Monday, October 1, 2012

Level 2


PENJELASAN

Oslo, Norwegia, 11 Oktober 2010, 04:30. Francis dan Uchida sedang berdiri di depan sebuah pintu, Uchida maju dan mencoba membuka pintu dengan jari-jarinya yang besar. Perlahan-lahan dia memutar gagang pintu itu, namun ternyata pintu tersebut terkunci. Uchida kemudian menekuk jari telunjuk tangan kanannya sampai terdengar bunyi 'klek', dia kemudian berlutut dan melakukan sesuatu pada gagang pintu itu.

Francis: “Jika sejak awal kau bisa berbicara dengan bahasaku kenapa tidak kau lakukan dari tadi?”
Uchida: “...jujur saja... sebenarnya... aku bahkan tak bisa berbicara bahasamu.”
Francis: “Itu kau bisa bicara.”
Uchida: “Ini kemampuan dari penerjemah universal-ku, lihat?” (menolehkan kepala ke belakang dan menjulurkan lidah)
Francis: “Ada sisa makanan menempel di situ.”
Uchida: “Bukan itu! Lidahku ini berfungsi sebagai alat penerjemah, jika aku menariknya... (menarik lidahnya dengan dua jari tangan kiri) maka aku akan berbahasa sama dengan yang kau ucapkan.” (bahasa Jepang)
Francis: “...sekarang kau berganti bahasa...”
Uchida: (menarik lidah lagi) “Ini bukan main-main, karena aku memang tak bisa bicara berbagai bahasa pada akhirnya kemampuan untuk menerjemahkan dipasang di lidahku.”
Francis: “Sekarang kau bicara bahasaku lagi, dan siapa orang yang cukup bodoh untuk memasangnya di situ?”
Uchida: “Kau sedang bicara pada orang bodoh itu sekarang, kita sudahi dulu pembicaraan tak penting ini. Pertama kita harus cari pakaian untukmu, apa kau tak kedinginan dengan penampilan seperti itu?”
Francis: “Aku sudah terbiasa seperti ini di malam hari, ngomong-ngomong apa yang sedari tadi kau lakukan?”
Uchida: “Membuka pintu ini, lihat?”

Uchida menunjukkan kedua tangannya, jari-jari telunjuk di kedua tangannya tertekuk ke belakang. Dari dalamnya keluar semacam kawat yang dibengkokkan, Francis menatapnya dengan pandangan kosong.

Francis: “Apa-apaan itu?”
Uchida: (kembali berusaha membuka pintu)“Pintu ini dikunci, jadi aku berusaha membukanya dengan ini.”
Francis: “Maksudmu dilindungi semacam password?”
Uchida: “Bukan begitu, mekanisme pintu ini sama sekali berbeda dengan zamanmu. Pintu seperti ini sudah tak digunakan lagi sejak tahun 2143, aku sendiri mencoba membukanya dengan metode yang biasanya digunakan oleh kebanyakan pencuri pada zaman itu.”
Francis: “Jadi kau melihat ke dalam database tentang hal seperti ini dan mempelajarinya sebelum kita ke zaman ini?”
Uchida: “Tidak, di zamanku pintu ini masih dipakai di kediamanku. Ketika aku masih anak-anak, aku mempelajari cara membukanya untuk meloloskan diri.”
Francis: “Bahkan orang seperti dirimu ditahan di dalam rumahnya sendiri, kasihan sekali.” (melipat kedua lengan di depan dada)
Uchida: “Tidak, tidak. Bukan ditahan, aku dikurung.”
Francis: “Bukannya itu sama saja?”
Uchida: “Setiap aku melakukan kesalahan aku selalu dikurung dalam sebuah ruangan dalam sehari tanpa makan dan minum setelah itu aku dikeluarkan, sejak itulah aku mempelajari metode ini.”
Francis: “Hanya sehari? Baik sekali Alterion memperlakukan para ilmuwan mereka, berbeda dengan kami yang ditangkap.”
Uchida: “Siapa yang mengatakan bahwa Alterion yang melakukannya?”
Francis: (pandangan heran) “Bukan? Lalu siapa?”
Uchida: “Ayahku, dia selalu melakukan itu jika aku tak sengaja melakukan kesalahan. Dulu aku pernah sekali menjatuhkan tanaman bonsai kesukaannya, dan hasilnya seperti yang kukatakan tadi.”
Francis: “Heh, 'ayah'-mu ya?”
Uchida: “Kenapa?”
Francis: “Berbeda denganku, aku bahkan tak tahu siapa orang tuaku. Yang membesarkanku hanyalah seorang wanita mutan dan seorang anak lelaki, tapi mereka kusebut sebagai 'keluarga'.”
Uchida: “Apa kau memanggil wanita itu 'ibu'?”
Francis: “Tidak, aku panggil dia Annete.”
Uchida: “Ah, sudah terbuka.”

Uchida mencoba membuka gagang pintu dengan kedua jarinya perlahan-lahan, pintu itu berhasil dibuka. Pelan-pelan pintu itu dibuka, di dalamnya terdapat ruangan yang cukup gelap. Dia langsung berjalan mengendap-endap ke dalam, Francis hanya bisa diam dengan pandangan kosong. Dari dalam ruangan gelap, muncul kepala Uchida dengan wajah jengkel.

Uchida: “Jangan hanya berdiam diri, masuk ke sini dan bantu aku!” (nada datar)


Beberapa saat kemudian, Francis dan Uchida terlihat berjalan membawa kotak kardus yang besar. Masing-masing membawa satu kotak, mereka masuk ke dalam gang yang tadinya tempat mereka bertempur dengan robot nyamuk. Di dalam sana mereka bertemu dengan gelandangan yang tadinya juga ikut terlibat dalam peristiwa tersebut, mereka sama sekali tak bereaksi ketika melihat mereka. Uchida meletakkan kotak itu di samping tempat sampah, Francis mengikuti seperti yang dia lakukan dengan perasaan heran.

Francis: “Kenapa sepertinya mereka bertingkah seolah tak terjadi apa-apa?”
Uchida: “Ingatan mereka sudah sedikit kumodifikasi, hasilnya seperti yang kau lihat.”
Francis: “Pantas saja mereka diam walau melihat dirimu yang... (Uchida menatap dengan pandangan seram) aneh.”
Uchida: “Yang terpenting sekarang, kita buka kotak ini.”
Francis: “Memang apa isinya?”
Uchida: “Kau masih tak menyadari ini apa setelah yang kukatakan padamu tadi?”
Francis: “Kau hanya menyuruhku untuk mengambil sebuah kotak saja, untuk apa aku pikirkan isinya?”
Uchida: “Bakayaro (bodoh), memangnya dari tadi kau tidak penasaran dan memikirkan apa isinya sepanjang perjalanan tadi?”
Francis: “Oh, maaf. Pikiranku sempat tertuju pada keadaan di kota yang begitu tenang ini, kukira keadaannya sama dengan di masa depan.”
Uchida: “Memang apa yang kau harapkan ketika melihat semua itu?”
Francis: “Tidak ada satupun gedung laboratorium ataupun pabrik senjata kulihat, apakah masa lalu itu sedamai ini?”
Uchida: “...tidak selalu, itu hanya bagian dalam... Tapi masih jauh lebih baik dengan di masa depan, kau sependapat denganku?”
Francis: “Mungkin... (mulai membuka kotak) kita jadi mengeluarkan isi kotak ini?”
Uchida: “Ah, tunggu...”

Francis sudah membuka kotak itu, di dalamnya terdapat berbagai macam pakaian. Francis menatap Uchida dengan wajah bodoh, wajah yang seolah bertanya 'Apa ini?'.

Uchida: “Itu persediaan pakaian untuk kita berdua, kotak yang kau bawa adalah milikmu. Yang kubawa adalah milikku, jadi kau bisa memilih pakaian yang ingin kau pakai.”
Francis: “Oh, (mengaduk-aduk isi kotak) jadi seperti ini pakaian di masa lalu?”
Uchida: “Silahkan melihat, pakailah kalau ada yang kau suka.” (membuka kotak)
Francis: “Baju ini tak ada lengannya, celana ini bisa melar. Hmmm, bagaimana cara pakai ini?”
Uchida: “Aduh, sepertinya tidak ada ukuran yang pas denganku di dalam sini. Francis, bagaimana dengan... mu?”

Uchida melihat dengan pandangan jijik, di hadapannya berdiri Francis dengan penampilan konyol. Di kepalanya dia memakai rok, baju yang dia pakai berwarna pink dan bergambar kelinci, dia memakai jas sebagai bawahannya.

Uchida: “FRANCIS!!”


Uchida: “Dasar... lebih baik kau tanyakan dulu pakaian seperti apa yang bisa dipakai, untung saja aku menemukan baju yang sesuai dengan ukuranmu.”
Francis: “Apa kau yakin?”
Uchida: “Tentu saja, untuk pemuda sepertimu pakaian itu terlihat cocok.”
Francis: “...walau kau bilang begitu... sampai kapan aku harus memakainya?”

Di hadapan Uchida kini berdiri Francis yang sudah memakai sebuah kaus tak berlengan warna merah dengan gambar tengkorak dan kampak yang menancap di kepalanya, celananya sendiri adalah celana jeans biru dengan panjang sampai lutut. Dia juga memakai semacam saputangan kuning yang diikat di sikut bagian kiri, tapi ada satu hal yang terasa kurang di telapak kakinya.

Uchida: “Aku lupa untuk membawa sepatu... tapi itu bisa diurus belakangan, dengan begini kau tinggal belajar bagaimana caranya berkomunikasi dengan masyarakat sekitar.”
Francis: “Berkomunikasi? Gampang saja, hei kalian!” (memanggil gelandangan)

Francis memanggil untuk kedua kalinya tapi tak ada respon, dia menggaruk-garuk kepalanya dan maju mendekati mereka. Tanpa ragu-ragu dia menepuk bahu seorang dari mereka yang sedang duduk tertidur, dia pun menanyakan sesuatu.

Francis: “Maaf mengganggu, tapi bisa bantu aku?”

Tak disangka jika sang gelandangan berbicara dengan bahasa yang tidak dia pahami, banyak tanda tanya muncul di atas kepala Francis. Dia lalu berbalik dan mendekati Uchida dengan wajah bodoh, wajah yang seolah mengucapkan 'Aku tak mengerti.”

Uchida: “Ini Norwegia, bahasa Inggris-mu takkan bisa dipakai untuk bercakap-cakap dengan mereka. (mendesah) Apa boleh buat.”

Uchida mencari sesuatu di dalam tas yang dia bawa, dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Benda itu diangkat tinggi-tinggi dan dengan bangganya dia memperlihatkan barang yang dia ambil kepada Francis.

Uchida: “Ini dia, alat penerjemah universal dalam bentuk kacamata! Dengan memakai ini kau bisa mengerti kata-kata dalam berbagai bahasa, hebat bukan?”
Francis: “Berikan padaku (merampas kacamata), lalu bagaimana cara kerjanya?”
Uchida: “......”
Francis: “Oh, ada tombolnya.”

Uchida hanya bisa meringkuk dan menggerutu sambil memutar-mutar jari telunjuknya ke tanah, Francis memakai kacamata itu dan menekan tombol merah yang ada di bagian kanan gagang kacamata. Awalnya tak terjadi apa-apa ketika dia memakainya, selanjutnya dia mencoba berbicara dengan para gelandangan. Ketika gelandangan itu mulai balik berbicara, mendadak di lensa kacamata muncul tulisan-tulisan.

Bahasa pemakai: Inggris
Bahasa target: Norwegia
Lakukan Penyesuaian

Seorang gelandangan berbicara, bersamaan dengan itu muncul tulisan yang merupakan terjemahan dari kata-kata yang dia ucapkan di lensa.

Gelandangan: “Ada keperluan apa?”
Francis: (bahasa Inggris) “Kebetulan sekali, kami perlu bantuan kalian.”
Gelandangan: “Maaf, aku tak bisa berbahasa Inggris.”
Francis: “Ugh, tunggu sebentar (melepas kacamata) apa ada tombol yang bisa membuatku berbahasa Norwegia?”

Francis melihat tombol biru di bagian kiri gagang kacamata, dia menekan tombol tersebut dan mencoba kembali memakainya. Ketika dia mencoba berbicara, di lensa muncul terjemahan dari kata yang dia katakan lengkap dengan ejaannya. Dia berdecak dan merasa jengkel, akhirnya dia mencoba berbicara dengan bahasa yang sudah diterjemahkan.

Francis: “A... aku per... lu bantuan.”
Gelandangan: “Oh, baru belajar bicara dengan bahasa kami.”
Francis: (menoleh ke belakang) “Uchida, tolong bantu aku sebentar.”

Uchida masih meringkuk sambil memutar-mutar jari telunjuknya ke tanah. Francis menghampiri Uchida dan berjongkok, dia menggaruk-garuk kepalanya karena bingung ingin berkata apa.

Francis: “Ugh, aku... perlu pertolonganmu...”

Francis mendengar Uchida menggumam dalam bahasa Jepang, dia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya dan matanya bergerak ke atas dan ke bawah karena semakin khawatir melihat keadaan Uchida. Francis berdiri menjauh dari Uchida dan bermaksud mencoba kembali bicara pada para gelandangan, sebelum itu dia mencoba latihan untuk berkomunikasi. Dia mencoba mengeja beberapa kata dengan bahasa Norwegia, dia terus mencoba dan mencoba walau masih agak canggung.


Beberapa menit kemudian, Uchida yang masih merenggut di ujung gang dikejutkan oleh sebuah tepukan di punggungnya. Dia perlahan-lahan menolehkan kepalanya ke belakang, matanya sedikit terbelalak ketika melihat apa yang dia lihat. Francis sudah berdiri di hadapannya sambil didampingi oleh para gelandangan, mereka bertiga memegang spanduk bertuliskan kata 'Maaf' dalam bahasa Norwegia.

Francis: “Aku tak tahu kalau cara ini bisa membuatmu tenang atau tidak, tapi aku tak mengharapkan kau mau memaafkan atau tidak. Aku hanya ingin... kau membantuku, dan sebagai gantinya... aku juga... akan membantumu.”
Uchida: (tatapan kosong) “......”
Francis: “Jadi... mulai sekarang bantulah diriku, aku akan... turuti beberapa dari perintahmu. Jangan salah paham! Bukannya aku tak mau menuruti semua kata-katamu, maksudku adalah... perintahmu yang mudah dimengerti dan mudah dilakukan oleh diriku, itu saja!”
Uchida: “...... (terdiam sepuluh detik) pft...”
Francis: “Eh?”
Uchida: “Uhahahahah! Apa-apaan itu?!” (bahasa Jepang)

Francis hanya bisa bengong sambil melihat Uchida yang tertawa sambil memukul-mukul tanah, berikutnya dia berguling-guling sambil memegang perutnya. Kejadian ini berlangsung selama semenit, Uchida langsung berdiri dan mengusap air mata yang keluar karena tertawa yang berlebihan.

Uchida: “Ugh... aduh, sudah lama aku tak tertawa seperti ini. Kau ini memang bodoh ya?”
Francis: “Apa maksudmu?! Aku sudah serius mengungkapkan hal semacam ini!”
Uchida: “Kau bukan orang yang pandai minta maaf, dasar tsundere.”
Francis: (jengkel) “Ugh...”
Uchida: “Tapi aku salut denganmu yang mau berusaha.” (mengusap kepala Francis)
Francis: “Jauhkan tanganmu dari kepalaku!”
Uchida: “Kau payah saat meminta maaf, lebih payah lagi saat menjaga sikap.”
Francis: “Maaf saja kalau aku memang seperti itu.”
Uchida: “Baiklah, mari kita mulai susun rencana untuk hari ini!” (menepukkan kedua tangan)


Beberapa menit kemudian, Uchida sedang menulis dan menggambar sesuatu dengan sebuah kapur. Alas yang dipakai untuk menulis adalah kotak kardus yang tadinya adalah tempat pakaian, Uchida berdeham dan memanjangkan jari telunjuk kanannya.

Uchida: “Dengar dan perhatikan baik-baik, jangan sampai satu hal pun terlewatkan dalam pikiranmu. Di zaman kita, Alterion menguasai hampir seluruh isi planet ini. Sekarang kita sudah meninggalkan tahun 2345 dan pergi ke tahun 2010, tiga abad lebih dari zaman kita. Dan tentu saja kita ke sini bukan sekedar untuk berdarmawisata, kita juga mencari petunjuk yang berhubungan dengan mereka.”
Francis: “Aku paham.”
Uchida: “Masih terlalu cepat. (mengetuk dahi Francis dengan jarinya yang panjang) Ada pertanyaan?”
Francis: “Kenapa kau mengkhianati Alterion?”
Uchida: “Sebenarnya bukan berkhianat, tepatnya aku mengundurkan diri.”
Francis: “Maaf?”
Uchida: “Aku serahkan jabatanku pada seseorang, kuberikan dia akses sepenuhnya di laboratorium tempatku bekerja. Lagipula laboratorium itu juga tempat tinggalku, semuanya kutitipkan kepada dirinya.”
Francis: (berdiri) “Keparat, itu berarti kau masih setia pada Alterion?! Argh!” (disetrum jempol)
Uchida: “Paling tidak dengarkan ceritaku sampai habis, masih mau dilanjutkan? (Francis mengangguk) Bagus, kulanjutkan. Seperti yang kau ketahui aku adalah...”
Francis: “Kepala Penelitian Laboratorium Alterion Cabang Asia ke 5, aku sudah tahu hal itu lewat database.”
Uchida: (jengkel) “...lebih baik kau diam, kau boleh bicara jika kupersilahkan. Kecuali... kau mau otakmu yang kecil itu dialiri listrik sebesar 100ribu volt?”

Wajah Uchida begitu dekat dengan wajah Francis, jempolnya hampir menyentuh dahi Francis. Dia mengedipkan kedua matanya dua kali, menahan nafasnya dan mengangguk.

Uchida: “Bagus, aku dulu memang seperti yang kau katakan barusan.”
Francis: (suara hati) “Begitu dekatnya wajahku dengan wajahmu, nafasmu yang bau seperti minyak mentah itu bisa kurasakan.”
Uchida: “Aku menitipkan laboratorium itu pada dirinya yang juga merupakan salah satu dari anggota keluargaku, bukan keluarga angkat tapi keluarga kandung. Aku menitipkannya karena masih ada penelitian yang belum kuselesaikan, salah satu jalan keluarku untuk mendapatkan tubuh manusia normal. Memang benar bila aku mengepalai Penelitian dan Pengembangan Organisme Cyber atau bisa disingkat cyborg, selama kurang lebih 150 tahun aku membantu Alterion untuk memberikan mereka kekuatan."
Francis: (suara hati) "Astaga, ternyata dia sudah tua bangka."
Uchida: "Asal kau tahu aku tidak bergabung dengan mereka atas keinginanku sendiri, mereka seenaknya datang mendobrak pintu rumah seseorang. Aku melawan mereka, tapi mereka membalas dengan menghancurkan setengah dari kediamanku. Akibatnya sebagian besar tubuhku luka parah dan hasilnya seperti yang kau lihat, (menunjuk wajah sendiri) aku lalu dibawa dan tubuhku dioperasi. Untungnya aku masih bisa selamat, tapi saat itu hanya bagian atas tubuhku yang bisa diselamatkan. Tubuhku yang sudah rusak diganti dengan mesin, sisa-sisanya mungkin sudah dibuang atau disimpan di laboratorium biologis. Aku diberi kesempatan untuk hidup dengan separuh tubuhku, tapi itu juga sebuah kesialan untukku. Selain tak bisa buang air dan gas, hidupku juga tinggal setengah tahun.”
Francis: (suara hati) “Otakmu juga setengah.”
Uchida: “Dalam keadaan seperti itu pun, aku masih dipaksa untuk bekerja. Mereka memasukkanku ke dalam ruangan dan menyuruhku untuk memperbaiki salah satu pasukan mereka, hal yang sama juga terjadi pada ilmuwan yang ditangkap selain diriku. Setelah dikurung bersama dengan seorang cyborg selama seharian penuh tanpa diberi istirahat, makan dan minum, mereka mulai masuk dan memeriksa hasil kerja kami. Untungnya aku berhasil menyelesaikannya dalam waktu yang ironisnya sama dengan tahun di mana kita kabur, 23 jam 45 menit. Mereka yang tak berhasil berakhir dengan menyedihkan, menjadi kelinci percobaan, otak dikeluarkan dari dalam kepala kemudian diteliti memorinya. Yang berhasil dijadikan peneliti tetap dalam salah satu laboratorium cabang, ternyata hal itu adalah semacam tes. Sejak saat itu, aku bekerja di bawah pengawasan mereka. Aku pun diberi kebebasan untuk melakukan penelitian pribadi untuk memperbaiki kekurangan tubuhku, dan itu memerlukan waktu 22 tahun. Selama itu aku dibantu oleh putriku, masih manusia biasa bukan cyborg seperti... kita."
Francis: "Pasti wujudnya lebih buruk darimu." (suara hati)
Uchida: "Akhirnya aku pun mendapatkan bagian bawah tubuhku, walau tidak seperti yang kuinginkan. Aku menjalani hidupku sehari-hari sambil melihat rumahku yang direnovasi dan dirombak menjadi laboratorium cabang milik mereka. Di samping itu mereka terus-menerus mengirimiku 'barang' untuk diperbaiki, aku diberi batas waktu untuk menyelesaikannya. Hampir semua yang dikirim padaku selalu bisa kuselesaikan sesuai dengan batas waktu yang mereka berikan, jika telat sedikit saja aku akan dibawa ke salah satu laboratorium cabang untuk diberi tugas yang lebih berat. Sampai suatu hari ketika aku dibawa ke laboratorium tempat di mana kau tadinya ditahan, aku menemukan mesin waktu di sana. Tekhnologi yang seharusnya belum berhasil dikembangkan dan diidam-idamkan oleh para ilmuwan seperti diriku, aku mulai dikendalikan nafsu untuk mengetahui lebih banyak tentang mesin itu. Tapi aku tahu hal itu mustahil bagiku, jadi aku mulai melakukan investigasi tersendiri. Butuh waktu selama 10 tahun untuk mendapatkan informasi mengenai mesin ini, mereka sudah menggunakan mesin ini selama 300 tahun. Dan aku baru mengetahui jika Alterion sendiri mendapatkan bantuan dari masa lalu yaitu di zaman ini, tekhnologi yang mereka pakai dikirim dari masa lalu. Mesin waktu itu juga dikirim untuk mengirim bahan tambang yang belum ditemukan di masa lalu, 'Ulkamium' yang digunakan untuk membuat tubuh cyborg yang cukup kuat seperti dirimu. Tubuhku sendiri juga terdiri dari bahan tersebut, inilah hasilnya.” (membuka jubahnya)

Seluruh tubuh Uchida kini terlihat jelas, pemandangan itu membuat beberapa otot wajah Francis bergerak. Alis kirinya terangkat, pipi bagian kanan terangkat, pandangan jijik di mata, dan lidah sedikit menjulur. Dia memiliki tubuh berbentuk oval dari pundak sampai selangkangan, beberapa bagian tubuhnya mengambang dan tidak tersambung ke tubuhnya. Mulai dari kepala, tangan, dan kaki. Lutut sampai telapak kakinya terlihat seperti kaki gajah, sikut sampai telapak tangannya yang besar seperti gorila, serta kepala yang mengambang dan tanpa leher.

Francis: “Holy... $%@!” (kepala ditampar dengan kedua tangan Uchida secara bersamaan)


Uchida yang telah menutupi kembali tubuhnya dengan jubah, kini sudah duduk di atas tempat sampah. Francis dengan kedua pipi bengkak, berdiri lesu di depannya. Dari dalam gang mereka melihat banyak orang sudah berjalan dan kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya, Uchida menyerahkan kacamata yang tadi dikeluarkan kepada Francis.

Uchida: “Kau tadi sudah sedikit tahu cara pemakaian penerjemah universal, salah satu gagangnya terhubung langsung dengan otakmu. Tombol merah untuk pengaturan bahasa, jadi kalau ada orang bicara dengan bahasa lain langsung tekan dan bahasa akan diterjemahkan. Tombol biru adalah mode belajar, jadi jika kau ingin belajar bicara bahasa mereka harus kau ucapkan sesuai dengan teks yang ada di lensa.”
Francis: “Lalu bagaimana agar perkataanku terdengar fasih di telinga mereka?”
Uchida: “Oh, kau harus tekan kedua tombol secara bersamaan. Tapi kau harus pakai dulu lalu tekan tombol penyesuaian, setelah itu kau bisa lakukan sesuai dengan yang kukatakan.”
Francis: “Sudah kulakukan.” (baru selesai memakai kacamata)
Uchida: “Kau cepat belajar, tapi kau tidak sabaran. Baiklah, karena aku sudah mengajarimu cara pemakaiannya kini giliranmu untuk pergi bersosialisasi dengan mereka.”
Francis: “Ba... tunggu! Kenapa aku yang harus pergi?”
Uchida: “Sebab aku tak punya kemungkinan untuk bicara dengan mereka.”
Francis: “Bukankah kau bisa modifikasi ingatan mereka?!”
Uchida: “Itu jika mereka pingsan dan tak sadarkan diri, lagipula ini jaman yang berbeda dengan jaman kita. Takkan ada yang mau bicara dengan orang berperawakan seperti diriku, hasilnya nanti mereka malah ketakutan. Kau sendiri terlihat seperti manusia normal dari luar, jadi tidak masalah jika kau bicara dengan mereka.”
Francis: “...lalu apa hal pertama yang harus kulakukan?”
Uchida: “Carilah informasi, setidaknya dari koran atau televisi.”
Francis: “Tunggu dulu, apa itu koran dan televisi?”
Uchida: “Itu adalah semacam media yang memberikan kita informasi tertentu yang terjadi pada hari ini, hal semacam itu bisa kau lihat dijual di beberapa tempat. Koran adalah lembaran kertas berisi informasi berbentuk tulisan, sedangkan televisi memberi informasi baik secara langsung dari tempat kejadian atau direkam.”
Francis: “......” (tidak paham)
Uchida: “Oh ya, mungkin aku salah jika sebut alat yang kau pakai sebagai penerjemah universal. Masih ada kegunaan lain dari alat ini, aku tahu kau bukan orang yang suka diberi penjelasan panjang.”

Uchida menyentil bagian tengah kacamata itu, dalam sekejap sesuatu terjadi dalam diri Francis. Otaknya seperti dimasuki banyak data, bola matanya menjadi putih. Kejadian ini berlangsung selama semenit, Francis kini dalam keadaan membungkuk. Perlahan-lahan dia berdiri dan menatap Uchida, wajahnya kini terlihat berseri-seri.

Uchida: “Bagaimana?”
Francis: “Whoa, sepertinya aku sedikit mendapat kesegaran di kepalaku. Mungkinkah aku sekarang memiliki kecerdasan setara dengan Einstein? Tunggu, siapa itu Einstein?"
Uchida: (mengibas tangan) "Tidak sampai segitu, jadi apa kau bisa melaksanakan misi ini?"
Francis: "Siap dan segera berangkat."
Uchida: "Kalau begitu pergi dan mulailah mencari informasi, dan jangan lupa ada satu hal penting yang harus kau langsung bawa setelah ini."
Francis: "Apa itu?"
Uchida: "Makanan."
Francis: "......" (jengkel)
Uchida: (dipukul Francis) "Aduh! Jangan pukul aku!"
Francis: "Bisa-bisanya kau mengatakan soal makanan setelah penjelasan seperti itu!"
Uchida: "Apa boleh buat aku sudah kelaparan setelah kita tiba di zaman ini!"

No comments:

Post a Comment