Sunday, February 24, 2013

Level 12


MAKAN MALAM

Oslo, Norwegia, 12 Oktober 2010, Francis sedang berjalan-jalan sambil melihat peta yang dia bawa. Dia berhenti sejenak dan melihat papan nama jalan di atasnya kemudian melihat peta lagi, dia kemudian belok ke kiri jalan. Kini dia berjalan di sebuah jembatan penyeberangan, beberapa menit kemudian dia berada di atas sebuah pohon. Dia lalu tergantung jungkir balik di atas lampu lalu lintas, sekarang dia berbaring di tengah jalan dengan peta yang menutupi wajahnya. Seseorang kemudian mengambil peta itu dari wajahnya, Francis melihat James sudah berdiri di hadapannya.

James: “Sedang apa kau di sini?”
Francis: “Justru aku yang seharusnya bertanya begitu.”
James: “Aku tak menyangka jika kau ini adalah gelandangan, kau sering melakukan ini?”
Francis: “Gelandangan? Heh, aku sudah dengar kata seperti itu diucapkan dan tak tahu artinya sampai sekarang.”
James: “Orang yang tak punya pekerjaan tetap dan hidup dengan cara meminta-minta pada orang dan mengais sampah, kadangkala bisa ditemui tinggal di tempat kumuh atau di pinggir jalan. Yah, setidaknya begitulah artinya.”
Francis: “Dan kau pikir aku orang seperti itu?”
James: “Tentu saja tidak, sepertinya kau punya masalah.”
Francis: “Apa aku terlihat seperti punya masalah?”
James: “Dari wajahmu saja, kau sudah terlihat bermasalah.”
Francis: (mencengkeram kerah baju James) “Dengarkan, sialan. Kalau kau mau cari mati, katakan saja. Aku dengan senang hati akan mengirimmu ke dunia sana.”
James: “Whoa... kemarahan yang nyata... Aku hanya ingin membantumu saja, dan kurasa kau sedang pergi ke suatu tempat tapi tak tahu arah. Membaca peta saja tidak bisa, apa aku benar?”
Francis: (melepas cengkeraman) “Aku bukan tak tahu arah, aku hanya lelah karena harus berjalan seharian ke tempat tujuanku.”
James: “Kenapa tidak naik taxi saja?”
Francis: “Taxi?”


Beberapa saat kemudian, Francis sudah berada di depan kediaman keluarga Welsley. Dia baru saja turun dari taxi, James sendiri sedang membayar ongkosnya pada supir. Francis langsung saja berjalan ke depan rumah dan hendak mengetuk pintu, namun James mencegahnya dengan menarik bagian belakang baju yang dia pakai.

James: “Hey, hey, hey. Wait a minute, at least say...” (Hei, hei, hei. Tunggu dulu, setidaknya ucapkan...)
Francis: “Yeah, I know. Thank you very much, now go home.” (Ya, aku tahu. Terima kasih banyak, sekarang pulanglah.)
James: “So whose house is it?” (Jadi rumah siapa ini?)
Francis: “The house of the family who I helped earlier, they invited me to stay and have a dinner.” (rumah keluarga yang kutolong beberapa saat yang lalu, mereka mengundangku untuk menginap dan makan malam)
James: “Then where do you live now?” (Lantas kau sendiri sekarang tinggal di mana?)
Francis: (diam sejenak) “Can't you shut your damn mouth for a second?” (Tak bisakah kau menutup mulut sialanmu sebentar saja?)
Claudia: “Kak Zero!”

Claudia membuka pintu depan dan langsung berlari memeluk Francis, diikuti dengan Gilda yang sedang mendorong Gilbert yang duduk di atas kursi roda.

Francis: “Hei, aku kan hanya pergi sebentar. Kau tidak bisa langsung menyerang orang yang baru saja datang, (melihat Gilbert) dan bukankah seharusnya kau ada di rumah sakit?”
Claudia: “Ayah sudah agak baikan, jadi dia diizinkan pulang.”
Francis: “Sungguh? Lalu kenapa dia tidak berjalan dengan kakinya sendiri?”
Gilda: “Dia yang memaksa agar bisa pulang, padahal dia masih belum sembuh sepenuhnya.”
Gilbert: “Omong kosong, aku memang tak bisa berjalan dan wajahku penuh luka. Tapi paling tidak tanganku ini masih bisa digunakan, masuklah dan ajak temanmu ke dalam.”
Francis: “Dia bukan temanku.” (tegas)
James: “What is he talking?” (dia bicara apa?)
Francis: “He said that you must leave now before I beat you up.” (dia bilang bahwa kau harus pergi sekarang sebelum kuhajar)
Gilda: “No, he's lying. Do you mind if you join us for dinner?” (Tidak, dia bohong. Kau keberatan jika kau bergabung untuk makan malam?)
Francis: “Tidak, hentikan. Itu ide yang buruk.”
James: “Oh, yes. That's very cool.” (Oh, ya. Itu keren sekali)
Gilbert: “Masuklah, aku baru saja memasak banyak Smorrebrod.”
Francis: “Tunggu... (dicuekin dan ditinggal masuk) ah, damn.” (ah, sial)


Sementara itu, Uchida sedang mencari informasi lewat internet di komputernya. Dia membuka tentang berita yang terjadi beberapa hari yang lalu, ada sebuah gambar sekelompok ilmuwan dengan keadaan berantakan di depan sebuah bangunan yang hancur lebur. Artikel yang bertuliskan 'Malapetaka pembawa Keajaiban', tertulis bahwa mereka menemukan semacam batuan yang menghasilkan energi pengganti untuk berbagai macam kendaraan dan alat-alat elektronik. Salah satu dari ilmuwan itu memegang sebuah tabung kecil berisi kerikil kecil yang bersinar kehijauan, mata Uchida yang sipit terbuka sedikit dengan pandangan serius.

Uchida: “Ulkamium...”

Uchida mengetik 'TDG', dia kemudian menekan salah satu situs. Di layar muncul tulisan 'Selamat Datang di Techno Dynamic Group, di mana tekhnologi adalah hidup' Dia kemudian menekan 'Perkembangan Terbaru', muncullah daftar produk di layar. Uchida menekan bagian paling atas bertuliskan 'Subyek X', namun muncul kata 'masih dalam pengembangan' Sekarang dia melihat berita mengenai pembobolan di TDG, yang dicuri adalah Ulkamium yang diteliti oleh para ilmuwan saat itu. Judul artikel itu adalah 'Lenyapnya sebuah keajaiban', sebuah ruangan dilubangi dengan bentuk segitiga yang besar dan beberapa polisi memeriksa bagian dalamnya.

Uchida: “Hm, aku sudah mencoba meretas ke dalam database TDG. Tapi ada resiko setelah keamanan diterobos, semacam virus akan masuk ke dalam jaringan komputer.”

Kali ini Uchida membuka susunan pangkat perusahaan, dia melihat bagian paling atas yaitu Presiden Direktur. Ketika ditekan muncul gambar seorang pria lengkap dengan biografinya, namanya adalah 'Henry Yorgins'. Tertulis dalam data, pria kelahiran Jersey memimpin perusahaan pada usia 17 tahun. Kepemimpinan itu sendiri diberikan kepada ayahnya setelah dia mengundurkan diri karena kondisi kesehatannya yang memburuk, masa kepemimpinannya sendiri sudah berjalan selama 20 tahun. Henry menikahi seorang wanita di usia 21 tahun dan dikarunia satu anak lelaki dan satu perempuan, dia tinggal bersama dengan keluarganya di New York, Amerika Serikat.

Uchida: “Baiklah, mari kita cari keberadaannya. Tertulis seminggu yang lalu dia berada di Norwegia bersama salah seorang anaknya, hari ini dia meninggalkan Norwegia sendirian. Anaknya yang lelaki cukup terkenal sebagai playboy jutawan, cukup terkenal di kalangan gadis-gadis belia. Oh, dua hari yang lalu ia terlihat di sebuah pusat perbelanjaan tanpa pengawal. Tapi sejak kejadian pembobolan itu dia tak terlihat lagi, kemungkinan sudah pulang lebih dulu dari ayahnya atau masih berada di sini dan diamankan oleh ayahnya. Hm, sebenarnya ini mudah jika Francis bisa menyamar menjadi karyawan di sana dan mencari informasi. Tapi sifat dan kelakuannya itu malah akan membuat dia cepat ditangkap, terlalu beresiko. Sebentar, jika tak salah nama anak dari Presdir itu sendiri adalah...”


Di kediaman keluarga Welsley, Francis, James, dan Claudia sedang duduk di ruang makan. James sedang bersalaman dengan Claudia, Francis sendiri sedang memangku kepalanya dengan wajah jengkel. Gilda dan Gilbert berada di dapur, sedang mempersiapkan makanan.

James: “My name is James, so who are you?” (namaku James, jadi kau siapa?)
Claudia: “Mey nume is Claudia, senang bertemu denganmu.”
James: “So you can speak a little English, you understand what I'm saying now?” (Jadi kau bisa bicara sedikit bahasa Inggris, kau mengerti yang kukatakan sekarang?)
Claudia: “Aku sedikit paham bahasa Inggris, James sendiri teman kak Zero?”
James: (menoleh pada Francis) “What she's saying? Come on, don't be angry.” (apa yang dia katakan? Ayolah, jangan marah)
Francis: “She said that you're a jerk.” (dia bilang kau itu sialan)
Gilda: “Francis, begitukah cara bicaramu pada temanmu sendiri?”
Francis: “Aku sudah bilang, dia bukan temanku. Dia hanya penguntit yang sedari tadi mengikutiku sejak dalam perjalanan kemari.”
Gilda: “Tapi kelihatannya dia mengenalmu dengan baik.”
Francis: “Yah, itu karena dia bersikeras agar aku bekerja untuknya setelah aku menyelamatkan dia.”
James: “Ng, I didn't understand what're you sayin. But you're talking about me, right?” (ng, aku tak mengerti apa yang kau katakan. Tapi kau membicarakan tentang diriku kan?)
Claudia: “James ditolong oleh kak Zero? Wah, aku, ayah, dan ibu juga sudah ditolong.”
Gilda: “He save you? When?” (dia menyelamatkanmu? Kapan?)
James: “At last, somebody speak English. He save me when I was walking in the town street, I almost hit by a big truck.” (akhirnya, ada yang bicara bahasa Inggris. Dia menyelamatkanku saat aku sedang berjalan di jalanan kota, aku hampir tertabrak bis besar.”
Gilda: “My God, are you ok?” (Ya Tuhan, kau baik-baik saja?)
James: “No scratch at all, thanks for him.” (tanpa goresan sama sekali, terima kasih karena dia)
Gilbert: “Gilda, bawakan Smorrebrod yang sudah selesai kubuat ke meja.”
Gilda: “Baik, sayang.”

Gilda membawa Smorrebrod yang baru saja dibuat dan menyajikannya di atas meja, setelah itu dia kembali ke dapur dan mendorong kursi roda yang Gilbert duduki ke meja makan. Smorrebrod itu sendiri adalah semacam roti isi, di dalamnya ada sayur dan daging. Kini seluruh keluarga Welsley menyantap hidangan itu bersama dengan Francis dan James, Francis sendiri kelihatan sangat menikmati. Beberapa menit kemudian, roti isi yang tersedia di meja kini sudah habis tak tersisa. Francis menjilati seluruh ujung jarinya, ia langsung meneguk segelas susu di hadapannya.

Francis: “Terima kasih banyak atas makanannya, ah segar.”
Gilbert: “Maaf jika porsinya kurang, kondisi kami saja sudah seperti ini.”
Francis: “Tidak apa-apa, yang penting masih bisa dimakan bukan?”
Claudia: “Kak Zero, jadi menginap di sini bukan?”
Francis: “Tentu saja, aku sudah berjanji.”
Claudia: “Hore! Aku boleh tidur dengan kakak?”
Francis: “Terserah kau saja, apa tempatnya masih sama?”
Gilda: “Tentu saja, saya juga sudah menyiapkan selimut.”
Francis: “Tapi suamimu sendiri sudah kembali bukan? Apa tidak apa-apa?”
Gilbert: “Tidak apa-apa, itu hanya tempat kerjaku saja. Aku biasa tidur dengan Gilda dan Claudia di dalam satu kamar, gunakanlah sesukamu.”
Francis: “Kalau begitu aku tidur sekarang saja, aku sudah terlalu lelah mengurus penguntit ini.”
Gilbert: “Penguntit? Bukannya dia temanmu? Apa dia juga mau menginap di sini?”
Francis: “Apa dia tampak terlihat seperti temanku?”
Claudia: “Kelihatannya iya.”
Gilda: “Why'd you follow him?” (kenapa kau mengikutinya?)
James: “I just want to repay his kindness for saving my life.” (aku hanya ingin membalas kebaikannya karena menyelamatkan nyawaku)
Francis: “You already did it, once.” (kau sudah melakukannya, sekali)
James: “And I'm already help you more than one, so it's obvious if you owe me.” (dan aku sudah menolongmu lebih dari sekali, jadi sudah jelas jika kau berhutang padaku.)
Francis: “That's not even my own will.” (Itu bahkan bukan keinginanku sendiri)
Gilda: “Where do you come from?” (dari mana kau datang?)
James: “United States of America, New York City.”
Gilda: “Are you his friend?” (apa kau temannya?)
James: “Yes, the good one.” (ya, yang baik)
Francis: “No, don't believe him.” (tidak, jangan percaya dia)
Gilda: “James, why didn't you take off your hat and the hood? I want to see your face.” (James, kenapa kau tidak melepas topi dan kerudungmu? Aku ingin melihat wajahmu.)
James: “Oh, yes. Sorry, I forgot to take it off.” (Oh, ya. Maaf, aku lupa melepaskannya)

Ketika James melepaskan topi dan kerudungnya, seluruh keluarga Welsley memasang wajah terkejut. James menggeleng-gelengkan kepalanya sehingga rambutnya berkibar. Ada aura bercahaya terpancar dari wajahnya, matanya yang bersinar bagaikan permata, kulitnya yang mulus, dan hidungnya yang mancung. Wajahnya yang lumayan tampan membuat Gilda dan Claudia terpesona, wajah mereka merona. Francis memandang Claudia dan Gilbert memandang Gilda, mereka kemudian bertukar pandangan. Francis memandang Gilda dan Gilbert memandang Claudia, mereka kemudian melihat James. Gilbert kemudian berdeham, kedua wanita itu buyar dalam lamunannya.

Gilbert: “Sepertinya aku pernah melihat dirimu, tapi di mana?”
James: “What is he sayin?” (apa yang dia katakan?)
Francis: “He said that he ever saw you before, but didn't know where.” (dia bilang bahwa dia pernah melihatmu sebelumnya, tapi tidak tahu di mana)
James: “Is that weird? You don't even know me at all.” (apakah itu aneh? Kau bahkan tak tahu diriku sama sekali)
Francis: “Hey, I just know your name is James Yorgins. What do you expect? I must give you a hug?” (Hei, aku hanya tahu namamu adalah James Yorgins. Apa yang kau harapkan? Aku harus memberimu pelukan?)
James: “Of course not.” (tentu saja tidak)
Gilda: “James Yorgins? Benarkah itu?”
Francis: “Dia sendiri yang mengatakannya padaku, memang kau pernah bertemu dengannya?”
Gilbert: “Kenapa dia ada di sini? Dari yang kudengar dia seharusnya sudah pulang ke Amerika.”
Francis: “Tunggu, tunggu dulu! Memang siapa sebenarnya si penguntit ini?”
Gilda: “Namanya James Yorgins, dia adalah putra dari Presdir TDG 'Henry Yorgins'. Di usianya yang ke 16 tahun, dia dijuluki sebagai playboy jutawan. Selain tampan, dia juga berbakat dalam berbagai hal.”
Gilbert: “Memangnya aku tidak tampan?”
Gilda: “Oh, tentu saja kau yang paling tampan di hatiku sayang.”
Francis: (terdiam 5 detik) “...aku bahkan tak pernah dengar hal seperti itu...”
Gilbert dan Gilda: “Apa?!”
James: “What're you sayin?” (apa kau bilang?)
Gilda: “Aw, that's awful. He didn't even know you at all.” (Aw, itu mengerikan. Dia bahkan tak mengenalmu sama sekali.)
James: “What?! Don't you ever read newspaper or watch television?” (Apa?! Apakah kau tak pernah sekalipun membaca koran ataupun menonton televisi?”
Francis: “From I was born until now, I never read or watch that kind of information.” (dari lahir sampai sekarang, aku tak pernah membaca atau melihat info semacam itu.)
James: “So you're uneducated person? A Neet?” (Jadi kau itu orang tak berpendidikan? Seorang Neet?)
Francis: “I don't know what a Neet is, but you're wrong if I'm uneducated. I'm knowledgeable in a certain battle, now I want to sleep. So please go home and don't disturb me anymore, get lost.” (Aku tak tahu apa itu Neet, tapi kau salah jika aku tak berpendidikan. Aku cukup paham mengenai beberapa pertempuran, sekarang aku mau tidur. Jadi silahkan pulang dan jangan ganggu aku lagi, pergilah.)

Setelah mengatakan kalimat yang cukup panjang, Francis segera bergegas ke dalam kamar. James sendiri agak terkejut dan menggeleng-gelengkan kepalanya, Claudia memegang lutut James dan melihatnya dengan mata berbinar-binar. Gilda dan Gilbert sendiri kini duduk berhadapan dengan James, menunggu dia untuk berbicara.

James: “Ok, so where do you met this guy?”


Sementara itu di markas rahasia milik Jendral Drake, beberapa robot absorber sedang mengoperasikan sebuah mesin waktu. Sebuah kendaraan keluar dari gerbang menarik dua buah kontainer, pengemudinya kemudian turun dari kendaraan. Beberapa kontainer kecil ditarik oleh beberapa absorber, pengemudi kendaraan itu memeriksa isi kontainer kecil. Dia juga menghitung jumlah kontainer kecil yang diangkut, namun ia terlihat tak puas dan meludahi salah satu absorber.

?: “Apa-apaan, kukira aku dipanggil karena persediaan yang dipesan sudah ada. Kenapa hanya segini? Di mana si keparat Drake itu?”
Drake: “Kau lupa tambahan kata 'Jendral', Margo.”

Sang pengemudi kini melihat Jendral Drake berdiri di belakangnya, wujud si pengemudi itu terlihat jelas. Badannya sebesar gorila, ada sepasang taring mencuat dari rahang bawahnya, hidungnya seperti babi, tangan dan kakinya yang berbulu lebat, dan telinganya yang besar dan bisa bergerak-gerak. Dia menggunakan seragam tentara dengan lambang kristal es berwarna merah di dadanya, dia membungkuk di hadapan Jendral Drake.

Margo: “Drake, seharusnya kau memanggilku setelah semua persediaan yang diminta terkumpul.”
Drake: “Jendral Drake, jika tak keberatan.”
Margo: “Akan kupanggil kau dengan sebutan itu jika kau telah menunaikan tugasmu dengan baik.”
Drake: “Sebenarnya ada sedikit perubahan rencana, 6 megaton Ulkamium menghilang.”
Margo: “Menghilang?! Apa maksudmu?”
Drake: “Seharusnya kami bisa menyerahkannya seminggu kemudian, tapi keadaan berubah sejak 45 megaton menghilang dari gudang persediaan.”
Margo: “Kenapa jumlah yang menghilang jadi meningkat? Kau mau main-main denganku?”
Drake: “Dengarkan dulu sampai aku selesai, kami sudah berhasil merebut kembali 39 megaton yang hilang dan tadinya berada di tangan ilmuwan di era ini. Tapi 6 megaton telah dibawa ke 6 negara untuk diteliti lebih lanjut oleh mereka.”
Margo: “Bagaimana bisa Ulkamium berada di tangan mereka? Lalu apa saja upaya yang telah kau lakukan untuk mendapatkannya kembali?”
Drake: “Hal itu terjadi saat ada penyusup yang berhasil masuk ke dalam markas kami, dia berhasil membawa kabur Ulkamium di dalam ruang penyimpanan tanpa membuat alarm berbunyi. Dia sudah melumpuhkan setidaknya 5 absolon, kejadian itu terjadi sekitar seminggu yang lalu.”
Margo: “Dan selama itu kau tidak melapor kepada pihak atas? (berdiri tegak) Hahaha, jadi itu tujuanmu memanggilku lebih awal. Kau ingin aku mengangkut Ulkamium sedikit demi sedikit sampai hari pengumpulan itu tiba, sementara itu kau berusaha mengambil kembali Ulkamium yang sudah dicuri.”
Drake: “Kau cukup pintar untuk hal semacam ini, kau tahu bahwa aku tak bisa meminta markas cabang yang lain untuk memberikan Ulkamium milik mereka untuk menutupi kekurangan yang ada saat ini. Aku sudah meminta markas cabang yang lokasinya berdekatan dengan tempat penelitian untuk merebut kembali Ulkamium itu dan mengembalikannya ke tempat yang seharusnya.”
Margo: “Dan kau yakin bahwa mereka akan dengan sukarela memberikannya padamu setelah berhasil direbut kembali? (menyeringai) Kenapa tak kau berikan saja yang sekarang tersimpan di ruanganmu?”
Drake: “Apa maksudmu?”
Margo: “Aku tahu kau selalu menyisihkan sedikit dari Ulkamium setelah penggalian, kau kira aku tak tahu? Bau di dalam tubuhmu itu tak bisa menipuku.”
Drake: “KAUU!!” (mengacungkan tongkat)
Margo: “Mengancamku pun percuma saja, Drake. Suatu saat mereka akan mengetahui semua rahasiamu, posisi yang kau dapat saat ini pun bukan karena hasil jerih payahmu sendiri bukan? Dengan memfitnah mantan atasanmu sendiri kau kemudian mendapatkan posisi yang selama ini kau inginkan, bagaimana rasanya?”
Drake: “Lebih baik kau jalankan saja perintahku untuk saat ini, sebab bukan masalah ini saja yang harus aku atasi. (menurunkan tongkat) Aku juga harus membawa kembali pengkhianat dan subyek yang kabur dua hari yang lalu, mereka juga memakai cara yang sama dengan kau datang.”
Margo: “M46 N4 124 K? Jadi kau berhasil menemukannya?”
Drake: “Ya, tapi beberapa unitku berhasil dihancurkan. Mereka berhasil kabur sekali lagi, keberadaan mereka masih dilacak oleh unitku yang tersisa.”
Margo: “Baiklah, aku akan membantumu. Masukkan saja Ulkamium yang sudah kau dapatkan saat ini ke dalam sana, (menunjuk kontainer) kebetulan sekali aku juga diutus untuk mengembalikan mereka yang telah melewati gerbang itu.”
Drake: “Apa? Tidak, kau tak boleh menangkap mereka. Itu adalah tugasku, kau pikir aku akan mengizinkannya?”
Margo: “Kau tampak kelihatan tidak senang, bukankah kau harusnya bersyukur karena sudah mendapatkan bantuan?”
Drake: “Memangnya siapa yang memberimu perintah?”
Margo: (Membungkuk dan berbisik) “Dia adalah...”

Wajah Jendral Drake mendadak menjadi pucat ketika mendengar yang Margo bisikkan ke telinganya, dia berdiri lagi dengan tegap dan berjalan melewati Drake yang gemetar ketakutan. Sebelum Margo sempat masuk ke dalam sebuah pintu, Drake berteriak dengan keras.

Drake: “MARGOO!!”
Margo: “Hm?”
Drake: “Kau menang, aku akan berikan semua yang diperlukan untuk membantumu menangkap mereka berikut posisinya.”
Margo: “Heh.” (menyeringai)


Kembali ke kediaman keluarga Welsley, Gilda dan Gilbert sedang berbincang bersama James di ruang tamu.

Gilbert: “Seseorang cubit aku, apakah yang dia katakan itu benar?”
Gilda: “Is what you said true?” (apa yang kau katakan benar?)
James: “Since when I'm lying to all of you? So I'll repeat again, Mister Gilbert. You're now officially working as a cook in the TDG caffetaria office, you can start after you're already healed.” (sejak kapan aku berbohong pada kalian? Jadi biar kuulangi lagi, Pak Gilbert. Anda sekarang resmi bekerja menjadi koki di kantin kantor TDG, anda bisa mulai kerja setelah anda benar-benar sembuh)

Gilda kaget dan menutup mulutnya, dia berjalan mondar-mandir dan kebingungan. Setelah itu dia berhenti dan menarik nafas panjang, kemudian dia membungkuk dan berbisik pada Gilbert. Gilbert sendiri memberi isyarat pada Gilda dengan gerakan tangan, Gilda mendorong kursi roda Gilbert mendekat pada James. Mereka sempat bertatap mata sejenak, suasana tegang muncul di antara mereka selama beberapa saat. Mendadak Gilbert meloncat dari kursi rodanya, James yang di depannya kaget dan terjatuh dalam keadaan dipeluk oleh Gilbert.

Gilbert: “Terima kasih, terima kasih banyak!”
James: (wajah jijik) “I know that you're happy about this, but please get up immediately!” (aku tahu jika anda senang, tapi tolong segera bangun)
Gilda: “Sayang, jangan mempermalukan dirimu sendiri! Bangunlah, kau masih belum sembuh benar bukan?!”
Claudia: (datang membawa gelas dan sikat gigi) “Ibu, ayah sedang apa?”

James dan Gilda membantu Gilbert berdiri, kemudian dia duduk kembali di kursi rodanya. Sementara itu Francis yang merasa terganggu dengan keributan yang ditimbulkan, menutup telinganya dengan bantal. James keluar dari rumah sambil diantar oleh Gilda dan Claudia, dia sudah memakai topi dan kerudungnya.

James: “Then, I'll leave now.” (kalau begitu, aku akan pergi sekarang)
Gilda: “Already? But you will come again, right?” (sudah selesai? Tapi kau akan datang lagi, bukan)
Claudia: “James sudah mau pergi?”
Gilda: “Benar sayang, kau sudah selesai menyikat gigimu?”
Claudia: “Sudah, aku mau tidur dengan kak Zero sekarang.”
James: “I'm a busy person, you know? There is some matter that I must attend, but tomorrow I'll come again to convince him. He must work for me, no matter what.” (aku ini orang yang sibuk, kau tahu? Ada beberapa urusan yang harus kuhadiri, tapi besok aku akan datang lagi untuk meyakinkan dia. Dia harus bekerja untukku, apapun yang terjadi)
Gilda: “Then I'll prepare you some lunch when you have the chance.” (Kalau begitu akan kusiapkan makan siang untukmu saat kau ada kesempatan)
James: “I'll wait for that, but I hope you'll give me... (memegang telapak tangan Gilda dan menciumnya) a proper greeting (mengedip pada Claudia) when I return.” (Akan kutunggu untuk itu, tapi kuharap kau akan memberiku... sambutan yang hangat saat aku kembali)
Gilda dan Claudia: (wajah merona) “Ooooh.”

Gilbert berdeham dengan keras begitu melihat apa yang terjadi di luar, beberapa saat kemudian sebuah mobil datang menjemputnya. Gilda dan Claudia melambaikan tangannya pada James yang sudah berada di dalam mobil, kini mobil itu melaju meninggalkan tempat. James kemudian dengan leganya menarik nafas, dia kemudian mengangkat telpon di sebelahnya dan menekan beberapa tombol. Sambil menunggu nada panggil, dia meletakkan telpon di sebelah tempat dia duduk. Ia lalu mengambil dan meminum segelas jus jeruk dengan es batu, mendadak terdengar suara teriakan keras dari telpon.

?: “JAMES ARCHIBALD YORGINS!! KENAPA BARU MENGHUBUNGI SEKARANG?! KAU TAHU SEBERAPA CEMASNYA ORANG-ORANG DI KANTOR?!”
James: “Hei, hei, tenanglah. Lagipula aku masih hidup bukan? Sekarang aku dalam perjalanan kembali ke kantor, setibanya nanti aku ingin kau mengurus beberapa hal untukku.”
?: “Ya, kau masih hidup. Tapi jika ayahmu tahu kau keluar tanpa pengawasan lagi, kau sudah mati. Jika mengenai makan malam, aku sudah menyiapkannya.”
James: “Tidak perlu, aku sudah makan. Beberapa hal ini kuperlukan untuk menyambut teman baruku yang akan mulai bekerja besok, jadi tolong dengarkan baik-baik.” (wajah serius)

No comments:

Post a Comment