BERLAYAR
24
Oktober 2010, 19:00. Di sebuah hotel di Acapulco, ruangan 725. Francis dan
James sedang bermain video game, mereka memainkan game balapan mobil. Francis
memainkan dengan wajah serius, James sendiri tampak berusaha keras karena
terpojok. Uchida sedang duduk di depan laptop, meneliti tentang sesuatu.
Mendadak dia menerima email, isinya langsung dibuka tanpa ragu. Pengirimnya
adalah 5T1G, dengan subyek ‘tambang’. Ada sebuah file dengan nama yang sama
seperti subyek, dia membaca catatan kecil yang menyertai. ‘Putrimu minta
oleh-oleh sebagai gantinya’, Uchida menundukkan kepalanya.
Uchida: “(Bisa-bisanya dia sempat meminta
hal semacam itu.)”
James: “Argh! Aku kalah lagi!”
James
jatuh terbaring di atas kasur, dia baru saja dikalahkan Francis di video game.
Uchida membuka file tanpa menghiraukan mereka, isinya adalah denah yang sama
seperti dikirim oleh Sturgess. Namun isinya sedikit berubah dengan beberapa
ruangan ditandai, dia melihat sebuah ruangan yang dilingkari dengan tulisan
‘Yang harus dikunjungi’. Kemudian dia melihat dua ruangan yang juga dilingkari
dengan tulisan ‘yang harus dihancurkan’ dan ‘yang harus dibawa pulang’, dia
memperbesar ruangan dengan tulisan ‘yang harus dikunjungi’. Tanpa disadari,
Francis dan James melihat apa yang dilihat Uchida dari belakang. Isi ruangan
itu adalah semacam ruangan komputer yang cukup besar dengan banyak layar
monitor dan CPU terpasang di dalamnya, ada sebuah catatan bertuliskan ‘perlu
password, mustahil untuk dihack’.
James: “Mustahil? Kurasa aku bisa melakukannya.”
Uchida: “Tidak bisakah kau minta izin
dulu?”
James: “Apa salahnya? Aku sudah terlibat.”
Francis: “Aku mau ke bagian ‘yang harus
dihancurkan’ itu.”
Uchida: “Tidak semudah itu, kita belum
tahu pasti tempatnya.”
Francis: “Kalau begitu cepat cari, aku tak
mau berlama-lama di sini.”
Francis
menuju ke beranda, mengamati pemandangan kota di malam hari. James menawarkan
sekaleng cola yang sudah dibuka pada Uchida, dia pun menerimanya.
Uchida: “Terima kasih, kau yakin tidak
pergi ke acara itu?”
James: “Terlalu membosankan, di sana hanya
tempat orang-orang yang mementingkan status sosial mereka. Kalaupun aku ke
sana, mereka pasti akan langsung menghampiriku untuk keuntungan mereka
sendiri.”
Uchida: “Ah, karena pengaruh dari kejayaan
perusahaan milik ayahmu.”
James: “Aku bukannya membenci ayahku, aku
sudah paham seperti apa situasiku saat aku lahir sebagai anak pemilik
perusahaan besar. Orang tua kami mungkin jarang menghabiskan waktu luang karena
pekerjaan mereka, tapi bukan berarti mereka tidak menyayangi kami.”
Uchida: “Tapi kau sendiri sudah memiliki
banyak teman, benar begitu?”
James: “Tentu saja, itu termasuk dengan
kalian. Kami tidak dilarang untuk berteman dengan orang yang statusnya jauh
lebih rendah dari kami, walaupun orang itu gelandangan.”
Uchida
menyodorkan kaleng pada James sambil memeriksa file yang ada di laptop, James
bersulang dengan mengangkat dan membenturkan kaleng yang sedang dia pegang pada
kaleng Uchida. Mereka langsung minum bersama-sama, suara bel pintu terdengar
tak lama kemudian. James melihat dari lubang kecil di pintu, dia melihat Roy
yang terlihat kesal ada di depan pintu. James mendesah dan membuka pintu, namun
dia tak menunjukkan dirinya di hadapan Roy tapi bersembunyi di balik pintu.
Roy: “Sembunyi di balik pintu percuma saja,
James.”
James: “Masuk saja.”
Roy: “Tidak, aku tak punya banyak waktu.
Aku...”
James: “Jangan dilanjutkan, aku tahu kau
mau apa. Orang tuaku atau mungkin adikku menyuruhmu ke sini untuk membujukku
pergi ke pesta yang diadakan malam ini, karena di pesta itu banyak tokoh-tokoh
yang menurutmu penting untuk ditemui. Dengan mengirim adikku sendiri pergi ke
pesta tersebut, aku mengira bahwa itu sudah cukup. Namun karena undangan yang
diberikan hanya berlaku untuk kami berdua atau orang tua kami, aku diwajibkan
untuk ikut. Sekarang adikku sedang menunggu kehadiranku di luar bersama Olivia,
sementara kau datang membawakanku pakaian formal untuk menghadiri pesta
tersebut.”
Roy
yang hanya diam mendengarkan pembicaraan panjang yang dikatakan James
mengedipkan mata berkali-kali, dahinya mengernyit dan mulutnya terbuka sedikit.
James keluar dari balik pintu dan mengambil pakaian yang dibawakan Roy, dia
menukarnya dengan kaleng cola yang baru dia minum.
James: “Katakan padanya, beri aku setengah
jam untuk bersiap. Jika kau siapkan satu baju lagi untuk Francis, aku akan
datang dalam 15 menit.”
James menutup
pintu, meninggalkan Roy sendirian dalam kondisi melongo. Dia kemudian minum
dari kaleng yang diberikan James, mendadak dia tersadar dari lamunannya dan
berteriak keras.
Roy: “APA?!”
Kejadian
itu sontak membuat petugas kebersihan yang lewat kaget, beberapa orang keluar
dari kamar karena terkejut. Roy langsung memberikan kaleng yang dia berikan
pada petugas kebersihan dalam keadaan panik, dia langsung pergi meninggalkan
tempat.
Di
tengah Laut Pasifik Selatan, tidak jauh dari pantai di Acapulco. Ada sebuah
kapal pesiar yang cukup megah, di dalamnya tengah diadakan sebuah pesta. Banyak
orang-orang berdansa dengan diiringi irama musik mariachi, beberapa di antaranya
sedang berbincang-bincang dan menikmati santapan. Sementara itu Megan dan
Olivia sedang duduk di beranda kapal sambil menikmati pemandangan laut yang
diterangi sinar bulan, beberapa pria baru saja pergi meninggalkan mereka dengan
wajah kecewa.
Olivia: “Itu sudah pria ke 30 yang anda
tolak ajakannya untuk berdansa.”
Megan: “Mereka kutolak karena mereka bukan
tipeku, tapi kau sendiri juga diajak oleh beberapa dari mereka bukan?”
Olivia: “Aku tak pantas berdansa dengan
mereka.”
Megan: “Tak perlu merendah, kau sendiri
punya kualitas sebagai wanita sampai 10 pria yang sudah menghampirimu malam
ini.”
Olivia: “Daripada itu Nona Megan, Tuan
James sebentar lagi akan datang.”
Megan: “Aku tak peduli dia akan datang
atau tidak.”
Olivia: “Mungkin lebih baik anda perlu
makan terlebih dahulu, anda belum makan sejak siang tadi bukan?”
Megan: “Aku sudah mengambil makanan.”
Olivia
melihat, sebuah piring kecil di meja makan, ada bekas krim dan remah-remah di
atasnya. Olivia kemudian memandangi Megan dengan tatapan seram yang membuatnya
merinding, dia mencolek krim yang ada di piring dan menjilatnya.
Olivia: “Makanan apa yang anda ambil, Nona
Megan?”
Megan: “Ha... hanya... Enchilada...”
Olivia: “Enchilada tidak terbuat dari
krim, anda tidak mengambil cake yang ada di meja pojok itu bukan?”
Megan: “Aku... hanya makan 1.”
Olivia: “Nona Megan, saya paham keinginan
anda mengenai makanan manis. Tapi sekedar mengingatkan bahwa hari ini ada dalam
jadwal di mana anda menjalani diet.”
Megan: “Tapi... tapi...”
Megan
berbalik menghadapi Olivia dengan mata berbinar-binar, di bibirnya ada sedikit
krim menempel. Olivia memandang dengan menyipitkan mata, dia mendesah dan mulai
merogoh sesuatu dari balik celemeknya. Sebuah saputangan merah muda dengan
motif mawar dikeluarkan dari dalamnya, dia tersenyum membersihkan krim di bibir
Megan dengan saputangan tersebut.
Olivia: “Sepertinya aku harus lebih
mengawasi anda.”
Megan: “Ahaha, maaf.”
?: “(Menikmati hidangannya, senorita?)”
Megan
dan Olivia disapa dengan bahasa Spanyol dan di hampiri oleh seorang pria
berperawakan tegap, rambut keriting, berkumis tipis, mengenakan tuxedo dan
membawa sebuah topi di tangan kanannya.
Olivia: “(Kapitan Mendez, terima kasih
karena sudah mengizinkan kami untuk menaiki kapal anda dan mengundang kami ke
pesta ini. Walau sebenarnya Tuan James mungkin tidak bisa datang.)”
Megan: “Tidak masalah bukan? Undangan yang
kudapat mengizinkan dua orang untuk naik, jadi James tak diperlukan.”
Olivia: “Mohon maaf, tapi dua orang itu
adalah orang tua atau anda dan Tuan James sebagai perwakilan.”
Mendez: “Hahahaha, benar sekali yang
dikatakan Nona Olivia. Sungguh suatu kehormatan besar jika kalian bersaudara ada
di atas kapalku sambil menikmati perjalanan ini, ayah kalian dulunya adalah
sponsor terbesar perusahaan pelayaran milik kami. Apa yang akan kukatakan
padanya jika dia tahu bahwa salah satu dari anak mereka tidak bisa naik hanya
karena kekurangan orang.”
Megan: “Ternyata bisa berbahasa Inggris, anda
terlalu berlebihan.”
Mendez: “Lagipula ini hanya pesta perpisahan
dengan perusahaan kalian, sekaligus untuk merayakan kontrak kerja kami dengan
perusahaan yang baru. Perayaan sebenarnya akan dimulai di daratan, tepatnya di
gedung cabang perusahaan yang kau bisa lihat dari kejauhan.”
Megan: “Jadi peresmian gedung terbaru itu
benar-benar akan terjadi? Cabang terbaru Deiguscorp?”
Mendez: “Si, senorita.” (Benar, nona.)
Sementara
itu ada sebuah speed boat bergerak menuju kapal pesiar di kejauhan, di speed
boat itu ada Roy yang mengemudi, Francis dan James. Kapal pesiar itu sendiri
terlihat dari samping di kejauhan, di bagian samping kapal ada sebuah logo
perusahaan ‘Deiguscorp’. Francis duduk di belakang dengan pakaian bodyguard
dalam keadaan tertidur, wajahnya ditutupi sapu tangan. James memandanginya
kemudian pandangannya beralih menuju ke kapal, wajahnya terlihat kecewa.
James: “Semoga dia tak ada di sana.”
Roy: “Jangan bicara ngawur, adikmu sudah
jelas ada di sana.”
James: “Bukan dia.”
Roy
terdiam sejenak, dia menyadari sesuatu dan memasang wajah tersenyum yang
membuat James kesal.
Roy: “Hohoho, jadi kau masih ingat dengan
dia?”
James: “Diam saja.”
Roy: “Mau bagaimana lagi, kalian sudah
lama menjadi teman. Tunggu, salah. Apa namanya? Tunangan.”
James: “Aku takkan pernah setuju dengan
hal semacam itu, apa enaknya menjalin hubungan kalau kami sendiri... tidak
pernah ada cinta.”
Roy: “James Archibald Yorgins yang suka
merayu wanita tapi tak pernah mencintai mereka, kau tak berhak bicara begitu.”
James: “Jangan bicara seolah-olah aku
perlakukan para wanita layaknya PSK.”
Roy: “Aku tidak bilang begitu, tapi kalian
sudah sering bertemu bukan? Walau tidak secara langsung, dia selalu menelepon
ke mansion untuk menanyakanmu. Berkunjung ke kantor untuk menemuimu, bahkan
baru-baru ini dia pergi bersama orang tuanya untuk menemui ayahmu.”
James: “Itu namanya mengganggu privasi
orang lain, dan itu semua gara-gara dirimu.”
Roy: “Aku? Aku hanya menunjukkan
keberadaanmu saja.”
James: “Dan berkat itu, aku sering
mengganti nomor teleponku untuk menghindari dia. Kabur dari lokasi sebelum dia
datang, sampai memberi tahunya tempat tujuan palsu. Dia sungguh... menyebalkan,
aku tak melihat seorang wanita yang jatuh cinta padaku tapi seorang yang suka
menyiksa orang untuk kepentingan pribadinya.”
Francis: “Maksudmu memperbudak?”
James: “Mungkin kau bisa sebut begitu,
sebisa mungkin kau harus melindungiku dari siapapun yang datang padaku.”
Francis: “Boleh kubunuh mereka?”
James dan Roy: “Tidak.”
Kembali
ke kapal pesiar, di sisi berlawanan dari tempat James dan yang lain. Di
permukaan laut, ada sekelompok penyelam mendekati kapal tanpa disadari para
penumpang yang ada di atas. Mereka menyelam ke bawah lambung kapal, salah satu
dari mereka memasang semacam bom dengan timer tepat di bawah. Ada sebuah kapal
nelayan kecil tidak jauh dari kapal pesiar tersebut, awak kapal yang melihat
dengan teropong langsung memberikan peringatan lewat megaphone.
Awak Kapal: (“Kepada kapal nelayan yang
saat ini ada di depan kami, mohon pindahkan kapal anda ke tempat lain. Kapal
anda menghalangi laju kapal kami, sekali lagi kami ulangi. Pindahkan kapal anda
agar tidak terjadi tabrakan, kami tak mau anda mengalami kecelakaan dan
tenggelam.”)
Seseorang
keluar dari kapal nelayan tersebut, para awak kapal melihat seorang pria
bertelanjang dada dan bertato di lengan kirinya mengangkat sesuatu
tinggi-tinggi dengan satu tangan. Awak kapal melihat dengan teropong, benda
yang dipegang pria itu adalah semacam remot dengan lampu merah yang berkedip
dan sebuah kenop. Pria itu tersenyum dan memutar kenop tersebut, para penyelam
di bawah kapal muncul ke permukaan di saat bersamaan. Terjadi sebuah ledakan di
bawah kapal yang membuat kapal berguncang, para penumpang mulai panik. Para
penyelam mengeluarkan senapan dan menembakkan sebuah kait yang disertai dengan
tali, kait itu menancap di badan kapal. Para penyelam langsung memanjat kapal
tersebut, beberapa penumpang yang ikut serta dalam pelayaran membantu penyelam
tersebut naik. Ternyata mereka berkomplot dengan para penyelam itu, salah
seorang penyelam memberikan mereka tas. Mereka langsung membukanya dan
mengambil senjata seperti senapan mesin, granat dan shotgun di dalamnya, awak
kapal yang mencoba menghentikan mereka ditembaki. Bahkan penumpang yang mencoba
untuk kabur dengan melompat dari kapal tak luput menjadi korban, Megan dan
Olivia tetap diam di tempat mereka. Saat seseorang menodongkan senapan ke wajah
Megan, Olivia langsung menendang senapan itu ke atas. Senapan yang jatuh itu
ditangkap Olivia, dia menodongkannya kembali ke wajah si penodong. Beberapa
pria bersenjata menodongkan senjata mereka pada Olivia sambil diteriaki dengan
bahasa Spanyol, Olivia sendiri sudah bersiap untuk menembakkan senjatanya pada
orang yang ditodongnya. Mendadak terdengar suara teriakan keras yang membuat
nyali para orang bersenjata itu ciut, seorang pria berbadan besar baru saja
naik ke kapal. Langkah kakinya membuat lantai kapal bergetar, dia bersenjatakan
sebuah pistol bertombak. Olivia tidak bergeming sedikitpun ketika pria itu
menghampirinya, sang pria berhenti dan memandang Olivia, Megan, dan anak buahnya
yang ditodong. Dia meludah ke anak buahnya yang sedang ditodong,
?: “(Memalukan, kau sampai ditaklukkan
oleh seorang wanita.)”
Pria
besar itu mengambil paksa shotgun yang dipegang Olivia dan menyerahkannya
kembali ke anak buahnya. Pria besar itu menunduk melihat Olivia, lalu Megan
yang berdiri di belakangnya. Sang pria tersenyum menunjukkan giginya yang
hitam, Megan jijik saat melihatnya. Olivia langsung menutupi mata Megan dengan
tangannya, dua orang kemudian datang membawa Mendez ke hadapan sang pria besar.
Penyelam: “(Kami sudah menangkap
kaptennya!)”
Sang
pria besar berbalik, dia menegakkan kursi yang jatuh dan mendudukinya. Anak
buahnya menawarkan sebotol minuman, dibukanya tutup botol itu dengan jempolnya.
Dia meneguk minuman tersebut sampai habis dan melemparkan botolnya ke kepala
seseorang yang sedang disandera, wajah Mendez dan pria itu saling berhadapan.
?: “(Kau kenal aku?)”
Mendez: “(Kau pemimpin bajak laut Alerta
de Muerte.)”
?: “(Terima kasih, karena kau sudah
menyebutku sebagai pemimpin. Tapi kau salah di beberapa hal. Yang benar adalah
Alerta de Ladron, pemimpinnya ada di belakangmu.)”
Penyelam
itu membuka masker dan kacamata renangnya, di baliknya terdapat wajah yang
mengejutkan. Rambut panjang hitam bergelombang, kulit kecoklatan, dan wajah
yang feminim.
Mendez: (“Wanita.”)
Wanita
itu memukul wajah Mendez sampai tersungkur dengan shotgun, dia langsung diikat
kedua tangannya dari belakang oleh komplotan lainnya. Korban yang lain juga ikut
diikat, baik yang terluka atau tidak. Wanita itu memandangi Olivia dan Megan,
dia memberi isyarat pada anak buahnya untuk menangkap mereka dan membawanya ke
hadapannya. Saat mereka saling berhadapan, dia melihat kalung berkilauan yang
dipakai oleh Megan dan merampasnya.
?: “Kuharap kau tak keberatan kalau ini
kuambil. Julio!”
Sang
pria besar menghampiri wanita tersebut, dia memberi isyarat dengan menggerakkan
kepalanya ke belakang. Seluruh penumpang dikumpulkan di pinggir kapal, mereka
semua dalam keadaan ditodong. Beberapa awak kapal dan sang kapten, Mendez,
dibawa masuk ke dalam kapal.
Julio: “(Bos, aku boleh minta si pirang
itu? Sayang sekali kalau dia meloncat ke laut.)”
?: “(Kita di sini untuk muatannya, bukan
untuk memenuhi keinginan seksualmu. Setelah kita mendapatkan apa yang kita dapat,
kau bisa bawa berapa banyak wanita di bar nanti.)”
Julio: “(Tapi tak ada wanita seperti ini
di bar manapun, dia begitu berkilau.)”
Beberapa
orang penyelam di belakangnya tertawa, Julio menoleh ke belakang dengan tatapan
kesal.
?: “(Lakukan saja itu setelah pekerjaan
kita selesai, aku akan masuk dan membongkar apa yang di dalam bersama Esteban.
Kita tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini setelah mendapatkan informasi
berharga dengan harga mahal, keuntungan kita yang hilang akan kembali
berkali-kali lipat.)”
Julio: “(Siap!)”
Olivia
yang mendengarkan percakapan mereka dari kejauhan, memandangi sang pemimpin
yang baru masuk ke dalam kapal. Kini para sandera dipaksa untuk melompat ke
laut, salah satu dari mereka ditembak sampai tercebur ke laut. Saat Megan
hendak jatuh, Julio menangkap dan menariknya keluar dari kerumunan.
Julio: “(Yang ini milikku! Kalian jatuhkan
sisanya!)”
Kapal
berguncang cukup hebat akibat ledakan yang mendadak terjadi di dalam,
menyebabkan beberapa penumpang jatuh ke laut. Kapal mulai tenggelam
perlahan-lahan, Megan dibawa ke kapal nelayan yang dipakai untuk menghambat
perjalanan. Dia diangkat dan dilempar ke dalam kapal, Olivia langsung berlari
dan mencoba menyelamatkan Megan. Para bajak laut itu menembaki Olivia, Julio
menembakkan harpun ke arahnya namun berhasil dihindari. Julio langsung melompat
ke kapal nelayan dan mencoba untuk kabur, sementara Olivia dibuat sibuk. Julio
sendiri mulai kehilangan kesabaran saat harpun di senapannya sudah habis, dia
masuk ke dalam kapal nelayan dan berjalan ke ruang kemudi.
Julio: “(Kenapa diam saja?! Cepat jalankan
kapalnya!)”
?: “(Maaf, aku tidak bisa
mengemudikannya.)”
Julio: “(Apa maksudmu tidak bisa?! Kau itu
pengemudi!)”
?: “(Ya, aku memang pengemudi.)”
Sang
pengemudi berbalik dan menembakkan senjata penyetrum ke tubuh Julio, membuatnya
kejang-kejang dan terjatuh ke belakang. Bersamaan dengan itu Megan dan James
baru muncul dan memandangi Julio yang kejang karena tersetrum, disusul oleh
sang pengemudi yang ternyata adalah Roy.
Roy: “Tapi biasanya aku mengemudikan
Ducati.”
James: “Dan dia perlu ke dokter gigi.”
Megan: “Maksudmu ke polisi.”