Tuesday, October 23, 2012

Level 3


PENGAMATAN

11 Oktober 2010, Oslo, Norwegia, 09:45. Di tengah kota, seseorang pria berjalan sambil mengantungi kedua tangannya di saku celana jeansnya yang pendek. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, dia berjalan sambil membungkukkan badan dengan bibir mencibir. Pria itu sendiri memakai kacamata hitam, memiliki rambut merah dan jambul berwarna putih, di pelipis kirinya ada codet, hidung pesek, sedikit berjanggut, dan beralis tipis. Kakinya yang terus melangkah ke depan menggunakan sepasang sandal, penampilannya sendiri tampak seperti preman. Dengan saputangan kuning diikat di sikut kirinya, kaus merah tak berlengan dengan gambar tengkorak dan kampak menancap di kepalanya. Mendadak dia berhenti dan mengakkan badannya, dia kemudian menengadah ke langit dan menarik nafas dalam-dalam.

Francis: “MENYEBALKAAAAAAN!!!”

Seluruh warga kota langsung kaget begitu mendengar teriakannya, beberapa mobil langsung berhenti mendadak. Beberapa orang menghindari mobil yang hampir menabrak mereka, beberapa orang yang lain bertabrakan dan ada yang terjatuh ke jalan. Dua orang polisi tiba di tempat sambil meniup peluit, Francis langsung kabur begitu sadar dengan apa yang telah dia lakukan.


Beberapa saat kemudian, Francis sudah berada di atap sebuah bangunan sambil melihat secara sembunyi-sembunyi kedua polisi yang sedari tadi mencarinya. Dia kemudian berbaring dan menghela nafasnya, memandangi langit biru dengan awan dan matahari yang menghiasinya. Terpana dengan keindahannya, dia kemudian memikirkan sesuatu.

Francis: “Langit seperti ini, apakah aku bisa melihatnya lagi di masa depan nanti?”

Mendadak ekspresi wajahnya berubah jengkel ketika ia melihat awan yang bentuknya mirip wajah Uchida, ia kemudian teringat kembali akan perkataan Uchida sebelum dia pergi ke tengah kota.

Francis: “Kenapa kita harus pergi ke negara-apapun-namanya ini?”
Uchida: “Ini Norwegia, dulu negeri ini adalah satu bagian dari negara Eropa. Di zaman ini Eropa disebut sebagai benua, satu benua terdiri dari banyak negara, satu negara terdiri dari banyak provinsi, satu provinsi...”
Francis: “Cukup! Aku bertanya 'kenapa' bukan 'apa', memangnya kita tak bisa pergi ke negara lain?!”
Uchida: “Sebenarnya ada alasan tertentu kita negara ini, sebelum aku membebaskanmu aku mengecek mesin itu terlebih dahulu. Masing-masing laboratorium cabang memiliki satu mesin, satu mesin terhubung dengan satu negara. Karena itulah kita berada di negara ini, dan ada suatu cara untuk mengaktifkan mesin itu. Waktu yang dituju angka terakhirnya harus sama, misalnya tanggal 9 bulan ke 9 tahun ke 9 jam ke 9 menit ke 9 dan detik ke 9. Karena aku baru tahu pemakaian mesin ini, untuk lebih mudahnya aku langsung saja set ulang seperti menekan tombol redial pada telepon. Untuk berjaga-jaga, aku mengubah tempat kedatangan agar tidak bertemu langsung dengan musuh yang pergi ke waktu yang sama dengan kita.”
Francis: “Tunggu sebentar, jika kau mengatakan waktu yang dituju angkanya harus sama kenapa kita tiba di jam yang berbeda? Kita berada di waktu yang semua angkanya 10, tapi kita sampai di sini pada jam 22:00 bukan?”
Uchida: “Yang benar jam 10:00 pm, itu adalah istilah waktu yang digunakan pada jaman ini. Mulai jam 00:00 am atau 12:00 am sampai dengan jam 12:00 pm, waktu kemudian berubah menjadi jam 01:00 pm sampai jam 12:00 am atau 00:00 am.”
Francis: “Rasanya aku bisa ingat itu, lalu di mana aku bisa mendapatkan 'koran' dan 'televisi' ini?”
Uchida: “Kau bisa membeli koran di stand di pinggir jalan, biasanya televisi bisa kau temukan di toko elektronik. Tapi lebih baik kau membeli koran saja, jangan berpikir untuk membeli televisi. Kau akan kuberi uang, belilah satu koran dan sisanya kau belikan makanan.”
Francis: “Bagaimana caranya kau menelan makanan jika lehermu tidak ada?”
Uchida: (terdiam 5 detik) “......, apa kau tak bisa membicarakan selain itu? Sudahlah, jangan membahas hal kecil. Yang terpenting sekarang adalah...”
Francis: (memandang dengan wajah menyeramkan) “Kuharap itu bukan makanan.”
Uchida: “Bukan, bukan, aku hanya mau memberimu uang. Kemarikan kedua telapak tanganmu.”

Francis menjulurkan kedua telapak tangannya, Uchida meletakkan beberapa lembar uang kertas dan lima keping uang receh di atasnya.

Uchida: “Itu adalah uang, alat untuk menukar barang. Jika di zaman kita, semua kebutuhan bisa kau dapatkan dengan mencuri ataupun diberi oleh seseorang. Tapi kita di zaman yang berbeda, jika kau ingin mendapatkan sesuatu kau harus memberikan ini dan setelah itu kau bisa mendapatkannya.”
Francis: “Kenapa ada gambar seseorang yang kelihatan bodoh di sini?”
Uchida: “Hei, hei, hei, tidak bisakah kau menghormati seseorang? Orang di gambar ini adalah orang penting yang membawa perubahan di negara ini, hanya beberapa orang yang berjasa pada negara ini akan mendapatkan kehormatan ditampilkan wajahnya pada selembar uang ini.”
Francis: “...berjasa ya, aku ragu masih ada orang seperti itu di zaman kita. Yang dianggap berjasa pada masa itu hanya mereka yang berhasil memberi kekuatan yang sangat besar atau berhasil mengalahkan banyak musuh, pembantaian saja sudah dianggap sebuah jasa.”
Uchida: “Aku paham perasaanmu, ngomong-ngomong kau bisa berhitung kan?”
Francis: “Tentu saja bisa, asalkan itu tidak ada hubungannya dengan perkalian. Sejak kau tanamkan sedikit kecerdasan dalam diriku, aku sudah mengetahui beberapa hal. Salah satunya adalah nama mata uang ini, jika tidak salah namanya 'Krona'.”
Uchida: “Oh, ada perkembangan.”
Francis: “Setiap barang yang akan kubeli memiliki harga, jika kuberikan uang dengan jumlah yang sesuai maka barang itu bisa kudapat. Tapi...”
Uchida: “Kenapa?”
Francis: “Kau yakin ini cukup untuk mendapatkan apa yang kita perlukan?”
Uchida: “Tenang saja, asalkan orang sepertimu bisa menahan diri dan tak punya keinginan tertentu, kita akan mendapatkan cukup.”
Francis: “Apa maksudmu?”
Uchida: “Setiap orang pastilah punya sesuatu yang dia inginkan, di tengah jalan nanti pasti ada sesuatu yang membuatmu tertarik dan kau ingin membelinya. Apa kau orang yang seperti itu?”
Francis: “Keinginanku sampai sekarang belum berubah, yaitu menghancurkan Alterion, sekarang mari kita fokuskan tujuan kita untuk mendapatkan kebutuhan kita.”
Uchida: “Dan lebih baik jangan berbuat yang aneh-aneh, kita tak tahu mungkin saja kita bisa bertemu musuh kapanpun.”
Francis: “Ya, ya, ya. Aku berangkat dulu.”
Uchida: “Hati-hati di jalan.” (bahasa Jepang)

Francis langsung meninggalkan tempat, diperhatikan oleh Uchida sampai dirinya tak bisa melihat Francis di kejauhan. Uchida langsung membuka tempat sampah dan mengambil sebuah koran bekas, tanggal yang tertera menunjukkan waktu tiga hari yang lalu. Di halaman depan tertulis 'Kecelakaan Pembawa Keajaiban', ada gambar yang menampilkan sebuah gedung yang rusak parah dan setengah terbakar. Namun di depannya ada sekumpulan orang yang berpakaian seperti ilmuwan berkumpul di depan sambil menggotong sebuah alat secara bersamaan sambil tersenyum, mendadak sebuah tangan menurunkan koran yang dibaca Uchida. Francis sekarang sudah berada di hadapan Uchida, mata dan mulut Uchida terbuka lebar-lebar.

Francis: “Ng, aku harus ke mana untuk mendapatkan barang yang kau sebutkan tadi?”
Uchida: (jengkel) “Bakayaro!! (bodoh) Kau kan bisa menunjukkan itu pada penduduk sekitar yang kau temui! Kenapa malah kembali ke sini!”
Francis: “A... aku kan tidak paham struktur kota ini!”
Uchida: “Suruh saja mereka membuat peta untukmu! Minta tolong polisi kalau perlu!”

Kembali pada saat Francis berada di atas atap, dia kini tidur berbaring dan menguap lebar-lebar. Mendadak terdengar suara teriakan dari bawah, Francis langsung melihat ke arah sumber suara. Seorang gadis kecil berlari sambil membawa sebuah bingkisan, di belakangnya ada dua orang lelaki mengejarnya. Sang gadis kecil berbelok dan terpojok di jalan buntu, dua orang yang mengejarnya kini berhenti dan menghalangi jalannya. Seorang pria berbadan jangkung, berkumis tebal, dan berambut keriting. Satu lagi, seorang pria berbadan pendek dan gempal.

Pria jangkung: “Mau lari ke mana lagi? Sudah tidak ada lagi jalan untukmu.”
Pria gempal: “Benar, lebih baik kau kemari dan berikan semua uangmu.”
Gadis kecil: “Ti... tidak bisa, uang itu... sudah habis kupakai untuk hadiah ibuku.”
Pria gempal: “Kalau begitu serahkan bingkisan itu!”
Gadis kecil: “Tidak mau!”
Pria jangkung: “Lagipula jika itu memang hadiah untuk ibumu, kau bisa membelinya lagi.”
Pria gempal: “Bingkisan itu akan dipakai untuk membayar hutang yang ibumu tanggung, jadi cepat berikan.”
Gadis kecil: “Aku tetap tidak mau menyerahkannya! Barang ini kubuat sendiri dengan memakai uang tabunganku, barang ini takkan berguna kalaupun aku memberikannya pada kalian!”

Pria gempal dan pria jangkung saling memandang, mereka kemudian menatap sang gadis kecil. Pria gempal itu kemudian mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam sakunya, mereka berdua menyeringai dan membuat gadis kecil itu ketakutan. Pria jangkung itu memegangi kedua tangan gadis kecil itu, menelungkupkan tubuhnya ke tanah dan mendudukinya. Bingkisan yang dia pegang jatuh, menggelinding ke belakang pria gempal dan menabrak kaki seseorang.

Gadis kecil: “Tidaaaak!!! Apa yang mau kalian lakukan!!! Jangan bunuh aku!”
Pria jangkung: “Tenang saja, kami takkan membunuhmu.” (wajah mesum)
Pria gempal: “Kalau tidak ada uang, biarkan kau membayarnya dengan tubuhmu.”(lidah menjulur)
Gadis kecil: “Tidaaaak!! Tolooong!! Siapapun, tolooong!!”
Pria gempal: “Percuma, takkan ada yang mende... NGAAAAAAH!!!” (berteriak kesakitan)

Seseorang mencubit telinga si pria gempal, membuatnya melepas pisau lipat yang dia pegang. Pria jangkung itu kaget dan melihat ke belakang, yang mencubit telinganya adalah Francis yang berdiri di belakang mereka.

Francis: “Anak kecil tak boleh main senjata tajam.”
Pria gempal: “AAARRGGH!! LEPAS! LEPAS!”
Pria jangkung: “Albert!! Hei, lepaskan dia!”
Francis: “Dengan senang hati.”

Dia melepaskan cubitannya, Albert meringis kesakitan sambil memegang telinganya. Si pria jangkung berdiri dan menghampiri Albert yang telinganya memerah karena cubitannya, Francis sendiri langsung melewati mereka dan menghampiri si gadis kecil. Dia membalikkan tubuh sang gadis, ternyata dia pingsan.

Francis: “Ah, ternyata kelakuan seperti inipun masih bisa kulihat di zaman ini.” (menoleh ke belakang)
Albert: “Hei kau!! Jangan kira bisa lolos dari hal ini!”
Francis: “Lolos? Kau kira aku akan lari dari kalian? Ng... hei, aku bisa lancar berbahasa Norwegia. Hebat, walau aku berusaha berbahasa Inggris sekalipun, lidahku hanya bisa mengucapkan bahasa ini saja.”
Albert: “Apa ada yang salah dengan orang ini, Jacques?”
Jacques: “Entahlah.”
Francis: “Ah, aku tak tahu apa masalahmu dengan anak ini, tapi bukankah lebih baik jika kau tinggalkan dia sendiri?”
Albert: “Ho, jadi kau mau menolong anak ini? Asal kau tahu, ibu dari anak itu sudah berhutang banyak kepada kami.”
Jacques: “Kepada boss.”
Albert: “Oh, maaf. Kepada boss kami, orang tuanya sudah meminjam uang dalam jumlah besar yang bahkan bila kau hitung pun takkan selesai dalam semalam. Oleh karena itu, seluruh keluarga anak itu termasuk dirinya harus melunasi utang itu bahkan bila harus mengorbankan nyawa sekalipun.”
Francis: (mengorek telinga dengan kelingking) “Banyak bicara, kepalaku jadi pusing. Yang terpenting sekarang...” (melirik gadis kecil dan membopongnya)
Jacques: “Hei, mau kau bawa ke mana anak itu!”
Albert: “Dengarkan jika orang sedang bicara! Ugh, Jacques!”

Jacques mengambil pisau yang terjatuh di tanah dan melemparkannya pada Francis, tapi dengan sigap ditangkap olehnya dengan mulutnya. Sementara mereka melihat dengan tak percaya, ada beberapa orang warga yang datang karena mendengar keributan. Mereka berdua lengah dan membelakangi Francis, di saat bersamaan Francis menjatuhkan pisau ke tanah dan kaki kanannya menendang gagang pisau. Pisau itu langsung menancap di pantat Albert, membuat dia berteriak kesakitan. Beberapa orang sudah sampai di tempat dan melihat Albert yang jatuh tengkurap dengan pisau menancap di pantatnya, Jacques sendiri berdiri di sebelahnya.

Warga 1: “Ada orang dirampok!”
Warga 2: “Lihat, dia ditusuk dengan pisau oleh orang itu!”
Jacques: “Bu... bukan... aku tidak... dia yang...”

Ketika Jacques melihat ke belakang, Francis sudah tidak lagi berada di tempat. Sebuah tinju melayang ke wajah Jacques ketika dia kembali menghadap ke depan, dia jatuh tersungkur akibat dipukul salah seorang warga. Samar-samar Jacques melihat Francis di atas atap bangunan sambil membopong sang gadis cilik, kejadian semakin bertambah parah ketika beberapa orang mulai mengeroyoknya. Francis segera beranjak dari tempat dia berdiri dan pergi sambil melompati bangunan-bangunan, meninggalkan kedua orang dengan nasib di tangan warga yang marah.


11 Oktober 2010, 13:30, Norwegia, Oslo. Gadis cilik yang tadi dipalak oleh kedua preman itu tertidur di atas sebuah bangku taman, beberapa saat kemudian dia terbangun dan menyadari dirinya sudah ada di sebuah taman. Heran dengan apa yang sebenarnya terjadi, dia melihat Francis duduk tertidur di sampingnya sambil melipat kedua lengannya. Sang gadis kecil berdiri sejenak, bingkisan yang tadinya dia bawa berada di sebelah kiri Francis. Bingkisan itu kemudian diambil dan diamati sang gadis perlahan-lahan, dia kemudian mengocok-ngocok isinya. Gadis cilik itu kemudian mendekati Francis, dia berusaha melihat matanya dengan cara mendekatkan wajahnya pada wajah Francis. Perlahan-lahan dia melihat ke dalam kacamata yang Francis pakai, tapi dia sudah dikagetkan sebuah suara sebelum dia sempat mendekatkan wajahnya satu senti saja.

Francis: “Sudah bangun?”

Sang gadis yang terkejut setengah mati begitu Francis bangun hampir saja jatuh, tapi beruntung Francis menangkap tangannya dan menariknya. Dalam sekejap sang gadis sudah jatuh di atas pangkuan Francis, dia memandang Francis dengan wajah merah.

Francis: “Hati-hati, kau tidak apa-apa?”
Gadis cilik: “I... iya.”

Si gadis cilik turun dari pangkuan Francis, dia juga menyerahkan bingkisan yang jatuh di atas pangkuannya kepadanya dan kemudian berdiri.

Francis: “Pulanglah, sebelum dua orang itu mencarimu lagi. Aku juga harus pergi, ada sesuatu yang harus kucari.”
Gadis cilik: “Ah, tunggu!”
Francis: “Ada apa lagi?”
Gadis cilik: “Te... terima kasih.”
Francis: “Oh, itu bukan apa-apa.”
Gadis cilik: “Kakak siapa? Namaku Claudia.”
Francis: “Memang jika aku memberitahukan namaku, apa yang bisa kudapat?”
Claudia: “I... itu...”
Francis: (mendesah) “Dengar, kalau kau bisa memberitahuku di mana aku bisa membeli koran dan makanan, mungkin akan kuberitahu.”
Claudia: “Ah... aku paham kak! Maaf, boleh kupanggil kakak?”
Francis: “Terserah kau saja.”


Di depan sebuah kios buah-buahan, Francis baru saja membeli sebungkus besar buah apel. Francis merogoh sakunya sementara tangan satunya sibuk memegang bungkusan apel, uang receh yang dikeluarkan Francis berjatuhan. Tiba-tiba Claudia datang dan langsung membantu mengambilnya dan memasukkannya ke dalam saku Francis, kemudian Francis membayar sang pedagang dengan selembar uang kertas yang dia keluarkan.

Francis: “Dari mana saja kau?”
Claudia: “Maaf kak, ini koran yang kakak cari. Aku baru saja membelinya di jalan seberang sana, biar kubawakan barang kakak.”
Francis: “Tidak, terima kasih. Lagipula aku harus membawakan ini pada orang yang membutuhkan, berikan saja korannya.”
Claudia: “Baik, kalau itu yang kakak minta.” (menyerahkan koran)
Francis: (menerima koran) “Terima kasih. (meletakkan di atas bungkusan) Baiklah, aku pergi dulu.”
Claudia: “Tunggu! Kakak belum memberitahu namanya!”
Francis: “Francis Zero, puas? Sekarang cepat pergi, aku tak mau kau bertemu dengan kedua orang itu lagi.”
Claudia: “Francis... Zero? Baik, terima kasih, kak Zero!”

Francis melambaikan tangan sambil membelakangi Claudia, dia sudah menghilang di hadapan matanya ketika berbelok di balik bangunan. Claudia tersenyum simpul sambil menggumamkan sebuah lagu, tapi belum lima detik ada tangan yang memegang pundaknya ketika dia akan pergi dan membalikkan badan. Claudia menoleh ke belakang dan sedikit terkejut, Francis kembali menemui Claudia.

Francis: “Ng, boleh aku mampir sebentar ke rumahmu?”
Claudia: “Eh?”



Sore harinya, Claudia dan Francis berjalan bersama di sebuah pemukiman. Masih membawa koran dan bungkusan apel, Francis membawanya dengan wajah manyun. Mendadak Claudia berlari memasuki sebuah rumah kecil, Francis mengikutinya dengan berjalan perlahan. Dia berhenti sejenak ketika sudah berada tepat di depan rumah tersebut, rumah itu terletak di antara sebuah lapangan bola kecil dan tempat pembuangan sampah yang lumayan besar. Di lapangan itu ada beberapa anak lelaki bermain sepakbola, disaksikan tiga anak gadis. Ketika salah satu dari mereka mencetak gol, para gadis cilik bersorak dengan senangnya. Dengan pandangan memilukan, dia kemudian memikirkan sesuatu. Francis teringat ketika dia masih di masa depan dan masih anak-anak, dia sedang bermain kejar-kejaran dengan tiga orang anak kecil. Mereka berlari di tengah-tengah tumpukan rongsokan besi, di sekitarnya berdiri banyak bangunan industri dengan cerobong asap yang tinggi. Asap yang keluar sangat tebal sehingga menutupi langit, hanya sedikit sinar matahari keluar dari kumpulan asap itu. Di atas langit beterbangan satu atau dua pesawat, membuang barang-barang rongsokan ke tempat sampah di bawahnya. Semacam robot raksasa dengan roda buldozer mengeruk sampah-sampah itu dan memasukkannya ke dalam sebuah lubang di dalam tanah. Ketika berkejar-kejaran, mendadak Francis berhenti sejenak memandang langit. Dia melihat beberapa cahaya berkilauan di balik asap, tapi itu bukanlah cahaya matahari. Semakin lama cahaya itu semakin dekat, wujud dari cahaya itu terungkap. Ada dua sampai tiga buah roket meluncur, tapi Francis hanya diam saja ketika roket itu mengarah kepadanya. Salah satunya terbang di atas kepala Francis, keduanya terbang melewati bagian kanan dan kirinya. Roket-roket itu terus meluncur ke arah sebuah bangunan industri, salah satunya menabrak dan menghancurkan sebuah robot pengeruk sampah yang sedang berjalan. Yang kedua arahnya melenceng karena sedikit menabrak tubuh robot yang hancur dan akhirnya menghancurkan pesawat pembuang sampah, namun keadaan menjadi sedikit berbeda ketika roket yang tersisa berhasil meluncur masuk ke dalam bangunan. Semacam percikan listrik keluar dari dalam bangunan, lama-kelamaan percikan itu menjadi semakin besar dan berikutnya terjadi ledakan besar. Francis tersadar dari lamunannya, bajunya sedari tadi sudah ditarik oleh Claudia.

Claudia: “Kak Zero, apa yang kakak pikirkan? Ayo masuk, ibuku memperbolehkan kakak untuk masuk ke dalam.”
Francis: “Oh, baiklah.”

Francis dan Claudia masuk ke dalam rumah tersebut, mereka tak sadar ada dua pasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan. Di dalam rumah, Francis duduk di depan sebuah meja. Apel dan koran yang dia beli diletakkan di atas meja, dia membaca halaman depan koran. Judul yang tertera 'Keajaiban Yang Dicuri', di dalam berita menunjukkan foto tembok yang dibobol. Tembok tersebut dilubangi dengan bentuk segitiga, beberapa polisi memeriksa lubang tersebut.

Francis: “Hee, jadi koran itu seperti ini? Kenapa orang di zaman ini senang menyusahkan diri mereka demi menempelkan gambar dan tulisan seperti ini? Ah ya, lebih baik aku coba makanan yang baru kubeli. (mengeluarkan sebuah apel) Kalau tak salah nama makanan ini 'apel', tapi bagaimana cara makan ini?”

Francis meletakkan apel itu di meja, dia menggigit tangkai yang ada di atas buah apel. Dia berusaha menyedotnya, tapi tidak ada yang terjadi. Dia kemudian menggenggam dan mengocok-ngocoknya, setelah itu dia mendekatkan telinganya ke apel itu. Apel itu kemudian diletakkan lagi di atas meja dan kemudian dipandangi, Claudia sendiri tiba-tiba sudah berada di belakang Francis.

Claudia: “Ada masalah?”
Francis: (menoleh ke belakang) “Bagaimana cara kau makan ini?” (menunjuk apel)
Claudia: “Kak Zero tidak pernah makan apel?”
Francis: “Sebenarnya baru pertama kali ini aku melihat makanan seperti ini, kukira di dalamnya ada semacam cairan yang bisa kusedot.”
Claudia: “Ahahaha, kak Zero lucu. Bisa kakak berikan apel itu?”


Beberapa saat kemudian, di hadapan Francis telah tersaji apel yang sudah dipotong-potong dan dihidangkan di atas piring. Francis memandangi apel itu dari dekat, menyentuhnya dengan jari telunjuknya.

Claudia: “Maaf, kak Zero. Kenapa tidak coba dimakan saja?”
Francis: (melirik Claudia) “Kau benar, (mengambil sepotong apel) akan kucoba.”

Francis memasukkan potongan apel itu ke dalam mulut dan menelannya, Claudia hanya memandanginya dengan heran.

Francis: “Sedikit manis... tapi rasanya agak keras saat ditelan.”
Claudia: “Kak Zero, kenapa kakak langsung menelannya?”
Francis: “Eh? Salah ya?”
Claudia: “Jika kak Zero menelannya, tentu saja rasa yang dirasakan hanya sedikit. Kakak harus menggigit dan mengunyahnya terlebih dahulu, lihat dan tirukan Claudia.”
Francis: “Baik.”
Claudia: (mengambil sepotong apel) “Ambil satu apel, masukkan ke mulut, gigit. Jangan ditelan, coba kak Zero merasakan dengan lidah kakak sendiri.”
Francis: (mata berbinar-binar) “Oh, tak kusangka rasanya semanis ini.”
Claudia: “Enak bukan? Sekarang kak Zero harus menggigitnya sampai jadi hancur, setelah rasa manisnya hilang kakak harus menelannya.”
Francis: (suara hati) “Tak kusangka jika untuk menikmati makanan di zaman seperti ini aku harus melakukan itu, aku sendiri hanya bisa mengkonsumsi setidaknya tiga tabung suplemen selama sehari dengan cara menyedotnya.”

Sementara itu di luar rumah, dua orang yang tadinya mengganggu Claudia berdiri mengamati rumah yang dimasuki Francis. Mereka melihat dari balik tiang listrik, orang itu tak lain dan tak bukan adalah Albert dan Jacques. Albert sedari tadi memegang pantatnya yang tadi tertusuk pisau, Jacques sendiri kepalanya diperban sehingga hanya terlihat wajahnya saja. Hidungnya ditempeli plester, mata kirinya ditutupi kapas. Albert kemudian mengeluarkan sebuah telpon genggam dan menghubungi seseorang, dalam 5 detik seseorang menjawab panggilannya.

Albert: “Bos, kita sudah berada di depan rumah keluarga Welsley. Apa yang harus kita lakukan?”
?: “Kalian tunggu saja di sana, nanti malam aku akan ke sana.”
Albert: “Apa bos yakin? Kami berdua sudah tidak sanggup melakukan apa-apa dengan keadaan kami sekarang, tapi mungkin ada yang bisa kami lakukan.”
?: “Awasi saja mereka, lagipula kalian tahu bukan jika ada salah seorang melawan kita akan habisi mereka semua.”
Albert: “Aku paham bos.” (menyeringai)

No comments:

Post a Comment