Tuesday, October 23, 2012

Level 3


PENGAMATAN

11 Oktober 2010, Oslo, Norwegia, 09:45. Di tengah kota, seseorang pria berjalan sambil mengantungi kedua tangannya di saku celana jeansnya yang pendek. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, dia berjalan sambil membungkukkan badan dengan bibir mencibir. Pria itu sendiri memakai kacamata hitam, memiliki rambut merah dan jambul berwarna putih, di pelipis kirinya ada codet, hidung pesek, sedikit berjanggut, dan beralis tipis. Kakinya yang terus melangkah ke depan menggunakan sepasang sandal, penampilannya sendiri tampak seperti preman. Dengan saputangan kuning diikat di sikut kirinya, kaus merah tak berlengan dengan gambar tengkorak dan kampak menancap di kepalanya. Mendadak dia berhenti dan mengakkan badannya, dia kemudian menengadah ke langit dan menarik nafas dalam-dalam.

Francis: “MENYEBALKAAAAAAN!!!”

Seluruh warga kota langsung kaget begitu mendengar teriakannya, beberapa mobil langsung berhenti mendadak. Beberapa orang menghindari mobil yang hampir menabrak mereka, beberapa orang yang lain bertabrakan dan ada yang terjatuh ke jalan. Dua orang polisi tiba di tempat sambil meniup peluit, Francis langsung kabur begitu sadar dengan apa yang telah dia lakukan.


Beberapa saat kemudian, Francis sudah berada di atap sebuah bangunan sambil melihat secara sembunyi-sembunyi kedua polisi yang sedari tadi mencarinya. Dia kemudian berbaring dan menghela nafasnya, memandangi langit biru dengan awan dan matahari yang menghiasinya. Terpana dengan keindahannya, dia kemudian memikirkan sesuatu.

Francis: “Langit seperti ini, apakah aku bisa melihatnya lagi di masa depan nanti?”

Mendadak ekspresi wajahnya berubah jengkel ketika ia melihat awan yang bentuknya mirip wajah Uchida, ia kemudian teringat kembali akan perkataan Uchida sebelum dia pergi ke tengah kota.

Francis: “Kenapa kita harus pergi ke negara-apapun-namanya ini?”
Uchida: “Ini Norwegia, dulu negeri ini adalah satu bagian dari negara Eropa. Di zaman ini Eropa disebut sebagai benua, satu benua terdiri dari banyak negara, satu negara terdiri dari banyak provinsi, satu provinsi...”
Francis: “Cukup! Aku bertanya 'kenapa' bukan 'apa', memangnya kita tak bisa pergi ke negara lain?!”
Uchida: “Sebenarnya ada alasan tertentu kita negara ini, sebelum aku membebaskanmu aku mengecek mesin itu terlebih dahulu. Masing-masing laboratorium cabang memiliki satu mesin, satu mesin terhubung dengan satu negara. Karena itulah kita berada di negara ini, dan ada suatu cara untuk mengaktifkan mesin itu. Waktu yang dituju angka terakhirnya harus sama, misalnya tanggal 9 bulan ke 9 tahun ke 9 jam ke 9 menit ke 9 dan detik ke 9. Karena aku baru tahu pemakaian mesin ini, untuk lebih mudahnya aku langsung saja set ulang seperti menekan tombol redial pada telepon. Untuk berjaga-jaga, aku mengubah tempat kedatangan agar tidak bertemu langsung dengan musuh yang pergi ke waktu yang sama dengan kita.”
Francis: “Tunggu sebentar, jika kau mengatakan waktu yang dituju angkanya harus sama kenapa kita tiba di jam yang berbeda? Kita berada di waktu yang semua angkanya 10, tapi kita sampai di sini pada jam 22:00 bukan?”
Uchida: “Yang benar jam 10:00 pm, itu adalah istilah waktu yang digunakan pada jaman ini. Mulai jam 00:00 am atau 12:00 am sampai dengan jam 12:00 pm, waktu kemudian berubah menjadi jam 01:00 pm sampai jam 12:00 am atau 00:00 am.”
Francis: “Rasanya aku bisa ingat itu, lalu di mana aku bisa mendapatkan 'koran' dan 'televisi' ini?”
Uchida: “Kau bisa membeli koran di stand di pinggir jalan, biasanya televisi bisa kau temukan di toko elektronik. Tapi lebih baik kau membeli koran saja, jangan berpikir untuk membeli televisi. Kau akan kuberi uang, belilah satu koran dan sisanya kau belikan makanan.”
Francis: “Bagaimana caranya kau menelan makanan jika lehermu tidak ada?”
Uchida: (terdiam 5 detik) “......, apa kau tak bisa membicarakan selain itu? Sudahlah, jangan membahas hal kecil. Yang terpenting sekarang adalah...”
Francis: (memandang dengan wajah menyeramkan) “Kuharap itu bukan makanan.”
Uchida: “Bukan, bukan, aku hanya mau memberimu uang. Kemarikan kedua telapak tanganmu.”

Francis menjulurkan kedua telapak tangannya, Uchida meletakkan beberapa lembar uang kertas dan lima keping uang receh di atasnya.

Uchida: “Itu adalah uang, alat untuk menukar barang. Jika di zaman kita, semua kebutuhan bisa kau dapatkan dengan mencuri ataupun diberi oleh seseorang. Tapi kita di zaman yang berbeda, jika kau ingin mendapatkan sesuatu kau harus memberikan ini dan setelah itu kau bisa mendapatkannya.”
Francis: “Kenapa ada gambar seseorang yang kelihatan bodoh di sini?”
Uchida: “Hei, hei, hei, tidak bisakah kau menghormati seseorang? Orang di gambar ini adalah orang penting yang membawa perubahan di negara ini, hanya beberapa orang yang berjasa pada negara ini akan mendapatkan kehormatan ditampilkan wajahnya pada selembar uang ini.”
Francis: “...berjasa ya, aku ragu masih ada orang seperti itu di zaman kita. Yang dianggap berjasa pada masa itu hanya mereka yang berhasil memberi kekuatan yang sangat besar atau berhasil mengalahkan banyak musuh, pembantaian saja sudah dianggap sebuah jasa.”
Uchida: “Aku paham perasaanmu, ngomong-ngomong kau bisa berhitung kan?”
Francis: “Tentu saja bisa, asalkan itu tidak ada hubungannya dengan perkalian. Sejak kau tanamkan sedikit kecerdasan dalam diriku, aku sudah mengetahui beberapa hal. Salah satunya adalah nama mata uang ini, jika tidak salah namanya 'Krona'.”
Uchida: “Oh, ada perkembangan.”
Francis: “Setiap barang yang akan kubeli memiliki harga, jika kuberikan uang dengan jumlah yang sesuai maka barang itu bisa kudapat. Tapi...”
Uchida: “Kenapa?”
Francis: “Kau yakin ini cukup untuk mendapatkan apa yang kita perlukan?”
Uchida: “Tenang saja, asalkan orang sepertimu bisa menahan diri dan tak punya keinginan tertentu, kita akan mendapatkan cukup.”
Francis: “Apa maksudmu?”
Uchida: “Setiap orang pastilah punya sesuatu yang dia inginkan, di tengah jalan nanti pasti ada sesuatu yang membuatmu tertarik dan kau ingin membelinya. Apa kau orang yang seperti itu?”
Francis: “Keinginanku sampai sekarang belum berubah, yaitu menghancurkan Alterion, sekarang mari kita fokuskan tujuan kita untuk mendapatkan kebutuhan kita.”
Uchida: “Dan lebih baik jangan berbuat yang aneh-aneh, kita tak tahu mungkin saja kita bisa bertemu musuh kapanpun.”
Francis: “Ya, ya, ya. Aku berangkat dulu.”
Uchida: “Hati-hati di jalan.” (bahasa Jepang)

Francis langsung meninggalkan tempat, diperhatikan oleh Uchida sampai dirinya tak bisa melihat Francis di kejauhan. Uchida langsung membuka tempat sampah dan mengambil sebuah koran bekas, tanggal yang tertera menunjukkan waktu tiga hari yang lalu. Di halaman depan tertulis 'Kecelakaan Pembawa Keajaiban', ada gambar yang menampilkan sebuah gedung yang rusak parah dan setengah terbakar. Namun di depannya ada sekumpulan orang yang berpakaian seperti ilmuwan berkumpul di depan sambil menggotong sebuah alat secara bersamaan sambil tersenyum, mendadak sebuah tangan menurunkan koran yang dibaca Uchida. Francis sekarang sudah berada di hadapan Uchida, mata dan mulut Uchida terbuka lebar-lebar.

Francis: “Ng, aku harus ke mana untuk mendapatkan barang yang kau sebutkan tadi?”
Uchida: (jengkel) “Bakayaro!! (bodoh) Kau kan bisa menunjukkan itu pada penduduk sekitar yang kau temui! Kenapa malah kembali ke sini!”
Francis: “A... aku kan tidak paham struktur kota ini!”
Uchida: “Suruh saja mereka membuat peta untukmu! Minta tolong polisi kalau perlu!”

Kembali pada saat Francis berada di atas atap, dia kini tidur berbaring dan menguap lebar-lebar. Mendadak terdengar suara teriakan dari bawah, Francis langsung melihat ke arah sumber suara. Seorang gadis kecil berlari sambil membawa sebuah bingkisan, di belakangnya ada dua orang lelaki mengejarnya. Sang gadis kecil berbelok dan terpojok di jalan buntu, dua orang yang mengejarnya kini berhenti dan menghalangi jalannya. Seorang pria berbadan jangkung, berkumis tebal, dan berambut keriting. Satu lagi, seorang pria berbadan pendek dan gempal.

Pria jangkung: “Mau lari ke mana lagi? Sudah tidak ada lagi jalan untukmu.”
Pria gempal: “Benar, lebih baik kau kemari dan berikan semua uangmu.”
Gadis kecil: “Ti... tidak bisa, uang itu... sudah habis kupakai untuk hadiah ibuku.”
Pria gempal: “Kalau begitu serahkan bingkisan itu!”
Gadis kecil: “Tidak mau!”
Pria jangkung: “Lagipula jika itu memang hadiah untuk ibumu, kau bisa membelinya lagi.”
Pria gempal: “Bingkisan itu akan dipakai untuk membayar hutang yang ibumu tanggung, jadi cepat berikan.”
Gadis kecil: “Aku tetap tidak mau menyerahkannya! Barang ini kubuat sendiri dengan memakai uang tabunganku, barang ini takkan berguna kalaupun aku memberikannya pada kalian!”

Pria gempal dan pria jangkung saling memandang, mereka kemudian menatap sang gadis kecil. Pria gempal itu kemudian mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam sakunya, mereka berdua menyeringai dan membuat gadis kecil itu ketakutan. Pria jangkung itu memegangi kedua tangan gadis kecil itu, menelungkupkan tubuhnya ke tanah dan mendudukinya. Bingkisan yang dia pegang jatuh, menggelinding ke belakang pria gempal dan menabrak kaki seseorang.

Gadis kecil: “Tidaaaak!!! Apa yang mau kalian lakukan!!! Jangan bunuh aku!”
Pria jangkung: “Tenang saja, kami takkan membunuhmu.” (wajah mesum)
Pria gempal: “Kalau tidak ada uang, biarkan kau membayarnya dengan tubuhmu.”(lidah menjulur)
Gadis kecil: “Tidaaaak!! Tolooong!! Siapapun, tolooong!!”
Pria gempal: “Percuma, takkan ada yang mende... NGAAAAAAH!!!” (berteriak kesakitan)

Seseorang mencubit telinga si pria gempal, membuatnya melepas pisau lipat yang dia pegang. Pria jangkung itu kaget dan melihat ke belakang, yang mencubit telinganya adalah Francis yang berdiri di belakang mereka.

Francis: “Anak kecil tak boleh main senjata tajam.”
Pria gempal: “AAARRGGH!! LEPAS! LEPAS!”
Pria jangkung: “Albert!! Hei, lepaskan dia!”
Francis: “Dengan senang hati.”

Dia melepaskan cubitannya, Albert meringis kesakitan sambil memegang telinganya. Si pria jangkung berdiri dan menghampiri Albert yang telinganya memerah karena cubitannya, Francis sendiri langsung melewati mereka dan menghampiri si gadis kecil. Dia membalikkan tubuh sang gadis, ternyata dia pingsan.

Francis: “Ah, ternyata kelakuan seperti inipun masih bisa kulihat di zaman ini.” (menoleh ke belakang)
Albert: “Hei kau!! Jangan kira bisa lolos dari hal ini!”
Francis: “Lolos? Kau kira aku akan lari dari kalian? Ng... hei, aku bisa lancar berbahasa Norwegia. Hebat, walau aku berusaha berbahasa Inggris sekalipun, lidahku hanya bisa mengucapkan bahasa ini saja.”
Albert: “Apa ada yang salah dengan orang ini, Jacques?”
Jacques: “Entahlah.”
Francis: “Ah, aku tak tahu apa masalahmu dengan anak ini, tapi bukankah lebih baik jika kau tinggalkan dia sendiri?”
Albert: “Ho, jadi kau mau menolong anak ini? Asal kau tahu, ibu dari anak itu sudah berhutang banyak kepada kami.”
Jacques: “Kepada boss.”
Albert: “Oh, maaf. Kepada boss kami, orang tuanya sudah meminjam uang dalam jumlah besar yang bahkan bila kau hitung pun takkan selesai dalam semalam. Oleh karena itu, seluruh keluarga anak itu termasuk dirinya harus melunasi utang itu bahkan bila harus mengorbankan nyawa sekalipun.”
Francis: (mengorek telinga dengan kelingking) “Banyak bicara, kepalaku jadi pusing. Yang terpenting sekarang...” (melirik gadis kecil dan membopongnya)
Jacques: “Hei, mau kau bawa ke mana anak itu!”
Albert: “Dengarkan jika orang sedang bicara! Ugh, Jacques!”

Jacques mengambil pisau yang terjatuh di tanah dan melemparkannya pada Francis, tapi dengan sigap ditangkap olehnya dengan mulutnya. Sementara mereka melihat dengan tak percaya, ada beberapa orang warga yang datang karena mendengar keributan. Mereka berdua lengah dan membelakangi Francis, di saat bersamaan Francis menjatuhkan pisau ke tanah dan kaki kanannya menendang gagang pisau. Pisau itu langsung menancap di pantat Albert, membuat dia berteriak kesakitan. Beberapa orang sudah sampai di tempat dan melihat Albert yang jatuh tengkurap dengan pisau menancap di pantatnya, Jacques sendiri berdiri di sebelahnya.

Warga 1: “Ada orang dirampok!”
Warga 2: “Lihat, dia ditusuk dengan pisau oleh orang itu!”
Jacques: “Bu... bukan... aku tidak... dia yang...”

Ketika Jacques melihat ke belakang, Francis sudah tidak lagi berada di tempat. Sebuah tinju melayang ke wajah Jacques ketika dia kembali menghadap ke depan, dia jatuh tersungkur akibat dipukul salah seorang warga. Samar-samar Jacques melihat Francis di atas atap bangunan sambil membopong sang gadis cilik, kejadian semakin bertambah parah ketika beberapa orang mulai mengeroyoknya. Francis segera beranjak dari tempat dia berdiri dan pergi sambil melompati bangunan-bangunan, meninggalkan kedua orang dengan nasib di tangan warga yang marah.


11 Oktober 2010, 13:30, Norwegia, Oslo. Gadis cilik yang tadi dipalak oleh kedua preman itu tertidur di atas sebuah bangku taman, beberapa saat kemudian dia terbangun dan menyadari dirinya sudah ada di sebuah taman. Heran dengan apa yang sebenarnya terjadi, dia melihat Francis duduk tertidur di sampingnya sambil melipat kedua lengannya. Sang gadis kecil berdiri sejenak, bingkisan yang tadinya dia bawa berada di sebelah kiri Francis. Bingkisan itu kemudian diambil dan diamati sang gadis perlahan-lahan, dia kemudian mengocok-ngocok isinya. Gadis cilik itu kemudian mendekati Francis, dia berusaha melihat matanya dengan cara mendekatkan wajahnya pada wajah Francis. Perlahan-lahan dia melihat ke dalam kacamata yang Francis pakai, tapi dia sudah dikagetkan sebuah suara sebelum dia sempat mendekatkan wajahnya satu senti saja.

Francis: “Sudah bangun?”

Sang gadis yang terkejut setengah mati begitu Francis bangun hampir saja jatuh, tapi beruntung Francis menangkap tangannya dan menariknya. Dalam sekejap sang gadis sudah jatuh di atas pangkuan Francis, dia memandang Francis dengan wajah merah.

Francis: “Hati-hati, kau tidak apa-apa?”
Gadis cilik: “I... iya.”

Si gadis cilik turun dari pangkuan Francis, dia juga menyerahkan bingkisan yang jatuh di atas pangkuannya kepadanya dan kemudian berdiri.

Francis: “Pulanglah, sebelum dua orang itu mencarimu lagi. Aku juga harus pergi, ada sesuatu yang harus kucari.”
Gadis cilik: “Ah, tunggu!”
Francis: “Ada apa lagi?”
Gadis cilik: “Te... terima kasih.”
Francis: “Oh, itu bukan apa-apa.”
Gadis cilik: “Kakak siapa? Namaku Claudia.”
Francis: “Memang jika aku memberitahukan namaku, apa yang bisa kudapat?”
Claudia: “I... itu...”
Francis: (mendesah) “Dengar, kalau kau bisa memberitahuku di mana aku bisa membeli koran dan makanan, mungkin akan kuberitahu.”
Claudia: “Ah... aku paham kak! Maaf, boleh kupanggil kakak?”
Francis: “Terserah kau saja.”


Di depan sebuah kios buah-buahan, Francis baru saja membeli sebungkus besar buah apel. Francis merogoh sakunya sementara tangan satunya sibuk memegang bungkusan apel, uang receh yang dikeluarkan Francis berjatuhan. Tiba-tiba Claudia datang dan langsung membantu mengambilnya dan memasukkannya ke dalam saku Francis, kemudian Francis membayar sang pedagang dengan selembar uang kertas yang dia keluarkan.

Francis: “Dari mana saja kau?”
Claudia: “Maaf kak, ini koran yang kakak cari. Aku baru saja membelinya di jalan seberang sana, biar kubawakan barang kakak.”
Francis: “Tidak, terima kasih. Lagipula aku harus membawakan ini pada orang yang membutuhkan, berikan saja korannya.”
Claudia: “Baik, kalau itu yang kakak minta.” (menyerahkan koran)
Francis: (menerima koran) “Terima kasih. (meletakkan di atas bungkusan) Baiklah, aku pergi dulu.”
Claudia: “Tunggu! Kakak belum memberitahu namanya!”
Francis: “Francis Zero, puas? Sekarang cepat pergi, aku tak mau kau bertemu dengan kedua orang itu lagi.”
Claudia: “Francis... Zero? Baik, terima kasih, kak Zero!”

Francis melambaikan tangan sambil membelakangi Claudia, dia sudah menghilang di hadapan matanya ketika berbelok di balik bangunan. Claudia tersenyum simpul sambil menggumamkan sebuah lagu, tapi belum lima detik ada tangan yang memegang pundaknya ketika dia akan pergi dan membalikkan badan. Claudia menoleh ke belakang dan sedikit terkejut, Francis kembali menemui Claudia.

Francis: “Ng, boleh aku mampir sebentar ke rumahmu?”
Claudia: “Eh?”



Sore harinya, Claudia dan Francis berjalan bersama di sebuah pemukiman. Masih membawa koran dan bungkusan apel, Francis membawanya dengan wajah manyun. Mendadak Claudia berlari memasuki sebuah rumah kecil, Francis mengikutinya dengan berjalan perlahan. Dia berhenti sejenak ketika sudah berada tepat di depan rumah tersebut, rumah itu terletak di antara sebuah lapangan bola kecil dan tempat pembuangan sampah yang lumayan besar. Di lapangan itu ada beberapa anak lelaki bermain sepakbola, disaksikan tiga anak gadis. Ketika salah satu dari mereka mencetak gol, para gadis cilik bersorak dengan senangnya. Dengan pandangan memilukan, dia kemudian memikirkan sesuatu. Francis teringat ketika dia masih di masa depan dan masih anak-anak, dia sedang bermain kejar-kejaran dengan tiga orang anak kecil. Mereka berlari di tengah-tengah tumpukan rongsokan besi, di sekitarnya berdiri banyak bangunan industri dengan cerobong asap yang tinggi. Asap yang keluar sangat tebal sehingga menutupi langit, hanya sedikit sinar matahari keluar dari kumpulan asap itu. Di atas langit beterbangan satu atau dua pesawat, membuang barang-barang rongsokan ke tempat sampah di bawahnya. Semacam robot raksasa dengan roda buldozer mengeruk sampah-sampah itu dan memasukkannya ke dalam sebuah lubang di dalam tanah. Ketika berkejar-kejaran, mendadak Francis berhenti sejenak memandang langit. Dia melihat beberapa cahaya berkilauan di balik asap, tapi itu bukanlah cahaya matahari. Semakin lama cahaya itu semakin dekat, wujud dari cahaya itu terungkap. Ada dua sampai tiga buah roket meluncur, tapi Francis hanya diam saja ketika roket itu mengarah kepadanya. Salah satunya terbang di atas kepala Francis, keduanya terbang melewati bagian kanan dan kirinya. Roket-roket itu terus meluncur ke arah sebuah bangunan industri, salah satunya menabrak dan menghancurkan sebuah robot pengeruk sampah yang sedang berjalan. Yang kedua arahnya melenceng karena sedikit menabrak tubuh robot yang hancur dan akhirnya menghancurkan pesawat pembuang sampah, namun keadaan menjadi sedikit berbeda ketika roket yang tersisa berhasil meluncur masuk ke dalam bangunan. Semacam percikan listrik keluar dari dalam bangunan, lama-kelamaan percikan itu menjadi semakin besar dan berikutnya terjadi ledakan besar. Francis tersadar dari lamunannya, bajunya sedari tadi sudah ditarik oleh Claudia.

Claudia: “Kak Zero, apa yang kakak pikirkan? Ayo masuk, ibuku memperbolehkan kakak untuk masuk ke dalam.”
Francis: “Oh, baiklah.”

Francis dan Claudia masuk ke dalam rumah tersebut, mereka tak sadar ada dua pasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan. Di dalam rumah, Francis duduk di depan sebuah meja. Apel dan koran yang dia beli diletakkan di atas meja, dia membaca halaman depan koran. Judul yang tertera 'Keajaiban Yang Dicuri', di dalam berita menunjukkan foto tembok yang dibobol. Tembok tersebut dilubangi dengan bentuk segitiga, beberapa polisi memeriksa lubang tersebut.

Francis: “Hee, jadi koran itu seperti ini? Kenapa orang di zaman ini senang menyusahkan diri mereka demi menempelkan gambar dan tulisan seperti ini? Ah ya, lebih baik aku coba makanan yang baru kubeli. (mengeluarkan sebuah apel) Kalau tak salah nama makanan ini 'apel', tapi bagaimana cara makan ini?”

Francis meletakkan apel itu di meja, dia menggigit tangkai yang ada di atas buah apel. Dia berusaha menyedotnya, tapi tidak ada yang terjadi. Dia kemudian menggenggam dan mengocok-ngocoknya, setelah itu dia mendekatkan telinganya ke apel itu. Apel itu kemudian diletakkan lagi di atas meja dan kemudian dipandangi, Claudia sendiri tiba-tiba sudah berada di belakang Francis.

Claudia: “Ada masalah?”
Francis: (menoleh ke belakang) “Bagaimana cara kau makan ini?” (menunjuk apel)
Claudia: “Kak Zero tidak pernah makan apel?”
Francis: “Sebenarnya baru pertama kali ini aku melihat makanan seperti ini, kukira di dalamnya ada semacam cairan yang bisa kusedot.”
Claudia: “Ahahaha, kak Zero lucu. Bisa kakak berikan apel itu?”


Beberapa saat kemudian, di hadapan Francis telah tersaji apel yang sudah dipotong-potong dan dihidangkan di atas piring. Francis memandangi apel itu dari dekat, menyentuhnya dengan jari telunjuknya.

Claudia: “Maaf, kak Zero. Kenapa tidak coba dimakan saja?”
Francis: (melirik Claudia) “Kau benar, (mengambil sepotong apel) akan kucoba.”

Francis memasukkan potongan apel itu ke dalam mulut dan menelannya, Claudia hanya memandanginya dengan heran.

Francis: “Sedikit manis... tapi rasanya agak keras saat ditelan.”
Claudia: “Kak Zero, kenapa kakak langsung menelannya?”
Francis: “Eh? Salah ya?”
Claudia: “Jika kak Zero menelannya, tentu saja rasa yang dirasakan hanya sedikit. Kakak harus menggigit dan mengunyahnya terlebih dahulu, lihat dan tirukan Claudia.”
Francis: “Baik.”
Claudia: (mengambil sepotong apel) “Ambil satu apel, masukkan ke mulut, gigit. Jangan ditelan, coba kak Zero merasakan dengan lidah kakak sendiri.”
Francis: (mata berbinar-binar) “Oh, tak kusangka rasanya semanis ini.”
Claudia: “Enak bukan? Sekarang kak Zero harus menggigitnya sampai jadi hancur, setelah rasa manisnya hilang kakak harus menelannya.”
Francis: (suara hati) “Tak kusangka jika untuk menikmati makanan di zaman seperti ini aku harus melakukan itu, aku sendiri hanya bisa mengkonsumsi setidaknya tiga tabung suplemen selama sehari dengan cara menyedotnya.”

Sementara itu di luar rumah, dua orang yang tadinya mengganggu Claudia berdiri mengamati rumah yang dimasuki Francis. Mereka melihat dari balik tiang listrik, orang itu tak lain dan tak bukan adalah Albert dan Jacques. Albert sedari tadi memegang pantatnya yang tadi tertusuk pisau, Jacques sendiri kepalanya diperban sehingga hanya terlihat wajahnya saja. Hidungnya ditempeli plester, mata kirinya ditutupi kapas. Albert kemudian mengeluarkan sebuah telpon genggam dan menghubungi seseorang, dalam 5 detik seseorang menjawab panggilannya.

Albert: “Bos, kita sudah berada di depan rumah keluarga Welsley. Apa yang harus kita lakukan?”
?: “Kalian tunggu saja di sana, nanti malam aku akan ke sana.”
Albert: “Apa bos yakin? Kami berdua sudah tidak sanggup melakukan apa-apa dengan keadaan kami sekarang, tapi mungkin ada yang bisa kami lakukan.”
?: “Awasi saja mereka, lagipula kalian tahu bukan jika ada salah seorang melawan kita akan habisi mereka semua.”
Albert: “Aku paham bos.” (menyeringai)

Sunday, October 14, 2012

Karakteristik

Dalam cerita ini, karakter utama memakai bahasa Inggris. Sedangkan karakter kedua menggunakan bahasa Jepang, bahasa yang dipakai dalam cerita ini dijadikan bahasa Indonesia agar mudah dibaca dan dimengerti. Untuk karakter utama, Francis Zero. Memang sudah saya sebutkan karakteristiknya di awal cerita, tapi kurang sedikit. Orangnya berambut merah panjang sampai ke leher, ujung rambutnya berwarna kuning. Punya sedikit jenggot, hidungnya pesek, beralis tipis, memiliki bekas luka di pelipis kiri dan warna matanya hijau. Di bawah ini adalah contohnya, sudah diwarnai.

Uchida Tomizawa sendiri adalah orang Jepang, cyborg dengan wajah seperti tengkorak. Kecuali di bagian mata dan hidungnya, matanya sipit jadi tidak kelihatan seperti apa warna matanya, hidungnya juga besar. Cerita ke tiga sedang saya buat, mohon ditunggu cepat atau lambat.

Monday, October 1, 2012

Level 2


PENJELASAN

Oslo, Norwegia, 11 Oktober 2010, 04:30. Francis dan Uchida sedang berdiri di depan sebuah pintu, Uchida maju dan mencoba membuka pintu dengan jari-jarinya yang besar. Perlahan-lahan dia memutar gagang pintu itu, namun ternyata pintu tersebut terkunci. Uchida kemudian menekuk jari telunjuk tangan kanannya sampai terdengar bunyi 'klek', dia kemudian berlutut dan melakukan sesuatu pada gagang pintu itu.

Francis: “Jika sejak awal kau bisa berbicara dengan bahasaku kenapa tidak kau lakukan dari tadi?”
Uchida: “...jujur saja... sebenarnya... aku bahkan tak bisa berbicara bahasamu.”
Francis: “Itu kau bisa bicara.”
Uchida: “Ini kemampuan dari penerjemah universal-ku, lihat?” (menolehkan kepala ke belakang dan menjulurkan lidah)
Francis: “Ada sisa makanan menempel di situ.”
Uchida: “Bukan itu! Lidahku ini berfungsi sebagai alat penerjemah, jika aku menariknya... (menarik lidahnya dengan dua jari tangan kiri) maka aku akan berbahasa sama dengan yang kau ucapkan.” (bahasa Jepang)
Francis: “...sekarang kau berganti bahasa...”
Uchida: (menarik lidah lagi) “Ini bukan main-main, karena aku memang tak bisa bicara berbagai bahasa pada akhirnya kemampuan untuk menerjemahkan dipasang di lidahku.”
Francis: “Sekarang kau bicara bahasaku lagi, dan siapa orang yang cukup bodoh untuk memasangnya di situ?”
Uchida: “Kau sedang bicara pada orang bodoh itu sekarang, kita sudahi dulu pembicaraan tak penting ini. Pertama kita harus cari pakaian untukmu, apa kau tak kedinginan dengan penampilan seperti itu?”
Francis: “Aku sudah terbiasa seperti ini di malam hari, ngomong-ngomong apa yang sedari tadi kau lakukan?”
Uchida: “Membuka pintu ini, lihat?”

Uchida menunjukkan kedua tangannya, jari-jari telunjuk di kedua tangannya tertekuk ke belakang. Dari dalamnya keluar semacam kawat yang dibengkokkan, Francis menatapnya dengan pandangan kosong.

Francis: “Apa-apaan itu?”
Uchida: (kembali berusaha membuka pintu)“Pintu ini dikunci, jadi aku berusaha membukanya dengan ini.”
Francis: “Maksudmu dilindungi semacam password?”
Uchida: “Bukan begitu, mekanisme pintu ini sama sekali berbeda dengan zamanmu. Pintu seperti ini sudah tak digunakan lagi sejak tahun 2143, aku sendiri mencoba membukanya dengan metode yang biasanya digunakan oleh kebanyakan pencuri pada zaman itu.”
Francis: “Jadi kau melihat ke dalam database tentang hal seperti ini dan mempelajarinya sebelum kita ke zaman ini?”
Uchida: “Tidak, di zamanku pintu ini masih dipakai di kediamanku. Ketika aku masih anak-anak, aku mempelajari cara membukanya untuk meloloskan diri.”
Francis: “Bahkan orang seperti dirimu ditahan di dalam rumahnya sendiri, kasihan sekali.” (melipat kedua lengan di depan dada)
Uchida: “Tidak, tidak. Bukan ditahan, aku dikurung.”
Francis: “Bukannya itu sama saja?”
Uchida: “Setiap aku melakukan kesalahan aku selalu dikurung dalam sebuah ruangan dalam sehari tanpa makan dan minum setelah itu aku dikeluarkan, sejak itulah aku mempelajari metode ini.”
Francis: “Hanya sehari? Baik sekali Alterion memperlakukan para ilmuwan mereka, berbeda dengan kami yang ditangkap.”
Uchida: “Siapa yang mengatakan bahwa Alterion yang melakukannya?”
Francis: (pandangan heran) “Bukan? Lalu siapa?”
Uchida: “Ayahku, dia selalu melakukan itu jika aku tak sengaja melakukan kesalahan. Dulu aku pernah sekali menjatuhkan tanaman bonsai kesukaannya, dan hasilnya seperti yang kukatakan tadi.”
Francis: “Heh, 'ayah'-mu ya?”
Uchida: “Kenapa?”
Francis: “Berbeda denganku, aku bahkan tak tahu siapa orang tuaku. Yang membesarkanku hanyalah seorang wanita mutan dan seorang anak lelaki, tapi mereka kusebut sebagai 'keluarga'.”
Uchida: “Apa kau memanggil wanita itu 'ibu'?”
Francis: “Tidak, aku panggil dia Annete.”
Uchida: “Ah, sudah terbuka.”

Uchida mencoba membuka gagang pintu dengan kedua jarinya perlahan-lahan, pintu itu berhasil dibuka. Pelan-pelan pintu itu dibuka, di dalamnya terdapat ruangan yang cukup gelap. Dia langsung berjalan mengendap-endap ke dalam, Francis hanya bisa diam dengan pandangan kosong. Dari dalam ruangan gelap, muncul kepala Uchida dengan wajah jengkel.

Uchida: “Jangan hanya berdiam diri, masuk ke sini dan bantu aku!” (nada datar)


Beberapa saat kemudian, Francis dan Uchida terlihat berjalan membawa kotak kardus yang besar. Masing-masing membawa satu kotak, mereka masuk ke dalam gang yang tadinya tempat mereka bertempur dengan robot nyamuk. Di dalam sana mereka bertemu dengan gelandangan yang tadinya juga ikut terlibat dalam peristiwa tersebut, mereka sama sekali tak bereaksi ketika melihat mereka. Uchida meletakkan kotak itu di samping tempat sampah, Francis mengikuti seperti yang dia lakukan dengan perasaan heran.

Francis: “Kenapa sepertinya mereka bertingkah seolah tak terjadi apa-apa?”
Uchida: “Ingatan mereka sudah sedikit kumodifikasi, hasilnya seperti yang kau lihat.”
Francis: “Pantas saja mereka diam walau melihat dirimu yang... (Uchida menatap dengan pandangan seram) aneh.”
Uchida: “Yang terpenting sekarang, kita buka kotak ini.”
Francis: “Memang apa isinya?”
Uchida: “Kau masih tak menyadari ini apa setelah yang kukatakan padamu tadi?”
Francis: “Kau hanya menyuruhku untuk mengambil sebuah kotak saja, untuk apa aku pikirkan isinya?”
Uchida: “Bakayaro (bodoh), memangnya dari tadi kau tidak penasaran dan memikirkan apa isinya sepanjang perjalanan tadi?”
Francis: “Oh, maaf. Pikiranku sempat tertuju pada keadaan di kota yang begitu tenang ini, kukira keadaannya sama dengan di masa depan.”
Uchida: “Memang apa yang kau harapkan ketika melihat semua itu?”
Francis: “Tidak ada satupun gedung laboratorium ataupun pabrik senjata kulihat, apakah masa lalu itu sedamai ini?”
Uchida: “...tidak selalu, itu hanya bagian dalam... Tapi masih jauh lebih baik dengan di masa depan, kau sependapat denganku?”
Francis: “Mungkin... (mulai membuka kotak) kita jadi mengeluarkan isi kotak ini?”
Uchida: “Ah, tunggu...”

Francis sudah membuka kotak itu, di dalamnya terdapat berbagai macam pakaian. Francis menatap Uchida dengan wajah bodoh, wajah yang seolah bertanya 'Apa ini?'.

Uchida: “Itu persediaan pakaian untuk kita berdua, kotak yang kau bawa adalah milikmu. Yang kubawa adalah milikku, jadi kau bisa memilih pakaian yang ingin kau pakai.”
Francis: “Oh, (mengaduk-aduk isi kotak) jadi seperti ini pakaian di masa lalu?”
Uchida: “Silahkan melihat, pakailah kalau ada yang kau suka.” (membuka kotak)
Francis: “Baju ini tak ada lengannya, celana ini bisa melar. Hmmm, bagaimana cara pakai ini?”
Uchida: “Aduh, sepertinya tidak ada ukuran yang pas denganku di dalam sini. Francis, bagaimana dengan... mu?”

Uchida melihat dengan pandangan jijik, di hadapannya berdiri Francis dengan penampilan konyol. Di kepalanya dia memakai rok, baju yang dia pakai berwarna pink dan bergambar kelinci, dia memakai jas sebagai bawahannya.

Uchida: “FRANCIS!!”


Uchida: “Dasar... lebih baik kau tanyakan dulu pakaian seperti apa yang bisa dipakai, untung saja aku menemukan baju yang sesuai dengan ukuranmu.”
Francis: “Apa kau yakin?”
Uchida: “Tentu saja, untuk pemuda sepertimu pakaian itu terlihat cocok.”
Francis: “...walau kau bilang begitu... sampai kapan aku harus memakainya?”

Di hadapan Uchida kini berdiri Francis yang sudah memakai sebuah kaus tak berlengan warna merah dengan gambar tengkorak dan kampak yang menancap di kepalanya, celananya sendiri adalah celana jeans biru dengan panjang sampai lutut. Dia juga memakai semacam saputangan kuning yang diikat di sikut bagian kiri, tapi ada satu hal yang terasa kurang di telapak kakinya.

Uchida: “Aku lupa untuk membawa sepatu... tapi itu bisa diurus belakangan, dengan begini kau tinggal belajar bagaimana caranya berkomunikasi dengan masyarakat sekitar.”
Francis: “Berkomunikasi? Gampang saja, hei kalian!” (memanggil gelandangan)

Francis memanggil untuk kedua kalinya tapi tak ada respon, dia menggaruk-garuk kepalanya dan maju mendekati mereka. Tanpa ragu-ragu dia menepuk bahu seorang dari mereka yang sedang duduk tertidur, dia pun menanyakan sesuatu.

Francis: “Maaf mengganggu, tapi bisa bantu aku?”

Tak disangka jika sang gelandangan berbicara dengan bahasa yang tidak dia pahami, banyak tanda tanya muncul di atas kepala Francis. Dia lalu berbalik dan mendekati Uchida dengan wajah bodoh, wajah yang seolah mengucapkan 'Aku tak mengerti.”

Uchida: “Ini Norwegia, bahasa Inggris-mu takkan bisa dipakai untuk bercakap-cakap dengan mereka. (mendesah) Apa boleh buat.”

Uchida mencari sesuatu di dalam tas yang dia bawa, dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Benda itu diangkat tinggi-tinggi dan dengan bangganya dia memperlihatkan barang yang dia ambil kepada Francis.

Uchida: “Ini dia, alat penerjemah universal dalam bentuk kacamata! Dengan memakai ini kau bisa mengerti kata-kata dalam berbagai bahasa, hebat bukan?”
Francis: “Berikan padaku (merampas kacamata), lalu bagaimana cara kerjanya?”
Uchida: “......”
Francis: “Oh, ada tombolnya.”

Uchida hanya bisa meringkuk dan menggerutu sambil memutar-mutar jari telunjuknya ke tanah, Francis memakai kacamata itu dan menekan tombol merah yang ada di bagian kanan gagang kacamata. Awalnya tak terjadi apa-apa ketika dia memakainya, selanjutnya dia mencoba berbicara dengan para gelandangan. Ketika gelandangan itu mulai balik berbicara, mendadak di lensa kacamata muncul tulisan-tulisan.

Bahasa pemakai: Inggris
Bahasa target: Norwegia
Lakukan Penyesuaian

Seorang gelandangan berbicara, bersamaan dengan itu muncul tulisan yang merupakan terjemahan dari kata-kata yang dia ucapkan di lensa.

Gelandangan: “Ada keperluan apa?”
Francis: (bahasa Inggris) “Kebetulan sekali, kami perlu bantuan kalian.”
Gelandangan: “Maaf, aku tak bisa berbahasa Inggris.”
Francis: “Ugh, tunggu sebentar (melepas kacamata) apa ada tombol yang bisa membuatku berbahasa Norwegia?”

Francis melihat tombol biru di bagian kiri gagang kacamata, dia menekan tombol tersebut dan mencoba kembali memakainya. Ketika dia mencoba berbicara, di lensa muncul terjemahan dari kata yang dia katakan lengkap dengan ejaannya. Dia berdecak dan merasa jengkel, akhirnya dia mencoba berbicara dengan bahasa yang sudah diterjemahkan.

Francis: “A... aku per... lu bantuan.”
Gelandangan: “Oh, baru belajar bicara dengan bahasa kami.”
Francis: (menoleh ke belakang) “Uchida, tolong bantu aku sebentar.”

Uchida masih meringkuk sambil memutar-mutar jari telunjuknya ke tanah. Francis menghampiri Uchida dan berjongkok, dia menggaruk-garuk kepalanya karena bingung ingin berkata apa.

Francis: “Ugh, aku... perlu pertolonganmu...”

Francis mendengar Uchida menggumam dalam bahasa Jepang, dia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya dan matanya bergerak ke atas dan ke bawah karena semakin khawatir melihat keadaan Uchida. Francis berdiri menjauh dari Uchida dan bermaksud mencoba kembali bicara pada para gelandangan, sebelum itu dia mencoba latihan untuk berkomunikasi. Dia mencoba mengeja beberapa kata dengan bahasa Norwegia, dia terus mencoba dan mencoba walau masih agak canggung.


Beberapa menit kemudian, Uchida yang masih merenggut di ujung gang dikejutkan oleh sebuah tepukan di punggungnya. Dia perlahan-lahan menolehkan kepalanya ke belakang, matanya sedikit terbelalak ketika melihat apa yang dia lihat. Francis sudah berdiri di hadapannya sambil didampingi oleh para gelandangan, mereka bertiga memegang spanduk bertuliskan kata 'Maaf' dalam bahasa Norwegia.

Francis: “Aku tak tahu kalau cara ini bisa membuatmu tenang atau tidak, tapi aku tak mengharapkan kau mau memaafkan atau tidak. Aku hanya ingin... kau membantuku, dan sebagai gantinya... aku juga... akan membantumu.”
Uchida: (tatapan kosong) “......”
Francis: “Jadi... mulai sekarang bantulah diriku, aku akan... turuti beberapa dari perintahmu. Jangan salah paham! Bukannya aku tak mau menuruti semua kata-katamu, maksudku adalah... perintahmu yang mudah dimengerti dan mudah dilakukan oleh diriku, itu saja!”
Uchida: “...... (terdiam sepuluh detik) pft...”
Francis: “Eh?”
Uchida: “Uhahahahah! Apa-apaan itu?!” (bahasa Jepang)

Francis hanya bisa bengong sambil melihat Uchida yang tertawa sambil memukul-mukul tanah, berikutnya dia berguling-guling sambil memegang perutnya. Kejadian ini berlangsung selama semenit, Uchida langsung berdiri dan mengusap air mata yang keluar karena tertawa yang berlebihan.

Uchida: “Ugh... aduh, sudah lama aku tak tertawa seperti ini. Kau ini memang bodoh ya?”
Francis: “Apa maksudmu?! Aku sudah serius mengungkapkan hal semacam ini!”
Uchida: “Kau bukan orang yang pandai minta maaf, dasar tsundere.”
Francis: (jengkel) “Ugh...”
Uchida: “Tapi aku salut denganmu yang mau berusaha.” (mengusap kepala Francis)
Francis: “Jauhkan tanganmu dari kepalaku!”
Uchida: “Kau payah saat meminta maaf, lebih payah lagi saat menjaga sikap.”
Francis: “Maaf saja kalau aku memang seperti itu.”
Uchida: “Baiklah, mari kita mulai susun rencana untuk hari ini!” (menepukkan kedua tangan)


Beberapa menit kemudian, Uchida sedang menulis dan menggambar sesuatu dengan sebuah kapur. Alas yang dipakai untuk menulis adalah kotak kardus yang tadinya adalah tempat pakaian, Uchida berdeham dan memanjangkan jari telunjuk kanannya.

Uchida: “Dengar dan perhatikan baik-baik, jangan sampai satu hal pun terlewatkan dalam pikiranmu. Di zaman kita, Alterion menguasai hampir seluruh isi planet ini. Sekarang kita sudah meninggalkan tahun 2345 dan pergi ke tahun 2010, tiga abad lebih dari zaman kita. Dan tentu saja kita ke sini bukan sekedar untuk berdarmawisata, kita juga mencari petunjuk yang berhubungan dengan mereka.”
Francis: “Aku paham.”
Uchida: “Masih terlalu cepat. (mengetuk dahi Francis dengan jarinya yang panjang) Ada pertanyaan?”
Francis: “Kenapa kau mengkhianati Alterion?”
Uchida: “Sebenarnya bukan berkhianat, tepatnya aku mengundurkan diri.”
Francis: “Maaf?”
Uchida: “Aku serahkan jabatanku pada seseorang, kuberikan dia akses sepenuhnya di laboratorium tempatku bekerja. Lagipula laboratorium itu juga tempat tinggalku, semuanya kutitipkan kepada dirinya.”
Francis: (berdiri) “Keparat, itu berarti kau masih setia pada Alterion?! Argh!” (disetrum jempol)
Uchida: “Paling tidak dengarkan ceritaku sampai habis, masih mau dilanjutkan? (Francis mengangguk) Bagus, kulanjutkan. Seperti yang kau ketahui aku adalah...”
Francis: “Kepala Penelitian Laboratorium Alterion Cabang Asia ke 5, aku sudah tahu hal itu lewat database.”
Uchida: (jengkel) “...lebih baik kau diam, kau boleh bicara jika kupersilahkan. Kecuali... kau mau otakmu yang kecil itu dialiri listrik sebesar 100ribu volt?”

Wajah Uchida begitu dekat dengan wajah Francis, jempolnya hampir menyentuh dahi Francis. Dia mengedipkan kedua matanya dua kali, menahan nafasnya dan mengangguk.

Uchida: “Bagus, aku dulu memang seperti yang kau katakan barusan.”
Francis: (suara hati) “Begitu dekatnya wajahku dengan wajahmu, nafasmu yang bau seperti minyak mentah itu bisa kurasakan.”
Uchida: “Aku menitipkan laboratorium itu pada dirinya yang juga merupakan salah satu dari anggota keluargaku, bukan keluarga angkat tapi keluarga kandung. Aku menitipkannya karena masih ada penelitian yang belum kuselesaikan, salah satu jalan keluarku untuk mendapatkan tubuh manusia normal. Memang benar bila aku mengepalai Penelitian dan Pengembangan Organisme Cyber atau bisa disingkat cyborg, selama kurang lebih 150 tahun aku membantu Alterion untuk memberikan mereka kekuatan."
Francis: (suara hati) "Astaga, ternyata dia sudah tua bangka."
Uchida: "Asal kau tahu aku tidak bergabung dengan mereka atas keinginanku sendiri, mereka seenaknya datang mendobrak pintu rumah seseorang. Aku melawan mereka, tapi mereka membalas dengan menghancurkan setengah dari kediamanku. Akibatnya sebagian besar tubuhku luka parah dan hasilnya seperti yang kau lihat, (menunjuk wajah sendiri) aku lalu dibawa dan tubuhku dioperasi. Untungnya aku masih bisa selamat, tapi saat itu hanya bagian atas tubuhku yang bisa diselamatkan. Tubuhku yang sudah rusak diganti dengan mesin, sisa-sisanya mungkin sudah dibuang atau disimpan di laboratorium biologis. Aku diberi kesempatan untuk hidup dengan separuh tubuhku, tapi itu juga sebuah kesialan untukku. Selain tak bisa buang air dan gas, hidupku juga tinggal setengah tahun.”
Francis: (suara hati) “Otakmu juga setengah.”
Uchida: “Dalam keadaan seperti itu pun, aku masih dipaksa untuk bekerja. Mereka memasukkanku ke dalam ruangan dan menyuruhku untuk memperbaiki salah satu pasukan mereka, hal yang sama juga terjadi pada ilmuwan yang ditangkap selain diriku. Setelah dikurung bersama dengan seorang cyborg selama seharian penuh tanpa diberi istirahat, makan dan minum, mereka mulai masuk dan memeriksa hasil kerja kami. Untungnya aku berhasil menyelesaikannya dalam waktu yang ironisnya sama dengan tahun di mana kita kabur, 23 jam 45 menit. Mereka yang tak berhasil berakhir dengan menyedihkan, menjadi kelinci percobaan, otak dikeluarkan dari dalam kepala kemudian diteliti memorinya. Yang berhasil dijadikan peneliti tetap dalam salah satu laboratorium cabang, ternyata hal itu adalah semacam tes. Sejak saat itu, aku bekerja di bawah pengawasan mereka. Aku pun diberi kebebasan untuk melakukan penelitian pribadi untuk memperbaiki kekurangan tubuhku, dan itu memerlukan waktu 22 tahun. Selama itu aku dibantu oleh putriku, masih manusia biasa bukan cyborg seperti... kita."
Francis: "Pasti wujudnya lebih buruk darimu." (suara hati)
Uchida: "Akhirnya aku pun mendapatkan bagian bawah tubuhku, walau tidak seperti yang kuinginkan. Aku menjalani hidupku sehari-hari sambil melihat rumahku yang direnovasi dan dirombak menjadi laboratorium cabang milik mereka. Di samping itu mereka terus-menerus mengirimiku 'barang' untuk diperbaiki, aku diberi batas waktu untuk menyelesaikannya. Hampir semua yang dikirim padaku selalu bisa kuselesaikan sesuai dengan batas waktu yang mereka berikan, jika telat sedikit saja aku akan dibawa ke salah satu laboratorium cabang untuk diberi tugas yang lebih berat. Sampai suatu hari ketika aku dibawa ke laboratorium tempat di mana kau tadinya ditahan, aku menemukan mesin waktu di sana. Tekhnologi yang seharusnya belum berhasil dikembangkan dan diidam-idamkan oleh para ilmuwan seperti diriku, aku mulai dikendalikan nafsu untuk mengetahui lebih banyak tentang mesin itu. Tapi aku tahu hal itu mustahil bagiku, jadi aku mulai melakukan investigasi tersendiri. Butuh waktu selama 10 tahun untuk mendapatkan informasi mengenai mesin ini, mereka sudah menggunakan mesin ini selama 300 tahun. Dan aku baru mengetahui jika Alterion sendiri mendapatkan bantuan dari masa lalu yaitu di zaman ini, tekhnologi yang mereka pakai dikirim dari masa lalu. Mesin waktu itu juga dikirim untuk mengirim bahan tambang yang belum ditemukan di masa lalu, 'Ulkamium' yang digunakan untuk membuat tubuh cyborg yang cukup kuat seperti dirimu. Tubuhku sendiri juga terdiri dari bahan tersebut, inilah hasilnya.” (membuka jubahnya)

Seluruh tubuh Uchida kini terlihat jelas, pemandangan itu membuat beberapa otot wajah Francis bergerak. Alis kirinya terangkat, pipi bagian kanan terangkat, pandangan jijik di mata, dan lidah sedikit menjulur. Dia memiliki tubuh berbentuk oval dari pundak sampai selangkangan, beberapa bagian tubuhnya mengambang dan tidak tersambung ke tubuhnya. Mulai dari kepala, tangan, dan kaki. Lutut sampai telapak kakinya terlihat seperti kaki gajah, sikut sampai telapak tangannya yang besar seperti gorila, serta kepala yang mengambang dan tanpa leher.

Francis: “Holy... $%@!” (kepala ditampar dengan kedua tangan Uchida secara bersamaan)


Uchida yang telah menutupi kembali tubuhnya dengan jubah, kini sudah duduk di atas tempat sampah. Francis dengan kedua pipi bengkak, berdiri lesu di depannya. Dari dalam gang mereka melihat banyak orang sudah berjalan dan kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya, Uchida menyerahkan kacamata yang tadi dikeluarkan kepada Francis.

Uchida: “Kau tadi sudah sedikit tahu cara pemakaian penerjemah universal, salah satu gagangnya terhubung langsung dengan otakmu. Tombol merah untuk pengaturan bahasa, jadi kalau ada orang bicara dengan bahasa lain langsung tekan dan bahasa akan diterjemahkan. Tombol biru adalah mode belajar, jadi jika kau ingin belajar bicara bahasa mereka harus kau ucapkan sesuai dengan teks yang ada di lensa.”
Francis: “Lalu bagaimana agar perkataanku terdengar fasih di telinga mereka?”
Uchida: “Oh, kau harus tekan kedua tombol secara bersamaan. Tapi kau harus pakai dulu lalu tekan tombol penyesuaian, setelah itu kau bisa lakukan sesuai dengan yang kukatakan.”
Francis: “Sudah kulakukan.” (baru selesai memakai kacamata)
Uchida: “Kau cepat belajar, tapi kau tidak sabaran. Baiklah, karena aku sudah mengajarimu cara pemakaiannya kini giliranmu untuk pergi bersosialisasi dengan mereka.”
Francis: “Ba... tunggu! Kenapa aku yang harus pergi?”
Uchida: “Sebab aku tak punya kemungkinan untuk bicara dengan mereka.”
Francis: “Bukankah kau bisa modifikasi ingatan mereka?!”
Uchida: “Itu jika mereka pingsan dan tak sadarkan diri, lagipula ini jaman yang berbeda dengan jaman kita. Takkan ada yang mau bicara dengan orang berperawakan seperti diriku, hasilnya nanti mereka malah ketakutan. Kau sendiri terlihat seperti manusia normal dari luar, jadi tidak masalah jika kau bicara dengan mereka.”
Francis: “...lalu apa hal pertama yang harus kulakukan?”
Uchida: “Carilah informasi, setidaknya dari koran atau televisi.”
Francis: “Tunggu dulu, apa itu koran dan televisi?”
Uchida: “Itu adalah semacam media yang memberikan kita informasi tertentu yang terjadi pada hari ini, hal semacam itu bisa kau lihat dijual di beberapa tempat. Koran adalah lembaran kertas berisi informasi berbentuk tulisan, sedangkan televisi memberi informasi baik secara langsung dari tempat kejadian atau direkam.”
Francis: “......” (tidak paham)
Uchida: “Oh ya, mungkin aku salah jika sebut alat yang kau pakai sebagai penerjemah universal. Masih ada kegunaan lain dari alat ini, aku tahu kau bukan orang yang suka diberi penjelasan panjang.”

Uchida menyentil bagian tengah kacamata itu, dalam sekejap sesuatu terjadi dalam diri Francis. Otaknya seperti dimasuki banyak data, bola matanya menjadi putih. Kejadian ini berlangsung selama semenit, Francis kini dalam keadaan membungkuk. Perlahan-lahan dia berdiri dan menatap Uchida, wajahnya kini terlihat berseri-seri.

Uchida: “Bagaimana?”
Francis: “Whoa, sepertinya aku sedikit mendapat kesegaran di kepalaku. Mungkinkah aku sekarang memiliki kecerdasan setara dengan Einstein? Tunggu, siapa itu Einstein?"
Uchida: (mengibas tangan) "Tidak sampai segitu, jadi apa kau bisa melaksanakan misi ini?"
Francis: "Siap dan segera berangkat."
Uchida: "Kalau begitu pergi dan mulailah mencari informasi, dan jangan lupa ada satu hal penting yang harus kau langsung bawa setelah ini."
Francis: "Apa itu?"
Uchida: "Makanan."
Francis: "......" (jengkel)
Uchida: (dipukul Francis) "Aduh! Jangan pukul aku!"
Francis: "Bisa-bisanya kau mengatakan soal makanan setelah penjelasan seperti itu!"
Uchida: "Apa boleh buat aku sudah kelaparan setelah kita tiba di zaman ini!"