Sunday, February 24, 2013

Level 12


MAKAN MALAM

Oslo, Norwegia, 12 Oktober 2010, Francis sedang berjalan-jalan sambil melihat peta yang dia bawa. Dia berhenti sejenak dan melihat papan nama jalan di atasnya kemudian melihat peta lagi, dia kemudian belok ke kiri jalan. Kini dia berjalan di sebuah jembatan penyeberangan, beberapa menit kemudian dia berada di atas sebuah pohon. Dia lalu tergantung jungkir balik di atas lampu lalu lintas, sekarang dia berbaring di tengah jalan dengan peta yang menutupi wajahnya. Seseorang kemudian mengambil peta itu dari wajahnya, Francis melihat James sudah berdiri di hadapannya.

James: “Sedang apa kau di sini?”
Francis: “Justru aku yang seharusnya bertanya begitu.”
James: “Aku tak menyangka jika kau ini adalah gelandangan, kau sering melakukan ini?”
Francis: “Gelandangan? Heh, aku sudah dengar kata seperti itu diucapkan dan tak tahu artinya sampai sekarang.”
James: “Orang yang tak punya pekerjaan tetap dan hidup dengan cara meminta-minta pada orang dan mengais sampah, kadangkala bisa ditemui tinggal di tempat kumuh atau di pinggir jalan. Yah, setidaknya begitulah artinya.”
Francis: “Dan kau pikir aku orang seperti itu?”
James: “Tentu saja tidak, sepertinya kau punya masalah.”
Francis: “Apa aku terlihat seperti punya masalah?”
James: “Dari wajahmu saja, kau sudah terlihat bermasalah.”
Francis: (mencengkeram kerah baju James) “Dengarkan, sialan. Kalau kau mau cari mati, katakan saja. Aku dengan senang hati akan mengirimmu ke dunia sana.”
James: “Whoa... kemarahan yang nyata... Aku hanya ingin membantumu saja, dan kurasa kau sedang pergi ke suatu tempat tapi tak tahu arah. Membaca peta saja tidak bisa, apa aku benar?”
Francis: (melepas cengkeraman) “Aku bukan tak tahu arah, aku hanya lelah karena harus berjalan seharian ke tempat tujuanku.”
James: “Kenapa tidak naik taxi saja?”
Francis: “Taxi?”


Beberapa saat kemudian, Francis sudah berada di depan kediaman keluarga Welsley. Dia baru saja turun dari taxi, James sendiri sedang membayar ongkosnya pada supir. Francis langsung saja berjalan ke depan rumah dan hendak mengetuk pintu, namun James mencegahnya dengan menarik bagian belakang baju yang dia pakai.

James: “Hey, hey, hey. Wait a minute, at least say...” (Hei, hei, hei. Tunggu dulu, setidaknya ucapkan...)
Francis: “Yeah, I know. Thank you very much, now go home.” (Ya, aku tahu. Terima kasih banyak, sekarang pulanglah.)
James: “So whose house is it?” (Jadi rumah siapa ini?)
Francis: “The house of the family who I helped earlier, they invited me to stay and have a dinner.” (rumah keluarga yang kutolong beberapa saat yang lalu, mereka mengundangku untuk menginap dan makan malam)
James: “Then where do you live now?” (Lantas kau sendiri sekarang tinggal di mana?)
Francis: (diam sejenak) “Can't you shut your damn mouth for a second?” (Tak bisakah kau menutup mulut sialanmu sebentar saja?)
Claudia: “Kak Zero!”

Claudia membuka pintu depan dan langsung berlari memeluk Francis, diikuti dengan Gilda yang sedang mendorong Gilbert yang duduk di atas kursi roda.

Francis: “Hei, aku kan hanya pergi sebentar. Kau tidak bisa langsung menyerang orang yang baru saja datang, (melihat Gilbert) dan bukankah seharusnya kau ada di rumah sakit?”
Claudia: “Ayah sudah agak baikan, jadi dia diizinkan pulang.”
Francis: “Sungguh? Lalu kenapa dia tidak berjalan dengan kakinya sendiri?”
Gilda: “Dia yang memaksa agar bisa pulang, padahal dia masih belum sembuh sepenuhnya.”
Gilbert: “Omong kosong, aku memang tak bisa berjalan dan wajahku penuh luka. Tapi paling tidak tanganku ini masih bisa digunakan, masuklah dan ajak temanmu ke dalam.”
Francis: “Dia bukan temanku.” (tegas)
James: “What is he talking?” (dia bicara apa?)
Francis: “He said that you must leave now before I beat you up.” (dia bilang bahwa kau harus pergi sekarang sebelum kuhajar)
Gilda: “No, he's lying. Do you mind if you join us for dinner?” (Tidak, dia bohong. Kau keberatan jika kau bergabung untuk makan malam?)
Francis: “Tidak, hentikan. Itu ide yang buruk.”
James: “Oh, yes. That's very cool.” (Oh, ya. Itu keren sekali)
Gilbert: “Masuklah, aku baru saja memasak banyak Smorrebrod.”
Francis: “Tunggu... (dicuekin dan ditinggal masuk) ah, damn.” (ah, sial)


Sementara itu, Uchida sedang mencari informasi lewat internet di komputernya. Dia membuka tentang berita yang terjadi beberapa hari yang lalu, ada sebuah gambar sekelompok ilmuwan dengan keadaan berantakan di depan sebuah bangunan yang hancur lebur. Artikel yang bertuliskan 'Malapetaka pembawa Keajaiban', tertulis bahwa mereka menemukan semacam batuan yang menghasilkan energi pengganti untuk berbagai macam kendaraan dan alat-alat elektronik. Salah satu dari ilmuwan itu memegang sebuah tabung kecil berisi kerikil kecil yang bersinar kehijauan, mata Uchida yang sipit terbuka sedikit dengan pandangan serius.

Uchida: “Ulkamium...”

Uchida mengetik 'TDG', dia kemudian menekan salah satu situs. Di layar muncul tulisan 'Selamat Datang di Techno Dynamic Group, di mana tekhnologi adalah hidup' Dia kemudian menekan 'Perkembangan Terbaru', muncullah daftar produk di layar. Uchida menekan bagian paling atas bertuliskan 'Subyek X', namun muncul kata 'masih dalam pengembangan' Sekarang dia melihat berita mengenai pembobolan di TDG, yang dicuri adalah Ulkamium yang diteliti oleh para ilmuwan saat itu. Judul artikel itu adalah 'Lenyapnya sebuah keajaiban', sebuah ruangan dilubangi dengan bentuk segitiga yang besar dan beberapa polisi memeriksa bagian dalamnya.

Uchida: “Hm, aku sudah mencoba meretas ke dalam database TDG. Tapi ada resiko setelah keamanan diterobos, semacam virus akan masuk ke dalam jaringan komputer.”

Kali ini Uchida membuka susunan pangkat perusahaan, dia melihat bagian paling atas yaitu Presiden Direktur. Ketika ditekan muncul gambar seorang pria lengkap dengan biografinya, namanya adalah 'Henry Yorgins'. Tertulis dalam data, pria kelahiran Jersey memimpin perusahaan pada usia 17 tahun. Kepemimpinan itu sendiri diberikan kepada ayahnya setelah dia mengundurkan diri karena kondisi kesehatannya yang memburuk, masa kepemimpinannya sendiri sudah berjalan selama 20 tahun. Henry menikahi seorang wanita di usia 21 tahun dan dikarunia satu anak lelaki dan satu perempuan, dia tinggal bersama dengan keluarganya di New York, Amerika Serikat.

Uchida: “Baiklah, mari kita cari keberadaannya. Tertulis seminggu yang lalu dia berada di Norwegia bersama salah seorang anaknya, hari ini dia meninggalkan Norwegia sendirian. Anaknya yang lelaki cukup terkenal sebagai playboy jutawan, cukup terkenal di kalangan gadis-gadis belia. Oh, dua hari yang lalu ia terlihat di sebuah pusat perbelanjaan tanpa pengawal. Tapi sejak kejadian pembobolan itu dia tak terlihat lagi, kemungkinan sudah pulang lebih dulu dari ayahnya atau masih berada di sini dan diamankan oleh ayahnya. Hm, sebenarnya ini mudah jika Francis bisa menyamar menjadi karyawan di sana dan mencari informasi. Tapi sifat dan kelakuannya itu malah akan membuat dia cepat ditangkap, terlalu beresiko. Sebentar, jika tak salah nama anak dari Presdir itu sendiri adalah...”


Di kediaman keluarga Welsley, Francis, James, dan Claudia sedang duduk di ruang makan. James sedang bersalaman dengan Claudia, Francis sendiri sedang memangku kepalanya dengan wajah jengkel. Gilda dan Gilbert berada di dapur, sedang mempersiapkan makanan.

James: “My name is James, so who are you?” (namaku James, jadi kau siapa?)
Claudia: “Mey nume is Claudia, senang bertemu denganmu.”
James: “So you can speak a little English, you understand what I'm saying now?” (Jadi kau bisa bicara sedikit bahasa Inggris, kau mengerti yang kukatakan sekarang?)
Claudia: “Aku sedikit paham bahasa Inggris, James sendiri teman kak Zero?”
James: (menoleh pada Francis) “What she's saying? Come on, don't be angry.” (apa yang dia katakan? Ayolah, jangan marah)
Francis: “She said that you're a jerk.” (dia bilang kau itu sialan)
Gilda: “Francis, begitukah cara bicaramu pada temanmu sendiri?”
Francis: “Aku sudah bilang, dia bukan temanku. Dia hanya penguntit yang sedari tadi mengikutiku sejak dalam perjalanan kemari.”
Gilda: “Tapi kelihatannya dia mengenalmu dengan baik.”
Francis: “Yah, itu karena dia bersikeras agar aku bekerja untuknya setelah aku menyelamatkan dia.”
James: “Ng, I didn't understand what're you sayin. But you're talking about me, right?” (ng, aku tak mengerti apa yang kau katakan. Tapi kau membicarakan tentang diriku kan?)
Claudia: “James ditolong oleh kak Zero? Wah, aku, ayah, dan ibu juga sudah ditolong.”
Gilda: “He save you? When?” (dia menyelamatkanmu? Kapan?)
James: “At last, somebody speak English. He save me when I was walking in the town street, I almost hit by a big truck.” (akhirnya, ada yang bicara bahasa Inggris. Dia menyelamatkanku saat aku sedang berjalan di jalanan kota, aku hampir tertabrak bis besar.”
Gilda: “My God, are you ok?” (Ya Tuhan, kau baik-baik saja?)
James: “No scratch at all, thanks for him.” (tanpa goresan sama sekali, terima kasih karena dia)
Gilbert: “Gilda, bawakan Smorrebrod yang sudah selesai kubuat ke meja.”
Gilda: “Baik, sayang.”

Gilda membawa Smorrebrod yang baru saja dibuat dan menyajikannya di atas meja, setelah itu dia kembali ke dapur dan mendorong kursi roda yang Gilbert duduki ke meja makan. Smorrebrod itu sendiri adalah semacam roti isi, di dalamnya ada sayur dan daging. Kini seluruh keluarga Welsley menyantap hidangan itu bersama dengan Francis dan James, Francis sendiri kelihatan sangat menikmati. Beberapa menit kemudian, roti isi yang tersedia di meja kini sudah habis tak tersisa. Francis menjilati seluruh ujung jarinya, ia langsung meneguk segelas susu di hadapannya.

Francis: “Terima kasih banyak atas makanannya, ah segar.”
Gilbert: “Maaf jika porsinya kurang, kondisi kami saja sudah seperti ini.”
Francis: “Tidak apa-apa, yang penting masih bisa dimakan bukan?”
Claudia: “Kak Zero, jadi menginap di sini bukan?”
Francis: “Tentu saja, aku sudah berjanji.”
Claudia: “Hore! Aku boleh tidur dengan kakak?”
Francis: “Terserah kau saja, apa tempatnya masih sama?”
Gilda: “Tentu saja, saya juga sudah menyiapkan selimut.”
Francis: “Tapi suamimu sendiri sudah kembali bukan? Apa tidak apa-apa?”
Gilbert: “Tidak apa-apa, itu hanya tempat kerjaku saja. Aku biasa tidur dengan Gilda dan Claudia di dalam satu kamar, gunakanlah sesukamu.”
Francis: “Kalau begitu aku tidur sekarang saja, aku sudah terlalu lelah mengurus penguntit ini.”
Gilbert: “Penguntit? Bukannya dia temanmu? Apa dia juga mau menginap di sini?”
Francis: “Apa dia tampak terlihat seperti temanku?”
Claudia: “Kelihatannya iya.”
Gilda: “Why'd you follow him?” (kenapa kau mengikutinya?)
James: “I just want to repay his kindness for saving my life.” (aku hanya ingin membalas kebaikannya karena menyelamatkan nyawaku)
Francis: “You already did it, once.” (kau sudah melakukannya, sekali)
James: “And I'm already help you more than one, so it's obvious if you owe me.” (dan aku sudah menolongmu lebih dari sekali, jadi sudah jelas jika kau berhutang padaku.)
Francis: “That's not even my own will.” (Itu bahkan bukan keinginanku sendiri)
Gilda: “Where do you come from?” (dari mana kau datang?)
James: “United States of America, New York City.”
Gilda: “Are you his friend?” (apa kau temannya?)
James: “Yes, the good one.” (ya, yang baik)
Francis: “No, don't believe him.” (tidak, jangan percaya dia)
Gilda: “James, why didn't you take off your hat and the hood? I want to see your face.” (James, kenapa kau tidak melepas topi dan kerudungmu? Aku ingin melihat wajahmu.)
James: “Oh, yes. Sorry, I forgot to take it off.” (Oh, ya. Maaf, aku lupa melepaskannya)

Ketika James melepaskan topi dan kerudungnya, seluruh keluarga Welsley memasang wajah terkejut. James menggeleng-gelengkan kepalanya sehingga rambutnya berkibar. Ada aura bercahaya terpancar dari wajahnya, matanya yang bersinar bagaikan permata, kulitnya yang mulus, dan hidungnya yang mancung. Wajahnya yang lumayan tampan membuat Gilda dan Claudia terpesona, wajah mereka merona. Francis memandang Claudia dan Gilbert memandang Gilda, mereka kemudian bertukar pandangan. Francis memandang Gilda dan Gilbert memandang Claudia, mereka kemudian melihat James. Gilbert kemudian berdeham, kedua wanita itu buyar dalam lamunannya.

Gilbert: “Sepertinya aku pernah melihat dirimu, tapi di mana?”
James: “What is he sayin?” (apa yang dia katakan?)
Francis: “He said that he ever saw you before, but didn't know where.” (dia bilang bahwa dia pernah melihatmu sebelumnya, tapi tidak tahu di mana)
James: “Is that weird? You don't even know me at all.” (apakah itu aneh? Kau bahkan tak tahu diriku sama sekali)
Francis: “Hey, I just know your name is James Yorgins. What do you expect? I must give you a hug?” (Hei, aku hanya tahu namamu adalah James Yorgins. Apa yang kau harapkan? Aku harus memberimu pelukan?)
James: “Of course not.” (tentu saja tidak)
Gilda: “James Yorgins? Benarkah itu?”
Francis: “Dia sendiri yang mengatakannya padaku, memang kau pernah bertemu dengannya?”
Gilbert: “Kenapa dia ada di sini? Dari yang kudengar dia seharusnya sudah pulang ke Amerika.”
Francis: “Tunggu, tunggu dulu! Memang siapa sebenarnya si penguntit ini?”
Gilda: “Namanya James Yorgins, dia adalah putra dari Presdir TDG 'Henry Yorgins'. Di usianya yang ke 16 tahun, dia dijuluki sebagai playboy jutawan. Selain tampan, dia juga berbakat dalam berbagai hal.”
Gilbert: “Memangnya aku tidak tampan?”
Gilda: “Oh, tentu saja kau yang paling tampan di hatiku sayang.”
Francis: (terdiam 5 detik) “...aku bahkan tak pernah dengar hal seperti itu...”
Gilbert dan Gilda: “Apa?!”
James: “What're you sayin?” (apa kau bilang?)
Gilda: “Aw, that's awful. He didn't even know you at all.” (Aw, itu mengerikan. Dia bahkan tak mengenalmu sama sekali.)
James: “What?! Don't you ever read newspaper or watch television?” (Apa?! Apakah kau tak pernah sekalipun membaca koran ataupun menonton televisi?”
Francis: “From I was born until now, I never read or watch that kind of information.” (dari lahir sampai sekarang, aku tak pernah membaca atau melihat info semacam itu.)
James: “So you're uneducated person? A Neet?” (Jadi kau itu orang tak berpendidikan? Seorang Neet?)
Francis: “I don't know what a Neet is, but you're wrong if I'm uneducated. I'm knowledgeable in a certain battle, now I want to sleep. So please go home and don't disturb me anymore, get lost.” (Aku tak tahu apa itu Neet, tapi kau salah jika aku tak berpendidikan. Aku cukup paham mengenai beberapa pertempuran, sekarang aku mau tidur. Jadi silahkan pulang dan jangan ganggu aku lagi, pergilah.)

Setelah mengatakan kalimat yang cukup panjang, Francis segera bergegas ke dalam kamar. James sendiri agak terkejut dan menggeleng-gelengkan kepalanya, Claudia memegang lutut James dan melihatnya dengan mata berbinar-binar. Gilda dan Gilbert sendiri kini duduk berhadapan dengan James, menunggu dia untuk berbicara.

James: “Ok, so where do you met this guy?”


Sementara itu di markas rahasia milik Jendral Drake, beberapa robot absorber sedang mengoperasikan sebuah mesin waktu. Sebuah kendaraan keluar dari gerbang menarik dua buah kontainer, pengemudinya kemudian turun dari kendaraan. Beberapa kontainer kecil ditarik oleh beberapa absorber, pengemudi kendaraan itu memeriksa isi kontainer kecil. Dia juga menghitung jumlah kontainer kecil yang diangkut, namun ia terlihat tak puas dan meludahi salah satu absorber.

?: “Apa-apaan, kukira aku dipanggil karena persediaan yang dipesan sudah ada. Kenapa hanya segini? Di mana si keparat Drake itu?”
Drake: “Kau lupa tambahan kata 'Jendral', Margo.”

Sang pengemudi kini melihat Jendral Drake berdiri di belakangnya, wujud si pengemudi itu terlihat jelas. Badannya sebesar gorila, ada sepasang taring mencuat dari rahang bawahnya, hidungnya seperti babi, tangan dan kakinya yang berbulu lebat, dan telinganya yang besar dan bisa bergerak-gerak. Dia menggunakan seragam tentara dengan lambang kristal es berwarna merah di dadanya, dia membungkuk di hadapan Jendral Drake.

Margo: “Drake, seharusnya kau memanggilku setelah semua persediaan yang diminta terkumpul.”
Drake: “Jendral Drake, jika tak keberatan.”
Margo: “Akan kupanggil kau dengan sebutan itu jika kau telah menunaikan tugasmu dengan baik.”
Drake: “Sebenarnya ada sedikit perubahan rencana, 6 megaton Ulkamium menghilang.”
Margo: “Menghilang?! Apa maksudmu?”
Drake: “Seharusnya kami bisa menyerahkannya seminggu kemudian, tapi keadaan berubah sejak 45 megaton menghilang dari gudang persediaan.”
Margo: “Kenapa jumlah yang menghilang jadi meningkat? Kau mau main-main denganku?”
Drake: “Dengarkan dulu sampai aku selesai, kami sudah berhasil merebut kembali 39 megaton yang hilang dan tadinya berada di tangan ilmuwan di era ini. Tapi 6 megaton telah dibawa ke 6 negara untuk diteliti lebih lanjut oleh mereka.”
Margo: “Bagaimana bisa Ulkamium berada di tangan mereka? Lalu apa saja upaya yang telah kau lakukan untuk mendapatkannya kembali?”
Drake: “Hal itu terjadi saat ada penyusup yang berhasil masuk ke dalam markas kami, dia berhasil membawa kabur Ulkamium di dalam ruang penyimpanan tanpa membuat alarm berbunyi. Dia sudah melumpuhkan setidaknya 5 absolon, kejadian itu terjadi sekitar seminggu yang lalu.”
Margo: “Dan selama itu kau tidak melapor kepada pihak atas? (berdiri tegak) Hahaha, jadi itu tujuanmu memanggilku lebih awal. Kau ingin aku mengangkut Ulkamium sedikit demi sedikit sampai hari pengumpulan itu tiba, sementara itu kau berusaha mengambil kembali Ulkamium yang sudah dicuri.”
Drake: “Kau cukup pintar untuk hal semacam ini, kau tahu bahwa aku tak bisa meminta markas cabang yang lain untuk memberikan Ulkamium milik mereka untuk menutupi kekurangan yang ada saat ini. Aku sudah meminta markas cabang yang lokasinya berdekatan dengan tempat penelitian untuk merebut kembali Ulkamium itu dan mengembalikannya ke tempat yang seharusnya.”
Margo: “Dan kau yakin bahwa mereka akan dengan sukarela memberikannya padamu setelah berhasil direbut kembali? (menyeringai) Kenapa tak kau berikan saja yang sekarang tersimpan di ruanganmu?”
Drake: “Apa maksudmu?”
Margo: “Aku tahu kau selalu menyisihkan sedikit dari Ulkamium setelah penggalian, kau kira aku tak tahu? Bau di dalam tubuhmu itu tak bisa menipuku.”
Drake: “KAUU!!” (mengacungkan tongkat)
Margo: “Mengancamku pun percuma saja, Drake. Suatu saat mereka akan mengetahui semua rahasiamu, posisi yang kau dapat saat ini pun bukan karena hasil jerih payahmu sendiri bukan? Dengan memfitnah mantan atasanmu sendiri kau kemudian mendapatkan posisi yang selama ini kau inginkan, bagaimana rasanya?”
Drake: “Lebih baik kau jalankan saja perintahku untuk saat ini, sebab bukan masalah ini saja yang harus aku atasi. (menurunkan tongkat) Aku juga harus membawa kembali pengkhianat dan subyek yang kabur dua hari yang lalu, mereka juga memakai cara yang sama dengan kau datang.”
Margo: “M46 N4 124 K? Jadi kau berhasil menemukannya?”
Drake: “Ya, tapi beberapa unitku berhasil dihancurkan. Mereka berhasil kabur sekali lagi, keberadaan mereka masih dilacak oleh unitku yang tersisa.”
Margo: “Baiklah, aku akan membantumu. Masukkan saja Ulkamium yang sudah kau dapatkan saat ini ke dalam sana, (menunjuk kontainer) kebetulan sekali aku juga diutus untuk mengembalikan mereka yang telah melewati gerbang itu.”
Drake: “Apa? Tidak, kau tak boleh menangkap mereka. Itu adalah tugasku, kau pikir aku akan mengizinkannya?”
Margo: “Kau tampak kelihatan tidak senang, bukankah kau harusnya bersyukur karena sudah mendapatkan bantuan?”
Drake: “Memangnya siapa yang memberimu perintah?”
Margo: (Membungkuk dan berbisik) “Dia adalah...”

Wajah Jendral Drake mendadak menjadi pucat ketika mendengar yang Margo bisikkan ke telinganya, dia berdiri lagi dengan tegap dan berjalan melewati Drake yang gemetar ketakutan. Sebelum Margo sempat masuk ke dalam sebuah pintu, Drake berteriak dengan keras.

Drake: “MARGOO!!”
Margo: “Hm?”
Drake: “Kau menang, aku akan berikan semua yang diperlukan untuk membantumu menangkap mereka berikut posisinya.”
Margo: “Heh.” (menyeringai)


Kembali ke kediaman keluarga Welsley, Gilda dan Gilbert sedang berbincang bersama James di ruang tamu.

Gilbert: “Seseorang cubit aku, apakah yang dia katakan itu benar?”
Gilda: “Is what you said true?” (apa yang kau katakan benar?)
James: “Since when I'm lying to all of you? So I'll repeat again, Mister Gilbert. You're now officially working as a cook in the TDG caffetaria office, you can start after you're already healed.” (sejak kapan aku berbohong pada kalian? Jadi biar kuulangi lagi, Pak Gilbert. Anda sekarang resmi bekerja menjadi koki di kantin kantor TDG, anda bisa mulai kerja setelah anda benar-benar sembuh)

Gilda kaget dan menutup mulutnya, dia berjalan mondar-mandir dan kebingungan. Setelah itu dia berhenti dan menarik nafas panjang, kemudian dia membungkuk dan berbisik pada Gilbert. Gilbert sendiri memberi isyarat pada Gilda dengan gerakan tangan, Gilda mendorong kursi roda Gilbert mendekat pada James. Mereka sempat bertatap mata sejenak, suasana tegang muncul di antara mereka selama beberapa saat. Mendadak Gilbert meloncat dari kursi rodanya, James yang di depannya kaget dan terjatuh dalam keadaan dipeluk oleh Gilbert.

Gilbert: “Terima kasih, terima kasih banyak!”
James: (wajah jijik) “I know that you're happy about this, but please get up immediately!” (aku tahu jika anda senang, tapi tolong segera bangun)
Gilda: “Sayang, jangan mempermalukan dirimu sendiri! Bangunlah, kau masih belum sembuh benar bukan?!”
Claudia: (datang membawa gelas dan sikat gigi) “Ibu, ayah sedang apa?”

James dan Gilda membantu Gilbert berdiri, kemudian dia duduk kembali di kursi rodanya. Sementara itu Francis yang merasa terganggu dengan keributan yang ditimbulkan, menutup telinganya dengan bantal. James keluar dari rumah sambil diantar oleh Gilda dan Claudia, dia sudah memakai topi dan kerudungnya.

James: “Then, I'll leave now.” (kalau begitu, aku akan pergi sekarang)
Gilda: “Already? But you will come again, right?” (sudah selesai? Tapi kau akan datang lagi, bukan)
Claudia: “James sudah mau pergi?”
Gilda: “Benar sayang, kau sudah selesai menyikat gigimu?”
Claudia: “Sudah, aku mau tidur dengan kak Zero sekarang.”
James: “I'm a busy person, you know? There is some matter that I must attend, but tomorrow I'll come again to convince him. He must work for me, no matter what.” (aku ini orang yang sibuk, kau tahu? Ada beberapa urusan yang harus kuhadiri, tapi besok aku akan datang lagi untuk meyakinkan dia. Dia harus bekerja untukku, apapun yang terjadi)
Gilda: “Then I'll prepare you some lunch when you have the chance.” (Kalau begitu akan kusiapkan makan siang untukmu saat kau ada kesempatan)
James: “I'll wait for that, but I hope you'll give me... (memegang telapak tangan Gilda dan menciumnya) a proper greeting (mengedip pada Claudia) when I return.” (Akan kutunggu untuk itu, tapi kuharap kau akan memberiku... sambutan yang hangat saat aku kembali)
Gilda dan Claudia: (wajah merona) “Ooooh.”

Gilbert berdeham dengan keras begitu melihat apa yang terjadi di luar, beberapa saat kemudian sebuah mobil datang menjemputnya. Gilda dan Claudia melambaikan tangannya pada James yang sudah berada di dalam mobil, kini mobil itu melaju meninggalkan tempat. James kemudian dengan leganya menarik nafas, dia kemudian mengangkat telpon di sebelahnya dan menekan beberapa tombol. Sambil menunggu nada panggil, dia meletakkan telpon di sebelah tempat dia duduk. Ia lalu mengambil dan meminum segelas jus jeruk dengan es batu, mendadak terdengar suara teriakan keras dari telpon.

?: “JAMES ARCHIBALD YORGINS!! KENAPA BARU MENGHUBUNGI SEKARANG?! KAU TAHU SEBERAPA CEMASNYA ORANG-ORANG DI KANTOR?!”
James: “Hei, hei, tenanglah. Lagipula aku masih hidup bukan? Sekarang aku dalam perjalanan kembali ke kantor, setibanya nanti aku ingin kau mengurus beberapa hal untukku.”
?: “Ya, kau masih hidup. Tapi jika ayahmu tahu kau keluar tanpa pengawasan lagi, kau sudah mati. Jika mengenai makan malam, aku sudah menyiapkannya.”
James: “Tidak perlu, aku sudah makan. Beberapa hal ini kuperlukan untuk menyambut teman baruku yang akan mulai bekerja besok, jadi tolong dengarkan baik-baik.” (wajah serius)

Karakteristik 4

Uchida kini telah menambahkan kekuatan baru pada baju tempur Francis, bisa digunakan ketika dia dalam mode 'Crimson' di mana seluruh kristal di tubuhnya bersinar merah. Baju tempurnya bisa menciptakan senjata yang dia kehendaki dari tubuhnya, senjata itu sendiri tercipta dari Crimson Particles yang berada di sekitar Crimson Dimension. Untuk menciptakan senjata, Francis harus memikirkan wujud, berat, ukuran, serta sifat senjata kemudian memusatkan di mana senjata tersebut akan muncul dari bagian tubuhnya.

Tuesday, February 5, 2013

Level 11


PELATIHAN

Oslo, Norwegia, 12 Oktober 2010, 15:00. Francis berada di atap gedung dengan keadaan compang-camping, seluruh bajunya robek-robek. Dia melepas topi dan maskernya, dia kemudian duduk sambil menunggu luka-lukanya sembuh dengan sendirinya.

Francis: “Jangan melakukan aksi yang menarik perhatian katanya, tapi maaf saja ya. Yang mulai duluan itu mereka, jadi jangan salahkan aku. Haaah, sekarang aku harus bagaimana?”

Francis kemudian melihat kembali kartu identitas yang dia bawa, dia melihat bagian alamat yang tertera di sana. Sementara itu di bawah gedung, mobil-mobil polisi dengan bunyi sirine yang keras melintas di bawah.

Francis: “Dan sekarang polisi datang untuk membereskan masalahnya, sekarang aku harus segera ke tempat Uchida. Dia bilang tempatnya berada di sekitar sini, kalau begitu aku tinggal bertanya pada orang-orang di bawah.”

Beberapa saat kemudian, Francis sudah berada di bawah. Namun tidak sesuai perkiraan Francis, dia mendapatkan sesuatu yang tak disangka. Seorang wanita memukuli kepalanya dengan tas dan dia kemudian berteriak kencang sambil berlari, Francis tak habis pikir apa yang jadi masalahnya. Dia tak menyadari bahwa dirinya yang dalam kondisi setengah telanjang adalah penyebabnya, dia hanya memakai masker, topi dari kain, celana, serta baju yang robek. Mendadak dia mendengar suara tawa dari belakangnya, dia menoleh ke belakang dan melihat seorang pemuda berambut pirang dan berwajah melankolis.

?: “Hahaha, betapa sialnya dirimu.”
Francis: (bahasa Norwegia) “Siapa kau?”
?: “Kita bicara dengan bahasa Inggris saja, lebih mudah bukan?”
Francis: (melepas masker) “Hmph, aku juga sudah mulai lelah mengenakan ini.”
?: “Perkenalkan, James Yorgins.” (menjabat tangan Francis)
Francis: “Baiklah, ada keperluan apa James?”
James: “Kenapa kau tak sebutkan dulu siapa namamu?”
Francis: “Francis Zero, sekarang bisa kau beritahu aku apa maumu?”
James: “Aku ingin berterima kasih atas pertolonganmu barusan, walau kuakui bagian jatuh ke lubang tadi agak menyakitkan.”
Francis: “Lubang? Terima kasih?”
James: “Kalau aku pakai ini apa kau ingat?” (memakai topi)

Otak Francis memutar ulang memori yang ada dalam kepalanya, dia mengingat kejadian saat seseorang berjalan dengan santainya tanpa memikirkan keadaan di sekitarnya. Setelah itu dia mendorong jatuh orang itu, berikutnya ledakan menyusul. Setelah itu juga dia juga teringat saat di mana dia meneriaki dan memarahi orang itu, Francis kini kembali pada kenyataan.

Francis: “Ooooh, yayaya. Aku ingat, aku ingat.” (menepuk tangan)
James: (melepas topi) “Syukurlah, untung aku bisa bertemu lagi denganmu.”
Francis: (berbalik) “Pulang ke tempatmu, aku masih ada urusan.”
James: “Tunggu, tunggu, tunggu! Jangan begitu, setidaknya biarkan aku membantumu. Apa kau tahu alasan kau tadi dipukuli wanita tadi?”
Francis: “Tidak.”
James: “Lihat baik-baik dirimu, mana ada orang yang mau bicara denganmu dengan penampilan seperti itu.”
Francis: “Memang kenapa dengan penampilanku? (melihat dirinya sendiri) Oh, itu masalahnya.”
James: “Lebih baik kau ganti saja bajumu, kebetulan aku bawa baju ganti. Aku tak tahu apakah cocok denganmu, tapi lebih baik daripada kau tak pakai apa-apa.”

Beberapa saat kemudian, Francis sudah berganti baju. Dia memakai T-Shirt berwarna hijau dengan gambar telapak tangan yang besar dan celana jeans panjang, dia juga memakai gelang dari rantai di pergelangan tangan kanannya. Francis langsung beranjak pergi, namun pergerakannya dihentikan oleh James.

James: “Hei, hei, hei! Jangan langsung pergi begitu saja, bukankah ada sesuatu yang seharusnya kau lakukan setelah aku membantumu?”
Francis: “Apa lagi? Aku harus mengupil dengan jari tengahku sambil tengkurap seperti itu?”
James: “Tentu saja tidak, lagipula itu kedengaran bodoh.”
Francis: “Terima kasih atas bantuanmu, aku harus segera bergegas ke tempat tujuanku.”
James: “Itulah maksudku.”
Francis: “Kalau bukan gara-gara dirimu aku pasti sudah sampai ke tempat tujuanku, sekarang aku harus mencari alamatnya dengan bertanya kepada seseorang. Ng, kenapa?”
James: (mata berbinar-binar) “Aku bisa membantumu, boleh?”
Francis: “Tidak, terima kasih. Aku sudah menyelamatkan nyawamu sekali, dan aku ragu kesempatan itu akan datang lagi.”
James: “Kalau begitu maukah kau bekerja untukku?”
Francis: “Maaf?”
James: “Jadilah pengawalku, dengan begitu kau bisa terus menyelamatkan nyawaku.”
Francis: “Aku tak bekerja untuk siapapun.”
James: “Baiklah, kalau begitu setidaknya beritahu aku di mana tempat tujuanmu.”
Francis: “Armstrong Gate nomor 26.”
James: “Tunggu sebentar, (mengeluarkan tablet PC) Armstrong Gate nomor 26. Ini dia, berjalanlah lurus dari sini, kemudian ketika kau menemukan perempatan beloklah ke kiri, setelah itu carilah bangunan dengan tulisan nomor 26 di arah kananmu.”
Francis: “Itu saja?”
James: “Ayolah, aku sudah dua kali membantumu. Sekarang kau berhutang padaku untuk menyelamatkan nyawaku sekali, jadi pikirkanlah...”
Francis: “Tidak, aku takkan bekerja pada siapapun. Prioritasku saat ini adalah untuk mengubah masa depan, kau takkan bisa membuatku berubah pikiran.”
James: “Baiklah, kalau begitu terimalah ini. Jika seandainya kau berubah pikiran, hubungi saja nomor ini.” (memasukkan kartu nama ke dalam saku celana Francis)
Francis: “Tidak akan, sampai jumpa.”

Francis langsung berlari lurus ke depan kemudian berbelok ke kiri seperti saran James, dia sudah menghilang dari hadapan James. Dia sendiri tersenyum simpul dan melihat waktu yang tertera di arlojinya, dia kemudian memakai kembali topi dan menutupinya dengan tudung jaketnya. Dia mengeluarkan handphone miliknya dan melihat foto Francis saat dia sedang mengangkat truk, data foto itu kemudian diberi nama 'Zero'.

James: “Kita akan bertemu lagi, setelah aku menyelesaikan urusanku.”


Francis kini berada di dalam sebuah ruangan bersama Uchida, dia langsung disetrum dengan jempol oleh Uchida.

Francis: “Argh!!”
Uchida: “Aku kan sudah bilang jangan sampai menarik perhatian orang sekitar!”
Francis: “Aku tidak melakukannya! Mereka duluan yang mulai! Siapa sangka kalau aku akan diserang oleh robot 'Stealth', kejadian tabrakan itu juga terjadi bukan karena kesalahanku!”
Uchida: “Walaupun begitu kau tak boleh gegabah, kejadian itu sekarang sudah diberitakan di televisi. Untungnya kejadian itu dianggap sebagai kecelakaan lalu lintas biasa, mulai beberapa hari ini kau harus bersamaku.”
Francis: “Kenapa? Bukankah kau menyuruhku untuk tinggal bersama mereka selama beberapa hari ini? Kau bahkan belum dengar cerita seluruhnya, tidakkah kau mau dengar?”
Uchida: “Memang, tapi kita mengalami perubahan rencana setelah kejadian yang kau alami. Aku tak peduli apapun alasannya, tapi kau harus bisa lebih berimprovisasi jika kejadian seperti itu terjadi lagi. Alat penerjemah yang kuberikan padamu kau rusak lagi, aku sudah tak bisa membantumu untuk sementara ini.”
Francis: “Secara teknis, itu adalah kecelakaan dan bukan kesengajaan. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?”
Uchida: (menyerahkan kamus) “Ini.”
Francis: “Apa ini? Kamus bahasa Inggris-Norwegia?”
Uchida: “Kau akan berlatih bahasa Norwegia secara manual, dalam beberapa hari ini kau harus bisa menghafalkan semua kata yang ada di dalam sana.”
Francis: “Lalu aku harus begitu saja menolak ajakan makan malam Ibu Gilda?”
Uchida: “Tentu saja tidak, kau tetap datang ke sana. Kau masih punya waktu 2 jam sebelum malam, coba kau hafalkan saja beberapa kata yang diperlukan untuk pembicaraan saat makan malam.”
Francis: “Tapi paling tidak masker ini masih bisa kugunakan.” (memegang masker)
Uchida: (merebut masker) “Ini kusita.”
Francis: (bengong) “......”


Di suatu tempat yang gelap dan tersembunyi, terdengar suara yang berisik. Dari dalam tanah muncul sebuah kendaraan dengan bor, tempat itu ternyata adalah sebuah gua. Dari dalam lubang di mana kendaraan bor itu muncul, terdengar suara langkah kaki. Beberapa robot dengan mata seperti absorber keluar dari dalam lubang, mereka menarik muatan yang ditutupi dengan kain. Di dalam gua itu mendadak muncul sebuah pintu, ada beberapa robot absorber keluar dari dalam pintu disusul oleh Jendral Drake yang wajahnya sama sekali masih misterius. Mereka mendekati muatan yang baru saja dikeluarkan dari dalam lubang, dua robot pengawal Jendral Drake membuka selubung muatan itu. Sebuah cahaya hijau muncul dari dalam, Jendral Drake mendekat dan mengambil sesuatu dari dalam sinar hijau. Di genggaman tangan Jendral Drake ada kumpulan kerikil bersinar kehijauan, wajah Jendral Drake sendiri kini terlihat jelas disinari oleh sinar kehijauan. Matanya seperti mata ular yang menyala kemerahan, wajahnya penuh dengan totol berwarna biru. Di matanya ada semacam bulu mata berbentuk tentakel, seolah-olah di matanya ada cacing yang hidup. Tidak memiliki hidung tapi punya dua lubang hidung di wajahnya, kepalanya botak dan tak bertelinga. Dia kemudian meletakkan kembali kerikil-kerikil hijau itu kembali ke tempatnya, dia kemudian memberi isyarat pada para absorber untuk membawa muatan itu ke dalam pintu.

Drake: “Sudah berapa banyak Ulkamium yang terkumpul?”
Absorber: “Sekitar 27 megaton, termasuk dengan yang diperoleh sekarang.”
Drake: “Baik, cukup untuk hari ini. Sisihkan 1 megaton dan bawa ke dalam ruanganku, apa hari ini ada panggilan dari laboratorium cabang?”
Absorber: “Mereka baru menghubungi 5 menit yang lalu, ada permintaan untuk pengiriman 135 megaton Ulkamium dalam seminggu ini.”
Drake: “Seminggu? Dalam seminggu ini hanya 27 megaton yang bisa kita dapat, persediaan yang kita miliki sekarang hanya 57 megaton. Bagaimana dengan stok Ulkamium yang berhasil direbut kembali?”
Absorber: “Persediaan Ulkamium yang tersimpan saat ini adalah 84 megaton, termasuk dengan yang didapat hari ini. Stok Ulkamium yang berhasil direbut kembali adalah 39 megaton, jika ditotal akan menjadi 123 megaton.”
Drake: “39 megaton berhasil direbut kembali? Tapi stok Ulkamium yang dicuri berjumlah 45 megaton, ke mana sisanya?”
Absorber: “Menurut informasi dari TDG, mereka telah mengolah sebagian dan mengubahnya menjadi energi. Sisanya dikirimkan ke 4 negara di mana cabang dari TDG berdiri untuk diteliti lebih lanjut... bzzzt.”

Absorber itu hancur karena ditembak oleh Jendral Drake dengan tongkat yang dia pegang sekarang, dia terlihat marah dan langsung berjalan menuju pintu diikuti pengawal absorber yang tersisa. Ketika melewati pintu, ruangan di dalamnya bergerak. Ternyata itu adalah semacam lift, lift itu bergerak ke atas. Akhirnya lift itu berhenti, Jendral Drake keluar dari dalamnya. Kini dia berada dalam sebuah ruangan penuh monitor, dioperasikan oleh beberapa robot absorber.

Drake: “Bagaimana dengan kabar subyek M46 N4 120 K?”
Absorber 1: “Flying Drone baru saja melaporkan bahwa mereka menemukannya, namun kedua unit sudah dihancurkan oleh target.”
Drake: “Memang tak semudah yang diperkirakan, berapa unit pasukan yang kita miliki sekarang?”
Absorber 1: “33 unit Absolon dan 10 unit Flying Drone.”
Drake: “Bagi menjadi 2 tim, masing-masing 5 Absolon dan 1 Flying Drone. Flying Drone akan bertugas melakukan pencarian, Absolon bertugas menangkap target jika berhasil ditemukan.”
Absorber 1: “Siap, Jendral Drake.”
Drake: “Di mana saja mereka mengirim Ulkamium curian yang tersisa?”
Absorber 2: “New York, Moskow, Tokyo, dan Mesir.”
Drake: “Kalau begitu segera beritahu markas yang terdekat dari sana untuk melakukan investigasi sepenuhnya pada semua perusahaan TDG yang ada di kota tersebut, mereka tahu apa yang harus dilakukan setelah Ulkamium tersebut ditemukan.”
Absorber 2: “Siap, Jendral Drake.”
Drake: “Apakah semua Abminer aktif dan siap untuk dipekerjakan besok?”
Absorber 3: “Negatif, Abminer akan bisa beroperasi lagi dalam 2-3 hari. Hanya 3 unit yang bisa beroperasi maksimal dan masih bekerja sampai saat ini, mereka akan kehabisan tenaga dalam 3 hari ini.”
Drake: “Apa?! 2-3 hari?! Kita takkan punya waktu untuk itu, apalagi dengan tenaga yang kita miliki sekarang. Aku tak perduli berapa banyak yang akan kita dapatkan nanti, operasikan seluruh Abminer yang tersisa sampai tenaga mereka habis sekarang juga! Ambil Ulkamium yang berhasil mereka dapat setelah kehabisan tenaga, setelah itu isi ulang tenaga mereka! Dalam waktu seminggu ini, aku tak mau mendengar ada berita kegagalan apapun!”
Absorber 3: “Siap, Jendral Drake.”

Jendral Drake berjalan menuju lift dan masuk ke dalamnya, lift itu kini bergerak mundur. Di dalam lift, sesuatu terjadi pada dirinya. Matanya yang tadinya merah menjadi hijau, dia kemudian jatuh berlutut. Pintu lift kemudian terbuka, dia bangkit dan berjalan sempoyongan ke sebuah meja. Dia menggebrak meja itu dan muncullah sebuah kotak dari dalam, kotak itu kemudian dia buka dan sinar hijau muncul dari dalamnya. Di dalamnya penuh dengan Ulkamium, Jendral Drake kemudian mengeluarkan semacam botol dan membuka tutupnya. Botol itu kemudian dimasukkan ke dalam kotak dan menyedot habis semua Ulkamium yang ada di dalamnya, botol itu kemudian ditutup. Dia kemudian menekan tombol yang ada di tutup botol, suara mendenging terdengar dari dalamnya dan botol itu bergetar kencang. Botol itu berhenti bergetar, tutupnya kemudian dibuka. Asap hijau keluar dari dalamnya, Jendral Drake menghirup asapnya dalam-dalam. Matanya kini kembali menjadi merah namun hanya sementara, isi botol itu kemudian dia teguk. Dari dalam botol keluar cairan hijau yang masuk ke dalam mulutnya, botol itu dia jatuhkan setelah semua isinya ditenggak habis. Dia ambruk dan terkapar di lantai, tidak ada reaksi sama sekali setelah dia jatuh. Beberapa saat kemudian, sesuatu terjadi dalam tubuhnya. Punggungnya menggembung, dari dalamnya muncul sebuah tangan.


Di dalam dimensi Crimson, Francis sedang mempraktekkan kemampuan baru yang didapat dari baju tempurnya. Kristal di seluruh tubuhnya bersinar merah, dia melayang-layang di dalam dimensi. Uchida sendiri sekarang sedang mengawasinya lewat monitor, dia juga sedang melihat acara televisi di monitor sebelahnya. Acara yang menayangkan tentang kehidupan hewan, menampilkan dua anak harimau sedang bercanda.

Uchida: “Kau siap?”
Francis: “Kapanpun perintahmu.”
Uchida: “Aku sudah mengatur dimensi ini selama satu jam, dalam jangka waktu itu kau harus selesaikan latihanmu.”
Francis: “Satu jam? Maksudmu ketika aku akan memakainya lagi nanti, aku hanya bisa memakainya selama satu jam?”
Uchida: “Sebenarnya tidak, waktu pemakaian akan kembali lagi seperti semula tapi ada sedikit perbedaan saat kau memakainya nanti.”
Francis: “Apa itu?”
Uchida: “Rahasia, aku ingin itu menjadi sebuah kejutan untukmu. Lagipula waktu satu jam itu cukup sampai waktu makan malam dengan keluarga Welsley, kau yakin sudah mempelajari seluruh kata dalam bahasa Norwegia?”
Francis: “Kalaupun belum, bagaimana bisa aku bicara dengan dirimu dalam bahasa Norwegia sampai saat ini?”
Uchida: “Itu karena kau memakai helm yang menerjemahkan semua bahasa yang kau dan diriku ucapkan, dasar tolol.”
Francis: “Hei, aku ucapkan ini sungguh-sungguh dari hasil belajar. Aku tak mau dikatai begitu oleh orang yang juga memakai penerjemah saat berbicara denganku, kita mau terus berdebat atau mulai berlatih?”
Uchida: “Aku ragukan itu, akan kumulai pelatihan sekarang. Bersiaplah, aku sudah mengatur tingkat kesulitannya dari yang termudah aliasnya level 1.”

Sepasang mata berwarna kuning muncul dari kaca helmnya, di sekitarnya muncul beberapa bola besi. Sebuah bola besi meluncur langsung ke arah Francis, dia memiringkan kepalanya ke kanan. Berikutnya, dua bola besi datang. Kaki kanan dan tangan kirinya menghindari, sebuah bola besi meluncur lagi dari belakangnya dan Francis menghindarinya dengan memiringkan kepala ke kiri. Dua meluncur lagi, tangan kiri dan kaki kanan menghindar. Dua meluncur ke kepalanya, dihindari dengan menggerakkan kepala ke kiri dan kanan. Dua meluncur, pinggangnya bergoyang ke kiri dan kanan. Uchida yang melihat kemudian terpikir sebuah ide, ekspresi di matanya berubah menjadi seringai. Dia mengetikkan sesuatu dengan beberapa jari-jari kecil yang keluar dari jari-jarinya yang besar. Kini beberapa bola bergerak meluncur padanya secara teratur, menyerang bagian tertentu dari tubuhnya. Pada awalnya Francis masih menganggapnya sebagai latihan, namun lama-kelamaan dia merasa ada yang aneh. Gerakan pada saat dia menghindari serangan-serangan yang datang mirip dengan tarian, bersamaan dengan itu Uchida juga mengaktifkan sistem woofer. Suara musik kemudian terdengar, musik Bee Gees berjudul 'Stayin Alive'.

Uchida: “Saturday Night Fever, baby!”

Dia memutar tempat duduknya dan meloncat, ikut menari sesuai irama lagu. Menggerakkan tangan ke atas dan bawah berkali-kali, lampu disko muncul dari atas dan membuat seluruh ruangan gemerlap. Francis akhirnya merasa jengkel, dia memutar kenop dan mengubah kristal di tubuhnya menjadi kuning. Dia meluncur ke atas diikuti bola-bola itu, dia juga menembakinya sambil terbang meluncur.

Francis: “Uchida! Apa yang sebenarnya kau lakukan sekarang?!"

Tapi Uchida sama sekali tidak mendengarkan sama sekali perkataan Francis, dia masih asyik menari mengikuti irama musik. Namun dia ceroboh karena tak sengaja menekan beberapa tombol ketika sedang menari, layar monitor menunjukkan tulisan 'Aktifkan Level 2'. Bola-bola di sekitar Francis mendadak berubah menjadi berduri, bola itu mendadak menyerang dengan cepatnya. Francis menembak bola itu, namun hal itu hanya membuat bola mental. Kecepatan serangan bola itu menjadi agak cepat, sebuah bola kini sudah berada tepat di hadapan wajahnya. Kepalanya dimiringkan ke kanan untuk menghindari, tapi helmnya tergores oleh duri dari bola tersebut.

Francis: “Sepertinya ini jadi agak serius, biar kucoba trik baru yang Uchida masukkan.”

Francis memutar kenop dan membuat semua kristal memerah, ia kemudian memutarnya lagi 360 derajat ke kiri. Ia kemudian merentangkan kedua tangannya ke depan, kristal merah di kedua tangannya kemudian mengeluarkan serpihan merah. Serpihan-serpihan itu membentuk sesuatu yang membungkus kedua tangannya, kini di kedua tangannya ada semacam sarung tinju. Bola besi berduri menyerang lagi, kali ini Francis mementalkan satu persatu bola yang datang menyerang.

Francis: “Boleh juga, coba yang lain.”

Kali ini sarung tinju itu berubah menjadi sepihan kembali dan masuk ke dalam kristal di telapak tangannya, kini serpihan-serpihan keluar dari kedua bahunya dan berubah bentuk menjadi sepasang godam. Ketika bola besi berduri berdatangan, dia langsung mengambil godam tersebut dan menggunakannya untuk memukul dan membuatnya terpental jauh. Bola-bola itu saling bertabrakan dan hancur setelah didorong balik oleh Francis, sementara itu level kesulitan naik menjadi tingkat 3 karena kecerobohan Uchida. Bola-bola di sekitarnya berhenti menyerang dan diam di tempat, duri-durinya menghilang. Kini bola itu membelah, muncul moncong pistol dari dalamnya. Dalam hitungan detik, Francis dihujani tembakan laser kuning. Ledakan besar muncul, bola-bola itu terus menembaki Francis yang tidak jelas keadaannya sekarang. Beberapa menit kemudian, bola-bola itu berhenti menembak. Rupanya Uchida baru menyadari kesalahannya dan menonaktifkan sistem, dengan wajah berkeringat dia menyaksikan rekaman ulang tentang apa yang terjadi ketika dia sedang menari.

Uchida: “Gawat, aku sepertinya terlalu keasyikan. Kuharap dia baik-baik saja, mudah-mudahan aku tak membunuhnya.”

Asap ledakan yang tebal dalam dimensi Crimson perlahan-lahan menghilang, dari dalam tampak siluet berbentuk bulat. Setelah asap menghilang sepenuhnya, sosok benda bulat itu kini terlihat jelas. Uchida melihat sebuah bola raksasa yang terbentuk dari kumpulan tameng berwarna merah, begitu tahu apa yang dilihatnya dia menghembuskan nafas lega.

Uchida: “Haah, jadi begitu? Coba kuhubungi, (menekan sebuah tombol) kau baik-baik saja?”

Mendadak muncul lubang dari tameng itu, dari dalam lubang muncul kait dan rantai yang menyerang semua bola yang ada di sekitarnya. Semua bola itu tertangkap dan ditarik ke dalam bola tameng, suara yang memekakkan telinga kemudian terdengar dari dalam. Tameng-tameng itu kemudian memudar, dari dalamnya nampak Francis yang memegang sebuah bola besi seukuran bola sepak. Bola besi itu sendiri adalah satuan dari bola-bola penyerang yang dia tangkap, diremas menjadi satu dengan tangan kosong oleh Francis sendiri.

Francis: “Keluarkan aku sekarang.”


Sementara itu di suatu pusat perbelanjaan, seorang pemuda sedang ditemani beberapa gadis cantik. Mereka semua tertawa terbahak-bahak, beberapa di antaranya tampak terpikat dengan sang pemuda. Pemuda itu kemudian melihat ponselnya, dia kemudian segera beranjak dari tempatnya.

?: “Maaf, nona-nona. Sudah saatnya aku pergi.”
Gadis 1: “Eh, sekarang?”
Gadis 2: “Kenapa tidak bersama sedikit lagi?”
Gadis 3: “Kau akan menghubungi kami lagi bukan?”

Pemuda itu memakai topi dan mengeluarkan kacamata hitam dari balik sakunya, ternyata pemuda itu adalah James Yorgins yang tadi diselamatkan oleh Francis.

James: “Tentu saja jika aku ada waktu, tapi aku harus menjemput penyelamat nyawaku untuk membalas budinya.”