya. Lift sudah sampai di lantai terbawah, dia keluar dari lift dan masuk ke ruangan yang begitu gelap. Namun ruangan itu mendadak menjadi terang benderang ketika dia menyiulkan sebuah lagu, isi ruangan itu lebih luas dari yang terkira. Ada seperangkat computer dengan banyak rekaman dari berbagai tempat lewat sebuah kamera keamanan, ada semacam dua sampai tiga buah kereta diparkir di dalamnya. James duduk di depan computer, tampilan layar berubah dengan seketika. Layar itu memindai wajah dan ekspresi James yang ceria berikut dengan pakaian yang dia kenakan, layar computer itu merespon dengan mengeluarkan emoticon dengan wajah tersenyum. James mengetikkan beberapa kata, muncullah semacam peta dari layar computer. Ada banyak titik-titik berwarna biru dan putih, pandangannya kini tertuju pada sebuah titik merah yang hanya satu-satunya di dalam peta. James mengetikkan beberapa kata lagi, kali ini ada pilihan kendaraan muncul di layar. James memilih kereta berwarna putih, secara otomatis terbukalah sebuah terowongan. Kali ini kereta yang dipilih James dipindahkan secara otomatis ke jalur terowongan, dia langsung menaiki kereta. Muncul sebuah lampu lalu lintas yang menyala merah dan angka yang menghitung mundur mulai dari angka 5, lampu berubah menjadi kuning pada hitungan ketiga. James mulai memakai sabuk pengaman di dalamnya, kereta berjalan perlahan ke dalam jalur.

James: “Bless the god speed.” (berkahi dewa kecepatan)

            Lampu hijau menyala setelah hitungan berakhir, kereta itu mulai melaju cepat memasuki terowongan. James berteriak senang di dalam kereta yang mengebut di dalam jalur yang entah membawanya ke mana, sementara itu Valerie yang berada di kantor James menunduk lesu melihat James sudah tidak ada lagi di kantornya sambil membawa tumpukan berkas.


            Di jalanan daerah sekitar perumahan, terlihat Max yang baru saja pulang kerja sambil mengendarai skuter. Dia memasuki halaman sebuah rumah dan berhenti, kemudian dia membuka pintu garasi dan memasukkan skuternya di dalam. Setelah meletakkan skuter di dalam garasi, dia kemudian masuk ke dalam rumah dengan wajah cemberut. Dia melewati dapur, di dalamnya ada seorang wanita yang sedang memasak. Max menaiki tangga dan langsung masuk ke dalam sebuah kamar, dia meletakkan tas miliknya di atas meja. Dia langsung berbaring di atas Kasur dalam keadaan tengkurap, dia kemudian berbalik dan melihat langit-langit. Ada sebuah foto ditempel di atasnya, foto sekelompok pegawai termasuk Max ada di dalamnya. Di sana dia berdiri di tengah-tengah dua orang yang memegang kepalanya dan mencubit pipinya, wajah kedua orang itu dicoret-coret. Ternyata kedua orang itu adalah Allan dan Duval, mereka digambarkan sebagai rubah dan gorilla sesuai dengan perawakan mereka. Max kemudian melihat kepada orang lain. Valerie yang berdiri tepat di depannya, berdiri dengan anggun dan senyum yang menawan. Wajah Max langsung tersenyum tidak karuan, dia melamunkan dirinya saling kejar-kejaran dengan Valerie pada saat matahari hendak terbenam. Pada saat bersamaan Francis yang sedang mencari Uchida kini mendarat perlahan di atas rumah Max, dia melihat sekeliling dan memindai keadaan tempat sekitar dengan helmnya. Dia bisa melihat orang-orang di balik tembok seluruh rumah, tapi orang-orang itu berbentuk bayangan merah yang menunjukkan panas tubuh mereka.

Francis: “Mengganti ke sinyal elektromagnetis.”

            Pandangan di helm Francis kini berubah menjadi kuning, yang terlihat di dalam pandangannya adalah objek yang mengandung listrik seperti kulkas, tv, tiang listrik, dll. Helm berbunyi ‘bip’ berulang kali, menunjukkan sebuah sinyal yang cukup besar di sebelah kanannya. Dia melihat sebuah energi yang besar bergerak di dalam kabel listrik menuju ke arahnya, energi itu kemudian berhenti di rumah tempat dia mendarat. Di saat bersamaan, Max yang masih melamunkan Valerie tidak menyadari ada sebuah keanehan terjadi dalam kamarnya. Seperangkat komputer yang berada di meja mendadak mengeluarkan arus listrik, Francis melongok ke dalam jendela dalam keadaan terbalik.

Max: “Sayang sekali aku tak bisa mengajak Valerie untuk makan malam, kenapa James sialan itu membebaninya lagi dengan pekerjaan?”

            Max yang tersadar dari lamunannya melihat komputernya yang bergetar, dia langsung bangun dan mendekati layar computer itu perlahan-lahan. Mendadak computer itu bergetar keras sebelum dia sempat menyentuhnya, Max langsung kaget dan jatuh ke belakang. Layar computer itu langsung mengeluarkan arus listrik yang besar disusul oleh sesuatu yang mendadak muncul di tengah-tengah ruangan yang kecil, Max langsung mundur ke tembok. Di dalam ruangan kini ada sebuah kendaraan yang dinaiki oleh seorang gadis, Max kini dalam keadaan terjepit antara kendaraan dan tembok. Mendadak Francis masuk lewat jendela, menyusul James yang baru masuk dari balik pintu. Ternyata Max sendiri terlihat sangat shock melihat itu semua.
Uchida: “Maaf, kau tidak apa-apa?”

            Max langsung pingsan tak sadarkan diri begitu Uchida dalam bentuk motor berbicara dengannya, Megan, James, dan Francis langsung memandangi Uchida.

James, Megan, Francis: “Apa yang kau lakukan?”
Uchida: “Hanya menanyakan keadaannya.”
Megan: “Lagipula kenapa kau di sini James?”
James: “Aku hanya menyusul Francis, lagipula ini rumah salah satu pegawaiku.”
Megan: “Kau kabur dari pekerjaanmu lagi?”
James: “Sebenarnya aku sudah tinggalkan surat izin tadi.”
Megan: “Yang berhak memberikan surat izin itu hanya pegawai saja, di sana kau adalah pimpinannya.”
James: “Lantas kenapa kau sendiri ada di sini? Kukira kau sedang menghadiri konferensi pers di Dublin.”
Megan: “Kau kira aku mau menghadiri acara di mana banyak orang yang menanyaiku?”
Francis: “Cukup, cukup! Yang lebih penting di sini, di mana musuh yang mengejar kalian?!”
Uchida: “Ah, benar. Dia berhasil kuhambat pergerakannya sebentar, kami harus berpindah lagi ke suatu tempat dengan voltase listrik yang sangat rendah.”
Francis: “Tunggu sebentar, apa ini…”
James: “Ini motor yang kemarin kita bawa pulang bukan? Jadi kau sudah menyelesaikannya?”
Francis: “Tapi, aku tidak suka bentuknya. Apalagi kau yang ada di dalamnya bukan?”
Uchida: “Memang, belum selesai sepenuhnya. Tapi ini keadaan darurat, jadi aku sedikit… ‘berimprovisasi.’”
Francis: “Kalau begitu kau (menunjuk Megan) turun dari sana, sisanya kami yang akan atasi.”
Megan: “Jangan menyuruhku seenaknya.” (turun dari kendaraan)
Francis: “Lepaskan dirimu dari kendaraan ini, aku akan mengupgradenya dengan caraku sendiri.”

            Francis mengubah dirinya ke mode crimson setelah merubah posisi lambang di dadanya, Uchida langsung keluar memisahkan diri dari kendaraan. Kendaraan itu kini hanya tinggal kerangka dan sebuah mesin yang membuatnya melayang, Francis mengeluarkan partikel Crimson dari seluruh lingkaran di telapak tangannya. Dengan gerakan jari-jarinya seluruh partikel menempel di kendaraan, dia merenovasi seluruh kendaraan dengan gerakan jari-jarinya layaknya seorang dirijen. Dalam sekejap, sebuah kendaraan baru tercipta di hadapan mereka. Mereka yang melihat sedikit tercengang, James tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Semacam motor yang bisa terbang tanpa roda berwarna merah menyala dengan dekorasi mencolok, di bagian depan ada lambang seperti yang ada di baju tempur Francis. Dia langsung menaiki kendaraan tersebut, Max kemudian bangun tidak lama kemudian. Dia melihat sosok Francis yang menaiki motor dengan gagahnya, dia berdiri dan langsung menghampiri dan mengamati kendaraan yang dinaiki Francis dengan girangnya.

Max: “Wow, hebat! Kendaraan yang sangat bagus, ini… ini… ini bisa terbang! Apa ini memakai roket? Semacam alat anti gravitasi? Atau…” (hendak menyentuh)
Francis: “Hei.”

            Francis mencengkeram kerah baju Max dan menariknya langsung ke depan wajahnya, dia diangkat satu centimeter dari lantai tempatnya berpijak.

Francis: “Satu bagian tubuhmu sentuh ini, akan kupastikan bagian tubuh itu tak terpasang lagi pada tempatnya.”
Max: (ketakutan) “U…”
Francis: “Dan kalau kau berani mengeluarkan satu suara sekeras apapun dari mulutmu, akan kupotong lidahmu sekarang juga.”

            Francis menakut-nakuti Max dengan menciptakan sebuah cakar panjang dari tangannya tepat di hadapan wajahnya, karena terlalu ketakutan akhirnya Max mengompol. Dia kemudian dilempar dan ditangkap oleh Uchida, Francis mengubah dirinya kembali ke wujud semula. Dia kemudian mengisi tenaga kendaraan itu dengan energi listrik dari tubuh Francis, dia mulai menjalankan kendaraan itu.

Uchida: “Kau tahu bagaimana cara memakainya?”
Francis: “Sama seperti transporter yang biasa digunakan prajurit Alterion, aku sudah lihat kau memasangnya dengan generator vortex.”
Uchida: “Baiklah, tapi kau harus membawanya kembali ke lab dalam keadaan utuh.”
James: “Dalam keadaan utuh? Hahaha, kau pikir dia akan menurutimu?”

            Francis sudah tancap gas dan berubah menjadi aliran listrik, dia masuk ke dalam layar computer. James, Megan, Uchida kini mengalihkan pandangan pada Max yang badannya terbujur kaku karena sangat ketakutan. Wanita yang berada tepat di bawah ruangan Max keluar dari dapur, suaranya terdengar dari bawah

?: “Apa semuanya baik-baik saja? Apa kau sudah bertemu Max?”
James: “Tidak ada masalah bu, Max masih tidur.”
Megan: “Seseorang harus melakukan sesuatu padanya.”
James: “Tapi dia terlihat baik-baik saja.”
Uchida: “Mengeluarkan urin dalam celananya kau sebut dengan baik-baik saja?”
James: “Dia akan sembuh dengan sendirinya, percayalah. Aku pernah lihat yang lebih buruk dari ini.”
Uchida: “Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa tahu kami di sini? Bagaimana kau bisa begitu cepat melacak kami? GPS?”
Megan: “Itu sudah ketinggalan jaman, keluarga kami menggunakan sebuah microchip khusus yang mudah melacak di mana keberadaan kami.”
James: “Dan setiap microchip memiliki sinyal khusus yang bisa dikenali dengan kode tertentu.”
Uchida: “Aku perlu informasi tentang semua itu.”
James: “Kita bahas saja nanti, kenapa kita tidak keluar saja dulu dari sini?”
Megan: “Kita tak bisa ambil resiko merusak rumah seseorang lebih dari ini.”
James: (memandangi Uchida) “Kau benar, tubuh sebesar itu tak mungkin bisa keluar dari ruangan sesempit ini.”
Uchida: (jengkel) “Apa maksudmu dengan itu?”


            Sementara itu dalam sebuah jalur dimensi, Francis sedang baku tembak dan saling mengejar satu sama lain oleh lawan dengan kecepatan tinggi. Kini mereka berdua sudah bersebelahan, musuh mencoba untuk menjatuhkan Francis dari kendaraan dengan menabrak tubuhnya. Lawan sendiri terbang melayang tanpa menggunakan kendaraan, dia kemudian memutari Francis dan sudah saling berhadapan. Lawan tampak berwujud manusia, tapi di sekujur tubuhnya terlindungi oleh baju zirah. Mata lawan bersinar kebiruan, sekujur tubuhnya mengeluarkan aura hijau. Dia merentangkan kedua tangannya ke depan dan mengacungkan semacam meriam dari kedua tangannya, meriam itu menembakkan tali yang mengikat langsung Francis. Lawan mencoba menariknya jatuh dari kendaraan, tapi Francis langsung mencegahnya dengan menambah kecepatan dan menabrakkan kendaraan langsung ke badannya. Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah keluar di dalam sebuah gudang. Francis mendadak mengerem dan membuat lawan menabrak beberapa kotak kayu. Francis berhenti dan menatap kotak-kotak kayu yang hancur, sebuah tangan muncul dari dalamnya. Sang lawan bangkit perlahan-lahan dari dalam, wujudnya sekarang terlihat jelas.

Francis: “Stigmavius...”

            Sosok yang besar dengan sepasang sayap besi, membawa kampak, baju zirah hijau dengan kepala burung kakatua.

Stigmavius: “Subjek M46.”
Francis: “Kurasa kita tak perlu bicara lagi.”
Stigmavius: “Urusanku bukan dengan dirimu, aku hanya ingin menemui Profesor.”
Francis: “Lalu maksudmu aku harus membiarkanmu pergi sementara aku bersantai sambil makan siang begitu?”
Stigmavius: “Percayalah, bukan aku yang harus kau khawatirkan.”

            Francis turun dari kendaraan, dia kemudian menghantamkan kedua tinjunya secara bersamaan sehingga mengeluarkan percikan.

Francis: “Benar, khawatirkanlah apa yang akan terjadi pada dirimu sekarang.”