PERMASALAHAN
Oslo,
Norwegia, 12 Oktober 2010, 08:00. Kediaman keluarga Welsley, Uchida,
Albert dan Jacques sedang duduk bersama di ruang makan. Claudia baru
saja membawakan 3 gelas susu, Uchida mengangguk setelah mendengar
penjelasan yang panjang lebar dari Albert dan Jacques.
Uchida:
“Sepertinya masalah jadi semakin rumit, kalian beruntung Francis
tidak mencabut salah satu bagian dari tubuh kalian.”
Claudia:
“Paman, silahkan susunya.”
Uchida:
“Oh, terima kasih. Kalian yakin hanya kalian sendiri yang
menyaksikan kejadian itu?”
Albert:
“I... itu benar! Kami sendiri diselamatkan oleh dia dalam keadaan
hidup, semua yang ada di sana sudah mati.”
Jacques:
“Ah, tapi sepertinya bos waktu itu tidak diapa-apakan oleh mereka.
Bukankah dia pingsan?”
Albert:
“Sampai kapan kau mau memanggil dia bos? Mana mungkin dia masih
hidup, pasti dia sekarang sudah dibunuh oleh makhluk itu.”
Uchida:
(menyedot susu) “Kenapa kalian tidak periksa saja sendiri? Tenang
saja, Francis dan seluruh absorber itu sudah tak ada di tempat.”
Albert:
“Ka... kami berdua masih sakit karena luka yang kami derita
sekarang.”
Jacques:
“Be... benar, sepertinya kakiku terkilir.”
Uchida:
(terdiam selama 5 detik) “Tunggu sebentar, ada panggilan masuk.
(menekan tombol di kepala bagian kanan dengan jempol) Jadi kau sudah
selesai?”
Francis:
“Ya, tapi aku terjebak di sini. Alat pendukung kehidupanku sendiri
hanya bisa bertahan 45 menit lagi, bisa kau keluarkan aku dari sini?”
Uchida:
“Beri aku 10 menit, bersabarlah sampai saat itu tiba.”
Francis:
“10 menit, akan kutunggu.”
10
menit kemudian.
Uchida:
“Sudah waktunya, meja dan bangkunya sudah dipindahkan?”
Albert
& Jacques: “Sudah.”
Uchida:
“Kalau begitu menyingkir dari sana.”
Uchida
mengganti bola mata palsunya dengan bola mata palsu berwarna merah,
dia kemudian menekan mata palsunya dan bunyi denging terdengar dari
dalamnya. Mata palsunya bersinar kemerahan dan mulai menembakkan
sebuah sinar yang membuka sebuah portal merah di atas udara, mendadak
beberapa barang jatuh dari dalamnya. Sebuah televisi, ban mobil, dan
kulkas, Uchida menekan mata palsunya lagi ketika sesosok manusia
berbaju merah jatuh di hadapan mereka. Portal di udara langsung
lenyap, sosok berbaju merah itu berlutut dan menengadah memandangi
Uchida. Albert dan Jacques sangat terkejut dan melihat secara
sembunyi-sembunyi dari balik tembok begitu melihatnya, Claudia
sendiri mendekat perlahan-lahan dan hanya melihat.
Francis:
“Kupikir aku akan mati kebosanan di dalam tempat itu, alatmu itu
sungguh merepotkan.”
Uchida:
“Kau baru keluar dari sana dengan selamat dan hanya itu kata-kata
yang bisa kau ucapkan?”
Francis:
“Memang apa yang kau harapkan? Aku harus meloncat kegirangan sambil
berteriak 'hore' seperti itu?”
Uchida:
“Tidak aku lebih berharap kau berkata 'Terima kasih, aku bisa
mengalahkan musuh dengan alatmu yang hebat.' begitu. Kenapa kau tidak
tunda dulu transformasimu?”
Francis:
“Tidak mau, nanti aku tak bisa lagi mengerti bahasa Norwegia.
Kuakui helm ini cukup mudah dalam membuatku berbahasa dan mengerti
perkataan orang di sekitarku, tapi dalam pertempuran instruksinya
sangat merepotkan. Kacamata pemberianmu sekarang sudah hancur, aku
menduga kau sama sekali tak punya cadangannya.”
Uchida:
“Kalau begitu setelah ini kau harus latihan mengendalikan kekuatan
itu, tapi kau salah kalau aku tak punya cadangan alat penerjemah. Aku
masih punya alat lain, tenang saja.”
Uchida
membuka pintu di dadanya dan memasukkan tangannya ke dalam, dia
kemudian mengeluarkan sebuah kacamata bening dengan lensa bulat.
Francis sendiri terlihat kesal begitu melihatnya, sementara yang lain
melihat dengan keheranan.
Francis:
“Apa kau tak punya alat dengan bentuk lain?”
Uchida:
“Persediaanku sekarang hanya ini, tapi lebih baik kau biasakan.
Alat ini hanya bisa menunjukkan terjemahan dari kata-kata di layarnya
namun tak memiliki fungsi untuk membuatmu fasih berbahasa, tapi jika
ditambah dengan ini kau bisa berbahasa seperti mereka.”
(mengeluarkan masker)
Beberapa
saat kemudian Francis sudah tidak lagi dalam keadaan bertransformasi,
dia sekarang memakai topi rajutan, kacamata bening, masker, jaket
hitam, dan celana jeans panjang. Uchida sedikit tertawa begitu
melihatnya, Francis sendiri terlihat depresi.
Francis:
“Aku pasti terlihat konyol sampai membuatmu tertawa seperti itu.”
Claudia:
“Kak Zero seperti orang yang sedang sakit, apa baju milik ayah
cukup?”
Francis:
“Ukurannya sudah sesuai denganku, terima kasih. Pakaian yang
sekarang sudah tak bisa kugunakan lagi, hmph. (suara hati) Memang
benar aku hanya bisa membaca terjemahan dari kata yang dia ucapkan.”
Uchida:
“Jangan kecewa begitu, kalau nanti ada kesempatan akan kubuatkan
yang lebih praktis.”
Francis:
“Ini sudah kedua kalinya aku dikecewakan oleh alat buatanmu, tapi
terima kasih.”
Uchida:
“Setidaknya kau berterima kasih, aku juga mau berterima kasih.”
Francis:
“Memang apa yang telah aku lakukan padamu?”
Uchida
menempelkan jempolnya ke dahi Francis, dia disetrum dan sedikit
kejang. Claudia kemudian mengambil sapu dan memukulkannya ke kepala
Uchida, dia langsung melepaskan jempolnya dari dahi Francis.
Claudia:
“Paman Uchida jahat! Kak Zero paman apakan?!”
Francis:
“Apa yang kau lakukan?! Claudia? Jadi kita di rumahmu sekarang?”
Uchida:
“Aku hanya sedikit menghukumnya, tenanglah. Itu balasan karena
meninggalkanku sendiri dengan seekor anjing.”
Francis:
“Maaf, itu salahku. Tapi paling tidak kau sudah makan bukan?”
Uchida:
“Ya, tapi energiku sekarang tidak cukup untuk menjalani aktifitas
seharian penuh.”
Francis:
“Claudia, berapa porsi sup yang tadi dia makan?”
Claudia:
“Satu panci, paman Uchida langsung menyedot semuanya dengan selang
sampai habis.”
Francis:
“Astaga, kau langsung saja habiskan makanan untuk seluruh penghuni
rumah ini tanpa pikir panjang? Seberapa besar sebenarnya perutmu
itu?”
Uchida:
“Secara teknis aku ini tak punya perut, semua makanan yang
kukonsumsi akan berubah menjadi energi untuk seluruh tubuhku. Tapi
tenang saja, dia masih bisa menikmati sarapan bersama dengan kedua
orang tuanya.”
Francis:
“Bagaimana kau bisa yakin?”
Uchida:
“Sebab orang tuanya akan datang ke sini bersama polisi, dia akan
ikut bersama orang tuanya dan diberikan layanan terbaik.”
Albert:
“Tunggu... tadi kau bilang polisi?”
Uchida:
“Memang kau pikir aku bilang tukang sampah?”
Jacques:
“A... apa kita akan dipenjara?”
Uchida:
“Jika dipertimbangkan dengan perbuatan kalian, tentu saja iya.”
Albert:
“Aku tak mau dipenjara, lebih baik kita kabur saja.”
Jacques:
“Tidak, kita serahkan saja diri kita.”
Albert:
“Jacques?”
Jacques:
“Pikirkanlah, sudah berapa kali kita dipenjara. Setiap kita masuk
penjara, Francois selalu membebaskan kita. Tapi sekarang aku ingin
sesuatu yang berbeda, aku tak ingin dibebaskan oleh bajingan seperti
dia. Aku ingin bebas dengan usahaku sendiri, bukankah tadi kau setuju
untuk tidak lagi bergantung kepada Francois?”
Albert:
“Tapi jika kita berubah haluan, teman-teman kita di sana akan
memukuli kita habis-habisan. Kau mau seperti itu?”
Jacques:
“Kalau begitu biar aku saja yang dipukuli, aku tak mau melihat
temanku dilukai.”
Albert:
“Jacques... (menitikkan air mata) aku... aku...” (memeluk
Jacques)
Jacques:
“Tidak apa-apa.”
Francis:
“Ngomong-ngomong, sebenarnya apa yang kau lakukan selama 10 menit
itu?”
Uchida:
“Aku menyembuhkan luka mereka, membereskan kerusakan yang kau
lakukan, sekaligus membawa orang itu kemari.”
Francis:
“Orang itu? (menoleh) Oh, ternyata kau.”
Di
belakang Albert dan Jacques ada Francois dalam keadaan terikat di
kursi dan mulutnya dibungkam dengan selotip, dia sendiri terlihat
ketakutan melihat Uchida dan Francis.
Francis:
“Uchida, apa kau sudah modifikasi ingatan mereka dengan alatmu?”
Uchida:
“Ah, sebenarnya itu sudah kulakukan sejak awal. Tapi yang
terpenting sekarang adalah kita harus segera pindah ke tempat
persembunyian yang baru, kita tak mau membuat anak semanis ini
terlibat bahaya lebih dari ini bukan?”
Francis:
“Jadi... kita harus berpisah dengan Claudia sekarang?”
Uchida:
“Tentu saja tidak secepat itu, kita masih membutuhkan sedikit
informasi. Jadi aku ingin kau menetap di sini selama paling tidak 1-2
hari, orang dengan penampilan sepertiku pun takkan ada yang mau
menerima untuk tinggal di manapun pada zaman ini. Kenapa? Apa ada
sesuatu dalam diri gadis cilik itu yang memikatmu?”
Francis:
“Jangan bercanda, untuk apa aku tertarik dengan anak kecil? Lalu
bagaimana dengan kau sendiri?”
Uchida:
“Aku telah mendapat info tentang tempat persembunyian baru dari
mereka, nanti aku akan pergi ke sana untuk memeriksa. Sesampainya di
sana, aku harus mengisi tenagaku yang tinggal sedikit. Sebelum itu,
kita lihat dulu situasinya saat polisi datang nanti.”
Beberapa
saat kemudian, beberapa mobil polisi dan sebuah mobil ambulance sudah
diparkir di depan rumah keluarga Welsley. Albert dan Jacques berjalan
keluar rumah dengan tangan diborgol sambil dibawa seorang polisi,
sementara itu dua orang paramedis membawa Francois di atas tandu
beroda dalam keadaan terikat. Dia terlihat gusar dan mulutnya
dibungkam oleh seorang paramedis, sementara seorang paramedis keluar
dari ambulance dan menyuntikkan obat bius yang membuatnya lemas.
Gilda dan Claudia berdiri memandangi Albert dan Jacques yang dibawa
oleh polisi, tapi mereka kemudian berhenti sebelum masuk ke mobil.
Jacques:
“Maafkan perbuatan kami tadi.”
Albert:
“Bagaimana keadaan Gilbert?”
Gilda:
“Dia sudah mendapatkan perawatan yang layak di rumah sakit.”
Albert:
“Syukurlah kalau begitu.”
Claudia:
“Kapan kalian akan kembali?”
Jacques:
“Entah, kali ini tak ada orang yang akan membebaskan kami.
Kemungkinan bisa bertahun-tahun, atau berbulan-bulan.”
Albert:
“Apa?! Kenapa kau tak bilang dari tadi?”
Claudia:
“Tapi kalian pasti akan kembali bukan?”
Jacques:
“Tentu kami akan kembali.”
Gilda:
“Kalian sudah memilih pilihan yang tepat, Tuhan akan memaafkan
perbuatan kalian.”
Albert:
“Tunggu dulu! Kau bilang kita hanya akan ditahan selama beberapa
minggu, bagaimana mungkin aku bisa tahan selama setahun!”
Polisi
1: “Cepat masuk ke mobil, berapa lama waktu kalian ditahan akan
diputuskan berdasarkan cerita kalian nanti.”
Polisi
2: “Ibu Gilda, anda dan anak anda akan segera diantar ke rumah
sakit tempat suami anda dirawat. Apakah kita bisa pergi sekarang?”
Gilda:
“Tentu sa...”
Claudia:
“Tunggu, kak Zero juga akan ikut.”
Gilda:
“Francis? Tapi saya tak melihatnya sedari tadi.”
Francis:
“Aku di sini.”
Gilda:
(menoleh ke belakang) “Francis? Kenapa kau berpakaian begitu?”
Claudia:
“Kak Zero!”
Francis:
“Maaf, aku meminjam baju suamimu. Aku mengalami sedikit kecelakaan
sehingga baju yang kupakai tidak bisa dikenakan lagi, apa kau
keberatan?”
Gilda:
“Aku paham, kau boleh memakainya. Tapi kenapa kau memakai kacamata
dan masker?”
Francis:
“Sebenarnya... aku agak rabun, karena itu aku pakai kacamata ini.
Kecelakaan tadi membuat wajahku terluka, karena itulah aku
menutupinya dengan masker.”
Gilda:
“Astaga, kau tidak apa-apa? Kalau begitu kita harus ke rumah sakit
secepatnya untuk memeriksa keadaanmu.”
Polisi
2: “Siapa orang ini.”
Gilda:
“Oh, dia...”
Claudia:
“Ini kak Zero, dia kakakku.” (merangkul lengan Francis)
Polisi
2: “Oh, anggota keluarga. Kalau begitu apakah nanti anda bersedia
datang ke kantor polisi?”
Francis:
“Eh, untuk apa?”
Polisi
2: “Hanya memberikan keterangan dan kesaksian, setelah selesai anda
bisa pulang.”
Uchida:
“Lebih baik kau menurut saja, aku masih mengawasimu.”
Francis
mendengar perkataan Uchida dari gagang kacamata yang dia gunakan,
ternyata kacamata yang dia pakai juga berfungsi sebagai alat
komunikasi. Francis hanya mengangguk saja, dia masuk ke dalam mobil
patroli bersama Claudia dan Gilda. Mobil-mobil itu segera
meninggalkan tempat, setelah itu sebuah mobil VW kodok keluar
melewati pintu masuk tempat pembuangan sampah.
Di
rumah sakit tempat di mana Gilbert dirawat, Francis, Claudia, dan
Gilda duduk menunggu di sebuah ruangan. Claudia dan Francis sedang
makan sepotong roti bersama-sama, Gilda sendiri minum segelas teh
hangat. Seorang suster membawa pasien dengan kaki dilapisi gips yang
duduk di kursi roda melewati mereka, Francis memandangi mereka
berdua. Di saat bersamaan, seorang pasien keluar dari dalam sebuah
kamar sambil membawa infus. Francis menyipitkan matanya ketika orang
itu lewat di depannya, pasien itu langsung menatap ke depan dengan
wajah ketakutan dan berjalan sedikit cepat.
Claudia:
“Ada apa kak Zero?”
Francis:
(memakai masker) “Tidak, ini baru pertama kalinya aku ke rumah
sakit. Aku hanya heran saja melihat orang-orang ini, ada yang
berpakaian putih bersih dan ada juga yang bergaris.”
Gilda:
“Pertama kali? Maksudmu kau bahkan tak pernah ke dokter sekalipun?”
Francis:
“Dokter?”
Claudia:
“Kak Zero, mereka yang berpakaian putih bertugas untuk merawat dan
menyembuhkan luka atau penyakit yang kita dapat. Mereka yang memakai
baju bergaris adalah orang yang sakit dan terluka, ayah sekarang juga
memakai baju itu.”
Francis:
“Oh, lalu di mana dia sekarang?”
Gilda:
“Sebentar lagi kita akan diberitahu mengenai keadaan suami saya,
setelah itu kita akan dipersilahkan untuk menjenguknya.”
Francis:
“Setelah ini aku juga harus mendatangi tempat bernama 'kantor
polisi' itu, apa yang harus kulakukan?”
Gilda:
“Francis, can we speak in English?” (Francis, bisakah kita
berbicara dalam bahasa Inggris)
Francis:
(melepas kacamata dan masker) “Finally, I'm so tired to wear
something like this.” (akhirnya, aku lelah sekali untuk memakai
sesuatu seperti ini)
Gilda:
“So you lie about your injury.” (jadi kau berbohong tentang
cederamu)
Francis:
“Crap, you know it? Since when?” (Sial, kau mengetahuinya? Sejak
kapan?)
Gilda:
“You just reveal it yourself.” (kau baru mengatakannya sendiri)
Francis:
“You're joking.” (kau bercanda)
Gilda:
“Hahaha, kau ini lucu sekali.”
Claudia:
“Kak Zero bicara apa?”
Gilda:
“Claudia, habiskan dulu makananmu.”
Claudia:
“Baik, ibu.”
Gilda:
“Let's continue our conversation.” (mari lanjutkan pembicaraan
kita)
Francis:
“Okay.” (ok)
Gilda:
“What's actually happening when Claudia with you?” (apa yang
sebenarnya terjadi saat Claudia bersama denganmu?)
Francis:
“I'm just beat some of them, but the result didn't end well.”
(aku hanya hajar beberapa dari mereka, tapi hasilnya tak berakhir
dengan baik.)
Gilda:
“Did you kill them?” (apa kau bunuh mereka?)
Francis:
“No, something else kill it.” (tidak, sesuatu yang membunuh
mereka)
Gilda:
“Something else? You mean someone else, did she see something that
she doesn't suppose to see?” (sesuatu? Maksudmu seseorang, apa dia
melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat?)
Francis:
“Don't worry, she didn't see it. But she is pretty stubborn, she
always follow me even after I ask her to stay.” (jangan khawatir,
dia tak melihatnya. Tapi dia cukup keras kepala, dia selalu
mengikutiku bahkan setelah aku memintanya tinggal)
Claudia:
“Ibu dan kak Zero sedang bicara apa?”
Gilda:
“Masalah pribadi, sayang. Kau sudah habiskan rotimu?”
Claudia:
“Sudah ibu, kak Zero bicara apa dengan ibu?”
Gilda:
“Ini sesuatu yang tidak boleh didengarkan oleh anak kecil, karena
itu kau duduk saja dengan tenang sampai dokter memanggil kita.”
Claudia:
“Aneh, kenapa waktu pertama kali bertemu kak Zero bisa lancar
berbahasa Norwegia?”
Gilda:
“She's asking why you can't speak in our language.” (dia bertanya
kenapa kau tak bicara dalam bahasa kami.)
Francis:
“Tell her that I have a disease which make me uncapable to speak
with your language, and to prevent that I must use the glasses. And
please tell her don't ask me again, if she do so then I'll gave her
some gift.” (katakan padanya jika aku punya penyakit yang membuatku
tak bisa bicara bahasamu, dan untuk mencegah hal itu aku harus
memakai kacamata. Dan tolong katakan padanya jangan menanyai aku
lagi, jika dia lakukan itu makan akan kuberi dia suatu hadiah.)
Beberapa
saat kemudian, Claudia sudah duduk di kursi seorang diri sambil
mencomot permen loli. Gilda dan Francis berdiri bersebelahan di depan
jendela sambil melihat pemandangan luar. Masing-masing dari mereka
memegang segelas teh, secara bersamaan mereka meminumnya.
Francis:
“You might not believe me, but they were slaughtered by them.”
(kau mungkin tak percaya padaku, tapi mereka dibantai oleh mereka)
Gilda:
“Them? You mean the one that kidnapping you?” (mereka? Maksudmu
yang menculikmu?)
Francis:
“Damn right, but luckily someone save my @$%” (benar sekali, tapi
untungnya seseorang menyelamatkanku.)
Gilda:
“Hey, watch your language. So who is it?” (hei, perhatikan
bahasamu. Jadi siapa orangnya?)
Francis:
“The one who save me, I already told you about him yesterday. But
he is not in a very good condition, so I ask Claudia to gave him the
soup. And I'm so sorry, because he ate all of it.” (yang
menyelamatkanku, aku sudah beritahu padamu tentangnya kemarin. Tapi
dia sedang tidak dalam kondisi yang sangat bagus, jadi aku minta
Claudia memberinya sup. Dan aku minta maaf, karena dia menghabiskan
semuanya.)
Gilda:
“It's alright, thanks for bought us some food.” (tak apa, terima
kasih karena sudah membelikan kami makanan)
Francis:
(mendesah dan menunduk lesu) “Haaah...”
Gilda:
“I don't know what really happened, but please smile.” (aku tak
tahu apa yang terjadi, tapi tersenyumlah)
Francis:
“Hm?”
Gilda:
“We will see my husband soon enough, he must be happy if you show
him your smiling face.” (kita akan segera menemui suami saya, dia
pasti gembira jika kau memperlihatkan wajahmu yang tersenyum.)
Francis:
(mudah bicara begitu, maksudmu seperti ini?) “Easy to said that,
you mean like this?” (menyeringai)
Gilda:
“You don't need to show all of your teeth.” (kau tak perlu
menunjukkan semua gigimu.)
Francis:
(maaf, aku akan gunakan alat spesialku lagi) “Sorry, I will use my
special device again. (memakai masker dan kacamata) Karena kita
berada di Norwegia, lebih baik aku gunakan bahasa Norwegia untuk
menghormati orang-orang di negara ini.”
Gilda:
“Kau mengatakan begitu, tapi kau sebenarnya tidak berbahasa sesuai
dengan kemampuanmu sendiri bukan?”
Francis:
“Memang benar, aku harus menggunakan alat ini tapi sampai aku bisa
berbahasa dengan kemampuanku sendiri. Aku akan belajar suatu saat
nanti, jadi tunggu saja.”
Gilda:
“Akan kutunggu, kacamata dan masker itu bukan barang biasa ya?”
Francis:
“Orang yang menolongku itu seorang ilmuwan, dia yang menciptakan
alat ini. Semacam alat penerjemah, dia memberikan alat ini padaku
untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan.”
Gilda:
“Ilmuwan? Oh, berarti dia bekerja di Perusahaan TDG?”
Francis:
“TDG?”
Claudia:
(menarik baju dari belakang) “Ibu, dokter ingin menemui ibu.”
Gilda:
(menoleh) “Oh, kita bicara lagi nanti.”
Sementara
itu di atas langit daerah perkotaan, ada dua benda asing dengan wujud
tak terlihat terbang. Ternyata itu adalah robot-robot lalat yang
tadinya mengejar Uchida, pandangan mereka sedang dalam mode
pencarian. Tapi sebenarnya pandangan para lalat itu juga muncul di
sebuah layar monitor di suatu tempat, seseorang mengawasi layar
monitor tersebut. Wujudnya tak terlihat jelas, tapi dia memiliki satu
bola mata sama seperti absorber. Di belakangnya berdiri seorang pria
dengan sepasang mata berwarna merah menyala, mereka berada di dalam
ruangan yang gelap.
?:
“Bagaimana hasil pencarian sampai saat ini?”
??:
“Keberadaan Profesor Uchida belum ditemukan sampai sekarang, tapi
dia terakhir kali terlihat bersama dengan tiga orang manusia.”
?:
“Di mana tempat dia terakhir kali terlihat?”
??:
“Diperkirakan berada di 35 derajat barat daya dan 25 derajat
lintang selatan.”
?:
“Ng, tempat ini? Ini tempat di mana aku melepaskan absorber untuk
mencari subyek M46 N4 120K, perlihatkan rekaman setelah Uchida
terakhir kali terlihat.”
??:
“Sedang dilaksanakan.”
?:
“Itu...”
Di
layar monitor itu muncul rekaman dengan sudut pandang kota dari
atas, ada beberapa titik muncul. Rekaman itu kemudian diperbesar,
terlihat saat Uchida terbaring di atas tanah dan menyerahkan helm
kepada Claudia. Kini rekaman itu sedikit dipercepat dengan Claudia
sebagai obyeknya, sekarang rekaman itu menunjukkan Claudia yang
sekarang memberikan helm pada Francis yang terdesak oleh absorber
yang dia hadapi. Kali ini rekaman menunjukkan saat di mana Francis
berubah wujud dan hilang dalam sekejap dengan kilatan merah, setelah
itu rekaman mati.
??:
“Flying Drone hanya akan memburu saat buruan masih hidup, Profesor
Uchida sama sekali tak menunjukkan tanda kehidupan terakhir kali dia
terlihat. Flying Drone menganggap Profesor Uchida sudah mati dan
membatalkan misinya, namun mereka melanjutkan kembali misinya karena
tanda kehidupan Profesor Uchida muncul kembali.”
?:
“Sepertinya prioritas kita sekarang bukanlah Uchida, program ulang
mereka untuk mengejar target baru. Namanya adalah Francis Zero, nama
alias subyek M46 N4 120K.”
??:
“Siap, Jendral Drake.”
Setelah
itu, sebuah pintu terbuka dan cahaya masuk ke dalam. Kali ini pria
bermata merah itu berbalik dan berjalan keluar pintu, seluruh tubuh
kecuali kepalanya terlihat jelas. Tubuhnya mengenakan seragam tentara
dan jubah, dia memegang tongkat dengan sebuah mutiara hitam di
ujungnya. Di bagian dada di seragamnya ada lambang pisau dan kadal
bersilang, ruangan itu kemudian kembali tertutup rapat.
No comments:
Post a Comment