HASIL
23
Oktober 2010, di markas rahasia dalam suatu dimensi. Sang pria pemilik tempat
tersebut sekaligus dalang penyerangan Francis dan yang lain sedang melihat
rekaman pertempuran terdahulu. Matanya bergerak ke sana kemari, memandangi
layar-layar monitor di sekitarnya. Salah satu matanya terfokus pada satu layar
monitor dengan pandangan yang terlihat kesal, namun seseorang menginterupsi
dari belakang.
?: “Dari tadi bola matamu hanya melihat
kejadian itu berulang kali, apa kau tidak bosan?”
??: “Diam! Ini adalah hal memalukan yang
tidak seharusnya terjadi pada diriku!”
?: “Aku paham atas keadaanmu saat ini,
Argos.”
Di
balik kursi ada sebuah bola mata yang mendadak muncul dan melihat seseorang di
belakang, bola mata itu bergerak ke belakang mendekati wajah orang tersebut.
Orang itu kemudian membuka kelopak matanya yang menunjukkan sebuah bola mata
berwarna merah dengan motif segitiga terbalik di dalamnya, bola mata itu saling
berpandangan. Bola mata milik Argos kemudian kembali ke balik kursi yang didudukinya,
dia berbalik bersama kursinya. Kini wujud sebenarnya terlihat, dia berwujud
manusia tapi memiliki banyak mata di sekujur tubuhnya. Mata itu sendiri bisa
keluar dari dalam kelopaknya dan terpasang kabel dari dalamnya, masing-masing
matanya melihat ke salah satu layar monitor. Dia memiliki sebuah mata yang
sangat besar seperti mata kucing di kepalanya, pupilnya bisa menyempit dan
melebar. Pemilik mata dengan segitiga merah itu sendiri adalah Arachnus,
berdiri bersandar sambil mengangkat bagian depan topinya dengan jempol.
Argos: “Bagaimana kau bisa memahamiku
sementara dirimu sendiri bukan dari Alterion?”
Arachnus: “Maksudku adalah ketika barang
milikmu diambil oleh orang lain, dulu aku juga pernah mengalami hal yang sama.”
Argos: “Bicara tentang mengambil milik
orang lain, Ulkamium di Norwegia saat itu... bukankah kau yang ambil?”
Arachnus: “Atas perintah Kolonel Mungo.”
Argos: “Berapa yang dia berikan untukmu?”
Arachnus: “Aku tak punya kewajiban untuk
menjawab itu.”
Argos: “Aneh, jika dia menugaskanmu untuk
mengambil Ulkamium dari tempat Drake, kenapa kau malah menyerahkannya pada
TDG?”
Arachnus: “Aku hanya diperintahkan untuk
mengambilnya, tapi aku tidak diberitahu harus diapakan setelahnya.”
Argos: “Lalu itu membuatmu berhak untuk
membagikannya pada orang lain?”
Arachnus: “Sebenarnya itu sudah termasuk
rencana.”
Argos: “Rencana?”
Arachnus: “Oleh salah satu tikus milik
‘Kaisar’”
Seluruh
mata milik Argos berkedip secara bersamaan, salah satu bola matanya mendekati
wajah Arachnus.
Argos: “Maksudmu ‘dia’?”
Arachnus: “Entahlah, ah, benar.
Kukembalikan ini padamu.”
Arachnus
menunjukkan sebuah kartu bergambar raja wajik di hadapan matanya yang terlihat
sedikit memerah, kartu itu dibalik dan menunjukkan sesuatu yang bergerak
mengeliat di dalamnya. Terlihat seekor Hack, hanya kepalanya saja.
Arachnus: “Ini masih berguna bagimu
bukan?”
Mata
Argos sedikit bercahaya, kartu yang Arachnus pegang diserap dengan cahaya yang
memancar dari matanya.
Argos: “Setidaknya kau berhasil
menyelamatkan satu spesimen dan memberikanku data, sekarang pergilah. Bayaranmu
ada di tempat biasanya, aku akan memanggilmu lagi jika diperlukan.”
Arachnus: “Aku ragu akan hal itu.”
Argos: “Kenapa?”
Arachnus: “Yang memerlukanku tidak hanya
dirimu, bukan?”
Arachnus
keluar dari ruangan, tapi dia berpapasan dengan seseorang ketika hendak keluar.
Arachnus: “Oh, kau.”
Di
sebuah pusat perbelanjaan, di bagian pakaian. Francis terlihat sedang berdiri
di depan sebuah etalase toko, berdiri sambil melipat tangannya dengan pakaian
bodyguard. Beberapa orang yang melewatinya berbisik-bisik membicarakan dirinya,
namun mereka langsung lari meninggalkan tempat saat dia melihat mereka dengan
wajah menyeramkan. Secara mendadak, pipinya dicubit dari belakang. Yang
mencubitnya adalah Megan, dia terlihat membawa barang belanjaan.
Megan: “Apa kau setidaknya bisa menunggu
secara normal?”
Francis: “Sudah selesai?”
Megan: “Tidak, masih ada pakaian keluaran
terbaru yang harus kubeli saat ini. (mendesah) Kenapa kau harus mengawalku?
Olivia tidak bisa menemaniku karena dia masih mengurus masalah yang kalian
perbuat di mansion, kau sebenarnya tidak begitu ingin melakukannya bukan?”
Francis: “Benar.”
Megan: “Kalau begitu kau bisa kembali,
nanti aku akan pulang sendiri.”
Francis: “Baik.”
Francis
memasukkan tangannya ke balik jas yang dipakainya, mendadak Megan mencegahnya
dengan memegang tangannya.
Francis: “Kau mau apa?”
Megan: “Justru aku yang harus bertanya
begitu, kau mau memakainya di tengah keramaian?”
Francis: “Tentu saja itu perlu.”
Megan: “Tidak bisa, sudah cukup masalah
yang kau perbuat. Aku tak mau terlibat lebih jauh lagi, jangan memakainya.”
Francis: “Apakah berbahaya?”
Megan: “Dilihat dari sudut manapun tentu
saja berbahaya.”
Francis: “Lalu kenapa orang-orang itu bisa
dengan santai melakukannya di tengah keramaian.”
Megan: “Itu karena... Tunggu, ‘orang-orang
itu’?”
Francis
melihat pada pengunjung pusat perbelanjaan yang sedang duduk ataupun berdiri
sedang menggunakan HP, dia melanjutkan mengambil barang yang hendak diambilnya
dari dalam jas yaitu sebuah HP.
Francis: “Aku mau menghubungi James, dia
menyuruhku untuk memakai ini jika kau mulai mengeluh.”
Megan: “A... ah... maaf, kupikir...”
Francis: “Apa?”
Megan: “Tidak, lupakan saja. Naiklah
taksi, kuberi kau ongkos.”
Francis
memandangi Megan sejenak, dia kemudian meninggalkan tempat setelah diberi uang.
Megan hanya melihat sampai dia menghilang dari kejauhan, sementara dia sendiri
dipandangi oleh seseorang dalam sebuah kafe dengan secangkir kopi di atas meja.
Megan: “Baik, pergilah. Setidaknya aku bisa
menikmati belanja...”
Saat
Megan berbalik dan hendak pergi, dia mendadak berhenti. Dia melihat tumpukan
barang yang baru saja dia beli, wajahnya langsung ditutup dengan satu tangan.
Megan: “Aku lupa kalau harus ada yang
membawakan barang.”
Seseorang
datang membawa troli dan memasukkan semua barang bawaan Megan ke dalamnya, Megan
melihat pada orang tersebut. Ternyata Francis, dia mendorong troli sambil minum
soda di gelas plastik.
Francis: “Kau masih bisa jalan?”
Dalam
sebuah ruangan yang gelap, berdiri seseorang mengenakan rompi, sebuah helm, dan
Marscannon di tangan kanannya. Di dalam ruangan itu sendiri ada sesuatu selain
dirinya, sesuatu yang kecil dan berjalan perlahan menuju ke arahnya dari empat
sudut berbeda. Wujud dari sesuatu itu terlihat jelas, sebuah boneka pemecah
kacang.
?: “Oh, manis sekali.”
Salah
satu membuka mulutnya dan menyemburkan api, orang itu langsung menghindar dan
berguling ke kiri. Dia menembakkan senjatanya yang meniupkan angin kencang pada
salah satunya, boneka itu langsung terpental dan menabrak tembok sampai hancur
dengan bagian tubuh berceceran di lantai. Tiga boneka yang tersisa membuka
mulut secara bersamaan, salah satunya mengeluarkan gatling gun dari kedua
tangannya. Orang itu mulai berlari sambil ditembaki, dua boneka yang tersisa
mengeluarkan semacam meriam dari dua tangannya. Mereka menembak secara
bersahutan, tapi orang itu mulai kelelahan.
?: “Ini mulai menyebalkan, kenapa aku
punya kaki?”
Orang
itu berlutut dan satu tangannya diletakkan di lantai, mendadak dia meluncur
dengan cepat sambil menembak. Tapi tembakannya hanya mengenai tangan kanan
salah satu dari mereka, orang itu langsung terjatuh.
?: “Auw! Ini terlalu cepat!”
Ketika mereka
hendak menembak lagi, dia meloncat dan memanjat tembok dengan cara menjejakkan
kaki di tembok kiri dan kanannya, dia lalu meloncat dan menembak bertubi-tubi tiga
boneka di bawahnya. Semua badannya terpisah-pisah, orang itu mendarat di lantai
dengan kedua kakinya dan jatuh terpeleset. Salah satu dari boneka itu menghampiri
orang yang terbaring itu dan menembak kepalanya, pemandangan dalam ruangan
mendadak berubah menjadi putih. Sebuah proyeksi hologram muncul di
tengah-tengah ruangan, proyeksi itu menampilkan wajah Uchida.
?: “Baik, itu tidak keren.”
Uchida: “Tidak buruk untuk yang pertama.”
?: “Aku baru melakukan ini selama 5 menit
dan sudah ditembak di kepala oleh Nutcracker? Sungguh tidak keren, setidaknya
bisa buatkan musuh yang lebih kejam?”
Uchida: “Masih terlalu awal untukmu, Mr.
Yorgins.”
Orang
itu membuka helmnya dan melepas peralatannya, ternyata dia adalah James. Dengan
wajah merengut, dia berjalan ke tembok dan meletakkan telapak tangannya. Semacam
pintu kecil mendadak terbuka di hadapannya, dia mengambil sesuatu dari dalam.
Dari lantai muncul sebuah kursi, dia duduk sejenak sambil memandangi sebuah
kaleng minuman bertuliskan ‘Coala Cola’ dengan gambar maskot kepala koala. Dia
membuka kaleng dan langsung meneguk isinya sedikit, dengan wajah puas dia
bersendawa cukup keras.
James: “Ah, segarnya. Sebenarnya aku lebih
suka ‘Grizzly Soda’, tapi lebih baik daripada tidak ada minuman sama sekali.”
Uchida: “Untuk latihan berikutnya, tidak
perlu pakai musuh. Aku sudah katakan padamu masih terlalu awal menggunakan
target bergerak, ini bukan game first person shooter.”
James: “Kalau maksudmu memakai target yang
diam saja seperti sasaran tembak di tempat latihan menembak, aku tidak mau.
Coba telaah kembali kata-kata yang barusan kau ucapkan, apa latihan yang baru
kujalani itu semacam ‘First Person Shooter’?”
Uchida: “Kuakui ini memang bukan video
game, tapi aku suka kata itu. Tapi kalau memang begitu, seharusnya kau melatih
mengontrol pergerakanmu sampai kau terbiasa terlebih dahulu.”
James: “Tidak mau.”
Uchida: “Hoi.”
James: “Lebih baik jika alat yang saat ini
kau buat bisa membuatku sedikit menggerakkan bagian tubuhku.”
Uchida: “Setidaknya kau pernah olahraga
bukan? Pergi ke gym atau semacamnya?”
James: “Kalau maksudmu untuk membangun
otot, aku tidak terlalu suka. Aku lebih suka naik sepeda, skateboard, atau
pakai sepatu roda.”
Uchida: “Aku paham, jadi kau mau bertempur
dengan mengandalkan fleksibilitas, akurasi, dan kecepatan.”
James: “Sangat tepat sekali, karena aku
sangat ahli di bagian di mana aku sangat ahli melakukannya.”
Uchida: “Seperti Counter Strike?”
James: “Oh, ayolah. Itu sudah ketinggalan
jaman, aku sekarang lebih tertarik dengan permainan di dunia nyata. Baru-baru
ini aku mulai menarik minat pada air softgun atau paintball, terima kasih
berkat kejadian di pulau waktu itu.”
Uchida: “Maaf.”
James: “Kau tidak salah, tenang saja.
Marscannon ini cukup berguna, aku sudah mempelajari sedikit mengenai fungsinya.
Ketika pertama kali pemakaian, benda itu meminta data DNA pemakai yang pertama
memakainya. Yang kedua, kemampuan senjata bebas dipilih oleh pemakai. Tapi aku tidak
tahu sisanya, karena itulah aku meminta penjelasanmu. Mungkin saja ada efek
samping tertentu jika aku sering memakainya, .”
Uchida: “Efek samping... kau benar,
mengingat Alterion selalu menciptakan banyak senjata tanpa peduli apa resiko
yang terjadi pada pemakainya. Hal seperti efek samping pada pengguna biasanya
memang ada, karena itulah selalu disiapkan langkah pencegahan.”
James: “Sudah kuduga, kau juga tahu bukan
jika Megan juga memakainya?”
Uchida: “Mengenai hal tersebut, aku sudah
memeriksa Marscannon miliknya. Dari hasil penelitianku, Marscannon yang kalian
pakai hanya menimbulkan sedikit gejala yang tak begitu berbahaya. Akan tetapi
walaupun tidak berbahaya, jika mengalaminya cukup lama tidak akan mengenakkan.”
James: “Misalnya?”
Uchida: “Em, aku ragu untuk
mengatakannya...”
James: “Kenapa? Bukankah kau bilang tak
begitu berbahaya?”
Uchida: “Ya, memang... tapi...”
James: “Katakan saja.”
Uchida: “Baiklah, tapi apa kau bisa janji
tidak akan tertawa?”
James: “Tergantung, jika kau mau melakukan
stand up comedy di sini.”
Uchida: (diam sejenak) “Aku serius.”
James: “Baiklah, katakan.”
Uchida: “Marscannon tidak akan memberikan
efek samping pada saat pemakaian pertama, namun jika kau memakainya terlalu
lama lebih dari 3 jam...”
Sementara
itu di depan toilet wanita, Francis sedang berdiri sambil menekan-nekan tombol
di handphonenya. Dia melihat-lihat fitur-fitur yang ada di dalamnya berulang
kali, wanita-wanita yang hendak memakai toilet mengurungkan niat mereka masuk
ke dalam begitu melihat Francis. Megan baru saja keluar dari dalam toilet
dengan wajah pucat, melihat Francis yang masih asyik menekan tombol.
Megan: “Kalau kau berdiri di situ kau bisa
dianggap orang mesum.”
Megan
melemparkan gulungan tisu toilet yang sudah habis ke kepala Francis, dia langsung
berhenti menekan tombol.
Francis: “Mari kita pergi.”
Megan: “Tunggu! Harusnya aku yang bilang
begitu!”
Francis: “Mobil jemputan sudah menunggu di
pintu keluar, kau tinggal berjalan saja 30 langkah ke kiri.”
Megan: “Aku tak menyangka ditemani oleh
orang semenyebalkan dirimu... ugh...”
Francis: “Kau masih bermasalah dengan
saluran pencernaanmu?”
Megan: “Jangan ucapkan itu lagi... ugh...”
Megan
memasang wajah seperti akan muntah, Francis menghela nafas dan mendorong troli
serta menggendong Megan di belakangnya.
Megan: “He... hei! Apa yang kau lakukan?!”
Francis
langsung berlari secepat kilat ke pintu keluar dan berhenti tepat di hadapan
sebuah mobil sedan. Pintu belakang dibuka dan Megan diletakkan ke dalam, pintu
ditutup dengan keras. Francis langsung membuka bagasi dan memasukkan semua
barang-barang belanjaan Megan secara tidak beraturan, dia langsung berjalan ke
bangku supir.
Francis: “Antarkan wanita ini kembali ke
mansion.”
Megan: “Tunggu! Jangan seenaknya
memutuskan! Aku masih punya urusan dengan... ugh...!”
Francis: “Jangan dengarkan perkataannya,
jalan sekarang.”
Francis
memandangi sang supir dengan tatapan mata yang menyeramkan, sang supir
mengangguk kemudian Francis langsung masuk. Supir tersebut langsung tancap gas,
meninggalkan pusat perbelanjaan. Megan hanya bisa meringkuk menahan rasa mual
di perutnya, Francis memandanginya sesaat dan mengeluarkan sesuatu dari saku
jasnya. Sebuah tabung kecil berisi cairan biru, dia menghampiri Megan dan
membuatnya minum dari tabung itu secara paksa. Francis meremas wajah Megan
tepat di bagian mulut sehingga bibirnya membentuk mulut gurita dan memasukkan
tabung itu ke dalam mulutnya, Megan berontak dengan memukuli, menampar, bahkan
menarik-narik rambutnya. Tabung itu jatuh ke lantai mobil, hanya sekitar
setetes sampai dua tetes yang tersisa di dalamnya. Megan terbatuk-batuk dan
diam sejenak, dia bangun sambil memegangi mulutnya yang mengeluarkan air liur
serta cairan biru. Kemudian dia memandangi telapak tangannya, air liur dan
cairan biru yang ada di telapak tangannya bercampur dan berubah warna menjadi
hijau kekuning-kuningan.
Megan: “Kau... berikan aku apa?”
Francis: “Hanya pertolongan pertama.”
Megan
tidak lagi merasakan mual di perutnya, wajahnya menjadi sedikit segar. Dia
kemudian mengambil saputangan dan membersihkan mulutnya yang belepotan, dia
kemudian mengambil tabung yang terjatuh.
Megan: “Apa ini?”
Francis: “Ygraverum.”
Kembali
ke tempat James, suara tawa terbahak-bahak meledak dari dalam sebuah ruangan.
James berguling-guling di lantai dan berputar-putar membentuk lingkaran, Uchida
hanya bisa memandanginya dengan tatapan jengkel dari matanya yang masih normal.
Pintu ruangan terbuka, Olivia masuk ke dalam ruangan dan melihat situasi di
dalam. Olivia hanya diam memandanginya, setelah itu dia dan Uchida saling
berpandangan kemudian melihat James lagi. Akhirnya dia berhenti berguling dan
berputar-putar, dia berdiri dengan lututnya sambil mencoba menarik nafas.
Berjalan ke tembok dengan lututnya dan bersandar di sana, kini melihat Olivia
dan Uchida yang masih berdiri memandanginya.
James: “Sudah berapa lama kau di sana?”
Olivia: “1 menit, 24 detik tepatnya. Saya
hendak menyusul nona Megan di tempat dia berada sekarang.”
James: “Oh, tentu, tentu. Apa ada yang
lain?”
Olivia: “Teman anda Eddie barusan datang
untuk menemui anda, tapi dia sudah pergi lagi.”
James: “Ah, benar. Dia memberikan
sesuatu?”
Olivia
mengeluarkan sebuah map dari balik apron dan melemparnya tepat di hadapan
James, dia mengambil map itu lalu membukanya dan melihat isinya sedikit.
James: “Kau boleh pergi.”
Olivia: “Terima kasih.”
James berdiri dan
meletakkan map itu di lemari tersembunyi yang ada di tembok, dia juga mengambil
seperangkat pakaian dan mulai melepaskan semua baju yang dia pakai. Kini dia
sudah berganti dengan celana pendek kuning dan t-shirt merah, sebuah topi
dengan lambang yang sama seperti di dada baju tempur Francis.
Uchida: “Kapan kau membuatnya?”
James
mulai mengenakan rompi kuning dengan saku dan lambang yang sama seperti topinya
di dada kirinya, sambil menjinjing sebuah tas yang cukup besar.
James: “Humpty Dumpty, apa sekarang kau
lapar?”
Uchida: “Sebenarnya tidak, tapi...”
James: “Ah benar juga kau tak punya
lambung.”
Uchida: (jengkel) “Kenapa tidak sekalian
saja semua isi perut kau sebutkan?”
James: “Bercanda, apa energimu cukup untuk
mengadakan perjalanan hari ini? Seluruh tubuhmu pastilah kekurangan tenaga
karena belum mengkonsumsi apa-apa sama sekali setelah kejadian itu.”
Uchida: “Sebenarnya setengah dari diriku
yang masih ada di kediamanmu, karena tubuhku masih perlu mengkonsumsi energi di
tempatmu. Aku sendiri masih bersama ‘kau-tahu-siapa’, tapi sekarang aku masih
bisa pergi denganmu tanpa harus mengisi energi walau tubuhku terpisah jauh
berkat fasilitas baru yang kau berikan.”
Uchida
sendiri sekarang berada di dalam sebuah Laboratorium kecil tetapi hanya
kepalanya saja di dalam sebuah tabung kaca, banyak kabel yang menancap di
belakang kepalanya. Di sekitarnya ada sekitar dua sampai lima layar komputer
yang saat ini dioperasikan oleh seseorang. Di hadapannya ada banyak kapsul,
salah satunya terbuka dan keluar sesuatu dari dalamnya.
Uchida: “Jadi ke mana kita akan pergi? Apa
kita perlu mengajaknya?”
James: “Sebelum itu, mana yang kau suka? Taco
atau Burito?”
No comments:
Post a Comment