LATIH TANDING
New York, Amerika Serikat, 17
Oktober 2010. Di Mansion keluarga Yorgins, para pelayan dan maid sedang sibuk
mengeluarkan barang dari dalam garasi. Megan dan James mengamati mereka di
dalam, dari sebuah jendela. Mereka berdua sedang duduk sambil minum jus, Uchida
dan Francis juga berada di dalam ruangan tersebut. Uchida dalam wujud telur dan
Francis berdiri di sudut ruangan, Olivia menyediakan Oreo di atas meja.
James:
“Francis, bergabunglah bersama kami.”
Francis:
“Tidak usah.”
James:
“Ada makanan dan minuman di sini, kau tidak mau makan Oreo?”
Francis:
“Aku sudah makan.”
James:
“Ayolah, cobalah segigit saja.”
Francis:
“Bawa saja kemari.”
James:
“Terserah kau saja.”
James melempar satu biscuit pada
Francis, dalam sekejap dia membuka mulut dan melahapnya. Dia mengunyah-ngunyah
dan menelannya, Olivia memberikan padanya segelas jus. Francis menerimanya dan
langsung menyeruputnya sampai habis, dia diam sejenak setelah menjilat-jilat
bibirnya.
James:
“Bagaimana?”
Francis:
“Manis.”
James:
“Ah ya, ya, ya.”
Francis:
“Jus ini… apa ini apel?”
Olivia:
“Ah, bukan. Itu jeruk, dipetik tadi pagi dari kebun dan diperas langsung.”
Francis:
“Apa kau punya apel?”
James:
“Kau mau apel? Kau bisa ambil di kulkas warna hijau yang ada di sebelah
kirimu.”
Francis langsung berjalan dengan
cepat ke kulkas hijau, dia langsung membuka dan melihat isinya. Dia mengambil
sesuatu dan melihatnya dari dekat, kini dia memegang buah dengan bentuk panjang
dan berwarna hijau.
Francis:
“Apel yang aneh.”
Megan:
“Dia bodoh ya?”
James:
“Ehm, Francis… itu bukan apel…”
Olivia:
“Itu mentimun, apel ada di bagian teratas.”
Francis menyerahkan timun itu pada
Olivia, dia langsung membuka kulkas lagi. Kali ini dia mengambil sebuah apel
berwarna hijau, dia mengendus kemudian menjilatnya.
Francis:
“Hm, ini benar-benar apel.” (menggigit apel)
James:
“Sepertinya di masa depan tidak banyak buah yang kau kenal ya?”
Francis:
“Jika mengenai buah, sebenarnya ada beberapa yang biasa kusantap. Bentuknya
bulat dan sekecil koin, rasanya asam, warnanya ungu.”
James:
“Anggur?”
Francis:
“Mungkin itu sebutannya bagi kalian di sini, tapi buah itu berduri dan kulitnya
harus dikupas terlebih dulu.”
Megan:
“Yang berduri itu… namanya durian bukan?”
James:
“Yang lebih penting saat ini, Francis bisakah kau berubah di hadapan kami
semua?”
Francis:
“Dan kau pikir aku mau melakukannya, helm itu…”
James:
“Ada di sini, tenaganya juga sudah diisi.”
Di atas meja sudah ada helm
transformasi milik Francis, Francis menoleh pada Uchida yang masih menjadi
telur. Dia kemudian berjalan langsung ke meja untuk mengambil helmnya, tapi
James mengambilnya sebelum dia sempat.
Francis:
“Kembalikan itu.”
James:
“Berubahlah dulu.”
Francis:
“Tak bisa kulakukan tanpa itu.”
James:
“Maksudku berjanjilah kau akan memakai ini dan berubah di hadapan kami.”
Francis:
“Kau tak punya hak untuk menyuruhku, tanganmu bisa saja kupatahkan untuk
mengambil helm itu.”
James:
“Kau takkan bisa melakukan itu, bukankah kau hanya melakukan itu pada
orang-orang Alterion?”
Francis:
“Memang benar, tapi aku juga bisa melakukannya pada mereka yang bukan
Alterion.”
James:
“Oh, apa itu ancaman?”
Francis:
“Lalu maksudmu kalau aku mengancam, aku harus telanjang sambil memelukmu
begitu?”
Megan:
“Uph!!” (menutup mulut)
James:
“Hahaha, aku bercanda. Kukembalikan ini.”
Ketika James hendak
mengembalikannya, mendadak Roy masuk dan menembakkan panah dengan busur pada
Francis. Panah itu menancap di pantat Francis, mendadak keadaan menjadi hening.
Dengan ekspresi yang kaku, Francis mencabut panah di pantatnya. Dia melihat Roy
kemudian pada ujung panah yang berlumuran darah, Roy agak ketakutan saat dia
dipandangi oleh Francis. Dia melemparkan kembali panah itu, tapi lemparannya
melewati kepala Roy dan memecahkan vas bunga di belakangnya. Mendadak Olivia
mengambil pedang yang digantung di dinding ruangan, dia langsung menyabet
kepala Francis. Serangan itu berhasil mengenainya, pipinya robek terkena
sabetan. Megan langsung menutup mulut begitu melihatnya, luka di pipinya
langsung sembuh dalam sekejap.
James:
“Astaga, seharusnya kau hindari saja serangan itu.”
Francis:
“Aku sudah biasa mendapat banyak luka.”
James:
“Tapi walaupun begitu, aku tak ingin kesanmu terlihat seperti orang barbar. Ini
bukan zaman di mana kita bisa menerima kekerasan, setidaknya cobalah untuk
beradaptasi.”
Francis:
“Aku tetap tidak akan memakainya walaupun kau menyuruhku.”
Uchida:
“Bagaimana kalau dipakai untuk latihan saja?” (melongokkan kepala)
Francis:
“Kupikir kau tidur.”
James:
“Oh, ide bagus. Olivia bisa jadi lawan tandingmu.”
Francis:
“Lawan… tanding…?”
Megan:
“Ja-James?”
James:
“Oooh, sepertinya kau tidak sabar ingin bertarung.”
Francis:
“Sebenarnya… aku memang ingin melawan seseorang, tapi aku tidak yakin jika
lawanku mungkin akan lolos dalam keadaan hidup. Aku juga tidak menjamin akan
ada satu atau dua bagian tubuhnya yang masih menempel pada tempatnya, apa kau
yakin?”
Megan:
“Tidak, tidak boleh! Dia bisa saja menghancurkan seisi rumah jika itu terjadi!”
James:
“Boleh saja kalau aku menyuruh Roy menggantikannya, tapi dengan kondisi seperti
itu?”
Mereka melihat Roy dalam keadaan
jatuh berlutut dengan kepala menyentuh lantai, seluruh badannya gemetaran. Ada
air menggenang di lantai tempat Roy berdiri, celananya basah karena dia
mengompol.
Francis:
“Aku lebih baik melawan seekor gorila daripada dengan dia.”
Megan:
“Ng, Olivia.” (ekspresi jijik)
Olivia:
“Baik, saya akan segera panggil orang untuk membersihkannya.”
Beberapa saat kemudian di dalam
dimensi Crimson, Francis sudah berada di sana dalam kondisi berubah wujud. Di
hadapannya sudah ada Olivia, hanya saja agak terlihat berbeda. Di dunia nyata
Uchida dan yang lain sedang mengamati Francis dari sebuah layar monitor di
laptop yang terhubung dengan tubuh Uchida, di sebelah monitor ada Olivia yang
terlihat duduk di kursi dengan sebuah kacamata yang terhubung dengan sebuah
kabel di laptop.
Uchida:
“Baik, kau siap?”
Francis:
“Aku tak perlu segan-segan bukan?”
Uchida:
“Ya, Olivia di hadapanmu adalah sebuah proyeksi digital. Jadi tidak apa-apa
jika kau mencincang ataupun melubangi tubuhnya, tapi tenang saja ini tidak akan
‘berdarah’.”
Megan:
“Olivia, aku tak yakin dengan ini.”
Olivia:
“Nona Megan, percayakan saja ini pada saya.”
James:
“Kalau bisa tolong dipotong dadu.”
Roy:
“James, kau mau bunuh dia?!”
James:
“Bukankah ini sudah dijamin keamanannya?”
Uchida:
“Francis, tembak dia.”
Francis menembakkan laser dari ujung
jari telunjuknya ke dahi Olivia, tembakan itu mengenai dan melubangi kepalanya.
Sementara itu Olivia di dunia nyata merasakan kejang otot, tapi sebaliknya
Olivia masih bisa berdiri di dimensi Crimson. Lubang di kepalanya langsung
menutup, Francis langsung mengubah dirinya ke mode Crimson. Dia menciptakan
sebuah golok dan pedang panjang, dia langsung menyerang Olivia. Perutnya
ditusuk dengan pedang, kepalanya dipenggal dengan golok. Roy yang melihat
menjadi ngeri dan memegang lehernya sendiri, tubuh Olivia di dunia nyata ikut
kejang bersamaan dengan serangan yang diterima. Lehernya yang terpotong di
dimensi Crimson menyatu kembali dengan tubuhnya, Francis mencabut pedang di
perut Olivia.
Uchida:
“Sudah kukatakan, keamanannya terjamin. Kau hanya akan merasakan efek kejut
pada syaraf di bagian tubuh yang terkena serangan, cara ini adalah satu-satunya
yang paling aman.”
Megan:
“Aku sedikit lega setelah tahu itu, jadi Francis… memiliki macam-macam kemampuan.”
James:
“Ya, benar sekali. Dia bisa menembakkan sinar seperti repulsor dan
menggunakannya di sekujur tubuhnya, dia memiliki kemampuan penyembuhan diri,
selain itu dia juga mampu menciptakan senjata yang terbuat dari partikel yang
sama dengan baju tempurnya!”
Roy:
“Maniak komik ini bicara tak jelas lagi…”
Megan:
“Jadi dengan kata lain…”
James:
“Ya benar, dia memiliki kemampuan Iron Man… Wolverine… dan Green Lantern!”
Mendadak kondisi dalam ruangan
menjadi sunyi senyap, hanya terdengar suara nyamuk terbang. Uchida langsung
menangkapnya dengan jarinya yang besar, setelah itu dia menyerahkan nyamuk yang
sudah mati itu ke tangan Roy.
Roy:
“Ehm, maaf tapi dia tidak hijau.” (green)
Megan:
“Dia merah.”
James:
“Tapi dia punya kemampuan seperti Green Lantern.”
Roy:
“Seharusnya kau sebut dia Red (merah) Lantern.”
James:
“Red Lantern itu penjahat.”
Megan:
“Tapi wajahnya memang seperti penjahat.”
James:
“Ya, dia memang tidak begitu ramah dan kurang bersahabat… tapi…”
Uchida:
“Maaf menyela, tapi mereka sudah mulai bertempur.”
Mereka semua kini menatap layar
monitor, Francis dan Olivia saling menembak satu sama lain. Olivia menembakkan
pistol mesinnya bertubi-tubi ke tubuh Francis, tapi seluruh peluru yang
menyentuh tubuhnya mental dan penyok. Olivia sendiri berusaha menghindari
serangan, tapi dia hanya bisa melayang-layang tak tentu arah. Francis berhenti
menembak, dia melihat Olivia mencoba bergerak dengan gerakan renang.
Francis:
“Sepertinya ada yang aneh, tak bisakah kau beri dia semacam jetpack?”
Megan:
“Dia seperti sedang berenang di dalam air, apa tidak bisa diberi pijakan?”
Uchida:
“Segera dilakukan, James.”
James mengetikkan beberapa kata, di
layar monitor muncul gambar Spider-man. Spider-man menembakkan jaring dan
membuatnya sebagai pijakan, secara bersamaan muncul lantai di bawah Francis dan
Olivia. Kini mereka berdua berdiri di atas lantai, mereka berdua bisa berjalan
di atasnya. Olivia sekarang berlari dan mengeluarkan dua bilah pisau dari
pahanya, kini dia mencoba menusuk dada dan leher Francis. Akan tetapi pisau itu
patah dua-duanya dan tidak berhasil menembus tubuhnya, Megan cemberut saat
melihatnya.
Megan:
“Itu tidak adil, baju tempurnya sepertinya tak bisa ditembus oleh peluru.”
Roy:
“Pisau atau pedang saja bisa patah, rasanya itu tidak seimbang.”
Uchida:
“Tepat sekali, bajunya terbuat dari partikel Crimson yang ada di dalam dimensi
Crimson. Kepadatan partikel ini setara dengan besi yang biasa digunakan pada
tank di zaman kalian, kalian lihat wujudnya sekarang? Itu adalah mode Crimson,
ketika lambang di dadanya diubah menjadi merah, semua lingkaran di tubuhnya
mampu menyerap dan mengeluarkan partikel Crimson di sekitarnya.”
Megan:
“Dimensi Crimson itu… sebenarnya apa?”
Uchida:
“Sayangnya saat ini aku tak bisa menjawab pertanyaan itu, tapi hanya ini yang
bisa kujelaskan. Baju tempurnya didesain khusus untuk menyerap elemen lain
selain partikel Crimson, tergantung dari keadaan di sekitarnya.”
James:
“Lihat, sepertinya dia mulai melawan balik.”
Francis menyabet goloknya pada
Olivia, kini Olivia terlihat memakai pedang yang tadi diciptakan Francis. Kini
mereka berdua saling menyerang dengan senjata masing-masing, Olivia menangkis
semua serangan yang datang. Tapi semakin lama menyerang, Olivia menyadari bahwa
pedang yang dia pakai kini mulai rusak, dia melihat banyak goresan di pedang
yang dia pakai. Olivia menghindari serangan dari Francis, menahan sabetan golok
dengan pedangnya lalu memutar dan melemparkan golok yang dipegang Francis.
Pedang yang dipakai Olivia kini patah, Olivia langsung meloncat dan menangkap
golok yang terlempar di udara. Dia langsung menyabet ke bagian atas kepala
Francis, Megan yang melihat memalingkan pandangannya. Roy menutup matanya, tapi
James dan Uchida tenang-tenang saja. Terdengar suara besi berdenting, Megan
perlahan melihat kembali ke layar monitor. Roy membuka matanya, yang mereka
lihat sungguh di luar perkiraan. Francis sama sekali tak bergeming, golok itu
sama sekali tak berefek apapun padanya. Francis langsung mengambil golok yang
masih dipegang Olivia dan menempel di kepalanya, dia berubah kembali ke mode
biasa dan membuat golok yang dipegangnya hilang.
Roy:
“Kenapa dia berhenti menyerang? Apa serangan itu mengenainya?”
James:
“Dia tidak berhenti, serangan yang dilancarkan jelas mengenainya. Tapi semua
tubuhnya dilapisi pelindung yang keras, senjata tertentu yang digunakan untuk
melawannya akan berakhir terpantul atau rusak.”
Megan:
“Ini hanya opiniku, tapi mungkinkah senjata yang diciptakan olehnya sama
kerasnya dengan baju tempur yang dipakainya?”
Uchida:
“Pengamatan yang bagus, inilah kehebatan dari mode Crimson. Pemakai bisa
menciptakan senjata dengan memikirkan sifat, bentuk, dan berapa besar tingkat
kepadatan yang digunakan. Jika dia memfokuskan lebih pada tingkat kepadatannya,
golok itu bisa saja menembus perlindungannya.”
Roy:
“Kalau dia punya kemampuan untuk menyembuhkan diri, kenapa dia harus
repot-repot untuk melindungi tubuhnya dengan baju tempur itu?”
James:
“Kau itu bodoh ya? Sembuh dengan sendirinya bukan berarti itu bisa membuatmu
tetap hidup, bisa saja dia mengalami komplikasi yang fatal karena luka yang dia
derita.”
Francis:
“Bisakah kita mengakhiri ini semua?”
Olivia:
“Itu benar, sudah waktunya bagi saya untuk mengantar nona Megan ke konser.”
Uchida:
“Jika kau bilang begitu…”
James:
“Padahal aku ingin melihat lebih lama lagi.”
Uchida:
“Tak usah cemas, kau bisa lihat kemampuannya yang lain. Hanya saja kau perlu
waktu, keluarkan mereka dari sana. Aku tak bisa melakukannya sendiri karena aku
sudah hampir tak bertenaga, aku sama sekali belum isi tenaga.”
Uchida mengganti bola mata palsunya
dengan bola mata berwarna merah, James mengetikkan beberapa kata. Kali ini di
layar laptop muncul gambar Mister Fantastic dari Fantastic Four, tampak
mengoperasikan sebuah mesin dan membukakan suatu gerbang. Bersamaan dengan itu
mata palsu Uchida memancarkan sinar merah dan membukakan portal, Olivia sendiri
sudah kembali ke dunia nyata dan melepas kacamata yang dipakainya. Francis
keluar dari dalam portal, terbang melayang. Dia kemudian mengambil kursi dan
duduk, Olivia langsung mengantar Megan keluar.
Megan:
“Kuharap kau sudah sediakan mobilnya, berapa waktu yang tersisa?”
Olivia:
“30 menit, nona.”
Megan:
“Kita naik Ferrari saja.”
Francis:
“Aku ada satu permintaan sebelum kau pergi.”
Megan:
“Apa itu?”
Francis:
“Bukan kau, tapi dia.” (menunjuk Olivia)
Olivia:
“Apa yang bisa saya lakukan untukmu.”
Francis:
“Aku mau kalau lain kali kita berhadapan di tempat selain dimensi Crimson, aku
juga takkan memakai baju tempurku.”
Olivia:
“Baik.”
Megan:
“Jangan turuti dia, Olivia. Asal kau tahu saja, kau belum mendapat persetujuan
dariku.”
Francis:
“Tanpa persetujuanmu pun, dia akan tetap melakukannya.”
Olivia berbalik menghadapi Francis,
dia kemudian mengangguk kepadanya. Setelah itu mereka berdua pergi meninggalkan
Uchida, Francis, James, dan Roy. Uchida langsung menutup portal yang terbuka
dengan mengeluarkan bola matanya, dia kemudian menggantinya lagi dengan bola
mata yang biasa dia pakai. James mencabut kabel yang terpasang di laptopnya,
kabel itu masuk dengan sendirinya ke dalam tubuh Uchida. Dia kemudian berubah
menjadi telur, James kemudian menelpon melalu HPnya.
James:
“Humpty Dumpty, kau suka makanan pedas?”
Uchida:
“Terserah kau saja, asalkan itu bisa dikonsumsi.”
James:
“Halo, segera siapkan 100 porsi kare dan bawa ke ruangan di mana aku berada
saat ini. Bawakan juga 3 galon air mineral (berbisik) dan buat tiga kare dengan
bumbu tidak terlalu pedas serta tiga milkshake coklat.”
Kembali ke tanggal 19, di mana
Uchida dan Megan berada di laboratorium pribadi milik Uchida. Dia sedang sibuk
meneliti sebuah data, dia mengakses komputer dalam tubuhnya. Kedua tangan
terpisah jauh dari tubuhnya dan sedang melayang membuat sesuatu, Megan juga
ikut membantu dengan mengambilkannya barang yang ada di kotak peralatan.
Megan:
“Apa yang salah dengan dia sampai meminta Olivia untuk meminta berlatih tanding
lagi? Aku tahu Olivia memang ahli dalam pertarungan, tapi lawannya itu saja
bukan manusia.”
Uchida:
“Seperti aku?”
Megan:
“Oh, maaf. Bukan bermaksud begitu, sebenarnya apa yang sedang kau buat saat ini?”
Uchida:
“Ini? Hanya sebuah kendaraan.”
Megan:
“Apa ini untuk mengarungi waktu?”
Uchida:
“Kenapa kau berkesimpulan begitu?”
Megan:
“Yah, kalian sendiri dari masa depan. Mungkin saja jika ada apa-apa, kalian
akan kembali ke sana.”
Uchida:
“Mungkin.”
Megan:
“Apa kau punya keluarga di sana?”
Uchida:
“Seorang putri, usianya 3 tahun lebih tua darimu.”
Megan:
“Istrimu sendiri?”
Uchida:
“Tidak ada.”
Megan:
“Oh, maaf.”
Uchida:
“Oi, kalau kubilang tidak ada bukan berarti dia mati.”
Megan:
“Tapi tetap saja… aku merasa bersalah sudah menanyakannya.”
Uchida:
“Kau tak perlu menyesali itu, terlebih lagi kau juga tak perlu membantuku. Kau
punya kesibukan tersendiri bukan?”
Megan:
“Kalau pekerjaan, aku sudah menunda semua itu. Sebab tak ada satupun dari pekerjaanku
hari ini yang cukup menarik untukku, tidak ada salahnya kan jika aku meliburkan
diri?”
Uchida:
“Kedengarannya aku pernah mendengar kata-kata seperti itu dari mulut seorang
pemuda.”
Megan:
“Jangan samakan aku dengan kakakku yang bodoh, aku hanya ingin mengenal kalian
saja. Dia hanya kabur dari pekerjaan karena ingin bermain, aku melepaskan
pekerjaan untuk mendekatkan diri dengan orang lain.”
Uchida:
“Sungguh alasan yang bagus… shimatta!” (gawat!)
Megan:
“Ada apa?”
Mendadak Uchida menggelinding dalam
bentuk telur keluar dari tirai, dia mengeluarkan kepala dan kakinya. Dia
langsung menaikkan Megan ke atas kendaraan yang masih dia buat, Uchida
mengeluarkan kabel dari tubuhnya dan mengutak-atik kendaraan itu dan
menyatukannya dengan tubuhnya. Megan kini mengendarai semacam sepeda motor
dengan atap berlapis kaca di atasnya.
Uchida:
“Walau masih belum sempurna, setidaknya masih bisa dipakai untuk beberapa
saat.”
Megan:
“Ada apa ini?”
Uchida:
“Ada musuh kemari.”
No comments:
Post a Comment