Thursday, November 27, 2014

Level 36



LABA-LABA

            New York, Amerika Serikat, 19 Oktober 2010, 16:30. Di kediaman milik Max, James bersama dengan Megan kini sedang bermain bersama dengan pria misterius. Mereka bertiga duduk melingkar di meja, Max dan ibunya sudah mundur dari permainan dan sedang bergabung bersama Roy dan rombongan badut yang sedang beristirahat. Seluruh anak-anak sudah pulang bersama dengan orang tuanya, Uchida sendiri hanya berdiri diam di pinggir jalan. Max dan Roy nampak sangat kelelahan, kepala mereka diletakkan di atas meja.

Roy: “Ugh, aku sudah terlalu lelah.”
Ibu Max: “Kau sudah bekerja keras, kenapa kau terlihat muram?”
Roy: “Setelah ini aku harus kembali ke kantor untuk mengantarkan produk yang masih dalam tahap percobaan, lalu setelah itu aku harus menjemput nyonya besar untuk makan malam di mansion.”
Max: “Kau masih beruntung, aku harus membuat proposal desain game sebanyak 100 halaman dan mengumpulkannya besok. Ditambah dengan itu, (memandang Uchida) pekerjaanku jadi dua kali lipat dari milikmu.”
Roy: “Ngomong-ngomong, apa yang sedang mereka lakukan?” (memandangi James dan Megan dari kejauhan)
Max: “Mereka sedang bermain kartu, tadinya kami juga sempat bermain tapi kami memutuskan untuk mengundurkan diri.”
Roy: “Oh, lalu kenapa kalian mundur?”
Max: “Aku mundur atas keinginanku sendiri, ibu diminta mundur oleh James. Keputusan yang tepat, kami bisa bangkrut kalau kami bermain lebih dari ini.”
Ibu Max: “Tapi karyawan itu baik sekali sampai memberikanku setangkai bunga mawar.”
Roy: “Karyawan?”
Ibu Max: “Pria seperti pesulap yang ada di sana, kau lihat?”

            Roy bangkit dan melihat Megan dan James, mereka duduk bersama dengan pria misterius. Ketika Roy hendak beranjak dari tempatnya, sebuah mobil Lamborghini berhenti tepat di hadapannya. Yang mengendarai mobil itu adalah Olivia, dia beranjak keluar dari mobilnya sambil membawa sebuah koper.

Olivia: “Di mana nona Megan?”
Roy: “Di seberang sana, tapi ada sesuatu yang gawat.”

            Sementara itu, James, Megan, dan sang pria misterius masih bermain kartu. Pria misterius itu mengocok kartu secara cepat, gerakan tangannya tak bisa terbaca oleh mata. Kartu-kartu itu kemudian dilemparkan dan mendarat di atas meja, 5 lembar kartu tertutup dan dua kartu yang terbuka untuk masing-masing orang.

?: “Ini sudah babak terakhir, semakin sulit dari yang kalian perkirakan.”
James: “Dan belum ada satupun yang berhasil kau ambil dari kami.”
?: “Tapi bukankah kalian senang setelah kuberikan hadiahnya?”
Megan: “Walaupun kau bilang begitu... sudah terlalu banyak bunga yang kau berikan kepadaku.”

            Di belakang Megan dan di atas meja sudah terdapat banyak karangan bunga, sementara James sendiri diberikan bermacam-macam buah-buahan di bawah meja.

James: “Apa kau ini petani?”
?: “Tidak, aku hanya... seekor laba-laba.”
Megan: “Apa maksudmu?”
?: “Aku hanya menangkap mangsa ketika dia sudah terjebak dalam perangkapku, itu saja. Ngomong-ngomong, ada dua ekor lalat yang sepertinya hendak terjerat dalam jaringku.”

            James sadar saat melihat Olivia dan Roy berjalan menuju ke tempat dia berada, namun mendadak Uchida menghalangi mereka.

Roy: “Hey, apa yang kau lakukan?”
Olivia: “Tolong minggir.”
Uchida: “Kalian minta sekalipun, aku tak bisa melakukannya.”

            Mendadak Uchida merentangkan kedua tangannya ke depan dan hendak menangkap mereka, tapi hal itu hanya membuat mereka terdorong karena tangannya memakai sarung tangan boneka. Roy jatuh ke belakang, kali ini tubuhnya ditekan oleh salah satu tangan Uchida.

Roy: “Argh!”
Olivia: “Apa maksudmu?”
Uchida: “Aku kena hack.”

            Sementara itu James dan Megan tidak bisa bergerak dari kursi mereka dan hanya bisa melihat Uchida menghalangi Olivia dan Roy, mendadak Megan mengambil kartu-kartu yang tertutup dan mengambil dua buah kartu. Salah satu dari kartu itu persis dengan yang dimiliki Megan, sebuah as wajik. Tapi dia mendapat kartu yang berbeda dari 3 hati miliknya, sebuah kartu 7 sekop.

?: “Ah, sayang sekali. Kau hanya benar satu, aku akan ambil... Ulysses.
           
            Megan mengeluarkan selembar uang 100 Dollar dan memberikannya kepada pria tersebut, tapi dia hanya memandangi uang itu dan tidak menerimanya.

Megan: “Kenapa? Tidak punya kembalian?”
?: (mendesah) “Maaf saja, tapi memberikan uang bukan sifatku. Sebenarnya aku tahu kau tidak memilikinya, tapi pelayanmu itu punya.” (memandang Olivia)
Megan:  (menyimpan uangnya lagi) “Dan kalau kau dapat uangnya, aku bisa pergi dari sini?”
?: “Sayangnya tidak, keputusan itu hanya bisa ditentukan oleh kakakmu. Tiga kartu tersisa, kau harus memilih. Ulysses akan kuambil, setelah ini selesai.”
James: “Bagaimana kalau aku salah?”
?: “Kalian bisa pergi, tapi yang besar tetap di sini. Aku sendiri yakin kau bisa, di depanku sendiri adalah pemuda yang pernah memenangkan setidaknya 200 juta dollar di meja roullete di Vegas.”
Megan: (memandang kesal James) “Memang sejak kapan kau ke Vegas?”
James: “Jangan bahas hal itu, yang terpenting sekarang adalah ini.”
?: “Itu benar, jika kau tak cepat menyelesaikan ini mungkin akan ada banyak yang mati. Tapi jika kau tepat, yang mati cukup seekor saja.”
James: “Maaf, tapi takkan ada yang mati untuk hari ini. Kalau aku menang, beritahu aku siapa dirimu.”
?: “Dengan senang hati, aku bisa jadi teman ataupun musuhmu. Semuanya tergantung padamu, tubuhnya tidak akan bertahan lama setelah ini.”

            James mengamati secara seksama pada tiga kartu yang tertutup, sementara itu Roy dan Olivia menghindari serangan dari Uchida. Roy hanya bisa berlari ke sana kemari dikejar oleh tangan yang terbang, sedangkan Olivia denga lincahnya menghindari semua serangan dari tangan satunya. Para staf, Max, ibunya, dan orang-orang yang kebetulan lewat hanya menyaksikan dari jauh, ada beberapa orang yang mengambil foto dengan kamera HP.

Ibu Max: “Apa ada pertunjukan tambahan?”
Max: “Ibu, biarkan saja mereka dan siapkan makan malam.”
Ibu Max: “Ibu sudah memasak, ambil saja sendiri makanannya.”
Max: “Kalau begitu aku duluan.”

            James sudah mengambil sebuah kartu yang sama dengan miliknya, sebuah raja hati. Pada saat bersamaan, Olivia menaiki tangan Uchida dan menghantam kepalanya dengan koper yang dia bawa. Kepalanya berputar-putar tanpa henti, membuat dia kehilangan kendali atas kedua tangannya. Secara tidak sengaja, sebuah tangan menghantam tubuh Max yang kebetulan lewat dan membuatnya terlempar ke tong sampah. Mendadak dari tubuh Uchida keluar aliran listrik yang membuat lampu di daerah sekitar pecah, orang-orang mulai berlarian ke segala arah karena panik. Olivia langsung memberi aba-aba kepada para staf yang sedang beristirahat dengan membuat semacam sandi menggunakan gerakan tangannya, para staf langsung bubar dan berlari menuju ke kendaraan perusahaan.

James: “Mulai semakin seru.”
Megan: “Hey! Ini bukan seru tapi gawat!”
?: “Kau belum lihat bagian terbaiknya.”
James: “Aku sudah memilih, kau tak perlu memberitahuku kau berada di pihak siapa.”

            Mendadak, salah satu tangan Uchida meluncur dan menabrak meja tempat James berada. Seluruh kartu, bunga-bunga, dan buah-buahan beterbangan di hadapan mereka. Dua kartu yang tertutup itu kini berada di udara, James dan sang pria mencoba menangkapnya. Mereka berhasil menangkap masing-masing satu kartu, kedua tangan mereka saling bersilang dan di hadapan wajah mereka ada sebuah kartu yang sudah ditangkap. Mereka berdua tersenyum ketika melihat kartu yang diperlihatkan, Megan melihat mereka sambil tiarap.

James: (memperlihatkan as sekop) “Aku mengerti, kau netral.”
?: “(memperlihatkan Joker) “Bisa dikatakan begitu, tapi...”

            Pria itu kemudian melemparkan kartu Joker yang dipegangnya ke arah Uchida, kartu itu menancap di tubuhnya. Kepalanya yang terus berputar-putar perlahan-lahan berhenti dan terjatuh di semak-semak, semua anggota tubuhnya yang melayang-layang terjatuh dan tidak bergerak sama sekali.

?: “Aku sudah katakan padamu, yang mati cukup seekor saja.”
James: “Apa itu tidak berlebihan?”

            Mendadak kepala pria tersebut ditodong pistol oleh Olivia sudah berada di sebelah kirinya, para staf yang sudah tak berpenampilan badut dan sudah berganti berseragam lengkap kini berpencar ke segala penjuru dan memperbaiki lampu-lampu yang pecah. Roy sendiri mengumumkan sesuatu pada orang-orang yang tadinya panik, tidak ada yang terluka dalam kejadian tersebut.

Roy: “Mohon maaf, tuan-tuan dan nona-nona. Ada kesalahan teknis pada produk percobaan kami saat ini sehingga menimbulkan ketidaknyamanan, karena itulah kami mohon segera meninggalkan tempat ini. Bagi kalian yang terkena luka atau tidak senang karena kejadian barusan, kami memberikan servis spesial berupa pembagian produk gratis dari kami. Silahkan ikuti staf kami ke area tertentu, mohon maaf sekali lagi atas ketidaknyamanan ini.”

            Seluruh orang di sekitar lingkungan tersebut segera datang berbondong-bondong sambil dikawal oleh staf ke beberapa truk perusahaan TDG, bagian-bagian tubuh Uchida dimasukkan ke dalam garasi rumah Max. Max yang jatuh ke dalam tong sampah segera dibantu oleh Roy dan ibunya, mereka kemudian membawanya ke dalam rumah sambil menutup hidung mereka tanpa menghiraukan Olivia.

Olivia: “Jangan berkata apa-apa dan masuk ke dalam sana.”
Megan: “Olivia, lebih baik kau simpan pistolmu. Di sini masih banyak orang, borgol dia.”
Olivia: “Baik, nona Megan.”

            Olivia mengeluarkan borgol dari balik seragam maidnya, kedua tangan pria itu diborgol dari belakang. Para staf memasukkan seluruh bagian tubuh Uchida ke dalam garasi segera keluar, Olivia, James, Megan, serta sang pria misterius masuk ke dalam. Pintu garasi langsung ditutup rapat-rapat, mereka tak menyangka ada seseorang sudah menunggu mereka di dalam. Francis sudah kembali dari pertempuran, duduk di sebuah kursi sambil memangku kepalanya.

James: “Kau terlambat.”
Francis: “Tapi kulihat kau masih hidup.”
Megan: “Kapan kau kembali? Apa kau sudah mengalahkannya?”
Francis: “Dia di belakang kalian.”

            Kaget dengan apa yang dikatakannya, mereka langsung berbalik dan melihat Stigmavius di belakang mereka. Pria besar berbaju baja dengan motif burung kakatua, badannya terlalu besar hingga kepalanya membentur langit-langit. Ketika Olivia hendak menodongkan pistolnya, dia baru menyadari kedua tangannya sudah diborgol. Dia kemudian melihat sang pria misterius sudah berdiri menghadapi Francis sambil meletakkan kedua tangannya di belakang, dia mengambil kursi dan duduk di depannya.

?: “Jadi akhirnya kita bertemu.”
Olivia: “Kau?! Kapan kau...”
?: “Kalau kau pikir hal seprimitif itu bisa menahanku, kau salah besar.”
Francis: “Aku tak pernah ingat bertemu denganmu, tapi aku pernah dengar mengenai reputasimu.”
?: “Terima kasih, dan kudengar Alterion memberimu harga tinggi untuk seluruh tubuhmu. Jadi bagaimana menurutmu, Stig?”
Stigmavius: “Dia cukup hebat, kau takkan percaya apa yang tadi dia lakukan kepadaku.”
Megan: “Kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak langsung hajar mereka?”
James: “Dan menghancurkan rumah seseorang? Kurasa tidak, mereka ke sini bukan untuk salah satu dari mereka.”
?: “Kau benar-benar sebuah kartu as bagi Alterion, aku ingin kau menerima ini sebagai perkenalan.”

            Pria itu mengeluarkan buah apel dari dalam bajunya dan melemparkannya pada Francis, dia langsung menangkap dan memakannya.

Francis: “Rasanya kau sudah tahu seleraku.”
?: “Aku tahu segala hal kecil tentang dirimu, bahkan sejak kau sampai ke jaman ini.”
Megan: (suara hati) “Kenapa dia mau saja menerima pemberian dari musuh?”
Francis: “James, di mana Uchida?”
James: “Dia ada di belakangmu.”

            Francis melongok ke belakang dan melihat sebuah kepala boneka kucing yang sangat besar, hal itu membuat dirinya mengernyitkan dahi.

Francis: “Kau bercanda.”
Megan: “Itu memang benar dirinya.”
Francis: “Aku tak menyangka dia bisa berubah menjadi sesuatu yang bodoh seperti ini.”
Megan: (jengkel) “Apa maksudmu bodoh?! Itu imut dan lucu!”
Francis: “Lalu apa yang kau harapkan saat aku melihat ini? Menari-nari sambil minum dengan hidung?”
James: “Ahahahah, aku jadi ingin melihatnya.”
Megan: “...itu hal terbodoh yang pernah kudengar... Lagipula itu bukan upgrade, aku yang membuatnya jadi begitu. (berjalan ke belakang Francis) Lihat baik-baik, ini hanya topeng.”

            Megan mengeluarkan kepala Uchida dari dalam topeng kucing tersebut dan menunjukkannya pada Francis, dia menerima kepala itu dan menatap wajahnya. Dia lalu menatap Megan lalu kepada Uchida, dia lalu melemparkan kepala itu pada Stigmavius.

Megan: “Hei! Jangan melempar kepalanya!”
Francis: “Kau bilang ada urusan dengan Uchida bukan? Dia sudah di tanganmu sekarang.”
Stigmavius: “Aku memang berkata begitu, tapi urusan itu sendiri adalah untuk melindunginya dari musuh.”
Olivia: “Maksudmu dia?” (menunjuk sang pria misterius)
Stigmavius: “Oh, bukan. Aku yang menyewanya untuk mengawasi keadaan profesor, sementara subyek M46 sendiri mengejarku.”
Megan: “Kalau begitu kenapa kau tidak katakan sejak awal saat di mansion tadi?”
Stigmavius: “Mohon maaf jika saat pertama bertemu aku mengejutkan kalian, tapi semuanya sudah terlambat saat aku sampai.”
?: “Musuh itu sendiri sudah menangkap profesor sejak awal, dia sudah memasuki bagian dalam tubuhnya.”
Francis: “Hack.”
Olivia: “Jadi alasan kenapa dia menyerang saat itu...”
Stigmavius: “Tubuhnya dikendalikan oleh ‘Hack’, sebuah organisme yang mampu memancarkan aliran listrik dan membuat benda elektronik yang dia masuki bergerak sesuai keinginannya.”
Olivia: “Aku paham, (melihat sang pria misterius) dia sengaja menjauhkan Nona Megan dan Tuan James dari Uchida agar mereka tak jadi korban.”
Stigmavius: “Ketika aku hendak sampai tujuan, subyek M46 mendadak menyerang dan mengejarku. Akhirnya aku perintahkan pada dia untuk mengawasi profesor jika nantinya terjadi sesuatu, tapi aku sadar jika menjelaskan padanya langsung tidak ada gunanya.”
James: “Kau benar, dia itu tipe yang suka serang dulu baru bertanya.”
Francis: “Itu hanya tindakan pencegahan untuk memastikan dia musuh atau tidak.”
James: “Dan kau... (melihat pria misterius) juga belum menyebutkan siapa dirimu, kau sudah berjanji.”
?: “Benar sekali, aku belum menyebutkan namaku sejak awal.”
Francis: “Dia hanya seekor laba-laba yang suka menunggu mangsa terjebak dalam jaringnya.”
?: “Subyek M46, biar aku yang menyebutkan siapa diriku. Sudah suatu kebijakan bagiku untuk menepati janji pada pemenang, jadi kau diam saja.”

            Pria itu kemudian berdiri, dia berjalan ke tempat di mana seluruh bagian-bagian tubuh Uchida diletakkan dan mengambil kartu Joker yang menancap di tubuhnya. Tubuh Uchida mendadak bergetar dan mengeluarkan kilatan listrik, semua yang ada di dalam mundur dan melihat sesuatu keluar dari dalam tubuh itu.

?: “Aku pernah mengatakan padamu kalau yang mati cukup seekor saja bukan?”
James: “Kau benar, dia memang bukan ‘orang’.”
?: “Hack menggunakan tubuh profesor untuk menghabisi kalian, dia sadar bahwa dirinya sudah dimasuki ketika terbangun. Setidaknya dia berhasil melawan sedikit pengaruhnya, aku sudah mengetahuinya saat dia sedang menghibur anak-anak. Dia berusaha agar kalian terjauh darinya, dengan itu protokol takkan bisa dilaksanakan. Jika kalian mendekatinya, protokolnya akan aktif dan Hack akan menghancurkan diri dengan ledakan dalam radius 5 km. Untungnya aku berhasil menghentikan pergerakannya sebelum itu bisa terjadi.”
James: “Menyeramkan sekali.”

            Olivia sudah dilepaskan dari borgol oleh Megan, dia kemudian membuka koper yang dia bawa. Dua buah Marscannon dengan masing-masing berwarna biru dan merah, Megan mengambil yang berwarna merah dan langsung mengenakannya. Setelah itu dia melemparkan yang berwarna biru pada James, kini mereka menodongkannya pada bagian tubuh Uchida. Sesuatu yang panjang keluar dari dalamnya, suatu makhluk berwarna biru dengan kilatan listrik di sekujur tubuhnya. Bentuknya seperti belut, di ujung ekornya terdapat semacam jarum, tidak memiliki mata, namun memiliki dua buah kepala dan mulut di masing-masing kepalanya. Pria itu kemudian melepas topinya yang panjang, beberapa dari mereka terkejut ketika melihat apa yang ada di balik topinya. Ada seekor laba-laba besar dan berbulu yang menempel di atas kepalanya, memiliki sebuah bola mata yang sangat besar dan menyeramkan.

?: “James Archibald Yorgins, biarkan kuperkenalkan diriku. Aku seorang pemburu bayaran, orang-orang menyebut diriku ‘Arachnus’.”

Wednesday, October 1, 2014

Level 35



PERMAINAN

            New York, Amerika Serikat, 19 Oktober 2010, 15:00. Di rumah milik Max, telah diparkir sebuah mobil VW kodok dan sebuah truk dengan logo TDG di depan rumah. Dari dalam rumah, keluar beberapa orang berseragam mengangkut beberapa barang yang ditutupi oleh kain. Salah satu dari mereka adalah Roy, semua barang itu dibawa ke dalam garasi. Barang-barang itu kemudian diletakkan di ujung ruangan, mereka semua langsung keluar. Sementara itu James dan Megan baru saja keluar dari dalam rumah diantar oleh Max dan ibunya, mereka membawakan beberapa piring biskuit.

Ibu Max: “Tunggu, setidaknya makanlah kue dulu sebelum kalian pergi.”
Megan: “Maaf, telah merepotkan.”
James: (mengambil sebuah kue) “Kue buatan anda memang selalu enak.” (memakan kue)
Megan: “Jangan ambil seenaknya, ini juga untuk mereka.”
James: “Bukankah kita tamu di sini?”
Megan: “Kita memang tamu. (suara hati) Walau itu sebenarnya bohong.”
Roy: “Terima kasih banyak, bos kami selalu merepotkan banyak orang.”
Ibu Max: “Tidak apa-apa, justru rumah menjadi sedikit ramai sejak dia datang.”
James: “Aku hanya memberikan Max tugas seperti biasa.”
Roy: “Kau terlalu sering datang ke rumahnya, ibunya sampai mengira dia selalu membuat masalah.”
James: “Justru aku ke rumahnya untuk menyelesaikan masalah itu, dia yang paling sering terlibat masalah di kantor.”
Megan: “Sudah cukup, bukankah kita ada urusan lain?”
James: “Ah, ya. Max, ikut kami ke dalam. Kami akan memberikan detail pekerjaanmu.”
Max: “Ah, uh, baik.”
Megan: “Permisi, nyonya. Kami pinjam anak anda sebentar.”
Ibu Max: “Silahkan.”
Roy: “Aku tidak ikut, aku akan duduk di sini sambil menikmati kue ini bersama mereka. Lagipula aku adalah supir pribadi kalian, jadi akan kutunggu.”

            James, Megan, dan Max masuk ke dalam garasi, tapi mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan


            Sementara itu Francis masih bertempur dengan Stigmavius, bagian dalam gudang sudah banyak yang hancur. Francis terus menyerang dalam mode Crimson menggunakan pedang, Stigmavius menahan serangannya dengan kampaknya.

Francis: “Stigmavius harusnya ada di sebuah penjara untuk mereka yang disebut subyek, kenapa kau ada di sini.”
Stigmavius: “Dan kau pikir aku adalah dia? Pikir sekali lagi!”

            Stigmavius menendang Francis sampai dia menabrak tembok, tubuhnya kemudian terikat oleh tali yang ditembakkan melalui lengan Stigmavius. Francis memegang tali yang mengikatnya, dia sudah berubah ke wujud awal dan menyetrum tali yang mengikatnya. Aliran listrik mengalir dari tali dan menjalar ke badan Stigmavius, Francis langsung meloncat dan menendang kepalanya. Dia berhasil dirobohkan, tubuhnya terbaring dan diinjak oleh Francis. Tali yang mengikatnya berhasil dilepaskan, dia kemudian mencengkeram kepala Stigmavius.

Stigmavius: “Ugh, memang diperlukan banyak latihan untuk bisa terbiasa mengenakan baju zirah ini.”
Francis: “Ada kata-kata terakhir?”
Stigmavius: “Tolong buka bagian belakang baju zirahku, maka kau akan mengerti.”

            Francis turun dari tubuhnya, dia membalikkan tubuhnya yang besar. Dia kemudian mengamati bagian belakang punggungnya, pandangannya kemudian tertuju pada sebuah lubang kecil di bagian leher. Francis memasukkan jari telunjuknya ke dalam, dia menarik seutas tali dari dalam. Terdengar bunyi ‘klak’, bagian sayapnya menekuk dan masuk ke dalam. Punggung bagian belakangnya mengeluarkan asap dan terbuka ke atas, perlahan keluar seseorang dari dalam.

Francis: “Kau...”


            Kembali ke kediaman Max, di dalam garasi miliknya. Max, James, dan Megan sedang bengong melihat sesuatu. Di hadapan mereka, Uchida sedang merenovasi ruangan dengan anggota badan terpisah-pisah. Ada beberapa robot kecil yang membantunya untuk berbenah, Tangan kirinya sedang memperbaiki bagian atap dengan mengelasnya, tangan kanannya mengelas lantai. Robot-robot kecil yang membantunya memasangi langit-langit dan lantai dengan besi, skuter milik Max dipindah ke bagian lantai yang sudah dilas oleh mereka.

James: “Kalau boleh tahu, apa yang sedang kau lakukan?”
Uchida: “Membetulkan tempat ini, seperti yang kau lihat.”
Megan: “Untuk apa? Bukankah kau sudah punya labmu sendiri?”
Uchida: “Ini sebagai cadangan, tidak aman jika hanya ada satu.”
James: “Lalu bagaimana seandainya kau mau ke tempat kami dan mengisi tenagamu? Max tak bisa memberikanmu banyak hidangan di sini.”
Uchida: “Itu bisa kulakukan di mansion.”
Megan: “Kau mau pakai alat itu lagi untuk pulang pergi dari sana ke sini?”
Uchida: “Tenang saja, aku sudah memiliki cara yang lebih praktis.”
James: “Aku tidak keberatan jika kau tinggal di sini, benar bukan, Max?”
Max: “A... apa?! Tidak... tidak! Tidak bisa! Sudah banyak masalah yang kau berikan kepadaku, kenapa rumahku selalu kau jadikan tempat peristirahatan pribadimu setiap kau kabur dari pekerjaanmu?! Ditambah lagi kau membuat jalur alternatif untuk kabur di bawahnya, kenapa tak bisa kau tinggalkan aku sendiri?!”
Uchida: “Sekarang aku paham kenapa kau bisa lolos dari pengawasan seluruh karyawanmu, pastilah kau kesulitan untuk mengurus dia.”
Max: “Kau dengar itu? Mainan milikmu bicara padaku.”
Uchida: “Maaf, tapi aku bukan mainannya.”
James: “Aku tidak membuatnya, memang benar aku punya banyak mainan dan beberapa kubuat sendiri. Tapi kau pikir aku mau membuat yang berwajah seperti ‘itu’?”
Uchida: (jengkel) “Apa maksudmu seperti ‘itu’?”
Max: “Aku tidak akan mau, lihat dia. Dia besar, wajahnya seram. Jika dia berkeliaran di sekitar rumah, tetangga bisa melaporkanku pada polisi.”
James: “Jika itu masalahmu, aku sudah punya rencana. Megan?”

            Dengan riangnya, Megan mengeluarkan sebuah bungkusan besar. Max dan Uchida keheranan begitu melihatnya, bungkusan itu kemudian dibuka.

Uchida: “Kau pasti bercanda.”


            Beberapa saat kemudian, di luar rumah Max sudah ramai dikerumuni banyak orang. Mereka menonton banyak badut yang sedang bermain akrobat, di antara mereka ada yang paling menarik perhatian. Sosok badut besar berkostum kucing yang bisa memutar-mutar bagian tubuhnya, banyak anak-anak yang menyukai dan mengerumuninya. Badut kucing itu membiarkan anak-anak menaikinya, beberapa duduk di kedua telapak tangannya yang besar. Dia mengangkat anak-anak itu dan memutar-mutar tangannya, mereka yang melihat bersorak sorai. Tanpa diketahui mereka bahwa badut itu sebenarnya adalah Uchida yang memakai topeng kepala kucing, Roy yang berpenampilan badut kemudian mendatangi James yang duduk santai sambil menikmati biskuit bersama Megan.

Roy: “Kenapa aku harus ikut-ikutan?”
James: “Jangan protes, anakmu juga di sini sekarang.”
Roy: “Aku berterima kasih karena kau menjemput anakku dari sekolah, tapi aku tak mengharapkan untuk melihat ayahnya berpenampilan seperti ini. Lihat wajahku, (menunjuk wajahnya yang dicat putih) aku jadi terlihat seperti... kalian.” (menunjuk Megan dan James)
Megan: “Bisa kau hentikan perkataan rasis itu?”
James: “Tapi bayanganmu masih hitam bukan?”
Roy: (jengkel) “Oh, sudahlah.”
James: “Kenapa tidak kau nikmati saja, bukankah anakmu sekarang terlihat senang?”

            Mereka melihat seorang anak lelaki berkulit hitam menaiki tangan Uchida bersama dengan anak lelaki berkulit putih dengan ceria, Max datang bersama ibunya dan bergabung dengan mereka.

Roy: “Untuk kali ini saja aku lakukan ini, kau juga harus beritahu Olivia soal ini.”
Megan: “Aku sudah menghubunginya sejak tadi.”
Roy: (mengambil biskuit) “Dan kau harus langsung pulang ke rumah untuk makan malam nanti.”
Ibu Max: “Tidak kusangka lingkungan bisa seramai ini.”
James: “Seperti yang anda lihat, ini hanya langkah awal untuk menaikkan rating. Robot itu masih dalam pengembangan, jadi aku memberikan tugas besar ini pada Max untuk mengurusnya.”
Max: “A... aku?”
Megan: “Anda tahu taman hiburan milik perusahaan kami yang akan dibuka bulan depan? Robot itu adalah maskotnya, jadi kami ingin meminta ijin untuk menitipkannya di rumah anda agar bisa didiagnosa oleh Max sebelum kami melepasnya.”
Ibu Max: “Kau dengar itu Max? Kau mendapatkan pekerjaan besar dalam hidupmu, tentu saja kami akan menerimanya.”
Max: “Ta-tapi...”
?: “Sepertinya kalian terlihat senang.”

            Semua orang menoleh ke arah suara yang ada di belakang mereka, ada seorang pria berjaket hitam dan bertopi panjang. Dia hendak mengeluarkan sesuatu dari  dalam jaketnya, James dan Megan langsung berdiri dalam posisi waspada. Barang yang dia keluarkan sendiri adalah sebuah pak kartu permainan, dia mengocok-ngocok kartu itu dan membuat kagum Max dan ibunya. Mereka bertepuk tangan melihatnya, James dan Megan sendiri kembali duduk dan juga ikut bertepuk tangan.

Megan: “Sepertinya kita terlalu berlebihan.”
James: “Sudah wajar jika kita bereaksi seperti itu, berlebihan itu jika kita mendadak mengeluarkan senjata dan menodongkannya pada dia seperti film mafia kebanyakan.”
Megan: “Tapi kau ingin melakukannya bukan?”
James: “Hahaha, memang benar.”

            Pria itu mulai membagikan kartunya kepada mereka dengan cepat, masing-masing mendapatkan satu kartu di atas meja. Kartu sisanya dilemparkan dari tangan kiri dan ditangkap dengan tangan kanan, dia memasukkannya kembali ke dalam jaket. James dan Megan saling memandang, kemudian mereka melihat kartu di hadapan mereka. Pria itu memperlihatkan wajahnya, rambutnya keriting panjang sampai ke leher dan berwarna ungu, dia mengenakan anting di telinga kanannya.

?: “Aku saat ini sedang memberikan kalian sebuah permainan yang menarik, akan kujelaskan peraturannya.”
Max: “Tu... tunggu dulu, James?” (melihat James)
?: “Tentu saja ini sudah diperkenankan oleh beliau, aku hanya ingin kalian mendapatkan kesenangan saja seperti yang diinginkannya.”
Ibu Max: “Kau baik sekali, James.”
James: “Terima kasih.”
?: “Sekarang biar kulanjutkan, ada 3 babak dalam permainan ini. Aku akan mengeluarkan... beberapa lembar kartu yang jumlahnya sesuai dengan jumlah orang yang saat ini duduk di kursi, kartu-kartu ini akan kuletakkan di atas meja dengan posisi terbuka jadi gambar di kartu itu terlihat jelas. Kartu milik kalian memiliki kemungkinan mempunyai gambar yang sama dengan salah satu dari kartu itu, jadi...”
Max: “Aku mengerti, pasti kau akan menanyakan pada kami siapa saja yang punya kartu tersebut.”
?: “Justru sebaliknya, kalian harus memilih salah satu dari kartu itu jika kalian merasa kartu tersebut sama dengan yang kalian miliki. Jika benar, kalian akan kuberikan sesuatu. Tapi jika salah... kalian harus memberikanku sesuatu, apapun itu.”
Ibu Max: “Kedengarannya bagus, bukankah kau punya barang yang tak dibutuhkan Max?”
Max: “Tidak, tidak mau! Itu koleksiku! Aku tak mau memberikannya pada siapapun!”
James: “Maksudmu kumpulan majalah otomotif yang ada di bawah kasurmu?”
Max: “Kau tidak tahu seberapa kerasnya aku mengumpulkan itu!”
James: “Seharusnya kau sudah punya mobil sendiri sekarang dengan gajimu, tapi kau habiskan itu untuk membeli majalah dan hanya berimajinasi saat melihatnya.”
Max: “Dengan gajiku saat ini mana mungkin aku bisa membeli sebuah Lamborghini!”
?: “Baik, cukup sampai di situ. Yang jelas, hal yang kuinginkan bukanlah hal sekecil itu. Lebih agak... (melihat Uchida dari kejauhan) besar. Jika kalian berhasil, kalian bisa memilih untuk mundur atau melanjutkan ke babak berikutnya.”
James: “Kalaupun begitu... kau pasti juga akan memberi sesuatu yang besar juga bukan?”
?: “Siapa yang tahu, tapi kau berhak untuk mundur.”
James: “Tidak, aku akan bermain.”
?: “Baiklah, jadi... kita mulai permainannya.”

            Uchida yang mengamati mereka dari kejauhan sudah sadar apa yang sebenarnya terjadi, dia bisa mendengar pembicaraan mereka dari kejauhan.

Uchida: “Sial, seandainya aku bisa ke sana dan menghubungi mereka. Tapi tubuhku tak bisa bergerak, jika bukan karena parasit ini.”

            Ternyata dari dalam tubuh Uchida ada sesuatu yang bergerak-gerak seperti cacing, warnanya biru dan mengeluarkan listrik. Sementara itu, James memulai permainan mereka. Sang pria misterius mengeluarkan empat lembar kartu dari dalam lengan bajunya, kartu itu kemudian disusun berderet. Di atas meja sudah ada empat kartu dengan posisi terbuka, masing-masing orang mengamati kartu milik mereka yang tertutup.

?: “Kalian tidak boleh membuka kartu kalian sebelum kalian ambil salah satu, buka sedikit saja akan ada hukuman. Tentu saja itu berarti kalian akan kehilangan sesuatu, (tersenyum) kalian boleh mengambilnya sekarang.”

            Tanpa ragu-ragu, Megan dan Max langsung mengambil satu kartu. Ibu Max mengambil setelah mereka perlahan-lahan, James mengamati baik-baik sisa kartu yang ada di meja.

Megan: “James, kau tidak mengambil kartunya?”
James: “Tadi kau tidak menyebutkan apakah aku diperbolehkan untuk tidak memilih kartu bukan?”
?: “Kau benar, jadi kau tidak mau mengambilnya?”
James: “Lagipula aku takkan mendapatkan kerugian apapun walau aku tak mengambilnya bukan?”
?: “Baiklah, keputusan sudah dibuat. Hanya satu orang gagal, kalian boleh buka kartunya sekarang.”

            Mereka semua membuka kartu secara bersamaan, macam-macam ekspresi muncul di wajah mereka. Megan memiliki kartu as hati yang sama dengan yang ada di depannya, Ibu Max memiliki kartu ratu sekop yang juga sama. Tapi Max yang terkejut dengan mata terbelalak mendapatkan kartu yang berbeda, dia mendapatkan kartu 8 waru yang berbeda dengan 3 hati miliknya.

?: “Baiklah, hadiah untuk kalian berdua.”

            Pria itu merentangkan kedua tangannya ke depan, masing-masing telapak tangannya berada tepat di hadapan wajah Megan dan Ibu Max. Muncul setangkai mawar secara mendadak dari kedua telapak tangannya, digenggam oleh pria tersebut dan diserahkan pada mereka berdua.

Ibu Max: “Wah, indahnya.”
Megan: “Terima kasih.”
?: “Dan untukmu...” (melihat Max)
Max: “Apapun akan kuberikan, tapi jangan ambil majalahku.”
?: “Aku tidak butuh hal seperti itu, aku hanya mau seseorang.”
Max: “O... orang? A.. apa aku terlihat seperti menyembunyikan penjahat?”
?: “Benar, aku ingin kau memberikan... (mendekati wajah Max) Benjamin Franklin.”

            Suasana hening menyelimuti daerah sekitar mereka, kemudian burung-burung gereja beterbangan dari sebuah pohon.

James: “Jadi intinya... kau mau uang?”
?: “Aku takkan menyebut itu uang, sebut saja... bayaran.”
Max: “Ah... begitu, aku bisa memberimu uang. Tapi aku tak...”
?: “Jangan katakan tidak punya, aku tahu ada 100 di salah satu saku celanamu.”
Max: “Ugh...”
?: “Dan aku menduga kau menyimpan sejumlah 100 dan 75 sen di sekujur tubuhmu.”
Max: “Ba... bagaimana kau tahu?”
?: “Oh, aku tahu semua hal yang tersembunyi. James membawa setidaknya sejumlah 1000, Megan 1500, dan nyonya punya 30 dan 10 sen.”
Semua: (suara hati) “Dia ini mesin detektor uang ya?”
?: “Jadi sekarang berikan apa yang seharusnya kau berikan atau aku yang ambil sendiri darimu.”
Max: “Baik, baik! Aku mengerti! (suara hati) Padahal ini untuk biaya kencanku dengan Valerie.” (menyerahkan uang)
?: “Terima kasih. Omong-omong, kau jeli sekali waktu mengetahui bahwa kartu itu tidak sama dengan kartu yang tersisa.”

            Pria itu mengambil kartu milik James dan membukanya, sebuah kartu 8 waru dan yang terbuka adalah 3 hati.

Max: “Wow, kau hebat.”
James: “Tentu saja, semua juga tahu jika satu kartu yang sama dengan milikku sudah diambil sisanya adalah kartu yang berbeda.”
Megan: “Jumlah kartu yang sama dengan yang kita terima itulah kelemahannya, jika satu yang diambil berbeda dengan milik kita akan membuat pemain yang tersisa tidak punya kesempatan mendapat kartu yang sama.”
Ibu James: “Kenapa tidak terpikir sejak tadi?”
?: “Baiklah, sudah siap untuk babak kedua?”