Wednesday, January 16, 2013

Level 10


PERTEMUAN

Oslo, Norwegia, 12 Oktober 2010, 11:00. Di sebuah gudang yang tak terpakai, ada truk yang membawa muatan sebuah kotak besar masuk ke dalamnya. Truk itu berhenti, beberapa orang segera menurunkan kotak besar itu dan membawanya ke sebuah ruangan. Begitu kotak itu diletakkan di atas sebuah meja, mereka kemudian membukanya dengan linggis. Kini isi kotak itu terbuka lebar, di dalamnya ada sesuatu yang besar berbentuk telur raksasa. Isi kotak itu kemudian dikeluarkan dan diletakkan di lantai, beberapa orang yang penasaran mengerumuni benda tersebut. Di benda itu tertempel kertas dengan tulisan Norwegia, isi tulisan itu adalah 'tekan tombolnya'. Seseorang kemudian menekan tombol yang berbentuk seperti lambang matahari yang ada di tengah-tengah, bagian atas benda itu terbuka dan sesuatu meluncur keluar. Mereka sempat kaget melihat apa yang keluar dari dalam, itu adalah kepala Uchida yang melayang-layang.

Uchida: “Selamat siang.”

Seketika itu juga, cahaya yang berkilauan muncul dari mata buatan Uchida. Dalam sekejap seluruh orang di dalam ruangan pingsan, benda itu sendiri adalah tubuh Uchida yang sekarang terbentuk kembali dengan tangan dan kaki yang muncul dari dalam. Dia kemudian melihat sekeliling ruangan, di dalamnya seperti semacam laboratorium. Ada beberapa meja dengan banyak plastik dan serbuk putih, beberapa orang yang pingsan mengenakan masker.

Uchida: “Apa-apaan? Jelas hal seperti ini harus segera disingkirkan, aku harus secepatnya mengubah ingatan mereka.”

Mulut Uchida terbuka lebar-lebar, sebuah speaker keluar dari dalamnya. Sebuah suara mendenging yang sangat keras keluar dari speaker itu, kemudian suara itu berhenti dan suara Uchida sendiri keluar dan bergaung di sekitar ruangan.

Uchida: “Namaku Uchida, kalian akan menjadi orang yang mengenal dan menuruti beberapa perintahku selama beberapa saat. Saat kalian kubangunkan dengan tepukan tangan, kalian akan memanggilku Uchida-san. Setelah tugas yang kuberikan pada tiap orang selesai, kalian akan keluar dari tempat ini dan kembali ke rumah kalian. Pada saat kalian berada di dalam dan mengunci rumah kalian, kalian akan melupakan segala hal yang berhubungan dengan Francois dan seluruh pekerjaannya.”

Speaker di dalam mulut Uchida kembali masuk ke dalam, dia kemudian menepukkan tangannya sekali. Semua orang langsung terbangun dan berdiri tegap, mereka semua menghadapi Uchida dengan tenang.

Uchida: “Sekarang, kita mulai pekerjaannya.”


Di dalam sebuah ruangan di rumah sakit, Francis, Claudia, dan Gilda duduk berhadapan dengan Gilbert yang terbaring di ranjang. Kepalanya diperban dari ubun-ubun sampai dagunya, jari-jari di kedua tangannya juga diperban. Di sebelah kiri ranjangnya ada pot berisikan bunga diletakkan di atas meja, di sebelah kanannya ada seorang pasien yang tertidur pulas di atas ranjang.

Gilbert: “Aku sungguh terkejut ketika bertemu denganmu, aku juga ingin berterima kasih atas penyelamat keluargaku.”
Francis: “Siapa maksudnya?”
Claudia: “Tentu saja kak Zero, memang siapa yang tadi melawan semua orang dan monster yang kakak hadapi?”
Gilda: “Monster?”
Francis: “Ah... maksudnya, orang-orang yang berwajah seperti monster. Memang tadi ada beberapa yang wajahnya jelek, jadi mungkin dia mengira mereka monster.” (menatap Claudia dan meletakkan jari telunjuknya di mulutnya sambil menggeleng)
Claudia: (mengangguk) “Be... benar ibu, wajah mereka memang jelek sekali.”
Francis: “Pastilah mereka memberimu hari yang buruk, untungnya kau masih hidup.”
Gilbert: “Ya, untunglah. Walau sekarang aku terbaring di tempat ini, tapi setidaknya aku masih bisa bertemu keluargaku.”
Francis: “Semoga cepat sembuh, bajumu juga akan segera kukembalikan.”
Gilbert: “Tidak perlu, ambil saja. Lagipula kenapa kau memakai masker dan kacamata? Apa terjadi sesuatu dengan wajahmu?”
Francis: “Sedikit kecelakaan sejak kejadian tadi, tapi sudah diobati.”
Gilbert: “Kalau sedikit, kau tak perlu memakai masker dan kacamata itu.”
Gilda: “Sayang, dia memang terkena sedikit lebam dan tergores. Tapi lukanya sendiri begitu besar, Francis tak ingin kau melihatnya.”
Gilbert: “Tapi aku terkejut ketika mengetahui bahwa kau ini diculik dari negaramu dan kemudian berkeliaran di negara ini tanpa bekal apa-apa sama sekali, sudah berapa lama itu terjadi.”
Francis: “Dua atau tiga hari mungkin, yang pasti pada hari aku sampai di negara ini aku juga bertemu dengan Claudia. Walau saat itu keahlianku sekarang hanya berbicara untuk mendapat informasi, tapi mungkin dia (mengelus kepala Claudia) merupakan suatu keberuntungan untukku.”
Gilda: “Dia memang spesial bagi kami, tak ada yang bisa menggantikannya.”
Gilbert: “Sepertinya dia sangat menyukaimu, setelah ini kau mau ke mana?”
Francis: “Ah, aku sebenarnya sedang ditunggu oleh polisi di luar sana. Mereka mau membawaku ke kantor untuk dimintai keterangan, sebenarnya aku juga bingung ingin mengatakan apa sesampainya di sana nanti.”
Gilbert: “Kapan kau akan berangkat?”
Francis: “Mungkin sekitar jam 11:30.”
Gilda: “Sekarang sudah jam 11:25, kalau begitu kau harus cepat pergi.”
Francis: “Benarkah? Kalau begitu aku minta izin untuk meninggalkan tempat, kita lanjutkan saja bicaranya nanti.”
Gilbert: “Tunggu, sebelum pergi ada yang ingin kutanyakan. Kau mengatakan bahwa dirimu sekarang tak punya rumah, setelah ini maukah kau tinggal bersama kami?”
Francis: “Kurasa kesempatan itu takkan bisa kudapatkan.” (meninggalkan ruangan)
Claudia: “Padahal aku ingin kak Zero tinggal bersama kita.”
Gilbert: “Sabarlah sayang, mungkin suatu saat nanti dia pasti akan memiliki kesempatan untuk itu.”
Gilda: “Bicara soal itu, jika tak salah ketika dia kabur dia juga sempat ditolong oleh seseorang.”
Gilbert: “Benarkah?”
Gilda: “Dia dibebaskan oleh orang yang menyelamatkannya, namun pada saat itu penyelamatnya juga mengalami sakit yang parah. Sebagai balas budi, akhirnya dia merawatnya dan melakukan semua kegiatannya.”
Claudia: “Benar, paman Uchida waktu itu sempat mencari kak Zero dalam keadaan kelaparan.”
Gilda & Gilbert: “Uchida?”
Claudia: “Paman Uchida tadi datang ke rumah kita, dia jatuh dan terkapar di jalan dalam keadaan kelaparan. Aku ditanyai dan dimintai tolong olehnya untuk mengantarkan barang pada kak Zero, kemudian aku beserta paman Albert dan Jacques membawa paman Uchida ke dalam rumah dan memberinya makan setelah aku antarkan barang kepada kak Zero.”
Gilda: “Lalu di mana dia sekarang?”
Claudia: “Dia sudah pulang, katanya ada keperluan sebentar.”


Kembali ke gudang di mana Uchida berada, dia sedang menyedot makanan dengan selang yang keluar dari tubuhnya. Dia terlihat menikmatinya, banyak piring yang bertumpuk di sebelah tempat dia duduk. Piring yang terakhir dia letakkan di atas tumpukan, setelah itu selangnya bergerak masuk ke dalam sebuah tong yang penuh dengan air. Dia menyedotnya sampai habis hanya dalam hitungan menit, selang itu kemudian kembali masuk ke dalam tubuhnya.

Uchida: “Euuuugh!” (bersendawa)

Selang tersebut masuk kembali ke dalam tubuhnya, pintu di tubuhnya langsung ditutup. Meteran di dadanya menunjuk angka 87%, dia kini berada dalam ruangan dengan beberapa orang. Banyak piring plastik dan botol air mineral berserakan di lantai, ada sekitar 6 buah tong kosong diletakkan di dalam ruangan.

Uchida: “87 %, ini sudah cukup untuk seminggu. Masukkan semua sampah ke dalam tong, keluarkan tong dari dalam ruangan ini dan buang ke tempat sampah.”
Semua: “Siap, Uchida-san.”

Semua orang segera membereskan sampah-sampah yang berserakan di lantai dan memasukkannya ke dalam tong, Uchida kemudian keluar dari dalam ruangan. Dia berjalan menuju sebuah ruangan, kemudian dia menutup pintunya rapat-rapat. Di dalam ruangan yang sangat gelap dan tak kelihatan apapun, Uchida menyalakan saklar lampu. Isi dalam ruangan itu kini terlihat jelas, di dalamnya ada macam-macam peralatan elektronik. Sebuah meja dengan seperangkat komputer di atasnya, sebuah televisi layar datar terpasang di dinding lengkap dengan DVD player dan audio, AC di bagian atas pintu, juga sebuah kursi untuk bersantai. Uchida tidur-tiduran dengan santainya di kursi, dia meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya.

Uchida: “Inilah hidup... ah, nikmatnya. Bagaimana keadaan Francis ya? Coba kuhubungi sebentar.”


Francis, Gilda, dan Claudia duduk berdampingan di dalam mobil polisi yang membawa mereka ke kantor. Di depan mereka duduk dua orang polisi, yang seorang sedang menyetir. Di tengah-tengah perjalanan, Uchida menghubungi dari kacamata yang dikenakan Francis.

Uchida: “Jadi bagaimana keadaan di sana?”
Francis: “Kenapa baru bicara sekarang? Apa yang baru saja kau lakukan?”
Gilda: “Maaf?”
Claudia: “Kak Zero, memangnya siapa yang bicara?”
Francis: “Oh, maaf. Aku sedikit melamun.”
Uchida: “Hahaha, sebenarnya kau tak perlu bicara denganku lewat mulutmu. Kau bisa memakai pikiranmu untuk berbicara denganku, kau pastilah terlihat seperti orang bodoh di hadapan mereka.”
Francis: (suara hati) “Kenapa tidak dari tadi saja kau jelaskan? Sekarang bisa kau jawab pertanyaanku?”
Uchida: “Aku sudah berada di tempat persembunyian yang baru, aku juga baru selesai mengisi tenagaku. Kau sendiri sekarang berada di mana?”
Francis: (suara hati) “Aku dalam perjalanan ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, Gilda dan Claudia juga bersamaku. Sekarang aku menaiki semacam tank beroda 4 dengan lampu menyala di atasnya.”
Uchida: “Itu mobil patroli, berhentilah menyebut mobil sebagai tank. Kita di zaman yang berbeda, semua yang beroda 4 itu disebut mobil.”
Francis: (suara hati) “Mobil? Akan kuingat itu, lalu nanti kau akan menjemputku bukan?”
Uchida: “Tidak, kau harus ke sini sendiri. Terlalu beresiko bagi orang berwajah buruk sepertiku untuk keluar, kau masih harus bicara kepada polisi bukan? Biar kuberitahu apa yang harus kau lakukan, ada sesuatu yang kupersiapkan di kantong kanan celanamu.”
Francis: (meraba kantong kanan) “Hm? Ini...”


Beberapa saat kemudian di dalam kantor polisi, Francis sedang duduk di depan seorang polisi yang sedang memeriksa kartu identitasnya. Di dalam kartu terpasang foto Francis yang menyeringai memperlihatkan giginya, polisi itu melihat pada kartu kemudian pada Francis.

Polisi: “Francis Welsley?”
Francis: “Itu aku.”
Polisi: “Bisa tunjukkan wajah anda?”
Francis: (membuka masker dan kacamata kemudian menyeringai) “Heee.”
Polisi: (menyerahkan kartu dengan wajah jijik) “Silahkan.”
Francis: (memakai masker dan kacamata) “Aku sedang pilek, mataku sendiri sudah mulai rabun. Karena itulah aku memakai ini, terima kasih.” (mengambil kartu)
Polisi: “Dikatakan di sini anda tadi mendapat panggilan dari keluarga Welsley tentang keadaan yang terjadi, setelah itu anda segera bergegas ke tempat kejadian dan mendapati bahwa para tersangka sudah ditangkap oleh kami.”
Francis: “Benar.”
Polisi: “Di mana anda pada saat itu?”
Francis: “Di rumah.”
Polisi: “Apa yang anda lakukan?”
Francis: “Olahraga.”
Polisi: “Anda berolahraga?”
Francis: “Memangnya aneh jika seseorang bangun pagi untuk berolahraga?”
Polisi: “Tidak, tidak, kami tidak bermaksud mencurigai anda. Ini hanya prioritas kami sebagai polisi, jangan diambil hati.”
Francis: “Aku tenang.”
Polisi: “Baiklah, terima kasih atas informasinya. Jika ada apa-apa lagi, kami akan hubungi anda.”
Francis: “Oh, jadi aku boleh pergi sekarang? Terima kasih kembali.”

Francis kemudian keluar meninggalkan ruangan, dia disambut oleh Gilda dan Claudia begitu keluar. Namun Francis mengacuhkan mereka dan langsung berjalan keluar dari kantor polisi, Gilda dan Claudia juga mengikutinya. Dia kemudian berhenti di depan sebuah kios yang menjual minuman, dia duduk dan mulai memesan.

Francis: “Jus apel, tiga gelas.”
Penjual: “Tunggu sebentar.”
Gilda: “Kukira ada apa, ternyata kau haus?”
Francis: “Itu wajar kan? Kenapa kau juga mengikutiku?”
Gilda: “Saya sebenarnya belum memberikan keterangan kepada polisi, jadi sekalian saja.”
Penjual: (menyajikan jus) “Silahkan.”
Francis: “Minumlah, kau juga Claudia.”
Claudia: “Wah, terima kasih kak Zero.”
Gilda: “Apa yang kau katakan di dalam tadi?”
Francis: “Sebelum aku jawab itu, bagaimana dengan dirimu?”
Gilda: “Saya hanya memberitahu kejadian yang terjadi ketika Claudia tidak bersama kami saat itu, Claudia juga mengatakan bahwa dia sempat menghubungimu pada polisi. Albert dan Jacques yang tadi sudah ditahan mengatakan bahwa mereka menentang perintah Francois lalu membuatnya menjadi trauma dan stres, tapi kau tahu cerita yang sebenarnya bukan?”
Francis: (meneguk habis jus) “Puaaah!! (memakai masker) Segar, begitukah?”
Gilda: “Tadi Claudia bilang orang yang menolongmu sempat datang mencarimu, kalau tak salah namanya Uchida. Bukankah itu nama orang Jepang?”
Francis: “Setahuku dia itu orang Asia.”
Gilda: “Memang benar, Jepang itu letaknya ada di Asia. sebenarnya apa pekerjaan Uchida ini?”
Francis: “Bukankah sudah kubilang? Dia itu ilmuwan, alat yang kupakai di wajahku ini salah satu alat penemuannya.”
Gilda: “Tidak, maksudku apakah dia penduduk negara ini? Di mana tepatnya dia menolongmu?”
Francis: “Dia ilmuwan yang kabur karena tahu tujuan busuk dari pihak yang mempekerjakannya, entah apa yang ada di pikirannya akhirnya dia menyusup masuk ke tempat di mana aku ditangkap. Ketika kami bertemu, aku tak begitu ingat kronologis kejadiannya. Awalnya kukira dia sama dengan orang-orang yang menangkapku, akhirnya aku malah menyerang dan memukul dia habis-habisan.”
Gilda: (suara hati) “Jadi karena salah paham, dia akhirnya menolong orang itu sampai lukanya sembuh. Kasihan sekali dia, sampai susah-susah datang untuk menemuinya dalam keadaan terluka.”
Francis: “Mereka yang kau sebut membelot Francois itu memang benar, tapi aku sendiri tidak melakukan apapun pada Francois. Dia saja yang langsung pingsan dan trauma melihat anak buahnya dibantai habis-habisan oleh mereka yang mengejarku dan Uchida, beruntung mereka semua bisa kubereskan.”
Gilda: “Did you kill all of them?” (Kau bunuh mereka semua?)
Francis: (melepas masker) “ Speak English again? I see, you don't want her to hear it.” (berbahasa Inggris lagi? Aku paham, kau tak mau dia mendengarnya)
Gilda: “Aku hanya menggunakannya sebentar, kau boleh lanjutkan lagi seperti biasa.”
Francis: (memakai masker) “Menghancurkan lebih tepatnya, kuceritakan panjang lebar pun kau takkan percaya. Sekarang akan kujawab pertanyaanmu, di dalam sana aku sedikit membohongi mereka. Mereka percaya bahwa aku adalah anggota keluarga kalian, apa kau juga katakan sedikit kebohongan pada mereka juga?”
Gilda: “Saya hanya mengatakan yang saya tahu saja, saya tahu kau bukanlah orang jahat. Jika saya katakan pada mereka bahwa dirimu adalah orang yang diculik dari luar negara ini, pastilah kau akan segera dipulangkan ke negaramu dan Claudia pasti akan kesepian.”
Claudia: “Kak Zero, ayo kita kembali ke rumah.”
Francis: “Hmph, aku bukannya menolak kebaikan hati kalian. Tapi hanya untuk beberapa hari saja, sebab aku tak bisa menjamin apa yang akan terjadi selanjutnya saat aku bersama kalian.”
Claudia: “Horeee! Terima kasih, kak Zero.” (memeluk Francis)
Uchida: “Hei, Francis. Apa kau masih lama?”
Francis: (suara hati) “Kau sendiri sedang apa sekarang?”
Uchida: “Aku baru saja memodifikasi helm tempur yang kau pakai tadi, ini kesempatan yang bagus untuk mencoba kekuatan baru yang kutambahkan.”
Gilda: “Terima kasih banyak, setelah ini apa yang akan kau lakukan?”
Francis: “Ah, kurasa aku harus mengabari Uchida dulu tentang semua ini. Dia sudah lama ditinggal olehku, pastilah dia mencemaskanku.”
Uchida: “Oh, sekarang kau mencemaskanku? Manis sekali.”
Francis: (suara hati) “Diam!”
Gilda: “Kalau begitu apakah kau sempat untuk makan malam di rumah kami nanti? Ajak juga Uchida jika kau bisa.”
Francis: “Aku takut dia takkan bisa menghadiri makan malam dengan keadaannya sekarang, tapi aku akan usahakan untuk datang nanti. Baiklah, aku akan pergi sekarang. Pak, ini uangnya.” (meletakkan selembar uang di atas meja)
Claudia: “Hati-hati di jalan kak.”
Gilda: “Tunggu, Francis.”
Francis: “Tenang saja, aku akan kembali ke rumah kalian sebelum matahari terbenam.”
Gilda: “Bagaimana kau meyakinkan mereka bahwa kau adalah salah satu bagian dari kami?”
Francis: “Aku cukup menunjukkan ini.”

Francis mengeluarkan kartu identitasnya yang tadi dia tunjukkan kepada polisi, kini dia sedang memperlihatkannya tepat di depan wajah Gilda. Sebuah kartu dengan foto Francis yang sedang menyeringai terpasang di sana, juga beberapa tulisan mengenai dirinya.

Nama: Francis Welsley
Lahir: 1990, 15 Juni
Jenis Kelamin: Pria
Gol Darah: AB
Alamat: Armstrong Gate no. 26

Gilda: (suara hati) “Kenapa wajahnya mirip kera yang sedang marah?”


Sementara itu di sebuah gedung perusahaan, ada beberapa orang bersetelan hitam yang sibuk mondar-mandir ke sana kemari. Mereka terlihat panik dan sedang mencari seseorang, seseorang terlihat sedang menelpon di depan pintu gerbang gedung.

?: “Aku tak perduli bagaimana cara kalian menemukannya, dia harus kembali ke sini dalam keadaan utuh! (menutup telpon) Sial, kenapa kau harus kabur di saat seperti ini?”

Di saat bersamaan, seseorang mengintip dari balik tembok. Dia mengenakan jaket bertudung dan memakai topi, dia juga membawa sebuah ransel. Dia kemudian berbalik dan pergi meninggalkan tempat, setelah itu dia mengeluarkan I-Pod dan memasang earphone ke telinganya.

?: “Salah kalian sendiri, aku kan juga perlu kebebasan.”


Di suatu tempat, Francis sedang berjalan kaki di trotoar. Dia mendengarkan instruksi yang diberikan Uchida dari gagang kacamata yang dia pakai, lensa di kacamatanya menunjukkan sebuah peta dan titik kecil merah tanda di mana dia berada.

Uchida: “Setelah ini kau harus belok ke kanan, tapi jangan belok terlalu cepat.”
Francis: “Kenapa?”
Uchida: “Ada perbaikan jalan, hati-hati ada lubang besar.”
Francis: (berhenti) “Dari tadi kau memberitahuku untuk jalan ke sana, jalan ke sini. Belok ke sana, belok ke sini. Sebenarnya tempat tujuanku ini sejauh apa?”
Uchida: “Kau bersabar saja, sedikit lagi akan sampai.”
Francis: “Kenapa tidak kau suruh seseorang untuk menjemputku saja? Aku tahu kau sudah memodifikasi ingatan semua orang yang ada di sana.”
Uchida: (menepuk tangan) “Oh, tidak terpikirkan olehku.”
Francis: “Begini saja, berikan aku gambar keseluruhan dari peta ini. Berikan sinyal tempat di mana kau berada, aku akan lari ke sana.”
Uchida: “Tidak mau, kau sadar dengan keadaanmu saat ini? Bagaimana jika seandainya saat kau berlari, kau tersandung dan jatuh di jalan raya kemudian ada mobil melindasmu lalu orang-orang sekitar panik melihatmu ketika kau sendiri baik-baik saja setelah ditabrak?”
Francis: “Asumsi macam apa itu?”
Uchida: “Pokoknya, aku tak mau kau melakukan aksi yang terlalu banyak menarik perhatian. Bisa-bisa musuh menemukanmu dan orang-orang sekitar bisa terlibat bahaya, untung kau menolak ajakan Claudia untuk mengantarmu sampai kemari.”
Francis: (jengkel) “Terserah kau saja.”

Francis melanjutkan berjalan, dia kemudian berbelok ke kanan dan mendadak berhenti. Ada lubang galian di depannya, dia kemudian melompati lubang itu. Bersamaan dengan itu, robot-robot lalat yang tak terlihat menemukan dirinya.

MENEMUKAN TARGET
SUBYEK M46 N4120 K
ALIAS FRANCIS ZERO
SEGERA LAKUKAN PENANGKAPAN
BAWA KEMBALI DALAM KEADAAN HIDUP
APAPUN RESIKONYA

Robot lalat itu kini terbang berdesing menuju Francis, menangkap dan membawanya terbang. Kacamata yang dia pakai jatuh ke tanah, dia dibawa terbang di atas perkotaan tanpa disadari oleh penduduk sekitar. Sementara itu orang yang sedang dicari oleh orang perusahaan berada di bawahnya, mendadak ada seekor kucing berlari lewat di depannya. Kucing itu berlari melewati jalan raya, hampir tertabrak sebuah mobil. Mobil itu kemudian mengerem mendadak dan menabrak tiang lampu, hal itu membuat mobil di belakangnya ikut mengerem mendadak sehingga terjadi kecelakaan beruntun. Saat ini Francis meronta-ronta dan berusaha membebaskan diri dari pegangan robot lalat, dia memegang salah satu kaki dari robot lalat dan mencabutnya. Kaki itu kemudian dia tusukkan ke kepala robot sehingga membuat sosok aslinya terlihat, hal tersebut membuatnya terjun bebas. Sementara itu kecelakaan beruntun masih terjadi di bawah, sebuah mobil tergelincir kemudian terbalik dan meluncur ke arah orang yang dicari. Orang yang berjalan itu tak sempat melihatnya, dia sedang sibuk mendengarkan lagu dan tak menyadari keadaan sekitar. Untungnya mobil itu berhasil dihentikan, Francis jatuh tepat di atas mobil itu. Orang yang dicari itu masih berjalan dengan santainya sambil mendengarkan musik, Francis sendiri bangun dengan keadaan terluka dan pakaian sobek-sobek. Dia melihat robot lalat yang barusan dia hancurkan dan meludahinya dengan darah setelah membuka masker, mendadak dia sadar jika robot lalat yang satunya lagi kini bersiap untuk menyerangnya. Dia segera menyingkir dari atas mobil, menghindari tembakan. Francis tak bisa melihatnya dengan mata telanjang, dia kemudian melihat pejalan kaki yang berjalan dengan tenangnya. Francis langsung berlari ke arahnya dan mendorong dia jatuh ke lubang galian, tembakan yang tadinya ditujukan pada Francis kini mengenai roda sebuah truk yang lewat dan membuatnya oleng. Truk itu kini meluncur tak terkendali ke arah lubang galian di mana orang itu jatuh, orang yang didorong itu memunculkan kepalanya dari dalam lubang dan sadar dengan apa yang terjadi sekarang.

?: “Astaga.”

Truk yang oleng dan meluncur dengan cepat itu kemudian dihentikan dengan tangan kosong oleh Francis, dia terdorong dan hampir jatuh ke lubang di mana orang itu sekarang berada. Namun dia berhasil menghentikan truk dan mengangkatnya ke atas, orang itu terkesima melihatnya. Francis kemudian melihat siluet dari robot lalat yang terpantul di minyak yang keluar dari dalam truk. Orang-orang di dalam truk melompat keluar, robot lalat itu terbang menembaki Francis. Karena pegangannya yang terlalu kuat, bemper truk yang dia pegang lepas. Francis sekarang melempar bemper truk itu pada robot lalat yang terbang tak terlihat namun bisa dilihat dalam bayangan yang terpantul di minyak, lemparannya tepat mengenai sasaran dan membuat tembakannya meleset sehingga mengenai minyak. Francis langsung berlari dan meloncat ke dalam lubang, dia kemudian memaksa orang di dalam lubang untuk tiarap. Ledakan besar terjadi setelah itu, serpihan-serpihan truk beterbangan ke mana-mana. Salah satunya menancap di tubuh robot lalat dan membuatnya meledak di udara, beberapa menit kemudian ledakan itu berhenti. Francis dan orang di dalam lubang memunculkan kepalanya, tak lama setelah itu kepala Francis terbentur ban yang jatuh dari udara.

Francis: “Auw...”
?: “Ng...”
Francis: “Apa?”
?: (kebingungan) “Ah... eh...”

Francis melihat earphone yang terpasang di telinganya, dia kemudian mencabut dan menariknya lepas dari telinganya. Dengan wajah jengkel, Francis memarahi orang itu.

Francis: “Lain kali kau bisa perhatikan keadaan sekitarmu tidak?! Jangan pakai ini saat kau berjalan!”
?: “I... I can't speak Norwegian.” (a... aku tak bisa berbahasa Norwegia)
Francis: (bengong 5 detik dan melepas masker) “Now you're speaking with my language. Ok, listen punk. Let me repeat what I will said, you hear me?” (sekarang kau bicara dengan bahasaku. Baik, dengarkan sialan. Biarkan kuulang apa yang kukatakan, kau dengar aku?)
?: “Yeah.” (ya)
Francis: “Where did you put your damn brain?! Can't you be more aware with the situation?! What kind of idiot using this gadget when they're walking and didn't notice the surrounding?! You're so damn lucky because you're still alive, but next time something in your body will be broken! You hear that, you punk?!” (di mana kau letakkan otakmu itu?! Tak bisakah kau lebih memperhatikan situasinya?! Orang bodoh macam apa yang menggunakan alat ini saat mereka berjalan dan tak menyadari sekitarnya?! Kau sangat beruntung karena kau masih hidup, tapi lain kali sesuatu di tubuhmu akan hancur! Kau dengar itu, sialan?!)
?: (mengorek-ngorek kedua telinga) “Y... yes!”
Francis: (keluar dari lubang) “Aw, damn it.” (aw, sialan)

Lelaki dalam lubang itu memperhatikan ketika Francis mengambil kacamata yang pecah, dia melihatnya mendesah dan membuang kacamata itu. Francis kemudian berlari begitu mendengar sirene polisi, berbelok ke kanan sehingga dia tak terlihat di depan mata. Lelaki itu kemudian melepaskan topi dan tudung jaketnya, ternyata dia adalah seorang pemuda berambut pirang. Matanya biru dan berhidung mancung, wajahnya sendiri terlihat melankolis.

?: (tersenyum) “I just met an interesting person.” (aku baru bertemu orang yang menarik)

Sunday, January 6, 2013

Karakteristik 3

Sesuai janji saya akan memberikan gambar karakter utama yang sudah bertransformasi dan sudah diwarnai, setelah ini saya akan memberikan profil dan karakteristik Uchida Tomizawa. Gambar tokoh utama ada di bawah.

Warna helm dan baju tempurnya merah menyala, sekujur tubuhnya dihiasi dengan garis berwarna kuning. Setiap sudut tubuhnya terpasang bola kaca berwarna hitam, helmnya menggunakan lensa hitam, dan sepasang mata berwarna kuning akan muncul pada saat tertentu dari dalamnya. Lambang di dadanya yaitu segitiga bertumpuk, segitiga kuning di atas segitiga merah. Seperti yang dijelaskan sebelumnya lambang itu sendiri adalah sebuah tombol yang bisa diputar dan ditekan, jika segitiga kuning posisinya dibalik sama dengan posisi segitiga merah kemudian ditekan warnanya pun akan berubah jadi merah. Setelah melakukan itu, Francis akan berubah menjadi 'Crimson mode' yang memudahkannya bertempur dalam 'Crimson Dimension'. Garis-garis di tubuhnya seperti kabel yang menyalurkan tenaga ke seluruh tubuhnya, bola kaca di tubuhnya akan berubah warna tergantung pemakaian. Jika Francis mengisi tenaganya atau membuka gerbang dimensi, bola kaca akan berubah jadi merah. Jika ingin mengeluarkan tenaga dari salah satu bagian tubuhnya, bola kaca akan berubah menjadi kuning.

Berikut tentang karakteristik Uchida, pria paruh baya berkebangsaan Jepang. Seorang profesor pengembang organisme cyber, dirinya sendiri juga cyborg. Awalnya menolak bergabung dan sempat melawan Alterion, namun dalam perlawanannya berhasil ditangkap dan luka parah. Dia diselamatkan dengan alat pendukung kehidupan yang memberinya waktu sehari untuk bertahan, selama sehari itu dia diuji apakah dia pantas untuk dipekerjakan. Untungnya dia berhasil dan diberi kesempatan untuk membuat tubuhnya kembali seperti semula, namun dia tidak sepenuhnya bebas. Tubuh yang dia kembangkan untuk dirinya sendiri tidaklah seperti yang dia harapkan, setiap anggota tubuhnya tidak terpasang ke tubuhnya. Selain berhasil mendapat tubuh, badannya juga dipasang alat yang mencegahnya untuk melawan perintah. Suatu hari dia mengetahui rahasia mengenai mesin waktu, setelah itu dia membuat rencana untuk melarikan diri. Berkat kecerdasannya, alat yang mengekangnya berhasil dilepas. Dia menyusup ke salah satu laboratorium cabang Alterion di Eropa, saat itu juga dia membebaskan Francis dan membawanya serta ke masa lalu.

Tubuh Uchida sendiri berbentuk oval seperti telur, tangan, kaki, dan kepalanya tidak terpasang ke tubuhnya. Di dadanya ada semacam pintu yang bisa dibuka, wajahnya sendiri seperti tengkorak. Ubun-ubun kepalanya berlapis besi, mata kanan dari mesin dan mata kiri yang sipit. Dia sendiri tak memiliki bibir sehingga seluruh giginya terlihat, dia juga harus menarik lidahnya setiap berbicara dengan bahasa lain. Lidahnya sendiri adalah semacam alat penerjemah, mata buatannya juga memiliki berbagai fungsi. Dia memiliki beberapa macam mata buatan yang berbeda fungsi dan bisa dipasang dan dilepas, mata yang dia gunakan pertama kalinya di awal cerita berfungsi untuk melihat dalam kegelapan. Dia memiliki bola mata yang bisa melacak keberadaan orang seperti radar dan mata yang bisa membuka dimensi, kedua bola mata ini yang sudah diungkapkan di cerita sebelumnya. Dia juga punya kemampuan untuk berubah wujud menjadi roket, Uchida harus menekan ubun-ubunnya untuk berubah. Tubuhnya sendiri perlu bahan bakar berupa makanan yang cukup banyak, untuk makan dia harus menyedotnya dengan selang yang keluar dari tubuhnya. Jari-jari tangannya punya banyak fungsi, untuk menyetrum, dan mengeluarkan kawat. Lain kali kegunaan lain dari jari-jarinya akan dijelaskan, berikut adalah bentuk-bentuk tubuh Uchida.

Bentuk awal tubuh Uchida, kaki, tangan, dan kepalanya melayang dan tidak tersambung dengan badannya. Di dadanya ada pintu yang bisa dibuka, bisa digunakan untuk menyimpan barang. Dari dalamnya juga bisa keluar selang untuk menyedot makanan, sebuah meteran energi juga terpasang di pintunya.

Bentuk wajah dan kepala Uchida, maaf saya tak bisa menggambar wajah, jadi beginilah perkiraan wajah Uchida saat ini. Dia gundul dan tak bertelinga, tapi ada sepasang alat yang mengganti telinganya. Mata buatan yang ada di kiri (sebenarnya di kanan), tak memiliki bibir, berhidung besar, ubun-ubun dilapisi besi.


Bentuk Uchida ketika berubah wujud menjadi manusia roket dalam hitam putih.


Ini yang sudah diwarnai, warnanya abu-abu dan hitam. Lambang di dadanya berwarna kuning.

Cerita ke 10 akan segera hadir, sekian dulu. Silahkan lihat sepuasnya.

Thursday, January 3, 2013

Level 9


PERMASALAHAN

Oslo, Norwegia, 12 Oktober 2010, 08:00. Kediaman keluarga Welsley, Uchida, Albert dan Jacques sedang duduk bersama di ruang makan. Claudia baru saja membawakan 3 gelas susu, Uchida mengangguk setelah mendengar penjelasan yang panjang lebar dari Albert dan Jacques.

Uchida: “Sepertinya masalah jadi semakin rumit, kalian beruntung Francis tidak mencabut salah satu bagian dari tubuh kalian.”
Claudia: “Paman, silahkan susunya.”
Uchida: “Oh, terima kasih. Kalian yakin hanya kalian sendiri yang menyaksikan kejadian itu?”
Albert: “I... itu benar! Kami sendiri diselamatkan oleh dia dalam keadaan hidup, semua yang ada di sana sudah mati.”
Jacques: “Ah, tapi sepertinya bos waktu itu tidak diapa-apakan oleh mereka. Bukankah dia pingsan?”
Albert: “Sampai kapan kau mau memanggil dia bos? Mana mungkin dia masih hidup, pasti dia sekarang sudah dibunuh oleh makhluk itu.”
Uchida: (menyedot susu) “Kenapa kalian tidak periksa saja sendiri? Tenang saja, Francis dan seluruh absorber itu sudah tak ada di tempat.”
Albert: “Ka... kami berdua masih sakit karena luka yang kami derita sekarang.”
Jacques: “Be... benar, sepertinya kakiku terkilir.”
Uchida: (terdiam selama 5 detik) “Tunggu sebentar, ada panggilan masuk. (menekan tombol di kepala bagian kanan dengan jempol) Jadi kau sudah selesai?”
Francis: “Ya, tapi aku terjebak di sini. Alat pendukung kehidupanku sendiri hanya bisa bertahan 45 menit lagi, bisa kau keluarkan aku dari sini?”
Uchida: “Beri aku 10 menit, bersabarlah sampai saat itu tiba.”
Francis: “10 menit, akan kutunggu.”

10 menit kemudian.

Uchida: “Sudah waktunya, meja dan bangkunya sudah dipindahkan?”
Albert & Jacques: “Sudah.”
Uchida: “Kalau begitu menyingkir dari sana.”

Uchida mengganti bola mata palsunya dengan bola mata palsu berwarna merah, dia kemudian menekan mata palsunya dan bunyi denging terdengar dari dalamnya. Mata palsunya bersinar kemerahan dan mulai menembakkan sebuah sinar yang membuka sebuah portal merah di atas udara, mendadak beberapa barang jatuh dari dalamnya. Sebuah televisi, ban mobil, dan kulkas, Uchida menekan mata palsunya lagi ketika sesosok manusia berbaju merah jatuh di hadapan mereka. Portal di udara langsung lenyap, sosok berbaju merah itu berlutut dan menengadah memandangi Uchida. Albert dan Jacques sangat terkejut dan melihat secara sembunyi-sembunyi dari balik tembok begitu melihatnya, Claudia sendiri mendekat perlahan-lahan dan hanya melihat.

Francis: “Kupikir aku akan mati kebosanan di dalam tempat itu, alatmu itu sungguh merepotkan.”
Uchida: “Kau baru keluar dari sana dengan selamat dan hanya itu kata-kata yang bisa kau ucapkan?”
Francis: “Memang apa yang kau harapkan? Aku harus meloncat kegirangan sambil berteriak 'hore' seperti itu?”
Uchida: “Tidak aku lebih berharap kau berkata 'Terima kasih, aku bisa mengalahkan musuh dengan alatmu yang hebat.' begitu. Kenapa kau tidak tunda dulu transformasimu?”
Francis: “Tidak mau, nanti aku tak bisa lagi mengerti bahasa Norwegia. Kuakui helm ini cukup mudah dalam membuatku berbahasa dan mengerti perkataan orang di sekitarku, tapi dalam pertempuran instruksinya sangat merepotkan. Kacamata pemberianmu sekarang sudah hancur, aku menduga kau sama sekali tak punya cadangannya.”
Uchida: “Kalau begitu setelah ini kau harus latihan mengendalikan kekuatan itu, tapi kau salah kalau aku tak punya cadangan alat penerjemah. Aku masih punya alat lain, tenang saja.”

Uchida membuka pintu di dadanya dan memasukkan tangannya ke dalam, dia kemudian mengeluarkan sebuah kacamata bening dengan lensa bulat. Francis sendiri terlihat kesal begitu melihatnya, sementara yang lain melihat dengan keheranan.

Francis: “Apa kau tak punya alat dengan bentuk lain?”
Uchida: “Persediaanku sekarang hanya ini, tapi lebih baik kau biasakan. Alat ini hanya bisa menunjukkan terjemahan dari kata-kata di layarnya namun tak memiliki fungsi untuk membuatmu fasih berbahasa, tapi jika ditambah dengan ini kau bisa berbahasa seperti mereka.” (mengeluarkan masker)

Beberapa saat kemudian Francis sudah tidak lagi dalam keadaan bertransformasi, dia sekarang memakai topi rajutan, kacamata bening, masker, jaket hitam, dan celana jeans panjang. Uchida sedikit tertawa begitu melihatnya, Francis sendiri terlihat depresi.

Francis: “Aku pasti terlihat konyol sampai membuatmu tertawa seperti itu.”
Claudia: “Kak Zero seperti orang yang sedang sakit, apa baju milik ayah cukup?”
Francis: “Ukurannya sudah sesuai denganku, terima kasih. Pakaian yang sekarang sudah tak bisa kugunakan lagi, hmph. (suara hati) Memang benar aku hanya bisa membaca terjemahan dari kata yang dia ucapkan.”
Uchida: “Jangan kecewa begitu, kalau nanti ada kesempatan akan kubuatkan yang lebih praktis.”
Francis: “Ini sudah kedua kalinya aku dikecewakan oleh alat buatanmu, tapi terima kasih.”
Uchida: “Setidaknya kau berterima kasih, aku juga mau berterima kasih.”
Francis: “Memang apa yang telah aku lakukan padamu?”

Uchida menempelkan jempolnya ke dahi Francis, dia disetrum dan sedikit kejang. Claudia kemudian mengambil sapu dan memukulkannya ke kepala Uchida, dia langsung melepaskan jempolnya dari dahi Francis.

Claudia: “Paman Uchida jahat! Kak Zero paman apakan?!”
Francis: “Apa yang kau lakukan?! Claudia? Jadi kita di rumahmu sekarang?”
Uchida: “Aku hanya sedikit menghukumnya, tenanglah. Itu balasan karena meninggalkanku sendiri dengan seekor anjing.”
Francis: “Maaf, itu salahku. Tapi paling tidak kau sudah makan bukan?”
Uchida: “Ya, tapi energiku sekarang tidak cukup untuk menjalani aktifitas seharian penuh.”
Francis: “Claudia, berapa porsi sup yang tadi dia makan?”
Claudia: “Satu panci, paman Uchida langsung menyedot semuanya dengan selang sampai habis.”
Francis: “Astaga, kau langsung saja habiskan makanan untuk seluruh penghuni rumah ini tanpa pikir panjang? Seberapa besar sebenarnya perutmu itu?”
Uchida: “Secara teknis aku ini tak punya perut, semua makanan yang kukonsumsi akan berubah menjadi energi untuk seluruh tubuhku. Tapi tenang saja, dia masih bisa menikmati sarapan bersama dengan kedua orang tuanya.”
Francis: “Bagaimana kau bisa yakin?”
Uchida: “Sebab orang tuanya akan datang ke sini bersama polisi, dia akan ikut bersama orang tuanya dan diberikan layanan terbaik.”
Albert: “Tunggu... tadi kau bilang polisi?”
Uchida: “Memang kau pikir aku bilang tukang sampah?”
Jacques: “A... apa kita akan dipenjara?”
Uchida: “Jika dipertimbangkan dengan perbuatan kalian, tentu saja iya.”
Albert: “Aku tak mau dipenjara, lebih baik kita kabur saja.”
Jacques: “Tidak, kita serahkan saja diri kita.”
Albert: “Jacques?”
Jacques: “Pikirkanlah, sudah berapa kali kita dipenjara. Setiap kita masuk penjara, Francois selalu membebaskan kita. Tapi sekarang aku ingin sesuatu yang berbeda, aku tak ingin dibebaskan oleh bajingan seperti dia. Aku ingin bebas dengan usahaku sendiri, bukankah tadi kau setuju untuk tidak lagi bergantung kepada Francois?”
Albert: “Tapi jika kita berubah haluan, teman-teman kita di sana akan memukuli kita habis-habisan. Kau mau seperti itu?”
Jacques: “Kalau begitu biar aku saja yang dipukuli, aku tak mau melihat temanku dilukai.”
Albert: “Jacques... (menitikkan air mata) aku... aku...” (memeluk Jacques)
Jacques: “Tidak apa-apa.”
Francis: “Ngomong-ngomong, sebenarnya apa yang kau lakukan selama 10 menit itu?”
Uchida: “Aku menyembuhkan luka mereka, membereskan kerusakan yang kau lakukan, sekaligus membawa orang itu kemari.”
Francis: “Orang itu? (menoleh) Oh, ternyata kau.”

Di belakang Albert dan Jacques ada Francois dalam keadaan terikat di kursi dan mulutnya dibungkam dengan selotip, dia sendiri terlihat ketakutan melihat Uchida dan Francis.

Francis: “Uchida, apa kau sudah modifikasi ingatan mereka dengan alatmu?”
Uchida: “Ah, sebenarnya itu sudah kulakukan sejak awal. Tapi yang terpenting sekarang adalah kita harus segera pindah ke tempat persembunyian yang baru, kita tak mau membuat anak semanis ini terlibat bahaya lebih dari ini bukan?”
Francis: “Jadi... kita harus berpisah dengan Claudia sekarang?”
Uchida: “Tentu saja tidak secepat itu, kita masih membutuhkan sedikit informasi. Jadi aku ingin kau menetap di sini selama paling tidak 1-2 hari, orang dengan penampilan sepertiku pun takkan ada yang mau menerima untuk tinggal di manapun pada zaman ini. Kenapa? Apa ada sesuatu dalam diri gadis cilik itu yang memikatmu?”
Francis: “Jangan bercanda, untuk apa aku tertarik dengan anak kecil? Lalu bagaimana dengan kau sendiri?”
Uchida: “Aku telah mendapat info tentang tempat persembunyian baru dari mereka, nanti aku akan pergi ke sana untuk memeriksa. Sesampainya di sana, aku harus mengisi tenagaku yang tinggal sedikit. Sebelum itu, kita lihat dulu situasinya saat polisi datang nanti.”


Beberapa saat kemudian, beberapa mobil polisi dan sebuah mobil ambulance sudah diparkir di depan rumah keluarga Welsley. Albert dan Jacques berjalan keluar rumah dengan tangan diborgol sambil dibawa seorang polisi, sementara itu dua orang paramedis membawa Francois di atas tandu beroda dalam keadaan terikat. Dia terlihat gusar dan mulutnya dibungkam oleh seorang paramedis, sementara seorang paramedis keluar dari ambulance dan menyuntikkan obat bius yang membuatnya lemas. Gilda dan Claudia berdiri memandangi Albert dan Jacques yang dibawa oleh polisi, tapi mereka kemudian berhenti sebelum masuk ke mobil.

Jacques: “Maafkan perbuatan kami tadi.”
Albert: “Bagaimana keadaan Gilbert?”
Gilda: “Dia sudah mendapatkan perawatan yang layak di rumah sakit.”
Albert: “Syukurlah kalau begitu.”
Claudia: “Kapan kalian akan kembali?”
Jacques: “Entah, kali ini tak ada orang yang akan membebaskan kami. Kemungkinan bisa bertahun-tahun, atau berbulan-bulan.”
Albert: “Apa?! Kenapa kau tak bilang dari tadi?”
Claudia: “Tapi kalian pasti akan kembali bukan?”
Jacques: “Tentu kami akan kembali.”
Gilda: “Kalian sudah memilih pilihan yang tepat, Tuhan akan memaafkan perbuatan kalian.”
Albert: “Tunggu dulu! Kau bilang kita hanya akan ditahan selama beberapa minggu, bagaimana mungkin aku bisa tahan selama setahun!”
Polisi 1: “Cepat masuk ke mobil, berapa lama waktu kalian ditahan akan diputuskan berdasarkan cerita kalian nanti.”
Polisi 2: “Ibu Gilda, anda dan anak anda akan segera diantar ke rumah sakit tempat suami anda dirawat. Apakah kita bisa pergi sekarang?”
Gilda: “Tentu sa...”
Claudia: “Tunggu, kak Zero juga akan ikut.”
Gilda: “Francis? Tapi saya tak melihatnya sedari tadi.”
Francis: “Aku di sini.”
Gilda: (menoleh ke belakang) “Francis? Kenapa kau berpakaian begitu?”
Claudia: “Kak Zero!”
Francis: “Maaf, aku meminjam baju suamimu. Aku mengalami sedikit kecelakaan sehingga baju yang kupakai tidak bisa dikenakan lagi, apa kau keberatan?”
Gilda: “Aku paham, kau boleh memakainya. Tapi kenapa kau memakai kacamata dan masker?”
Francis: “Sebenarnya... aku agak rabun, karena itu aku pakai kacamata ini. Kecelakaan tadi membuat wajahku terluka, karena itulah aku menutupinya dengan masker.”
Gilda: “Astaga, kau tidak apa-apa? Kalau begitu kita harus ke rumah sakit secepatnya untuk memeriksa keadaanmu.”
Polisi 2: “Siapa orang ini.”
Gilda: “Oh, dia...”
Claudia: “Ini kak Zero, dia kakakku.” (merangkul lengan Francis)
Polisi 2: “Oh, anggota keluarga. Kalau begitu apakah nanti anda bersedia datang ke kantor polisi?”
Francis: “Eh, untuk apa?”
Polisi 2: “Hanya memberikan keterangan dan kesaksian, setelah selesai anda bisa pulang.”
Uchida: “Lebih baik kau menurut saja, aku masih mengawasimu.”

Francis mendengar perkataan Uchida dari gagang kacamata yang dia gunakan, ternyata kacamata yang dia pakai juga berfungsi sebagai alat komunikasi. Francis hanya mengangguk saja, dia masuk ke dalam mobil patroli bersama Claudia dan Gilda. Mobil-mobil itu segera meninggalkan tempat, setelah itu sebuah mobil VW kodok keluar melewati pintu masuk tempat pembuangan sampah.


Di rumah sakit tempat di mana Gilbert dirawat, Francis, Claudia, dan Gilda duduk menunggu di sebuah ruangan. Claudia dan Francis sedang makan sepotong roti bersama-sama, Gilda sendiri minum segelas teh hangat. Seorang suster membawa pasien dengan kaki dilapisi gips yang duduk di kursi roda melewati mereka, Francis memandangi mereka berdua. Di saat bersamaan, seorang pasien keluar dari dalam sebuah kamar sambil membawa infus. Francis menyipitkan matanya ketika orang itu lewat di depannya, pasien itu langsung menatap ke depan dengan wajah ketakutan dan berjalan sedikit cepat.

Claudia: “Ada apa kak Zero?”
Francis: (memakai masker) “Tidak, ini baru pertama kalinya aku ke rumah sakit. Aku hanya heran saja melihat orang-orang ini, ada yang berpakaian putih bersih dan ada juga yang bergaris.”
Gilda: “Pertama kali? Maksudmu kau bahkan tak pernah ke dokter sekalipun?”
Francis: “Dokter?”
Claudia: “Kak Zero, mereka yang berpakaian putih bertugas untuk merawat dan menyembuhkan luka atau penyakit yang kita dapat. Mereka yang memakai baju bergaris adalah orang yang sakit dan terluka, ayah sekarang juga memakai baju itu.”
Francis: “Oh, lalu di mana dia sekarang?”
Gilda: “Sebentar lagi kita akan diberitahu mengenai keadaan suami saya, setelah itu kita akan dipersilahkan untuk menjenguknya.”
Francis: “Setelah ini aku juga harus mendatangi tempat bernama 'kantor polisi' itu, apa yang harus kulakukan?”
Gilda: “Francis, can we speak in English?” (Francis, bisakah kita berbicara dalam bahasa Inggris)
Francis: (melepas kacamata dan masker) “Finally, I'm so tired to wear something like this.” (akhirnya, aku lelah sekali untuk memakai sesuatu seperti ini)
Gilda: “So you lie about your injury.” (jadi kau berbohong tentang cederamu)
Francis: “Crap, you know it? Since when?” (Sial, kau mengetahuinya? Sejak kapan?)
Gilda: “You just reveal it yourself.” (kau baru mengatakannya sendiri)
Francis: “You're joking.” (kau bercanda)
Gilda: “Hahaha, kau ini lucu sekali.”
Claudia: “Kak Zero bicara apa?”
Gilda: “Claudia, habiskan dulu makananmu.”
Claudia: “Baik, ibu.”
Gilda: “Let's continue our conversation.” (mari lanjutkan pembicaraan kita)
Francis: “Okay.” (ok)
Gilda: “What's actually happening when Claudia with you?” (apa yang sebenarnya terjadi saat Claudia bersama denganmu?)
Francis: “I'm just beat some of them, but the result didn't end well.” (aku hanya hajar beberapa dari mereka, tapi hasilnya tak berakhir dengan baik.)
Gilda: “Did you kill them?” (apa kau bunuh mereka?)
Francis: “No, something else kill it.” (tidak, sesuatu yang membunuh mereka)
Gilda: “Something else? You mean someone else, did she see something that she doesn't suppose to see?” (sesuatu? Maksudmu seseorang, apa dia melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat?)
Francis: “Don't worry, she didn't see it. But she is pretty stubborn, she always follow me even after I ask her to stay.” (jangan khawatir, dia tak melihatnya. Tapi dia cukup keras kepala, dia selalu mengikutiku bahkan setelah aku memintanya tinggal)
Claudia: “Ibu dan kak Zero sedang bicara apa?”
Gilda: “Masalah pribadi, sayang. Kau sudah habiskan rotimu?”
Claudia: “Sudah ibu, kak Zero bicara apa dengan ibu?”
Gilda: “Ini sesuatu yang tidak boleh didengarkan oleh anak kecil, karena itu kau duduk saja dengan tenang sampai dokter memanggil kita.”
Claudia: “Aneh, kenapa waktu pertama kali bertemu kak Zero bisa lancar berbahasa Norwegia?”
Gilda: “She's asking why you can't speak in our language.” (dia bertanya kenapa kau tak bicara dalam bahasa kami.)
Francis: “Tell her that I have a disease which make me uncapable to speak with your language, and to prevent that I must use the glasses. And please tell her don't ask me again, if she do so then I'll gave her some gift.” (katakan padanya jika aku punya penyakit yang membuatku tak bisa bicara bahasamu, dan untuk mencegah hal itu aku harus memakai kacamata. Dan tolong katakan padanya jangan menanyai aku lagi, jika dia lakukan itu makan akan kuberi dia suatu hadiah.)

Beberapa saat kemudian, Claudia sudah duduk di kursi seorang diri sambil mencomot permen loli. Gilda dan Francis berdiri bersebelahan di depan jendela sambil melihat pemandangan luar. Masing-masing dari mereka memegang segelas teh, secara bersamaan mereka meminumnya.

Francis: “You might not believe me, but they were slaughtered by them.” (kau mungkin tak percaya padaku, tapi mereka dibantai oleh mereka)
Gilda: “Them? You mean the one that kidnapping you?” (mereka? Maksudmu yang menculikmu?)
Francis: “Damn right, but luckily someone save my @$%” (benar sekali, tapi untungnya seseorang menyelamatkanku.)
Gilda: “Hey, watch your language. So who is it?” (hei, perhatikan bahasamu. Jadi siapa orangnya?)
Francis: “The one who save me, I already told you about him yesterday. But he is not in a very good condition, so I ask Claudia to gave him the soup. And I'm so sorry, because he ate all of it.” (yang menyelamatkanku, aku sudah beritahu padamu tentangnya kemarin. Tapi dia sedang tidak dalam kondisi yang sangat bagus, jadi aku minta Claudia memberinya sup. Dan aku minta maaf, karena dia menghabiskan semuanya.)
Gilda: “It's alright, thanks for bought us some food.” (tak apa, terima kasih karena sudah membelikan kami makanan)
Francis: (mendesah dan menunduk lesu) “Haaah...”
Gilda: “I don't know what really happened, but please smile.” (aku tak tahu apa yang terjadi, tapi tersenyumlah)
Francis: “Hm?”
Gilda: “We will see my husband soon enough, he must be happy if you show him your smiling face.” (kita akan segera menemui suami saya, dia pasti gembira jika kau memperlihatkan wajahmu yang tersenyum.)
Francis: (mudah bicara begitu, maksudmu seperti ini?) “Easy to said that, you mean like this?” (menyeringai)
Gilda: “You don't need to show all of your teeth.” (kau tak perlu menunjukkan semua gigimu.)
Francis: (maaf, aku akan gunakan alat spesialku lagi) “Sorry, I will use my special device again. (memakai masker dan kacamata) Karena kita berada di Norwegia, lebih baik aku gunakan bahasa Norwegia untuk menghormati orang-orang di negara ini.”
Gilda: “Kau mengatakan begitu, tapi kau sebenarnya tidak berbahasa sesuai dengan kemampuanmu sendiri bukan?”
Francis: “Memang benar, aku harus menggunakan alat ini tapi sampai aku bisa berbahasa dengan kemampuanku sendiri. Aku akan belajar suatu saat nanti, jadi tunggu saja.”
Gilda: “Akan kutunggu, kacamata dan masker itu bukan barang biasa ya?”
Francis: “Orang yang menolongku itu seorang ilmuwan, dia yang menciptakan alat ini. Semacam alat penerjemah, dia memberikan alat ini padaku untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan.”
Gilda: “Ilmuwan? Oh, berarti dia bekerja di Perusahaan TDG?”
Francis: “TDG?”
Claudia: (menarik baju dari belakang) “Ibu, dokter ingin menemui ibu.”
Gilda: (menoleh) “Oh, kita bicara lagi nanti.”


Sementara itu di atas langit daerah perkotaan, ada dua benda asing dengan wujud tak terlihat terbang. Ternyata itu adalah robot-robot lalat yang tadinya mengejar Uchida, pandangan mereka sedang dalam mode pencarian. Tapi sebenarnya pandangan para lalat itu juga muncul di sebuah layar monitor di suatu tempat, seseorang mengawasi layar monitor tersebut. Wujudnya tak terlihat jelas, tapi dia memiliki satu bola mata sama seperti absorber. Di belakangnya berdiri seorang pria dengan sepasang mata berwarna merah menyala, mereka berada di dalam ruangan yang gelap.

?: “Bagaimana hasil pencarian sampai saat ini?”
??: “Keberadaan Profesor Uchida belum ditemukan sampai sekarang, tapi dia terakhir kali terlihat bersama dengan tiga orang manusia.”
?: “Di mana tempat dia terakhir kali terlihat?”
??: “Diperkirakan berada di 35 derajat barat daya dan 25 derajat lintang selatan.”
?: “Ng, tempat ini? Ini tempat di mana aku melepaskan absorber untuk mencari subyek M46 N4 120K, perlihatkan rekaman setelah Uchida terakhir kali terlihat.”
??: “Sedang dilaksanakan.”
?: “Itu...”

Di layar monitor itu muncul rekaman dengan sudut pandang kota dari atas, ada beberapa titik muncul. Rekaman itu kemudian diperbesar, terlihat saat Uchida terbaring di atas tanah dan menyerahkan helm kepada Claudia. Kini rekaman itu sedikit dipercepat dengan Claudia sebagai obyeknya, sekarang rekaman itu menunjukkan Claudia yang sekarang memberikan helm pada Francis yang terdesak oleh absorber yang dia hadapi. Kali ini rekaman menunjukkan saat di mana Francis berubah wujud dan hilang dalam sekejap dengan kilatan merah, setelah itu rekaman mati.

??: “Flying Drone hanya akan memburu saat buruan masih hidup, Profesor Uchida sama sekali tak menunjukkan tanda kehidupan terakhir kali dia terlihat. Flying Drone menganggap Profesor Uchida sudah mati dan membatalkan misinya, namun mereka melanjutkan kembali misinya karena tanda kehidupan Profesor Uchida muncul kembali.”
?: “Sepertinya prioritas kita sekarang bukanlah Uchida, program ulang mereka untuk mengejar target baru. Namanya adalah Francis Zero, nama alias subyek M46 N4 120K.”
??: “Siap, Jendral Drake.”

Setelah itu, sebuah pintu terbuka dan cahaya masuk ke dalam. Kali ini pria bermata merah itu berbalik dan berjalan keluar pintu, seluruh tubuh kecuali kepalanya terlihat jelas. Tubuhnya mengenakan seragam tentara dan jubah, dia memegang tongkat dengan sebuah mutiara hitam di ujungnya. Di bagian dada di seragamnya ada lambang pisau dan kadal bersilang, ruangan itu kemudian kembali tertutup rapat.