Thursday, November 27, 2014

Level 36



LABA-LABA

            New York, Amerika Serikat, 19 Oktober 2010, 16:30. Di kediaman milik Max, James bersama dengan Megan kini sedang bermain bersama dengan pria misterius. Mereka bertiga duduk melingkar di meja, Max dan ibunya sudah mundur dari permainan dan sedang bergabung bersama Roy dan rombongan badut yang sedang beristirahat. Seluruh anak-anak sudah pulang bersama dengan orang tuanya, Uchida sendiri hanya berdiri diam di pinggir jalan. Max dan Roy nampak sangat kelelahan, kepala mereka diletakkan di atas meja.

Roy: “Ugh, aku sudah terlalu lelah.”
Ibu Max: “Kau sudah bekerja keras, kenapa kau terlihat muram?”
Roy: “Setelah ini aku harus kembali ke kantor untuk mengantarkan produk yang masih dalam tahap percobaan, lalu setelah itu aku harus menjemput nyonya besar untuk makan malam di mansion.”
Max: “Kau masih beruntung, aku harus membuat proposal desain game sebanyak 100 halaman dan mengumpulkannya besok. Ditambah dengan itu, (memandang Uchida) pekerjaanku jadi dua kali lipat dari milikmu.”
Roy: “Ngomong-ngomong, apa yang sedang mereka lakukan?” (memandangi James dan Megan dari kejauhan)
Max: “Mereka sedang bermain kartu, tadinya kami juga sempat bermain tapi kami memutuskan untuk mengundurkan diri.”
Roy: “Oh, lalu kenapa kalian mundur?”
Max: “Aku mundur atas keinginanku sendiri, ibu diminta mundur oleh James. Keputusan yang tepat, kami bisa bangkrut kalau kami bermain lebih dari ini.”
Ibu Max: “Tapi karyawan itu baik sekali sampai memberikanku setangkai bunga mawar.”
Roy: “Karyawan?”
Ibu Max: “Pria seperti pesulap yang ada di sana, kau lihat?”

            Roy bangkit dan melihat Megan dan James, mereka duduk bersama dengan pria misterius. Ketika Roy hendak beranjak dari tempatnya, sebuah mobil Lamborghini berhenti tepat di hadapannya. Yang mengendarai mobil itu adalah Olivia, dia beranjak keluar dari mobilnya sambil membawa sebuah koper.

Olivia: “Di mana nona Megan?”
Roy: “Di seberang sana, tapi ada sesuatu yang gawat.”

            Sementara itu, James, Megan, dan sang pria misterius masih bermain kartu. Pria misterius itu mengocok kartu secara cepat, gerakan tangannya tak bisa terbaca oleh mata. Kartu-kartu itu kemudian dilemparkan dan mendarat di atas meja, 5 lembar kartu tertutup dan dua kartu yang terbuka untuk masing-masing orang.

?: “Ini sudah babak terakhir, semakin sulit dari yang kalian perkirakan.”
James: “Dan belum ada satupun yang berhasil kau ambil dari kami.”
?: “Tapi bukankah kalian senang setelah kuberikan hadiahnya?”
Megan: “Walaupun kau bilang begitu... sudah terlalu banyak bunga yang kau berikan kepadaku.”

            Di belakang Megan dan di atas meja sudah terdapat banyak karangan bunga, sementara James sendiri diberikan bermacam-macam buah-buahan di bawah meja.

James: “Apa kau ini petani?”
?: “Tidak, aku hanya... seekor laba-laba.”
Megan: “Apa maksudmu?”
?: “Aku hanya menangkap mangsa ketika dia sudah terjebak dalam perangkapku, itu saja. Ngomong-ngomong, ada dua ekor lalat yang sepertinya hendak terjerat dalam jaringku.”

            James sadar saat melihat Olivia dan Roy berjalan menuju ke tempat dia berada, namun mendadak Uchida menghalangi mereka.

Roy: “Hey, apa yang kau lakukan?”
Olivia: “Tolong minggir.”
Uchida: “Kalian minta sekalipun, aku tak bisa melakukannya.”

            Mendadak Uchida merentangkan kedua tangannya ke depan dan hendak menangkap mereka, tapi hal itu hanya membuat mereka terdorong karena tangannya memakai sarung tangan boneka. Roy jatuh ke belakang, kali ini tubuhnya ditekan oleh salah satu tangan Uchida.

Roy: “Argh!”
Olivia: “Apa maksudmu?”
Uchida: “Aku kena hack.”

            Sementara itu James dan Megan tidak bisa bergerak dari kursi mereka dan hanya bisa melihat Uchida menghalangi Olivia dan Roy, mendadak Megan mengambil kartu-kartu yang tertutup dan mengambil dua buah kartu. Salah satu dari kartu itu persis dengan yang dimiliki Megan, sebuah as wajik. Tapi dia mendapat kartu yang berbeda dari 3 hati miliknya, sebuah kartu 7 sekop.

?: “Ah, sayang sekali. Kau hanya benar satu, aku akan ambil... Ulysses.
           
            Megan mengeluarkan selembar uang 100 Dollar dan memberikannya kepada pria tersebut, tapi dia hanya memandangi uang itu dan tidak menerimanya.

Megan: “Kenapa? Tidak punya kembalian?”
?: (mendesah) “Maaf saja, tapi memberikan uang bukan sifatku. Sebenarnya aku tahu kau tidak memilikinya, tapi pelayanmu itu punya.” (memandang Olivia)
Megan:  (menyimpan uangnya lagi) “Dan kalau kau dapat uangnya, aku bisa pergi dari sini?”
?: “Sayangnya tidak, keputusan itu hanya bisa ditentukan oleh kakakmu. Tiga kartu tersisa, kau harus memilih. Ulysses akan kuambil, setelah ini selesai.”
James: “Bagaimana kalau aku salah?”
?: “Kalian bisa pergi, tapi yang besar tetap di sini. Aku sendiri yakin kau bisa, di depanku sendiri adalah pemuda yang pernah memenangkan setidaknya 200 juta dollar di meja roullete di Vegas.”
Megan: (memandang kesal James) “Memang sejak kapan kau ke Vegas?”
James: “Jangan bahas hal itu, yang terpenting sekarang adalah ini.”
?: “Itu benar, jika kau tak cepat menyelesaikan ini mungkin akan ada banyak yang mati. Tapi jika kau tepat, yang mati cukup seekor saja.”
James: “Maaf, tapi takkan ada yang mati untuk hari ini. Kalau aku menang, beritahu aku siapa dirimu.”
?: “Dengan senang hati, aku bisa jadi teman ataupun musuhmu. Semuanya tergantung padamu, tubuhnya tidak akan bertahan lama setelah ini.”

            James mengamati secara seksama pada tiga kartu yang tertutup, sementara itu Roy dan Olivia menghindari serangan dari Uchida. Roy hanya bisa berlari ke sana kemari dikejar oleh tangan yang terbang, sedangkan Olivia denga lincahnya menghindari semua serangan dari tangan satunya. Para staf, Max, ibunya, dan orang-orang yang kebetulan lewat hanya menyaksikan dari jauh, ada beberapa orang yang mengambil foto dengan kamera HP.

Ibu Max: “Apa ada pertunjukan tambahan?”
Max: “Ibu, biarkan saja mereka dan siapkan makan malam.”
Ibu Max: “Ibu sudah memasak, ambil saja sendiri makanannya.”
Max: “Kalau begitu aku duluan.”

            James sudah mengambil sebuah kartu yang sama dengan miliknya, sebuah raja hati. Pada saat bersamaan, Olivia menaiki tangan Uchida dan menghantam kepalanya dengan koper yang dia bawa. Kepalanya berputar-putar tanpa henti, membuat dia kehilangan kendali atas kedua tangannya. Secara tidak sengaja, sebuah tangan menghantam tubuh Max yang kebetulan lewat dan membuatnya terlempar ke tong sampah. Mendadak dari tubuh Uchida keluar aliran listrik yang membuat lampu di daerah sekitar pecah, orang-orang mulai berlarian ke segala arah karena panik. Olivia langsung memberi aba-aba kepada para staf yang sedang beristirahat dengan membuat semacam sandi menggunakan gerakan tangannya, para staf langsung bubar dan berlari menuju ke kendaraan perusahaan.

James: “Mulai semakin seru.”
Megan: “Hey! Ini bukan seru tapi gawat!”
?: “Kau belum lihat bagian terbaiknya.”
James: “Aku sudah memilih, kau tak perlu memberitahuku kau berada di pihak siapa.”

            Mendadak, salah satu tangan Uchida meluncur dan menabrak meja tempat James berada. Seluruh kartu, bunga-bunga, dan buah-buahan beterbangan di hadapan mereka. Dua kartu yang tertutup itu kini berada di udara, James dan sang pria mencoba menangkapnya. Mereka berhasil menangkap masing-masing satu kartu, kedua tangan mereka saling bersilang dan di hadapan wajah mereka ada sebuah kartu yang sudah ditangkap. Mereka berdua tersenyum ketika melihat kartu yang diperlihatkan, Megan melihat mereka sambil tiarap.

James: (memperlihatkan as sekop) “Aku mengerti, kau netral.”
?: “(memperlihatkan Joker) “Bisa dikatakan begitu, tapi...”

            Pria itu kemudian melemparkan kartu Joker yang dipegangnya ke arah Uchida, kartu itu menancap di tubuhnya. Kepalanya yang terus berputar-putar perlahan-lahan berhenti dan terjatuh di semak-semak, semua anggota tubuhnya yang melayang-layang terjatuh dan tidak bergerak sama sekali.

?: “Aku sudah katakan padamu, yang mati cukup seekor saja.”
James: “Apa itu tidak berlebihan?”

            Mendadak kepala pria tersebut ditodong pistol oleh Olivia sudah berada di sebelah kirinya, para staf yang sudah tak berpenampilan badut dan sudah berganti berseragam lengkap kini berpencar ke segala penjuru dan memperbaiki lampu-lampu yang pecah. Roy sendiri mengumumkan sesuatu pada orang-orang yang tadinya panik, tidak ada yang terluka dalam kejadian tersebut.

Roy: “Mohon maaf, tuan-tuan dan nona-nona. Ada kesalahan teknis pada produk percobaan kami saat ini sehingga menimbulkan ketidaknyamanan, karena itulah kami mohon segera meninggalkan tempat ini. Bagi kalian yang terkena luka atau tidak senang karena kejadian barusan, kami memberikan servis spesial berupa pembagian produk gratis dari kami. Silahkan ikuti staf kami ke area tertentu, mohon maaf sekali lagi atas ketidaknyamanan ini.”

            Seluruh orang di sekitar lingkungan tersebut segera datang berbondong-bondong sambil dikawal oleh staf ke beberapa truk perusahaan TDG, bagian-bagian tubuh Uchida dimasukkan ke dalam garasi rumah Max. Max yang jatuh ke dalam tong sampah segera dibantu oleh Roy dan ibunya, mereka kemudian membawanya ke dalam rumah sambil menutup hidung mereka tanpa menghiraukan Olivia.

Olivia: “Jangan berkata apa-apa dan masuk ke dalam sana.”
Megan: “Olivia, lebih baik kau simpan pistolmu. Di sini masih banyak orang, borgol dia.”
Olivia: “Baik, nona Megan.”

            Olivia mengeluarkan borgol dari balik seragam maidnya, kedua tangan pria itu diborgol dari belakang. Para staf memasukkan seluruh bagian tubuh Uchida ke dalam garasi segera keluar, Olivia, James, Megan, serta sang pria misterius masuk ke dalam. Pintu garasi langsung ditutup rapat-rapat, mereka tak menyangka ada seseorang sudah menunggu mereka di dalam. Francis sudah kembali dari pertempuran, duduk di sebuah kursi sambil memangku kepalanya.

James: “Kau terlambat.”
Francis: “Tapi kulihat kau masih hidup.”
Megan: “Kapan kau kembali? Apa kau sudah mengalahkannya?”
Francis: “Dia di belakang kalian.”

            Kaget dengan apa yang dikatakannya, mereka langsung berbalik dan melihat Stigmavius di belakang mereka. Pria besar berbaju baja dengan motif burung kakatua, badannya terlalu besar hingga kepalanya membentur langit-langit. Ketika Olivia hendak menodongkan pistolnya, dia baru menyadari kedua tangannya sudah diborgol. Dia kemudian melihat sang pria misterius sudah berdiri menghadapi Francis sambil meletakkan kedua tangannya di belakang, dia mengambil kursi dan duduk di depannya.

?: “Jadi akhirnya kita bertemu.”
Olivia: “Kau?! Kapan kau...”
?: “Kalau kau pikir hal seprimitif itu bisa menahanku, kau salah besar.”
Francis: “Aku tak pernah ingat bertemu denganmu, tapi aku pernah dengar mengenai reputasimu.”
?: “Terima kasih, dan kudengar Alterion memberimu harga tinggi untuk seluruh tubuhmu. Jadi bagaimana menurutmu, Stig?”
Stigmavius: “Dia cukup hebat, kau takkan percaya apa yang tadi dia lakukan kepadaku.”
Megan: “Kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak langsung hajar mereka?”
James: “Dan menghancurkan rumah seseorang? Kurasa tidak, mereka ke sini bukan untuk salah satu dari mereka.”
?: “Kau benar-benar sebuah kartu as bagi Alterion, aku ingin kau menerima ini sebagai perkenalan.”

            Pria itu mengeluarkan buah apel dari dalam bajunya dan melemparkannya pada Francis, dia langsung menangkap dan memakannya.

Francis: “Rasanya kau sudah tahu seleraku.”
?: “Aku tahu segala hal kecil tentang dirimu, bahkan sejak kau sampai ke jaman ini.”
Megan: (suara hati) “Kenapa dia mau saja menerima pemberian dari musuh?”
Francis: “James, di mana Uchida?”
James: “Dia ada di belakangmu.”

            Francis melongok ke belakang dan melihat sebuah kepala boneka kucing yang sangat besar, hal itu membuat dirinya mengernyitkan dahi.

Francis: “Kau bercanda.”
Megan: “Itu memang benar dirinya.”
Francis: “Aku tak menyangka dia bisa berubah menjadi sesuatu yang bodoh seperti ini.”
Megan: (jengkel) “Apa maksudmu bodoh?! Itu imut dan lucu!”
Francis: “Lalu apa yang kau harapkan saat aku melihat ini? Menari-nari sambil minum dengan hidung?”
James: “Ahahahah, aku jadi ingin melihatnya.”
Megan: “...itu hal terbodoh yang pernah kudengar... Lagipula itu bukan upgrade, aku yang membuatnya jadi begitu. (berjalan ke belakang Francis) Lihat baik-baik, ini hanya topeng.”

            Megan mengeluarkan kepala Uchida dari dalam topeng kucing tersebut dan menunjukkannya pada Francis, dia menerima kepala itu dan menatap wajahnya. Dia lalu menatap Megan lalu kepada Uchida, dia lalu melemparkan kepala itu pada Stigmavius.

Megan: “Hei! Jangan melempar kepalanya!”
Francis: “Kau bilang ada urusan dengan Uchida bukan? Dia sudah di tanganmu sekarang.”
Stigmavius: “Aku memang berkata begitu, tapi urusan itu sendiri adalah untuk melindunginya dari musuh.”
Olivia: “Maksudmu dia?” (menunjuk sang pria misterius)
Stigmavius: “Oh, bukan. Aku yang menyewanya untuk mengawasi keadaan profesor, sementara subyek M46 sendiri mengejarku.”
Megan: “Kalau begitu kenapa kau tidak katakan sejak awal saat di mansion tadi?”
Stigmavius: “Mohon maaf jika saat pertama bertemu aku mengejutkan kalian, tapi semuanya sudah terlambat saat aku sampai.”
?: “Musuh itu sendiri sudah menangkap profesor sejak awal, dia sudah memasuki bagian dalam tubuhnya.”
Francis: “Hack.”
Olivia: “Jadi alasan kenapa dia menyerang saat itu...”
Stigmavius: “Tubuhnya dikendalikan oleh ‘Hack’, sebuah organisme yang mampu memancarkan aliran listrik dan membuat benda elektronik yang dia masuki bergerak sesuai keinginannya.”
Olivia: “Aku paham, (melihat sang pria misterius) dia sengaja menjauhkan Nona Megan dan Tuan James dari Uchida agar mereka tak jadi korban.”
Stigmavius: “Ketika aku hendak sampai tujuan, subyek M46 mendadak menyerang dan mengejarku. Akhirnya aku perintahkan pada dia untuk mengawasi profesor jika nantinya terjadi sesuatu, tapi aku sadar jika menjelaskan padanya langsung tidak ada gunanya.”
James: “Kau benar, dia itu tipe yang suka serang dulu baru bertanya.”
Francis: “Itu hanya tindakan pencegahan untuk memastikan dia musuh atau tidak.”
James: “Dan kau... (melihat pria misterius) juga belum menyebutkan siapa dirimu, kau sudah berjanji.”
?: “Benar sekali, aku belum menyebutkan namaku sejak awal.”
Francis: “Dia hanya seekor laba-laba yang suka menunggu mangsa terjebak dalam jaringnya.”
?: “Subyek M46, biar aku yang menyebutkan siapa diriku. Sudah suatu kebijakan bagiku untuk menepati janji pada pemenang, jadi kau diam saja.”

            Pria itu kemudian berdiri, dia berjalan ke tempat di mana seluruh bagian-bagian tubuh Uchida diletakkan dan mengambil kartu Joker yang menancap di tubuhnya. Tubuh Uchida mendadak bergetar dan mengeluarkan kilatan listrik, semua yang ada di dalam mundur dan melihat sesuatu keluar dari dalam tubuh itu.

?: “Aku pernah mengatakan padamu kalau yang mati cukup seekor saja bukan?”
James: “Kau benar, dia memang bukan ‘orang’.”
?: “Hack menggunakan tubuh profesor untuk menghabisi kalian, dia sadar bahwa dirinya sudah dimasuki ketika terbangun. Setidaknya dia berhasil melawan sedikit pengaruhnya, aku sudah mengetahuinya saat dia sedang menghibur anak-anak. Dia berusaha agar kalian terjauh darinya, dengan itu protokol takkan bisa dilaksanakan. Jika kalian mendekatinya, protokolnya akan aktif dan Hack akan menghancurkan diri dengan ledakan dalam radius 5 km. Untungnya aku berhasil menghentikan pergerakannya sebelum itu bisa terjadi.”
James: “Menyeramkan sekali.”

            Olivia sudah dilepaskan dari borgol oleh Megan, dia kemudian membuka koper yang dia bawa. Dua buah Marscannon dengan masing-masing berwarna biru dan merah, Megan mengambil yang berwarna merah dan langsung mengenakannya. Setelah itu dia melemparkan yang berwarna biru pada James, kini mereka menodongkannya pada bagian tubuh Uchida. Sesuatu yang panjang keluar dari dalamnya, suatu makhluk berwarna biru dengan kilatan listrik di sekujur tubuhnya. Bentuknya seperti belut, di ujung ekornya terdapat semacam jarum, tidak memiliki mata, namun memiliki dua buah kepala dan mulut di masing-masing kepalanya. Pria itu kemudian melepas topinya yang panjang, beberapa dari mereka terkejut ketika melihat apa yang ada di balik topinya. Ada seekor laba-laba besar dan berbulu yang menempel di atas kepalanya, memiliki sebuah bola mata yang sangat besar dan menyeramkan.

?: “James Archibald Yorgins, biarkan kuperkenalkan diriku. Aku seorang pemburu bayaran, orang-orang menyebut diriku ‘Arachnus’.”

No comments:

Post a Comment