MAKAN MALAM
Oslo,
Norwegia, 12 Oktober 2010, Francis sedang berjalan-jalan sambil
melihat peta yang dia bawa. Dia berhenti sejenak dan melihat papan
nama jalan di atasnya kemudian melihat peta lagi, dia kemudian belok
ke kiri jalan. Kini dia berjalan di sebuah jembatan penyeberangan,
beberapa menit kemudian dia berada di atas sebuah pohon. Dia lalu
tergantung jungkir balik di atas lampu lalu lintas, sekarang dia
berbaring di tengah jalan dengan peta yang menutupi wajahnya.
Seseorang kemudian mengambil peta itu dari wajahnya, Francis melihat
James sudah berdiri di hadapannya.
James:
“Sedang apa kau di sini?”
Francis:
“Justru aku yang seharusnya bertanya begitu.”
James:
“Aku tak menyangka jika kau ini adalah gelandangan, kau sering
melakukan ini?”
Francis:
“Gelandangan? Heh, aku sudah dengar kata seperti itu diucapkan dan
tak tahu artinya sampai sekarang.”
James:
“Orang yang tak punya pekerjaan tetap dan hidup dengan cara
meminta-minta pada orang dan mengais sampah, kadangkala bisa ditemui
tinggal di tempat kumuh atau di pinggir jalan. Yah, setidaknya
begitulah artinya.”
Francis:
“Dan kau pikir aku orang seperti itu?”
James:
“Tentu saja tidak, sepertinya kau punya masalah.”
Francis:
“Apa aku terlihat seperti punya masalah?”
James:
“Dari wajahmu saja, kau sudah terlihat bermasalah.”
Francis:
(mencengkeram kerah baju James) “Dengarkan, sialan. Kalau kau mau
cari mati, katakan saja. Aku dengan senang hati akan mengirimmu ke
dunia sana.”
James:
“Whoa... kemarahan yang nyata... Aku hanya ingin membantumu saja,
dan kurasa kau sedang pergi ke suatu tempat tapi tak tahu arah.
Membaca peta saja tidak bisa, apa aku benar?”
Francis:
(melepas cengkeraman) “Aku bukan tak tahu arah, aku hanya lelah
karena harus berjalan seharian ke tempat tujuanku.”
James:
“Kenapa tidak naik taxi saja?”
Francis:
“Taxi?”
Beberapa
saat kemudian, Francis sudah berada di depan kediaman keluarga
Welsley. Dia baru saja turun dari taxi, James sendiri sedang membayar
ongkosnya pada supir. Francis langsung saja berjalan ke depan rumah
dan hendak mengetuk pintu, namun James mencegahnya dengan menarik
bagian belakang baju yang dia pakai.
James:
“Hey, hey, hey. Wait a minute, at least say...” (Hei, hei, hei.
Tunggu dulu, setidaknya ucapkan...)
Francis:
“Yeah, I know. Thank you very much, now go home.” (Ya, aku tahu.
Terima kasih banyak, sekarang pulanglah.)
James:
“So whose house is it?” (Jadi rumah siapa ini?)
Francis:
“The house of the family who I helped earlier, they invited me to
stay and have a dinner.” (rumah keluarga yang kutolong beberapa
saat yang lalu, mereka mengundangku untuk menginap dan makan malam)
James:
“Then where do you live now?” (Lantas kau sendiri sekarang
tinggal di mana?)
Francis:
(diam sejenak) “Can't you shut your damn mouth for a second?”
(Tak bisakah kau menutup mulut sialanmu sebentar saja?)
Claudia:
“Kak Zero!”
Claudia
membuka pintu depan dan langsung berlari memeluk Francis, diikuti
dengan Gilda yang sedang mendorong Gilbert yang duduk di atas kursi
roda.
Francis:
“Hei, aku kan hanya pergi sebentar. Kau tidak bisa langsung
menyerang orang yang baru saja datang, (melihat Gilbert) dan bukankah
seharusnya kau ada di rumah sakit?”
Claudia:
“Ayah sudah agak baikan, jadi dia diizinkan pulang.”
Francis:
“Sungguh? Lalu kenapa dia tidak berjalan dengan kakinya sendiri?”
Gilda:
“Dia yang memaksa agar bisa pulang, padahal dia masih belum sembuh
sepenuhnya.”
Gilbert:
“Omong kosong, aku memang tak bisa berjalan dan wajahku penuh luka.
Tapi paling tidak tanganku ini masih bisa digunakan, masuklah dan
ajak temanmu ke dalam.”
Francis:
“Dia bukan temanku.” (tegas)
James:
“What is he talking?” (dia bicara apa?)
Francis:
“He said that you must leave now before I beat you up.” (dia
bilang bahwa kau harus pergi sekarang sebelum kuhajar)
Gilda:
“No, he's lying. Do you mind if you join us for dinner?” (Tidak,
dia bohong. Kau keberatan jika kau bergabung untuk makan malam?)
Francis:
“Tidak, hentikan. Itu ide yang buruk.”
James:
“Oh, yes. That's very cool.” (Oh, ya. Itu keren sekali)
Gilbert:
“Masuklah, aku baru saja memasak banyak Smorrebrod.”
Francis:
“Tunggu... (dicuekin dan ditinggal masuk) ah, damn.” (ah, sial)
Sementara
itu, Uchida sedang mencari informasi lewat internet di komputernya.
Dia membuka tentang berita yang terjadi beberapa hari yang lalu, ada
sebuah gambar sekelompok ilmuwan dengan keadaan berantakan di depan
sebuah bangunan yang hancur lebur. Artikel yang bertuliskan
'Malapetaka pembawa Keajaiban', tertulis bahwa mereka menemukan
semacam batuan yang menghasilkan energi pengganti untuk berbagai
macam kendaraan dan alat-alat elektronik. Salah satu dari ilmuwan itu
memegang sebuah tabung kecil berisi kerikil kecil yang bersinar
kehijauan, mata Uchida yang sipit terbuka sedikit dengan pandangan
serius.
Uchida:
“Ulkamium...”
Uchida
mengetik 'TDG', dia kemudian menekan salah satu situs. Di layar
muncul tulisan 'Selamat Datang di Techno Dynamic Group, di mana
tekhnologi adalah hidup' Dia kemudian menekan 'Perkembangan Terbaru',
muncullah daftar produk di layar. Uchida menekan bagian paling atas
bertuliskan 'Subyek X', namun muncul kata 'masih dalam pengembangan'
Sekarang dia melihat berita mengenai pembobolan di TDG, yang dicuri
adalah Ulkamium yang diteliti oleh para ilmuwan saat itu. Judul
artikel itu adalah 'Lenyapnya sebuah keajaiban', sebuah ruangan
dilubangi dengan bentuk segitiga yang besar dan beberapa polisi
memeriksa bagian dalamnya.
Uchida:
“Hm, aku sudah mencoba meretas ke dalam database TDG. Tapi ada
resiko setelah keamanan diterobos, semacam virus akan masuk ke dalam
jaringan komputer.”
Kali
ini Uchida membuka susunan pangkat perusahaan, dia melihat bagian
paling atas yaitu Presiden Direktur. Ketika ditekan muncul gambar
seorang pria lengkap dengan biografinya, namanya adalah 'Henry
Yorgins'. Tertulis dalam data, pria kelahiran Jersey memimpin
perusahaan pada usia 17 tahun. Kepemimpinan itu sendiri diberikan
kepada ayahnya setelah dia mengundurkan diri karena kondisi
kesehatannya yang memburuk, masa kepemimpinannya sendiri sudah
berjalan selama 20 tahun. Henry menikahi seorang wanita di usia 21
tahun dan dikarunia satu anak lelaki dan satu perempuan, dia tinggal
bersama dengan keluarganya di New York, Amerika Serikat.
Uchida:
“Baiklah, mari kita cari keberadaannya. Tertulis seminggu yang lalu
dia berada di Norwegia bersama salah seorang anaknya, hari ini dia
meninggalkan Norwegia sendirian. Anaknya yang lelaki cukup terkenal
sebagai playboy jutawan, cukup terkenal di kalangan gadis-gadis
belia. Oh, dua hari yang lalu ia terlihat di sebuah pusat
perbelanjaan tanpa pengawal. Tapi sejak kejadian pembobolan itu dia
tak terlihat lagi, kemungkinan sudah pulang lebih dulu dari ayahnya
atau masih berada di sini dan diamankan oleh ayahnya. Hm, sebenarnya
ini mudah jika Francis bisa menyamar menjadi karyawan di sana dan
mencari informasi. Tapi sifat dan kelakuannya itu malah akan membuat
dia cepat ditangkap, terlalu beresiko. Sebentar, jika tak salah nama
anak dari Presdir itu sendiri adalah...”
Di
kediaman keluarga Welsley, Francis, James, dan Claudia sedang duduk
di ruang makan. James sedang bersalaman dengan Claudia, Francis
sendiri sedang memangku kepalanya dengan wajah jengkel. Gilda dan
Gilbert berada di dapur, sedang mempersiapkan makanan.
James:
“My name is James, so who are you?” (namaku James, jadi kau
siapa?)
Claudia:
“Mey nume is Claudia, senang bertemu denganmu.”
James:
“So you can speak a little English, you understand what I'm saying
now?” (Jadi kau bisa bicara sedikit bahasa Inggris, kau mengerti
yang kukatakan sekarang?)
Claudia:
“Aku sedikit paham bahasa Inggris, James sendiri teman kak Zero?”
James:
(menoleh pada Francis) “What she's saying? Come on, don't be
angry.” (apa yang dia katakan? Ayolah, jangan marah)
Francis:
“She said that you're a jerk.” (dia bilang kau itu sialan)
Gilda:
“Francis, begitukah cara bicaramu pada temanmu sendiri?”
Francis:
“Aku sudah bilang, dia bukan temanku. Dia hanya penguntit yang
sedari tadi mengikutiku sejak dalam perjalanan kemari.”
Gilda:
“Tapi kelihatannya dia mengenalmu dengan baik.”
Francis:
“Yah, itu karena dia bersikeras agar aku bekerja untuknya setelah
aku menyelamatkan dia.”
James:
“Ng, I didn't understand what're you sayin. But you're talking
about me, right?” (ng, aku tak mengerti apa yang kau katakan. Tapi
kau membicarakan tentang diriku kan?)
Claudia:
“James ditolong oleh kak Zero? Wah, aku, ayah, dan ibu juga sudah
ditolong.”
Gilda:
“He save you? When?” (dia menyelamatkanmu? Kapan?)
James:
“At last, somebody speak English. He save me when I was walking in
the town street, I almost hit by a big truck.” (akhirnya, ada yang
bicara bahasa Inggris. Dia menyelamatkanku saat aku sedang berjalan
di jalanan kota, aku hampir tertabrak bis besar.”
Gilda:
“My God, are you ok?” (Ya Tuhan, kau baik-baik saja?)
James:
“No scratch at all, thanks for him.” (tanpa goresan sama sekali,
terima kasih karena dia)
Gilbert:
“Gilda, bawakan Smorrebrod yang sudah selesai kubuat ke meja.”
Gilda:
“Baik, sayang.”
Gilda
membawa Smorrebrod yang baru saja dibuat dan menyajikannya di atas
meja, setelah itu dia kembali ke dapur dan mendorong kursi roda yang
Gilbert duduki ke meja makan. Smorrebrod itu sendiri adalah semacam
roti isi, di dalamnya ada sayur dan daging. Kini seluruh keluarga
Welsley menyantap hidangan itu bersama dengan Francis dan James,
Francis sendiri kelihatan sangat menikmati. Beberapa menit kemudian,
roti isi yang tersedia di meja kini sudah habis tak tersisa. Francis
menjilati seluruh ujung jarinya, ia langsung meneguk segelas susu di
hadapannya.
Francis:
“Terima kasih banyak atas makanannya, ah segar.”
Gilbert:
“Maaf jika porsinya kurang, kondisi kami saja sudah seperti ini.”
Francis:
“Tidak apa-apa, yang penting masih bisa dimakan bukan?”
Claudia:
“Kak Zero, jadi menginap di sini bukan?”
Francis:
“Tentu saja, aku sudah berjanji.”
Claudia:
“Hore! Aku boleh tidur dengan kakak?”
Francis:
“Terserah kau saja, apa tempatnya masih sama?”
Gilda:
“Tentu saja, saya juga sudah menyiapkan selimut.”
Francis:
“Tapi suamimu sendiri sudah kembali bukan? Apa tidak apa-apa?”
Gilbert:
“Tidak apa-apa, itu hanya tempat kerjaku saja. Aku biasa tidur
dengan Gilda dan Claudia di dalam satu kamar, gunakanlah sesukamu.”
Francis:
“Kalau begitu aku tidur sekarang saja, aku sudah terlalu lelah
mengurus penguntit ini.”
Gilbert:
“Penguntit? Bukannya dia temanmu? Apa dia juga mau menginap di
sini?”
Francis:
“Apa dia tampak terlihat seperti temanku?”
Claudia:
“Kelihatannya iya.”
Gilda:
“Why'd you follow him?” (kenapa kau mengikutinya?)
James:
“I just want to repay his kindness for saving my life.” (aku
hanya ingin membalas kebaikannya karena menyelamatkan nyawaku)
Francis:
“You already did it, once.” (kau sudah melakukannya, sekali)
James:
“And I'm already help you more than one, so it's obvious if you owe
me.” (dan aku sudah menolongmu lebih dari sekali, jadi sudah jelas
jika kau berhutang padaku.)
Francis:
“That's not even my own will.” (Itu bahkan bukan keinginanku
sendiri)
Gilda:
“Where do you come from?” (dari mana kau datang?)
James:
“United States of America, New York City.”
Gilda:
“Are you his friend?” (apa kau temannya?)
James:
“Yes, the good one.” (ya, yang baik)
Francis:
“No, don't believe him.” (tidak, jangan percaya dia)
Gilda:
“James, why didn't you take off your hat and the hood? I want to
see your face.” (James, kenapa kau tidak melepas topi dan
kerudungmu? Aku ingin melihat wajahmu.)
James:
“Oh, yes. Sorry, I forgot to take it off.” (Oh, ya. Maaf, aku
lupa melepaskannya)
Ketika
James melepaskan topi dan kerudungnya, seluruh keluarga Welsley
memasang wajah terkejut. James menggeleng-gelengkan kepalanya
sehingga rambutnya berkibar. Ada aura bercahaya terpancar dari
wajahnya, matanya yang bersinar bagaikan permata, kulitnya yang
mulus, dan hidungnya yang mancung. Wajahnya yang lumayan tampan
membuat Gilda dan Claudia terpesona, wajah mereka merona. Francis
memandang Claudia dan Gilbert memandang Gilda, mereka kemudian
bertukar pandangan. Francis memandang Gilda dan Gilbert memandang
Claudia, mereka kemudian melihat James. Gilbert kemudian berdeham,
kedua wanita itu buyar dalam lamunannya.
Gilbert:
“Sepertinya aku pernah melihat dirimu, tapi di mana?”
James:
“What is he sayin?” (apa yang dia katakan?)
Francis:
“He said that he ever saw you before, but didn't know where.”
(dia bilang bahwa dia pernah melihatmu sebelumnya, tapi tidak tahu di
mana)
James:
“Is that weird? You don't even know me at all.” (apakah itu aneh?
Kau bahkan tak tahu diriku sama sekali)
Francis:
“Hey, I just know your name is James Yorgins. What do you expect? I
must give you a hug?” (Hei, aku hanya tahu namamu adalah James
Yorgins. Apa yang kau harapkan? Aku harus memberimu pelukan?)
James:
“Of course not.” (tentu saja tidak)
Gilda:
“James Yorgins? Benarkah itu?”
Francis:
“Dia sendiri yang mengatakannya padaku, memang kau pernah bertemu
dengannya?”
Gilbert:
“Kenapa dia ada di sini? Dari yang kudengar dia seharusnya sudah
pulang ke Amerika.”
Francis:
“Tunggu, tunggu dulu! Memang siapa sebenarnya si penguntit ini?”
Gilda:
“Namanya James Yorgins, dia adalah putra dari Presdir TDG 'Henry
Yorgins'. Di usianya yang ke 16 tahun, dia dijuluki sebagai playboy
jutawan. Selain tampan, dia juga berbakat dalam berbagai hal.”
Gilbert:
“Memangnya aku tidak tampan?”
Gilda:
“Oh, tentu saja kau yang paling tampan di hatiku sayang.”
Francis:
(terdiam 5 detik) “...aku bahkan tak pernah dengar hal seperti
itu...”
Gilbert
dan Gilda: “Apa?!”
James:
“What're you sayin?” (apa kau bilang?)
Gilda:
“Aw, that's awful. He didn't even know you at all.” (Aw, itu
mengerikan. Dia bahkan tak mengenalmu sama sekali.)
James:
“What?! Don't you ever read newspaper or watch television?”
(Apa?! Apakah kau tak pernah sekalipun membaca koran ataupun menonton
televisi?”
Francis:
“From I was born until now, I never read or watch that kind of
information.” (dari lahir sampai sekarang, aku tak pernah membaca
atau melihat info semacam itu.)
James:
“So you're uneducated person? A Neet?” (Jadi kau itu orang tak
berpendidikan? Seorang Neet?)
Francis:
“I don't know what a Neet is, but you're wrong if I'm uneducated.
I'm knowledgeable in a certain battle, now I want to sleep. So please
go home and don't disturb me anymore, get lost.” (Aku tak tahu apa
itu Neet, tapi kau salah jika aku tak berpendidikan. Aku cukup paham
mengenai beberapa pertempuran, sekarang aku mau tidur. Jadi silahkan
pulang dan jangan ganggu aku lagi, pergilah.)
Setelah
mengatakan kalimat yang cukup panjang, Francis segera bergegas ke
dalam kamar. James sendiri agak terkejut dan menggeleng-gelengkan
kepalanya, Claudia memegang lutut James dan melihatnya dengan mata
berbinar-binar. Gilda dan Gilbert sendiri kini duduk berhadapan
dengan James, menunggu dia untuk berbicara.
James:
“Ok, so where do you met this guy?”
Sementara
itu di markas rahasia milik Jendral Drake, beberapa robot absorber
sedang mengoperasikan sebuah mesin waktu. Sebuah kendaraan keluar
dari gerbang menarik dua buah kontainer, pengemudinya kemudian turun
dari kendaraan. Beberapa kontainer kecil ditarik oleh beberapa
absorber, pengemudi kendaraan itu memeriksa isi kontainer kecil. Dia
juga menghitung jumlah kontainer kecil yang diangkut, namun ia
terlihat tak puas dan meludahi salah satu absorber.
?:
“Apa-apaan, kukira aku dipanggil karena persediaan yang dipesan
sudah ada. Kenapa hanya segini? Di mana si keparat Drake itu?”
Drake:
“Kau lupa tambahan kata 'Jendral', Margo.”
Sang
pengemudi kini melihat Jendral Drake berdiri di belakangnya, wujud si
pengemudi itu terlihat jelas. Badannya sebesar gorila, ada sepasang
taring mencuat dari rahang bawahnya, hidungnya seperti babi, tangan
dan kakinya yang berbulu lebat, dan telinganya yang besar dan bisa
bergerak-gerak. Dia menggunakan seragam tentara dengan lambang
kristal es berwarna merah di dadanya, dia membungkuk di hadapan
Jendral Drake.
Margo:
“Drake, seharusnya kau memanggilku setelah semua persediaan yang
diminta terkumpul.”
Drake:
“Jendral Drake, jika tak keberatan.”
Margo:
“Akan kupanggil kau dengan sebutan itu jika kau telah menunaikan
tugasmu dengan baik.”
Drake:
“Sebenarnya ada sedikit perubahan rencana, 6 megaton Ulkamium
menghilang.”
Margo:
“Menghilang?! Apa maksudmu?”
Drake:
“Seharusnya kami bisa menyerahkannya seminggu kemudian, tapi
keadaan berubah sejak 45 megaton menghilang dari gudang persediaan.”
Margo:
“Kenapa jumlah yang menghilang jadi meningkat? Kau mau main-main
denganku?”
Drake:
“Dengarkan dulu sampai aku selesai, kami sudah berhasil merebut
kembali 39 megaton yang hilang dan tadinya berada di tangan ilmuwan
di era ini. Tapi 6 megaton telah dibawa ke 6 negara untuk diteliti
lebih lanjut oleh mereka.”
Margo:
“Bagaimana bisa Ulkamium berada di tangan mereka? Lalu apa saja
upaya yang telah kau lakukan untuk mendapatkannya kembali?”
Drake:
“Hal itu terjadi saat ada penyusup yang berhasil masuk ke dalam
markas kami, dia berhasil membawa kabur Ulkamium di dalam ruang
penyimpanan tanpa membuat alarm berbunyi. Dia sudah melumpuhkan
setidaknya 5 absolon, kejadian itu terjadi sekitar seminggu yang
lalu.”
Margo:
“Dan selama itu kau tidak melapor kepada pihak atas? (berdiri
tegak) Hahaha, jadi itu tujuanmu memanggilku lebih awal. Kau ingin
aku mengangkut Ulkamium sedikit demi sedikit sampai hari pengumpulan
itu tiba, sementara itu kau berusaha mengambil kembali Ulkamium yang
sudah dicuri.”
Drake:
“Kau cukup pintar untuk hal semacam ini, kau tahu bahwa aku tak
bisa meminta markas cabang yang lain untuk memberikan Ulkamium milik
mereka untuk menutupi kekurangan yang ada saat ini. Aku sudah meminta
markas cabang yang lokasinya berdekatan dengan tempat penelitian
untuk merebut kembali Ulkamium itu dan mengembalikannya ke tempat
yang seharusnya.”
Margo:
“Dan kau yakin bahwa mereka akan dengan sukarela memberikannya
padamu setelah berhasil direbut kembali? (menyeringai) Kenapa tak kau
berikan saja yang sekarang tersimpan di ruanganmu?”
Drake:
“Apa maksudmu?”
Margo:
“Aku tahu kau selalu menyisihkan sedikit dari Ulkamium setelah
penggalian, kau kira aku tak tahu? Bau di dalam tubuhmu itu tak bisa
menipuku.”
Drake:
“KAUU!!” (mengacungkan tongkat)
Margo:
“Mengancamku pun percuma saja, Drake. Suatu saat mereka akan
mengetahui semua rahasiamu, posisi yang kau dapat saat ini pun bukan
karena hasil jerih payahmu sendiri bukan? Dengan memfitnah mantan
atasanmu sendiri kau kemudian mendapatkan posisi yang selama ini kau
inginkan, bagaimana rasanya?”
Drake:
“Lebih baik kau jalankan saja perintahku untuk saat ini, sebab
bukan masalah ini saja yang harus aku atasi. (menurunkan tongkat) Aku
juga harus membawa kembali pengkhianat dan subyek yang kabur dua hari
yang lalu, mereka juga memakai cara yang sama dengan kau datang.”
Margo:
“M46 N4 124 K? Jadi kau berhasil menemukannya?”
Drake:
“Ya, tapi beberapa unitku berhasil dihancurkan. Mereka berhasil
kabur sekali lagi, keberadaan mereka masih dilacak oleh unitku yang
tersisa.”
Margo:
“Baiklah, aku akan membantumu. Masukkan saja Ulkamium yang sudah
kau dapatkan saat ini ke dalam sana, (menunjuk kontainer) kebetulan
sekali aku juga diutus untuk mengembalikan mereka yang telah melewati
gerbang itu.”
Drake:
“Apa? Tidak, kau tak boleh menangkap mereka. Itu adalah tugasku,
kau pikir aku akan mengizinkannya?”
Margo:
“Kau tampak kelihatan tidak senang, bukankah kau harusnya bersyukur
karena sudah mendapatkan bantuan?”
Drake:
“Memangnya siapa yang memberimu perintah?”
Margo:
(Membungkuk dan berbisik) “Dia adalah...”
Wajah
Jendral Drake mendadak menjadi pucat ketika mendengar yang Margo
bisikkan ke telinganya, dia berdiri lagi dengan tegap dan berjalan
melewati Drake yang gemetar ketakutan. Sebelum Margo sempat masuk ke
dalam sebuah pintu, Drake berteriak dengan keras.
Drake:
“MARGOO!!”
Margo:
“Hm?”
Drake:
“Kau menang, aku akan berikan semua yang diperlukan untuk
membantumu menangkap mereka berikut posisinya.”
Margo:
“Heh.” (menyeringai)
Kembali
ke kediaman keluarga Welsley, Gilda dan Gilbert sedang berbincang
bersama James di ruang tamu.
Gilbert:
“Seseorang cubit aku, apakah yang dia katakan itu benar?”
Gilda:
“Is what you said true?” (apa yang kau katakan benar?)
James:
“Since when I'm lying to all of you? So I'll repeat again, Mister
Gilbert. You're now officially working as a cook in the TDG
caffetaria office, you can start after you're already healed.”
(sejak kapan aku berbohong pada kalian? Jadi biar kuulangi lagi, Pak
Gilbert. Anda sekarang resmi bekerja menjadi koki di kantin kantor
TDG, anda bisa mulai kerja setelah anda benar-benar sembuh)
Gilda
kaget dan menutup mulutnya, dia berjalan mondar-mandir dan
kebingungan. Setelah itu dia berhenti dan menarik nafas panjang,
kemudian dia membungkuk dan berbisik pada Gilbert. Gilbert sendiri
memberi isyarat pada Gilda dengan gerakan tangan, Gilda mendorong
kursi roda Gilbert mendekat pada James. Mereka sempat bertatap mata
sejenak, suasana tegang muncul di antara mereka selama beberapa saat.
Mendadak Gilbert meloncat dari kursi rodanya, James yang di depannya
kaget dan terjatuh dalam keadaan dipeluk oleh Gilbert.
Gilbert:
“Terima kasih, terima kasih banyak!”
James:
(wajah jijik) “I know that you're happy about this, but please get
up immediately!” (aku tahu jika anda senang, tapi tolong segera
bangun)
Gilda:
“Sayang, jangan mempermalukan dirimu sendiri! Bangunlah, kau masih
belum sembuh benar bukan?!”
Claudia:
(datang membawa gelas dan sikat gigi) “Ibu, ayah sedang apa?”
James
dan Gilda membantu Gilbert berdiri, kemudian dia duduk kembali di
kursi rodanya. Sementara itu Francis yang merasa terganggu dengan
keributan yang ditimbulkan, menutup telinganya dengan bantal. James
keluar dari rumah sambil diantar oleh Gilda dan Claudia, dia sudah
memakai topi dan kerudungnya.
James:
“Then, I'll leave now.” (kalau begitu, aku akan pergi sekarang)
Gilda:
“Already? But you will come again, right?” (sudah selesai? Tapi
kau akan datang lagi, bukan)
Claudia:
“James sudah mau pergi?”
Gilda:
“Benar sayang, kau sudah selesai menyikat gigimu?”
Claudia:
“Sudah, aku mau tidur dengan kak Zero sekarang.”
James:
“I'm a busy person, you know? There is some matter that I must
attend, but tomorrow I'll come again to convince him. He must work
for me, no matter what.” (aku ini orang yang sibuk, kau tahu? Ada
beberapa urusan yang harus kuhadiri, tapi besok aku akan datang lagi
untuk meyakinkan dia. Dia harus bekerja untukku, apapun yang terjadi)
Gilda:
“Then I'll prepare you some lunch when you have the chance.”
(Kalau begitu akan kusiapkan makan siang untukmu saat kau ada
kesempatan)
James:
“I'll wait for that, but I hope you'll give me... (memegang telapak
tangan Gilda dan menciumnya) a proper greeting (mengedip pada
Claudia) when I return.” (Akan kutunggu untuk itu, tapi kuharap kau
akan memberiku... sambutan yang hangat saat aku kembali)
Gilda
dan Claudia: (wajah merona) “Ooooh.”
Gilbert
berdeham dengan keras begitu melihat apa yang terjadi di luar,
beberapa saat kemudian sebuah mobil datang menjemputnya. Gilda dan
Claudia melambaikan tangannya pada James yang sudah berada di dalam
mobil, kini mobil itu melaju meninggalkan tempat. James kemudian
dengan leganya menarik nafas, dia kemudian mengangkat telpon di
sebelahnya dan menekan beberapa tombol. Sambil menunggu nada panggil,
dia meletakkan telpon di sebelah tempat dia duduk. Ia lalu mengambil
dan meminum segelas jus jeruk dengan es batu, mendadak terdengar
suara teriakan keras dari telpon.
?:
“JAMES ARCHIBALD YORGINS!! KENAPA BARU MENGHUBUNGI SEKARANG?! KAU
TAHU SEBERAPA CEMASNYA ORANG-ORANG DI KANTOR?!”
James:
“Hei, hei, tenanglah. Lagipula aku masih hidup bukan? Sekarang aku
dalam perjalanan kembali ke kantor, setibanya nanti aku ingin kau
mengurus beberapa hal untukku.”
?:
“Ya, kau masih hidup. Tapi jika ayahmu tahu kau keluar tanpa
pengawasan lagi, kau sudah mati. Jika mengenai makan malam, aku sudah
menyiapkannya.”
James:
“Tidak perlu, aku sudah makan. Beberapa hal ini kuperlukan untuk
menyambut teman baruku yang akan mulai bekerja besok, jadi tolong
dengarkan baik-baik.” (wajah serius)
No comments:
Post a Comment