Monday, May 30, 2016

Level 40



HASIL

            23 Oktober 2010, di markas rahasia dalam suatu dimensi. Sang pria pemilik tempat tersebut sekaligus dalang penyerangan Francis dan yang lain sedang melihat rekaman pertempuran terdahulu. Matanya bergerak ke sana kemari, memandangi layar-layar monitor di sekitarnya. Salah satu matanya terfokus pada satu layar monitor dengan pandangan yang terlihat kesal, namun seseorang menginterupsi dari belakang.

?: “Dari tadi bola matamu hanya melihat kejadian itu berulang kali, apa kau tidak bosan?”
??: “Diam! Ini adalah hal memalukan yang tidak seharusnya terjadi pada diriku!”
?: “Aku paham atas keadaanmu saat ini, Argos.”

            Di balik kursi ada sebuah bola mata yang mendadak muncul dan melihat seseorang di belakang, bola mata itu bergerak ke belakang mendekati wajah orang tersebut. Orang itu kemudian membuka kelopak matanya yang menunjukkan sebuah bola mata berwarna merah dengan motif segitiga terbalik di dalamnya, bola mata itu saling berpandangan. Bola mata milik Argos kemudian kembali ke balik kursi yang didudukinya, dia berbalik bersama kursinya. Kini wujud sebenarnya terlihat, dia berwujud manusia tapi memiliki banyak mata di sekujur tubuhnya. Mata itu sendiri bisa keluar dari dalam kelopaknya dan terpasang kabel dari dalamnya, masing-masing matanya melihat ke salah satu layar monitor. Dia memiliki sebuah mata yang sangat besar seperti mata kucing di kepalanya, pupilnya bisa menyempit dan melebar. Pemilik mata dengan segitiga merah itu sendiri adalah Arachnus, berdiri bersandar sambil mengangkat bagian depan topinya dengan jempol.

Argos: “Bagaimana kau bisa memahamiku sementara dirimu sendiri bukan dari Alterion?”
Arachnus: “Maksudku adalah ketika barang milikmu diambil oleh orang lain, dulu aku juga pernah mengalami hal yang sama.”
Argos: “Bicara tentang mengambil milik orang lain, Ulkamium di Norwegia saat itu... bukankah kau yang ambil?”
Arachnus: “Atas perintah Kolonel Mungo.”
Argos: “Berapa yang dia berikan untukmu?”
Arachnus: “Aku tak punya kewajiban untuk menjawab itu.”
Argos: “Aneh, jika dia menugaskanmu untuk mengambil Ulkamium dari tempat Drake, kenapa kau malah menyerahkannya pada TDG?”
Arachnus: “Aku hanya diperintahkan untuk mengambilnya, tapi aku tidak diberitahu harus diapakan setelahnya.”
Argos: “Lalu itu membuatmu berhak untuk membagikannya pada orang lain?”
Arachnus: “Sebenarnya itu sudah termasuk rencana.”
Argos: “Rencana?”
Arachnus: “Oleh salah satu tikus milik ‘Kaisar’”

            Seluruh mata milik Argos berkedip secara bersamaan, salah satu bola matanya mendekati wajah Arachnus.

Argos: “Maksudmu ‘dia’?”
Arachnus: “Entahlah, ah, benar. Kukembalikan ini padamu.”

            Arachnus menunjukkan sebuah kartu bergambar raja wajik di hadapan matanya yang terlihat sedikit memerah, kartu itu dibalik dan menunjukkan sesuatu yang bergerak mengeliat di dalamnya. Terlihat seekor Hack, hanya kepalanya saja.

Arachnus: “Ini masih berguna bagimu bukan?”

            Mata Argos sedikit bercahaya, kartu yang Arachnus pegang diserap dengan cahaya yang memancar dari matanya.

Argos: “Setidaknya kau berhasil menyelamatkan satu spesimen dan memberikanku data, sekarang pergilah. Bayaranmu ada di tempat biasanya, aku akan memanggilmu lagi jika diperlukan.”
Arachnus: “Aku ragu akan hal itu.”
Argos: “Kenapa?”
Arachnus: “Yang memerlukanku tidak hanya dirimu, bukan?”

            Arachnus keluar dari ruangan, tapi dia berpapasan dengan seseorang ketika hendak keluar.

Arachnus: “Oh, kau.”


            Di sebuah pusat perbelanjaan, di bagian pakaian. Francis terlihat sedang berdiri di depan sebuah etalase toko, berdiri sambil melipat tangannya dengan pakaian bodyguard. Beberapa orang yang melewatinya berbisik-bisik membicarakan dirinya, namun mereka langsung lari meninggalkan tempat saat dia melihat mereka dengan wajah menyeramkan. Secara mendadak, pipinya dicubit dari belakang. Yang mencubitnya adalah Megan, dia terlihat membawa barang belanjaan.

Megan: “Apa kau setidaknya bisa menunggu secara normal?”
Francis: “Sudah selesai?”
Megan: “Tidak, masih ada pakaian keluaran terbaru yang harus kubeli saat ini. (mendesah) Kenapa kau harus mengawalku? Olivia tidak bisa menemaniku karena dia masih mengurus masalah yang kalian perbuat di mansion, kau sebenarnya tidak begitu ingin melakukannya bukan?”
Francis: “Benar.”
Megan: “Kalau begitu kau bisa kembali, nanti aku akan pulang sendiri.”
Francis: “Baik.”

            Francis memasukkan tangannya ke balik jas yang dipakainya, mendadak Megan mencegahnya dengan memegang tangannya.

Francis: “Kau mau apa?”
Megan: “Justru aku yang harus bertanya begitu, kau mau memakainya di tengah keramaian?”
Francis: “Tentu saja itu perlu.”
Megan: “Tidak bisa, sudah cukup masalah yang kau perbuat. Aku tak mau terlibat lebih jauh lagi, jangan memakainya.”
Francis: “Apakah berbahaya?”
Megan: “Dilihat dari sudut manapun tentu saja berbahaya.”
Francis: “Lalu kenapa orang-orang itu bisa dengan santai melakukannya di tengah keramaian.”
Megan: “Itu karena... Tunggu, ‘orang-orang itu’?”

            Francis melihat pada pengunjung pusat perbelanjaan yang sedang duduk ataupun berdiri sedang menggunakan HP, dia melanjutkan mengambil barang yang hendak diambilnya dari dalam jas yaitu sebuah HP.

Francis: “Aku mau menghubungi James, dia menyuruhku untuk memakai ini jika kau mulai mengeluh.”
Megan: “A... ah... maaf, kupikir...”
Francis: “Apa?”
Megan: “Tidak, lupakan saja. Naiklah taksi, kuberi kau ongkos.”

            Francis memandangi Megan sejenak, dia kemudian meninggalkan tempat setelah diberi uang. Megan hanya melihat sampai dia menghilang dari kejauhan, sementara dia sendiri dipandangi oleh seseorang dalam sebuah kafe dengan secangkir kopi di atas meja.

Megan: “Baik, pergilah. Setidaknya aku bisa menikmati belanja...”

            Saat Megan berbalik dan hendak pergi, dia mendadak berhenti. Dia melihat tumpukan barang yang baru saja dia beli, wajahnya langsung ditutup dengan satu tangan.

Megan: “Aku lupa kalau harus ada yang membawakan barang.”

            Seseorang datang membawa troli dan memasukkan semua barang bawaan Megan ke dalamnya, Megan melihat pada orang tersebut. Ternyata Francis, dia mendorong troli sambil minum soda di gelas plastik.

Francis: “Kau masih bisa jalan?”


            Dalam sebuah ruangan yang gelap, berdiri seseorang mengenakan rompi, sebuah helm, dan Marscannon di tangan kanannya. Di dalam ruangan itu sendiri ada sesuatu selain dirinya, sesuatu yang kecil dan berjalan perlahan menuju ke arahnya dari empat sudut berbeda. Wujud dari sesuatu itu terlihat jelas, sebuah boneka pemecah kacang.

?: “Oh, manis sekali.”

            Salah satu membuka mulutnya dan menyemburkan api, orang itu langsung menghindar dan berguling ke kiri. Dia menembakkan senjatanya yang meniupkan angin kencang pada salah satunya, boneka itu langsung terpental dan menabrak tembok sampai hancur dengan bagian tubuh berceceran di lantai. Tiga boneka yang tersisa membuka mulut secara bersamaan, salah satunya mengeluarkan gatling gun dari kedua tangannya. Orang itu mulai berlari sambil ditembaki, dua boneka yang tersisa mengeluarkan semacam meriam dari dua tangannya. Mereka menembak secara bersahutan, tapi orang itu mulai kelelahan.

?: “Ini mulai menyebalkan, kenapa aku punya kaki?”

            Orang itu berlutut dan satu tangannya diletakkan di lantai, mendadak dia meluncur dengan cepat sambil menembak. Tapi tembakannya hanya mengenai tangan kanan salah satu dari mereka, orang itu langsung terjatuh.

?: “Auw! Ini terlalu cepat!”
Ketika mereka hendak menembak lagi, dia meloncat dan memanjat tembok dengan cara menjejakkan kaki di tembok kiri dan kanannya, dia lalu meloncat dan menembak bertubi-tubi tiga boneka di bawahnya. Semua badannya terpisah-pisah, orang itu mendarat di lantai dengan kedua kakinya dan jatuh terpeleset. Salah satu dari boneka itu menghampiri orang yang terbaring itu dan menembak kepalanya, pemandangan dalam ruangan mendadak berubah menjadi putih. Sebuah proyeksi hologram muncul di tengah-tengah ruangan, proyeksi itu menampilkan wajah Uchida.

?: “Baik, itu tidak keren.”
Uchida: “Tidak buruk untuk yang pertama.”
?: “Aku baru melakukan ini selama 5 menit dan sudah ditembak di kepala oleh Nutcracker? Sungguh tidak keren, setidaknya bisa buatkan musuh yang lebih kejam?”
Uchida: “Masih terlalu awal untukmu, Mr. Yorgins.”

            Orang itu membuka helmnya dan melepas peralatannya, ternyata dia adalah James. Dengan wajah merengut, dia berjalan ke tembok dan meletakkan telapak tangannya. Semacam pintu kecil mendadak terbuka di hadapannya, dia mengambil sesuatu dari dalam. Dari lantai muncul sebuah kursi, dia duduk sejenak sambil memandangi sebuah kaleng minuman bertuliskan ‘Coala Cola’ dengan gambar maskot kepala koala. Dia membuka kaleng dan langsung meneguk isinya sedikit, dengan wajah puas dia bersendawa cukup keras.

James: “Ah, segarnya. Sebenarnya aku lebih suka ‘Grizzly Soda’, tapi lebih baik daripada tidak ada minuman sama sekali.”
Uchida: “Untuk latihan berikutnya, tidak perlu pakai musuh. Aku sudah katakan padamu masih terlalu awal menggunakan target bergerak, ini bukan game first person shooter.”
James: “Kalau maksudmu memakai target yang diam saja seperti sasaran tembak di tempat latihan menembak, aku tidak mau. Coba telaah kembali kata-kata yang barusan kau ucapkan, apa latihan yang baru kujalani itu semacam ‘First Person Shooter’?”
Uchida: “Kuakui ini memang bukan video game, tapi aku suka kata itu. Tapi kalau memang begitu, seharusnya kau melatih mengontrol pergerakanmu sampai kau terbiasa terlebih dahulu.”
James: “Tidak mau.”
Uchida: “Hoi.”
James: “Lebih baik jika alat yang saat ini kau buat bisa membuatku sedikit menggerakkan bagian tubuhku.”
Uchida: “Setidaknya kau pernah olahraga bukan? Pergi ke gym atau semacamnya?”
James: “Kalau maksudmu untuk membangun otot, aku tidak terlalu suka. Aku lebih suka naik sepeda, skateboard, atau pakai sepatu roda.”
Uchida: “Aku paham, jadi kau mau bertempur dengan mengandalkan fleksibilitas, akurasi, dan kecepatan.”
James: “Sangat tepat sekali, karena aku sangat ahli di bagian di mana aku sangat ahli melakukannya.”
Uchida: “Seperti Counter Strike?”
James: “Oh, ayolah. Itu sudah ketinggalan jaman, aku sekarang lebih tertarik dengan permainan di dunia nyata. Baru-baru ini aku mulai menarik minat pada air softgun atau paintball, terima kasih berkat kejadian di pulau waktu itu.”
Uchida: “Maaf.”
James: “Kau tidak salah, tenang saja. Marscannon ini cukup berguna, aku sudah mempelajari sedikit mengenai fungsinya. Ketika pertama kali pemakaian, benda itu meminta data DNA pemakai yang pertama memakainya. Yang kedua, kemampuan senjata bebas dipilih oleh pemakai. Tapi aku tidak tahu sisanya, karena itulah aku meminta penjelasanmu. Mungkin saja ada efek samping tertentu jika aku sering memakainya, .”
Uchida: “Efek samping... kau benar, mengingat Alterion selalu menciptakan banyak senjata tanpa peduli apa resiko yang terjadi pada pemakainya. Hal seperti efek samping pada pengguna biasanya memang ada, karena itulah selalu disiapkan langkah pencegahan.”
James: “Sudah kuduga, kau juga tahu bukan jika Megan juga memakainya?”
Uchida: “Mengenai hal tersebut, aku sudah memeriksa Marscannon miliknya. Dari hasil penelitianku, Marscannon yang kalian pakai hanya menimbulkan sedikit gejala yang tak begitu berbahaya. Akan tetapi walaupun tidak berbahaya, jika mengalaminya cukup lama tidak akan mengenakkan.”
James: “Misalnya?”
Uchida: “Em, aku ragu untuk mengatakannya...”
James: “Kenapa? Bukankah kau bilang tak begitu berbahaya?”
Uchida: “Ya, memang... tapi...”
James: “Katakan saja.”
Uchida: “Baiklah, tapi apa kau bisa janji tidak akan tertawa?”
James: “Tergantung, jika kau mau melakukan stand up comedy di sini.”
Uchida: (diam sejenak) “Aku serius.”
James: “Baiklah, katakan.”
Uchida: “Marscannon tidak akan memberikan efek samping pada saat pemakaian pertama, namun jika kau memakainya terlalu lama lebih dari 3 jam...”


            Sementara itu di depan toilet wanita, Francis sedang berdiri sambil menekan-nekan tombol di handphonenya. Dia melihat-lihat fitur-fitur yang ada di dalamnya berulang kali, wanita-wanita yang hendak memakai toilet mengurungkan niat mereka masuk ke dalam begitu melihat Francis. Megan baru saja keluar dari dalam toilet dengan wajah pucat, melihat Francis yang masih asyik menekan tombol.

Megan: “Kalau kau berdiri di situ kau bisa dianggap orang mesum.”

            Megan melemparkan gulungan tisu toilet yang sudah habis ke kepala Francis, dia langsung berhenti menekan tombol.

Francis: “Mari kita pergi.”
Megan: “Tunggu! Harusnya aku yang bilang begitu!”
Francis: “Mobil jemputan sudah menunggu di pintu keluar, kau tinggal berjalan saja 30 langkah ke kiri.”
Megan: “Aku tak menyangka ditemani oleh orang semenyebalkan dirimu... ugh...”
Francis: “Kau masih bermasalah dengan saluran pencernaanmu?”
Megan: “Jangan ucapkan itu lagi... ugh...”

            Megan memasang wajah seperti akan muntah, Francis menghela nafas dan mendorong troli serta menggendong Megan di belakangnya.

Megan: “He... hei! Apa yang kau lakukan?!”

            Francis langsung berlari secepat kilat ke pintu keluar dan berhenti tepat di hadapan sebuah mobil sedan. Pintu belakang dibuka dan Megan diletakkan ke dalam, pintu ditutup dengan keras. Francis langsung membuka bagasi dan memasukkan semua barang-barang belanjaan Megan secara tidak beraturan, dia langsung berjalan ke bangku supir.

Francis: “Antarkan wanita ini kembali ke mansion.”
Megan: “Tunggu! Jangan seenaknya memutuskan! Aku masih punya urusan dengan... ugh...!”
Francis: “Jangan dengarkan perkataannya, jalan sekarang.”

            Francis memandangi sang supir dengan tatapan mata yang menyeramkan, sang supir mengangguk kemudian Francis langsung masuk. Supir tersebut langsung tancap gas, meninggalkan pusat perbelanjaan. Megan hanya bisa meringkuk menahan rasa mual di perutnya, Francis memandanginya sesaat dan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah tabung kecil berisi cairan biru, dia menghampiri Megan dan membuatnya minum dari tabung itu secara paksa. Francis meremas wajah Megan tepat di bagian mulut sehingga bibirnya membentuk mulut gurita dan memasukkan tabung itu ke dalam mulutnya, Megan berontak dengan memukuli, menampar, bahkan menarik-narik rambutnya. Tabung itu jatuh ke lantai mobil, hanya sekitar setetes sampai dua tetes yang tersisa di dalamnya. Megan terbatuk-batuk dan diam sejenak, dia bangun sambil memegangi mulutnya yang mengeluarkan air liur serta cairan biru. Kemudian dia memandangi telapak tangannya, air liur dan cairan biru yang ada di telapak tangannya bercampur dan berubah warna menjadi hijau kekuning-kuningan.

Megan: “Kau... berikan aku apa?”
Francis: “Hanya pertolongan pertama.”

            Megan tidak lagi merasakan mual di perutnya, wajahnya menjadi sedikit segar. Dia kemudian mengambil saputangan dan membersihkan mulutnya yang belepotan, dia kemudian mengambil tabung yang terjatuh.

Megan: “Apa ini?”
Francis: “Ygraverum.”


            Kembali ke tempat James, suara tawa terbahak-bahak meledak dari dalam sebuah ruangan. James berguling-guling di lantai dan berputar-putar membentuk lingkaran, Uchida hanya bisa memandanginya dengan tatapan jengkel dari matanya yang masih normal. Pintu ruangan terbuka, Olivia masuk ke dalam ruangan dan melihat situasi di dalam. Olivia hanya diam memandanginya, setelah itu dia dan Uchida saling berpandangan kemudian melihat James lagi. Akhirnya dia berhenti berguling dan berputar-putar, dia berdiri dengan lututnya sambil mencoba menarik nafas. Berjalan ke tembok dengan lututnya dan bersandar di sana, kini melihat Olivia dan Uchida yang masih berdiri memandanginya.

James: “Sudah berapa lama kau di sana?”
Olivia: “1 menit, 24 detik tepatnya. Saya hendak menyusul nona Megan di tempat dia berada sekarang.”
James: “Oh, tentu, tentu. Apa ada yang lain?”
Olivia: “Teman anda Eddie barusan datang untuk menemui anda, tapi dia sudah pergi lagi.”
James: “Ah, benar. Dia memberikan sesuatu?”

            Olivia mengeluarkan sebuah map dari balik apron dan melemparnya tepat di hadapan James, dia mengambil map itu lalu membukanya dan melihat isinya sedikit.

James: “Kau boleh pergi.”
Olivia: “Terima kasih.”

James berdiri dan meletakkan map itu di lemari tersembunyi yang ada di tembok, dia juga mengambil seperangkat pakaian dan mulai melepaskan semua baju yang dia pakai. Kini dia sudah berganti dengan celana pendek kuning dan t-shirt merah, sebuah topi dengan lambang yang sama seperti di dada baju tempur Francis.

Uchida: “Kapan kau membuatnya?”

            James mulai mengenakan rompi kuning dengan saku dan lambang yang sama seperti topinya di dada kirinya, sambil menjinjing sebuah tas yang cukup besar.

James: “Humpty Dumpty, apa sekarang kau lapar?”
Uchida: “Sebenarnya tidak, tapi...”
James: “Ah benar juga kau tak punya lambung.”
Uchida: (jengkel) “Kenapa tidak sekalian saja semua isi perut kau sebutkan?”
James: “Bercanda, apa energimu cukup untuk mengadakan perjalanan hari ini? Seluruh tubuhmu pastilah kekurangan tenaga karena belum mengkonsumsi apa-apa sama sekali setelah kejadian itu.”
Uchida: “Sebenarnya setengah dari diriku yang masih ada di kediamanmu, karena tubuhku masih perlu mengkonsumsi energi di tempatmu. Aku sendiri masih bersama ‘kau-tahu-siapa’, tapi sekarang aku masih bisa pergi denganmu tanpa harus mengisi energi walau tubuhku terpisah jauh berkat fasilitas baru yang kau berikan.”

            Uchida sendiri sekarang berada di dalam sebuah Laboratorium kecil tetapi hanya kepalanya saja di dalam sebuah tabung kaca, banyak kabel yang menancap di belakang kepalanya. Di sekitarnya ada sekitar dua sampai lima layar komputer yang saat ini dioperasikan oleh seseorang. Di hadapannya ada banyak kapsul, salah satunya terbuka dan keluar sesuatu dari dalamnya.

Uchida: “Jadi ke mana kita akan pergi? Apa kita perlu mengajaknya?”
James: “Sebelum itu, mana yang kau suka? Taco atau Burito?”