Wednesday, May 29, 2019

Level 43


BERLAYAR

            24 Oktober 2010, 19:00. Di sebuah hotel di Acapulco, ruangan 725. Francis dan James sedang bermain video game, mereka memainkan game balapan mobil. Francis memainkan dengan wajah serius, James sendiri tampak berusaha keras karena terpojok. Uchida sedang duduk di depan laptop, meneliti tentang sesuatu. Mendadak dia menerima email, isinya langsung dibuka tanpa ragu. Pengirimnya adalah 5T1G, dengan subyek ‘tambang’. Ada sebuah file dengan nama yang sama seperti subyek, dia membaca catatan kecil yang menyertai. ‘Putrimu minta oleh-oleh sebagai gantinya’, Uchida menundukkan kepalanya.

Uchida: “(Bisa-bisanya dia sempat meminta hal semacam itu.)”
James: “Argh! Aku kalah lagi!”

            James jatuh terbaring di atas kasur, dia baru saja dikalahkan Francis di video game. Uchida membuka file tanpa menghiraukan mereka, isinya adalah denah yang sama seperti dikirim oleh Sturgess. Namun isinya sedikit berubah dengan beberapa ruangan ditandai, dia melihat sebuah ruangan yang dilingkari dengan tulisan ‘Yang harus dikunjungi’. Kemudian dia melihat dua ruangan yang juga dilingkari dengan tulisan ‘yang harus dihancurkan’ dan ‘yang harus dibawa pulang’, dia memperbesar ruangan dengan tulisan ‘yang harus dikunjungi’. Tanpa disadari, Francis dan James melihat apa yang dilihat Uchida dari belakang. Isi ruangan itu adalah semacam ruangan komputer yang cukup besar dengan banyak layar monitor dan CPU terpasang di dalamnya, ada sebuah catatan bertuliskan ‘perlu password, mustahil untuk dihack’.

James: “Mustahil? Kurasa aku bisa melakukannya.”
Uchida: “Tidak bisakah kau minta izin dulu?”
James: “Apa salahnya? Aku sudah terlibat.”
Francis: “Aku mau ke bagian ‘yang harus dihancurkan’ itu.”
Uchida: “Tidak semudah itu, kita belum tahu pasti tempatnya.”
Francis: “Kalau begitu cepat cari, aku tak mau berlama-lama di sini.”

            Francis menuju ke beranda, mengamati pemandangan kota di malam hari. James menawarkan sekaleng cola yang sudah dibuka pada Uchida, dia pun menerimanya.

Uchida: “Terima kasih, kau yakin tidak pergi ke acara itu?”
James: “Terlalu membosankan, di sana hanya tempat orang-orang yang mementingkan status sosial mereka. Kalaupun aku ke sana, mereka pasti akan langsung menghampiriku untuk keuntungan mereka sendiri.”
Uchida: “Ah, karena pengaruh dari kejayaan perusahaan milik ayahmu.”
James: “Aku bukannya membenci ayahku, aku sudah paham seperti apa situasiku saat aku lahir sebagai anak pemilik perusahaan besar. Orang tua kami mungkin jarang menghabiskan waktu luang karena pekerjaan mereka, tapi bukan berarti mereka tidak menyayangi kami.”
Uchida: “Tapi kau sendiri sudah memiliki banyak teman, benar begitu?”
James: “Tentu saja, itu termasuk dengan kalian. Kami tidak dilarang untuk berteman dengan orang yang statusnya jauh lebih rendah dari kami, walaupun orang itu gelandangan.”

            Uchida menyodorkan kaleng pada James sambil memeriksa file yang ada di laptop, James bersulang dengan mengangkat dan membenturkan kaleng yang sedang dia pegang pada kaleng Uchida. Mereka langsung minum bersama-sama, suara bel pintu terdengar tak lama kemudian. James melihat dari lubang kecil di pintu, dia melihat Roy yang terlihat kesal ada di depan pintu. James mendesah dan membuka pintu, namun dia tak menunjukkan dirinya di hadapan Roy tapi bersembunyi di balik pintu.

Roy: “Sembunyi di balik pintu percuma saja, James.”
James: “Masuk saja.”
Roy: “Tidak, aku tak punya banyak waktu. Aku...”
James: “Jangan dilanjutkan, aku tahu kau mau apa. Orang tuaku atau mungkin adikku menyuruhmu ke sini untuk membujukku pergi ke pesta yang diadakan malam ini, karena di pesta itu banyak tokoh-tokoh yang menurutmu penting untuk ditemui. Dengan mengirim adikku sendiri pergi ke pesta tersebut, aku mengira bahwa itu sudah cukup. Namun karena undangan yang diberikan hanya berlaku untuk kami berdua atau orang tua kami, aku diwajibkan untuk ikut. Sekarang adikku sedang menunggu kehadiranku di luar bersama Olivia, sementara kau datang membawakanku pakaian formal untuk menghadiri pesta tersebut.”

            Roy yang hanya diam mendengarkan pembicaraan panjang yang dikatakan James mengedipkan mata berkali-kali, dahinya mengernyit dan mulutnya terbuka sedikit. James keluar dari balik pintu dan mengambil pakaian yang dibawakan Roy, dia menukarnya dengan kaleng cola yang baru dia minum.

James: “Katakan padanya, beri aku setengah jam untuk bersiap. Jika kau siapkan satu baju lagi untuk Francis, aku akan datang dalam 15 menit.”

James menutup pintu, meninggalkan Roy sendirian dalam kondisi melongo. Dia kemudian minum dari kaleng yang diberikan James, mendadak dia tersadar dari lamunannya dan berteriak keras.

Roy: “APA?!”

            Kejadian itu sontak membuat petugas kebersihan yang lewat kaget, beberapa orang keluar dari kamar karena terkejut. Roy langsung memberikan kaleng yang dia berikan pada petugas kebersihan dalam keadaan panik, dia langsung pergi meninggalkan tempat.


            Di tengah Laut Pasifik Selatan, tidak jauh dari pantai di Acapulco. Ada sebuah kapal pesiar yang cukup megah, di dalamnya tengah diadakan sebuah pesta. Banyak orang-orang berdansa dengan diiringi irama musik mariachi, beberapa di antaranya sedang berbincang-bincang dan menikmati santapan. Sementara itu Megan dan Olivia sedang duduk di beranda kapal sambil menikmati pemandangan laut yang diterangi sinar bulan, beberapa pria baru saja pergi meninggalkan mereka dengan wajah kecewa.

Olivia: “Itu sudah pria ke 30 yang anda tolak ajakannya untuk berdansa.”
Megan: “Mereka kutolak karena mereka bukan tipeku, tapi kau sendiri juga diajak oleh beberapa dari mereka bukan?”
Olivia: “Aku tak pantas berdansa dengan mereka.”
Megan: “Tak perlu merendah, kau sendiri punya kualitas sebagai wanita sampai 10 pria yang sudah menghampirimu malam ini.”
Olivia: “Daripada itu Nona Megan, Tuan James sebentar lagi akan datang.”
Megan: “Aku tak peduli dia akan datang atau tidak.”
Olivia: “Mungkin lebih baik anda perlu makan terlebih dahulu, anda belum makan sejak siang tadi bukan?”
Megan: “Aku sudah mengambil makanan.”

            Olivia melihat, sebuah piring kecil di meja makan, ada bekas krim dan remah-remah di atasnya. Olivia kemudian memandangi Megan dengan tatapan seram yang membuatnya merinding, dia mencolek krim yang ada di piring dan menjilatnya.

Olivia: “Makanan apa yang anda ambil, Nona Megan?”
Megan: “Ha... hanya... Enchilada...”
Olivia: “Enchilada tidak terbuat dari krim, anda tidak mengambil cake yang ada di meja pojok itu bukan?”
Megan: “Aku... hanya makan 1.”
Olivia: “Nona Megan, saya paham keinginan anda mengenai makanan manis. Tapi sekedar mengingatkan bahwa hari ini ada dalam jadwal di mana anda menjalani diet.”
Megan: “Tapi... tapi...”

            Megan berbalik menghadapi Olivia dengan mata berbinar-binar, di bibirnya ada sedikit krim menempel. Olivia memandang dengan menyipitkan mata, dia mendesah dan mulai merogoh sesuatu dari balik celemeknya. Sebuah saputangan merah muda dengan motif mawar dikeluarkan dari dalamnya, dia tersenyum membersihkan krim di bibir Megan dengan saputangan tersebut.

Olivia: “Sepertinya aku harus lebih mengawasi anda.”
Megan: “Ahaha, maaf.”
?: “(Menikmati hidangannya, senorita?)”

            Megan dan Olivia disapa dengan bahasa Spanyol dan di hampiri oleh seorang pria berperawakan tegap, rambut keriting, berkumis tipis, mengenakan tuxedo dan membawa sebuah topi di tangan kanannya.

Olivia: “(Kapitan Mendez, terima kasih karena sudah mengizinkan kami untuk menaiki kapal anda dan mengundang kami ke pesta ini. Walau sebenarnya Tuan James mungkin tidak bisa datang.)”
Megan: “Tidak masalah bukan? Undangan yang kudapat mengizinkan dua orang untuk naik, jadi James tak diperlukan.”
Olivia: “Mohon maaf, tapi dua orang itu adalah orang tua atau anda dan Tuan James sebagai perwakilan.”
Mendez: “Hahahaha, benar sekali yang dikatakan Nona Olivia. Sungguh suatu kehormatan besar jika kalian bersaudara ada di atas kapalku sambil menikmati perjalanan ini, ayah kalian dulunya adalah sponsor terbesar perusahaan pelayaran milik kami. Apa yang akan kukatakan padanya jika dia tahu bahwa salah satu dari anak mereka tidak bisa naik hanya karena kekurangan orang.”
Megan: “Ternyata bisa berbahasa Inggris, anda terlalu berlebihan.”
Mendez: “Lagipula ini hanya pesta perpisahan dengan perusahaan kalian, sekaligus untuk merayakan kontrak kerja kami dengan perusahaan yang baru. Perayaan sebenarnya akan dimulai di daratan, tepatnya di gedung cabang perusahaan yang kau bisa lihat dari kejauhan.”
Megan: “Jadi peresmian gedung terbaru itu benar-benar akan terjadi? Cabang terbaru Deiguscorp?”
Mendez: “Si, senorita.” (Benar, nona.)

            Sementara itu ada sebuah speed boat bergerak menuju kapal pesiar di kejauhan, di speed boat itu ada Roy yang mengemudi, Francis dan James. Kapal pesiar itu sendiri terlihat dari samping di kejauhan, di bagian samping kapal ada sebuah logo perusahaan ‘Deiguscorp’. Francis duduk di belakang dengan pakaian bodyguard dalam keadaan tertidur, wajahnya ditutupi sapu tangan. James memandanginya kemudian pandangannya beralih menuju ke kapal, wajahnya terlihat kecewa.

James: “Semoga dia tak ada di sana.”
Roy: “Jangan bicara ngawur, adikmu sudah jelas ada di sana.”
James: “Bukan dia.”

            Roy terdiam sejenak, dia menyadari sesuatu dan memasang wajah tersenyum yang membuat James kesal.

Roy: “Hohoho, jadi kau masih ingat dengan dia?”
James: “Diam saja.”
Roy: “Mau bagaimana lagi, kalian sudah lama menjadi teman. Tunggu, salah. Apa namanya? Tunangan.”
James: “Aku takkan pernah setuju dengan hal semacam itu, apa enaknya menjalin hubungan kalau kami sendiri... tidak pernah ada cinta.”
Roy: “James Archibald Yorgins yang suka merayu wanita tapi tak pernah mencintai mereka, kau tak berhak bicara begitu.”
James: “Jangan bicara seolah-olah aku perlakukan para wanita layaknya PSK.”
Roy: “Aku tidak bilang begitu, tapi kalian sudah sering bertemu bukan? Walau tidak secara langsung, dia selalu menelepon ke mansion untuk menanyakanmu. Berkunjung ke kantor untuk menemuimu, bahkan baru-baru ini dia pergi bersama orang tuanya untuk menemui ayahmu.”
James: “Itu namanya mengganggu privasi orang lain, dan itu semua gara-gara dirimu.”
Roy: “Aku? Aku hanya menunjukkan keberadaanmu saja.”
James: “Dan berkat itu, aku sering mengganti nomor teleponku untuk menghindari dia. Kabur dari lokasi sebelum dia datang, sampai memberi tahunya tempat tujuan palsu. Dia sungguh... menyebalkan, aku tak melihat seorang wanita yang jatuh cinta padaku tapi seorang yang suka menyiksa orang untuk kepentingan pribadinya.”
Francis: “Maksudmu memperbudak?”
James: “Mungkin kau bisa sebut begitu, sebisa mungkin kau harus melindungiku dari siapapun yang datang padaku.”
Francis: “Boleh kubunuh mereka?”
James dan Roy: “Tidak.”

            Kembali ke kapal pesiar, di sisi berlawanan dari tempat James dan yang lain. Di permukaan laut, ada sekelompok penyelam mendekati kapal tanpa disadari para penumpang yang ada di atas. Mereka menyelam ke bawah lambung kapal, salah satu dari mereka memasang semacam bom dengan timer tepat di bawah. Ada sebuah kapal nelayan kecil tidak jauh dari kapal pesiar tersebut, awak kapal yang melihat dengan teropong langsung memberikan peringatan lewat megaphone.

Awak Kapal: (“Kepada kapal nelayan yang saat ini ada di depan kami, mohon pindahkan kapal anda ke tempat lain. Kapal anda menghalangi laju kapal kami, sekali lagi kami ulangi. Pindahkan kapal anda agar tidak terjadi tabrakan, kami tak mau anda mengalami kecelakaan dan tenggelam.”)

            Seseorang keluar dari kapal nelayan tersebut, para awak kapal melihat seorang pria bertelanjang dada dan bertato di lengan kirinya mengangkat sesuatu tinggi-tinggi dengan satu tangan. Awak kapal melihat dengan teropong, benda yang dipegang pria itu adalah semacam remot dengan lampu merah yang berkedip dan sebuah kenop. Pria itu tersenyum dan memutar kenop tersebut, para penyelam di bawah kapal muncul ke permukaan di saat bersamaan. Terjadi sebuah ledakan di bawah kapal yang membuat kapal berguncang, para penumpang mulai panik. Para penyelam mengeluarkan senapan dan menembakkan sebuah kait yang disertai dengan tali, kait itu menancap di badan kapal. Para penyelam langsung memanjat kapal tersebut, beberapa penumpang yang ikut serta dalam pelayaran membantu penyelam tersebut naik. Ternyata mereka berkomplot dengan para penyelam itu, salah seorang penyelam memberikan mereka tas. Mereka langsung membukanya dan mengambil senjata seperti senapan mesin, granat dan shotgun di dalamnya, awak kapal yang mencoba menghentikan mereka ditembaki. Bahkan penumpang yang mencoba untuk kabur dengan melompat dari kapal tak luput menjadi korban, Megan dan Olivia tetap diam di tempat mereka. Saat seseorang menodongkan senapan ke wajah Megan, Olivia langsung menendang senapan itu ke atas. Senapan yang jatuh itu ditangkap Olivia, dia menodongkannya kembali ke wajah si penodong. Beberapa pria bersenjata menodongkan senjata mereka pada Olivia sambil diteriaki dengan bahasa Spanyol, Olivia sendiri sudah bersiap untuk menembakkan senjatanya pada orang yang ditodongnya. Mendadak terdengar suara teriakan keras yang membuat nyali para orang bersenjata itu ciut, seorang pria berbadan besar baru saja naik ke kapal. Langkah kakinya membuat lantai kapal bergetar, dia bersenjatakan sebuah pistol bertombak. Olivia tidak bergeming sedikitpun ketika pria itu menghampirinya, sang pria berhenti dan memandang Olivia, Megan, dan anak buahnya yang ditodong. Dia meludah ke anak buahnya yang sedang ditodong,

?: “(Memalukan, kau sampai ditaklukkan oleh seorang wanita.)”

            Pria besar itu mengambil paksa shotgun yang dipegang Olivia dan menyerahkannya kembali ke anak buahnya. Pria besar itu menunduk melihat Olivia, lalu Megan yang berdiri di belakangnya. Sang pria tersenyum menunjukkan giginya yang hitam, Megan jijik saat melihatnya. Olivia langsung menutupi mata Megan dengan tangannya, dua orang kemudian datang membawa Mendez ke hadapan sang pria besar.

Penyelam: “(Kami sudah menangkap kaptennya!)”

            Sang pria besar berbalik, dia menegakkan kursi yang jatuh dan mendudukinya. Anak buahnya menawarkan sebotol minuman, dibukanya tutup botol itu dengan jempolnya. Dia meneguk minuman tersebut sampai habis dan melemparkan botolnya ke kepala seseorang yang sedang disandera, wajah Mendez dan pria itu saling berhadapan.

?: “(Kau kenal aku?)”
Mendez: “(Kau pemimpin bajak laut Alerta de Muerte.)”
?: “(Terima kasih, karena kau sudah menyebutku sebagai pemimpin. Tapi kau salah di beberapa hal. Yang benar adalah Alerta de Ladron, pemimpinnya ada di belakangmu.)”

            Penyelam itu membuka masker dan kacamata renangnya, di baliknya terdapat wajah yang mengejutkan. Rambut panjang hitam bergelombang, kulit kecoklatan, dan wajah yang feminim.

Mendez: (“Wanita.”)

            Wanita itu memukul wajah Mendez sampai tersungkur dengan shotgun, dia langsung diikat kedua tangannya dari belakang oleh komplotan lainnya. Korban yang lain juga ikut diikat, baik yang terluka atau tidak. Wanita itu memandangi Olivia dan Megan, dia memberi isyarat pada anak buahnya untuk menangkap mereka dan membawanya ke hadapannya. Saat mereka saling berhadapan, dia melihat kalung berkilauan yang dipakai oleh Megan dan merampasnya.

?: “Kuharap kau tak keberatan kalau ini kuambil. Julio!”

            Sang pria besar menghampiri wanita tersebut, dia memberi isyarat dengan menggerakkan kepalanya ke belakang. Seluruh penumpang dikumpulkan di pinggir kapal, mereka semua dalam keadaan ditodong. Beberapa awak kapal dan sang kapten, Mendez, dibawa masuk ke dalam kapal.

Julio: “(Bos, aku boleh minta si pirang itu? Sayang sekali kalau dia meloncat ke laut.)”
?: “(Kita di sini untuk muatannya, bukan untuk memenuhi keinginan seksualmu. Setelah kita mendapatkan apa yang kita dapat, kau bisa bawa berapa banyak wanita di bar nanti.)”
Julio: “(Tapi tak ada wanita seperti ini di bar manapun, dia begitu berkilau.)”

            Beberapa orang penyelam di belakangnya tertawa, Julio menoleh ke belakang dengan tatapan kesal.

?: “(Lakukan saja itu setelah pekerjaan kita selesai, aku akan masuk dan membongkar apa yang di dalam bersama Esteban. Kita tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini setelah mendapatkan informasi berharga dengan harga mahal, keuntungan kita yang hilang akan kembali berkali-kali lipat.)”
Julio: “(Siap!)”

            Olivia yang mendengarkan percakapan mereka dari kejauhan, memandangi sang pemimpin yang baru masuk ke dalam kapal. Kini para sandera dipaksa untuk melompat ke laut, salah satu dari mereka ditembak sampai tercebur ke laut. Saat Megan hendak jatuh, Julio menangkap dan menariknya keluar dari kerumunan.

Julio: “(Yang ini milikku! Kalian jatuhkan sisanya!)”

            Kapal berguncang cukup hebat akibat ledakan yang mendadak terjadi di dalam, menyebabkan beberapa penumpang jatuh ke laut. Kapal mulai tenggelam perlahan-lahan, Megan dibawa ke kapal nelayan yang dipakai untuk menghambat perjalanan. Dia diangkat dan dilempar ke dalam kapal, Olivia langsung berlari dan mencoba menyelamatkan Megan. Para bajak laut itu menembaki Olivia, Julio menembakkan harpun ke arahnya namun berhasil dihindari. Julio langsung melompat ke kapal nelayan dan mencoba untuk kabur, sementara Olivia dibuat sibuk. Julio sendiri mulai kehilangan kesabaran saat harpun di senapannya sudah habis, dia masuk ke dalam kapal nelayan dan berjalan ke ruang kemudi.

Julio: “(Kenapa diam saja?! Cepat jalankan kapalnya!)”
?: “(Maaf, aku tidak bisa mengemudikannya.)”
Julio: “(Apa maksudmu tidak bisa?! Kau itu pengemudi!)”
?: “(Ya, aku memang pengemudi.)”

            Sang pengemudi berbalik dan menembakkan senjata penyetrum ke tubuh Julio, membuatnya kejang-kejang dan terjatuh ke belakang. Bersamaan dengan itu Megan dan James baru muncul dan memandangi Julio yang kejang karena tersetrum, disusul oleh sang pengemudi yang ternyata adalah Roy.

Roy: “Tapi biasanya aku mengemudikan Ducati.”
James: “Dan dia perlu ke dokter gigi.”
Megan: “Maksudmu ke polisi.”

No comments:

Post a Comment