REKREASI
24 Oktober 2010,
11:00, Acapulco, banyak orang berpakaian renang yang sedang berjemur di pantai,
membuat patung dari pasir, berenang di laut, memancing, berselancar. James
sedang bersenang-senang dengan beberapa wanita di laut, mereka bermain air dan
saling kejar-mengejar. Di tepi pantai, Megan sedang berjemur di bawah sinar
matahari, Olivia sendiri memegangi payung untuk menutupi kepala Megan. Uchida
datang membawakan beberapa botol minuman, mereka mulai berbicara dengan bahasa
Jepang.
Uchida: [“Gomen, (maaf) kau menunggu
lama?”]
Megan: [“Tidak masalah, seharusnya aku
yang minta maaf.”]
Uchida: [“Untuk apa?”]
Megan: [“Membelikan minuman untuk kami.”]
Uchida: [“Kini shinai de, (jangan
dipikirkan) sudah tugas manusia untuk membantu satu sama lain. Sebenarnya aku
mau makan kakigori, (es serut) tapi sepertinya tidak ada yang jual di sini.”]
Megan: [“Kalau kau mau satu, Olivia bisa
membuatkannya untukmu.”]
Uchida: [“Honto ni?”] (Benarkah itu?)
Megan: “[Honto], (benar) bisakah kau
sediakan es batu-nya?”
Olivia: “Sedang dipersiapkan nona.”
Uchida
melihat Francis yang berkacamata hitam dari kejauhan, berdiri memandangi lautan
dengan hanya mengenakan celana renang merah dan bergaris kuning. Dia hendak
melakukan sesuatu dan mulai menggerakkan kedua tangannya, dia memegang bagian
kolor celananya. Tapi mendadak Roy datang memegangi tangan kiri Francis,
sedangkan Uchida memegangi tangan kanannya.
Roy: “Kau mau apa? Ini tempat umum.”
Uchida: “Kau tidak berpikir untuk membuang
cairan di sini kan?”
Francis: “Tidak boleh?”
Roy dan Uchida: “Tentu saja tidak!”
Beberapa
saat kemudian, Francis keluar dari dalam toilet pria. Uchida dan Roy telah
menunggu di depannya, Francis hanya diam menatap mereka.
Uchida: “Kau sudah mengeluarkan semua?
Francis: “Habis tak bersisa.”
Roy: “Kau sudah cuci tangan?”
Francis: “Haruskah?”
Uchida dan Roy: “Tentu saja harus!!”
Di
kejauhan, Megan mengamati mereka dengan sebuah teropong. Dia duduk sambil
mengelus Jaggy, Olivia sendiri sedang menyerut es.
Megan: “Apa yang si bodoh itu lakukan
sekarang?”
Olivia: “Nona Megan, silahkan.”
Megan: “Terima kasih.”
James: “Kau sedang apa?”
Megan: “Seperti yang kau lihat, makan es.”
James: “Yang benar saja, ini bukan
Jepang.”
Megan: “Memangnya salah? Yang namanya
kakigori tidak hanya ada di Jepang, Indonesia sendiri juga punya tapi
sebutannya beda.”
James: “Terserah kau saja.”
Francis: “Aku heran dengan kalian semua.”
James: “Oh, kau sudah selesai?”
Uchida: “Dia perlu diajari mengenai
masalah toilet mulai dari awal, dia bahkan tak tahu tempat dan cara pakainya.”
James: “Bisa kupahami, dia hanya tahu cara
buang air besar saja bukan?”
Megan
langsung memuntahkan es yang baru dia masukkan ke mulutnya, lidahnya menjulur
dan diusap-usap dengan tangannya.
Megan: “Sialan! James, aku sedang makan!”
Olivia: “Nona Megan, bahasa anda...”
James: “Oh, maaf.”
Roy: “James, kau harus mengurus masalah
kebersihan pegawaimu yang satu ini. Dia bisa saja buang air di kolam renang
atau lebih parah lagi di air mancur.”
Megan
yang mendengar semakin mual dan menahan mulutnya, Olivia langsung memberinya
pertolongan dengan mengusap-usap punggungnya.
James: “Ehm, kita bicarakan itu di tempat
lain saja. Francis, kau tunggu di sini saja.”
James
mendorong punggung Roy dan Uchida, mereka bertiga pergi meninggalkan tempat.
Francis duduk di sebelah Megan yang masih mual, dia memberinya sebuah tabung
berisi cairan biru. Megan langsung mengambil, membuka dan meminum cairan
tersebut sampai habis. Tabung itu dijatuhkan dalam keadaan kosong dan bersih,
Megan menengadah ke atas dan membuka mulutnya lebar-lebar.
Megan: “Aaaaah!!!”
Olivia: “Nona Megan!”
Megan: “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja.
Terima kasih, Francis.”
Francis: (mengangguk) “Hm.”
Megan
mengambil sepiring es serut yang sudah disediakan Olivia, dia mengambil sebotol
sirup dan menuangkannya di atas es. Megan meletakkannya di sebelah Francis,
tapi dia hanya diam saja melihat lautan.
Megan: “Apa ini pertama kalinya kau
melihat laut?”
Francis: “Tidak, aku sudah sering
melihatnya di duniaku. Tapi warnanya tidak seperti ini, begitu juga dengan
langitnya.”
Megan: “Aku bisa tebak pasti sangat
buruk.”
Francis: “Kau boleh anggap begitu, semua
sumber air yang ada di duniaku warnanya selalu sama.”
Megan: “Sebenarnya... apa yang membuatmu
heran?”
Francis: “Macam-macam.”
Megan: “Ini bukan masalah... toilet
barusan bukan?”
Francis: “Tentu saja tidak, aku sudah bisa
memakai toilet sebelum dibawa ke Amerika. Bahkan cara membersihkannya, walau
sedikit beda dengan cara yang biasa kulakukan.”
Megan: “Mungkin aku tak perlu
mendengarnya.”
Francis: “Aku hanya heran karena bisa
melihat mereka yang ada di sini terlihat senang, lalu... pakaian yang kalian
kenakan...”
Francis
melihat Olivia dan Megan yang memakai pakaian renang model bikini, mulai dari
ujung kaki sampai kepala. Olivia mengenakan bikini two piece merah dengan tali,
sedangkan Megan memakai two piece pink dengan renda. Megan tersenyum nakal,
seolah-olah hendak berusaha merayunya.
Megan: “Kenapa... apa kau tertarik?”
Francis
tidak berekspresi sama sekali ketika Megan mencoba menggodanya dengan mencoba
memperlihatkan tubuhnya yang sensual, Olivia memandang mereka satu sama lain.
Francis: “Aku hanya penasaran, untuk apa
kau memakai ‘itu’?”
Megan
yang kemudian kesal, melempar handuk ke wajah Francis dan beranjak pergi. Francis
mengambil sepiring es serut yang tadi disuguhkan Megan, dia menyerahkan handuk
yang dilempar Megan pada Olivia.
Olivia: “Karena kau dari masa depan, kau
pasti tidak tahu mengenai baju renang.”
Francis: “Terima kasih, aku memang tidak
banyak mengetahui hal-hal di zaman ini.”
Olivia: “Baju renang ada bermacam-macam,
salah satunya adalah celana yang kau kenakan. Kami biasa memakainya saat berada
di dalam air tanpa takut basah, jika ini pakaian biasa pasti akan menyerap
banyak air dan menambah beban sehingga tenggelam. Tidak ada baju renang di masa
depan?”
Francis: “Tidak, kalau yang kau maksud
barusan mungkin adalah baju selam di masaku. Kami biasa menyelam dengan pakaian
yang kurang lebih sama kegunaannya seperti yang kau maksud, hanya saja tidak
memperlihatkan bagian tubuh.”
Olivia: “Ahahaha, kebanyakan baju untuk
menyelam memang seperti itu. Tapi mereka tidak menggunakan yang semacam ini
untuk menyelam, hanya untuk berenang dan bermain-main dengan air.”
Francis: (mengunyah es) “Es ini manis.”
Olivia: “Karena aku menambahkan sirup di
atasnya.”
Sambil
makan es, Francis melihat orang-orang yang berenang di laut. Baik anak kecil
sampai orang dewasa, dia juga melihat beberapa orang bermain pasir dan berjemur
di bawah sinar matahari.
Francis: “Kalau memang benar pakaian
tersebut diciptakan untuk hal semacam itu, kenapa mereka semua tidak masuk ke
air?”
James: “Karena tidak semuanya bisa
berenang.”
James
baru saja kembali dengan diikuti dua orang gadis, mereka berdua berbicara
bahasa Spanyol.
Gadis 1: “(James, mereka temanmu?)”
James: “Si, amigo.” (Ya, teman.)
Gadis 2: (Mana adikmu? Padahal aku ingin
minta tanda tangannya.)
James: “(Mungkin dia sedang berenang di
sekitar sini.)”
Olivia: “Nona Megan saat ini berada
sekitar satu setengah kilometer dari pantai ini.”
Olivia
melihat laut dari jauh dengan teropong, pandangan James dan Francis tertuju ke
arah laut. Megan sedang berbaring di atas sebuah kasur pelampung, James
mengamatinya dari teropong yang barusan dipakai Olivia.
James: “Dia tak sadar kalau sudah terseret
arus.”
Olivia: “Saya akan menyusulnya.”
James: “Berhati-hatilah, ombaknya agak
besar.”
Olivia
pergi meninggalkan tempat, Francis masih sibuk makan es serut. Kedua gadis yang
dibawa James mulai mengarahkan perhatian mereka pada Francis,
Gadis 2: “(James, perkenalkan kami pada
temanmu ini.)”
Gadis 1: “(Badannya cukup seksi, siapa
namamu?)”
Francis: “......”
James: “(Nona-nona, dia tidak bisa
berbahasa Spanyol.)”
Gadis 1: “(Benarkah? Sayang sekali.)”
James: “(Aku masih di sini, kalian tak
usah khawatir.)”
Gadis 2: “(Walau tidak bisa mengerti
bahasa kita, tapi dia pasti mengerti ini.)”
Sang
gadis berdiri di hadapan Francis, dia membungkuk seolah-olah sengaja
memperlihatkan bagian tubuhnya. Tapi Francis tidak memandangnya sama sekali dan
masih makan dengan lahapnya, sang gadis tidak menyerah begitu saja. Dia duduk
di depannya dan memperlihatkan sebelah pundaknya dengan melepas tali baju
renangnya di bagian pundak, namun Francis malah memasukkan sesendok es serut ke
mulut sang gadis dan beranjak pergi. James dan para gadis hanya terdiam melihat
kelakuan Francis, sang gadis memakai kembali baju renangnya dengan benar dan
mengeluarkan sendok dari mulutnya sambil menjilat-jilat bibirnya.
Gadis 1: “(Dingin sekali dia.)”
Gadis 2: “(Apa dia tak punya banyak
teman?)”
James: “(Dia hanya... orang yang suka
menyendiri.)”
Di
daerah pegunungan Mexico, di bawah tanah yang cukup dalam ada sesuatu sedang
menggali terowongan yang cukup besar. Di dalamnya ada beberapa absorber, yang
sedang membawa Ulkamium dengan kereta dorong. Mendadak air keluar dari tanah
yang sedang digali, membanjiri terowongan tersebut. Air itu kemudian menyembur
ke permukaan dan mengeluarkan beberapa absorber, penggali misterius itu juga
ikut disemburkan keluar dan terjatuh di atas tanah.
?: “(Saudaraku! Apa yang kau lakukan?!)”
Penggali
misterius itu berdiri, wujudnya tidak seperti manusia. Dia memiliki sepasang
tanduk panjang seperti kambing, sepasang mata seperti kucing namun terpisah
jauh seperti ikan. Memiliki tiga buah mulut dengan berbagai ukuran dan banyak
taring yang tajam, masing-masing mulut terletak di tempat berbeda, mulut yang
kecil di kepalanya, mulut berukuran besar kedua di dada dan yang terakhir
paling besar di perutnya. Badannya gemuk, kerdil dengan duri-duri yang berada
di pinggang sampai pahanya, ia memakai seragam tanpa lengan baju. Saudaranya
menghampirinya sambil membawa sebuah batang pohon yang besar, dia juga
berseragam. Kepalanya seperti ikan hiu dan juga memiliki mulut lebar serta gigi
yang tajam, sebuah cula di dahinya dan sirip di belakang punggungnya, ukuran
mereka berdua cukup besar seperti beruang.
??: “(Maaf, kakak. Rasanya aku menemukan
sumber air lagi.)”
?: “(Cabron, aku sudah bilang padamu untuk
mengikuti petunjuk yang ada di peta. Sekarang aku harus menutupnya lagi untuk
ke sepuluh kalinya, pekerjaan ini takkan pernah selesai sampai tenggat waktu
yang ditentukan.)”
??: “(Kenapa tidak dibiarkan saja? Lebih
baik jika ada kolam renang di sini.)”
Sang
kakak menghantamkan batang pohon yang dia bawa ke ubun-ubun sang adik, batang
pohon itu langsung hancur karena kepalanya yang keras.
?: “(Memangnya kita punya waktu untuk
bersantai?)”
??: “(Auh!! Meskipun aku punya badan
seperti ini tetap saja rasanya sakit!)”
???: “(Apa yang kalian lakukan?)”
Ketika
mereka berdua mendengar suara entah dari mana, sesuatu turun dari atas dan
mendarat tepat di hadapan mereka berdua. Mereka adalah Ramon dengan dua
Bruites, dua bersaudara itu langsung memberi hormat khas dengan memukul dada
sebelah kiri dengan tangan kanan lalu menyilangkan kedua tangan di dada mereka.
Ramon: “(Salam, Braz dan Montez.)”
Braz & Montez: “(Salam, Kolonel.)”
Ramon
menengadahkan kepala ke atas, berdiam diri membiarkan dirinya dibasahi oleh air
yang menyembur dari tanah.
Buitres: “(Apa yang kalian lakukan? Segera
hentikan semburan air ini!)”
Braz & Montez: “(Si-siap! Segera
dilaksanakan!)”
Mereka
berdua langsung berlari dan terjun ke dalam lubang tempat air menyembur,
semburan air itu berhenti beberapa menit kemudian. Braz si wajah hiu keluar
menyeret adiknya Montez, mereka keluar dari dalam lubang dalam keadaan basah
kuyup. Perut Montez terlihat agak membesar, dia dibaringkan di tanah dan
kemudian perutnya dipukul oleh Braz. Gumpalan lumpur keluar dari mulut di
perutnya dalam jumlah besar dan mengenai Braz, kini seluruh tubuhnya dilumuri
lumpur. Montez terbatuk-batuk di mulutnya yang ada di dada, dari dalamnya
keluar kerikil-kerikil kecil. Para Buitres melindungi diri dari kerikil dengan
menggunakan sayap mereka, Ramon sendiri juga dilindungi oleh mereka.
Braz: “(Sudah kubilang, jangan pakai
perutmu untuk menelan air.)”
Montez: “Ohok! Ohok!”
Braz: “(Kau cukup menggunakan perutmu
untuk menutupi kebocoran dengan tanah, air bukanlah keahlianmu.)”
Montez: “(Maaf.)”
Montez
melihat sekitar satu sampai tiga ekor cacing menempel di tubuh Braz, dia
mengambil cacing itu dan memasukkannya ke dalam perut di mulutnya. Mulut itu
mengunyah-ngunyah cacing dan menelannya, mulut kedua memuntahkan cacing-cacing
itu ke tangan Montez dalam keadaan bersih tanpa berlumuran tanah. Dia kemudian
memasukkan lagi cacing-cacing itu ke mulutnya yang ada di kepala, memakannya
satu persatu dan dikunyah-kunyah. Montez terlihat menikmati, sementara Braz dan
yang lain hanya melihatnya jijik.
Braz: “(Abaikan dia.)”
Ramon: “(Sedikit lagi... sudah sejauh mana
pembuatan terowongan ini berjalan?)”
Braz: “(Kami hanya tinggal menggali
sekitar 10 km ke arah kota, sampai sejauh ini belum ada halangan.)”
Ramon: “(Sayangnya aku mau memberitahu
kalian bahwa mungkin akan ada halangan.)”
Braz: “(Ada masalah dengan pembangunan
gedungnya?)”
Ramon: “(Tidak, semuanya lancar. Tapi kau
tahu bukan bahwa di bawah kita ada Ulkamium yang berapa besar kadarnya belum
diketahui?)”
Braz: “(Maksudmu tentang Norwegia? Aku
sudah dengar itu, tambang ini masih dalam tahap pembangunan jadi aku meragukan
jika mereka akan langsung ke sini.)”
Braz
mengambil sebuah alat dari dalam tas pinggangnya, alat seperti semacam
detektor. Dari alat itu terdapat layar yang menunjukkan kondisi tanah di bawah
mereka, kedalamannya serta peta terowongan yang mereka buat. Braz, Montez dan
Ramon ditandai dengan lambang panah, di kedalaman 3000 kaki terlihat semacam
bercak-bercak berwarna hijau.
Braz: “(Ini adalah terowongan yang sudah
kami gali tepat di bawah kumpulan Ulkamium yang sedang kami tambang, yang ini
adalah terowongan yang sedang kami bangun dan mengarah ke gedung yang sedang
dalam pembangunan.)”
Ramon: “(Gedung itu akan selesai nanti
sore, ‘Arsitek’ saat ini sedang memesan satu sentuhan terakhir. Kami hanya
tinggal memasangnya saat pesanan itu sudah tiba, sementara kalian sendiri masih
sibuk menyelesaikan pekerjaan kalian.)”
Montez
bersendawa keras setelah makan cacing, Braz menoleh ke belakang dan melihat
dengan kesal. Dia memasukkan alat detektornya kembali ke dalam tas pinggang, dia
menghampiri Montez dan menarik kakinya.
Braz: “(Kau ingin cepat?! Berikan kami 3
unit absorber lagi dan kami bisa jamin pekerjaan ini akan selesai sebelum
kalian meletakkan ‘sentuhan terakhir’!)”
Ramon: “(Memang itu yang kuharapkan,
jangan biarkan apapun menghalangi kalian.)”
Ramon
dan para Buitres terbang meninggalkan mereka berdua, Braz dan Montez masuk ke
dalam lubang. Mereka kini berhadapan di sebuah pintu, pintu itu terbuka dan di
dalamnya ada semacam pangkalan kecil yang masih dibuat.
Braz: “(Peralatan komunikasinya masih
belum selesai juga?!)”
?: “Mohon maaf tuan, tapi bicaralah dengan
Bahasa Inggris. Aku sama sekali tidak paham ucapan anda.”
Braz: “Percepat pembuatan alat teleportasi
dan komunikasi sekarang juga, jika kau masih ingin dibayar. (Saudaraku,
lanjutkan menggali ke timur.)”
Montez: “(Lepaskan dulu kakiku, kakak.)”
Braz: “Dan jangan mencoba mengambil
sebutir pun Ulkamium yang kami tambang saat ini, kau tahu resikonya.”
Braz
keluar dari ruangan bersama dengan Montez, sang mekanik yang sedang memperbaiki
sebuah alat di bawah kolong keluar dari dalam. Dia lalu mencoba peralatan yang
baru dia perbaiki, layar monitor berukuran kecil muncul di depannya. Dari
monitor muncul gambar sebuah mulut, mulut itu bergerak dan mengeluarkan suara
wanita.
?: “Sturgess, apa kau sudah bertemu
dengannya?”
Ternyata sang
mekanik itu adalah Stigmavius, dengan baju besinya tapi tidak memakai sayap.
Sturgess: (kesal) “Jangan panggil aku
Sturgess.”
?: “Tapi itu memang nama aslimu bukan?”
Sturgess: “Memang, tapi nama itu sudah
dikenal banyak orang. Aku tak mau identitasku ketahuan.”
?: “Hei, aku tahu kau itu hanya pria kecil
yang bekerja sebagai pengais besi rongsokan. Memangnya ada yang peduli kau itu
sebenarnya siapa? Kalau bukan karena ayahku, kau pasti sudah tidak bisa makan.”
Sturgess: (kesal) “Ya, aku akui Profesor
Uchida yang telah menyelamatkanku. Tapi mari kita tinggalkan dulu masalah itu,
alat yang kau minta sedang dalam perjalanan ke sini.”
?: “Itu hanya kabar baiknya, seharusnya
ada kabar buruk menyertai.”
Sturgess: “Memang ada, kukirimkan
gambarnya padamu.”
Sebuah
gambar denah muncul di layar tempat sang pemilik suara, dia memperbesar salah
satu bagian ruangan dalam denah. Dalam ruangan itu tertulis ‘Diablo’, ekspresi
di mulutnya berubah menjadi senyuman yang membentuk lesung pipit.
?: “Akhirnya ketemu.”