PENGAMATAN
11 Oktober 2010, Oslo,
Norwegia, 09:45. Di tengah kota, seseorang pria berjalan sambil
mengantungi kedua tangannya di saku celana jeansnya yang pendek.
Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, dia berjalan sambil
membungkukkan badan dengan bibir mencibir. Pria itu sendiri memakai
kacamata hitam, memiliki rambut merah dan jambul berwarna putih, di
pelipis kirinya ada codet, hidung pesek, sedikit berjanggut, dan
beralis tipis. Kakinya yang terus melangkah ke depan menggunakan
sepasang sandal, penampilannya sendiri tampak seperti preman. Dengan
saputangan kuning diikat di sikut kirinya, kaus merah tak berlengan
dengan gambar tengkorak dan kampak menancap di kepalanya. Mendadak
dia berhenti dan mengakkan badannya, dia kemudian menengadah ke
langit dan menarik nafas dalam-dalam.
Francis:
“MENYEBALKAAAAAAN!!!”
Seluruh warga kota
langsung kaget begitu mendengar teriakannya, beberapa mobil langsung
berhenti mendadak. Beberapa orang menghindari mobil yang hampir
menabrak mereka, beberapa orang yang lain bertabrakan dan ada yang
terjatuh ke jalan. Dua orang polisi tiba di tempat sambil meniup
peluit, Francis langsung kabur begitu sadar dengan apa yang telah dia
lakukan.
Beberapa saat kemudian,
Francis sudah berada di atap sebuah bangunan sambil melihat secara
sembunyi-sembunyi kedua polisi yang sedari tadi mencarinya. Dia
kemudian berbaring dan menghela nafasnya, memandangi langit biru
dengan awan dan matahari yang menghiasinya. Terpana dengan
keindahannya, dia kemudian memikirkan sesuatu.
Francis: “Langit
seperti ini, apakah aku bisa melihatnya lagi di masa depan nanti?”
Mendadak ekspresi
wajahnya berubah jengkel ketika ia melihat awan yang bentuknya mirip
wajah Uchida, ia kemudian teringat kembali akan perkataan Uchida
sebelum dia pergi ke tengah kota.
Francis: “Kenapa kita
harus pergi ke negara-apapun-namanya ini?”
Uchida: “Ini Norwegia,
dulu negeri ini adalah satu bagian dari negara Eropa. Di zaman ini
Eropa disebut sebagai benua, satu benua terdiri dari banyak negara,
satu negara terdiri dari banyak provinsi, satu provinsi...”
Francis: “Cukup! Aku
bertanya 'kenapa' bukan 'apa', memangnya kita tak bisa pergi ke
negara lain?!”
Uchida: “Sebenarnya ada
alasan tertentu kita negara ini, sebelum aku membebaskanmu aku
mengecek mesin itu terlebih dahulu. Masing-masing laboratorium cabang
memiliki satu mesin, satu mesin terhubung dengan satu negara. Karena
itulah kita berada di negara ini, dan ada suatu cara untuk
mengaktifkan mesin itu. Waktu yang dituju angka terakhirnya harus
sama, misalnya tanggal 9 bulan ke 9 tahun ke 9 jam ke 9 menit ke 9
dan detik ke 9. Karena aku baru tahu pemakaian mesin ini, untuk lebih
mudahnya aku langsung saja set ulang seperti menekan tombol redial
pada telepon. Untuk berjaga-jaga, aku mengubah tempat kedatangan agar
tidak bertemu langsung dengan musuh yang pergi ke waktu yang sama
dengan kita.”
Francis: “Tunggu
sebentar, jika kau mengatakan waktu yang dituju angkanya harus sama
kenapa kita tiba di jam yang berbeda? Kita berada di waktu yang semua
angkanya 10, tapi kita sampai di sini pada jam 22:00 bukan?”
Uchida: “Yang benar jam
10:00 pm, itu adalah istilah waktu yang digunakan pada jaman ini.
Mulai jam 00:00 am atau 12:00 am sampai dengan jam 12:00 pm, waktu
kemudian berubah menjadi jam 01:00 pm sampai jam 12:00 am atau 00:00
am.”
Francis: “Rasanya aku
bisa ingat itu, lalu di mana aku bisa mendapatkan 'koran' dan
'televisi' ini?”
Uchida: “Kau bisa
membeli koran di stand di pinggir jalan, biasanya televisi bisa kau
temukan di toko elektronik. Tapi lebih baik kau membeli koran saja,
jangan berpikir untuk membeli televisi. Kau akan kuberi uang, belilah
satu koran dan sisanya kau belikan makanan.”
Francis: “Bagaimana
caranya kau menelan makanan jika lehermu tidak ada?”
Uchida: (terdiam 5 detik)
“......, apa kau tak bisa membicarakan selain itu? Sudahlah, jangan
membahas hal kecil. Yang terpenting sekarang adalah...”
Francis: (memandang
dengan wajah menyeramkan) “Kuharap itu bukan makanan.”
Uchida: “Bukan, bukan,
aku hanya mau memberimu uang. Kemarikan kedua telapak tanganmu.”
Francis menjulurkan
kedua telapak tangannya, Uchida meletakkan beberapa lembar uang
kertas dan lima keping uang receh di atasnya.
Uchida: “Itu adalah
uang, alat untuk menukar barang. Jika di zaman kita, semua kebutuhan
bisa kau dapatkan dengan mencuri ataupun diberi oleh seseorang. Tapi
kita di zaman yang berbeda, jika kau ingin mendapatkan sesuatu kau
harus memberikan ini dan setelah itu kau bisa mendapatkannya.”
Francis: “Kenapa ada
gambar seseorang yang kelihatan bodoh di sini?”
Uchida: “Hei, hei, hei,
tidak bisakah kau menghormati seseorang? Orang di gambar ini adalah
orang penting yang membawa perubahan di negara ini, hanya beberapa
orang yang berjasa pada negara ini akan mendapatkan kehormatan
ditampilkan wajahnya pada selembar uang ini.”
Francis: “...berjasa
ya, aku ragu masih ada orang seperti itu di zaman kita. Yang dianggap
berjasa pada masa itu hanya mereka yang berhasil memberi kekuatan
yang sangat besar atau berhasil mengalahkan banyak musuh, pembantaian
saja sudah dianggap sebuah jasa.”
Uchida: “Aku paham
perasaanmu, ngomong-ngomong kau bisa berhitung kan?”
Francis: “Tentu saja
bisa, asalkan itu tidak ada hubungannya dengan perkalian. Sejak kau
tanamkan sedikit kecerdasan dalam diriku, aku sudah mengetahui
beberapa hal. Salah satunya adalah nama mata uang ini, jika tidak
salah namanya 'Krona'.”
Uchida: “Oh, ada
perkembangan.”
Francis: “Setiap barang
yang akan kubeli memiliki harga, jika kuberikan uang dengan jumlah
yang sesuai maka barang itu bisa kudapat. Tapi...”
Uchida: “Kenapa?”
Francis: “Kau yakin ini
cukup untuk mendapatkan apa yang kita perlukan?”
Uchida: “Tenang saja,
asalkan orang sepertimu bisa menahan diri dan tak punya keinginan
tertentu, kita akan mendapatkan cukup.”
Francis: “Apa
maksudmu?”
Uchida: “Setiap orang
pastilah punya sesuatu yang dia inginkan, di tengah jalan nanti pasti
ada sesuatu yang membuatmu tertarik dan kau ingin membelinya. Apa kau
orang yang seperti itu?”
Francis: “Keinginanku
sampai sekarang belum berubah, yaitu menghancurkan Alterion, sekarang
mari kita fokuskan tujuan kita untuk mendapatkan kebutuhan kita.”
Uchida: “Dan lebih baik
jangan berbuat yang aneh-aneh, kita tak tahu mungkin saja kita bisa
bertemu musuh kapanpun.”
Francis: “Ya, ya, ya.
Aku berangkat dulu.”
Uchida: “Hati-hati di
jalan.” (bahasa Jepang)
Francis langsung
meninggalkan tempat, diperhatikan oleh Uchida sampai dirinya tak bisa
melihat Francis di kejauhan. Uchida langsung membuka tempat sampah
dan mengambil sebuah koran bekas, tanggal yang tertera menunjukkan
waktu tiga hari yang lalu. Di halaman depan tertulis 'Kecelakaan
Pembawa Keajaiban', ada gambar yang menampilkan sebuah gedung yang
rusak parah dan setengah terbakar. Namun di depannya ada sekumpulan
orang yang berpakaian seperti ilmuwan berkumpul di depan sambil
menggotong sebuah alat secara bersamaan sambil tersenyum, mendadak
sebuah tangan menurunkan koran yang dibaca Uchida. Francis sekarang
sudah berada di hadapan Uchida, mata dan mulut Uchida terbuka
lebar-lebar.
Francis: “Ng, aku harus
ke mana untuk mendapatkan barang yang kau sebutkan tadi?”
Uchida: (jengkel)
“Bakayaro!! (bodoh) Kau kan bisa menunjukkan itu pada penduduk
sekitar yang kau temui! Kenapa malah kembali ke sini!”
Francis: “A... aku kan
tidak paham struktur kota ini!”
Uchida: “Suruh saja
mereka membuat peta untukmu! Minta tolong polisi kalau perlu!”
Kembali pada saat
Francis berada di atas atap, dia kini tidur berbaring dan menguap
lebar-lebar. Mendadak terdengar suara teriakan dari bawah, Francis
langsung melihat ke arah sumber suara. Seorang gadis kecil berlari
sambil membawa sebuah bingkisan, di belakangnya ada dua orang lelaki
mengejarnya. Sang gadis kecil berbelok dan terpojok di jalan buntu,
dua orang yang mengejarnya kini berhenti dan menghalangi jalannya.
Seorang pria berbadan jangkung, berkumis tebal, dan berambut
keriting. Satu lagi, seorang pria berbadan pendek dan gempal.
Pria jangkung: “Mau
lari ke mana lagi? Sudah tidak ada lagi jalan untukmu.”
Pria gempal: “Benar,
lebih baik kau kemari dan berikan semua uangmu.”
Gadis kecil: “Ti...
tidak bisa, uang itu... sudah habis kupakai untuk hadiah ibuku.”
Pria gempal: “Kalau
begitu serahkan bingkisan itu!”
Gadis kecil: “Tidak
mau!”
Pria jangkung: “Lagipula
jika itu memang hadiah untuk ibumu, kau bisa membelinya lagi.”
Pria gempal: “Bingkisan
itu akan dipakai untuk membayar hutang yang ibumu tanggung, jadi
cepat berikan.”
Gadis kecil: “Aku tetap
tidak mau menyerahkannya! Barang ini kubuat sendiri dengan memakai
uang tabunganku, barang ini takkan berguna kalaupun aku memberikannya
pada kalian!”
Pria gempal dan pria
jangkung saling memandang, mereka kemudian menatap sang gadis kecil.
Pria gempal itu kemudian mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam
sakunya, mereka berdua menyeringai dan membuat gadis kecil itu
ketakutan. Pria jangkung itu memegangi kedua tangan gadis kecil itu,
menelungkupkan tubuhnya ke tanah dan mendudukinya. Bingkisan yang dia
pegang jatuh, menggelinding ke belakang pria gempal dan menabrak
kaki seseorang.
Gadis kecil: “Tidaaaak!!!
Apa yang mau kalian lakukan!!! Jangan bunuh aku!”
Pria jangkung: “Tenang
saja, kami takkan membunuhmu.” (wajah mesum)
Pria gempal: “Kalau
tidak ada uang, biarkan kau membayarnya dengan tubuhmu.”(lidah
menjulur)
Gadis kecil: “Tidaaaak!!
Tolooong!! Siapapun, tolooong!!”
Pria gempal: “Percuma,
takkan ada yang mende... NGAAAAAAH!!!” (berteriak kesakitan)
Seseorang mencubit
telinga si pria gempal, membuatnya melepas pisau lipat yang dia
pegang. Pria jangkung itu kaget dan melihat ke belakang, yang
mencubit telinganya adalah Francis yang berdiri di belakang mereka.
Francis: “Anak kecil
tak boleh main senjata tajam.”
Pria gempal: “AAARRGGH!!
LEPAS! LEPAS!”
Pria jangkung: “Albert!!
Hei, lepaskan dia!”
Francis: “Dengan senang
hati.”
Dia melepaskan
cubitannya, Albert meringis kesakitan sambil memegang telinganya. Si
pria jangkung berdiri dan menghampiri Albert yang telinganya memerah
karena cubitannya, Francis sendiri langsung melewati mereka dan
menghampiri si gadis kecil. Dia membalikkan tubuh sang gadis,
ternyata dia pingsan.
Francis: “Ah, ternyata
kelakuan seperti inipun masih bisa kulihat di zaman ini.” (menoleh
ke belakang)
Albert: “Hei kau!!
Jangan kira bisa lolos dari hal ini!”
Francis: “Lolos? Kau
kira aku akan lari dari kalian? Ng... hei, aku bisa lancar berbahasa
Norwegia. Hebat, walau aku berusaha berbahasa Inggris sekalipun,
lidahku hanya bisa mengucapkan bahasa ini saja.”
Albert: “Apa ada yang
salah dengan orang ini, Jacques?”
Jacques: “Entahlah.”
Francis: “Ah, aku tak
tahu apa masalahmu dengan anak ini, tapi bukankah lebih baik jika kau
tinggalkan dia sendiri?”
Albert: “Ho, jadi kau
mau menolong anak ini? Asal kau tahu, ibu dari anak itu sudah
berhutang banyak kepada kami.”
Jacques: “Kepada boss.”
Albert: “Oh, maaf.
Kepada boss kami, orang tuanya sudah meminjam uang dalam jumlah besar
yang bahkan bila kau hitung pun takkan selesai dalam semalam. Oleh
karena itu, seluruh keluarga anak itu termasuk dirinya harus melunasi
utang itu bahkan bila harus mengorbankan nyawa sekalipun.”
Francis: (mengorek
telinga dengan kelingking) “Banyak bicara, kepalaku jadi pusing.
Yang terpenting sekarang...” (melirik gadis kecil dan membopongnya)
Jacques: “Hei, mau kau bawa ke mana
anak itu!”
Albert: “Dengarkan jika orang sedang
bicara! Ugh, Jacques!”
Jacques mengambil pisau
yang terjatuh di tanah dan melemparkannya pada Francis, tapi dengan
sigap ditangkap olehnya dengan mulutnya. Sementara mereka melihat
dengan tak percaya, ada beberapa orang warga yang datang karena
mendengar keributan. Mereka berdua lengah dan membelakangi Francis,
di saat bersamaan Francis menjatuhkan pisau ke tanah dan kaki
kanannya menendang gagang pisau. Pisau itu langsung menancap di
pantat Albert, membuat dia berteriak kesakitan. Beberapa orang sudah
sampai di tempat dan melihat Albert yang jatuh tengkurap dengan pisau
menancap di pantatnya, Jacques sendiri berdiri di sebelahnya.
Warga 1: “Ada orang
dirampok!”
Warga 2: “Lihat, dia
ditusuk dengan pisau oleh orang itu!”
Jacques: “Bu...
bukan... aku tidak... dia yang...”
Ketika Jacques melihat
ke belakang, Francis sudah tidak lagi berada di tempat. Sebuah tinju
melayang ke wajah Jacques ketika dia kembali menghadap ke depan, dia
jatuh tersungkur akibat dipukul salah seorang warga. Samar-samar
Jacques melihat Francis di atas atap bangunan sambil membopong sang
gadis cilik, kejadian semakin bertambah parah ketika beberapa orang
mulai mengeroyoknya. Francis segera beranjak dari tempat dia berdiri
dan pergi sambil melompati bangunan-bangunan, meninggalkan kedua
orang dengan nasib di tangan warga yang marah.
11 Oktober 2010, 13:30,
Norwegia, Oslo. Gadis cilik yang tadi dipalak oleh kedua preman itu
tertidur di atas sebuah bangku taman, beberapa saat kemudian dia
terbangun dan menyadari dirinya sudah ada di sebuah taman. Heran
dengan apa yang sebenarnya terjadi, dia melihat Francis duduk
tertidur di sampingnya sambil melipat kedua lengannya. Sang gadis
kecil berdiri sejenak, bingkisan yang tadinya dia bawa berada di
sebelah kiri Francis. Bingkisan itu kemudian diambil dan diamati sang
gadis perlahan-lahan, dia kemudian mengocok-ngocok isinya. Gadis
cilik itu kemudian mendekati Francis, dia berusaha melihat matanya
dengan cara mendekatkan wajahnya pada wajah Francis. Perlahan-lahan
dia melihat ke dalam kacamata yang Francis pakai, tapi dia sudah
dikagetkan sebuah suara sebelum dia sempat mendekatkan wajahnya satu
senti saja.
Francis: “Sudah
bangun?”
Sang gadis yang terkejut
setengah mati begitu Francis bangun hampir saja jatuh, tapi beruntung
Francis menangkap tangannya dan menariknya. Dalam sekejap sang gadis
sudah jatuh di atas pangkuan Francis, dia memandang Francis dengan
wajah merah.
Francis: “Hati-hati,
kau tidak apa-apa?”
Gadis cilik: “I...
iya.”
Si gadis cilik turun
dari pangkuan Francis, dia juga menyerahkan bingkisan yang jatuh di
atas pangkuannya kepadanya dan kemudian berdiri.
Francis: “Pulanglah,
sebelum dua orang itu mencarimu lagi. Aku juga harus pergi, ada
sesuatu yang harus kucari.”
Gadis cilik: “Ah,
tunggu!”
Francis: “Ada apa
lagi?”
Gadis cilik: “Te...
terima kasih.”
Francis: “Oh, itu bukan
apa-apa.”
Gadis cilik: “Kakak
siapa? Namaku Claudia.”
Francis: “Memang jika
aku memberitahukan namaku, apa yang bisa kudapat?”
Claudia: “I... itu...”
Francis: (mendesah)
“Dengar, kalau kau bisa memberitahuku di mana aku bisa membeli
koran dan makanan, mungkin akan kuberitahu.”
Claudia: “Ah... aku
paham kak! Maaf, boleh kupanggil kakak?”
Francis: “Terserah kau
saja.”
Di depan sebuah kios
buah-buahan, Francis baru saja membeli sebungkus besar buah apel.
Francis merogoh sakunya sementara tangan satunya sibuk memegang
bungkusan apel, uang receh yang dikeluarkan Francis berjatuhan.
Tiba-tiba Claudia datang dan langsung membantu mengambilnya dan
memasukkannya ke dalam saku Francis, kemudian Francis membayar sang
pedagang dengan selembar uang kertas yang dia keluarkan.
Francis: “Dari mana
saja kau?”
Claudia: “Maaf kak, ini
koran yang kakak cari. Aku baru saja membelinya di jalan seberang
sana, biar kubawakan barang kakak.”
Francis: “Tidak, terima
kasih. Lagipula aku harus membawakan ini pada orang yang membutuhkan,
berikan saja korannya.”
Claudia: “Baik, kalau
itu yang kakak minta.” (menyerahkan koran)
Francis: (menerima koran)
“Terima kasih. (meletakkan di atas bungkusan) Baiklah, aku pergi
dulu.”
Claudia: “Tunggu! Kakak
belum memberitahu namanya!”
Francis: “Francis Zero,
puas? Sekarang cepat pergi, aku tak mau kau bertemu dengan kedua
orang itu lagi.”
Claudia: “Francis...
Zero? Baik, terima kasih, kak Zero!”
Francis melambaikan
tangan sambil membelakangi Claudia, dia sudah menghilang di hadapan
matanya ketika berbelok di balik bangunan. Claudia tersenyum simpul
sambil menggumamkan sebuah lagu, tapi belum lima detik ada tangan
yang memegang pundaknya ketika dia akan pergi dan membalikkan badan.
Claudia menoleh ke belakang dan sedikit terkejut, Francis kembali
menemui Claudia.
Francis: “Ng, boleh aku
mampir sebentar ke rumahmu?”
Claudia: “Eh?”
Sore harinya, Claudia
dan Francis berjalan bersama di sebuah pemukiman. Masih membawa koran
dan bungkusan apel, Francis membawanya dengan wajah manyun. Mendadak
Claudia berlari memasuki sebuah rumah kecil, Francis mengikutinya
dengan berjalan perlahan. Dia berhenti sejenak ketika sudah berada
tepat di depan rumah tersebut, rumah itu terletak di antara sebuah
lapangan bola kecil dan tempat pembuangan sampah yang lumayan besar.
Di lapangan itu ada beberapa anak lelaki bermain sepakbola,
disaksikan tiga anak gadis. Ketika salah satu dari mereka mencetak
gol, para gadis cilik bersorak dengan senangnya. Dengan pandangan
memilukan, dia kemudian memikirkan sesuatu. Francis teringat ketika
dia masih di masa depan dan masih anak-anak, dia sedang bermain
kejar-kejaran dengan tiga orang anak kecil. Mereka berlari di
tengah-tengah tumpukan rongsokan besi, di sekitarnya berdiri banyak
bangunan industri dengan cerobong asap yang tinggi. Asap yang keluar
sangat tebal sehingga menutupi langit, hanya sedikit sinar matahari
keluar dari kumpulan asap itu. Di atas langit beterbangan satu atau
dua pesawat, membuang barang-barang rongsokan ke tempat sampah di
bawahnya. Semacam robot raksasa dengan roda buldozer mengeruk
sampah-sampah itu dan memasukkannya ke dalam sebuah lubang di dalam
tanah. Ketika berkejar-kejaran, mendadak Francis berhenti sejenak
memandang langit. Dia melihat beberapa cahaya berkilauan di balik
asap, tapi itu bukanlah cahaya matahari. Semakin lama cahaya itu
semakin dekat, wujud dari cahaya itu terungkap. Ada dua sampai tiga
buah roket meluncur, tapi Francis hanya diam saja ketika roket itu
mengarah kepadanya. Salah satunya terbang di atas kepala Francis,
keduanya terbang melewati bagian kanan dan kirinya. Roket-roket itu
terus meluncur ke arah sebuah bangunan industri, salah satunya
menabrak dan menghancurkan sebuah robot pengeruk sampah yang sedang
berjalan. Yang kedua arahnya melenceng karena sedikit menabrak tubuh
robot yang hancur dan akhirnya menghancurkan pesawat pembuang sampah,
namun keadaan menjadi sedikit berbeda ketika roket yang tersisa
berhasil meluncur masuk ke dalam bangunan. Semacam percikan listrik
keluar dari dalam bangunan, lama-kelamaan percikan itu menjadi
semakin besar dan berikutnya terjadi ledakan besar. Francis tersadar
dari lamunannya, bajunya sedari tadi sudah ditarik oleh Claudia.
Claudia: “Kak Zero, apa
yang kakak pikirkan? Ayo masuk, ibuku memperbolehkan kakak untuk
masuk ke dalam.”
Francis: “Oh, baiklah.”
Francis dan Claudia
masuk ke dalam rumah tersebut, mereka tak sadar ada dua pasang mata
yang mengawasi mereka dari kejauhan. Di dalam rumah, Francis duduk di
depan sebuah meja. Apel dan koran yang dia beli diletakkan di atas
meja, dia membaca halaman depan koran. Judul yang tertera 'Keajaiban
Yang Dicuri', di dalam berita menunjukkan foto tembok yang dibobol.
Tembok tersebut dilubangi dengan bentuk segitiga, beberapa polisi
memeriksa lubang tersebut.
Francis: “Hee, jadi
koran itu seperti ini? Kenapa orang di zaman ini senang menyusahkan
diri mereka demi menempelkan gambar dan tulisan seperti ini? Ah ya,
lebih baik aku coba makanan yang baru kubeli. (mengeluarkan sebuah
apel) Kalau tak salah nama makanan ini 'apel', tapi bagaimana cara
makan ini?”
Francis meletakkan apel
itu di meja, dia menggigit tangkai yang ada di atas buah apel. Dia
berusaha menyedotnya, tapi tidak ada yang terjadi. Dia kemudian
menggenggam dan mengocok-ngocoknya, setelah itu dia mendekatkan
telinganya ke apel itu. Apel itu kemudian diletakkan lagi di atas
meja dan kemudian dipandangi, Claudia sendiri tiba-tiba sudah berada
di belakang Francis.
Claudia: “Ada masalah?”
Francis: (menoleh ke
belakang) “Bagaimana cara kau makan ini?” (menunjuk apel)
Claudia: “Kak Zero
tidak pernah makan apel?”
Francis: “Sebenarnya
baru pertama kali ini aku melihat makanan seperti ini, kukira di
dalamnya ada semacam cairan yang bisa kusedot.”
Claudia: “Ahahaha, kak
Zero lucu. Bisa kakak berikan apel itu?”
Beberapa saat kemudian,
di hadapan Francis telah tersaji apel yang sudah dipotong-potong dan
dihidangkan di atas piring. Francis memandangi apel itu dari dekat,
menyentuhnya dengan jari telunjuknya.
Claudia: “Maaf, kak
Zero. Kenapa tidak coba dimakan saja?”
Francis: (melirik
Claudia) “Kau benar, (mengambil sepotong apel) akan kucoba.”
Francis memasukkan
potongan apel itu ke dalam mulut dan menelannya, Claudia hanya
memandanginya dengan heran.
Francis: “Sedikit
manis... tapi rasanya agak keras saat ditelan.”
Claudia: “Kak Zero,
kenapa kakak langsung menelannya?”
Francis: “Eh? Salah
ya?”
Claudia: “Jika kak Zero
menelannya, tentu saja rasa yang dirasakan hanya sedikit. Kakak harus
menggigit dan mengunyahnya terlebih dahulu, lihat dan tirukan
Claudia.”
Francis: “Baik.”
Claudia: (mengambil
sepotong apel) “Ambil satu apel, masukkan ke mulut, gigit. Jangan
ditelan, coba kak Zero merasakan dengan lidah kakak sendiri.”
Francis: (mata
berbinar-binar) “Oh, tak kusangka rasanya semanis ini.”
Claudia: “Enak bukan?
Sekarang kak Zero harus menggigitnya sampai jadi hancur, setelah rasa
manisnya hilang kakak harus menelannya.”
Francis: (suara hati)
“Tak kusangka jika untuk menikmati makanan di zaman seperti ini aku
harus melakukan itu, aku sendiri hanya bisa mengkonsumsi setidaknya
tiga tabung suplemen selama sehari dengan cara menyedotnya.”
Sementara itu di luar
rumah, dua orang yang tadinya mengganggu Claudia berdiri mengamati
rumah yang dimasuki Francis. Mereka melihat dari balik tiang listrik,
orang itu tak lain dan tak bukan adalah Albert dan Jacques. Albert
sedari tadi memegang pantatnya yang tadi tertusuk pisau, Jacques
sendiri kepalanya diperban sehingga hanya terlihat wajahnya saja.
Hidungnya ditempeli plester, mata kirinya ditutupi kapas. Albert
kemudian mengeluarkan sebuah telpon genggam dan menghubungi
seseorang, dalam 5 detik seseorang menjawab panggilannya.
Albert: “Bos, kita
sudah berada di depan rumah keluarga Welsley. Apa yang harus kita
lakukan?”
?: “Kalian tunggu saja
di sana, nanti malam aku akan ke sana.”
Albert: “Apa bos yakin?
Kami berdua sudah tidak sanggup melakukan apa-apa dengan keadaan kami
sekarang, tapi mungkin ada yang bisa kami lakukan.”
?: “Awasi saja mereka,
lagipula kalian tahu bukan jika ada salah seorang melawan kita akan
habisi mereka semua.”
Albert: “Aku paham
bos.” (menyeringai)
No comments:
Post a Comment