Wednesday, October 1, 2014

Level 35



PERMAINAN

            New York, Amerika Serikat, 19 Oktober 2010, 15:00. Di rumah milik Max, telah diparkir sebuah mobil VW kodok dan sebuah truk dengan logo TDG di depan rumah. Dari dalam rumah, keluar beberapa orang berseragam mengangkut beberapa barang yang ditutupi oleh kain. Salah satu dari mereka adalah Roy, semua barang itu dibawa ke dalam garasi. Barang-barang itu kemudian diletakkan di ujung ruangan, mereka semua langsung keluar. Sementara itu James dan Megan baru saja keluar dari dalam rumah diantar oleh Max dan ibunya, mereka membawakan beberapa piring biskuit.

Ibu Max: “Tunggu, setidaknya makanlah kue dulu sebelum kalian pergi.”
Megan: “Maaf, telah merepotkan.”
James: (mengambil sebuah kue) “Kue buatan anda memang selalu enak.” (memakan kue)
Megan: “Jangan ambil seenaknya, ini juga untuk mereka.”
James: “Bukankah kita tamu di sini?”
Megan: “Kita memang tamu. (suara hati) Walau itu sebenarnya bohong.”
Roy: “Terima kasih banyak, bos kami selalu merepotkan banyak orang.”
Ibu Max: “Tidak apa-apa, justru rumah menjadi sedikit ramai sejak dia datang.”
James: “Aku hanya memberikan Max tugas seperti biasa.”
Roy: “Kau terlalu sering datang ke rumahnya, ibunya sampai mengira dia selalu membuat masalah.”
James: “Justru aku ke rumahnya untuk menyelesaikan masalah itu, dia yang paling sering terlibat masalah di kantor.”
Megan: “Sudah cukup, bukankah kita ada urusan lain?”
James: “Ah, ya. Max, ikut kami ke dalam. Kami akan memberikan detail pekerjaanmu.”
Max: “Ah, uh, baik.”
Megan: “Permisi, nyonya. Kami pinjam anak anda sebentar.”
Ibu Max: “Silahkan.”
Roy: “Aku tidak ikut, aku akan duduk di sini sambil menikmati kue ini bersama mereka. Lagipula aku adalah supir pribadi kalian, jadi akan kutunggu.”

            James, Megan, dan Max masuk ke dalam garasi, tapi mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan


            Sementara itu Francis masih bertempur dengan Stigmavius, bagian dalam gudang sudah banyak yang hancur. Francis terus menyerang dalam mode Crimson menggunakan pedang, Stigmavius menahan serangannya dengan kampaknya.

Francis: “Stigmavius harusnya ada di sebuah penjara untuk mereka yang disebut subyek, kenapa kau ada di sini.”
Stigmavius: “Dan kau pikir aku adalah dia? Pikir sekali lagi!”

            Stigmavius menendang Francis sampai dia menabrak tembok, tubuhnya kemudian terikat oleh tali yang ditembakkan melalui lengan Stigmavius. Francis memegang tali yang mengikatnya, dia sudah berubah ke wujud awal dan menyetrum tali yang mengikatnya. Aliran listrik mengalir dari tali dan menjalar ke badan Stigmavius, Francis langsung meloncat dan menendang kepalanya. Dia berhasil dirobohkan, tubuhnya terbaring dan diinjak oleh Francis. Tali yang mengikatnya berhasil dilepaskan, dia kemudian mencengkeram kepala Stigmavius.

Stigmavius: “Ugh, memang diperlukan banyak latihan untuk bisa terbiasa mengenakan baju zirah ini.”
Francis: “Ada kata-kata terakhir?”
Stigmavius: “Tolong buka bagian belakang baju zirahku, maka kau akan mengerti.”

            Francis turun dari tubuhnya, dia membalikkan tubuhnya yang besar. Dia kemudian mengamati bagian belakang punggungnya, pandangannya kemudian tertuju pada sebuah lubang kecil di bagian leher. Francis memasukkan jari telunjuknya ke dalam, dia menarik seutas tali dari dalam. Terdengar bunyi ‘klak’, bagian sayapnya menekuk dan masuk ke dalam. Punggung bagian belakangnya mengeluarkan asap dan terbuka ke atas, perlahan keluar seseorang dari dalam.

Francis: “Kau...”


            Kembali ke kediaman Max, di dalam garasi miliknya. Max, James, dan Megan sedang bengong melihat sesuatu. Di hadapan mereka, Uchida sedang merenovasi ruangan dengan anggota badan terpisah-pisah. Ada beberapa robot kecil yang membantunya untuk berbenah, Tangan kirinya sedang memperbaiki bagian atap dengan mengelasnya, tangan kanannya mengelas lantai. Robot-robot kecil yang membantunya memasangi langit-langit dan lantai dengan besi, skuter milik Max dipindah ke bagian lantai yang sudah dilas oleh mereka.

James: “Kalau boleh tahu, apa yang sedang kau lakukan?”
Uchida: “Membetulkan tempat ini, seperti yang kau lihat.”
Megan: “Untuk apa? Bukankah kau sudah punya labmu sendiri?”
Uchida: “Ini sebagai cadangan, tidak aman jika hanya ada satu.”
James: “Lalu bagaimana seandainya kau mau ke tempat kami dan mengisi tenagamu? Max tak bisa memberikanmu banyak hidangan di sini.”
Uchida: “Itu bisa kulakukan di mansion.”
Megan: “Kau mau pakai alat itu lagi untuk pulang pergi dari sana ke sini?”
Uchida: “Tenang saja, aku sudah memiliki cara yang lebih praktis.”
James: “Aku tidak keberatan jika kau tinggal di sini, benar bukan, Max?”
Max: “A... apa?! Tidak... tidak! Tidak bisa! Sudah banyak masalah yang kau berikan kepadaku, kenapa rumahku selalu kau jadikan tempat peristirahatan pribadimu setiap kau kabur dari pekerjaanmu?! Ditambah lagi kau membuat jalur alternatif untuk kabur di bawahnya, kenapa tak bisa kau tinggalkan aku sendiri?!”
Uchida: “Sekarang aku paham kenapa kau bisa lolos dari pengawasan seluruh karyawanmu, pastilah kau kesulitan untuk mengurus dia.”
Max: “Kau dengar itu? Mainan milikmu bicara padaku.”
Uchida: “Maaf, tapi aku bukan mainannya.”
James: “Aku tidak membuatnya, memang benar aku punya banyak mainan dan beberapa kubuat sendiri. Tapi kau pikir aku mau membuat yang berwajah seperti ‘itu’?”
Uchida: (jengkel) “Apa maksudmu seperti ‘itu’?”
Max: “Aku tidak akan mau, lihat dia. Dia besar, wajahnya seram. Jika dia berkeliaran di sekitar rumah, tetangga bisa melaporkanku pada polisi.”
James: “Jika itu masalahmu, aku sudah punya rencana. Megan?”

            Dengan riangnya, Megan mengeluarkan sebuah bungkusan besar. Max dan Uchida keheranan begitu melihatnya, bungkusan itu kemudian dibuka.

Uchida: “Kau pasti bercanda.”


            Beberapa saat kemudian, di luar rumah Max sudah ramai dikerumuni banyak orang. Mereka menonton banyak badut yang sedang bermain akrobat, di antara mereka ada yang paling menarik perhatian. Sosok badut besar berkostum kucing yang bisa memutar-mutar bagian tubuhnya, banyak anak-anak yang menyukai dan mengerumuninya. Badut kucing itu membiarkan anak-anak menaikinya, beberapa duduk di kedua telapak tangannya yang besar. Dia mengangkat anak-anak itu dan memutar-mutar tangannya, mereka yang melihat bersorak sorai. Tanpa diketahui mereka bahwa badut itu sebenarnya adalah Uchida yang memakai topeng kepala kucing, Roy yang berpenampilan badut kemudian mendatangi James yang duduk santai sambil menikmati biskuit bersama Megan.

Roy: “Kenapa aku harus ikut-ikutan?”
James: “Jangan protes, anakmu juga di sini sekarang.”
Roy: “Aku berterima kasih karena kau menjemput anakku dari sekolah, tapi aku tak mengharapkan untuk melihat ayahnya berpenampilan seperti ini. Lihat wajahku, (menunjuk wajahnya yang dicat putih) aku jadi terlihat seperti... kalian.” (menunjuk Megan dan James)
Megan: “Bisa kau hentikan perkataan rasis itu?”
James: “Tapi bayanganmu masih hitam bukan?”
Roy: (jengkel) “Oh, sudahlah.”
James: “Kenapa tidak kau nikmati saja, bukankah anakmu sekarang terlihat senang?”

            Mereka melihat seorang anak lelaki berkulit hitam menaiki tangan Uchida bersama dengan anak lelaki berkulit putih dengan ceria, Max datang bersama ibunya dan bergabung dengan mereka.

Roy: “Untuk kali ini saja aku lakukan ini, kau juga harus beritahu Olivia soal ini.”
Megan: “Aku sudah menghubunginya sejak tadi.”
Roy: (mengambil biskuit) “Dan kau harus langsung pulang ke rumah untuk makan malam nanti.”
Ibu Max: “Tidak kusangka lingkungan bisa seramai ini.”
James: “Seperti yang anda lihat, ini hanya langkah awal untuk menaikkan rating. Robot itu masih dalam pengembangan, jadi aku memberikan tugas besar ini pada Max untuk mengurusnya.”
Max: “A... aku?”
Megan: “Anda tahu taman hiburan milik perusahaan kami yang akan dibuka bulan depan? Robot itu adalah maskotnya, jadi kami ingin meminta ijin untuk menitipkannya di rumah anda agar bisa didiagnosa oleh Max sebelum kami melepasnya.”
Ibu Max: “Kau dengar itu Max? Kau mendapatkan pekerjaan besar dalam hidupmu, tentu saja kami akan menerimanya.”
Max: “Ta-tapi...”
?: “Sepertinya kalian terlihat senang.”

            Semua orang menoleh ke arah suara yang ada di belakang mereka, ada seorang pria berjaket hitam dan bertopi panjang. Dia hendak mengeluarkan sesuatu dari  dalam jaketnya, James dan Megan langsung berdiri dalam posisi waspada. Barang yang dia keluarkan sendiri adalah sebuah pak kartu permainan, dia mengocok-ngocok kartu itu dan membuat kagum Max dan ibunya. Mereka bertepuk tangan melihatnya, James dan Megan sendiri kembali duduk dan juga ikut bertepuk tangan.

Megan: “Sepertinya kita terlalu berlebihan.”
James: “Sudah wajar jika kita bereaksi seperti itu, berlebihan itu jika kita mendadak mengeluarkan senjata dan menodongkannya pada dia seperti film mafia kebanyakan.”
Megan: “Tapi kau ingin melakukannya bukan?”
James: “Hahaha, memang benar.”

            Pria itu mulai membagikan kartunya kepada mereka dengan cepat, masing-masing mendapatkan satu kartu di atas meja. Kartu sisanya dilemparkan dari tangan kiri dan ditangkap dengan tangan kanan, dia memasukkannya kembali ke dalam jaket. James dan Megan saling memandang, kemudian mereka melihat kartu di hadapan mereka. Pria itu memperlihatkan wajahnya, rambutnya keriting panjang sampai ke leher dan berwarna ungu, dia mengenakan anting di telinga kanannya.

?: “Aku saat ini sedang memberikan kalian sebuah permainan yang menarik, akan kujelaskan peraturannya.”
Max: “Tu... tunggu dulu, James?” (melihat James)
?: “Tentu saja ini sudah diperkenankan oleh beliau, aku hanya ingin kalian mendapatkan kesenangan saja seperti yang diinginkannya.”
Ibu Max: “Kau baik sekali, James.”
James: “Terima kasih.”
?: “Sekarang biar kulanjutkan, ada 3 babak dalam permainan ini. Aku akan mengeluarkan... beberapa lembar kartu yang jumlahnya sesuai dengan jumlah orang yang saat ini duduk di kursi, kartu-kartu ini akan kuletakkan di atas meja dengan posisi terbuka jadi gambar di kartu itu terlihat jelas. Kartu milik kalian memiliki kemungkinan mempunyai gambar yang sama dengan salah satu dari kartu itu, jadi...”
Max: “Aku mengerti, pasti kau akan menanyakan pada kami siapa saja yang punya kartu tersebut.”
?: “Justru sebaliknya, kalian harus memilih salah satu dari kartu itu jika kalian merasa kartu tersebut sama dengan yang kalian miliki. Jika benar, kalian akan kuberikan sesuatu. Tapi jika salah... kalian harus memberikanku sesuatu, apapun itu.”
Ibu Max: “Kedengarannya bagus, bukankah kau punya barang yang tak dibutuhkan Max?”
Max: “Tidak, tidak mau! Itu koleksiku! Aku tak mau memberikannya pada siapapun!”
James: “Maksudmu kumpulan majalah otomotif yang ada di bawah kasurmu?”
Max: “Kau tidak tahu seberapa kerasnya aku mengumpulkan itu!”
James: “Seharusnya kau sudah punya mobil sendiri sekarang dengan gajimu, tapi kau habiskan itu untuk membeli majalah dan hanya berimajinasi saat melihatnya.”
Max: “Dengan gajiku saat ini mana mungkin aku bisa membeli sebuah Lamborghini!”
?: “Baik, cukup sampai di situ. Yang jelas, hal yang kuinginkan bukanlah hal sekecil itu. Lebih agak... (melihat Uchida dari kejauhan) besar. Jika kalian berhasil, kalian bisa memilih untuk mundur atau melanjutkan ke babak berikutnya.”
James: “Kalaupun begitu... kau pasti juga akan memberi sesuatu yang besar juga bukan?”
?: “Siapa yang tahu, tapi kau berhak untuk mundur.”
James: “Tidak, aku akan bermain.”
?: “Baiklah, jadi... kita mulai permainannya.”

            Uchida yang mengamati mereka dari kejauhan sudah sadar apa yang sebenarnya terjadi, dia bisa mendengar pembicaraan mereka dari kejauhan.

Uchida: “Sial, seandainya aku bisa ke sana dan menghubungi mereka. Tapi tubuhku tak bisa bergerak, jika bukan karena parasit ini.”

            Ternyata dari dalam tubuh Uchida ada sesuatu yang bergerak-gerak seperti cacing, warnanya biru dan mengeluarkan listrik. Sementara itu, James memulai permainan mereka. Sang pria misterius mengeluarkan empat lembar kartu dari dalam lengan bajunya, kartu itu kemudian disusun berderet. Di atas meja sudah ada empat kartu dengan posisi terbuka, masing-masing orang mengamati kartu milik mereka yang tertutup.

?: “Kalian tidak boleh membuka kartu kalian sebelum kalian ambil salah satu, buka sedikit saja akan ada hukuman. Tentu saja itu berarti kalian akan kehilangan sesuatu, (tersenyum) kalian boleh mengambilnya sekarang.”

            Tanpa ragu-ragu, Megan dan Max langsung mengambil satu kartu. Ibu Max mengambil setelah mereka perlahan-lahan, James mengamati baik-baik sisa kartu yang ada di meja.

Megan: “James, kau tidak mengambil kartunya?”
James: “Tadi kau tidak menyebutkan apakah aku diperbolehkan untuk tidak memilih kartu bukan?”
?: “Kau benar, jadi kau tidak mau mengambilnya?”
James: “Lagipula aku takkan mendapatkan kerugian apapun walau aku tak mengambilnya bukan?”
?: “Baiklah, keputusan sudah dibuat. Hanya satu orang gagal, kalian boleh buka kartunya sekarang.”

            Mereka semua membuka kartu secara bersamaan, macam-macam ekspresi muncul di wajah mereka. Megan memiliki kartu as hati yang sama dengan yang ada di depannya, Ibu Max memiliki kartu ratu sekop yang juga sama. Tapi Max yang terkejut dengan mata terbelalak mendapatkan kartu yang berbeda, dia mendapatkan kartu 8 waru yang berbeda dengan 3 hati miliknya.

?: “Baiklah, hadiah untuk kalian berdua.”

            Pria itu merentangkan kedua tangannya ke depan, masing-masing telapak tangannya berada tepat di hadapan wajah Megan dan Ibu Max. Muncul setangkai mawar secara mendadak dari kedua telapak tangannya, digenggam oleh pria tersebut dan diserahkan pada mereka berdua.

Ibu Max: “Wah, indahnya.”
Megan: “Terima kasih.”
?: “Dan untukmu...” (melihat Max)
Max: “Apapun akan kuberikan, tapi jangan ambil majalahku.”
?: “Aku tidak butuh hal seperti itu, aku hanya mau seseorang.”
Max: “O... orang? A.. apa aku terlihat seperti menyembunyikan penjahat?”
?: “Benar, aku ingin kau memberikan... (mendekati wajah Max) Benjamin Franklin.”

            Suasana hening menyelimuti daerah sekitar mereka, kemudian burung-burung gereja beterbangan dari sebuah pohon.

James: “Jadi intinya... kau mau uang?”
?: “Aku takkan menyebut itu uang, sebut saja... bayaran.”
Max: “Ah... begitu, aku bisa memberimu uang. Tapi aku tak...”
?: “Jangan katakan tidak punya, aku tahu ada 100 di salah satu saku celanamu.”
Max: “Ugh...”
?: “Dan aku menduga kau menyimpan sejumlah 100 dan 75 sen di sekujur tubuhmu.”
Max: “Ba... bagaimana kau tahu?”
?: “Oh, aku tahu semua hal yang tersembunyi. James membawa setidaknya sejumlah 1000, Megan 1500, dan nyonya punya 30 dan 10 sen.”
Semua: (suara hati) “Dia ini mesin detektor uang ya?”
?: “Jadi sekarang berikan apa yang seharusnya kau berikan atau aku yang ambil sendiri darimu.”
Max: “Baik, baik! Aku mengerti! (suara hati) Padahal ini untuk biaya kencanku dengan Valerie.” (menyerahkan uang)
?: “Terima kasih. Omong-omong, kau jeli sekali waktu mengetahui bahwa kartu itu tidak sama dengan kartu yang tersisa.”

            Pria itu mengambil kartu milik James dan membukanya, sebuah kartu 8 waru dan yang terbuka adalah 3 hati.

Max: “Wow, kau hebat.”
James: “Tentu saja, semua juga tahu jika satu kartu yang sama dengan milikku sudah diambil sisanya adalah kartu yang berbeda.”
Megan: “Jumlah kartu yang sama dengan yang kita terima itulah kelemahannya, jika satu yang diambil berbeda dengan milik kita akan membuat pemain yang tersisa tidak punya kesempatan mendapat kartu yang sama.”
Ibu James: “Kenapa tidak terpikir sejak tadi?”
?: “Baiklah, sudah siap untuk babak kedua?”


No comments:

Post a Comment