PERMAINAN
New York, Amerika Serikat, 19
Oktober 2010, 15:00. Di rumah milik Max, telah diparkir sebuah mobil VW kodok
dan sebuah truk dengan logo TDG di depan rumah. Dari dalam rumah, keluar
beberapa orang berseragam mengangkut beberapa barang yang ditutupi oleh kain.
Salah satu dari mereka adalah Roy, semua barang itu dibawa ke dalam garasi.
Barang-barang itu kemudian diletakkan di ujung ruangan, mereka semua langsung
keluar. Sementara itu James dan Megan baru saja keluar dari dalam rumah diantar
oleh Max dan ibunya, mereka membawakan beberapa piring biskuit.
Ibu
Max: “Tunggu, setidaknya makanlah kue dulu sebelum kalian pergi.”
Megan:
“Maaf, telah merepotkan.”
James:
(mengambil sebuah kue) “Kue buatan anda memang selalu enak.” (memakan kue)
Megan:
“Jangan ambil seenaknya, ini juga untuk mereka.”
James:
“Bukankah kita tamu di sini?”
Megan:
“Kita memang tamu. (suara hati) Walau itu sebenarnya bohong.”
Roy:
“Terima kasih banyak, bos kami selalu merepotkan banyak orang.”
Ibu
Max: “Tidak apa-apa, justru rumah menjadi sedikit ramai sejak dia datang.”
James:
“Aku hanya memberikan Max tugas seperti biasa.”
Roy:
“Kau terlalu sering datang ke rumahnya, ibunya sampai mengira dia selalu
membuat masalah.”
James:
“Justru aku ke rumahnya untuk menyelesaikan masalah itu, dia yang paling sering
terlibat masalah di kantor.”
Megan:
“Sudah cukup, bukankah kita ada urusan lain?”
James:
“Ah, ya. Max, ikut kami ke dalam. Kami akan memberikan detail pekerjaanmu.”
Max:
“Ah, uh, baik.”
Megan:
“Permisi, nyonya. Kami pinjam anak anda sebentar.”
Ibu
Max: “Silahkan.”
Roy:
“Aku tidak ikut, aku akan duduk di sini sambil menikmati kue ini bersama mereka.
Lagipula aku adalah supir pribadi kalian, jadi akan kutunggu.”
James, Megan, dan Max masuk ke dalam
garasi, tapi mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka
dari kejauhan
Sementara itu Francis masih
bertempur dengan Stigmavius, bagian dalam gudang sudah banyak yang hancur.
Francis terus menyerang dalam mode Crimson menggunakan pedang, Stigmavius
menahan serangannya dengan kampaknya.
Francis:
“Stigmavius harusnya ada di sebuah penjara untuk mereka yang disebut subyek,
kenapa kau ada di sini.”
Stigmavius:
“Dan kau pikir aku adalah dia? Pikir sekali lagi!”
Stigmavius menendang Francis sampai
dia menabrak tembok, tubuhnya kemudian terikat oleh tali yang ditembakkan
melalui lengan Stigmavius. Francis memegang tali yang mengikatnya, dia sudah
berubah ke wujud awal dan menyetrum tali yang mengikatnya. Aliran listrik
mengalir dari tali dan menjalar ke badan Stigmavius, Francis langsung meloncat
dan menendang kepalanya. Dia berhasil dirobohkan, tubuhnya terbaring dan
diinjak oleh Francis. Tali yang mengikatnya berhasil dilepaskan, dia kemudian
mencengkeram kepala Stigmavius.
Stigmavius:
“Ugh, memang diperlukan banyak latihan untuk bisa terbiasa mengenakan baju
zirah ini.”
Francis:
“Ada kata-kata terakhir?”
Stigmavius:
“Tolong buka bagian belakang baju zirahku, maka kau akan mengerti.”
Francis turun dari tubuhnya, dia
membalikkan tubuhnya yang besar. Dia kemudian mengamati bagian belakang
punggungnya, pandangannya kemudian tertuju pada sebuah lubang kecil di bagian
leher. Francis memasukkan jari telunjuknya ke dalam, dia menarik seutas tali
dari dalam. Terdengar bunyi ‘klak’, bagian sayapnya menekuk dan masuk ke dalam.
Punggung bagian belakangnya mengeluarkan asap dan terbuka ke atas, perlahan
keluar seseorang dari dalam.
Francis:
“Kau...”
Kembali ke kediaman Max, di dalam
garasi miliknya. Max, James, dan Megan sedang bengong melihat sesuatu. Di
hadapan mereka, Uchida sedang merenovasi ruangan dengan anggota badan
terpisah-pisah. Ada beberapa robot kecil yang membantunya untuk berbenah,
Tangan kirinya sedang memperbaiki bagian atap dengan mengelasnya, tangan
kanannya mengelas lantai. Robot-robot kecil yang membantunya memasangi
langit-langit dan lantai dengan besi, skuter milik Max dipindah ke bagian
lantai yang sudah dilas oleh mereka.
James:
“Kalau boleh tahu, apa yang sedang kau lakukan?”
Uchida:
“Membetulkan tempat ini, seperti yang kau lihat.”
Megan:
“Untuk apa? Bukankah kau sudah punya labmu sendiri?”
Uchida:
“Ini sebagai cadangan, tidak aman jika hanya ada satu.”
James:
“Lalu bagaimana seandainya kau mau ke tempat kami dan mengisi tenagamu? Max tak
bisa memberikanmu banyak hidangan di sini.”
Uchida:
“Itu bisa kulakukan di mansion.”
Megan:
“Kau mau pakai alat itu lagi untuk pulang pergi dari sana ke sini?”
Uchida:
“Tenang saja, aku sudah memiliki cara yang lebih praktis.”
James:
“Aku tidak keberatan jika kau tinggal di sini, benar bukan, Max?”
Max:
“A... apa?! Tidak... tidak! Tidak bisa! Sudah banyak masalah yang kau berikan
kepadaku, kenapa rumahku selalu kau jadikan tempat peristirahatan pribadimu
setiap kau kabur dari pekerjaanmu?! Ditambah lagi kau membuat jalur alternatif
untuk kabur di bawahnya, kenapa tak bisa kau tinggalkan aku sendiri?!”
Uchida:
“Sekarang aku paham kenapa kau bisa lolos dari pengawasan seluruh karyawanmu,
pastilah kau kesulitan untuk mengurus dia.”
Max:
“Kau dengar itu? Mainan milikmu bicara padaku.”
Uchida:
“Maaf, tapi aku bukan mainannya.”
James:
“Aku tidak membuatnya, memang benar aku punya banyak mainan dan beberapa kubuat
sendiri. Tapi kau pikir aku mau membuat yang berwajah seperti ‘itu’?”
Uchida:
(jengkel) “Apa maksudmu seperti ‘itu’?”
Max:
“Aku tidak akan mau, lihat dia. Dia besar, wajahnya seram. Jika dia berkeliaran
di sekitar rumah, tetangga bisa melaporkanku pada polisi.”
James:
“Jika itu masalahmu, aku sudah punya rencana. Megan?”
Dengan riangnya, Megan mengeluarkan
sebuah bungkusan besar. Max dan Uchida keheranan begitu melihatnya, bungkusan
itu kemudian dibuka.
Uchida:
“Kau pasti bercanda.”
Beberapa saat kemudian, di luar
rumah Max sudah ramai dikerumuni banyak orang. Mereka menonton banyak badut
yang sedang bermain akrobat, di antara mereka ada yang paling menarik
perhatian. Sosok badut besar berkostum kucing yang bisa memutar-mutar bagian
tubuhnya, banyak anak-anak yang menyukai dan mengerumuninya. Badut kucing itu
membiarkan anak-anak menaikinya, beberapa duduk di kedua telapak tangannya yang
besar. Dia mengangkat anak-anak itu dan memutar-mutar tangannya, mereka yang
melihat bersorak sorai. Tanpa diketahui mereka bahwa badut itu sebenarnya
adalah Uchida yang memakai topeng kepala kucing, Roy yang berpenampilan badut
kemudian mendatangi James yang duduk santai sambil menikmati biskuit bersama
Megan.
Roy:
“Kenapa aku harus ikut-ikutan?”
James:
“Jangan protes, anakmu juga di sini sekarang.”
Roy:
“Aku berterima kasih karena kau menjemput anakku dari sekolah, tapi aku tak
mengharapkan untuk melihat ayahnya berpenampilan seperti ini. Lihat wajahku,
(menunjuk wajahnya yang dicat putih) aku jadi terlihat seperti... kalian.”
(menunjuk Megan dan James)
Megan:
“Bisa kau hentikan perkataan rasis itu?”
James:
“Tapi bayanganmu masih hitam bukan?”
Roy:
(jengkel) “Oh, sudahlah.”
James:
“Kenapa tidak kau nikmati saja, bukankah anakmu sekarang terlihat senang?”
Mereka melihat seorang anak lelaki
berkulit hitam menaiki tangan Uchida bersama dengan anak lelaki berkulit putih
dengan ceria, Max datang bersama ibunya dan bergabung dengan mereka.
Roy:
“Untuk kali ini saja aku lakukan ini, kau juga harus beritahu Olivia soal ini.”
Megan:
“Aku sudah menghubunginya sejak tadi.”
Roy:
(mengambil biskuit) “Dan kau harus langsung pulang ke rumah untuk makan malam
nanti.”
Ibu
Max: “Tidak kusangka lingkungan bisa seramai ini.”
James:
“Seperti yang anda lihat, ini hanya langkah awal untuk menaikkan rating. Robot
itu masih dalam pengembangan, jadi aku memberikan tugas besar ini pada Max
untuk mengurusnya.”
Max:
“A... aku?”
Megan:
“Anda tahu taman hiburan milik perusahaan kami yang akan dibuka bulan depan?
Robot itu adalah maskotnya, jadi kami ingin meminta ijin untuk menitipkannya di
rumah anda agar bisa didiagnosa oleh Max sebelum kami melepasnya.”
Ibu
Max: “Kau dengar itu Max? Kau mendapatkan pekerjaan besar dalam hidupmu, tentu
saja kami akan menerimanya.”
Max:
“Ta-tapi...”
?:
“Sepertinya kalian terlihat senang.”
Semua orang menoleh ke arah suara
yang ada di belakang mereka, ada seorang pria berjaket hitam dan bertopi
panjang. Dia hendak mengeluarkan sesuatu dari
dalam jaketnya, James dan Megan langsung berdiri dalam posisi waspada.
Barang yang dia keluarkan sendiri adalah sebuah pak kartu permainan, dia
mengocok-ngocok kartu itu dan membuat kagum Max dan ibunya. Mereka bertepuk
tangan melihatnya, James dan Megan sendiri kembali duduk dan juga ikut bertepuk
tangan.
Megan:
“Sepertinya kita terlalu berlebihan.”
James:
“Sudah wajar jika kita bereaksi seperti itu, berlebihan itu jika kita mendadak
mengeluarkan senjata dan menodongkannya pada dia seperti film mafia
kebanyakan.”
Megan:
“Tapi kau ingin melakukannya bukan?”
James:
“Hahaha, memang benar.”
Pria itu mulai membagikan kartunya
kepada mereka dengan cepat, masing-masing mendapatkan satu kartu di atas meja. Kartu
sisanya dilemparkan dari tangan kiri dan ditangkap dengan tangan kanan, dia
memasukkannya kembali ke dalam jaket. James dan Megan saling memandang,
kemudian mereka melihat kartu di hadapan mereka. Pria itu memperlihatkan
wajahnya, rambutnya keriting panjang sampai ke leher dan berwarna ungu, dia mengenakan
anting di telinga kanannya.
?:
“Aku saat ini sedang memberikan kalian sebuah permainan yang menarik, akan
kujelaskan peraturannya.”
Max:
“Tu... tunggu dulu, James?” (melihat James)
?:
“Tentu saja ini sudah diperkenankan oleh beliau, aku hanya ingin kalian
mendapatkan kesenangan saja seperti yang diinginkannya.”
Ibu
Max: “Kau baik sekali, James.”
James:
“Terima kasih.”
?:
“Sekarang biar kulanjutkan, ada 3 babak dalam permainan ini. Aku akan
mengeluarkan... beberapa lembar kartu yang jumlahnya sesuai dengan jumlah orang
yang saat ini duduk di kursi, kartu-kartu ini akan kuletakkan di atas meja
dengan posisi terbuka jadi gambar di kartu itu terlihat jelas. Kartu milik
kalian memiliki kemungkinan mempunyai gambar yang sama dengan salah satu dari
kartu itu, jadi...”
Max:
“Aku mengerti, pasti kau akan menanyakan pada kami siapa saja yang punya kartu
tersebut.”
?:
“Justru sebaliknya, kalian harus memilih salah satu dari kartu itu jika kalian
merasa kartu tersebut sama dengan yang kalian miliki. Jika benar, kalian akan
kuberikan sesuatu. Tapi jika salah... kalian harus memberikanku sesuatu, apapun
itu.”
Ibu
Max: “Kedengarannya bagus, bukankah kau punya barang yang tak dibutuhkan Max?”
Max:
“Tidak, tidak mau! Itu koleksiku! Aku tak mau memberikannya pada siapapun!”
James:
“Maksudmu kumpulan majalah otomotif yang ada di bawah kasurmu?”
Max:
“Kau tidak tahu seberapa kerasnya aku mengumpulkan itu!”
James:
“Seharusnya kau sudah punya mobil sendiri sekarang dengan gajimu, tapi kau
habiskan itu untuk membeli majalah dan hanya berimajinasi saat melihatnya.”
Max:
“Dengan gajiku saat ini mana mungkin aku bisa membeli sebuah Lamborghini!”
?:
“Baik, cukup sampai di situ. Yang jelas, hal yang kuinginkan bukanlah hal
sekecil itu. Lebih agak... (melihat Uchida dari kejauhan) besar. Jika kalian
berhasil, kalian bisa memilih untuk mundur atau melanjutkan ke babak
berikutnya.”
James:
“Kalaupun begitu... kau pasti juga akan memberi sesuatu yang besar juga bukan?”
?:
“Siapa yang tahu, tapi kau berhak untuk mundur.”
James:
“Tidak, aku akan bermain.”
?:
“Baiklah, jadi... kita mulai permainannya.”
Uchida yang mengamati mereka dari
kejauhan sudah sadar apa yang sebenarnya terjadi, dia bisa mendengar
pembicaraan mereka dari kejauhan.
Uchida:
“Sial, seandainya aku bisa ke sana dan menghubungi mereka. Tapi tubuhku tak
bisa bergerak, jika bukan karena parasit ini.”
Ternyata dari dalam tubuh Uchida ada
sesuatu yang bergerak-gerak seperti cacing, warnanya biru dan mengeluarkan
listrik. Sementara itu, James memulai permainan mereka. Sang pria misterius
mengeluarkan empat lembar kartu dari dalam lengan bajunya, kartu itu kemudian
disusun berderet. Di atas meja sudah ada empat kartu dengan posisi terbuka, masing-masing
orang mengamati kartu milik mereka yang tertutup.
?:
“Kalian tidak boleh membuka kartu kalian sebelum kalian ambil salah satu, buka
sedikit saja akan ada hukuman. Tentu saja itu berarti kalian akan kehilangan
sesuatu, (tersenyum) kalian boleh mengambilnya sekarang.”
Tanpa ragu-ragu, Megan dan Max
langsung mengambil satu kartu. Ibu Max mengambil setelah mereka perlahan-lahan,
James mengamati baik-baik sisa kartu yang ada di meja.
Megan:
“James, kau tidak mengambil kartunya?”
James:
“Tadi kau tidak menyebutkan apakah aku diperbolehkan untuk tidak memilih kartu
bukan?”
?:
“Kau benar, jadi kau tidak mau mengambilnya?”
James:
“Lagipula aku takkan mendapatkan kerugian apapun walau aku tak mengambilnya
bukan?”
?:
“Baiklah, keputusan sudah dibuat. Hanya satu orang gagal, kalian boleh buka
kartunya sekarang.”
Mereka semua membuka kartu secara
bersamaan, macam-macam ekspresi muncul di wajah mereka. Megan memiliki kartu as
hati yang sama dengan yang ada di depannya, Ibu Max memiliki kartu ratu sekop
yang juga sama. Tapi Max yang terkejut dengan mata terbelalak mendapatkan kartu
yang berbeda, dia mendapatkan kartu 8 waru yang berbeda dengan 3 hati miliknya.
?:
“Baiklah, hadiah untuk kalian berdua.”
Pria itu merentangkan kedua
tangannya ke depan, masing-masing telapak tangannya berada tepat di hadapan
wajah Megan dan Ibu Max. Muncul setangkai mawar secara mendadak dari kedua
telapak tangannya, digenggam oleh pria tersebut dan diserahkan pada mereka
berdua.
Ibu
Max: “Wah, indahnya.”
Megan:
“Terima kasih.”
?:
“Dan untukmu...” (melihat Max)
Max:
“Apapun akan kuberikan, tapi jangan ambil majalahku.”
?:
“Aku tidak butuh hal seperti itu, aku hanya mau seseorang.”
Max:
“O... orang? A.. apa aku terlihat seperti menyembunyikan penjahat?”
?:
“Benar, aku ingin kau memberikan... (mendekati wajah Max) Benjamin Franklin.”
Suasana hening menyelimuti daerah
sekitar mereka, kemudian burung-burung gereja beterbangan dari sebuah pohon.
James:
“Jadi intinya... kau mau uang?”
?:
“Aku takkan menyebut itu uang, sebut saja... bayaran.”
Max:
“Ah... begitu, aku bisa memberimu uang. Tapi aku tak...”
?:
“Jangan katakan tidak punya, aku tahu ada 100 di salah satu saku celanamu.”
Max:
“Ugh...”
?:
“Dan aku menduga kau menyimpan sejumlah 100 dan 75 sen di sekujur tubuhmu.”
Max:
“Ba... bagaimana kau tahu?”
?:
“Oh, aku tahu semua hal yang tersembunyi. James membawa setidaknya sejumlah
1000, Megan 1500, dan nyonya punya 30 dan 10 sen.”
Semua:
(suara hati) “Dia ini mesin detektor uang ya?”
?:
“Jadi sekarang berikan apa yang seharusnya kau berikan atau aku yang ambil
sendiri darimu.”
Max:
“Baik, baik! Aku mengerti! (suara hati) Padahal ini untuk biaya kencanku dengan
Valerie.” (menyerahkan uang)
?:
“Terima kasih. Omong-omong, kau jeli sekali waktu mengetahui bahwa kartu itu
tidak sama dengan kartu yang tersisa.”
Pria itu mengambil kartu milik James
dan membukanya, sebuah kartu 8 waru dan yang terbuka adalah 3 hati.
Max:
“Wow, kau hebat.”
James:
“Tentu saja, semua juga tahu jika satu kartu yang sama dengan milikku sudah
diambil sisanya adalah kartu yang berbeda.”
Megan:
“Jumlah kartu yang sama dengan yang kita terima itulah kelemahannya, jika satu
yang diambil berbeda dengan milik kita akan membuat pemain yang tersisa tidak
punya kesempatan mendapat kartu yang sama.”
Ibu
James: “Kenapa tidak terpikir sejak tadi?”
?:
“Baiklah, sudah siap untuk babak kedua?”
No comments:
Post a Comment