Wednesday, January 16, 2013

Level 10


PERTEMUAN

Oslo, Norwegia, 12 Oktober 2010, 11:00. Di sebuah gudang yang tak terpakai, ada truk yang membawa muatan sebuah kotak besar masuk ke dalamnya. Truk itu berhenti, beberapa orang segera menurunkan kotak besar itu dan membawanya ke sebuah ruangan. Begitu kotak itu diletakkan di atas sebuah meja, mereka kemudian membukanya dengan linggis. Kini isi kotak itu terbuka lebar, di dalamnya ada sesuatu yang besar berbentuk telur raksasa. Isi kotak itu kemudian dikeluarkan dan diletakkan di lantai, beberapa orang yang penasaran mengerumuni benda tersebut. Di benda itu tertempel kertas dengan tulisan Norwegia, isi tulisan itu adalah 'tekan tombolnya'. Seseorang kemudian menekan tombol yang berbentuk seperti lambang matahari yang ada di tengah-tengah, bagian atas benda itu terbuka dan sesuatu meluncur keluar. Mereka sempat kaget melihat apa yang keluar dari dalam, itu adalah kepala Uchida yang melayang-layang.

Uchida: “Selamat siang.”

Seketika itu juga, cahaya yang berkilauan muncul dari mata buatan Uchida. Dalam sekejap seluruh orang di dalam ruangan pingsan, benda itu sendiri adalah tubuh Uchida yang sekarang terbentuk kembali dengan tangan dan kaki yang muncul dari dalam. Dia kemudian melihat sekeliling ruangan, di dalamnya seperti semacam laboratorium. Ada beberapa meja dengan banyak plastik dan serbuk putih, beberapa orang yang pingsan mengenakan masker.

Uchida: “Apa-apaan? Jelas hal seperti ini harus segera disingkirkan, aku harus secepatnya mengubah ingatan mereka.”

Mulut Uchida terbuka lebar-lebar, sebuah speaker keluar dari dalamnya. Sebuah suara mendenging yang sangat keras keluar dari speaker itu, kemudian suara itu berhenti dan suara Uchida sendiri keluar dan bergaung di sekitar ruangan.

Uchida: “Namaku Uchida, kalian akan menjadi orang yang mengenal dan menuruti beberapa perintahku selama beberapa saat. Saat kalian kubangunkan dengan tepukan tangan, kalian akan memanggilku Uchida-san. Setelah tugas yang kuberikan pada tiap orang selesai, kalian akan keluar dari tempat ini dan kembali ke rumah kalian. Pada saat kalian berada di dalam dan mengunci rumah kalian, kalian akan melupakan segala hal yang berhubungan dengan Francois dan seluruh pekerjaannya.”

Speaker di dalam mulut Uchida kembali masuk ke dalam, dia kemudian menepukkan tangannya sekali. Semua orang langsung terbangun dan berdiri tegap, mereka semua menghadapi Uchida dengan tenang.

Uchida: “Sekarang, kita mulai pekerjaannya.”


Di dalam sebuah ruangan di rumah sakit, Francis, Claudia, dan Gilda duduk berhadapan dengan Gilbert yang terbaring di ranjang. Kepalanya diperban dari ubun-ubun sampai dagunya, jari-jari di kedua tangannya juga diperban. Di sebelah kiri ranjangnya ada pot berisikan bunga diletakkan di atas meja, di sebelah kanannya ada seorang pasien yang tertidur pulas di atas ranjang.

Gilbert: “Aku sungguh terkejut ketika bertemu denganmu, aku juga ingin berterima kasih atas penyelamat keluargaku.”
Francis: “Siapa maksudnya?”
Claudia: “Tentu saja kak Zero, memang siapa yang tadi melawan semua orang dan monster yang kakak hadapi?”
Gilda: “Monster?”
Francis: “Ah... maksudnya, orang-orang yang berwajah seperti monster. Memang tadi ada beberapa yang wajahnya jelek, jadi mungkin dia mengira mereka monster.” (menatap Claudia dan meletakkan jari telunjuknya di mulutnya sambil menggeleng)
Claudia: (mengangguk) “Be... benar ibu, wajah mereka memang jelek sekali.”
Francis: “Pastilah mereka memberimu hari yang buruk, untungnya kau masih hidup.”
Gilbert: “Ya, untunglah. Walau sekarang aku terbaring di tempat ini, tapi setidaknya aku masih bisa bertemu keluargaku.”
Francis: “Semoga cepat sembuh, bajumu juga akan segera kukembalikan.”
Gilbert: “Tidak perlu, ambil saja. Lagipula kenapa kau memakai masker dan kacamata? Apa terjadi sesuatu dengan wajahmu?”
Francis: “Sedikit kecelakaan sejak kejadian tadi, tapi sudah diobati.”
Gilbert: “Kalau sedikit, kau tak perlu memakai masker dan kacamata itu.”
Gilda: “Sayang, dia memang terkena sedikit lebam dan tergores. Tapi lukanya sendiri begitu besar, Francis tak ingin kau melihatnya.”
Gilbert: “Tapi aku terkejut ketika mengetahui bahwa kau ini diculik dari negaramu dan kemudian berkeliaran di negara ini tanpa bekal apa-apa sama sekali, sudah berapa lama itu terjadi.”
Francis: “Dua atau tiga hari mungkin, yang pasti pada hari aku sampai di negara ini aku juga bertemu dengan Claudia. Walau saat itu keahlianku sekarang hanya berbicara untuk mendapat informasi, tapi mungkin dia (mengelus kepala Claudia) merupakan suatu keberuntungan untukku.”
Gilda: “Dia memang spesial bagi kami, tak ada yang bisa menggantikannya.”
Gilbert: “Sepertinya dia sangat menyukaimu, setelah ini kau mau ke mana?”
Francis: “Ah, aku sebenarnya sedang ditunggu oleh polisi di luar sana. Mereka mau membawaku ke kantor untuk dimintai keterangan, sebenarnya aku juga bingung ingin mengatakan apa sesampainya di sana nanti.”
Gilbert: “Kapan kau akan berangkat?”
Francis: “Mungkin sekitar jam 11:30.”
Gilda: “Sekarang sudah jam 11:25, kalau begitu kau harus cepat pergi.”
Francis: “Benarkah? Kalau begitu aku minta izin untuk meninggalkan tempat, kita lanjutkan saja bicaranya nanti.”
Gilbert: “Tunggu, sebelum pergi ada yang ingin kutanyakan. Kau mengatakan bahwa dirimu sekarang tak punya rumah, setelah ini maukah kau tinggal bersama kami?”
Francis: “Kurasa kesempatan itu takkan bisa kudapatkan.” (meninggalkan ruangan)
Claudia: “Padahal aku ingin kak Zero tinggal bersama kita.”
Gilbert: “Sabarlah sayang, mungkin suatu saat nanti dia pasti akan memiliki kesempatan untuk itu.”
Gilda: “Bicara soal itu, jika tak salah ketika dia kabur dia juga sempat ditolong oleh seseorang.”
Gilbert: “Benarkah?”
Gilda: “Dia dibebaskan oleh orang yang menyelamatkannya, namun pada saat itu penyelamatnya juga mengalami sakit yang parah. Sebagai balas budi, akhirnya dia merawatnya dan melakukan semua kegiatannya.”
Claudia: “Benar, paman Uchida waktu itu sempat mencari kak Zero dalam keadaan kelaparan.”
Gilda & Gilbert: “Uchida?”
Claudia: “Paman Uchida tadi datang ke rumah kita, dia jatuh dan terkapar di jalan dalam keadaan kelaparan. Aku ditanyai dan dimintai tolong olehnya untuk mengantarkan barang pada kak Zero, kemudian aku beserta paman Albert dan Jacques membawa paman Uchida ke dalam rumah dan memberinya makan setelah aku antarkan barang kepada kak Zero.”
Gilda: “Lalu di mana dia sekarang?”
Claudia: “Dia sudah pulang, katanya ada keperluan sebentar.”


Kembali ke gudang di mana Uchida berada, dia sedang menyedot makanan dengan selang yang keluar dari tubuhnya. Dia terlihat menikmatinya, banyak piring yang bertumpuk di sebelah tempat dia duduk. Piring yang terakhir dia letakkan di atas tumpukan, setelah itu selangnya bergerak masuk ke dalam sebuah tong yang penuh dengan air. Dia menyedotnya sampai habis hanya dalam hitungan menit, selang itu kemudian kembali masuk ke dalam tubuhnya.

Uchida: “Euuuugh!” (bersendawa)

Selang tersebut masuk kembali ke dalam tubuhnya, pintu di tubuhnya langsung ditutup. Meteran di dadanya menunjuk angka 87%, dia kini berada dalam ruangan dengan beberapa orang. Banyak piring plastik dan botol air mineral berserakan di lantai, ada sekitar 6 buah tong kosong diletakkan di dalam ruangan.

Uchida: “87 %, ini sudah cukup untuk seminggu. Masukkan semua sampah ke dalam tong, keluarkan tong dari dalam ruangan ini dan buang ke tempat sampah.”
Semua: “Siap, Uchida-san.”

Semua orang segera membereskan sampah-sampah yang berserakan di lantai dan memasukkannya ke dalam tong, Uchida kemudian keluar dari dalam ruangan. Dia berjalan menuju sebuah ruangan, kemudian dia menutup pintunya rapat-rapat. Di dalam ruangan yang sangat gelap dan tak kelihatan apapun, Uchida menyalakan saklar lampu. Isi dalam ruangan itu kini terlihat jelas, di dalamnya ada macam-macam peralatan elektronik. Sebuah meja dengan seperangkat komputer di atasnya, sebuah televisi layar datar terpasang di dinding lengkap dengan DVD player dan audio, AC di bagian atas pintu, juga sebuah kursi untuk bersantai. Uchida tidur-tiduran dengan santainya di kursi, dia meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya.

Uchida: “Inilah hidup... ah, nikmatnya. Bagaimana keadaan Francis ya? Coba kuhubungi sebentar.”


Francis, Gilda, dan Claudia duduk berdampingan di dalam mobil polisi yang membawa mereka ke kantor. Di depan mereka duduk dua orang polisi, yang seorang sedang menyetir. Di tengah-tengah perjalanan, Uchida menghubungi dari kacamata yang dikenakan Francis.

Uchida: “Jadi bagaimana keadaan di sana?”
Francis: “Kenapa baru bicara sekarang? Apa yang baru saja kau lakukan?”
Gilda: “Maaf?”
Claudia: “Kak Zero, memangnya siapa yang bicara?”
Francis: “Oh, maaf. Aku sedikit melamun.”
Uchida: “Hahaha, sebenarnya kau tak perlu bicara denganku lewat mulutmu. Kau bisa memakai pikiranmu untuk berbicara denganku, kau pastilah terlihat seperti orang bodoh di hadapan mereka.”
Francis: (suara hati) “Kenapa tidak dari tadi saja kau jelaskan? Sekarang bisa kau jawab pertanyaanku?”
Uchida: “Aku sudah berada di tempat persembunyian yang baru, aku juga baru selesai mengisi tenagaku. Kau sendiri sekarang berada di mana?”
Francis: (suara hati) “Aku dalam perjalanan ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, Gilda dan Claudia juga bersamaku. Sekarang aku menaiki semacam tank beroda 4 dengan lampu menyala di atasnya.”
Uchida: “Itu mobil patroli, berhentilah menyebut mobil sebagai tank. Kita di zaman yang berbeda, semua yang beroda 4 itu disebut mobil.”
Francis: (suara hati) “Mobil? Akan kuingat itu, lalu nanti kau akan menjemputku bukan?”
Uchida: “Tidak, kau harus ke sini sendiri. Terlalu beresiko bagi orang berwajah buruk sepertiku untuk keluar, kau masih harus bicara kepada polisi bukan? Biar kuberitahu apa yang harus kau lakukan, ada sesuatu yang kupersiapkan di kantong kanan celanamu.”
Francis: (meraba kantong kanan) “Hm? Ini...”


Beberapa saat kemudian di dalam kantor polisi, Francis sedang duduk di depan seorang polisi yang sedang memeriksa kartu identitasnya. Di dalam kartu terpasang foto Francis yang menyeringai memperlihatkan giginya, polisi itu melihat pada kartu kemudian pada Francis.

Polisi: “Francis Welsley?”
Francis: “Itu aku.”
Polisi: “Bisa tunjukkan wajah anda?”
Francis: (membuka masker dan kacamata kemudian menyeringai) “Heee.”
Polisi: (menyerahkan kartu dengan wajah jijik) “Silahkan.”
Francis: (memakai masker dan kacamata) “Aku sedang pilek, mataku sendiri sudah mulai rabun. Karena itulah aku memakai ini, terima kasih.” (mengambil kartu)
Polisi: “Dikatakan di sini anda tadi mendapat panggilan dari keluarga Welsley tentang keadaan yang terjadi, setelah itu anda segera bergegas ke tempat kejadian dan mendapati bahwa para tersangka sudah ditangkap oleh kami.”
Francis: “Benar.”
Polisi: “Di mana anda pada saat itu?”
Francis: “Di rumah.”
Polisi: “Apa yang anda lakukan?”
Francis: “Olahraga.”
Polisi: “Anda berolahraga?”
Francis: “Memangnya aneh jika seseorang bangun pagi untuk berolahraga?”
Polisi: “Tidak, tidak, kami tidak bermaksud mencurigai anda. Ini hanya prioritas kami sebagai polisi, jangan diambil hati.”
Francis: “Aku tenang.”
Polisi: “Baiklah, terima kasih atas informasinya. Jika ada apa-apa lagi, kami akan hubungi anda.”
Francis: “Oh, jadi aku boleh pergi sekarang? Terima kasih kembali.”

Francis kemudian keluar meninggalkan ruangan, dia disambut oleh Gilda dan Claudia begitu keluar. Namun Francis mengacuhkan mereka dan langsung berjalan keluar dari kantor polisi, Gilda dan Claudia juga mengikutinya. Dia kemudian berhenti di depan sebuah kios yang menjual minuman, dia duduk dan mulai memesan.

Francis: “Jus apel, tiga gelas.”
Penjual: “Tunggu sebentar.”
Gilda: “Kukira ada apa, ternyata kau haus?”
Francis: “Itu wajar kan? Kenapa kau juga mengikutiku?”
Gilda: “Saya sebenarnya belum memberikan keterangan kepada polisi, jadi sekalian saja.”
Penjual: (menyajikan jus) “Silahkan.”
Francis: “Minumlah, kau juga Claudia.”
Claudia: “Wah, terima kasih kak Zero.”
Gilda: “Apa yang kau katakan di dalam tadi?”
Francis: “Sebelum aku jawab itu, bagaimana dengan dirimu?”
Gilda: “Saya hanya memberitahu kejadian yang terjadi ketika Claudia tidak bersama kami saat itu, Claudia juga mengatakan bahwa dia sempat menghubungimu pada polisi. Albert dan Jacques yang tadi sudah ditahan mengatakan bahwa mereka menentang perintah Francois lalu membuatnya menjadi trauma dan stres, tapi kau tahu cerita yang sebenarnya bukan?”
Francis: (meneguk habis jus) “Puaaah!! (memakai masker) Segar, begitukah?”
Gilda: “Tadi Claudia bilang orang yang menolongmu sempat datang mencarimu, kalau tak salah namanya Uchida. Bukankah itu nama orang Jepang?”
Francis: “Setahuku dia itu orang Asia.”
Gilda: “Memang benar, Jepang itu letaknya ada di Asia. sebenarnya apa pekerjaan Uchida ini?”
Francis: “Bukankah sudah kubilang? Dia itu ilmuwan, alat yang kupakai di wajahku ini salah satu alat penemuannya.”
Gilda: “Tidak, maksudku apakah dia penduduk negara ini? Di mana tepatnya dia menolongmu?”
Francis: “Dia ilmuwan yang kabur karena tahu tujuan busuk dari pihak yang mempekerjakannya, entah apa yang ada di pikirannya akhirnya dia menyusup masuk ke tempat di mana aku ditangkap. Ketika kami bertemu, aku tak begitu ingat kronologis kejadiannya. Awalnya kukira dia sama dengan orang-orang yang menangkapku, akhirnya aku malah menyerang dan memukul dia habis-habisan.”
Gilda: (suara hati) “Jadi karena salah paham, dia akhirnya menolong orang itu sampai lukanya sembuh. Kasihan sekali dia, sampai susah-susah datang untuk menemuinya dalam keadaan terluka.”
Francis: “Mereka yang kau sebut membelot Francois itu memang benar, tapi aku sendiri tidak melakukan apapun pada Francois. Dia saja yang langsung pingsan dan trauma melihat anak buahnya dibantai habis-habisan oleh mereka yang mengejarku dan Uchida, beruntung mereka semua bisa kubereskan.”
Gilda: “Did you kill all of them?” (Kau bunuh mereka semua?)
Francis: (melepas masker) “ Speak English again? I see, you don't want her to hear it.” (berbahasa Inggris lagi? Aku paham, kau tak mau dia mendengarnya)
Gilda: “Aku hanya menggunakannya sebentar, kau boleh lanjutkan lagi seperti biasa.”
Francis: (memakai masker) “Menghancurkan lebih tepatnya, kuceritakan panjang lebar pun kau takkan percaya. Sekarang akan kujawab pertanyaanmu, di dalam sana aku sedikit membohongi mereka. Mereka percaya bahwa aku adalah anggota keluarga kalian, apa kau juga katakan sedikit kebohongan pada mereka juga?”
Gilda: “Saya hanya mengatakan yang saya tahu saja, saya tahu kau bukanlah orang jahat. Jika saya katakan pada mereka bahwa dirimu adalah orang yang diculik dari luar negara ini, pastilah kau akan segera dipulangkan ke negaramu dan Claudia pasti akan kesepian.”
Claudia: “Kak Zero, ayo kita kembali ke rumah.”
Francis: “Hmph, aku bukannya menolak kebaikan hati kalian. Tapi hanya untuk beberapa hari saja, sebab aku tak bisa menjamin apa yang akan terjadi selanjutnya saat aku bersama kalian.”
Claudia: “Horeee! Terima kasih, kak Zero.” (memeluk Francis)
Uchida: “Hei, Francis. Apa kau masih lama?”
Francis: (suara hati) “Kau sendiri sedang apa sekarang?”
Uchida: “Aku baru saja memodifikasi helm tempur yang kau pakai tadi, ini kesempatan yang bagus untuk mencoba kekuatan baru yang kutambahkan.”
Gilda: “Terima kasih banyak, setelah ini apa yang akan kau lakukan?”
Francis: “Ah, kurasa aku harus mengabari Uchida dulu tentang semua ini. Dia sudah lama ditinggal olehku, pastilah dia mencemaskanku.”
Uchida: “Oh, sekarang kau mencemaskanku? Manis sekali.”
Francis: (suara hati) “Diam!”
Gilda: “Kalau begitu apakah kau sempat untuk makan malam di rumah kami nanti? Ajak juga Uchida jika kau bisa.”
Francis: “Aku takut dia takkan bisa menghadiri makan malam dengan keadaannya sekarang, tapi aku akan usahakan untuk datang nanti. Baiklah, aku akan pergi sekarang. Pak, ini uangnya.” (meletakkan selembar uang di atas meja)
Claudia: “Hati-hati di jalan kak.”
Gilda: “Tunggu, Francis.”
Francis: “Tenang saja, aku akan kembali ke rumah kalian sebelum matahari terbenam.”
Gilda: “Bagaimana kau meyakinkan mereka bahwa kau adalah salah satu bagian dari kami?”
Francis: “Aku cukup menunjukkan ini.”

Francis mengeluarkan kartu identitasnya yang tadi dia tunjukkan kepada polisi, kini dia sedang memperlihatkannya tepat di depan wajah Gilda. Sebuah kartu dengan foto Francis yang sedang menyeringai terpasang di sana, juga beberapa tulisan mengenai dirinya.

Nama: Francis Welsley
Lahir: 1990, 15 Juni
Jenis Kelamin: Pria
Gol Darah: AB
Alamat: Armstrong Gate no. 26

Gilda: (suara hati) “Kenapa wajahnya mirip kera yang sedang marah?”


Sementara itu di sebuah gedung perusahaan, ada beberapa orang bersetelan hitam yang sibuk mondar-mandir ke sana kemari. Mereka terlihat panik dan sedang mencari seseorang, seseorang terlihat sedang menelpon di depan pintu gerbang gedung.

?: “Aku tak perduli bagaimana cara kalian menemukannya, dia harus kembali ke sini dalam keadaan utuh! (menutup telpon) Sial, kenapa kau harus kabur di saat seperti ini?”

Di saat bersamaan, seseorang mengintip dari balik tembok. Dia mengenakan jaket bertudung dan memakai topi, dia juga membawa sebuah ransel. Dia kemudian berbalik dan pergi meninggalkan tempat, setelah itu dia mengeluarkan I-Pod dan memasang earphone ke telinganya.

?: “Salah kalian sendiri, aku kan juga perlu kebebasan.”


Di suatu tempat, Francis sedang berjalan kaki di trotoar. Dia mendengarkan instruksi yang diberikan Uchida dari gagang kacamata yang dia pakai, lensa di kacamatanya menunjukkan sebuah peta dan titik kecil merah tanda di mana dia berada.

Uchida: “Setelah ini kau harus belok ke kanan, tapi jangan belok terlalu cepat.”
Francis: “Kenapa?”
Uchida: “Ada perbaikan jalan, hati-hati ada lubang besar.”
Francis: (berhenti) “Dari tadi kau memberitahuku untuk jalan ke sana, jalan ke sini. Belok ke sana, belok ke sini. Sebenarnya tempat tujuanku ini sejauh apa?”
Uchida: “Kau bersabar saja, sedikit lagi akan sampai.”
Francis: “Kenapa tidak kau suruh seseorang untuk menjemputku saja? Aku tahu kau sudah memodifikasi ingatan semua orang yang ada di sana.”
Uchida: (menepuk tangan) “Oh, tidak terpikirkan olehku.”
Francis: “Begini saja, berikan aku gambar keseluruhan dari peta ini. Berikan sinyal tempat di mana kau berada, aku akan lari ke sana.”
Uchida: “Tidak mau, kau sadar dengan keadaanmu saat ini? Bagaimana jika seandainya saat kau berlari, kau tersandung dan jatuh di jalan raya kemudian ada mobil melindasmu lalu orang-orang sekitar panik melihatmu ketika kau sendiri baik-baik saja setelah ditabrak?”
Francis: “Asumsi macam apa itu?”
Uchida: “Pokoknya, aku tak mau kau melakukan aksi yang terlalu banyak menarik perhatian. Bisa-bisa musuh menemukanmu dan orang-orang sekitar bisa terlibat bahaya, untung kau menolak ajakan Claudia untuk mengantarmu sampai kemari.”
Francis: (jengkel) “Terserah kau saja.”

Francis melanjutkan berjalan, dia kemudian berbelok ke kanan dan mendadak berhenti. Ada lubang galian di depannya, dia kemudian melompati lubang itu. Bersamaan dengan itu, robot-robot lalat yang tak terlihat menemukan dirinya.

MENEMUKAN TARGET
SUBYEK M46 N4120 K
ALIAS FRANCIS ZERO
SEGERA LAKUKAN PENANGKAPAN
BAWA KEMBALI DALAM KEADAAN HIDUP
APAPUN RESIKONYA

Robot lalat itu kini terbang berdesing menuju Francis, menangkap dan membawanya terbang. Kacamata yang dia pakai jatuh ke tanah, dia dibawa terbang di atas perkotaan tanpa disadari oleh penduduk sekitar. Sementara itu orang yang sedang dicari oleh orang perusahaan berada di bawahnya, mendadak ada seekor kucing berlari lewat di depannya. Kucing itu berlari melewati jalan raya, hampir tertabrak sebuah mobil. Mobil itu kemudian mengerem mendadak dan menabrak tiang lampu, hal itu membuat mobil di belakangnya ikut mengerem mendadak sehingga terjadi kecelakaan beruntun. Saat ini Francis meronta-ronta dan berusaha membebaskan diri dari pegangan robot lalat, dia memegang salah satu kaki dari robot lalat dan mencabutnya. Kaki itu kemudian dia tusukkan ke kepala robot sehingga membuat sosok aslinya terlihat, hal tersebut membuatnya terjun bebas. Sementara itu kecelakaan beruntun masih terjadi di bawah, sebuah mobil tergelincir kemudian terbalik dan meluncur ke arah orang yang dicari. Orang yang berjalan itu tak sempat melihatnya, dia sedang sibuk mendengarkan lagu dan tak menyadari keadaan sekitar. Untungnya mobil itu berhasil dihentikan, Francis jatuh tepat di atas mobil itu. Orang yang dicari itu masih berjalan dengan santainya sambil mendengarkan musik, Francis sendiri bangun dengan keadaan terluka dan pakaian sobek-sobek. Dia melihat robot lalat yang barusan dia hancurkan dan meludahinya dengan darah setelah membuka masker, mendadak dia sadar jika robot lalat yang satunya lagi kini bersiap untuk menyerangnya. Dia segera menyingkir dari atas mobil, menghindari tembakan. Francis tak bisa melihatnya dengan mata telanjang, dia kemudian melihat pejalan kaki yang berjalan dengan tenangnya. Francis langsung berlari ke arahnya dan mendorong dia jatuh ke lubang galian, tembakan yang tadinya ditujukan pada Francis kini mengenai roda sebuah truk yang lewat dan membuatnya oleng. Truk itu kini meluncur tak terkendali ke arah lubang galian di mana orang itu jatuh, orang yang didorong itu memunculkan kepalanya dari dalam lubang dan sadar dengan apa yang terjadi sekarang.

?: “Astaga.”

Truk yang oleng dan meluncur dengan cepat itu kemudian dihentikan dengan tangan kosong oleh Francis, dia terdorong dan hampir jatuh ke lubang di mana orang itu sekarang berada. Namun dia berhasil menghentikan truk dan mengangkatnya ke atas, orang itu terkesima melihatnya. Francis kemudian melihat siluet dari robot lalat yang terpantul di minyak yang keluar dari dalam truk. Orang-orang di dalam truk melompat keluar, robot lalat itu terbang menembaki Francis. Karena pegangannya yang terlalu kuat, bemper truk yang dia pegang lepas. Francis sekarang melempar bemper truk itu pada robot lalat yang terbang tak terlihat namun bisa dilihat dalam bayangan yang terpantul di minyak, lemparannya tepat mengenai sasaran dan membuat tembakannya meleset sehingga mengenai minyak. Francis langsung berlari dan meloncat ke dalam lubang, dia kemudian memaksa orang di dalam lubang untuk tiarap. Ledakan besar terjadi setelah itu, serpihan-serpihan truk beterbangan ke mana-mana. Salah satunya menancap di tubuh robot lalat dan membuatnya meledak di udara, beberapa menit kemudian ledakan itu berhenti. Francis dan orang di dalam lubang memunculkan kepalanya, tak lama setelah itu kepala Francis terbentur ban yang jatuh dari udara.

Francis: “Auw...”
?: “Ng...”
Francis: “Apa?”
?: (kebingungan) “Ah... eh...”

Francis melihat earphone yang terpasang di telinganya, dia kemudian mencabut dan menariknya lepas dari telinganya. Dengan wajah jengkel, Francis memarahi orang itu.

Francis: “Lain kali kau bisa perhatikan keadaan sekitarmu tidak?! Jangan pakai ini saat kau berjalan!”
?: “I... I can't speak Norwegian.” (a... aku tak bisa berbahasa Norwegia)
Francis: (bengong 5 detik dan melepas masker) “Now you're speaking with my language. Ok, listen punk. Let me repeat what I will said, you hear me?” (sekarang kau bicara dengan bahasaku. Baik, dengarkan sialan. Biarkan kuulang apa yang kukatakan, kau dengar aku?)
?: “Yeah.” (ya)
Francis: “Where did you put your damn brain?! Can't you be more aware with the situation?! What kind of idiot using this gadget when they're walking and didn't notice the surrounding?! You're so damn lucky because you're still alive, but next time something in your body will be broken! You hear that, you punk?!” (di mana kau letakkan otakmu itu?! Tak bisakah kau lebih memperhatikan situasinya?! Orang bodoh macam apa yang menggunakan alat ini saat mereka berjalan dan tak menyadari sekitarnya?! Kau sangat beruntung karena kau masih hidup, tapi lain kali sesuatu di tubuhmu akan hancur! Kau dengar itu, sialan?!)
?: (mengorek-ngorek kedua telinga) “Y... yes!”
Francis: (keluar dari lubang) “Aw, damn it.” (aw, sialan)

Lelaki dalam lubang itu memperhatikan ketika Francis mengambil kacamata yang pecah, dia melihatnya mendesah dan membuang kacamata itu. Francis kemudian berlari begitu mendengar sirene polisi, berbelok ke kanan sehingga dia tak terlihat di depan mata. Lelaki itu kemudian melepaskan topi dan tudung jaketnya, ternyata dia adalah seorang pemuda berambut pirang. Matanya biru dan berhidung mancung, wajahnya sendiri terlihat melankolis.

?: (tersenyum) “I just met an interesting person.” (aku baru bertemu orang yang menarik)

No comments:

Post a Comment