Sunday, June 4, 2017

Level 42



REKREASI

24 Oktober 2010, 11:00, Acapulco, banyak orang berpakaian renang yang sedang berjemur di pantai, membuat patung dari pasir, berenang di laut, memancing, berselancar. James sedang bersenang-senang dengan beberapa wanita di laut, mereka bermain air dan saling kejar-mengejar. Di tepi pantai, Megan sedang berjemur di bawah sinar matahari, Olivia sendiri memegangi payung untuk menutupi kepala Megan. Uchida datang membawakan beberapa botol minuman, mereka mulai berbicara dengan bahasa Jepang.

Uchida: [“Gomen, (maaf) kau menunggu lama?”]
Megan: [“Tidak masalah, seharusnya aku yang minta maaf.”]
Uchida: [“Untuk apa?”]
Megan: [“Membelikan minuman untuk kami.”]
Uchida: [“Kini shinai de, (jangan dipikirkan) sudah tugas manusia untuk membantu satu sama lain. Sebenarnya aku mau makan kakigori, (es serut) tapi sepertinya tidak ada yang jual di sini.”]
Megan: [“Kalau kau mau satu, Olivia bisa membuatkannya untukmu.”]
Uchida: [“Honto ni?”] (Benarkah itu?)
Megan: “[Honto], (benar) bisakah kau sediakan es batu-nya?”
Olivia: “Sedang dipersiapkan nona.”

            Uchida melihat Francis yang berkacamata hitam dari kejauhan, berdiri memandangi lautan dengan hanya mengenakan celana renang merah dan bergaris kuning. Dia hendak melakukan sesuatu dan mulai menggerakkan kedua tangannya, dia memegang bagian kolor celananya. Tapi mendadak Roy datang memegangi tangan kiri Francis, sedangkan Uchida memegangi tangan kanannya.

Roy: “Kau mau apa? Ini tempat umum.”
Uchida: “Kau tidak berpikir untuk membuang cairan di sini kan?”
Francis: “Tidak boleh?”
Roy dan Uchida: “Tentu saja tidak!”


            Beberapa saat kemudian, Francis keluar dari dalam toilet pria. Uchida dan Roy telah menunggu di depannya, Francis hanya diam menatap mereka.

Uchida: “Kau sudah mengeluarkan semua?
Francis: “Habis tak bersisa.”
Roy: “Kau sudah cuci tangan?”
Francis: “Haruskah?”
Uchida dan Roy: “Tentu saja harus!!”

            Di kejauhan, Megan mengamati mereka dengan sebuah teropong. Dia duduk sambil mengelus Jaggy, Olivia sendiri sedang menyerut es.

Megan: “Apa yang si bodoh itu lakukan sekarang?”
Olivia: “Nona Megan, silahkan.”
Megan: “Terima kasih.”
James: “Kau sedang apa?”
Megan: “Seperti yang kau lihat, makan es.”
James: “Yang benar saja, ini bukan Jepang.”
Megan: “Memangnya salah? Yang namanya kakigori tidak hanya ada di Jepang, Indonesia sendiri juga punya tapi sebutannya beda.”
James: “Terserah kau saja.”
Francis: “Aku heran dengan kalian semua.”
James: “Oh, kau sudah selesai?”
Uchida: “Dia perlu diajari mengenai masalah toilet mulai dari awal, dia bahkan tak tahu tempat dan cara pakainya.”
James: “Bisa kupahami, dia hanya tahu cara buang air besar saja bukan?”

            Megan langsung memuntahkan es yang baru dia masukkan ke mulutnya, lidahnya menjulur dan diusap-usap dengan tangannya.

Megan: “Sialan! James, aku sedang makan!”
Olivia: “Nona Megan, bahasa anda...”
James: “Oh, maaf.”
Roy: “James, kau harus mengurus masalah kebersihan pegawaimu yang satu ini. Dia bisa saja buang air di kolam renang atau lebih parah lagi di air mancur.”

            Megan yang mendengar semakin mual dan menahan mulutnya, Olivia langsung memberinya pertolongan dengan mengusap-usap punggungnya.

James: “Ehm, kita bicarakan itu di tempat lain saja. Francis, kau tunggu di sini saja.”

            James mendorong punggung Roy dan Uchida, mereka bertiga pergi meninggalkan tempat. Francis duduk di sebelah Megan yang masih mual, dia memberinya sebuah tabung berisi cairan biru. Megan langsung mengambil, membuka dan meminum cairan tersebut sampai habis. Tabung itu dijatuhkan dalam keadaan kosong dan bersih, Megan menengadah ke atas dan membuka mulutnya lebar-lebar.

Megan: “Aaaaah!!!”
Olivia: “Nona Megan!”
Megan: “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Terima kasih, Francis.”
Francis: (mengangguk) “Hm.”

            Megan mengambil sepiring es serut yang sudah disediakan Olivia, dia mengambil sebotol sirup dan menuangkannya di atas es. Megan meletakkannya di sebelah Francis, tapi dia hanya diam saja melihat lautan.

Megan: “Apa ini pertama kalinya kau melihat laut?”
Francis: “Tidak, aku sudah sering melihatnya di duniaku. Tapi warnanya tidak seperti ini, begitu juga dengan langitnya.”
Megan: “Aku bisa tebak pasti sangat buruk.”
Francis: “Kau boleh anggap begitu, semua sumber air yang ada di duniaku warnanya selalu sama.”
Megan: “Sebenarnya... apa yang membuatmu heran?”
Francis: “Macam-macam.”
Megan: “Ini bukan masalah... toilet barusan bukan?”
Francis: “Tentu saja tidak, aku sudah bisa memakai toilet sebelum dibawa ke Amerika. Bahkan cara membersihkannya, walau sedikit beda dengan cara yang biasa kulakukan.”
Megan: “Mungkin aku tak perlu mendengarnya.”
Francis: “Aku hanya heran karena bisa melihat mereka yang ada di sini terlihat senang, lalu... pakaian yang kalian kenakan...”

            Francis melihat Olivia dan Megan yang memakai pakaian renang model bikini, mulai dari ujung kaki sampai kepala. Olivia mengenakan bikini two piece merah dengan tali, sedangkan Megan memakai two piece pink dengan renda. Megan tersenyum nakal, seolah-olah hendak berusaha merayunya.

Megan: “Kenapa... apa kau tertarik?”

            Francis tidak berekspresi sama sekali ketika Megan mencoba menggodanya dengan mencoba memperlihatkan tubuhnya yang sensual, Olivia memandang mereka satu sama lain.

Francis: “Aku hanya penasaran, untuk apa kau memakai ‘itu’?”

            Megan yang kemudian kesal, melempar handuk ke wajah Francis dan beranjak pergi. Francis mengambil sepiring es serut yang tadi disuguhkan Megan, dia menyerahkan handuk yang dilempar Megan pada Olivia.

Olivia: “Karena kau dari masa depan, kau pasti tidak tahu mengenai baju renang.”
Francis: “Terima kasih, aku memang tidak banyak mengetahui hal-hal di zaman ini.”
Olivia: “Baju renang ada bermacam-macam, salah satunya adalah celana yang kau kenakan. Kami biasa memakainya saat berada di dalam air tanpa takut basah, jika ini pakaian biasa pasti akan menyerap banyak air dan menambah beban sehingga tenggelam. Tidak ada baju renang di masa depan?”
Francis: “Tidak, kalau yang kau maksud barusan mungkin adalah baju selam di masaku. Kami biasa menyelam dengan pakaian yang kurang lebih sama kegunaannya seperti yang kau maksud, hanya saja tidak memperlihatkan bagian tubuh.”
Olivia: “Ahahaha, kebanyakan baju untuk menyelam memang seperti itu. Tapi mereka tidak menggunakan yang semacam ini untuk menyelam, hanya untuk berenang dan bermain-main dengan air.”
Francis: (mengunyah es) “Es ini manis.”
Olivia: “Karena aku menambahkan sirup di atasnya.”

            Sambil makan es, Francis melihat orang-orang yang berenang di laut. Baik anak kecil sampai orang dewasa, dia juga melihat beberapa orang bermain pasir dan berjemur di bawah sinar matahari.

Francis: “Kalau memang benar pakaian tersebut diciptakan untuk hal semacam itu, kenapa mereka semua tidak masuk ke air?”
James: “Karena tidak semuanya bisa berenang.”

            James baru saja kembali dengan diikuti dua orang gadis, mereka berdua berbicara bahasa Spanyol.

Gadis 1: “(James, mereka temanmu?)”
James: “Si, amigo.” (Ya, teman.)
Gadis 2: (Mana adikmu? Padahal aku ingin minta tanda tangannya.)
James: “(Mungkin dia sedang berenang di sekitar sini.)”
Olivia: “Nona Megan saat ini berada sekitar satu setengah kilometer dari pantai ini.”

            Olivia melihat laut dari jauh dengan teropong, pandangan James dan Francis tertuju ke arah laut. Megan sedang berbaring di atas sebuah kasur pelampung, James mengamatinya dari teropong yang barusan dipakai Olivia.

James: “Dia tak sadar kalau sudah terseret arus.”
Olivia: “Saya akan menyusulnya.”
James: “Berhati-hatilah, ombaknya agak besar.”

            Olivia pergi meninggalkan tempat, Francis masih sibuk makan es serut. Kedua gadis yang dibawa James mulai mengarahkan perhatian mereka pada Francis,

Gadis 2: “(James, perkenalkan kami pada temanmu ini.)”
Gadis 1: “(Badannya cukup seksi, siapa namamu?)”
Francis: “......”
James: “(Nona-nona, dia tidak bisa berbahasa Spanyol.)”
Gadis 1: “(Benarkah? Sayang sekali.)”
James: “(Aku masih di sini, kalian tak usah khawatir.)”
Gadis 2: “(Walau tidak bisa mengerti bahasa kita, tapi dia pasti mengerti ini.)”

            Sang gadis berdiri di hadapan Francis, dia membungkuk seolah-olah sengaja memperlihatkan bagian tubuhnya. Tapi Francis tidak memandangnya sama sekali dan masih makan dengan lahapnya, sang gadis tidak menyerah begitu saja. Dia duduk di depannya dan memperlihatkan sebelah pundaknya dengan melepas tali baju renangnya di bagian pundak, namun Francis malah memasukkan sesendok es serut ke mulut sang gadis dan beranjak pergi. James dan para gadis hanya terdiam melihat kelakuan Francis, sang gadis memakai kembali baju renangnya dengan benar dan mengeluarkan sendok dari mulutnya sambil menjilat-jilat bibirnya.

Gadis 1: “(Dingin sekali dia.)”
Gadis 2: “(Apa dia tak punya banyak teman?)”
James: “(Dia hanya... orang yang suka menyendiri.)”


            Di daerah pegunungan Mexico, di bawah tanah yang cukup dalam ada sesuatu sedang menggali terowongan yang cukup besar. Di dalamnya ada beberapa absorber, yang sedang membawa Ulkamium dengan kereta dorong. Mendadak air keluar dari tanah yang sedang digali, membanjiri terowongan tersebut. Air itu kemudian menyembur ke permukaan dan mengeluarkan beberapa absorber, penggali misterius itu juga ikut disemburkan keluar dan terjatuh di atas tanah.

?: “(Saudaraku! Apa yang kau lakukan?!)”

            Penggali misterius itu berdiri, wujudnya tidak seperti manusia. Dia memiliki sepasang tanduk panjang seperti kambing, sepasang mata seperti kucing namun terpisah jauh seperti ikan. Memiliki tiga buah mulut dengan berbagai ukuran dan banyak taring yang tajam, masing-masing mulut terletak di tempat berbeda, mulut yang kecil di kepalanya, mulut berukuran besar kedua di dada dan yang terakhir paling besar di perutnya. Badannya gemuk, kerdil dengan duri-duri yang berada di pinggang sampai pahanya, ia memakai seragam tanpa lengan baju. Saudaranya menghampirinya sambil membawa sebuah batang pohon yang besar, dia juga berseragam. Kepalanya seperti ikan hiu dan juga memiliki mulut lebar serta gigi yang tajam, sebuah cula di dahinya dan sirip di belakang punggungnya, ukuran mereka berdua cukup besar seperti beruang.

??: “(Maaf, kakak. Rasanya aku menemukan sumber air lagi.)”
?: “(Cabron, aku sudah bilang padamu untuk mengikuti petunjuk yang ada di peta. Sekarang aku harus menutupnya lagi untuk ke sepuluh kalinya, pekerjaan ini takkan pernah selesai sampai tenggat waktu yang ditentukan.)”
??: “(Kenapa tidak dibiarkan saja? Lebih baik jika ada kolam renang di sini.)”

            Sang kakak menghantamkan batang pohon yang dia bawa ke ubun-ubun sang adik, batang pohon itu langsung hancur karena kepalanya yang keras.

?: “(Memangnya kita punya waktu untuk bersantai?)”
??: “(Auh!! Meskipun aku punya badan seperti ini tetap saja rasanya sakit!)”
???: “(Apa yang kalian lakukan?)”

            Ketika mereka berdua mendengar suara entah dari mana, sesuatu turun dari atas dan mendarat tepat di hadapan mereka berdua. Mereka adalah Ramon dengan dua Bruites, dua bersaudara itu langsung memberi hormat khas dengan memukul dada sebelah kiri dengan tangan kanan lalu menyilangkan kedua tangan di dada mereka.

Ramon: “(Salam, Braz dan Montez.)”
Braz & Montez: “(Salam, Kolonel.)”

            Ramon menengadahkan kepala ke atas, berdiam diri membiarkan dirinya dibasahi oleh air yang menyembur dari tanah.

Buitres: “(Apa yang kalian lakukan? Segera hentikan semburan air ini!)”
Braz & Montez: “(Si-siap! Segera dilaksanakan!)”

            Mereka berdua langsung berlari dan terjun ke dalam lubang tempat air menyembur, semburan air itu berhenti beberapa menit kemudian. Braz si wajah hiu keluar menyeret adiknya Montez, mereka keluar dari dalam lubang dalam keadaan basah kuyup. Perut Montez terlihat agak membesar, dia dibaringkan di tanah dan kemudian perutnya dipukul oleh Braz. Gumpalan lumpur keluar dari mulut di perutnya dalam jumlah besar dan mengenai Braz, kini seluruh tubuhnya dilumuri lumpur. Montez terbatuk-batuk di mulutnya yang ada di dada, dari dalamnya keluar kerikil-kerikil kecil. Para Buitres melindungi diri dari kerikil dengan menggunakan sayap mereka, Ramon sendiri juga dilindungi oleh mereka.

Braz: “(Sudah kubilang, jangan pakai perutmu untuk menelan air.)”
Montez: “Ohok! Ohok!”
Braz: “(Kau cukup menggunakan perutmu untuk menutupi kebocoran dengan tanah, air bukanlah keahlianmu.)”
Montez: “(Maaf.)”

            Montez melihat sekitar satu sampai tiga ekor cacing menempel di tubuh Braz, dia mengambil cacing itu dan memasukkannya ke dalam perut di mulutnya. Mulut itu mengunyah-ngunyah cacing dan menelannya, mulut kedua memuntahkan cacing-cacing itu ke tangan Montez dalam keadaan bersih tanpa berlumuran tanah. Dia kemudian memasukkan lagi cacing-cacing itu ke mulutnya yang ada di kepala, memakannya satu persatu dan dikunyah-kunyah. Montez terlihat menikmati, sementara Braz dan yang lain hanya melihatnya jijik.

Braz: “(Abaikan dia.)”
Ramon: “(Sedikit lagi... sudah sejauh mana pembuatan terowongan ini berjalan?)”
Braz: “(Kami hanya tinggal menggali sekitar 10 km ke arah kota, sampai sejauh ini belum ada halangan.)”
Ramon: “(Sayangnya aku mau memberitahu kalian bahwa mungkin akan ada halangan.)”
Braz: “(Ada masalah dengan pembangunan gedungnya?)”
Ramon: “(Tidak, semuanya lancar. Tapi kau tahu bukan bahwa di bawah kita ada Ulkamium yang berapa besar kadarnya belum diketahui?)”
Braz: “(Maksudmu tentang Norwegia? Aku sudah dengar itu, tambang ini masih dalam tahap pembangunan jadi aku meragukan jika mereka akan langsung ke sini.)”

            Braz mengambil sebuah alat dari dalam tas pinggangnya, alat seperti semacam detektor. Dari alat itu terdapat layar yang menunjukkan kondisi tanah di bawah mereka, kedalamannya serta peta terowongan yang mereka buat. Braz, Montez dan Ramon ditandai dengan lambang panah, di kedalaman 3000 kaki terlihat semacam bercak-bercak berwarna hijau.

Braz: “(Ini adalah terowongan yang sudah kami gali tepat di bawah kumpulan Ulkamium yang sedang kami tambang, yang ini adalah terowongan yang sedang kami bangun dan mengarah ke gedung yang sedang dalam pembangunan.)”
Ramon: “(Gedung itu akan selesai nanti sore, ‘Arsitek’ saat ini sedang memesan satu sentuhan terakhir. Kami hanya tinggal memasangnya saat pesanan itu sudah tiba, sementara kalian sendiri masih sibuk menyelesaikan pekerjaan kalian.)”

            Montez bersendawa keras setelah makan cacing, Braz menoleh ke belakang dan melihat dengan kesal. Dia memasukkan alat detektornya kembali ke dalam tas pinggang, dia menghampiri Montez dan menarik kakinya.

Braz: “(Kau ingin cepat?! Berikan kami 3 unit absorber lagi dan kami bisa jamin pekerjaan ini akan selesai sebelum kalian meletakkan ‘sentuhan terakhir’!)”
Ramon: “(Memang itu yang kuharapkan, jangan biarkan apapun menghalangi kalian.)”

            Ramon dan para Buitres terbang meninggalkan mereka berdua, Braz dan Montez masuk ke dalam lubang. Mereka kini berhadapan di sebuah pintu, pintu itu terbuka dan di dalamnya ada semacam pangkalan kecil yang masih dibuat.

Braz: “(Peralatan komunikasinya masih belum selesai juga?!)”
?: “Mohon maaf tuan, tapi bicaralah dengan Bahasa Inggris. Aku sama sekali tidak paham ucapan anda.”
Braz: “Percepat pembuatan alat teleportasi dan komunikasi sekarang juga, jika kau masih ingin dibayar. (Saudaraku, lanjutkan menggali ke timur.)”
Montez: “(Lepaskan dulu kakiku, kakak.)”
Braz: “Dan jangan mencoba mengambil sebutir pun Ulkamium yang kami tambang saat ini, kau tahu resikonya.”

            Braz keluar dari ruangan bersama dengan Montez, sang mekanik yang sedang memperbaiki sebuah alat di bawah kolong keluar dari dalam. Dia lalu mencoba peralatan yang baru dia perbaiki, layar monitor berukuran kecil muncul di depannya. Dari monitor muncul gambar sebuah mulut, mulut itu bergerak dan mengeluarkan suara wanita.

?: “Sturgess, apa kau sudah bertemu dengannya?”

Ternyata sang mekanik itu adalah Stigmavius, dengan baju besinya tapi tidak memakai sayap.

Sturgess: (kesal) “Jangan panggil aku Sturgess.”
?: “Tapi itu memang nama aslimu bukan?”
Sturgess: “Memang, tapi nama itu sudah dikenal banyak orang. Aku tak mau identitasku ketahuan.”
?: “Hei, aku tahu kau itu hanya pria kecil yang bekerja sebagai pengais besi rongsokan. Memangnya ada yang peduli kau itu sebenarnya siapa? Kalau bukan karena ayahku, kau pasti sudah tidak bisa makan.”
Sturgess: (kesal) “Ya, aku akui Profesor Uchida yang telah menyelamatkanku. Tapi mari kita tinggalkan dulu masalah itu, alat yang kau minta sedang dalam perjalanan ke sini.”
?: “Itu hanya kabar baiknya, seharusnya ada kabar buruk menyertai.”
Sturgess: “Memang ada, kukirimkan gambarnya padamu.”

            Sebuah gambar denah muncul di layar tempat sang pemilik suara, dia memperbesar salah satu bagian ruangan dalam denah. Dalam ruangan itu tertulis ‘Diablo’, ekspresi di mulutnya berubah menjadi senyuman yang membentuk lesung pipit.

?: “Akhirnya ketemu.”

No comments:

Post a Comment