Tuesday, February 5, 2013

Level 11


PELATIHAN

Oslo, Norwegia, 12 Oktober 2010, 15:00. Francis berada di atap gedung dengan keadaan compang-camping, seluruh bajunya robek-robek. Dia melepas topi dan maskernya, dia kemudian duduk sambil menunggu luka-lukanya sembuh dengan sendirinya.

Francis: “Jangan melakukan aksi yang menarik perhatian katanya, tapi maaf saja ya. Yang mulai duluan itu mereka, jadi jangan salahkan aku. Haaah, sekarang aku harus bagaimana?”

Francis kemudian melihat kembali kartu identitas yang dia bawa, dia melihat bagian alamat yang tertera di sana. Sementara itu di bawah gedung, mobil-mobil polisi dengan bunyi sirine yang keras melintas di bawah.

Francis: “Dan sekarang polisi datang untuk membereskan masalahnya, sekarang aku harus segera ke tempat Uchida. Dia bilang tempatnya berada di sekitar sini, kalau begitu aku tinggal bertanya pada orang-orang di bawah.”

Beberapa saat kemudian, Francis sudah berada di bawah. Namun tidak sesuai perkiraan Francis, dia mendapatkan sesuatu yang tak disangka. Seorang wanita memukuli kepalanya dengan tas dan dia kemudian berteriak kencang sambil berlari, Francis tak habis pikir apa yang jadi masalahnya. Dia tak menyadari bahwa dirinya yang dalam kondisi setengah telanjang adalah penyebabnya, dia hanya memakai masker, topi dari kain, celana, serta baju yang robek. Mendadak dia mendengar suara tawa dari belakangnya, dia menoleh ke belakang dan melihat seorang pemuda berambut pirang dan berwajah melankolis.

?: “Hahaha, betapa sialnya dirimu.”
Francis: (bahasa Norwegia) “Siapa kau?”
?: “Kita bicara dengan bahasa Inggris saja, lebih mudah bukan?”
Francis: (melepas masker) “Hmph, aku juga sudah mulai lelah mengenakan ini.”
?: “Perkenalkan, James Yorgins.” (menjabat tangan Francis)
Francis: “Baiklah, ada keperluan apa James?”
James: “Kenapa kau tak sebutkan dulu siapa namamu?”
Francis: “Francis Zero, sekarang bisa kau beritahu aku apa maumu?”
James: “Aku ingin berterima kasih atas pertolonganmu barusan, walau kuakui bagian jatuh ke lubang tadi agak menyakitkan.”
Francis: “Lubang? Terima kasih?”
James: “Kalau aku pakai ini apa kau ingat?” (memakai topi)

Otak Francis memutar ulang memori yang ada dalam kepalanya, dia mengingat kejadian saat seseorang berjalan dengan santainya tanpa memikirkan keadaan di sekitarnya. Setelah itu dia mendorong jatuh orang itu, berikutnya ledakan menyusul. Setelah itu juga dia juga teringat saat di mana dia meneriaki dan memarahi orang itu, Francis kini kembali pada kenyataan.

Francis: “Ooooh, yayaya. Aku ingat, aku ingat.” (menepuk tangan)
James: (melepas topi) “Syukurlah, untung aku bisa bertemu lagi denganmu.”
Francis: (berbalik) “Pulang ke tempatmu, aku masih ada urusan.”
James: “Tunggu, tunggu, tunggu! Jangan begitu, setidaknya biarkan aku membantumu. Apa kau tahu alasan kau tadi dipukuli wanita tadi?”
Francis: “Tidak.”
James: “Lihat baik-baik dirimu, mana ada orang yang mau bicara denganmu dengan penampilan seperti itu.”
Francis: “Memang kenapa dengan penampilanku? (melihat dirinya sendiri) Oh, itu masalahnya.”
James: “Lebih baik kau ganti saja bajumu, kebetulan aku bawa baju ganti. Aku tak tahu apakah cocok denganmu, tapi lebih baik daripada kau tak pakai apa-apa.”

Beberapa saat kemudian, Francis sudah berganti baju. Dia memakai T-Shirt berwarna hijau dengan gambar telapak tangan yang besar dan celana jeans panjang, dia juga memakai gelang dari rantai di pergelangan tangan kanannya. Francis langsung beranjak pergi, namun pergerakannya dihentikan oleh James.

James: “Hei, hei, hei! Jangan langsung pergi begitu saja, bukankah ada sesuatu yang seharusnya kau lakukan setelah aku membantumu?”
Francis: “Apa lagi? Aku harus mengupil dengan jari tengahku sambil tengkurap seperti itu?”
James: “Tentu saja tidak, lagipula itu kedengaran bodoh.”
Francis: “Terima kasih atas bantuanmu, aku harus segera bergegas ke tempat tujuanku.”
James: “Itulah maksudku.”
Francis: “Kalau bukan gara-gara dirimu aku pasti sudah sampai ke tempat tujuanku, sekarang aku harus mencari alamatnya dengan bertanya kepada seseorang. Ng, kenapa?”
James: (mata berbinar-binar) “Aku bisa membantumu, boleh?”
Francis: “Tidak, terima kasih. Aku sudah menyelamatkan nyawamu sekali, dan aku ragu kesempatan itu akan datang lagi.”
James: “Kalau begitu maukah kau bekerja untukku?”
Francis: “Maaf?”
James: “Jadilah pengawalku, dengan begitu kau bisa terus menyelamatkan nyawaku.”
Francis: “Aku tak bekerja untuk siapapun.”
James: “Baiklah, kalau begitu setidaknya beritahu aku di mana tempat tujuanmu.”
Francis: “Armstrong Gate nomor 26.”
James: “Tunggu sebentar, (mengeluarkan tablet PC) Armstrong Gate nomor 26. Ini dia, berjalanlah lurus dari sini, kemudian ketika kau menemukan perempatan beloklah ke kiri, setelah itu carilah bangunan dengan tulisan nomor 26 di arah kananmu.”
Francis: “Itu saja?”
James: “Ayolah, aku sudah dua kali membantumu. Sekarang kau berhutang padaku untuk menyelamatkan nyawaku sekali, jadi pikirkanlah...”
Francis: “Tidak, aku takkan bekerja pada siapapun. Prioritasku saat ini adalah untuk mengubah masa depan, kau takkan bisa membuatku berubah pikiran.”
James: “Baiklah, kalau begitu terimalah ini. Jika seandainya kau berubah pikiran, hubungi saja nomor ini.” (memasukkan kartu nama ke dalam saku celana Francis)
Francis: “Tidak akan, sampai jumpa.”

Francis langsung berlari lurus ke depan kemudian berbelok ke kiri seperti saran James, dia sudah menghilang dari hadapan James. Dia sendiri tersenyum simpul dan melihat waktu yang tertera di arlojinya, dia kemudian memakai kembali topi dan menutupinya dengan tudung jaketnya. Dia mengeluarkan handphone miliknya dan melihat foto Francis saat dia sedang mengangkat truk, data foto itu kemudian diberi nama 'Zero'.

James: “Kita akan bertemu lagi, setelah aku menyelesaikan urusanku.”


Francis kini berada di dalam sebuah ruangan bersama Uchida, dia langsung disetrum dengan jempol oleh Uchida.

Francis: “Argh!!”
Uchida: “Aku kan sudah bilang jangan sampai menarik perhatian orang sekitar!”
Francis: “Aku tidak melakukannya! Mereka duluan yang mulai! Siapa sangka kalau aku akan diserang oleh robot 'Stealth', kejadian tabrakan itu juga terjadi bukan karena kesalahanku!”
Uchida: “Walaupun begitu kau tak boleh gegabah, kejadian itu sekarang sudah diberitakan di televisi. Untungnya kejadian itu dianggap sebagai kecelakaan lalu lintas biasa, mulai beberapa hari ini kau harus bersamaku.”
Francis: “Kenapa? Bukankah kau menyuruhku untuk tinggal bersama mereka selama beberapa hari ini? Kau bahkan belum dengar cerita seluruhnya, tidakkah kau mau dengar?”
Uchida: “Memang, tapi kita mengalami perubahan rencana setelah kejadian yang kau alami. Aku tak peduli apapun alasannya, tapi kau harus bisa lebih berimprovisasi jika kejadian seperti itu terjadi lagi. Alat penerjemah yang kuberikan padamu kau rusak lagi, aku sudah tak bisa membantumu untuk sementara ini.”
Francis: “Secara teknis, itu adalah kecelakaan dan bukan kesengajaan. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?”
Uchida: (menyerahkan kamus) “Ini.”
Francis: “Apa ini? Kamus bahasa Inggris-Norwegia?”
Uchida: “Kau akan berlatih bahasa Norwegia secara manual, dalam beberapa hari ini kau harus bisa menghafalkan semua kata yang ada di dalam sana.”
Francis: “Lalu aku harus begitu saja menolak ajakan makan malam Ibu Gilda?”
Uchida: “Tentu saja tidak, kau tetap datang ke sana. Kau masih punya waktu 2 jam sebelum malam, coba kau hafalkan saja beberapa kata yang diperlukan untuk pembicaraan saat makan malam.”
Francis: “Tapi paling tidak masker ini masih bisa kugunakan.” (memegang masker)
Uchida: (merebut masker) “Ini kusita.”
Francis: (bengong) “......”


Di suatu tempat yang gelap dan tersembunyi, terdengar suara yang berisik. Dari dalam tanah muncul sebuah kendaraan dengan bor, tempat itu ternyata adalah sebuah gua. Dari dalam lubang di mana kendaraan bor itu muncul, terdengar suara langkah kaki. Beberapa robot dengan mata seperti absorber keluar dari dalam lubang, mereka menarik muatan yang ditutupi dengan kain. Di dalam gua itu mendadak muncul sebuah pintu, ada beberapa robot absorber keluar dari dalam pintu disusul oleh Jendral Drake yang wajahnya sama sekali masih misterius. Mereka mendekati muatan yang baru saja dikeluarkan dari dalam lubang, dua robot pengawal Jendral Drake membuka selubung muatan itu. Sebuah cahaya hijau muncul dari dalam, Jendral Drake mendekat dan mengambil sesuatu dari dalam sinar hijau. Di genggaman tangan Jendral Drake ada kumpulan kerikil bersinar kehijauan, wajah Jendral Drake sendiri kini terlihat jelas disinari oleh sinar kehijauan. Matanya seperti mata ular yang menyala kemerahan, wajahnya penuh dengan totol berwarna biru. Di matanya ada semacam bulu mata berbentuk tentakel, seolah-olah di matanya ada cacing yang hidup. Tidak memiliki hidung tapi punya dua lubang hidung di wajahnya, kepalanya botak dan tak bertelinga. Dia kemudian meletakkan kembali kerikil-kerikil hijau itu kembali ke tempatnya, dia kemudian memberi isyarat pada para absorber untuk membawa muatan itu ke dalam pintu.

Drake: “Sudah berapa banyak Ulkamium yang terkumpul?”
Absorber: “Sekitar 27 megaton, termasuk dengan yang diperoleh sekarang.”
Drake: “Baik, cukup untuk hari ini. Sisihkan 1 megaton dan bawa ke dalam ruanganku, apa hari ini ada panggilan dari laboratorium cabang?”
Absorber: “Mereka baru menghubungi 5 menit yang lalu, ada permintaan untuk pengiriman 135 megaton Ulkamium dalam seminggu ini.”
Drake: “Seminggu? Dalam seminggu ini hanya 27 megaton yang bisa kita dapat, persediaan yang kita miliki sekarang hanya 57 megaton. Bagaimana dengan stok Ulkamium yang berhasil direbut kembali?”
Absorber: “Persediaan Ulkamium yang tersimpan saat ini adalah 84 megaton, termasuk dengan yang didapat hari ini. Stok Ulkamium yang berhasil direbut kembali adalah 39 megaton, jika ditotal akan menjadi 123 megaton.”
Drake: “39 megaton berhasil direbut kembali? Tapi stok Ulkamium yang dicuri berjumlah 45 megaton, ke mana sisanya?”
Absorber: “Menurut informasi dari TDG, mereka telah mengolah sebagian dan mengubahnya menjadi energi. Sisanya dikirimkan ke 4 negara di mana cabang dari TDG berdiri untuk diteliti lebih lanjut... bzzzt.”

Absorber itu hancur karena ditembak oleh Jendral Drake dengan tongkat yang dia pegang sekarang, dia terlihat marah dan langsung berjalan menuju pintu diikuti pengawal absorber yang tersisa. Ketika melewati pintu, ruangan di dalamnya bergerak. Ternyata itu adalah semacam lift, lift itu bergerak ke atas. Akhirnya lift itu berhenti, Jendral Drake keluar dari dalamnya. Kini dia berada dalam sebuah ruangan penuh monitor, dioperasikan oleh beberapa robot absorber.

Drake: “Bagaimana dengan kabar subyek M46 N4 120 K?”
Absorber 1: “Flying Drone baru saja melaporkan bahwa mereka menemukannya, namun kedua unit sudah dihancurkan oleh target.”
Drake: “Memang tak semudah yang diperkirakan, berapa unit pasukan yang kita miliki sekarang?”
Absorber 1: “33 unit Absolon dan 10 unit Flying Drone.”
Drake: “Bagi menjadi 2 tim, masing-masing 5 Absolon dan 1 Flying Drone. Flying Drone akan bertugas melakukan pencarian, Absolon bertugas menangkap target jika berhasil ditemukan.”
Absorber 1: “Siap, Jendral Drake.”
Drake: “Di mana saja mereka mengirim Ulkamium curian yang tersisa?”
Absorber 2: “New York, Moskow, Tokyo, dan Mesir.”
Drake: “Kalau begitu segera beritahu markas yang terdekat dari sana untuk melakukan investigasi sepenuhnya pada semua perusahaan TDG yang ada di kota tersebut, mereka tahu apa yang harus dilakukan setelah Ulkamium tersebut ditemukan.”
Absorber 2: “Siap, Jendral Drake.”
Drake: “Apakah semua Abminer aktif dan siap untuk dipekerjakan besok?”
Absorber 3: “Negatif, Abminer akan bisa beroperasi lagi dalam 2-3 hari. Hanya 3 unit yang bisa beroperasi maksimal dan masih bekerja sampai saat ini, mereka akan kehabisan tenaga dalam 3 hari ini.”
Drake: “Apa?! 2-3 hari?! Kita takkan punya waktu untuk itu, apalagi dengan tenaga yang kita miliki sekarang. Aku tak perduli berapa banyak yang akan kita dapatkan nanti, operasikan seluruh Abminer yang tersisa sampai tenaga mereka habis sekarang juga! Ambil Ulkamium yang berhasil mereka dapat setelah kehabisan tenaga, setelah itu isi ulang tenaga mereka! Dalam waktu seminggu ini, aku tak mau mendengar ada berita kegagalan apapun!”
Absorber 3: “Siap, Jendral Drake.”

Jendral Drake berjalan menuju lift dan masuk ke dalamnya, lift itu kini bergerak mundur. Di dalam lift, sesuatu terjadi pada dirinya. Matanya yang tadinya merah menjadi hijau, dia kemudian jatuh berlutut. Pintu lift kemudian terbuka, dia bangkit dan berjalan sempoyongan ke sebuah meja. Dia menggebrak meja itu dan muncullah sebuah kotak dari dalam, kotak itu kemudian dia buka dan sinar hijau muncul dari dalamnya. Di dalamnya penuh dengan Ulkamium, Jendral Drake kemudian mengeluarkan semacam botol dan membuka tutupnya. Botol itu kemudian dimasukkan ke dalam kotak dan menyedot habis semua Ulkamium yang ada di dalamnya, botol itu kemudian ditutup. Dia kemudian menekan tombol yang ada di tutup botol, suara mendenging terdengar dari dalamnya dan botol itu bergetar kencang. Botol itu berhenti bergetar, tutupnya kemudian dibuka. Asap hijau keluar dari dalamnya, Jendral Drake menghirup asapnya dalam-dalam. Matanya kini kembali menjadi merah namun hanya sementara, isi botol itu kemudian dia teguk. Dari dalam botol keluar cairan hijau yang masuk ke dalam mulutnya, botol itu dia jatuhkan setelah semua isinya ditenggak habis. Dia ambruk dan terkapar di lantai, tidak ada reaksi sama sekali setelah dia jatuh. Beberapa saat kemudian, sesuatu terjadi dalam tubuhnya. Punggungnya menggembung, dari dalamnya muncul sebuah tangan.


Di dalam dimensi Crimson, Francis sedang mempraktekkan kemampuan baru yang didapat dari baju tempurnya. Kristal di seluruh tubuhnya bersinar merah, dia melayang-layang di dalam dimensi. Uchida sendiri sekarang sedang mengawasinya lewat monitor, dia juga sedang melihat acara televisi di monitor sebelahnya. Acara yang menayangkan tentang kehidupan hewan, menampilkan dua anak harimau sedang bercanda.

Uchida: “Kau siap?”
Francis: “Kapanpun perintahmu.”
Uchida: “Aku sudah mengatur dimensi ini selama satu jam, dalam jangka waktu itu kau harus selesaikan latihanmu.”
Francis: “Satu jam? Maksudmu ketika aku akan memakainya lagi nanti, aku hanya bisa memakainya selama satu jam?”
Uchida: “Sebenarnya tidak, waktu pemakaian akan kembali lagi seperti semula tapi ada sedikit perbedaan saat kau memakainya nanti.”
Francis: “Apa itu?”
Uchida: “Rahasia, aku ingin itu menjadi sebuah kejutan untukmu. Lagipula waktu satu jam itu cukup sampai waktu makan malam dengan keluarga Welsley, kau yakin sudah mempelajari seluruh kata dalam bahasa Norwegia?”
Francis: “Kalaupun belum, bagaimana bisa aku bicara dengan dirimu dalam bahasa Norwegia sampai saat ini?”
Uchida: “Itu karena kau memakai helm yang menerjemahkan semua bahasa yang kau dan diriku ucapkan, dasar tolol.”
Francis: “Hei, aku ucapkan ini sungguh-sungguh dari hasil belajar. Aku tak mau dikatai begitu oleh orang yang juga memakai penerjemah saat berbicara denganku, kita mau terus berdebat atau mulai berlatih?”
Uchida: “Aku ragukan itu, akan kumulai pelatihan sekarang. Bersiaplah, aku sudah mengatur tingkat kesulitannya dari yang termudah aliasnya level 1.”

Sepasang mata berwarna kuning muncul dari kaca helmnya, di sekitarnya muncul beberapa bola besi. Sebuah bola besi meluncur langsung ke arah Francis, dia memiringkan kepalanya ke kanan. Berikutnya, dua bola besi datang. Kaki kanan dan tangan kirinya menghindari, sebuah bola besi meluncur lagi dari belakangnya dan Francis menghindarinya dengan memiringkan kepala ke kiri. Dua meluncur lagi, tangan kiri dan kaki kanan menghindar. Dua meluncur ke kepalanya, dihindari dengan menggerakkan kepala ke kiri dan kanan. Dua meluncur, pinggangnya bergoyang ke kiri dan kanan. Uchida yang melihat kemudian terpikir sebuah ide, ekspresi di matanya berubah menjadi seringai. Dia mengetikkan sesuatu dengan beberapa jari-jari kecil yang keluar dari jari-jarinya yang besar. Kini beberapa bola bergerak meluncur padanya secara teratur, menyerang bagian tertentu dari tubuhnya. Pada awalnya Francis masih menganggapnya sebagai latihan, namun lama-kelamaan dia merasa ada yang aneh. Gerakan pada saat dia menghindari serangan-serangan yang datang mirip dengan tarian, bersamaan dengan itu Uchida juga mengaktifkan sistem woofer. Suara musik kemudian terdengar, musik Bee Gees berjudul 'Stayin Alive'.

Uchida: “Saturday Night Fever, baby!”

Dia memutar tempat duduknya dan meloncat, ikut menari sesuai irama lagu. Menggerakkan tangan ke atas dan bawah berkali-kali, lampu disko muncul dari atas dan membuat seluruh ruangan gemerlap. Francis akhirnya merasa jengkel, dia memutar kenop dan mengubah kristal di tubuhnya menjadi kuning. Dia meluncur ke atas diikuti bola-bola itu, dia juga menembakinya sambil terbang meluncur.

Francis: “Uchida! Apa yang sebenarnya kau lakukan sekarang?!"

Tapi Uchida sama sekali tidak mendengarkan sama sekali perkataan Francis, dia masih asyik menari mengikuti irama musik. Namun dia ceroboh karena tak sengaja menekan beberapa tombol ketika sedang menari, layar monitor menunjukkan tulisan 'Aktifkan Level 2'. Bola-bola di sekitar Francis mendadak berubah menjadi berduri, bola itu mendadak menyerang dengan cepatnya. Francis menembak bola itu, namun hal itu hanya membuat bola mental. Kecepatan serangan bola itu menjadi agak cepat, sebuah bola kini sudah berada tepat di hadapan wajahnya. Kepalanya dimiringkan ke kanan untuk menghindari, tapi helmnya tergores oleh duri dari bola tersebut.

Francis: “Sepertinya ini jadi agak serius, biar kucoba trik baru yang Uchida masukkan.”

Francis memutar kenop dan membuat semua kristal memerah, ia kemudian memutarnya lagi 360 derajat ke kiri. Ia kemudian merentangkan kedua tangannya ke depan, kristal merah di kedua tangannya kemudian mengeluarkan serpihan merah. Serpihan-serpihan itu membentuk sesuatu yang membungkus kedua tangannya, kini di kedua tangannya ada semacam sarung tinju. Bola besi berduri menyerang lagi, kali ini Francis mementalkan satu persatu bola yang datang menyerang.

Francis: “Boleh juga, coba yang lain.”

Kali ini sarung tinju itu berubah menjadi sepihan kembali dan masuk ke dalam kristal di telapak tangannya, kini serpihan-serpihan keluar dari kedua bahunya dan berubah bentuk menjadi sepasang godam. Ketika bola besi berduri berdatangan, dia langsung mengambil godam tersebut dan menggunakannya untuk memukul dan membuatnya terpental jauh. Bola-bola itu saling bertabrakan dan hancur setelah didorong balik oleh Francis, sementara itu level kesulitan naik menjadi tingkat 3 karena kecerobohan Uchida. Bola-bola di sekitarnya berhenti menyerang dan diam di tempat, duri-durinya menghilang. Kini bola itu membelah, muncul moncong pistol dari dalamnya. Dalam hitungan detik, Francis dihujani tembakan laser kuning. Ledakan besar muncul, bola-bola itu terus menembaki Francis yang tidak jelas keadaannya sekarang. Beberapa menit kemudian, bola-bola itu berhenti menembak. Rupanya Uchida baru menyadari kesalahannya dan menonaktifkan sistem, dengan wajah berkeringat dia menyaksikan rekaman ulang tentang apa yang terjadi ketika dia sedang menari.

Uchida: “Gawat, aku sepertinya terlalu keasyikan. Kuharap dia baik-baik saja, mudah-mudahan aku tak membunuhnya.”

Asap ledakan yang tebal dalam dimensi Crimson perlahan-lahan menghilang, dari dalam tampak siluet berbentuk bulat. Setelah asap menghilang sepenuhnya, sosok benda bulat itu kini terlihat jelas. Uchida melihat sebuah bola raksasa yang terbentuk dari kumpulan tameng berwarna merah, begitu tahu apa yang dilihatnya dia menghembuskan nafas lega.

Uchida: “Haah, jadi begitu? Coba kuhubungi, (menekan sebuah tombol) kau baik-baik saja?”

Mendadak muncul lubang dari tameng itu, dari dalam lubang muncul kait dan rantai yang menyerang semua bola yang ada di sekitarnya. Semua bola itu tertangkap dan ditarik ke dalam bola tameng, suara yang memekakkan telinga kemudian terdengar dari dalam. Tameng-tameng itu kemudian memudar, dari dalamnya nampak Francis yang memegang sebuah bola besi seukuran bola sepak. Bola besi itu sendiri adalah satuan dari bola-bola penyerang yang dia tangkap, diremas menjadi satu dengan tangan kosong oleh Francis sendiri.

Francis: “Keluarkan aku sekarang.”


Sementara itu di suatu pusat perbelanjaan, seorang pemuda sedang ditemani beberapa gadis cantik. Mereka semua tertawa terbahak-bahak, beberapa di antaranya tampak terpikat dengan sang pemuda. Pemuda itu kemudian melihat ponselnya, dia kemudian segera beranjak dari tempatnya.

?: “Maaf, nona-nona. Sudah saatnya aku pergi.”
Gadis 1: “Eh, sekarang?”
Gadis 2: “Kenapa tidak bersama sedikit lagi?”
Gadis 3: “Kau akan menghubungi kami lagi bukan?”

Pemuda itu memakai topi dan mengeluarkan kacamata hitam dari balik sakunya, ternyata pemuda itu adalah James Yorgins yang tadi diselamatkan oleh Francis.

James: “Tentu saja jika aku ada waktu, tapi aku harus menjemput penyelamat nyawaku untuk membalas budinya.”

No comments:

Post a Comment