PELATIHAN
Oslo,
Norwegia, 12 Oktober 2010, 15:00. Francis berada di atap gedung
dengan keadaan compang-camping, seluruh bajunya robek-robek. Dia
melepas topi dan maskernya, dia kemudian duduk sambil menunggu
luka-lukanya sembuh dengan sendirinya.
Francis:
“Jangan melakukan aksi yang menarik perhatian katanya, tapi maaf
saja ya. Yang mulai duluan itu mereka, jadi jangan salahkan aku.
Haaah, sekarang aku harus bagaimana?”
Francis
kemudian melihat kembali kartu identitas yang dia bawa, dia melihat
bagian alamat yang tertera di sana. Sementara itu di bawah gedung,
mobil-mobil polisi dengan bunyi sirine yang keras melintas di bawah.
Francis:
“Dan sekarang polisi datang untuk membereskan masalahnya, sekarang
aku harus segera ke tempat Uchida. Dia bilang tempatnya berada di
sekitar sini, kalau begitu aku tinggal bertanya pada orang-orang di
bawah.”
Beberapa
saat kemudian, Francis sudah berada di bawah. Namun tidak sesuai
perkiraan Francis, dia mendapatkan sesuatu yang tak disangka. Seorang
wanita memukuli kepalanya dengan tas dan dia kemudian berteriak
kencang sambil berlari, Francis tak habis pikir apa yang jadi
masalahnya. Dia tak menyadari bahwa dirinya yang dalam kondisi
setengah telanjang adalah penyebabnya, dia hanya memakai masker, topi
dari kain, celana, serta baju yang robek. Mendadak dia mendengar
suara tawa dari belakangnya, dia menoleh ke belakang dan melihat
seorang pemuda berambut pirang dan berwajah melankolis.
?:
“Hahaha, betapa sialnya dirimu.”
Francis:
(bahasa Norwegia) “Siapa kau?”
?:
“Kita bicara dengan bahasa Inggris saja, lebih mudah bukan?”
Francis:
(melepas masker) “Hmph, aku juga sudah mulai lelah mengenakan ini.”
?:
“Perkenalkan, James Yorgins.” (menjabat tangan Francis)
Francis:
“Baiklah, ada keperluan apa James?”
James:
“Kenapa kau tak sebutkan dulu siapa namamu?”
Francis:
“Francis Zero, sekarang bisa kau beritahu aku apa maumu?”
James:
“Aku ingin berterima kasih atas pertolonganmu barusan, walau kuakui
bagian jatuh ke lubang tadi agak menyakitkan.”
Francis:
“Lubang? Terima kasih?”
James:
“Kalau aku pakai ini apa kau ingat?” (memakai topi)
Otak
Francis memutar ulang memori yang ada dalam kepalanya, dia mengingat
kejadian saat seseorang berjalan dengan santainya tanpa memikirkan
keadaan di sekitarnya. Setelah itu dia mendorong jatuh orang itu,
berikutnya ledakan menyusul. Setelah itu juga dia juga teringat saat
di mana dia meneriaki dan memarahi orang itu, Francis kini kembali
pada kenyataan.
Francis:
“Ooooh, yayaya. Aku ingat, aku ingat.” (menepuk tangan)
James:
(melepas topi) “Syukurlah, untung aku bisa bertemu lagi denganmu.”
Francis:
(berbalik) “Pulang ke tempatmu, aku masih ada urusan.”
James:
“Tunggu, tunggu, tunggu! Jangan begitu, setidaknya biarkan aku
membantumu. Apa kau tahu alasan kau tadi dipukuli wanita tadi?”
Francis:
“Tidak.”
James:
“Lihat baik-baik dirimu, mana ada orang yang mau bicara denganmu
dengan penampilan seperti itu.”
Francis:
“Memang kenapa dengan penampilanku? (melihat dirinya sendiri) Oh,
itu masalahnya.”
James:
“Lebih baik kau ganti saja bajumu, kebetulan aku bawa baju ganti.
Aku tak tahu apakah cocok denganmu, tapi lebih baik daripada kau tak
pakai apa-apa.”
Beberapa
saat kemudian, Francis sudah berganti baju. Dia memakai T-Shirt
berwarna hijau dengan gambar telapak tangan yang besar dan celana
jeans panjang, dia juga memakai gelang dari rantai di pergelangan
tangan kanannya. Francis langsung beranjak pergi, namun pergerakannya
dihentikan oleh James.
James:
“Hei, hei, hei! Jangan langsung pergi begitu saja, bukankah ada
sesuatu yang seharusnya kau lakukan setelah aku membantumu?”
Francis:
“Apa lagi? Aku harus mengupil dengan jari tengahku sambil tengkurap
seperti itu?”
James:
“Tentu saja tidak, lagipula itu kedengaran bodoh.”
Francis:
“Terima kasih atas bantuanmu, aku harus segera bergegas ke tempat
tujuanku.”
James:
“Itulah maksudku.”
Francis:
“Kalau bukan gara-gara dirimu aku pasti sudah sampai ke tempat
tujuanku, sekarang aku harus mencari alamatnya dengan bertanya kepada
seseorang. Ng, kenapa?”
James:
(mata berbinar-binar) “Aku bisa membantumu, boleh?”
Francis:
“Tidak, terima kasih. Aku sudah menyelamatkan nyawamu sekali, dan
aku ragu kesempatan itu akan datang lagi.”
James:
“Kalau begitu maukah kau bekerja untukku?”
Francis:
“Maaf?”
James:
“Jadilah pengawalku, dengan begitu kau bisa terus menyelamatkan
nyawaku.”
Francis:
“Aku tak bekerja untuk siapapun.”
James:
“Baiklah, kalau begitu setidaknya beritahu aku di mana tempat
tujuanmu.”
Francis:
“Armstrong Gate nomor 26.”
James:
“Tunggu sebentar, (mengeluarkan tablet PC) Armstrong Gate nomor 26.
Ini dia, berjalanlah lurus dari sini, kemudian ketika kau menemukan
perempatan beloklah ke kiri, setelah itu carilah bangunan dengan
tulisan nomor 26 di arah kananmu.”
Francis:
“Itu saja?”
James:
“Ayolah, aku sudah dua kali membantumu. Sekarang kau berhutang
padaku untuk menyelamatkan nyawaku sekali, jadi pikirkanlah...”
Francis:
“Tidak, aku takkan bekerja pada siapapun. Prioritasku saat ini
adalah untuk mengubah masa depan, kau takkan bisa membuatku berubah
pikiran.”
James:
“Baiklah, kalau begitu terimalah ini. Jika seandainya kau berubah
pikiran, hubungi saja nomor ini.” (memasukkan kartu nama ke dalam
saku celana Francis)
Francis:
“Tidak akan, sampai jumpa.”
Francis
langsung berlari lurus ke depan kemudian berbelok ke kiri seperti
saran James, dia sudah menghilang dari hadapan James. Dia sendiri
tersenyum simpul dan melihat waktu yang tertera di arlojinya, dia
kemudian memakai kembali topi dan menutupinya dengan tudung jaketnya.
Dia mengeluarkan handphone miliknya dan melihat foto Francis saat dia
sedang mengangkat truk, data foto itu kemudian diberi nama 'Zero'.
James:
“Kita akan bertemu lagi, setelah aku menyelesaikan urusanku.”
Francis
kini berada di dalam sebuah ruangan bersama Uchida, dia langsung
disetrum dengan jempol oleh Uchida.
Francis:
“Argh!!”
Uchida:
“Aku kan sudah bilang jangan sampai menarik perhatian orang
sekitar!”
Francis:
“Aku tidak melakukannya! Mereka duluan yang mulai! Siapa sangka
kalau aku akan diserang oleh robot 'Stealth', kejadian tabrakan itu
juga terjadi bukan karena kesalahanku!”
Uchida:
“Walaupun begitu kau tak boleh gegabah, kejadian itu sekarang sudah
diberitakan di televisi. Untungnya kejadian itu dianggap sebagai
kecelakaan lalu lintas biasa, mulai beberapa hari ini kau harus
bersamaku.”
Francis:
“Kenapa? Bukankah kau menyuruhku untuk tinggal bersama mereka
selama beberapa hari ini? Kau bahkan belum dengar cerita seluruhnya,
tidakkah kau mau dengar?”
Uchida:
“Memang, tapi kita mengalami perubahan rencana setelah kejadian
yang kau alami. Aku tak peduli apapun alasannya, tapi kau harus bisa
lebih berimprovisasi jika kejadian seperti itu terjadi lagi. Alat
penerjemah yang kuberikan padamu kau rusak lagi, aku sudah tak bisa
membantumu untuk sementara ini.”
Francis:
“Secara teknis, itu adalah kecelakaan dan bukan kesengajaan. Lalu
apa yang harus kulakukan sekarang?”
Uchida:
(menyerahkan kamus) “Ini.”
Francis:
“Apa ini? Kamus bahasa Inggris-Norwegia?”
Uchida:
“Kau akan berlatih bahasa Norwegia secara manual, dalam beberapa
hari ini kau harus bisa menghafalkan semua kata yang ada di dalam
sana.”
Francis:
“Lalu aku harus begitu saja menolak ajakan makan malam Ibu Gilda?”
Uchida:
“Tentu saja tidak, kau tetap datang ke sana. Kau masih punya waktu
2 jam sebelum malam, coba kau hafalkan saja beberapa kata yang
diperlukan untuk pembicaraan saat makan malam.”
Francis:
“Tapi paling tidak masker ini masih bisa kugunakan.” (memegang
masker)
Uchida:
(merebut masker) “Ini kusita.”
Francis:
(bengong) “......”
Di
suatu tempat yang gelap dan tersembunyi, terdengar suara yang
berisik. Dari dalam tanah muncul sebuah kendaraan dengan bor, tempat
itu ternyata adalah sebuah gua. Dari dalam lubang di mana kendaraan
bor itu muncul, terdengar suara langkah kaki. Beberapa robot dengan
mata seperti absorber keluar dari dalam lubang, mereka menarik muatan
yang ditutupi dengan kain. Di dalam gua itu mendadak muncul sebuah
pintu, ada beberapa robot absorber keluar dari dalam pintu disusul
oleh Jendral Drake yang wajahnya sama sekali masih misterius. Mereka
mendekati muatan yang baru saja dikeluarkan dari dalam lubang, dua
robot pengawal Jendral Drake membuka selubung muatan itu. Sebuah
cahaya hijau muncul dari dalam, Jendral Drake mendekat dan mengambil
sesuatu dari dalam sinar hijau. Di genggaman tangan Jendral Drake ada
kumpulan kerikil bersinar kehijauan, wajah Jendral Drake sendiri kini
terlihat jelas disinari oleh sinar kehijauan. Matanya seperti mata
ular yang menyala kemerahan, wajahnya penuh dengan totol berwarna
biru. Di matanya ada semacam bulu mata berbentuk tentakel,
seolah-olah di matanya ada cacing yang hidup. Tidak memiliki hidung
tapi punya dua lubang hidung di wajahnya, kepalanya botak dan tak
bertelinga. Dia kemudian meletakkan kembali kerikil-kerikil hijau itu
kembali ke tempatnya, dia kemudian memberi isyarat pada para absorber
untuk membawa muatan itu ke dalam pintu.
Drake:
“Sudah berapa banyak Ulkamium yang terkumpul?”
Absorber:
“Sekitar 27 megaton, termasuk dengan yang diperoleh sekarang.”
Drake:
“Baik, cukup untuk hari ini. Sisihkan 1 megaton dan bawa ke dalam
ruanganku, apa hari ini ada panggilan dari laboratorium cabang?”
Absorber:
“Mereka baru menghubungi 5 menit yang lalu, ada permintaan untuk
pengiriman 135 megaton Ulkamium dalam seminggu ini.”
Drake:
“Seminggu? Dalam seminggu ini hanya 27 megaton yang bisa kita
dapat, persediaan yang kita miliki sekarang hanya 57 megaton.
Bagaimana dengan stok Ulkamium yang berhasil direbut kembali?”
Absorber:
“Persediaan Ulkamium yang tersimpan saat ini adalah 84 megaton,
termasuk dengan yang didapat hari ini. Stok Ulkamium yang berhasil
direbut kembali adalah 39 megaton, jika ditotal akan menjadi 123
megaton.”
Drake:
“39 megaton berhasil direbut kembali? Tapi stok Ulkamium yang
dicuri berjumlah 45 megaton, ke mana sisanya?”
Absorber:
“Menurut informasi dari TDG, mereka telah mengolah sebagian dan
mengubahnya menjadi energi. Sisanya dikirimkan ke 4 negara di mana
cabang dari TDG berdiri untuk diteliti lebih lanjut... bzzzt.”
Absorber
itu hancur karena ditembak oleh Jendral Drake dengan tongkat yang dia
pegang sekarang, dia terlihat marah dan langsung berjalan menuju
pintu diikuti pengawal absorber yang tersisa. Ketika melewati pintu,
ruangan di dalamnya bergerak. Ternyata itu adalah semacam lift, lift
itu bergerak ke atas. Akhirnya lift itu berhenti, Jendral Drake
keluar dari dalamnya. Kini dia berada dalam sebuah ruangan penuh
monitor, dioperasikan oleh beberapa robot absorber.
Drake:
“Bagaimana dengan kabar subyek M46 N4 120 K?”
Absorber
1: “Flying Drone baru saja melaporkan bahwa mereka menemukannya,
namun kedua unit sudah dihancurkan oleh target.”
Drake:
“Memang tak semudah yang diperkirakan, berapa unit pasukan yang
kita miliki sekarang?”
Absorber
1: “33 unit Absolon dan 10 unit Flying Drone.”
Drake:
“Bagi menjadi 2 tim, masing-masing 5 Absolon dan 1 Flying Drone.
Flying Drone akan bertugas melakukan pencarian, Absolon bertugas
menangkap target jika berhasil ditemukan.”
Absorber
1: “Siap, Jendral Drake.”
Drake:
“Di mana saja mereka mengirim Ulkamium curian yang tersisa?”
Absorber
2: “New York, Moskow, Tokyo, dan Mesir.”
Drake:
“Kalau begitu segera beritahu markas yang terdekat dari sana untuk
melakukan investigasi sepenuhnya pada semua perusahaan TDG yang ada
di kota tersebut, mereka tahu apa yang harus dilakukan setelah
Ulkamium tersebut ditemukan.”
Absorber
2: “Siap, Jendral Drake.”
Drake:
“Apakah semua Abminer aktif dan siap untuk dipekerjakan besok?”
Absorber
3: “Negatif, Abminer akan bisa beroperasi lagi dalam 2-3 hari.
Hanya 3 unit yang bisa beroperasi maksimal dan masih bekerja sampai
saat ini, mereka akan kehabisan tenaga dalam 3 hari ini.”
Drake:
“Apa?! 2-3 hari?! Kita takkan punya waktu untuk itu, apalagi dengan
tenaga yang kita miliki sekarang. Aku tak perduli berapa banyak yang
akan kita dapatkan nanti, operasikan seluruh Abminer yang tersisa
sampai tenaga mereka habis sekarang juga! Ambil Ulkamium yang
berhasil mereka dapat setelah kehabisan tenaga, setelah itu isi ulang
tenaga mereka! Dalam waktu seminggu ini, aku tak mau mendengar ada
berita kegagalan apapun!”
Absorber
3: “Siap, Jendral Drake.”
Jendral
Drake berjalan menuju lift dan masuk ke dalamnya, lift itu kini
bergerak mundur. Di dalam lift, sesuatu terjadi pada dirinya. Matanya
yang tadinya merah menjadi hijau, dia kemudian jatuh berlutut. Pintu
lift kemudian terbuka, dia bangkit dan berjalan sempoyongan ke sebuah
meja. Dia menggebrak meja itu dan muncullah sebuah kotak dari dalam,
kotak itu kemudian dia buka dan sinar hijau muncul dari dalamnya. Di
dalamnya penuh dengan Ulkamium, Jendral Drake kemudian mengeluarkan
semacam botol dan membuka tutupnya. Botol itu kemudian dimasukkan ke
dalam kotak dan menyedot habis semua Ulkamium yang ada di dalamnya,
botol itu kemudian ditutup. Dia kemudian menekan tombol yang ada di
tutup botol, suara mendenging terdengar dari dalamnya dan botol itu
bergetar kencang. Botol itu berhenti bergetar, tutupnya kemudian
dibuka. Asap hijau keluar dari dalamnya, Jendral Drake menghirup
asapnya dalam-dalam. Matanya kini kembali menjadi merah namun hanya
sementara, isi botol itu kemudian dia teguk. Dari dalam botol keluar
cairan hijau yang masuk ke dalam mulutnya, botol itu dia jatuhkan
setelah semua isinya ditenggak habis. Dia ambruk dan terkapar di
lantai, tidak ada reaksi sama sekali setelah dia jatuh. Beberapa saat
kemudian, sesuatu terjadi dalam tubuhnya. Punggungnya menggembung,
dari dalamnya muncul sebuah tangan.
Di
dalam dimensi Crimson, Francis sedang mempraktekkan kemampuan baru
yang didapat dari baju tempurnya. Kristal di seluruh tubuhnya
bersinar merah, dia melayang-layang di dalam dimensi. Uchida sendiri
sekarang sedang mengawasinya lewat monitor, dia juga sedang melihat
acara televisi di monitor sebelahnya. Acara yang menayangkan tentang
kehidupan hewan, menampilkan dua anak harimau sedang bercanda.
Uchida:
“Kau siap?”
Francis:
“Kapanpun perintahmu.”
Uchida:
“Aku sudah mengatur dimensi ini selama satu jam, dalam jangka waktu
itu kau harus selesaikan latihanmu.”
Francis:
“Satu jam? Maksudmu ketika aku akan memakainya lagi nanti, aku
hanya bisa memakainya selama satu jam?”
Uchida:
“Sebenarnya tidak, waktu pemakaian akan kembali lagi seperti semula
tapi ada sedikit perbedaan saat kau memakainya nanti.”
Francis:
“Apa itu?”
Uchida:
“Rahasia, aku ingin itu menjadi sebuah kejutan untukmu. Lagipula
waktu satu jam itu cukup sampai waktu makan malam dengan keluarga
Welsley, kau yakin sudah mempelajari seluruh kata dalam bahasa
Norwegia?”
Francis:
“Kalaupun belum, bagaimana bisa aku bicara dengan dirimu dalam
bahasa Norwegia sampai saat ini?”
Uchida:
“Itu karena kau memakai helm yang menerjemahkan semua bahasa yang
kau dan diriku ucapkan, dasar tolol.”
Francis:
“Hei, aku ucapkan ini sungguh-sungguh dari hasil belajar. Aku tak
mau dikatai begitu oleh orang yang juga memakai penerjemah saat
berbicara denganku, kita mau terus berdebat atau mulai berlatih?”
Uchida:
“Aku ragukan itu, akan kumulai pelatihan sekarang. Bersiaplah, aku
sudah mengatur tingkat kesulitannya dari yang termudah aliasnya level
1.”
Sepasang
mata berwarna kuning muncul dari kaca helmnya, di sekitarnya muncul
beberapa bola besi. Sebuah bola besi meluncur langsung ke arah
Francis, dia memiringkan kepalanya ke kanan. Berikutnya, dua bola
besi datang. Kaki kanan dan tangan kirinya menghindari, sebuah bola
besi meluncur lagi dari belakangnya dan Francis menghindarinya dengan
memiringkan kepala ke kiri. Dua meluncur lagi, tangan kiri dan kaki
kanan menghindar. Dua meluncur ke kepalanya, dihindari dengan
menggerakkan kepala ke kiri dan kanan. Dua meluncur, pinggangnya
bergoyang ke kiri dan kanan. Uchida yang melihat kemudian terpikir
sebuah ide, ekspresi di matanya berubah menjadi seringai. Dia
mengetikkan sesuatu dengan beberapa jari-jari kecil yang keluar dari
jari-jarinya yang besar. Kini beberapa bola bergerak meluncur padanya
secara teratur, menyerang bagian tertentu dari tubuhnya. Pada awalnya
Francis masih menganggapnya sebagai latihan, namun lama-kelamaan dia
merasa ada yang aneh. Gerakan pada saat dia menghindari
serangan-serangan yang datang mirip dengan tarian, bersamaan dengan
itu Uchida juga mengaktifkan sistem woofer. Suara musik kemudian
terdengar, musik Bee Gees berjudul 'Stayin Alive'.
Uchida:
“Saturday Night Fever, baby!”
Dia
memutar tempat duduknya dan meloncat, ikut menari sesuai irama lagu.
Menggerakkan tangan ke atas dan bawah berkali-kali, lampu disko
muncul dari atas dan membuat seluruh ruangan gemerlap. Francis
akhirnya merasa jengkel, dia memutar kenop dan mengubah kristal di
tubuhnya menjadi kuning. Dia meluncur ke atas diikuti bola-bola itu,
dia juga menembakinya sambil terbang meluncur.
Francis:
“Uchida! Apa yang sebenarnya kau lakukan sekarang?!"
Tapi
Uchida sama sekali tidak mendengarkan sama sekali perkataan Francis,
dia masih asyik menari mengikuti irama musik. Namun dia ceroboh
karena tak sengaja menekan beberapa tombol ketika sedang menari,
layar monitor menunjukkan tulisan 'Aktifkan Level 2'. Bola-bola di
sekitar Francis mendadak berubah menjadi berduri, bola itu mendadak
menyerang dengan cepatnya. Francis menembak bola itu, namun hal itu
hanya membuat bola mental. Kecepatan serangan bola itu menjadi agak
cepat, sebuah bola kini sudah berada tepat di hadapan wajahnya.
Kepalanya dimiringkan ke kanan untuk menghindari, tapi helmnya
tergores oleh duri dari bola tersebut.
Francis:
“Sepertinya ini jadi agak serius, biar kucoba trik baru yang Uchida
masukkan.”
Francis
memutar kenop dan membuat semua kristal memerah, ia kemudian
memutarnya lagi 360 derajat ke kiri. Ia kemudian merentangkan kedua
tangannya ke depan, kristal merah di kedua tangannya kemudian
mengeluarkan serpihan merah. Serpihan-serpihan itu membentuk sesuatu
yang membungkus kedua tangannya, kini di kedua tangannya ada semacam
sarung tinju. Bola besi berduri menyerang lagi, kali ini Francis
mementalkan satu persatu bola yang datang menyerang.
Francis:
“Boleh juga, coba yang lain.”
Kali
ini sarung tinju itu berubah menjadi sepihan kembali dan masuk ke
dalam kristal di telapak tangannya, kini serpihan-serpihan keluar
dari kedua bahunya dan berubah bentuk menjadi sepasang godam. Ketika
bola besi berduri berdatangan, dia langsung mengambil godam tersebut
dan menggunakannya untuk memukul dan membuatnya terpental jauh.
Bola-bola itu saling bertabrakan dan hancur setelah didorong balik
oleh Francis, sementara itu level kesulitan naik menjadi tingkat 3
karena kecerobohan Uchida. Bola-bola di sekitarnya berhenti menyerang
dan diam di tempat, duri-durinya menghilang. Kini bola itu membelah,
muncul moncong pistol dari dalamnya. Dalam hitungan detik, Francis
dihujani tembakan laser kuning. Ledakan besar muncul, bola-bola itu
terus menembaki Francis yang tidak jelas keadaannya sekarang.
Beberapa menit kemudian, bola-bola itu berhenti menembak. Rupanya
Uchida baru menyadari kesalahannya dan menonaktifkan sistem, dengan
wajah berkeringat dia menyaksikan rekaman ulang tentang apa yang
terjadi ketika dia sedang menari.
Uchida:
“Gawat, aku sepertinya terlalu keasyikan. Kuharap dia baik-baik
saja, mudah-mudahan aku tak membunuhnya.”
Asap
ledakan yang tebal dalam dimensi Crimson perlahan-lahan menghilang,
dari dalam tampak siluet berbentuk bulat. Setelah asap menghilang
sepenuhnya, sosok benda bulat itu kini terlihat jelas. Uchida melihat
sebuah bola raksasa yang terbentuk dari kumpulan tameng berwarna
merah, begitu tahu apa yang dilihatnya dia menghembuskan nafas lega.
Uchida:
“Haah, jadi begitu? Coba kuhubungi, (menekan sebuah tombol) kau
baik-baik saja?”
Mendadak
muncul lubang dari tameng itu, dari dalam lubang muncul kait dan
rantai yang menyerang semua bola yang ada di sekitarnya. Semua bola
itu tertangkap dan ditarik ke dalam bola tameng, suara yang
memekakkan telinga kemudian terdengar dari dalam. Tameng-tameng itu
kemudian memudar, dari dalamnya nampak Francis yang memegang sebuah
bola besi seukuran bola sepak. Bola besi itu sendiri adalah satuan
dari bola-bola penyerang yang dia tangkap, diremas menjadi satu
dengan tangan kosong oleh Francis sendiri.
Francis:
“Keluarkan aku sekarang.”
Sementara
itu di suatu pusat perbelanjaan, seorang pemuda sedang ditemani
beberapa gadis cantik. Mereka semua tertawa terbahak-bahak, beberapa
di antaranya tampak terpikat dengan sang pemuda. Pemuda itu kemudian
melihat ponselnya, dia kemudian segera beranjak dari tempatnya.
?:
“Maaf, nona-nona. Sudah saatnya aku pergi.”
Gadis
1: “Eh, sekarang?”
Gadis
2: “Kenapa tidak bersama sedikit lagi?”
Gadis
3: “Kau akan menghubungi kami lagi bukan?”
Pemuda
itu memakai topi dan mengeluarkan kacamata hitam dari balik sakunya,
ternyata pemuda itu adalah James Yorgins yang tadi diselamatkan oleh
Francis.
James:
“Tentu saja jika aku ada waktu, tapi aku harus menjemput penyelamat
nyawaku untuk membalas budinya.”
No comments:
Post a Comment