Friday, July 22, 2016

Level 41



KONSTRUKSI

            24 Oktober 2010, 07:00, di sebuah pesawat jet pribadi TDG. James dan Megan, dan Olivia memandangi seseorang yang sedang makan dengan lahapnya. Di hadapan mereka duduk seorang bapak-bapak yang memakai kemeja putih dan celana panjang hitam, rambutnya acak-acakan, berhidung besar, bermata sipit, dan memakai kacamata. Francis sendiri hanya bersikap masa bodoh dan duduk sambil memandangi pemandangan dari jendela, pria itu langsung menenggak habis sebotol sake yang ada di atas meja.

?: “Puaaahh!! Rasanya sudah lama sekali sejak aku menikmati hidangan seperti ini.”
Francis: “Padahal aku lebih suka dengan tubuhmu yang dulu.”
?: “Jangan bicarakan itu lagi, akhirnya aku sudah punya tubuh yang mengandung tulang, darah dan daging.”
Megan: “Shinjirarenai.” (Sulit dipercaya.)
?: “Odoroita ka? Kore wa ore no atarashi karada da.” (Terkejut? Ini adalah tubuhku yang terbaru.)
James: “Memang sulit dipercaya kalau ini memang Humpty Dumpty, sejak kapan?”
Uchida: “Wajar saja kalau ekspresi kalian terus seperti itu sejak bertemu di bandara, aku baru memasukkan kesadaranku kemarin. Terima kasih sejak kejadian di pulau, aku mendapatkan data berharga mengenai cara membuat tubuh organik untuk diriku sendiri.”
Francis: “Oh, Alvon.”
James: “Tapi aku bisa langsung percaya kalau dia benar-benar Humpty Dumpty.”
Megan: “Kenapa?”

            James menunjuk hidungnya sendiri, Megan dan Olivia lalu melihat langsung ke arah hidung Uchida.

James, Megan dan Olivia: “Oh, benar.”
Uchida: (jengkel) “Ya, maaf saja kalau hanya hidungku saja yang bisa kalian kenali.”

            Flashback pada kejadian di laboratorium tersembunyi di rumah Max sehari setelah insiden, Uchida yang berbadan seperti telur dan berpenampilan kucing sedang berdiri di depan rumah dikelilingi oleh anak-anak. Max sendiri sedang menandatangani tanda terima yang diberikan oleh seorang kurir. Sebuah kotak kardus besar atas nama perusahaan TDG diletakkan di depan garasi, kurir itu langsung meninggalkan tempat dengan menaiki truk.

Max: “Catnip! Pesananmu sudah datang!”
Uchida: “Nyaa~”

            Beberapa saat kemudian, semua isi kotak dibuka. Dengan mata berbinar-binar, Uchida langsung membawa masuk benda yang dikeluarkan dari kotak ke dalam garasi. Garasi tersebut sudah kembali seperti sedia kala, skuter milik Max yang rusak sudah diperbaiki dan dimodifikasi menjadi sebuah motor. Uchida membuka pintu sebuah lemari yang berada di sudut garasi, di dalamnya hanya ada sebuah ember, dua buah sapu, dan sebuah pel. Uchida melepaskan sarung tangan kucing dengan bantuan Max dan meletakkan telapak tangannya di langit-langit lemari, ternyata itu sebuah mekanisme yang membuat lemari tersebut menunjukkan pintu kedua di dalamnya. Dalam pintu itu ada dua buah lingkaran, satu di atas dan satu di bawah.

Max: “Apa yang sebenarnya kau pasang dalam garasi rumah kami?”
Uchida: “Sistem teleportasi.”
Max: “Mustahil, tapi apakah ini masih dalam tahap percobaan?”
Uchida: “Aku sudah mencobanya di mansion sebelum ini, tapi hanya aku yang bisa memakainya sampai saat ini.”
Max: “Kenapa?”
Uchida: “Karena hanya benda mati yang selama ini kupakai untuk percobaan, bukan makhluk hidup. Konsepnya sama seperti proyek Hermes yang kutanamkan pada kendaraan Francis, dengan menggunakan jalur elektrostatis.”
Max: “Lalu, tempat apa saja yang bisa terhubung lewat alat ini?”
Uchida: “Pertanyaan bagus, aku sudah menyetingnya di 3 tempat. Salah satunya adalah mansion, dua tempat sisanya masih dalam renovasi.”
Max: “Jadi, apa yang akan kau kirimkan?”
Uchida: “Ini.”

            Uchida melemparkan sesuatu seperti sebuah busi motor ke dalam alat teleportasi, muncul kilatan cahaya yang membuat barang itu menghilang dalam sekejap.

Max: “Ah! Silau!”
Uchida: “Maaf, aku tidak memperingatkan.”
Max: “Mataku! Aku perlu obat tetes mata!”

            Max menjauh dan bersandar pada motornya, melepas kacamatanya dan mengusap-usapnya. Tidak lama kemudian muncul lagi kilatan cahaya dari dalam lemari, kali ini selembar kartu dengan gambar laba-laba dan as keriting.

Uchida: “Pembayaran sudah diterima.”

            Max yang masih mengusap-usap matanya kini memasang kacamatanya lagi, Uchida menyodorkan sebuah kacamata hitam padanya.

Uchida: “Ini kacamata dengan dua lensa, lensa hitam berfungsi untuk menghalangi sinar masuk ke mata. Kau bisa membuka lensa hitam dengan menyentuh bagian kiri gagang dan membuatnya menjadi kacamata biasa untuk rabun dekat, aku sudah tahu ukuran minusmu.”
Max: “Terima kasih. (menerima kacamata) Apa ada fitur khusus untuk kacamata ini?”
Uchida: “Kalau maksudmu kegunaan seperti penglihatan tembus pandang atau mengeluarkan sinar laser, itu tidak ada.”
Max: “Tidak, bukan itu. Aku bukan maniak komik seperti James, maksudku sesuatu seperti alat telekomunikasi atau internet. (suara hati) Walau sebenarnya ingin.”
Uchida: “Ada, memang kubuat sedemikian rupa. Kacamata ini dilengkapi dengan 3 fungsi, internet, telpon dan penerjemah.”
Max: “Wow, ini bisa mempermudahku jika aku tidak membawa laptop.”
Uchida: “Terima kasih. Sekarang aku harus pergi, sisanya tolong kau urus.”
Max: “Tunggu, kau sepertinya tidak akan bisa masuk dengan pintu sekecil itu.”
Uchida: “Masalah itu sudah teratasi, memang aku mengatakan seluruh badanku harus masuk ke dalam?”

            Uchida melemparkan kepalanya sendiri ke dalam lemari, kilatan cahaya muncul lagi. Kali ini Max menutup matanya dengan cepat, dia membukanya setelah beberapa detik. Lensa kacamatanya berubah menjadi putih dan dia tak bisa melihat apa-apa, dia melepas kacamata lamanya dan menggantinya dengan kacamatanya yang baru diberi oleh Uchida. Sekarang dia bisa melihat dengan jelas, gagang kacamata sebelah kiri disentuhnya. Lensa hitam terangkat, kacamatanya menjadi bening.

Max: “Praktis juga.”

            Tapi di hadapannya kini sudah tidak ada siapa-siapa, hanya tubuh Uchida yang tidak berkepala dan tidak bergerak sama sekali. Max yang kebingungan hendak keluar dari garasi, tapi dia dihentikan oleh suara musik yang terdengar di telinganya. Suara itu terdengar dari kacamatanya, Max yang gelagapan menekan kembali gagang sebelah kiri. Lensa hitam menutup, dia baru menyadari ada tulisan ‘panggilan masuk’ di lensanya dan sebuah tanda panah menunjuk ke kanan. Max langsung menekan bagian kanan kacamata, suara musik terhenti dan terdengar suara Uchida.

Uchida: “Bagaimana?”
Max: (mendesah) “Kau hampir membuatku terkena penyakit jantung.”
Uchida: “Tak usah khawatir, menurut pengamatanku orang sepertimu hanya bisa terkena asma atau radang tenggorokan.”
Max: “Itu penyakit yang pernah kualami, kau bicara dari mana? Kepalamu hilang, badanmu masih ada di sini.”
Uchida: “Memang hanya kepalaku yang bisa dikirim ke tempatku berada sekarang, unit yang ada di tempatmu itu bekerja sebagai pengirim dan penerima. Di dua tempat lainnya hanya bisa sebagai 1 fungsi, kau tahu?”
Max: “Penerima dan pengirim di tempat berbeda?”
Uchida: “Benar sekali, saat ini aku berada di bagian penerima.”
Max: “Lalu bagaimana kau kembali nanti? Apa tidak masalah kau terpisah dari tubuhmu.”
Uchida: “Memang, aku akan mati jika terpisah cukup lama dari tubuhku. Tapi selama kepalaku terhubung dengan aliran listrik, aku masih bisa bertahan hidup.”

            Saat ini kepala Uchida yang berada di lain tempat sudah berada dalam tabung kaca dengan banyak kabel menancap di kepalanya, kepala kucing sudah tidak menutupi kepalanya. Ruangan di mana dia berada cukup luas, ada unit komputer di sebelah kanannya dan tabung berisi tubuh manusia di sebelah kanan. Sebuah tabung terbuka, sepasang kaki turun dan menginjak lantai. Seorang manusia dalam keadaan telanjang keluar dari dalam dan berjalan ke komputer, itulah Uchida yang sekarang berbentuk manusia.

Uchida: “Dan kau tak perlu khawatir bagaimana nanti aku akan kembali.”

            Kembali ke masa sekarang, Megan sedang mengelus-elus kepala Jaggy yang sedang makan daging steak. James, Uchida, dan Francis masih duduk di tempatnya. Olivia membereskan piring dan gelas yang sudah digunakan, membawanya ke belakang dan mencucinya.

Uchida: “Dan setelah itu aku bisa pergi ke tempat manapun yang kusukai, belum ada masalah mengenai soal efek samping penggunaan sampai saat ini.”
James: “Meggy, duduk kembali ke tempatmu. Kita akan rapat.”
Megan: “Jaggy, kemari.”

            Megan membawa Jaggy dan meletakkannya di pangkuannya sambil dielus-elus oleh Megan, James menekan tombol sebuah remote control dan muncullah sebuah layar televisi dari langit-langit pesawat.

James: “Aku sudah menyuruh orang melakukan pencarian ke pulau di mana kita terdampar, dan yang kumaksud ‘kita’ adalah Humpty Dumpty, Francis, Roy, dan tentu saja diriku. Pulau itu benar-benar sudah lenyap tidak berbekas, mereka mengambil foto ini tiga hari setelah kejadian.”

            James menunjukkan sebuah gambar di layar televisi, ada sebuah lubang yang cukup besar di dalam dasar laut.

James: “Diameter lubang itu kira-kira sebesar Las Vegas.”
Uchida: “Itulah kekuatan sistem penghancuran diri Alterion.”
Megan: “Kalau tempat seperti ini ada di kota besar dan dilengkapi dengan sistem yang sama...”
Olivia: “...akan ada banyak korban jiwa berjatuhan.”

            Francis masih memandangi jendela dengan tatapan kosong, semua pandangan mata kini tertuju pada Francis.

James: “Lalu... apa opinimu mengenai ini?”
Francis: “Maksudmu aku harus makan spaghetti dengan hidungku saat aku mendengar ini?”
Uchida: “Lagi-lagi dengan sikap acuh tak acuhmu itu.”
James: “Kami hanya ingin pendapat darimu, karena kau pernah melihat setidaknya yang seperti ini. Kau bilang kau pernah menghancurkan beberapa fasilitas mereka di masa depan, bagaimana tepatnya caramu melakukannya?”
Francis: “Tentu saja... cara yang sama dengan yang Alvon lakukan.”

            Francis menyeringai dan menatap dengan ekspresinya yang terlihat jahat, Megan merinding ketakutan dan menelan ludah saat melihatnya. Olivia mencoba menenangkan Megan dengan mengusap-usap bahunya dan memberinya minuman, tanpa ragu-ragu dia langsung mengambil dan meminumnya.

James: “Tunggu, tunggu. Maksudmu kau mengaktifkan penghancuran diri pada setiap fasilitas dan membuatnya meledak sampai membuat lubang yang berskala sebesar pulau Manhattan?”
Megan: “Apakah tidak ada tawanan sekalipun di tempat yang pernah kau hancurkan?”
Francis: “Mereka Alterion, tentu saja ada tawanan di semua fasilitas untuk dijadikan kelinci percobaan.”
Megan: “Dan kau masih memilih untuk menghancurkan tempat itu... tanpa memikirkan sedikitpun untuk menyelamatkan mereka semua?”
Francis: “Mereka layak menerimanya, banyak yang memilih untuk mati setelah tertangkap dan menjadi subyek eksperimen mereka. Bahkan sesuatu seperti harapan sudah tidak ada lagi pada diri mereka, yang ada hanyalah penderitaan. Pada akhirnya semua yang ada di dunia ini tak bisa lolos dari apa yang disebut dengan kematian, aku sudah banyak melihat yang seperti itu.”
Megan: “Kejam.”
Francis: “Kenapa? Kalau kau pikir aku terlihat peduli dengan orang-orang di sekitarku, itu salah. Biar kuberitahu sesuatu, mereka yang pernah bertempur bersamaku bisa dengan mudahnya menerima kematian sebagai jalan keluar terakhir. Sedangkan di jaman ini mereka bisa dengan mudahnya tidak menghiraukan apapun sementara mereka bersenang-senang, itu karena mereka tak pernah mengalami apa yang disebut penderitaan.”
Olivia: “Kalau maksudmu kami bisa hidup seperti biasa tanpa mengenal penderitaan, kau salah besar.”

            Olivia memandang dengan tatapan seram kepada Francis, dia juga balik memandangi Olivia dengan wajah seram. Megan, Uchida dan James tidak bisa melakukan apa-apa, mendadak Roy muncul di layar televisi.

Roy: “Semuanya, sebentar lagi kita akan mendarat di tempat tujuan. Tolong duduk kembali ke tempat masing-masing...”

            Roy melihat suasana yang menegangkan, Uchida memberi isyarat dengan membalikkan telapak tangannya perlahan. Roy mengangguk dan akhirnya dia memutuskan kontak.

James: “Baiklah, sudah cukup. Kita akan segera mendarat, jadi... lakukan seperti yang tadi Roy katakan.”
Uchida: (suara hati) “Dia tak pandai berbicara ya.”


            Kota Mexico, di sebuah gedung yang cukup tinggi dan sedang dalam pembangunan. Ada beberapa pekerja konstruksi di atasnya, masing-masing dari mereka sedang mengelas, mengecor, menyemen, dan menggergaji. Seorang operator mengoperasikan alat derek, namun alat derek itu mendadak berhenti beroperasi. Dia pun keluar dan memanggil seseorang dari kejauhan, orang itu sendiri berada di lantai teratas yang cukup tinggi. Orang itu berdiri dan meremas kertas lalu menyimpannya di saku celananya, dia berbalik dan melompat turun. Memegang tali katrol untuk meluncur turun, dia kemudian berayun ke tiang besi dan mendarat di atasnya. Dia berlari meloncati setumpuk semen, merunduk sambil menghindari orang yang sedang membawa tangga, mengambil selembar kain yang cukup besar dan membentangkannya. Kain itu digunakannya sebagai parasut, angin yang kencang mengangkatnya naik dan membawanya tepat di atas mesin derek. Kain itu langsung dia lepas dan dia mendarat tepat di atas mesin pengendali, dia melepas helm konstruksinya, menundukkan kepala untuk melihat rekan kerjanya dan memulai percakapan dengan bahasa Spanyol.

?: “Hay un problema?” (Ada masalah?)
Operator: “(Dereknya tidak bisa berjalan, apakah bisa diperiksa?)”
?: “Abajo.” (Turun)

            Operator itu turun dan sang pekerja pun masuk menggantikan, dia memandangi mesin tersebut. Kemudian dia melihat bungkusan snack berserakan di bawah kakinya, dia mengeluarkan kepalanya dari jendela dan melihat sang operator yang baru turun dengan pandangan jijik. Rekan kerjanya langsung berlari ketakutan, dia kembali memfokuskan pandangannya ke mesin. Bagian bawah mesin itu dibongkar dan beberapa kabel keluar dari dalam, dia memotong beberapa bagian dengan sesuatu seperti pisau. Kabel-kabel itu kemudian disambungkan silang, mesin derek itu kini mulai beroperasi. Mendadak sang pekerja yang mengoperasikan mesin derek kembali dan muncul di depan pintu, dia membawakan sebuah kantong plastik yang cukup besar dan langsung mengambil semua sampah yang berserakan di kaki temannya  dengan cepat, dia mengikat kantong plastik itu rapat-rapat dengan karet setelah memasukkan semua. Tapi sang pekerja masih memelototinya, dia menarik kerah baju sang operator.

?: “(Sudah berapa kali kukatakan untuk tidak mengkonsumsi apapun pada saat bekerja?)”
Operator: “Lo siento! Lo siento! Coronel!” (Maafkan aku! Maafkan aku! Kolonel)

            Sang pekerja melakukan headbutt pada operator dan membuat hidungnya berdarah, tatapan matanya kini berubah seolah-olah hendak membunuh.

?: “(Jangan panggil aku dengan sebutan itu... saat tidak ada misi.)”
Operator: “E-entiendo... (Pa-paham) Senor Ramon.”

            Wajah pekerja itu terlihat jelas, rambutnya yang panjang sampai bahu tapi sebelah kanan dan kirinya rontok tidak berambut, berkulit coklat, beralis tebal, memakai tindikan di hidung sebelah kiri dan telinga kanannya, tato kepala burung elang di sebelah kanan kepalanya. Dia keluar dan memaksa masuk sang operator, memakai kain besar yang tadi dia gunakan untuk parasut dan mendarat di lantai. Ramon berjalan ke arah dinding, dia melihat sebuah tempat sampah yang bisa dibuka dengan kaki. Dia mengambil bungkusan yang dia simpan di dalam saku dan membuangnya bersamaan dengan sampah milik operator, dia menarik nafas panjang dari mulut dan menghembuskannya keras-keras lewat hidung.

Ramon: “Idiota.” (Bodoh)
?: “Orang bodoh mengatai bodoh pada orang lain, sudah sering kulihat seperti itu.”

            Arachnus sedang duduk di sebuah kursi lengkap dengan meja bundar, dia sedang duduk bersama dengan beberapa pekerja sambil bermain kartu. Di atas meja banyak terdapat uang dan kartu berceceran, beberapa botol minuman, dan burito.

Ramon: “Arachnus, kami sedang bekerja sekarang.”
Arachnus: “Aku tahu, aku juga.”
Ramon: “Kalau kau menguras uang orang setidaknya pergilah ke kasino, (dan kalian semua kenapa malah melayaninya? Ini bahkan belum jam istirahat.)”
Arachnus: “Ini hanya untuk menghilangkan kebosananku, aku hanya pengawas di sini. Dan selama aku jadi pengawas, bukankah sudah menjadi kewajiban tuan rumah untuk melayani tamunya yang sedang bosan?”
Ramon: “Yang pertama ini bukan rumah, ini adalah fasilitas yang masih dalam pembangunan dikepalai oleh...”
Arachnus: “Aku tahu, sebab dialah yang menyuruhku kemari saat aku mau meninggalkan tempat Argos. Kalaupun anak buahmu yang tak pernah istirahat menemaniku sebentar, pembangunan ini tidak akan berhenti begitu saja.”
Ramon: “Mereka pernah beristirahat.”
Arachnus: “Ah, maaf maksudku jarang beristirahat. Tapi tanpa uang sekalipun, kalian masih bisa bertahan hidup. Bukankah mereka ini ‘pemakan bangkai’?”

            Ramon membalik meja dan membuat apa yang ada di atasnya jatuh berserakan, Arachnus dan para pekerja masih duduk sambil memegang kartu. Laba-laba di balik topinya menembakkan jaring ke segala arah, semua barang yang jatuh menempel pada jaring yang besar.

Arachnus: “Kau tak perlu semarah itu.”
Ramon: “Ya, mereka adalah ‘Buitres’.”
Arachnus: “Ah, coba lihat waktunya. Aku harus pergi untuk menjemput beberapa orang, kebetulan sekali aku juga sudah selesai. Lagipula aku bukan orang yang serakah yang suka mengambil semuanya dari seseorang, setidaknya aku menyisakan beberapa untuk kalian Royal Straight Flush.”

            Arachnus menunjukkan kartu raja, ratu, menteri, sepuluh, dan as sekop. Para pekerja menunjukkan kartunya yang lain dan langsung membubarkan diri, Arachnus juga beranjak pergi sebelum dia mengambil uang 1000 peso sebanyak 5 lembar, sebuah burito dan sebotol minuman yang menempel di jaring dengan bantuan laba-laba di balik topinya.

Arachnus: “Kalian boleh melanjutkan kegiatan kalian, Silakan ambil kembaliannya, cabron.”

            Arachnus pergi meninggalkan tempat dan memasuki sebuah elevator, Ramon memandanginya sampai dia tak kelihatan. Ramon berbalik dan melihat jaring yang dibuat Arachnus, dia mendesah berat.

Ramon: “(Dia pergi tanpa membersihkan sisa-sisanya.)”

Saturday, June 11, 2016

Pengumuman

Akhirnya saya menulis lagi, setelah sekian lama hiatus. Kabar terbaru, cerita ini sebentar lagi akan dibukukan. Jadi mohon doa dan restunya agar bisa diterbitkan, terima kasih banyak untuk mereka yang masih mau mengunjungi blog saya.

Monday, May 30, 2016

Level 40



HASIL

            23 Oktober 2010, di markas rahasia dalam suatu dimensi. Sang pria pemilik tempat tersebut sekaligus dalang penyerangan Francis dan yang lain sedang melihat rekaman pertempuran terdahulu. Matanya bergerak ke sana kemari, memandangi layar-layar monitor di sekitarnya. Salah satu matanya terfokus pada satu layar monitor dengan pandangan yang terlihat kesal, namun seseorang menginterupsi dari belakang.

?: “Dari tadi bola matamu hanya melihat kejadian itu berulang kali, apa kau tidak bosan?”
??: “Diam! Ini adalah hal memalukan yang tidak seharusnya terjadi pada diriku!”
?: “Aku paham atas keadaanmu saat ini, Argos.”

            Di balik kursi ada sebuah bola mata yang mendadak muncul dan melihat seseorang di belakang, bola mata itu bergerak ke belakang mendekati wajah orang tersebut. Orang itu kemudian membuka kelopak matanya yang menunjukkan sebuah bola mata berwarna merah dengan motif segitiga terbalik di dalamnya, bola mata itu saling berpandangan. Bola mata milik Argos kemudian kembali ke balik kursi yang didudukinya, dia berbalik bersama kursinya. Kini wujud sebenarnya terlihat, dia berwujud manusia tapi memiliki banyak mata di sekujur tubuhnya. Mata itu sendiri bisa keluar dari dalam kelopaknya dan terpasang kabel dari dalamnya, masing-masing matanya melihat ke salah satu layar monitor. Dia memiliki sebuah mata yang sangat besar seperti mata kucing di kepalanya, pupilnya bisa menyempit dan melebar. Pemilik mata dengan segitiga merah itu sendiri adalah Arachnus, berdiri bersandar sambil mengangkat bagian depan topinya dengan jempol.

Argos: “Bagaimana kau bisa memahamiku sementara dirimu sendiri bukan dari Alterion?”
Arachnus: “Maksudku adalah ketika barang milikmu diambil oleh orang lain, dulu aku juga pernah mengalami hal yang sama.”
Argos: “Bicara tentang mengambil milik orang lain, Ulkamium di Norwegia saat itu... bukankah kau yang ambil?”
Arachnus: “Atas perintah Kolonel Mungo.”
Argos: “Berapa yang dia berikan untukmu?”
Arachnus: “Aku tak punya kewajiban untuk menjawab itu.”
Argos: “Aneh, jika dia menugaskanmu untuk mengambil Ulkamium dari tempat Drake, kenapa kau malah menyerahkannya pada TDG?”
Arachnus: “Aku hanya diperintahkan untuk mengambilnya, tapi aku tidak diberitahu harus diapakan setelahnya.”
Argos: “Lalu itu membuatmu berhak untuk membagikannya pada orang lain?”
Arachnus: “Sebenarnya itu sudah termasuk rencana.”
Argos: “Rencana?”
Arachnus: “Oleh salah satu tikus milik ‘Kaisar’”

            Seluruh mata milik Argos berkedip secara bersamaan, salah satu bola matanya mendekati wajah Arachnus.

Argos: “Maksudmu ‘dia’?”
Arachnus: “Entahlah, ah, benar. Kukembalikan ini padamu.”

            Arachnus menunjukkan sebuah kartu bergambar raja wajik di hadapan matanya yang terlihat sedikit memerah, kartu itu dibalik dan menunjukkan sesuatu yang bergerak mengeliat di dalamnya. Terlihat seekor Hack, hanya kepalanya saja.

Arachnus: “Ini masih berguna bagimu bukan?”

            Mata Argos sedikit bercahaya, kartu yang Arachnus pegang diserap dengan cahaya yang memancar dari matanya.

Argos: “Setidaknya kau berhasil menyelamatkan satu spesimen dan memberikanku data, sekarang pergilah. Bayaranmu ada di tempat biasanya, aku akan memanggilmu lagi jika diperlukan.”
Arachnus: “Aku ragu akan hal itu.”
Argos: “Kenapa?”
Arachnus: “Yang memerlukanku tidak hanya dirimu, bukan?”

            Arachnus keluar dari ruangan, tapi dia berpapasan dengan seseorang ketika hendak keluar.

Arachnus: “Oh, kau.”


            Di sebuah pusat perbelanjaan, di bagian pakaian. Francis terlihat sedang berdiri di depan sebuah etalase toko, berdiri sambil melipat tangannya dengan pakaian bodyguard. Beberapa orang yang melewatinya berbisik-bisik membicarakan dirinya, namun mereka langsung lari meninggalkan tempat saat dia melihat mereka dengan wajah menyeramkan. Secara mendadak, pipinya dicubit dari belakang. Yang mencubitnya adalah Megan, dia terlihat membawa barang belanjaan.

Megan: “Apa kau setidaknya bisa menunggu secara normal?”
Francis: “Sudah selesai?”
Megan: “Tidak, masih ada pakaian keluaran terbaru yang harus kubeli saat ini. (mendesah) Kenapa kau harus mengawalku? Olivia tidak bisa menemaniku karena dia masih mengurus masalah yang kalian perbuat di mansion, kau sebenarnya tidak begitu ingin melakukannya bukan?”
Francis: “Benar.”
Megan: “Kalau begitu kau bisa kembali, nanti aku akan pulang sendiri.”
Francis: “Baik.”

            Francis memasukkan tangannya ke balik jas yang dipakainya, mendadak Megan mencegahnya dengan memegang tangannya.

Francis: “Kau mau apa?”
Megan: “Justru aku yang harus bertanya begitu, kau mau memakainya di tengah keramaian?”
Francis: “Tentu saja itu perlu.”
Megan: “Tidak bisa, sudah cukup masalah yang kau perbuat. Aku tak mau terlibat lebih jauh lagi, jangan memakainya.”
Francis: “Apakah berbahaya?”
Megan: “Dilihat dari sudut manapun tentu saja berbahaya.”
Francis: “Lalu kenapa orang-orang itu bisa dengan santai melakukannya di tengah keramaian.”
Megan: “Itu karena... Tunggu, ‘orang-orang itu’?”

            Francis melihat pada pengunjung pusat perbelanjaan yang sedang duduk ataupun berdiri sedang menggunakan HP, dia melanjutkan mengambil barang yang hendak diambilnya dari dalam jas yaitu sebuah HP.

Francis: “Aku mau menghubungi James, dia menyuruhku untuk memakai ini jika kau mulai mengeluh.”
Megan: “A... ah... maaf, kupikir...”
Francis: “Apa?”
Megan: “Tidak, lupakan saja. Naiklah taksi, kuberi kau ongkos.”

            Francis memandangi Megan sejenak, dia kemudian meninggalkan tempat setelah diberi uang. Megan hanya melihat sampai dia menghilang dari kejauhan, sementara dia sendiri dipandangi oleh seseorang dalam sebuah kafe dengan secangkir kopi di atas meja.

Megan: “Baik, pergilah. Setidaknya aku bisa menikmati belanja...”

            Saat Megan berbalik dan hendak pergi, dia mendadak berhenti. Dia melihat tumpukan barang yang baru saja dia beli, wajahnya langsung ditutup dengan satu tangan.

Megan: “Aku lupa kalau harus ada yang membawakan barang.”

            Seseorang datang membawa troli dan memasukkan semua barang bawaan Megan ke dalamnya, Megan melihat pada orang tersebut. Ternyata Francis, dia mendorong troli sambil minum soda di gelas plastik.

Francis: “Kau masih bisa jalan?”


            Dalam sebuah ruangan yang gelap, berdiri seseorang mengenakan rompi, sebuah helm, dan Marscannon di tangan kanannya. Di dalam ruangan itu sendiri ada sesuatu selain dirinya, sesuatu yang kecil dan berjalan perlahan menuju ke arahnya dari empat sudut berbeda. Wujud dari sesuatu itu terlihat jelas, sebuah boneka pemecah kacang.

?: “Oh, manis sekali.”

            Salah satu membuka mulutnya dan menyemburkan api, orang itu langsung menghindar dan berguling ke kiri. Dia menembakkan senjatanya yang meniupkan angin kencang pada salah satunya, boneka itu langsung terpental dan menabrak tembok sampai hancur dengan bagian tubuh berceceran di lantai. Tiga boneka yang tersisa membuka mulut secara bersamaan, salah satunya mengeluarkan gatling gun dari kedua tangannya. Orang itu mulai berlari sambil ditembaki, dua boneka yang tersisa mengeluarkan semacam meriam dari dua tangannya. Mereka menembak secara bersahutan, tapi orang itu mulai kelelahan.

?: “Ini mulai menyebalkan, kenapa aku punya kaki?”

            Orang itu berlutut dan satu tangannya diletakkan di lantai, mendadak dia meluncur dengan cepat sambil menembak. Tapi tembakannya hanya mengenai tangan kanan salah satu dari mereka, orang itu langsung terjatuh.

?: “Auw! Ini terlalu cepat!”
Ketika mereka hendak menembak lagi, dia meloncat dan memanjat tembok dengan cara menjejakkan kaki di tembok kiri dan kanannya, dia lalu meloncat dan menembak bertubi-tubi tiga boneka di bawahnya. Semua badannya terpisah-pisah, orang itu mendarat di lantai dengan kedua kakinya dan jatuh terpeleset. Salah satu dari boneka itu menghampiri orang yang terbaring itu dan menembak kepalanya, pemandangan dalam ruangan mendadak berubah menjadi putih. Sebuah proyeksi hologram muncul di tengah-tengah ruangan, proyeksi itu menampilkan wajah Uchida.

?: “Baik, itu tidak keren.”
Uchida: “Tidak buruk untuk yang pertama.”
?: “Aku baru melakukan ini selama 5 menit dan sudah ditembak di kepala oleh Nutcracker? Sungguh tidak keren, setidaknya bisa buatkan musuh yang lebih kejam?”
Uchida: “Masih terlalu awal untukmu, Mr. Yorgins.”

            Orang itu membuka helmnya dan melepas peralatannya, ternyata dia adalah James. Dengan wajah merengut, dia berjalan ke tembok dan meletakkan telapak tangannya. Semacam pintu kecil mendadak terbuka di hadapannya, dia mengambil sesuatu dari dalam. Dari lantai muncul sebuah kursi, dia duduk sejenak sambil memandangi sebuah kaleng minuman bertuliskan ‘Coala Cola’ dengan gambar maskot kepala koala. Dia membuka kaleng dan langsung meneguk isinya sedikit, dengan wajah puas dia bersendawa cukup keras.

James: “Ah, segarnya. Sebenarnya aku lebih suka ‘Grizzly Soda’, tapi lebih baik daripada tidak ada minuman sama sekali.”
Uchida: “Untuk latihan berikutnya, tidak perlu pakai musuh. Aku sudah katakan padamu masih terlalu awal menggunakan target bergerak, ini bukan game first person shooter.”
James: “Kalau maksudmu memakai target yang diam saja seperti sasaran tembak di tempat latihan menembak, aku tidak mau. Coba telaah kembali kata-kata yang barusan kau ucapkan, apa latihan yang baru kujalani itu semacam ‘First Person Shooter’?”
Uchida: “Kuakui ini memang bukan video game, tapi aku suka kata itu. Tapi kalau memang begitu, seharusnya kau melatih mengontrol pergerakanmu sampai kau terbiasa terlebih dahulu.”
James: “Tidak mau.”
Uchida: “Hoi.”
James: “Lebih baik jika alat yang saat ini kau buat bisa membuatku sedikit menggerakkan bagian tubuhku.”
Uchida: “Setidaknya kau pernah olahraga bukan? Pergi ke gym atau semacamnya?”
James: “Kalau maksudmu untuk membangun otot, aku tidak terlalu suka. Aku lebih suka naik sepeda, skateboard, atau pakai sepatu roda.”
Uchida: “Aku paham, jadi kau mau bertempur dengan mengandalkan fleksibilitas, akurasi, dan kecepatan.”
James: “Sangat tepat sekali, karena aku sangat ahli di bagian di mana aku sangat ahli melakukannya.”
Uchida: “Seperti Counter Strike?”
James: “Oh, ayolah. Itu sudah ketinggalan jaman, aku sekarang lebih tertarik dengan permainan di dunia nyata. Baru-baru ini aku mulai menarik minat pada air softgun atau paintball, terima kasih berkat kejadian di pulau waktu itu.”
Uchida: “Maaf.”
James: “Kau tidak salah, tenang saja. Marscannon ini cukup berguna, aku sudah mempelajari sedikit mengenai fungsinya. Ketika pertama kali pemakaian, benda itu meminta data DNA pemakai yang pertama memakainya. Yang kedua, kemampuan senjata bebas dipilih oleh pemakai. Tapi aku tidak tahu sisanya, karena itulah aku meminta penjelasanmu. Mungkin saja ada efek samping tertentu jika aku sering memakainya, .”
Uchida: “Efek samping... kau benar, mengingat Alterion selalu menciptakan banyak senjata tanpa peduli apa resiko yang terjadi pada pemakainya. Hal seperti efek samping pada pengguna biasanya memang ada, karena itulah selalu disiapkan langkah pencegahan.”
James: “Sudah kuduga, kau juga tahu bukan jika Megan juga memakainya?”
Uchida: “Mengenai hal tersebut, aku sudah memeriksa Marscannon miliknya. Dari hasil penelitianku, Marscannon yang kalian pakai hanya menimbulkan sedikit gejala yang tak begitu berbahaya. Akan tetapi walaupun tidak berbahaya, jika mengalaminya cukup lama tidak akan mengenakkan.”
James: “Misalnya?”
Uchida: “Em, aku ragu untuk mengatakannya...”
James: “Kenapa? Bukankah kau bilang tak begitu berbahaya?”
Uchida: “Ya, memang... tapi...”
James: “Katakan saja.”
Uchida: “Baiklah, tapi apa kau bisa janji tidak akan tertawa?”
James: “Tergantung, jika kau mau melakukan stand up comedy di sini.”
Uchida: (diam sejenak) “Aku serius.”
James: “Baiklah, katakan.”
Uchida: “Marscannon tidak akan memberikan efek samping pada saat pemakaian pertama, namun jika kau memakainya terlalu lama lebih dari 3 jam...”


            Sementara itu di depan toilet wanita, Francis sedang berdiri sambil menekan-nekan tombol di handphonenya. Dia melihat-lihat fitur-fitur yang ada di dalamnya berulang kali, wanita-wanita yang hendak memakai toilet mengurungkan niat mereka masuk ke dalam begitu melihat Francis. Megan baru saja keluar dari dalam toilet dengan wajah pucat, melihat Francis yang masih asyik menekan tombol.

Megan: “Kalau kau berdiri di situ kau bisa dianggap orang mesum.”

            Megan melemparkan gulungan tisu toilet yang sudah habis ke kepala Francis, dia langsung berhenti menekan tombol.

Francis: “Mari kita pergi.”
Megan: “Tunggu! Harusnya aku yang bilang begitu!”
Francis: “Mobil jemputan sudah menunggu di pintu keluar, kau tinggal berjalan saja 30 langkah ke kiri.”
Megan: “Aku tak menyangka ditemani oleh orang semenyebalkan dirimu... ugh...”
Francis: “Kau masih bermasalah dengan saluran pencernaanmu?”
Megan: “Jangan ucapkan itu lagi... ugh...”

            Megan memasang wajah seperti akan muntah, Francis menghela nafas dan mendorong troli serta menggendong Megan di belakangnya.

Megan: “He... hei! Apa yang kau lakukan?!”

            Francis langsung berlari secepat kilat ke pintu keluar dan berhenti tepat di hadapan sebuah mobil sedan. Pintu belakang dibuka dan Megan diletakkan ke dalam, pintu ditutup dengan keras. Francis langsung membuka bagasi dan memasukkan semua barang-barang belanjaan Megan secara tidak beraturan, dia langsung berjalan ke bangku supir.

Francis: “Antarkan wanita ini kembali ke mansion.”
Megan: “Tunggu! Jangan seenaknya memutuskan! Aku masih punya urusan dengan... ugh...!”
Francis: “Jangan dengarkan perkataannya, jalan sekarang.”

            Francis memandangi sang supir dengan tatapan mata yang menyeramkan, sang supir mengangguk kemudian Francis langsung masuk. Supir tersebut langsung tancap gas, meninggalkan pusat perbelanjaan. Megan hanya bisa meringkuk menahan rasa mual di perutnya, Francis memandanginya sesaat dan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah tabung kecil berisi cairan biru, dia menghampiri Megan dan membuatnya minum dari tabung itu secara paksa. Francis meremas wajah Megan tepat di bagian mulut sehingga bibirnya membentuk mulut gurita dan memasukkan tabung itu ke dalam mulutnya, Megan berontak dengan memukuli, menampar, bahkan menarik-narik rambutnya. Tabung itu jatuh ke lantai mobil, hanya sekitar setetes sampai dua tetes yang tersisa di dalamnya. Megan terbatuk-batuk dan diam sejenak, dia bangun sambil memegangi mulutnya yang mengeluarkan air liur serta cairan biru. Kemudian dia memandangi telapak tangannya, air liur dan cairan biru yang ada di telapak tangannya bercampur dan berubah warna menjadi hijau kekuning-kuningan.

Megan: “Kau... berikan aku apa?”
Francis: “Hanya pertolongan pertama.”

            Megan tidak lagi merasakan mual di perutnya, wajahnya menjadi sedikit segar. Dia kemudian mengambil saputangan dan membersihkan mulutnya yang belepotan, dia kemudian mengambil tabung yang terjatuh.

Megan: “Apa ini?”
Francis: “Ygraverum.”


            Kembali ke tempat James, suara tawa terbahak-bahak meledak dari dalam sebuah ruangan. James berguling-guling di lantai dan berputar-putar membentuk lingkaran, Uchida hanya bisa memandanginya dengan tatapan jengkel dari matanya yang masih normal. Pintu ruangan terbuka, Olivia masuk ke dalam ruangan dan melihat situasi di dalam. Olivia hanya diam memandanginya, setelah itu dia dan Uchida saling berpandangan kemudian melihat James lagi. Akhirnya dia berhenti berguling dan berputar-putar, dia berdiri dengan lututnya sambil mencoba menarik nafas. Berjalan ke tembok dengan lututnya dan bersandar di sana, kini melihat Olivia dan Uchida yang masih berdiri memandanginya.

James: “Sudah berapa lama kau di sana?”
Olivia: “1 menit, 24 detik tepatnya. Saya hendak menyusul nona Megan di tempat dia berada sekarang.”
James: “Oh, tentu, tentu. Apa ada yang lain?”
Olivia: “Teman anda Eddie barusan datang untuk menemui anda, tapi dia sudah pergi lagi.”
James: “Ah, benar. Dia memberikan sesuatu?”

            Olivia mengeluarkan sebuah map dari balik apron dan melemparnya tepat di hadapan James, dia mengambil map itu lalu membukanya dan melihat isinya sedikit.

James: “Kau boleh pergi.”
Olivia: “Terima kasih.”

James berdiri dan meletakkan map itu di lemari tersembunyi yang ada di tembok, dia juga mengambil seperangkat pakaian dan mulai melepaskan semua baju yang dia pakai. Kini dia sudah berganti dengan celana pendek kuning dan t-shirt merah, sebuah topi dengan lambang yang sama seperti di dada baju tempur Francis.

Uchida: “Kapan kau membuatnya?”

            James mulai mengenakan rompi kuning dengan saku dan lambang yang sama seperti topinya di dada kirinya, sambil menjinjing sebuah tas yang cukup besar.

James: “Humpty Dumpty, apa sekarang kau lapar?”
Uchida: “Sebenarnya tidak, tapi...”
James: “Ah benar juga kau tak punya lambung.”
Uchida: (jengkel) “Kenapa tidak sekalian saja semua isi perut kau sebutkan?”
James: “Bercanda, apa energimu cukup untuk mengadakan perjalanan hari ini? Seluruh tubuhmu pastilah kekurangan tenaga karena belum mengkonsumsi apa-apa sama sekali setelah kejadian itu.”
Uchida: “Sebenarnya setengah dari diriku yang masih ada di kediamanmu, karena tubuhku masih perlu mengkonsumsi energi di tempatmu. Aku sendiri masih bersama ‘kau-tahu-siapa’, tapi sekarang aku masih bisa pergi denganmu tanpa harus mengisi energi walau tubuhku terpisah jauh berkat fasilitas baru yang kau berikan.”

            Uchida sendiri sekarang berada di dalam sebuah Laboratorium kecil tetapi hanya kepalanya saja di dalam sebuah tabung kaca, banyak kabel yang menancap di belakang kepalanya. Di sekitarnya ada sekitar dua sampai lima layar komputer yang saat ini dioperasikan oleh seseorang. Di hadapannya ada banyak kapsul, salah satunya terbuka dan keluar sesuatu dari dalamnya.

Uchida: “Jadi ke mana kita akan pergi? Apa kita perlu mengajaknya?”
James: “Sebelum itu, mana yang kau suka? Taco atau Burito?”