PENJELASAN
Oslo,
Norwegia, 11 Oktober 2010, 04:30. Francis dan Uchida sedang berdiri
di depan sebuah pintu, Uchida maju dan mencoba membuka pintu dengan
jari-jarinya yang besar. Perlahan-lahan dia memutar gagang pintu itu,
namun ternyata pintu tersebut terkunci. Uchida kemudian menekuk jari
telunjuk tangan kanannya sampai terdengar bunyi 'klek', dia kemudian
berlutut dan melakukan sesuatu pada gagang pintu itu.
Francis:
“Jika sejak awal kau bisa berbicara dengan bahasaku kenapa tidak
kau lakukan dari tadi?”
Uchida:
“...jujur saja... sebenarnya... aku bahkan tak bisa berbicara
bahasamu.”
Francis:
“Itu kau bisa bicara.”
Uchida:
“Ini kemampuan dari penerjemah universal-ku, lihat?” (menolehkan
kepala ke belakang dan menjulurkan lidah)
Francis:
“Ada sisa makanan menempel di situ.”
Uchida:
“Bukan itu! Lidahku ini berfungsi sebagai alat penerjemah, jika aku
menariknya... (menarik lidahnya dengan dua jari tangan kiri) maka aku
akan berbahasa sama dengan yang kau ucapkan.” (bahasa Jepang)
Francis:
“...sekarang kau berganti bahasa...”
Uchida:
(menarik lidah lagi) “Ini bukan main-main, karena aku memang tak
bisa bicara berbagai bahasa pada akhirnya kemampuan untuk
menerjemahkan dipasang di lidahku.”
Francis:
“Sekarang kau bicara bahasaku lagi, dan siapa orang yang cukup
bodoh untuk memasangnya di situ?”
Uchida:
“Kau sedang bicara pada orang bodoh itu sekarang, kita sudahi dulu
pembicaraan tak penting ini. Pertama kita harus cari pakaian untukmu,
apa kau tak kedinginan dengan penampilan seperti itu?”
Francis:
“Aku sudah terbiasa seperti ini di malam hari, ngomong-ngomong apa
yang sedari tadi kau lakukan?”
Uchida:
“Membuka pintu ini, lihat?”
Uchida
menunjukkan kedua tangannya, jari-jari telunjuk di kedua tangannya
tertekuk ke belakang. Dari dalamnya keluar semacam kawat yang
dibengkokkan, Francis menatapnya dengan pandangan kosong.
Francis:
“Apa-apaan itu?”
Uchida:
(kembali berusaha membuka pintu)“Pintu ini dikunci, jadi aku
berusaha membukanya dengan ini.”
Francis:
“Maksudmu dilindungi semacam password?”
Uchida:
“Bukan begitu, mekanisme pintu ini sama sekali berbeda dengan
zamanmu. Pintu seperti ini sudah tak digunakan lagi sejak tahun 2143,
aku sendiri mencoba membukanya dengan metode yang biasanya digunakan
oleh kebanyakan pencuri pada zaman itu.”
Francis:
“Jadi kau melihat ke dalam database tentang hal seperti ini dan
mempelajarinya sebelum kita ke zaman ini?”
Uchida:
“Tidak, di zamanku pintu ini masih dipakai di kediamanku. Ketika
aku masih anak-anak, aku mempelajari cara membukanya untuk meloloskan
diri.”
Francis:
“Bahkan orang seperti dirimu ditahan di dalam rumahnya sendiri,
kasihan sekali.” (melipat kedua lengan di depan dada)
Uchida:
“Tidak, tidak. Bukan ditahan, aku dikurung.”
Francis:
“Bukannya itu sama saja?”
Uchida:
“Setiap aku melakukan kesalahan aku selalu dikurung dalam sebuah
ruangan dalam sehari tanpa makan dan minum setelah itu aku
dikeluarkan, sejak itulah aku mempelajari metode ini.”
Francis:
“Hanya sehari? Baik sekali Alterion memperlakukan para ilmuwan
mereka, berbeda dengan kami yang ditangkap.”
Uchida:
“Siapa yang mengatakan bahwa Alterion yang melakukannya?”
Francis:
(pandangan heran) “Bukan? Lalu siapa?”
Uchida:
“Ayahku, dia selalu melakukan itu jika aku tak sengaja melakukan
kesalahan. Dulu aku pernah sekali menjatuhkan tanaman bonsai
kesukaannya, dan hasilnya seperti yang kukatakan tadi.”
Francis:
“Heh, 'ayah'-mu ya?”
Uchida:
“Kenapa?”
Francis:
“Berbeda denganku, aku bahkan tak tahu siapa orang tuaku. Yang
membesarkanku hanyalah seorang wanita mutan dan seorang anak lelaki,
tapi mereka kusebut sebagai 'keluarga'.”
Uchida:
“Apa kau memanggil wanita itu 'ibu'?”
Francis:
“Tidak, aku panggil dia Annete.”
Uchida:
“Ah, sudah terbuka.”
Uchida
mencoba membuka gagang pintu dengan kedua jarinya perlahan-lahan,
pintu itu berhasil dibuka. Pelan-pelan pintu itu dibuka, di dalamnya
terdapat ruangan yang cukup gelap. Dia langsung berjalan
mengendap-endap ke dalam, Francis hanya bisa diam dengan pandangan
kosong. Dari dalam ruangan gelap, muncul kepala Uchida dengan wajah
jengkel.
Uchida:
“Jangan hanya berdiam diri, masuk ke sini dan bantu aku!” (nada
datar)
Beberapa
saat kemudian, Francis dan Uchida terlihat berjalan membawa kotak
kardus yang besar. Masing-masing membawa satu kotak, mereka masuk ke
dalam gang yang tadinya tempat mereka bertempur dengan robot nyamuk.
Di dalam sana mereka bertemu dengan gelandangan yang tadinya juga
ikut terlibat dalam peristiwa tersebut, mereka sama sekali tak
bereaksi ketika melihat mereka. Uchida meletakkan kotak itu di
samping tempat sampah, Francis mengikuti seperti yang dia lakukan
dengan perasaan heran.
Francis:
“Kenapa sepertinya mereka bertingkah seolah tak terjadi apa-apa?”
Uchida:
“Ingatan mereka sudah sedikit kumodifikasi, hasilnya seperti yang
kau lihat.”
Francis:
“Pantas saja mereka diam walau melihat dirimu yang... (Uchida
menatap dengan pandangan seram) aneh.”
Uchida:
“Yang terpenting sekarang, kita buka kotak ini.”
Francis:
“Memang apa isinya?”
Uchida:
“Kau masih tak menyadari ini apa setelah yang kukatakan padamu
tadi?”
Francis:
“Kau hanya menyuruhku untuk mengambil sebuah kotak saja, untuk apa
aku pikirkan isinya?”
Uchida:
“Bakayaro (bodoh), memangnya dari tadi kau tidak penasaran dan
memikirkan apa isinya sepanjang perjalanan tadi?”
Francis:
“Oh, maaf. Pikiranku sempat tertuju pada keadaan di kota yang
begitu tenang ini, kukira keadaannya sama dengan di masa depan.”
Uchida:
“Memang apa yang kau harapkan ketika melihat semua itu?”
Francis:
“Tidak ada satupun gedung laboratorium ataupun pabrik senjata
kulihat, apakah masa lalu itu sedamai ini?”
Uchida:
“...tidak selalu, itu hanya bagian dalam... Tapi masih jauh lebih
baik dengan di masa depan, kau sependapat denganku?”
Francis:
“Mungkin... (mulai membuka kotak) kita jadi mengeluarkan isi kotak
ini?”
Uchida:
“Ah, tunggu...”
Francis
sudah membuka kotak itu, di dalamnya terdapat berbagai macam pakaian.
Francis menatap Uchida dengan wajah bodoh, wajah yang seolah bertanya
'Apa ini?'.
Uchida:
“Itu persediaan pakaian untuk kita berdua, kotak yang kau bawa
adalah milikmu. Yang kubawa adalah milikku, jadi kau bisa memilih
pakaian yang ingin kau pakai.”
Francis:
“Oh, (mengaduk-aduk isi kotak) jadi seperti ini pakaian di masa
lalu?”
Uchida:
“Silahkan melihat, pakailah kalau ada yang kau suka.” (membuka
kotak)
Francis:
“Baju ini tak ada lengannya, celana ini bisa melar. Hmmm, bagaimana
cara pakai ini?”
Uchida:
“Aduh, sepertinya tidak ada ukuran yang pas denganku di dalam sini.
Francis, bagaimana dengan... mu?”
Uchida
melihat dengan pandangan jijik, di hadapannya berdiri Francis dengan
penampilan konyol. Di kepalanya dia memakai rok, baju yang dia pakai
berwarna pink dan bergambar kelinci, dia memakai jas sebagai
bawahannya.
Uchida:
“FRANCIS!!”
Uchida:
“Dasar... lebih baik kau tanyakan dulu pakaian seperti apa yang
bisa dipakai, untung saja aku menemukan baju yang sesuai dengan
ukuranmu.”
Francis:
“Apa kau yakin?”
Uchida:
“Tentu saja, untuk pemuda sepertimu pakaian itu terlihat cocok.”
Francis:
“...walau kau bilang begitu... sampai kapan aku harus memakainya?”
Di
hadapan Uchida kini berdiri Francis yang sudah memakai sebuah kaus
tak berlengan warna merah dengan gambar tengkorak dan kampak yang
menancap di kepalanya, celananya sendiri adalah celana jeans biru
dengan panjang sampai lutut. Dia juga memakai semacam saputangan
kuning yang diikat di sikut bagian kiri, tapi ada satu hal yang
terasa kurang di telapak kakinya.
Uchida:
“Aku lupa untuk membawa sepatu... tapi itu bisa diurus belakangan,
dengan begini kau tinggal belajar bagaimana caranya berkomunikasi
dengan masyarakat sekitar.”
Francis:
“Berkomunikasi? Gampang saja, hei kalian!” (memanggil
gelandangan)
Francis
memanggil untuk kedua kalinya tapi tak ada respon, dia
menggaruk-garuk kepalanya dan maju mendekati mereka. Tanpa ragu-ragu
dia menepuk bahu seorang dari mereka yang sedang duduk tertidur, dia
pun menanyakan sesuatu.
Francis:
“Maaf mengganggu, tapi bisa bantu aku?”
Tak
disangka jika sang gelandangan berbicara dengan bahasa yang tidak dia
pahami, banyak tanda tanya muncul di atas kepala Francis. Dia lalu
berbalik dan mendekati Uchida dengan wajah bodoh, wajah yang seolah
mengucapkan 'Aku tak mengerti.”
Uchida:
“Ini Norwegia, bahasa Inggris-mu takkan bisa dipakai untuk
bercakap-cakap dengan mereka. (mendesah) Apa boleh buat.”
Uchida
mencari sesuatu di dalam tas yang dia bawa, dia kemudian mengeluarkan
sesuatu dari dalamnya. Benda itu diangkat tinggi-tinggi dan dengan
bangganya dia memperlihatkan barang yang dia ambil kepada Francis.
Uchida:
“Ini dia, alat penerjemah universal dalam bentuk kacamata! Dengan
memakai ini kau bisa mengerti kata-kata dalam berbagai bahasa, hebat
bukan?”
Francis:
“Berikan padaku (merampas kacamata), lalu bagaimana cara kerjanya?”
Uchida:
“......”
Francis:
“Oh, ada tombolnya.”
Uchida
hanya bisa meringkuk dan menggerutu sambil memutar-mutar jari
telunjuknya ke tanah, Francis memakai kacamata itu dan menekan tombol
merah yang ada di bagian kanan gagang kacamata. Awalnya tak terjadi
apa-apa ketika dia memakainya, selanjutnya dia mencoba berbicara
dengan para gelandangan. Ketika gelandangan itu mulai balik
berbicara, mendadak di lensa kacamata muncul tulisan-tulisan.
Bahasa
pemakai: Inggris
Bahasa
target: Norwegia
Lakukan
Penyesuaian
Seorang
gelandangan berbicara, bersamaan dengan itu muncul tulisan yang
merupakan terjemahan dari kata-kata yang dia ucapkan di lensa.
Gelandangan:
“Ada keperluan apa?”
Francis:
(bahasa Inggris) “Kebetulan sekali, kami perlu bantuan kalian.”
Gelandangan:
“Maaf, aku tak bisa berbahasa Inggris.”
Francis:
“Ugh, tunggu sebentar (melepas kacamata) apa ada tombol yang bisa
membuatku berbahasa Norwegia?”
Francis
melihat tombol biru di bagian kiri gagang kacamata, dia menekan
tombol tersebut dan mencoba kembali memakainya. Ketika dia mencoba
berbicara, di lensa muncul terjemahan dari kata yang dia katakan
lengkap dengan ejaannya. Dia berdecak dan merasa jengkel, akhirnya
dia mencoba berbicara dengan bahasa yang sudah diterjemahkan.
Francis:
“A... aku per... lu bantuan.”
Gelandangan:
“Oh, baru belajar bicara dengan bahasa kami.”
Francis:
(menoleh ke belakang) “Uchida, tolong bantu aku sebentar.”
Uchida
masih meringkuk sambil memutar-mutar jari telunjuknya ke tanah.
Francis menghampiri Uchida dan berjongkok, dia menggaruk-garuk
kepalanya karena bingung ingin berkata apa.
Francis:
“Ugh, aku... perlu pertolonganmu...”
Francis
mendengar Uchida menggumam dalam bahasa Jepang, dia menutupi mulutnya
dengan kedua tangannya dan matanya bergerak ke atas dan ke bawah
karena semakin khawatir melihat keadaan Uchida. Francis berdiri
menjauh dari Uchida dan bermaksud mencoba kembali bicara pada para
gelandangan, sebelum itu dia mencoba latihan untuk berkomunikasi. Dia
mencoba mengeja beberapa kata dengan bahasa Norwegia, dia terus
mencoba dan mencoba walau masih agak canggung.
Beberapa
menit kemudian, Uchida yang masih merenggut di ujung gang dikejutkan
oleh sebuah tepukan di punggungnya. Dia perlahan-lahan menolehkan
kepalanya ke belakang, matanya sedikit terbelalak ketika melihat apa
yang dia lihat. Francis sudah berdiri di hadapannya sambil didampingi
oleh para gelandangan, mereka bertiga memegang spanduk bertuliskan
kata 'Maaf' dalam bahasa Norwegia.
Francis:
“Aku tak tahu kalau cara ini bisa membuatmu tenang atau tidak, tapi
aku tak mengharapkan kau mau memaafkan atau tidak. Aku hanya ingin...
kau membantuku, dan sebagai gantinya... aku juga... akan membantumu.”
Uchida:
(tatapan kosong) “......”
Francis:
“Jadi... mulai sekarang bantulah diriku, aku akan... turuti
beberapa dari perintahmu. Jangan salah paham! Bukannya aku tak mau
menuruti semua kata-katamu, maksudku adalah... perintahmu yang mudah
dimengerti dan mudah dilakukan oleh diriku, itu saja!”
Uchida:
“...... (terdiam sepuluh detik) pft...”
Francis:
“Eh?”
Uchida:
“Uhahahahah! Apa-apaan itu?!” (bahasa Jepang)
Francis
hanya bisa bengong sambil melihat Uchida yang tertawa sambil
memukul-mukul tanah, berikutnya dia berguling-guling sambil memegang
perutnya. Kejadian ini berlangsung selama semenit, Uchida langsung
berdiri dan mengusap air mata yang keluar karena tertawa yang
berlebihan.
Uchida:
“Ugh... aduh, sudah lama aku tak tertawa seperti ini. Kau ini
memang bodoh ya?”
Francis:
“Apa maksudmu?! Aku sudah serius mengungkapkan hal semacam ini!”
Uchida:
“Kau bukan orang yang pandai minta maaf, dasar tsundere.”
Francis:
(jengkel) “Ugh...”
Uchida:
“Tapi aku salut denganmu yang mau berusaha.” (mengusap kepala
Francis)
Francis:
“Jauhkan tanganmu dari kepalaku!”
Uchida:
“Kau payah saat meminta maaf, lebih payah lagi saat menjaga sikap.”
Francis:
“Maaf saja kalau aku memang seperti itu.”
Uchida:
“Baiklah, mari kita mulai susun rencana untuk hari ini!”
(menepukkan kedua tangan)
Beberapa
menit kemudian, Uchida sedang menulis dan menggambar sesuatu dengan
sebuah kapur. Alas yang dipakai untuk menulis adalah kotak kardus
yang tadinya adalah tempat pakaian, Uchida berdeham dan memanjangkan
jari telunjuk kanannya.
Uchida:
“Dengar dan perhatikan baik-baik, jangan sampai satu hal pun
terlewatkan dalam pikiranmu. Di zaman kita, Alterion menguasai hampir
seluruh isi planet ini. Sekarang kita sudah meninggalkan tahun 2345
dan pergi ke tahun 2010, tiga abad lebih dari zaman kita. Dan tentu
saja kita ke sini bukan sekedar untuk berdarmawisata, kita juga
mencari petunjuk yang berhubungan dengan mereka.”
Francis:
“Aku paham.”
Uchida:
“Masih terlalu cepat. (mengetuk dahi Francis dengan jarinya yang
panjang) Ada pertanyaan?”
Francis:
“Kenapa kau mengkhianati Alterion?”
Uchida:
“Sebenarnya bukan berkhianat, tepatnya aku mengundurkan diri.”
Francis:
“Maaf?”
Uchida:
“Aku serahkan jabatanku pada seseorang, kuberikan dia akses
sepenuhnya di laboratorium tempatku bekerja. Lagipula laboratorium
itu juga tempat tinggalku, semuanya kutitipkan kepada dirinya.”
Francis:
(berdiri) “Keparat, itu berarti kau masih setia pada Alterion?!
Argh!” (disetrum jempol)
Uchida:
“Paling tidak dengarkan ceritaku sampai habis, masih mau
dilanjutkan? (Francis mengangguk) Bagus, kulanjutkan. Seperti yang
kau ketahui aku adalah...”
Francis:
“Kepala Penelitian Laboratorium Alterion Cabang Asia ke 5, aku
sudah tahu hal itu lewat database.”
Uchida:
(jengkel) “...lebih baik kau diam, kau boleh bicara jika
kupersilahkan. Kecuali... kau mau otakmu yang kecil itu dialiri
listrik sebesar 100ribu volt?”
Wajah
Uchida begitu dekat dengan wajah Francis, jempolnya hampir menyentuh
dahi Francis. Dia mengedipkan kedua matanya dua kali, menahan
nafasnya dan mengangguk.
Uchida:
“Bagus, aku dulu memang seperti yang kau katakan barusan.”
Francis:
(suara hati) “Begitu dekatnya wajahku dengan wajahmu, nafasmu yang
bau seperti minyak mentah itu bisa kurasakan.”
Uchida:
“Aku menitipkan laboratorium itu pada dirinya yang juga merupakan
salah satu dari anggota keluargaku, bukan keluarga angkat tapi
keluarga kandung. Aku menitipkannya karena masih ada penelitian yang
belum kuselesaikan, salah satu jalan keluarku untuk mendapatkan tubuh
manusia normal. Memang benar bila aku mengepalai Penelitian dan
Pengembangan Organisme Cyber atau bisa disingkat cyborg, selama
kurang lebih 150 tahun aku membantu Alterion untuk memberikan mereka
kekuatan."
Francis: (suara hati) "Astaga, ternyata dia sudah tua bangka."
Uchida: "Asal kau tahu aku tidak bergabung dengan mereka atas keinginanku sendiri, mereka seenaknya datang mendobrak pintu rumah seseorang. Aku melawan mereka, tapi mereka membalas dengan menghancurkan setengah dari kediamanku. Akibatnya sebagian besar tubuhku luka parah dan hasilnya seperti yang kau lihat, (menunjuk wajah sendiri) aku lalu dibawa dan tubuhku dioperasi. Untungnya aku masih bisa selamat, tapi saat itu hanya bagian atas tubuhku yang bisa diselamatkan. Tubuhku yang sudah rusak diganti dengan mesin, sisa-sisanya mungkin sudah dibuang atau disimpan di laboratorium biologis. Aku diberi kesempatan untuk hidup dengan separuh tubuhku, tapi itu juga sebuah kesialan untukku. Selain tak bisa buang air dan gas, hidupku juga tinggal setengah tahun.”
Francis: (suara hati) "Astaga, ternyata dia sudah tua bangka."
Uchida: "Asal kau tahu aku tidak bergabung dengan mereka atas keinginanku sendiri, mereka seenaknya datang mendobrak pintu rumah seseorang. Aku melawan mereka, tapi mereka membalas dengan menghancurkan setengah dari kediamanku. Akibatnya sebagian besar tubuhku luka parah dan hasilnya seperti yang kau lihat, (menunjuk wajah sendiri) aku lalu dibawa dan tubuhku dioperasi. Untungnya aku masih bisa selamat, tapi saat itu hanya bagian atas tubuhku yang bisa diselamatkan. Tubuhku yang sudah rusak diganti dengan mesin, sisa-sisanya mungkin sudah dibuang atau disimpan di laboratorium biologis. Aku diberi kesempatan untuk hidup dengan separuh tubuhku, tapi itu juga sebuah kesialan untukku. Selain tak bisa buang air dan gas, hidupku juga tinggal setengah tahun.”
Francis:
(suara hati) “Otakmu juga setengah.”
Uchida:
“Dalam keadaan seperti itu pun, aku masih dipaksa untuk bekerja.
Mereka memasukkanku ke dalam ruangan dan menyuruhku untuk memperbaiki
salah satu pasukan mereka, hal yang sama juga terjadi pada ilmuwan
yang ditangkap selain diriku. Setelah dikurung bersama dengan seorang
cyborg selama seharian penuh tanpa diberi istirahat, makan dan minum,
mereka mulai masuk dan memeriksa hasil kerja kami. Untungnya aku
berhasil menyelesaikannya dalam waktu yang ironisnya sama dengan
tahun di mana kita kabur, 23 jam 45 menit. Mereka yang tak berhasil
berakhir dengan menyedihkan, menjadi kelinci percobaan, otak
dikeluarkan dari dalam kepala kemudian diteliti memorinya. Yang
berhasil dijadikan peneliti tetap dalam salah satu laboratorium
cabang, ternyata hal itu adalah semacam tes. Sejak saat itu, aku
bekerja di bawah pengawasan mereka. Aku pun diberi kebebasan untuk
melakukan penelitian pribadi untuk memperbaiki kekurangan tubuhku,
dan itu memerlukan waktu 22 tahun. Selama itu aku dibantu oleh
putriku, masih manusia biasa bukan cyborg seperti... kita."
Francis: "Pasti wujudnya lebih buruk darimu." (suara hati)
Uchida: "Akhirnya aku pun mendapatkan bagian bawah tubuhku, walau tidak seperti yang kuinginkan. Aku menjalani hidupku sehari-hari sambil melihat rumahku yang direnovasi dan dirombak menjadi laboratorium cabang milik mereka. Di samping itu mereka terus-menerus mengirimiku 'barang' untuk diperbaiki, aku diberi batas waktu untuk menyelesaikannya. Hampir semua yang dikirim padaku selalu bisa kuselesaikan sesuai dengan batas waktu yang mereka berikan, jika telat sedikit saja aku akan dibawa ke salah satu laboratorium cabang untuk diberi tugas yang lebih berat. Sampai suatu hari ketika aku dibawa ke laboratorium tempat di mana kau tadinya ditahan, aku menemukan mesin waktu di sana. Tekhnologi yang seharusnya belum berhasil dikembangkan dan diidam-idamkan oleh para ilmuwan seperti diriku, aku mulai dikendalikan nafsu untuk mengetahui lebih banyak tentang mesin itu. Tapi aku tahu hal itu mustahil bagiku, jadi aku mulai melakukan investigasi tersendiri. Butuh waktu selama 10 tahun untuk mendapatkan informasi mengenai mesin ini, mereka sudah menggunakan mesin ini selama 300 tahun. Dan aku baru mengetahui jika Alterion sendiri mendapatkan bantuan dari masa lalu yaitu di zaman ini, tekhnologi yang mereka pakai dikirim dari masa lalu. Mesin waktu itu juga dikirim untuk mengirim bahan tambang yang belum ditemukan di masa lalu, 'Ulkamium' yang digunakan untuk membuat tubuh cyborg yang cukup kuat seperti dirimu. Tubuhku sendiri juga terdiri dari bahan tersebut, inilah hasilnya.” (membuka jubahnya)
Francis: "Pasti wujudnya lebih buruk darimu." (suara hati)
Uchida: "Akhirnya aku pun mendapatkan bagian bawah tubuhku, walau tidak seperti yang kuinginkan. Aku menjalani hidupku sehari-hari sambil melihat rumahku yang direnovasi dan dirombak menjadi laboratorium cabang milik mereka. Di samping itu mereka terus-menerus mengirimiku 'barang' untuk diperbaiki, aku diberi batas waktu untuk menyelesaikannya. Hampir semua yang dikirim padaku selalu bisa kuselesaikan sesuai dengan batas waktu yang mereka berikan, jika telat sedikit saja aku akan dibawa ke salah satu laboratorium cabang untuk diberi tugas yang lebih berat. Sampai suatu hari ketika aku dibawa ke laboratorium tempat di mana kau tadinya ditahan, aku menemukan mesin waktu di sana. Tekhnologi yang seharusnya belum berhasil dikembangkan dan diidam-idamkan oleh para ilmuwan seperti diriku, aku mulai dikendalikan nafsu untuk mengetahui lebih banyak tentang mesin itu. Tapi aku tahu hal itu mustahil bagiku, jadi aku mulai melakukan investigasi tersendiri. Butuh waktu selama 10 tahun untuk mendapatkan informasi mengenai mesin ini, mereka sudah menggunakan mesin ini selama 300 tahun. Dan aku baru mengetahui jika Alterion sendiri mendapatkan bantuan dari masa lalu yaitu di zaman ini, tekhnologi yang mereka pakai dikirim dari masa lalu. Mesin waktu itu juga dikirim untuk mengirim bahan tambang yang belum ditemukan di masa lalu, 'Ulkamium' yang digunakan untuk membuat tubuh cyborg yang cukup kuat seperti dirimu. Tubuhku sendiri juga terdiri dari bahan tersebut, inilah hasilnya.” (membuka jubahnya)
Seluruh
tubuh Uchida kini terlihat jelas, pemandangan itu membuat beberapa
otot wajah Francis bergerak. Alis kirinya terangkat, pipi bagian
kanan terangkat, pandangan jijik di mata, dan lidah sedikit menjulur.
Dia memiliki tubuh berbentuk oval dari pundak sampai selangkangan,
beberapa bagian tubuhnya mengambang dan tidak tersambung ke tubuhnya.
Mulai dari kepala, tangan, dan kaki. Lutut sampai telapak kakinya
terlihat seperti kaki gajah, sikut sampai telapak tangannya yang
besar seperti gorila, serta kepala yang mengambang dan tanpa leher.
Francis:
“Holy... $%@!” (kepala ditampar dengan kedua tangan Uchida secara
bersamaan)
Uchida
yang telah menutupi kembali tubuhnya dengan jubah, kini sudah duduk
di atas tempat sampah. Francis dengan kedua pipi bengkak, berdiri
lesu di depannya. Dari dalam gang mereka melihat banyak orang sudah
berjalan dan kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya, Uchida
menyerahkan kacamata yang tadi dikeluarkan kepada Francis.
Uchida:
“Kau tadi sudah sedikit tahu cara pemakaian penerjemah universal,
salah satu gagangnya terhubung langsung dengan otakmu. Tombol merah
untuk pengaturan bahasa, jadi kalau ada orang bicara dengan bahasa
lain langsung tekan dan bahasa akan diterjemahkan. Tombol biru adalah
mode belajar, jadi jika kau ingin belajar bicara bahasa mereka harus
kau ucapkan sesuai dengan teks yang ada di lensa.”
Francis:
“Lalu bagaimana agar perkataanku terdengar fasih di telinga
mereka?”
Uchida:
“Oh, kau harus tekan kedua tombol secara bersamaan. Tapi kau harus
pakai dulu lalu tekan tombol penyesuaian, setelah itu kau bisa
lakukan sesuai dengan yang kukatakan.”
Francis:
“Sudah kulakukan.” (baru selesai memakai kacamata)
Uchida:
“Kau cepat belajar, tapi kau tidak sabaran. Baiklah, karena aku
sudah mengajarimu cara pemakaiannya kini giliranmu untuk pergi
bersosialisasi dengan mereka.”
Francis:
“Ba... tunggu! Kenapa aku yang harus pergi?”
Uchida:
“Sebab aku tak punya kemungkinan untuk bicara dengan mereka.”
Francis:
“Bukankah kau bisa modifikasi ingatan mereka?!”
Uchida:
“Itu jika mereka pingsan dan tak sadarkan diri, lagipula ini jaman
yang berbeda dengan jaman kita. Takkan ada yang mau bicara dengan
orang berperawakan seperti diriku, hasilnya nanti mereka malah
ketakutan. Kau sendiri terlihat seperti manusia normal dari luar,
jadi tidak masalah jika kau bicara dengan mereka.”
Francis:
“...lalu apa hal pertama yang harus kulakukan?”
Uchida:
“Carilah informasi, setidaknya dari koran atau televisi.”
Francis:
“Tunggu dulu, apa itu koran dan televisi?”
Uchida:
“Itu adalah semacam media yang memberikan kita informasi tertentu
yang terjadi pada hari ini, hal semacam itu bisa kau lihat dijual di
beberapa tempat. Koran adalah lembaran kertas berisi informasi
berbentuk tulisan, sedangkan televisi memberi informasi baik secara
langsung dari tempat kejadian atau direkam.”
Francis:
“......” (tidak paham)
Uchida:
“Oh ya, mungkin aku salah jika sebut alat yang kau pakai sebagai
penerjemah universal. Masih ada kegunaan lain dari alat ini, aku tahu
kau bukan orang yang suka diberi penjelasan panjang.”
Uchida
menyentil bagian tengah kacamata itu, dalam sekejap sesuatu terjadi
dalam diri Francis. Otaknya seperti dimasuki banyak data, bola
matanya menjadi putih. Kejadian ini berlangsung selama semenit,
Francis kini dalam keadaan membungkuk. Perlahan-lahan dia berdiri dan
menatap Uchida, wajahnya kini terlihat berseri-seri.
Uchida:
“Bagaimana?”
Francis:
“Whoa, sepertinya aku sedikit mendapat kesegaran di kepalaku.
Mungkinkah aku sekarang memiliki kecerdasan setara dengan Einstein?
Tunggu, siapa itu Einstein?"
Uchida:
(mengibas tangan) "Tidak sampai segitu, jadi apa kau bisa
melaksanakan misi ini?"
Francis:
"Siap dan segera berangkat."
Uchida:
"Kalau begitu pergi dan mulailah mencari informasi, dan jangan
lupa ada satu hal penting yang harus kau langsung bawa setelah ini."
Francis:
"Apa itu?"
Uchida:
"Makanan."
Francis:
"......" (jengkel)
Uchida:
(dipukul Francis) "Aduh! Jangan pukul aku!"
Francis:
"Bisa-bisanya kau mengatakan soal makanan setelah penjelasan
seperti itu!"
Uchida:
"Apa boleh buat aku sudah kelaparan setelah kita tiba di zaman
ini!"
No comments:
Post a Comment