Thursday, April 24, 2014

Level 32

LATIH TANDING

            New York, Amerika Serikat, 17 Oktober 2010. Di Mansion keluarga Yorgins, para pelayan dan maid sedang sibuk mengeluarkan barang dari dalam garasi. Megan dan James mengamati mereka di dalam, dari sebuah jendela. Mereka berdua sedang duduk sambil minum jus, Uchida dan Francis juga berada di dalam ruangan tersebut. Uchida dalam wujud telur dan Francis berdiri di sudut ruangan, Olivia menyediakan Oreo di atas meja.

James: “Francis, bergabunglah bersama kami.”
Francis: “Tidak usah.”
James: “Ada makanan dan minuman di sini, kau tidak mau makan Oreo?”
Francis: “Aku sudah makan.”
James: “Ayolah, cobalah segigit saja.”
Francis: “Bawa saja kemari.”
James: “Terserah kau saja.”

            James melempar satu biscuit pada Francis, dalam sekejap dia membuka mulut dan melahapnya. Dia mengunyah-ngunyah dan menelannya, Olivia memberikan padanya segelas jus. Francis menerimanya dan langsung menyeruputnya sampai habis, dia diam sejenak setelah menjilat-jilat bibirnya.

James: “Bagaimana?”
Francis: “Manis.”
James: “Ah ya, ya, ya.”
Francis: “Jus ini… apa ini apel?”
Olivia: “Ah, bukan. Itu jeruk, dipetik tadi pagi dari kebun dan diperas langsung.”
Francis: “Apa kau punya apel?”
James: “Kau mau apel? Kau bisa ambil di kulkas warna hijau yang ada di sebelah kirimu.”

            Francis langsung berjalan dengan cepat ke kulkas hijau, dia langsung membuka dan melihat isinya. Dia mengambil sesuatu dan melihatnya dari dekat, kini dia memegang buah dengan bentuk panjang dan berwarna hijau.

Francis: “Apel yang aneh.”
Megan: “Dia bodoh ya?”
James: “Ehm, Francis… itu bukan apel…”
Olivia: “Itu mentimun, apel ada di bagian teratas.”

            Francis menyerahkan timun itu pada Olivia, dia langsung membuka kulkas lagi. Kali ini dia mengambil sebuah apel berwarna hijau, dia mengendus kemudian menjilatnya.

Francis: “Hm, ini benar-benar apel.” (menggigit apel)
James: “Sepertinya di masa depan tidak banyak buah yang kau kenal ya?”
Francis: “Jika mengenai buah, sebenarnya ada beberapa yang biasa kusantap. Bentuknya bulat dan sekecil koin, rasanya asam, warnanya ungu.”
James: “Anggur?”
Francis: “Mungkin itu sebutannya bagi kalian di sini, tapi buah itu berduri dan kulitnya harus dikupas terlebih dulu.”
Megan: “Yang berduri itu… namanya durian bukan?”
James: “Yang lebih penting saat ini, Francis bisakah kau berubah di hadapan kami semua?”
Francis: “Dan kau pikir aku mau melakukannya, helm itu…”
James: “Ada di sini, tenaganya juga sudah diisi.”

            Di atas meja sudah ada helm transformasi milik Francis, Francis menoleh pada Uchida yang masih menjadi telur. Dia kemudian berjalan langsung ke meja untuk mengambil helmnya, tapi James mengambilnya sebelum dia sempat.

Francis: “Kembalikan itu.”
James: “Berubahlah dulu.”
Francis: “Tak bisa kulakukan tanpa itu.”
James: “Maksudku berjanjilah kau akan memakai ini dan berubah di hadapan kami.”
Francis: “Kau tak punya hak untuk menyuruhku, tanganmu bisa saja kupatahkan untuk mengambil helm itu.”
James: “Kau takkan bisa melakukan itu, bukankah kau hanya melakukan itu pada orang-orang Alterion?”
Francis: “Memang benar, tapi aku juga bisa melakukannya pada mereka yang bukan Alterion.”
James: “Oh, apa itu ancaman?”
Francis: “Lalu maksudmu kalau aku mengancam, aku harus telanjang sambil memelukmu begitu?”
Megan: “Uph!!” (menutup mulut)
James: “Hahaha, aku bercanda. Kukembalikan ini.”

            Ketika James hendak mengembalikannya, mendadak Roy masuk dan menembakkan panah dengan busur pada Francis. Panah itu menancap di pantat Francis, mendadak keadaan menjadi hening. Dengan ekspresi yang kaku, Francis mencabut panah di pantatnya. Dia melihat Roy kemudian pada ujung panah yang berlumuran darah, Roy agak ketakutan saat dia dipandangi oleh Francis. Dia melemparkan kembali panah itu, tapi lemparannya melewati kepala Roy dan memecahkan vas bunga di belakangnya. Mendadak Olivia mengambil pedang yang digantung di dinding ruangan, dia langsung menyabet kepala Francis. Serangan itu berhasil mengenainya, pipinya robek terkena sabetan. Megan langsung menutup mulut begitu melihatnya, luka di pipinya langsung sembuh dalam sekejap.

James: “Astaga, seharusnya kau hindari saja serangan itu.”
Francis: “Aku sudah biasa mendapat banyak luka.”
James: “Tapi walaupun begitu, aku tak ingin kesanmu terlihat seperti orang barbar. Ini bukan zaman di mana kita bisa menerima kekerasan, setidaknya cobalah untuk beradaptasi.”
Francis: “Aku tetap tidak akan memakainya walaupun kau menyuruhku.”
Uchida: “Bagaimana kalau dipakai untuk latihan saja?” (melongokkan kepala)
Francis: “Kupikir kau tidur.”
James: “Oh, ide bagus. Olivia bisa jadi lawan tandingmu.”
Francis: “Lawan… tanding…?”
Megan: “Ja-James?”
James: “Oooh, sepertinya kau tidak sabar ingin bertarung.”
Francis: “Sebenarnya… aku memang ingin melawan seseorang, tapi aku tidak yakin jika lawanku mungkin akan lolos dalam keadaan hidup. Aku juga tidak menjamin akan ada satu atau dua bagian tubuhnya yang masih menempel pada tempatnya, apa kau yakin?”
Megan: “Tidak, tidak boleh! Dia bisa saja menghancurkan seisi rumah jika itu terjadi!”
James: “Boleh saja kalau aku menyuruh Roy menggantikannya, tapi dengan kondisi seperti itu?”

            Mereka melihat Roy dalam keadaan jatuh berlutut dengan kepala menyentuh lantai, seluruh badannya gemetaran. Ada air menggenang di lantai tempat Roy berdiri, celananya basah karena dia mengompol.

Francis: “Aku lebih baik melawan seekor gorila daripada dengan dia.”
Megan: “Ng, Olivia.” (ekspresi jijik)
Olivia: “Baik, saya akan segera panggil orang untuk membersihkannya.”


            Beberapa saat kemudian di dalam dimensi Crimson, Francis sudah berada di sana dalam kondisi berubah wujud. Di hadapannya sudah ada Olivia, hanya saja agak terlihat berbeda. Di dunia nyata Uchida dan yang lain sedang mengamati Francis dari sebuah layar monitor di laptop yang terhubung dengan tubuh Uchida, di sebelah monitor ada Olivia yang terlihat duduk di kursi dengan sebuah kacamata yang terhubung dengan sebuah kabel di laptop.

Uchida: “Baik, kau siap?”
Francis: “Aku tak perlu segan-segan bukan?”
Uchida: “Ya, Olivia di hadapanmu adalah sebuah proyeksi digital. Jadi tidak apa-apa jika kau mencincang ataupun melubangi tubuhnya, tapi tenang saja ini tidak akan ‘berdarah’.”
Megan: “Olivia, aku tak yakin dengan ini.”
Olivia: “Nona Megan, percayakan saja ini pada saya.”
James: “Kalau bisa tolong dipotong dadu.”
Roy: “James, kau mau bunuh dia?!”
James: “Bukankah ini sudah dijamin keamanannya?”
Uchida: “Francis, tembak dia.”

            Francis menembakkan laser dari ujung jari telunjuknya ke dahi Olivia, tembakan itu mengenai dan melubangi kepalanya. Sementara itu Olivia di dunia nyata merasakan kejang otot, tapi sebaliknya Olivia masih bisa berdiri di dimensi Crimson. Lubang di kepalanya langsung menutup, Francis langsung mengubah dirinya ke mode Crimson. Dia menciptakan sebuah golok dan pedang panjang, dia langsung menyerang Olivia. Perutnya ditusuk dengan pedang, kepalanya dipenggal dengan golok. Roy yang melihat menjadi ngeri dan memegang lehernya sendiri, tubuh Olivia di dunia nyata ikut kejang bersamaan dengan serangan yang diterima. Lehernya yang terpotong di dimensi Crimson menyatu kembali dengan tubuhnya, Francis mencabut pedang di perut Olivia.

Uchida: “Sudah kukatakan, keamanannya terjamin. Kau hanya akan merasakan efek kejut pada syaraf di bagian tubuh yang terkena serangan, cara ini adalah satu-satunya yang paling aman.”
Megan: “Aku sedikit lega setelah tahu itu, jadi Francis… memiliki macam-macam kemampuan.”
James: “Ya, benar sekali. Dia bisa menembakkan sinar seperti repulsor dan menggunakannya di sekujur tubuhnya, dia memiliki kemampuan penyembuhan diri, selain itu dia juga mampu menciptakan senjata yang terbuat dari partikel yang sama dengan baju tempurnya!”
Roy: “Maniak komik ini bicara tak jelas lagi…”
Megan: “Jadi dengan kata lain…”
James: “Ya benar, dia memiliki kemampuan Iron Man… Wolverine… dan Green Lantern!”

            Mendadak kondisi dalam ruangan menjadi sunyi senyap, hanya terdengar suara nyamuk terbang. Uchida langsung menangkapnya dengan jarinya yang besar, setelah itu dia menyerahkan nyamuk yang sudah mati itu ke tangan Roy.

Roy: “Ehm, maaf tapi dia tidak hijau.” (green)
Megan: “Dia merah.”
James: “Tapi dia punya kemampuan seperti Green Lantern.”
Roy: “Seharusnya kau sebut dia Red (merah) Lantern.”
James: “Red Lantern itu penjahat.”
Megan: “Tapi wajahnya memang seperti penjahat.”
James: “Ya, dia memang tidak begitu ramah dan kurang bersahabat… tapi…”
Uchida: “Maaf menyela, tapi mereka sudah mulai bertempur.”

            Mereka semua kini menatap layar monitor, Francis dan Olivia saling menembak satu sama lain. Olivia menembakkan pistol mesinnya bertubi-tubi ke tubuh Francis, tapi seluruh peluru yang menyentuh tubuhnya mental dan penyok. Olivia sendiri berusaha menghindari serangan, tapi dia hanya bisa melayang-layang tak tentu arah. Francis berhenti menembak, dia melihat Olivia mencoba bergerak dengan gerakan renang.

Francis: “Sepertinya ada yang aneh, tak bisakah kau beri dia semacam jetpack?”
Megan: “Dia seperti sedang berenang di dalam air, apa tidak bisa diberi pijakan?”
Uchida: “Segera dilakukan, James.”

            James mengetikkan beberapa kata, di layar monitor muncul gambar Spider-man. Spider-man menembakkan jaring dan membuatnya sebagai pijakan, secara bersamaan muncul lantai di bawah Francis dan Olivia. Kini mereka berdua berdiri di atas lantai, mereka berdua bisa berjalan di atasnya. Olivia sekarang berlari dan mengeluarkan dua bilah pisau dari pahanya, kini dia mencoba menusuk dada dan leher Francis. Akan tetapi pisau itu patah dua-duanya dan tidak berhasil menembus tubuhnya, Megan cemberut saat melihatnya.

Megan: “Itu tidak adil, baju tempurnya sepertinya tak bisa ditembus oleh peluru.”
Roy: “Pisau atau pedang saja bisa patah, rasanya itu tidak seimbang.”
Uchida: “Tepat sekali, bajunya terbuat dari partikel Crimson yang ada di dalam dimensi Crimson. Kepadatan partikel ini setara dengan besi yang biasa digunakan pada tank di zaman kalian, kalian lihat wujudnya sekarang? Itu adalah mode Crimson, ketika lambang di dadanya diubah menjadi merah, semua lingkaran di tubuhnya mampu menyerap dan mengeluarkan partikel Crimson di sekitarnya.”
Megan: “Dimensi Crimson itu… sebenarnya apa?”
Uchida: “Sayangnya saat ini aku tak bisa menjawab pertanyaan itu, tapi hanya ini yang bisa kujelaskan. Baju tempurnya didesain khusus untuk menyerap elemen lain selain partikel Crimson, tergantung dari keadaan di sekitarnya.”
James: “Lihat, sepertinya dia mulai melawan balik.”

            Francis menyabet goloknya pada Olivia, kini Olivia terlihat memakai pedang yang tadi diciptakan Francis. Kini mereka berdua saling menyerang dengan senjata masing-masing, Olivia menangkis semua serangan yang datang. Tapi semakin lama menyerang, Olivia menyadari bahwa pedang yang dia pakai kini mulai rusak, dia melihat banyak goresan di pedang yang dia pakai. Olivia menghindari serangan dari Francis, menahan sabetan golok dengan pedangnya lalu memutar dan melemparkan golok yang dipegang Francis. Pedang yang dipakai Olivia kini patah, Olivia langsung meloncat dan menangkap golok yang terlempar di udara. Dia langsung menyabet ke bagian atas kepala Francis, Megan yang melihat memalingkan pandangannya. Roy menutup matanya, tapi James dan Uchida tenang-tenang saja. Terdengar suara besi berdenting, Megan perlahan melihat kembali ke layar monitor. Roy membuka matanya, yang mereka lihat sungguh di luar perkiraan. Francis sama sekali tak bergeming, golok itu sama sekali tak berefek apapun padanya. Francis langsung mengambil golok yang masih dipegang Olivia dan menempel di kepalanya, dia berubah kembali ke mode biasa dan membuat golok yang dipegangnya hilang.

Roy: “Kenapa dia berhenti menyerang? Apa serangan itu mengenainya?”
James: “Dia tidak berhenti, serangan yang dilancarkan jelas mengenainya. Tapi semua tubuhnya dilapisi pelindung yang keras, senjata tertentu yang digunakan untuk melawannya akan berakhir terpantul atau rusak.”
Megan: “Ini hanya opiniku, tapi mungkinkah senjata yang diciptakan olehnya sama kerasnya dengan baju tempur yang dipakainya?”
Uchida: “Pengamatan yang bagus, inilah kehebatan dari mode Crimson. Pemakai bisa menciptakan senjata dengan memikirkan sifat, bentuk, dan berapa besar tingkat kepadatan yang digunakan. Jika dia memfokuskan lebih pada tingkat kepadatannya, golok itu bisa saja menembus perlindungannya.”
Roy: “Kalau dia punya kemampuan untuk menyembuhkan diri, kenapa dia harus repot-repot untuk melindungi tubuhnya dengan baju tempur itu?”
James: “Kau itu bodoh ya? Sembuh dengan sendirinya bukan berarti itu bisa membuatmu tetap hidup, bisa saja dia mengalami komplikasi yang fatal karena luka yang dia derita.”
Francis: “Bisakah kita mengakhiri ini semua?”
Olivia: “Itu benar, sudah waktunya bagi saya untuk mengantar nona Megan ke konser.”
Uchida: “Jika kau bilang begitu…”
James: “Padahal aku ingin melihat lebih lama lagi.”
Uchida: “Tak usah cemas, kau bisa lihat kemampuannya yang lain. Hanya saja kau perlu waktu, keluarkan mereka dari sana. Aku tak bisa melakukannya sendiri karena aku sudah hampir tak bertenaga, aku sama sekali belum isi tenaga.”

            Uchida mengganti bola mata palsunya dengan bola mata berwarna merah, James mengetikkan beberapa kata. Kali ini di layar laptop muncul gambar Mister Fantastic dari Fantastic Four, tampak mengoperasikan sebuah mesin dan membukakan suatu gerbang. Bersamaan dengan itu mata palsu Uchida memancarkan sinar merah dan membukakan portal, Olivia sendiri sudah kembali ke dunia nyata dan melepas kacamata yang dipakainya. Francis keluar dari dalam portal, terbang melayang. Dia kemudian mengambil kursi dan duduk, Olivia langsung mengantar Megan keluar.

Megan: “Kuharap kau sudah sediakan mobilnya, berapa waktu yang tersisa?”
Olivia: “30 menit, nona.”
Megan: “Kita naik Ferrari saja.”
Francis: “Aku ada satu permintaan sebelum kau pergi.”
Megan: “Apa itu?”
Francis: “Bukan kau, tapi dia.” (menunjuk Olivia)
Olivia: “Apa yang bisa saya lakukan untukmu.”
Francis: “Aku mau kalau lain kali kita berhadapan di tempat selain dimensi Crimson, aku juga takkan memakai baju tempurku.”
Olivia: “Baik.”
Megan: “Jangan turuti dia, Olivia. Asal kau tahu saja, kau belum mendapat persetujuan dariku.”
Francis: “Tanpa persetujuanmu pun, dia akan tetap melakukannya.”

            Olivia berbalik menghadapi Francis, dia kemudian mengangguk kepadanya. Setelah itu mereka berdua pergi meninggalkan Uchida, Francis, James, dan Roy. Uchida langsung menutup portal yang terbuka dengan mengeluarkan bola matanya, dia kemudian menggantinya lagi dengan bola mata yang biasa dia pakai. James mencabut kabel yang terpasang di laptopnya, kabel itu masuk dengan sendirinya ke dalam tubuh Uchida. Dia kemudian berubah menjadi telur, James kemudian menelpon melalu HPnya.

James: “Humpty Dumpty, kau suka makanan pedas?”
Uchida: “Terserah kau saja, asalkan itu bisa dikonsumsi.”
James: “Halo, segera siapkan 100 porsi kare dan bawa ke ruangan di mana aku berada saat ini. Bawakan juga 3 galon air mineral (berbisik) dan buat tiga kare dengan bumbu tidak terlalu pedas serta tiga milkshake coklat.”


            Kembali ke tanggal 19, di mana Uchida dan Megan berada di laboratorium pribadi milik Uchida. Dia sedang sibuk meneliti sebuah data, dia mengakses komputer dalam tubuhnya. Kedua tangan terpisah jauh dari tubuhnya dan sedang melayang membuat sesuatu, Megan juga ikut membantu dengan mengambilkannya barang yang ada di kotak peralatan.

Megan: “Apa yang salah dengan dia sampai meminta Olivia untuk meminta berlatih tanding lagi? Aku tahu Olivia memang ahli dalam pertarungan, tapi lawannya itu saja bukan manusia.”
Uchida: “Seperti aku?”
Megan: “Oh, maaf. Bukan bermaksud begitu, sebenarnya apa yang sedang kau buat saat ini?”
Uchida: “Ini? Hanya sebuah kendaraan.”
Megan: “Apa ini untuk mengarungi waktu?”
Uchida: “Kenapa kau berkesimpulan begitu?”
Megan: “Yah, kalian sendiri dari masa depan. Mungkin saja jika ada apa-apa, kalian akan kembali ke sana.”
Uchida: “Mungkin.”
Megan: “Apa kau punya keluarga di sana?”
Uchida: “Seorang putri, usianya 3 tahun lebih tua darimu.”
Megan: “Istrimu sendiri?”
Uchida: “Tidak ada.”
Megan: “Oh, maaf.”
Uchida: “Oi, kalau kubilang tidak ada bukan berarti dia mati.”
Megan: “Tapi tetap saja… aku merasa bersalah sudah menanyakannya.”
Uchida: “Kau tak perlu menyesali itu, terlebih lagi kau juga tak perlu membantuku. Kau punya kesibukan tersendiri bukan?”
Megan: “Kalau pekerjaan, aku sudah menunda semua itu. Sebab tak ada satupun dari pekerjaanku hari ini yang cukup menarik untukku, tidak ada salahnya kan jika aku meliburkan diri?”
Uchida: “Kedengarannya aku pernah mendengar kata-kata seperti itu dari mulut seorang pemuda.”
Megan: “Jangan samakan aku dengan kakakku yang bodoh, aku hanya ingin mengenal kalian saja. Dia hanya kabur dari pekerjaan karena ingin bermain, aku melepaskan pekerjaan untuk mendekatkan diri dengan orang lain.”
Uchida: “Sungguh alasan yang bagus… shimatta!” (gawat!)
Megan: “Ada apa?”

            Mendadak Uchida menggelinding dalam bentuk telur keluar dari tirai, dia mengeluarkan kepala dan kakinya. Dia langsung menaikkan Megan ke atas kendaraan yang masih dia buat, Uchida mengeluarkan kabel dari tubuhnya dan mengutak-atik kendaraan itu dan menyatukannya dengan tubuhnya. Megan kini mengendarai semacam sepeda motor dengan atap berlapis kaca di atasnya.

Uchida: “Walau masih belum sempurna, setidaknya masih bisa dipakai untuk beberapa saat.”
Megan: “Ada apa ini?”

Uchida: “Ada musuh kemari.”

Tuesday, April 8, 2014

Level 31

PERCAKAPAN

            New York, Amerika Serikat, 19 Oktober 2010, 06:00. Di mansion keluarga Yorgins, di sebuah kamar tidur. Alarm jam berbunyi, seorang wanita bangun dari tempat tidur dan mematikannya. Olivia membuka pintu, beberapa maid masuk ke dalam membawa kereta dorong dengan sesuatu yang ditutup tudung saji. Kereta dorong itu diletakkan di sebelah kanan dan kiri tempat tidur, tudung saji kemudian dibuka. Di sebelah kanan ada sebuah baskom berisi air dan handuk, di sebelah kiri ada sebuah poci, beberapa cangkir kosong, dan sebuah tempat gula. Wanita di tempat tidur langsung membasuh mukanya dengan air di dalam baskom, dia kemudian mengambil handuk di sebelah baskom dan mengusap-usap wajahnya. Para maid membuka jendela dan gorden, cahaya matahari menyinari bagian dalam ruangan. Seorang maid menuangkan teh ke cangkir dan 2 sendok gula, setelah itu dia mengaduk dan menyuguhkannya. Dia mengambil teh yang baru saja disajikan dan meminumnya perlahan. Dia melihat matahari dengan wajah berseri-seri dan perasaan lega, ternyata dia adalah Megan.

Megan: “Aaaah, sinar matahari yang hangat.”
Olivia: “Nona Megan, saya sudah menyiapkan pakaian anda.”
Megan: “Terima kasih, mana Jaggy?”

            Jaggy baru saja masuk ke dalam kamar, dia meloncat ke atas Kasur dan menjilat-jilat wajah Megan.

Megan: “Ahahahah, sudah Jaggy, geli.”
Olivia: “Kami baru saja memberinya makan.”
Megan: “Apa kau sudah terbiasa dengan rumah barumu? Kau tidak menggigit siapapun bukan?”
Olivia: “Untungnya dia bisa menjaga kelakuannya selama dua hari terakhir ini.”
Megan: “Anak baik, kalian semua boleh keluar. Oh, Olivia tetap tinggal.”
Semua Maid: “Baik nona Megan.”

            Para maid keluar dari kamar Megan, pintu kamarnya langsung ditutup. Kini di kamar hanya ada Olivia, Megan, dan Jaggy. Jaggy turun dari Kasur, badannya mendadak membesar. Wujudnya berubah seperti saat pertama mereka bertemu, berbadan manusia, berkepala Jaguar, berbintik-bintik, dan berekor panjang. Megan mengelus kepalanya, Jaggy meletakkan kepalanya di atas Kasur.

Olivia: “Tapi yang jadi masalah adalah ketika menyembunyikannya.”
Megan: “Yah, badannya bisa berubah-ubah. Kukira dia bisa diletakkan di kandang bersama anjing dan kucing milikku, tapi karena dia tertembak oleh mesin aneh itu terkadang dia bisa jadi kecil atau besar.”
Olivia: “Mungkin lebih baik jika kita meletakkannya dengan singa dan harimau di kebun binatang pribadi anda.”
Megan: “Tidak, kalau kita lakukan itu dia akan membunuh mereka semua. Seharusnya permasalahan ini sedang diatasi oleh Uchida-san, dia sedang mencari cara agar Jaggy tak perlu lagi harus bersembunyi ketika tubuhnya membesar.”
Olivia: “Uchida-san masih ada di laboratorium miliknya, dia sama sekali tidak keluar dari dalam setelah kejadian itu.”
Megan: “Apa kita punya laboratorium di mansion ini?”
Olivia: “Tuan James mengubah garasi pribadinya sebagai laboratorium sementara untuk beliau.”
Megan: “Oh, lalu di mana kakakku yang bodoh saat ini?”
Olivia: “Beliau sudah berada di bawah untuk sarapan bersama dengan Francis.”
Megan: “Kalau begitu aku akan turun, Jaggy kau tunggu di sini dan jangan keluar satu langkah pun.”

            Jaggy hanya menjawab dengan mendengkur dan berbaring terlentang di atas Kasur, Olivia mengunci pintu kamar setelah Megan keluar. Mereka berdua menaiki elevator dan turun ke bawah, Olivia mengenakan mantel pada Megan. Dia langsung menutupi tubuhnya dengan mantel kemudian mengikatnya dengan tali di sekujur pinggangnya. Elevator sudah berhenti, mereka berdua keluar dan disambut oleh para maid dan pelayan. Di ruangan itu ada sebuah meja makan yang cukup besar, di sekitarnya berderet banyak kursi. Di salah satu kursi itu sudah ada James yang duduk menyantap makanan, Francis sendiri duduk di sebelahnya. Olivia menyeret kursi untuk Megan, dia segera mendudukinya. Seorang pelayan memberikan hidangan, sementara seorang maid memberikan minuman. Olivia membuka tudung saji, di dalamnya ada semangkuk sup. James baru saja selesai makan, dia mengambil sebuah serbet dan membersihkan sisa makanan di mulutnya. Francis sedari tadi hanya duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada sambil menutup mata, hal itu membuatnya jadi pusat perhatian semua orang di ruangan.

Megan: “Ini tidak seperti yang kupikirkan bukan?”
James: “Oh, tapi itu memang seperti apa yang kau pikirkan Maggie.”
Megan: “Bangunkan dia.”
James: “Baiklah.”

            James mengeluarkan sebuah alat kejut listrik, dia menyalakan dan mendekatkannya pada dahi Francis. Setelah kena sengatan listrik, Francis perlahan membuka matanya. Dia melihat keadaan sekeliling, dia segera bangkit dan mengambil sebuah apel di antara kumpulan buah yang ada di atas meja. Francis menggigit dan mengunyah-ngunyah apel itu, sebagian besar apel dia gigit sampai sisanya berbentuk bulan sabit. Setelah menelan apel yang baru dia kunyah, dia memasukkan sisanya ke dalam mulut dan menghabiskannya. Francis langsung beranjak dari tempat duduknya, mengangkat kursi dan meletakkannya kembali ke tempatnya. Setelah itu James berdiri, Francis sekali lagi mengangkat dan meletakkannya kembali ke tempatnya. Semua orang hanya bengong melihatnya, Megan mulai mendesah dan segera mengambil sendok.

James: “Baiklah, aku berangkat dulu. Roy sudah menungguku.”
Megan: “Jangan katakan hal yang tidak perlu pada ayah.”
James: “Tidak masalah aku akan mengatakan apa pada dia, lagipula dia takkan peduli.”
Megan: “Itu karena dia sudah lelah dengan tingkahmu yang selalu pergi dan menghilang entah ke mana.”
James: “Kau sendiri selalu membawa barang orang tanpa permisi.”
Megan: “Kau harus pulang nanti malam, kita akan makan malam bersama ibu.”
James: “Akan kupertimbangkan.”

            James dan Francis berjalan melewati Megan dan Olivia, sejenak Megan melihat Francis yang bekas luka di sebelah matanya terlihat jelas. Ketika James dan Francis hendak menaiki elevator, Megan mendadak berdiri.

Megan: “Tunggu sebentar.”
James: “Ada apa?”
Megan: “Suruh dia pakai kacamata, untuk menutupi… (menunjuk pelipis) Aku tak mau kalau semua pegawai berpikir kita mempekerjakan semacam tentara bayaran.”
James: “Itu bisa diatur.”

            Mereka berdua akhirnya menaiki elevator ke atas, Megan mulai menyantap sup di hadapannya. Olivia meletakkan Koran di atas meja, Megan sempat melihat sebuah artikel di Koran. Ada sebuah foto yang menunjukkan gambar mobil yang rusak dengan keadaan tidak wajar, ada dua orang yang baru saja ditangkap oleh polisi. Di artikel tertulis ‘Usaha Penculikan Digagalkan’, Megan juga melihat ada dua orang yang dia kenal di kejauhan. James melihat dari balik tembok, Francis sendiri berusaha menariknya dari tempat kejadian.

Megan: “Apalagi yang dilakukan oleh kakakku yang bodoh ini?”
Olivia: “Kemarin beliau keluar tanpa izin lagi, dia didampingi oleh Francis.”
Megan: “Jadi memang benar kemarin dia keluar, aku sempat melihat dia terbang bersama dengan Francis berpakaian tempur.”
Olivia: “Apakah tidak masalah untuk nona?”
Megan: “Sebenarnya aku tak akan mengeluh soal ini, sebab sudah banyak orang yang mencoba menculiknya. Yang jadi masalah sekarang adalah dua orang yang menumpang tinggal di tempat ini sekarang, apa benar dia tidak pernah sekalipun keluar dari garasi itu?”
Olivia: “Benar, nona. Semua kegiatan dia lakukan di dalam sana.”
Megan: “Olivia, batalkan semua jadwal yang sudah direncanakan. Aku akan tinggal seharian penuh, aku… ingin mengenal lebih dekat orang ini.”
Olivia: “Siap, nona.”


            Di sebuah gedung perusahaan bertuliskan TDG, sebuah helicopter baru saja mendarat di atas gedung. Francis turun terlebih dahulu, James menyusul, Roy sendiri masih ada di dalam. James memberikan Francis sebuah kacamata hitam, dia langsung menerima dan memakainya. James langsung berjalan masuk ke dalam, tapi Francis sama sekali tak beranjak dari tempatnya. James berhenti sebelum masuk ke dalam, dia melihat ke belakang.

James: “Kau tidak masuk?”
Francis: “Tunggu sebentar.”
Roy: (turun dari heli) “Ada apa? Cukup kaget dengan pemandangan di sini?”
Francis: “Kalau aku kaget untuk hal semacam itu, apakah aku harus meloncat dari atas sini?”
Roy: “Tentu saja tidak.”
James: “Ada apa sebenarnya?”
Francis: “Tidak muncul sesuatu di kacamata ini.”
Roy: “Apa maksudmu dengan ‘sesuatu’?”
Francis: “Uchida pernah memberiku yang semacam ini, biasanya selalu muncul tulisan-tulisan untuk melihat terjemahan kata dari lawan bicaraku.”
James: “Aku paham, kau mengira itu adalah semacam ‘alat’. Kau masuk saja dulu Francis, biar kujelaskan cara kerja alat itu.”
Francis: “Baiklah.”
James: “Roy, kau tetap di sini.”
Roy: “Apa?! Hei aku kan pengawasmu!”
James: “Satu orang saja sudah cukup untuk menemaniku.”
Roy: “Aku sudah lama bekerja di sini, orang yang masih baru takkan diijinkan!”
James: “Kata siapa?”

            James memperlihatkan kartu identitasnya di hadapan sebuah mesin, mesin itu memindai dan membukakan pintu untuk James. Francis juga menggunakan cara yang sama, mesin itu juga menerima identitas Francis. Mereka berdua masuk ke dalam sebuah elevator, Roy hanya bisa bengong.

James: “Lihat?”
Roy: “Benar-benar… Hei, Francis! Ingat, kalau ada yang menanyaimu macam-macam kau tak perlu menjawab!”
James: “Kau pikir dia orang yang suka menjawab pertanyaan?”

            Pintu elevator tertutup ketika mereka masuk, Roy dengan wajah cemberut kembali masuk ke dalam helicopter. Elevator yang dinaiki James dan Francis turun ke bawah, James sendiri sedang menjelaskan sesuatu pada Francis.

James: “Kacamata di zamanmu itu hanyalah sebuah penemuan untuk memudahkan orang untuk berkomunikasi, tapi kegunaan kacamata di zaman ini sangatlah berbeda. Kacamata punya macam-macam manfaat, seperti yang kau pegang sekarang. Kacamata dengan lensa berwarna punya fungsi untuk melindungi matamu dari sinar menyilaukan, untuk bergaya, dan menutupi yang seharusnya tak perlu dilihat oleh orang lain.” (menunjuk ke pelipis)
Francis: “Jadi bekas lukaku yang jadi masalahnya?”
James: “Memakai kacamata juga termasuk dari sebuah kewajiban bodyguard, kau memakainya agar kau bisa mengawasi tanpa diketahui oleh orang sekitar ke mana kau melihat. Kau selalu mengamati dengan sorot mata yang menyeramkan, jadi itu mencegah orang-orang di sekitarmu takut pada dirimu.”
Francis: “Walaupun aku pakai ini, (mengenakan kacamata) rasa takut takkan bisa hilang begitu saja dari dalam diri mereka.”

            James terdiam sejenak, dia kemudian melihat mereka sudah berada di lantai 26. Pintu elevator terbuka, beberapa orang sudah masuk ke dalam. Francis sempat bertemu pandang dengan mereka, orang-orang itu menyapa James dengan wajah ceria. Tapi Francis tidak menganggap begitu, dia melihat sedikit ekspresi ketakutan dari orang yang sempat melihat dirinya. Pintu elevator kembali tertutup, melanjutkan perjalanan mereka ke bawah.


            Di mansion Yorgins, di sebuah garasi tertutup. Ada sebuah suara sesuatu yang sedang dilas, percikan api memancar sedikit dari dalam. Uchida sedang membuat sesuatu, dia mengelas besi dengan jari telunjuknya. Megan baru saja datang dan memasuki garasi, dia melihat Uchida yang sedang bekerja. Megan perlahan mendekat, tapi ada yang menghentikan langkahnya sebelum sempat menyentuhnya satu senti saja. Tangan kiri Uchida melayang di belakang Megan dan memegangi tangannya, kepala Uchida berbalik ke belakang.

Uchida: “Setidaknya ketuklah pintu dulu sebelum masuk.”
Megan: “Kau berbahasa Inggris sekarang? Kukira kau orang Jepang.”
Uchida: “Kalau di zaman ini, kau bisa menyebutku begitu. Tapi di masa depan, negara itu sudah tidak ada lagi.”
Megan: (Bahasa Jepang) “Apa kita bisa bicara dengan Bahasa Jepang saja?”
Uchida: “Tunggu sebentar.”

            Uchida menarik lidahnya sampai berbunyi, dia melepaskan tangan Megan dan langsung menutupi pekerjaannya dengan sebuah kain besar. Uchida mengambil sebuah kursi kecil dan mempersilahkan Megan untuk duduk, Uchida sendiri memasukkan kedua kakinya ke dalam tubuh. Dia menghidangkan sepiring biscuit, mereka mulai melakukan percakapan dengan Bahasa Jepang.

Uchida: “Lalu, ada perlu apa kau kemari.”
Megan: “Mungkinkah… tadi itu semacam penerjemah?”
Uchida: “Maaf?”
Megan: “Lidahmu tadi, ketika kau menariknya kau bisa berbicara dengan Bahasa yang lawan bicaramu gunakan. Sebenarnya kau pakai Bahasa apa dalam kegiatan sehari-hari.”
Uchida: “Aku selalu menggunakan macam-macam bahasa, tapi sebenarnya itu bukanlah Bahasa yang kugunakan saat lahir. Inilah Bahasa yang kugunakan, sudah lama sekali aku tak melakukan percakapan dengan Bahasa ini.”
Megan: “Sebenarnya aku juga lebih senang kita bercakap-cakap seperti ini, karena kebanyakan temanku adalah orang Jepang.”
Uchida: “Senang mendengarnya.”
Megan: “Kau benar-benar berasal dari masa depan?”
Uchida: “Terserah kau untuk percaya atau tidak.”
Megan: “Aku sudah mempercayaimu sejak awal, ketika kau menyelamatkan Olivia.”
Uchida: “Oh, kau yakin aku… punya hati nurani sehingga menyelematkan dia?”
Megan: “Seseorang tak bisa dinilai dari penampilan saja bukan?”
Uchida: “Kau benar, kau masih menyebutku sebagai ‘seseorang’ bukan ‘sesuatu’. Walaupun aku seperti ini, masih ada bagian tubuh manusia dalam diriku.”
Megan: “Lalu… apa sejak lahir Uchida-san sudah seperti ini? Bagaimana kau bisa… menelan makanan tanpa leher?”
Uchida: (bengong) “……”
Megan: “Oh, gomen.” (maaf)
Uchida: “Kini shinai de, (jangan dipikirkan) aku sudah punya kesiapan akan dikatai seperti itu ketika sampai di zaman ini.”
Megan: “Honto ni?” (sungguh?)
Uchida: “Honto, shikashi… (sungguh, tetapi…)
Megan: “Nande?” (kenapa?)
Uchida: “Akan agak memalukan jika kau melihatnya, caraku mengkonsumsi makanan agak sedikit berbeda dengan yang kalian lakukan.”
Megan: “Daijobu, (tidak apa-apa) aku justru ingin melihatnya.”
Uchida: “Kalau begitu kau perlu ini, (menyerahkan ember) jika kau merasa tidak kuat.”
Megan: “Aku tak perlu ini.” (meletakkan ember)
Uchida: “Yakin? Apa kau masih mau melihat?”
Megan: “Aku siap, aku siap.”
Uchida: “Wakarimashita, aku takkan tanggung jawab jika kau muntah.”


            Beberapa saat kemudian, Megan duduk kaku dengan mata terbelalak. Sepertinya dia sangat terkejut ketika Uchida baru mendemonstrasikan bagaimana cara dia makan, Uchida mengibas-ngibaskan telapak tangannya di hadapan wajah Megan tapi dia tak bergeming.

Uchida: “Yare yare.” (wah, wah)
Megan: “Kimochi… warui.” (rasanya… menjijikkan)
Uchida: “Kuakui kau memang tidak muntah, tapi wajar jika kau menunjukkan ekspresi terkejut.”
Megan: “Jadi 50 piring makanan yang disediakan 2 hari yang lalu itu kau sedot habis untuk mengisi tenagamu?”
Uchida: “Sekai, (tepat sekali) aku perlu setidaknya 1000 l cairan dan 10000 kalori untuk mengisi energi dalam tubuhku ini, jika dihitung itu sekitar 20 galon air dan 50 mangkuk nasi.”
Megan: “Astaga.”
Uchida: “Apa boleh buat, kondisiku saat inilah yang membuatku harus… kompromi.”
Megan: “Aku kira kau menggunakan semacam bahan bakar minyak untuk membuat meteran itu penuh, tapi aku paham sekarang. Kau masih memiliki bagian tubuh manusia dalam dirimu, jadi tak heran jika kau memerlukan semua makanan itu untuk mengisi tenaga di tubuhmu.”
Uchida: “Sebenarnya ada sumber daya lain selain makanan yang bisa kupakai, tapi itu berefek samping pada tubuhku.”
Megan: “Apakah itu… Ulkamium?”
Uchida: “Jadi kau sudah tahu…”
Megan: “James yang memberitahuku, kami juga sudah mengetahui jika mineral tersebut mampu dicairkan dalam keadaan dingin. Cairan itu sendiri bisa digunakan sebagai pengganti segala jenis bahan bakar kendaraan bermesin, begitulah yang dikatakan hasil uji coba saat ini.”
Uchida: “……”
Megan: “Apakah… ada kegunaan lain dari Ulkamium? Kenapa musuh kalian menambang Ulkamium itu pada zaman ini? Kenapa mereka tak menambang saja di zaman mereka?”

            Uchida mendekatkan jari telunjuknya ke bibir Megan, mata Uchida yang masih normal kini melihatnya dengan pandangan serius. Jarinya yang besar dia turunkan, kini mereka saling pandang selama beberapa menit.

Uchida: “Ah, sepertinya kita kehabisan teh. Biarkan aku ke belakang untuk menyeduh yang baru, kau tunggu saja di sini.”

            Uchida pergi meninggalkan Megan yang duduk terdiam, dia pergi ke balik tirai dan menutupnya. Dia mengubah dirinya ke dalam bentuk telur, kepalanya yang berada di dalam sedang mengakses semacam program. Kepalanya terlihat seperti melayang-layang, di sekitarnya muncul berbagai macam folder data seperti yang ada dalam computer.

Uchida: “Membuka surat, apakah ada data terbaru dikirim akhir-akhir ini?”

            Sebuah folder bergambar amplop surat muncul di hadapan wajah Uchida, amplop itu terbuka. Dari dalam keluar jumlah pesan yang masuk, ada sekitar 6 data.

Uchida: “Membuka semua data gambar.”

            3 data diantaranya kemudian dibuka, dari dalamnya muncul sebuah blueprint mesin dan senjata. Di salah satu data, ada sebuah gambar dengan nama ‘Proyek Hermes’. Dia kemudian membuka dua data berikut, tertulis ‘Penting’. Dia membukanya tanpa pikir panjang, ekspresi di matanya terlihat terkejut begitu melihatnya.


Uchida: “Yare yare, mendo kuze.” (wah, wah, merepotkan sekali)