TELEPORTASI
New
York, Amerika Serikat, 19 Oktober 2010, 1:00. Di laboratorium yang sementara
dipakai oleh Uchida, Megan juga ada di sana. Uchida sudah berubah wujud menjadi
sebuah kendaraan yang dinaiki oleh Megan, seluruh peralatan elektronik dalam
ruangan tersebut mendadak menyala dan berkedip-kedip.
Megan: “A… ada apa ini? Tadi kau mengatakan ada
musuh?”
Uchida: “Benar, sepertinya mereka berhasil melacak
sinyal komunikasi yang kupakai sampai ke sini. Aku tak bisa ambil resiko tempat
ini ditemukan musuh, jadi kita harus pergi dari sini.”
Megan: “Tunggu dulu, aku tak mau kita menarik
perhatian orang dengan menaiki kendaraan seperti ini dan keluar dari sini.”
Uchida: “Tenang saja, sebab kita tak perlu keluar
dari ruangan ini.”
Megan: “Maksudmu?”
Uchida: “Tarik tuas di depanmu lalu tekan tombol
biru maka kau akan mengerti.”
Megan
segera melakukan seperti yang dikatakan oleh Uchida, dia menarik tuas dan
menekan tombol biru. Kendaraan itu langsung melayang di udara, atap kaca di
atasnya langsung menutupi tempat Megan duduk. Sebuah senapan muncul dan
menembakkan sinar biru, membuka sebuah portal. Ketika kendaraan itu hendak
masuk, mendadak ada sesorang muncul di belakang mereka.
Megan: “Hei, bagaimana ini?! Dia di belakang kita!”
Uchida: “Dorong tuasnya ke depan dan tekan tombol
merah!”
Setelah
Megan melakukan apa yang Uchida suruh, booster di belakang kendaraan
mengeluarkan api yang sangat besar. Orang yang berada di belakangnya terbakar
oleh kobaran api, kendaraan itu kini melaju dengan kecepatan tinggi ke dalam
portal. Orang itu sendiri masih bisa bergerak setelah terbakar, dia mencoba
mengejar mereka tapi portal menutup dengan cepat. Api di tubuhnya perlahan
padam, peralatan elektronik di sekitarnya mati dengan sendirinya.
?: “Sudah kabur ya? Padahal aku hanya ingin
memberikan sambutan.”
Sementara
itu di kantor James, Francis sudah berpakaian tempur lengkap. James sendiri
sudah berganti pakaian, memakai T-shirt merah dengan lambang yang mirip dengan
yang ada di dada Francis, celana pendek kuning, dan sebuah topi yang juga
berwarna merah dan kuning.
James: “Jadi, kita berangkat sekarang?”
Francis: “Seharusnya kau tak perlu ikut, selain itu
kita masih belum tahu pasti di mana mereka sekarang.”
James: “Satu hal yang pasti mereka berhasil kabur,
lalu selanjutnya bagaimana?”
Francis: “Aku sedang melacaknya sekarang, seharusnya
Uchida juga memiliki pelacak di dalam tubuhnya. Dia pernah mengatakan padaku
bahwa tubuhnya mengeluarkan semacam sinyal, saat ini aku sedang mencoba
menyamakan sinyal.”
James: “Benar-benar tekhnologi masa depan.”
Francis: “Aku mendapatkan sinyalnya, tapi… dari tadi
sinyalnya selalu berpindah tempat dengan cepat.”
James: “Mungkinkah mereka sedang dikejar?”
Francis: “Andai saja mereka berhenti, aku bisa tahu
pasti ke mana mereka pergi dan langsung ke sana dalam hitungan menit.”
James: “Kau mau terbang dari sini? Kau akan terlihat
mencolok bila terlihat orang-orang.”
Francis: “Uchida sudah menambahkan sistim kamuflase
dari flying drone yang dia ambil di Norwegia dulu, jadi tak perlu khawatir jika
ada yang melihat ke langit.”
James: “Kalau begitu aku tak perlu cemas jika kita
pergi bersama nanti.”
Francis: “Jangan berharap, sebab jika aku membawamu
akan terlihat aneh. Kau bisa bayangkan dirimu melayang-layang seorang diri dan
dilihat oleh orang-orang?”
James: “Hm…”
Francis: “Dan terlebih lagi aku tak ingin dinasihati
oleh orang yang memperdulikanmu karena kau sering lari dari pekerjaan.”
James: (tersenyum simpul) “Katakan saja kau perduli
padaku.”
Francis: “Akhirnya mereka berhenti, 15 km dari arah
barat daya.”
James: “Tunggu, aku tak ingin kau terbang menjebol
tembok. Keluarlah dari pintu di belakangku, aku akan segera menyusulmu.”
Francis
langsung keluar dari kantor melalui sebuah pintu kaca di belakang kursi James,
di balik pintu itu ada kolam renang pribadi dan tempat duduk lengkap dengan
payung. Tanpa basa-basi, Francis langsung terbang memutari gedung dan melaju
cepat ke barat daya. James melihatnya sambil menghubungi seseorang lewat HP, dia
berjalan ke salah satu lemari dan membukanya. Di dalamnya banyak terdapat
action figure, dia mengubah posisi beberapa dari action figure itu. Lemari itu
kemudian ditutup kembali, kali ini lemari itu bergeser dan menampakkan sebuah
pintu di baliknya. Pintu itu terbuka dengan sendirinya dan ternyata itu adalah
sebuah lift, dia masuk ke dalam dan pintu menutup kembali. Dia langsung membuka
seluruh pakaian yang dia kenakan, ternyata dia memakai pakaian lain di balik
pakaiannya. Kini dia mengenakan sebuah T-shirt biru dengan lambang kilat dan
celana pendek putih, dia kemudian membuka semacam laci di sebelah kirinya. Di
dalamnya ada sepasang sepatu olahraga dan sebuah topi yang berwarna biru dan
putih, dia langsung mengambil dan memakainya. Lift sudah sampai di lantai
terbawah, dia keluar dari lift dan masuk ke ruangan yang begitu gelap. Namun
ruangan itu mendadak menjadi terang benderang ketika dia menyiulkan sebuah
lagu, isi ruangan itu lebih luas dari yang terkira. Ada seperangkat computer
dengan banyak rekaman dari berbagai tempat lewat sebuah kamera keamanan, ada
semacam dua sampai tiga buah kereta diparkir di dalamnya. James duduk di depan
computer, tampilan layar berubah dengan seketika. Layar itu memindai wajah dan
ekspresi James yang ceria berikut dengan pakaian yang dia kenakan, layar
computer itu merespon dengan mengeluarkan emoticon dengan wajah tersenyum.
James mengetikkan beberapa kata, muncullah semacam peta dari layar computer.
Ada banyak titik-titik berwarna biru dan putih, pandangannya kini tertuju pada
sebuah titik merah yang hanya satu-satunya di dalam peta. James mengetikkan
beberapa kata lagi, kali ini ada pilihan kendaraan muncul di layar. James
memilih kereta berwarna putih, secara otomatis terbukalah sebuah terowongan.
Kali ini kereta yang dipilih James dipindahkan secara otomatis ke jalur
terowongan, dia langsung menaiki kereta. Muncul sebuah lampu lalu lintas yang
menyala merah dan angka yang menghitung mundur mulai dari angka 5, lampu
berubah menjadi kuning pada hitungan ketiga. James mulai memakai sabuk pengaman
di dalamnya, kereta berjalan perlahan ke dalam jalur.
James: “Bless the god speed.” (berkahi dewa
kecepatan)
Lampu
hijau menyala setelah hitungan berakhir, kereta itu mulai melaju cepat memasuki
terowongan. James berteriak senang di dalam kereta yang mengebut di dalam jalur
yang entah membawanya ke mana, sementara itu Valerie yang berada di kantor
James menunduk lesu melihat James sudah tidak ada lagi di kantornya sambil
membawa tumpukan berkas.
Di
jalanan daerah sekitar perumahan, terlihat Max yang baru saja pulang kerja sambil
mengendarai skuter. Dia memasuki halaman sebuah rumah dan berhenti, kemudian
dia membuka pintu garasi dan memasukkan skuternya di dalam. Setelah meletakkan
skuter di dalam garasi, dia kemudian masuk ke dalam rumah dengan wajah
cemberut. Dia melewati dapur, di dalamnya ada seorang wanita yang sedang
memasak. Max menaiki tangga dan langsung masuk ke dalam sebuah kamar, dia
meletakkan tas miliknya di atas meja. Dia langsung berbaring di atas Kasur
dalam keadaan tengkurap, dia kemudian berbalik dan melihat langit-langit. Ada
sebuah foto ditempel di atasnya, foto sekelompok pegawai termasuk Max ada di
dalamnya. Di sana dia berdiri di tengah-tengah dua orang yang memegang
kepalanya dan mencubit pipinya, wajah kedua orang itu dicoret-coret. Ternyata
kedua orang itu adalah Allan dan Duval, mereka digambarkan sebagai rubah dan
gorilla sesuai dengan perawakan mereka. Max kemudian melihat kepada orang lain.
Valerie yang berdiri tepat di depannya, berdiri dengan anggun dan senyum yang
menawan. Wajah Max langsung tersenyum tidak karuan, dia melamunkan dirinya
saling kejar-kejaran dengan Valerie pada saat matahari hendak terbenam. Pada
saat bersamaan Francis yang sedang mencari Uchida kini mendarat perlahan di
atas rumah Max, dia melihat sekeliling dan memindai keadaan tempat sekitar
dengan helmnya. Dia bisa melihat orang-orang di balik tembok seluruh rumah,
tapi orang-orang itu berbentuk bayangan merah yang menunjukkan panas tubuh
mereka.
Francis: “Mengganti ke sinyal elektromagnetis.”
Pandangan
di helm Francis kini berubah menjadi kuning, yang terlihat di dalam
pandangannya adalah objek yang mengandung listrik seperti kulkas, tv, tiang
listrik, dll. Helm berbunyi ‘bip’ berulang kali, menunjukkan sebuah sinyal yang
cukup besar di sebelah kanannya. Dia melihat sebuah energi yang besar bergerak
di dalam kabel listrik menuju ke arahnya, energi itu kemudian berhenti di rumah
tempat dia mendarat. Di saat bersamaan, Max yang masih melamunkan Valerie tidak
menyadari ada sebuah keanehan terjadi dalam kamarnya. Seperangkat komputer yang
berada di meja mendadak mengeluarkan arus listrik, Francis melongok ke dalam
jendela dalam keadaan terbalik.
Max: “Sayang sekali aku tak bisa mengajak Valerie
untuk makan malam, kenapa James sialan itu membebaninya lagi dengan pekerjaan?”
Max
yang tersadar dari lamunannya melihat komputernya yang bergetar, dia langsung
bangun dan mendekati layar computer itu perlahan-lahan. Mendadak computer itu
bergetar keras sebelum dia sempat menyentuhnya, Max langsung kaget dan jatuh ke
belakang. Layar computer itu langsung mengeluarkan arus listrik yang besar
disusul oleh sesuatu yang mendadak muncul di tengah-tengah ruangan yang kecil,
Max langsung mundur ke tembok. Di dalam ruangan kini ada sebuah kendaraan yang
dinaiki oleh seorang gadis, Max kini dalam keadaan terjepit antara kendaraan
dan tembok. Mendadak Francis masuk lewat jendela, menyusul James yang baru
masuk dari balik pintu. Ternyata Max sendiri terlihat sangat shock melihat itu
semua.
Uchida: “Maaf, kau tidak apa-apa?”
Max
langsung pingsan tak sadarkan diri begitu Uchida dalam bentuk motor berbicara
dengannya, Megan, James, dan Francis langsung memandangi Uchida.
James, Megan, Francis: “Apa yang kau lakukan?”
Uchida: “Hanya menanyakan keadaannya.”
Megan: “Lagipula kenapa kau di sini James?”
James: “Aku hanya menyusul Francis, lagipula ini
rumah salah satu pegawaiku.”
Megan: “Kau kabur dari pekerjaanmu lagi?”
James: “Sebenarnya aku sudah tinggalkan surat izin
tadi.”
Megan: “Yang berhak memberikan surat izin itu hanya
pegawai saja, di sana kau adalah pimpinannya.”
James: “Lantas kenapa kau sendiri ada di sini?
Kukira kau sedang menghadiri konferensi pers di Dublin.”
Megan: “Kau kira aku mau menghadiri acara di mana
banyak orang yang menanyaiku?”
Francis: “Cukup, cukup! Yang lebih penting di sini,
di mana musuh yang mengejar kalian?!”
Uchida: “Ah, benar. Dia berhasil kuhambat
pergerakannya sebentar, kami harus berpindah lagi ke suatu tempat dengan
voltase listrik yang sangat rendah.”
Francis: “Tunggu sebentar, apa ini…”
James: “Ini motor yang kemarin kita bawa pulang
bukan? Jadi kau sudah menyelesaikannya?”
Francis: “Tapi, aku tidak suka bentuknya. Apalagi
kau yang ada di dalamnya bukan?”
Uchida: “Memang, belum selesai sepenuhnya. Tapi ini
keadaan darurat, jadi aku sedikit… ‘berimprovisasi.’”
Francis: “Kalau begitu kau (menunjuk Megan) turun
dari sana, sisanya kami yang akan atasi.”
Megan: “Jangan menyuruhku seenaknya.” (turun dari
kendaraan)
Francis: “Lepaskan dirimu dari kendaraan ini, aku
akan mengupgradenya dengan caraku sendiri.”
Francis
mengubah dirinya ke mode crimson setelah merubah posisi lambang di dadanya,
Uchida langsung keluar memisahkan diri dari kendaraan. Kendaraan itu kini hanya
tinggal kerangka dan sebuah mesin yang membuatnya melayang, Francis
mengeluarkan partikel Crimson dari seluruh lingkaran di telapak tangannya.
Dengan gerakan jari-jarinya seluruh partikel menempel di kendaraan, dia
merenovasi seluruh kendaraan dengan gerakan jari-jarinya layaknya seorang
dirijen. Dalam sekejap, sebuah kendaraan baru tercipta di hadapan mereka.
Mereka yang melihat sedikit tercengang, James tak bisa menyembunyikan rasa
kagumnya. Semacam motor yang bisa terbang tanpa roda berwarna merah menyala
dengan dekorasi mencolok, di bagian depan ada lambang seperti yang ada di baju
tempur Francis. Dia langsung menaiki kendaraan tersebut, Max kemudian bangun
tidak lama kemudian. Dia melihat sosok Francis yang menaiki motor dengan
gagahnya, dia berdiri dan langsung menghampiri dan mengamati kendaraan yang
dinaiki Francis dengan girangnya.
Max: “Wow, hebat! Kendaraan yang sangat bagus, ini…
ini… ini bisa terbang! Apa ini memakai roket? Semacam alat anti gravitasi?
Atau…” (hendak menyentuh)
Francis: “Hei.”
Francis
mencengkeram kerah baju Max dan menariknya langsung ke depan wajahnya, dia
diangkat satu centimeter dari lantai tempatnya berpijak.
Francis: “Satu bagian tubuhmu sentuh ini, akan
kupastikan bagian tubuh itu tak terpasang lagi pada tempatnya.”
Max: (ketakutan) “U…”
Francis: “Dan kalau kau berani mengeluarkan satu
suara sekeras apapun dari mulutmu, akan kupotong lidahmu sekarang juga.”
Francis
menakut-nakuti Max dengan menciptakan sebuah cakar panjang dari tangannya tepat
di hadapan wajahnya, karena terlalu ketakutan akhirnya Max mengompol. Dia
kemudian dilempar dan ditangkap oleh Uchida, Francis mengubah dirinya kembali
ke wujud semula. Dia kemudian mengisi tenaga kendaraan itu dengan energi
listrik dari tubuh Francis, dia mulai menjalankan kendaraan itu.
Uchida: “Kau tahu bagaimana cara memakainya?”
Francis: “Sama seperti transporter yang biasa digunakan
prajurit Alterion, aku sudah lihat kau memasangnya dengan generator vortex.”
Uchida: “Baiklah, tapi kau harus membawanya kembali
ke lab dalam keadaan utuh.”
James: “Dalam keadaan utuh? Hahaha, kau pikir dia
akan menurutimu?”
Francis
sudah tancap gas dan berubah menjadi aliran listrik, dia masuk ke dalam layar
computer. James, Megan, Uchida kini mengalihkan pandangan pada Max yang badannya terbujur kaku karena sangat ketakutan.
Wanita yang berada tepat di bawah ruangan Max keluar dari dapur, suaranya
terdengar dari bawah
?: “Apa semuanya baik-baik saja? Apa kau sudah bertemu
Max?”
James: “Tidak ada masalah bu, Max masih tidur.”
Megan: “Seseorang harus melakukan sesuatu padanya.”
James: “Tapi dia terlihat baik-baik saja.”
Uchida: “Mengeluarkan urin dalam celananya kau sebut
dengan baik-baik saja?”
James: “Dia akan sembuh dengan sendirinya, percayalah.
Aku pernah lihat yang lebih buruk dari ini.”
Uchida: “Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa tahu kami di
sini? Bagaimana kau bisa begitu cepat melacak kami? GPS?”
Megan: “Itu sudah ketinggalan jaman, keluarga kami
menggunakan sebuah microchip khusus yang mudah melacak di mana keberadaan
kami.”
James: “Dan setiap microchip memiliki sinyal khusus yang
bisa dikenali dengan kode tertentu.”
Uchida: “Aku perlu informasi tentang semua itu.”
James: “Kita bahas saja nanti, kenapa kita tidak keluar
saja dulu dari sini?”
Megan: “Kita tak bisa ambil resiko merusak rumah
seseorang lebih dari ini.”
James: (memandangi Uchida) “Kau benar, tubuh sebesar itu
tak mungkin bisa keluar dari ruangan sesempit ini.”
Uchida: (jengkel) “Apa maksudmu dengan itu?”
Sementara
itu dalam sebuah jalur dimensi, Francis sedang baku tembak dan saling mengejar
satu sama lain oleh lawan dengan kecepatan tinggi. Kini mereka berdua sudah
bersebelahan, musuh mencoba untuk menjatuhkan Francis dari kendaraan dengan
menabrak tubuhnya. Lawan sendiri terbang melayang tanpa menggunakan kendaraan,
dia kemudian memutari Francis dan sudah saling berhadapan. Lawan tampak
berwujud manusia, tapi di sekujur tubuhnya terlindungi oleh baju zirah. Mata
lawan bersinar kebiruan, sekujur tubuhnya mengeluarkan aura hijau. Dia
merentangkan kedua tangannya ke depan dan mengacungkan semacam meriam dari
kedua tangannya, meriam itu menembakkan tali yang mengikat langsung Francis.
Lawan mencoba menariknya jatuh dari kendaraan, tapi Francis langsung
mencegahnya dengan menambah kecepatan dan menabrakkan kendaraan langsung ke
badannya. Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah keluar di dalam sebuah
gudang. Francis mendadak mengerem dan membuat lawan menabrak beberapa kotak
kayu. Francis berhenti dan menatap kotak-kotak kayu yang hancur, sebuah tangan
muncul dari dalamnya. Sang lawan bangkit perlahan-lahan dari dalam, wujudnya
sekarang terlihat jelas.
Francis: “Stigmavius...”
Sosok
yang besar dengan sepasang sayap besi, membawa kampak, baju zirah hijau dengan
kepala burung kakatua.
Stigmavius: “Subjek M46.”
Francis: “Kurasa kita tak perlu bicara lagi.”
Stigmavius: “Urusanku bukan dengan dirimu, aku hanya
ingin menemui Profesor.”
Francis: “Lalu maksudmu aku harus membiarkanmu pergi
sementara aku bersantai sambil makan siang begitu?”
Stigmavius: “Percayalah, bukan aku yang harus kau
khawatirkan.”
Francis
turun dari kendaraan, dia kemudian menghantamkan kedua tinjunya secara bersamaan
sehingga mengeluarkan percikan.
Francis: “Benar, khawatirkanlah apa yang akan terjadi
pada dirimu sekarang.”
No comments:
Post a Comment