PERCAKAPAN
New York, Amerika Serikat, 19
Oktober 2010, 06:00. Di mansion keluarga Yorgins, di sebuah kamar tidur. Alarm
jam berbunyi, seorang wanita bangun dari tempat tidur dan mematikannya. Olivia
membuka pintu, beberapa maid masuk ke dalam membawa kereta dorong dengan
sesuatu yang ditutup tudung saji. Kereta dorong itu diletakkan di sebelah kanan
dan kiri tempat tidur, tudung saji kemudian dibuka. Di sebelah kanan ada sebuah
baskom berisi air dan handuk, di sebelah kiri ada sebuah poci, beberapa cangkir
kosong, dan sebuah tempat gula. Wanita di tempat tidur langsung membasuh
mukanya dengan air di dalam baskom, dia kemudian mengambil handuk di sebelah
baskom dan mengusap-usap wajahnya. Para maid membuka jendela dan gorden, cahaya
matahari menyinari bagian dalam ruangan. Seorang maid menuangkan teh ke cangkir
dan 2 sendok gula, setelah itu dia mengaduk dan menyuguhkannya. Dia mengambil
teh yang baru saja disajikan dan meminumnya perlahan. Dia melihat matahari
dengan wajah berseri-seri dan perasaan lega, ternyata dia adalah Megan.
Megan:
“Aaaah, sinar matahari yang hangat.”
Olivia:
“Nona Megan, saya sudah menyiapkan pakaian anda.”
Megan:
“Terima kasih, mana Jaggy?”
Jaggy baru saja masuk ke dalam
kamar, dia meloncat ke atas Kasur dan menjilat-jilat wajah Megan.
Megan:
“Ahahahah, sudah Jaggy, geli.”
Olivia:
“Kami baru saja memberinya makan.”
Megan:
“Apa kau sudah terbiasa dengan rumah barumu? Kau tidak menggigit siapapun
bukan?”
Olivia:
“Untungnya dia bisa menjaga kelakuannya selama dua hari terakhir ini.”
Megan:
“Anak baik, kalian semua boleh keluar. Oh, Olivia tetap tinggal.”
Semua
Maid: “Baik nona Megan.”
Para maid keluar dari kamar Megan,
pintu kamarnya langsung ditutup. Kini di kamar hanya ada Olivia, Megan, dan
Jaggy. Jaggy turun dari Kasur, badannya mendadak membesar. Wujudnya berubah
seperti saat pertama mereka bertemu, berbadan manusia, berkepala Jaguar,
berbintik-bintik, dan berekor panjang. Megan mengelus kepalanya, Jaggy
meletakkan kepalanya di atas Kasur.
Olivia:
“Tapi yang jadi masalah adalah ketika menyembunyikannya.”
Megan:
“Yah, badannya bisa berubah-ubah. Kukira dia bisa diletakkan di kandang bersama
anjing dan kucing milikku, tapi karena dia tertembak oleh mesin aneh itu
terkadang dia bisa jadi kecil atau besar.”
Olivia:
“Mungkin lebih baik jika kita meletakkannya dengan singa dan harimau di kebun
binatang pribadi anda.”
Megan:
“Tidak, kalau kita lakukan itu dia akan membunuh mereka semua. Seharusnya
permasalahan ini sedang diatasi oleh Uchida-san, dia sedang mencari cara agar
Jaggy tak perlu lagi harus bersembunyi ketika tubuhnya membesar.”
Olivia:
“Uchida-san masih ada di laboratorium miliknya, dia sama sekali tidak keluar
dari dalam setelah kejadian itu.”
Megan:
“Apa kita punya laboratorium di mansion ini?”
Olivia:
“Tuan James mengubah garasi pribadinya sebagai laboratorium sementara untuk
beliau.”
Megan:
“Oh, lalu di mana kakakku yang bodoh saat ini?”
Olivia:
“Beliau sudah berada di bawah untuk sarapan bersama dengan Francis.”
Megan:
“Kalau begitu aku akan turun, Jaggy kau tunggu di sini dan jangan keluar satu
langkah pun.”
Jaggy hanya menjawab dengan
mendengkur dan berbaring terlentang di atas Kasur, Olivia mengunci pintu kamar
setelah Megan keluar. Mereka berdua menaiki elevator dan turun ke bawah, Olivia
mengenakan mantel pada Megan. Dia langsung menutupi tubuhnya dengan mantel
kemudian mengikatnya dengan tali di sekujur pinggangnya. Elevator sudah
berhenti, mereka berdua keluar dan disambut oleh para maid dan pelayan. Di
ruangan itu ada sebuah meja makan yang cukup besar, di sekitarnya berderet
banyak kursi. Di salah satu kursi itu sudah ada James yang duduk menyantap
makanan, Francis sendiri duduk di sebelahnya. Olivia menyeret kursi untuk
Megan, dia segera mendudukinya. Seorang pelayan memberikan hidangan, sementara
seorang maid memberikan minuman. Olivia membuka tudung saji, di dalamnya ada
semangkuk sup. James baru saja selesai makan, dia mengambil sebuah serbet dan
membersihkan sisa makanan di mulutnya. Francis sedari tadi hanya duduk sambil
melipat kedua tangannya di depan dada sambil menutup mata, hal itu membuatnya
jadi pusat perhatian semua orang di ruangan.
Megan:
“Ini tidak seperti yang kupikirkan bukan?”
James:
“Oh, tapi itu memang seperti apa yang kau pikirkan Maggie.”
Megan:
“Bangunkan dia.”
James:
“Baiklah.”
James mengeluarkan sebuah alat kejut
listrik, dia menyalakan dan mendekatkannya pada dahi Francis. Setelah kena
sengatan listrik, Francis perlahan membuka matanya. Dia melihat keadaan
sekeliling, dia segera bangkit dan mengambil sebuah apel di antara kumpulan
buah yang ada di atas meja. Francis menggigit dan mengunyah-ngunyah apel itu,
sebagian besar apel dia gigit sampai sisanya berbentuk bulan sabit. Setelah
menelan apel yang baru dia kunyah, dia memasukkan sisanya ke dalam mulut dan
menghabiskannya. Francis langsung beranjak dari tempat duduknya, mengangkat
kursi dan meletakkannya kembali ke tempatnya. Setelah itu James berdiri,
Francis sekali lagi mengangkat dan meletakkannya kembali ke tempatnya. Semua
orang hanya bengong melihatnya, Megan mulai mendesah dan segera mengambil
sendok.
James:
“Baiklah, aku berangkat dulu. Roy sudah menungguku.”
Megan:
“Jangan katakan hal yang tidak perlu pada ayah.”
James:
“Tidak masalah aku akan mengatakan apa pada dia, lagipula dia takkan peduli.”
Megan:
“Itu karena dia sudah lelah dengan tingkahmu yang selalu pergi dan menghilang
entah ke mana.”
James:
“Kau sendiri selalu membawa barang orang tanpa permisi.”
Megan:
“Kau harus pulang nanti malam, kita akan makan malam bersama ibu.”
James:
“Akan kupertimbangkan.”
James dan Francis berjalan melewati
Megan dan Olivia, sejenak Megan melihat Francis yang bekas luka di sebelah
matanya terlihat jelas. Ketika James dan Francis hendak menaiki elevator, Megan
mendadak berdiri.
Megan:
“Tunggu sebentar.”
James:
“Ada apa?”
Megan:
“Suruh dia pakai kacamata, untuk menutupi… (menunjuk pelipis) Aku tak mau kalau
semua pegawai berpikir kita mempekerjakan semacam tentara bayaran.”
James:
“Itu bisa diatur.”
Mereka berdua akhirnya menaiki
elevator ke atas, Megan mulai menyantap sup di hadapannya. Olivia meletakkan
Koran di atas meja, Megan sempat melihat sebuah artikel di Koran. Ada sebuah
foto yang menunjukkan gambar mobil yang rusak dengan keadaan tidak wajar, ada
dua orang yang baru saja ditangkap oleh polisi. Di artikel tertulis ‘Usaha
Penculikan Digagalkan’, Megan juga melihat ada dua orang yang dia kenal di
kejauhan. James melihat dari balik tembok, Francis sendiri berusaha menariknya
dari tempat kejadian.
Megan:
“Apalagi yang dilakukan oleh kakakku yang bodoh ini?”
Olivia:
“Kemarin beliau keluar tanpa izin lagi, dia didampingi oleh Francis.”
Megan:
“Jadi memang benar kemarin dia keluar, aku sempat melihat dia terbang bersama
dengan Francis berpakaian tempur.”
Olivia:
“Apakah tidak masalah untuk nona?”
Megan:
“Sebenarnya aku tak akan mengeluh soal ini, sebab sudah banyak orang yang
mencoba menculiknya. Yang jadi masalah sekarang adalah dua orang yang menumpang
tinggal di tempat ini sekarang, apa benar dia tidak pernah sekalipun keluar
dari garasi itu?”
Olivia:
“Benar, nona. Semua kegiatan dia lakukan di dalam sana.”
Megan:
“Olivia, batalkan semua jadwal yang sudah direncanakan. Aku akan tinggal
seharian penuh, aku… ingin mengenal lebih dekat orang ini.”
Olivia:
“Siap, nona.”
Di sebuah gedung perusahaan
bertuliskan TDG, sebuah helicopter baru saja mendarat di atas gedung. Francis
turun terlebih dahulu, James menyusul, Roy sendiri masih ada di dalam. James
memberikan Francis sebuah kacamata hitam, dia langsung menerima dan memakainya.
James langsung berjalan masuk ke dalam, tapi Francis sama sekali tak beranjak
dari tempatnya. James berhenti sebelum masuk ke dalam, dia melihat ke belakang.
James:
“Kau tidak masuk?”
Francis:
“Tunggu sebentar.”
Roy:
(turun dari heli) “Ada apa? Cukup kaget dengan pemandangan di sini?”
Francis:
“Kalau aku kaget untuk hal semacam itu, apakah aku harus meloncat dari atas
sini?”
Roy:
“Tentu saja tidak.”
James:
“Ada apa sebenarnya?”
Francis:
“Tidak muncul sesuatu di kacamata ini.”
Roy:
“Apa maksudmu dengan ‘sesuatu’?”
Francis:
“Uchida pernah memberiku yang semacam ini, biasanya selalu muncul
tulisan-tulisan untuk melihat terjemahan kata dari lawan bicaraku.”
James:
“Aku paham, kau mengira itu adalah semacam ‘alat’. Kau masuk saja dulu Francis,
biar kujelaskan cara kerja alat itu.”
Francis:
“Baiklah.”
James:
“Roy, kau tetap di sini.”
Roy:
“Apa?! Hei aku kan pengawasmu!”
James:
“Satu orang saja sudah cukup untuk menemaniku.”
Roy:
“Aku sudah lama bekerja di sini, orang yang masih baru takkan diijinkan!”
James:
“Kata siapa?”
James memperlihatkan kartu
identitasnya di hadapan sebuah mesin, mesin itu memindai dan membukakan pintu
untuk James. Francis juga menggunakan cara yang sama, mesin itu juga menerima
identitas Francis. Mereka berdua masuk ke dalam sebuah elevator, Roy hanya bisa
bengong.
James:
“Lihat?”
Roy:
“Benar-benar… Hei, Francis! Ingat, kalau ada yang menanyaimu macam-macam kau
tak perlu menjawab!”
James:
“Kau pikir dia orang yang suka menjawab pertanyaan?”
Pintu elevator tertutup ketika
mereka masuk, Roy dengan wajah cemberut kembali masuk ke dalam helicopter. Elevator
yang dinaiki James dan Francis turun ke bawah, James sendiri sedang menjelaskan
sesuatu pada Francis.
James:
“Kacamata di zamanmu itu hanyalah sebuah penemuan untuk memudahkan orang untuk
berkomunikasi, tapi kegunaan kacamata di zaman ini sangatlah berbeda. Kacamata
punya macam-macam manfaat, seperti yang kau pegang sekarang. Kacamata dengan
lensa berwarna punya fungsi untuk melindungi matamu dari sinar menyilaukan,
untuk bergaya, dan menutupi yang seharusnya tak perlu dilihat oleh orang lain.”
(menunjuk ke pelipis)
Francis:
“Jadi bekas lukaku yang jadi masalahnya?”
James:
“Memakai kacamata juga termasuk dari sebuah kewajiban bodyguard, kau memakainya
agar kau bisa mengawasi tanpa diketahui oleh orang sekitar ke mana kau melihat.
Kau selalu mengamati dengan sorot mata yang menyeramkan, jadi itu mencegah
orang-orang di sekitarmu takut pada dirimu.”
Francis:
“Walaupun aku pakai ini, (mengenakan kacamata) rasa takut takkan bisa hilang
begitu saja dari dalam diri mereka.”
James terdiam sejenak, dia kemudian
melihat mereka sudah berada di lantai 26. Pintu elevator terbuka, beberapa
orang sudah masuk ke dalam. Francis sempat bertemu pandang dengan mereka,
orang-orang itu menyapa James dengan wajah ceria. Tapi Francis tidak menganggap
begitu, dia melihat sedikit ekspresi ketakutan dari orang yang sempat melihat
dirinya. Pintu elevator kembali tertutup, melanjutkan perjalanan mereka ke
bawah.
Di mansion Yorgins, di sebuah garasi
tertutup. Ada sebuah suara sesuatu yang sedang dilas, percikan api memancar
sedikit dari dalam. Uchida sedang membuat sesuatu, dia mengelas besi dengan
jari telunjuknya. Megan baru saja datang dan memasuki garasi, dia melihat
Uchida yang sedang bekerja. Megan perlahan mendekat, tapi ada yang menghentikan
langkahnya sebelum sempat menyentuhnya satu senti saja. Tangan kiri Uchida
melayang di belakang Megan dan memegangi tangannya, kepala Uchida berbalik ke
belakang.
Uchida:
“Setidaknya ketuklah pintu dulu sebelum masuk.”
Megan:
“Kau berbahasa Inggris sekarang? Kukira kau orang Jepang.”
Uchida:
“Kalau di zaman ini, kau bisa menyebutku begitu. Tapi di masa depan, negara itu
sudah tidak ada lagi.”
Megan:
(Bahasa Jepang) “Apa kita bisa bicara dengan Bahasa Jepang saja?”
Uchida:
“Tunggu sebentar.”
Uchida menarik lidahnya sampai
berbunyi, dia melepaskan tangan Megan dan langsung menutupi pekerjaannya dengan
sebuah kain besar. Uchida mengambil sebuah kursi kecil dan mempersilahkan Megan
untuk duduk, Uchida sendiri memasukkan kedua kakinya ke dalam tubuh. Dia
menghidangkan sepiring biscuit, mereka mulai melakukan percakapan dengan Bahasa
Jepang.
Uchida:
“Lalu, ada perlu apa kau kemari.”
Megan:
“Mungkinkah… tadi itu semacam penerjemah?”
Uchida:
“Maaf?”
Megan:
“Lidahmu tadi, ketika kau menariknya kau bisa berbicara dengan Bahasa yang
lawan bicaramu gunakan. Sebenarnya kau pakai Bahasa apa dalam kegiatan
sehari-hari.”
Uchida:
“Aku selalu menggunakan macam-macam bahasa, tapi sebenarnya itu bukanlah Bahasa
yang kugunakan saat lahir. Inilah Bahasa yang kugunakan, sudah lama sekali aku
tak melakukan percakapan dengan Bahasa ini.”
Megan:
“Sebenarnya aku juga lebih senang kita bercakap-cakap seperti ini, karena
kebanyakan temanku adalah orang Jepang.”
Uchida:
“Senang mendengarnya.”
Megan:
“Kau benar-benar berasal dari masa depan?”
Uchida:
“Terserah kau untuk percaya atau tidak.”
Megan:
“Aku sudah mempercayaimu sejak awal, ketika kau menyelamatkan Olivia.”
Uchida:
“Oh, kau yakin aku… punya hati nurani sehingga menyelematkan dia?”
Megan:
“Seseorang tak bisa dinilai dari penampilan saja bukan?”
Uchida:
“Kau benar, kau masih menyebutku sebagai ‘seseorang’ bukan ‘sesuatu’. Walaupun
aku seperti ini, masih ada bagian tubuh manusia dalam diriku.”
Megan:
“Lalu… apa sejak lahir Uchida-san sudah seperti ini? Bagaimana kau bisa…
menelan makanan tanpa leher?”
Uchida:
(bengong) “……”
Megan:
“Oh, gomen.” (maaf)
Uchida:
“Kini shinai de, (jangan dipikirkan) aku sudah punya kesiapan akan dikatai
seperti itu ketika sampai di zaman ini.”
Megan:
“Honto ni?” (sungguh?)
Uchida:
“Honto, shikashi… (sungguh, tetapi…)
Megan:
“Nande?” (kenapa?)
Uchida:
“Akan agak memalukan jika kau melihatnya, caraku mengkonsumsi makanan agak
sedikit berbeda dengan yang kalian lakukan.”
Megan:
“Daijobu, (tidak apa-apa) aku justru ingin melihatnya.”
Uchida:
“Kalau begitu kau perlu ini, (menyerahkan ember) jika kau merasa tidak kuat.”
Megan:
“Aku tak perlu ini.” (meletakkan ember)
Uchida:
“Yakin? Apa kau masih mau melihat?”
Megan:
“Aku siap, aku siap.”
Uchida:
“Wakarimashita, aku takkan tanggung jawab jika kau muntah.”
Beberapa saat kemudian, Megan duduk
kaku dengan mata terbelalak. Sepertinya dia sangat terkejut ketika Uchida baru
mendemonstrasikan bagaimana cara dia makan, Uchida mengibas-ngibaskan telapak
tangannya di hadapan wajah Megan tapi dia tak bergeming.
Uchida:
“Yare yare.” (wah, wah)
Megan:
“Kimochi… warui.” (rasanya… menjijikkan)
Uchida:
“Kuakui kau memang tidak muntah, tapi wajar jika kau menunjukkan ekspresi
terkejut.”
Megan:
“Jadi 50 piring makanan yang disediakan 2 hari yang lalu itu kau sedot habis
untuk mengisi tenagamu?”
Uchida:
“Sekai, (tepat sekali) aku perlu setidaknya 1000 l cairan dan 10000 kalori
untuk mengisi energi dalam tubuhku ini, jika dihitung itu sekitar 20 galon air
dan 50 mangkuk nasi.”
Megan:
“Astaga.”
Uchida:
“Apa boleh buat, kondisiku saat inilah yang membuatku harus… kompromi.”
Megan:
“Aku kira kau menggunakan semacam bahan bakar minyak untuk membuat meteran itu
penuh, tapi aku paham sekarang. Kau masih memiliki bagian tubuh manusia dalam
dirimu, jadi tak heran jika kau memerlukan semua makanan itu untuk mengisi
tenaga di tubuhmu.”
Uchida:
“Sebenarnya ada sumber daya lain selain makanan yang bisa kupakai, tapi itu
berefek samping pada tubuhku.”
Megan:
“Apakah itu… Ulkamium?”
Uchida:
“Jadi kau sudah tahu…”
Megan:
“James yang memberitahuku, kami juga sudah mengetahui jika mineral tersebut
mampu dicairkan dalam keadaan dingin. Cairan itu sendiri bisa digunakan sebagai
pengganti segala jenis bahan bakar kendaraan bermesin, begitulah yang dikatakan
hasil uji coba saat ini.”
Uchida:
“……”
Megan:
“Apakah… ada kegunaan lain dari Ulkamium? Kenapa musuh kalian menambang
Ulkamium itu pada zaman ini? Kenapa mereka tak menambang saja di zaman mereka?”
Uchida mendekatkan jari telunjuknya
ke bibir Megan, mata Uchida yang masih normal kini melihatnya dengan pandangan
serius. Jarinya yang besar dia turunkan, kini mereka saling pandang selama
beberapa menit.
Uchida:
“Ah, sepertinya kita kehabisan teh. Biarkan aku ke belakang untuk menyeduh yang
baru, kau tunggu saja di sini.”
Uchida pergi meninggalkan Megan yang
duduk terdiam, dia pergi ke balik tirai dan menutupnya. Dia mengubah dirinya ke
dalam bentuk telur, kepalanya yang berada di dalam sedang mengakses semacam
program. Kepalanya terlihat seperti melayang-layang, di sekitarnya muncul
berbagai macam folder data seperti yang ada dalam computer.
Uchida:
“Membuka surat, apakah ada data terbaru dikirim akhir-akhir ini?”
Sebuah folder bergambar amplop surat
muncul di hadapan wajah Uchida, amplop itu terbuka. Dari dalam keluar jumlah
pesan yang masuk, ada sekitar 6 data.
Uchida:
“Membuka semua data gambar.”
3 data diantaranya kemudian dibuka,
dari dalamnya muncul sebuah blueprint mesin dan senjata. Di salah satu data,
ada sebuah gambar dengan nama ‘Proyek Hermes’. Dia kemudian membuka dua data
berikut, tertulis ‘Penting’. Dia membukanya tanpa pikir panjang, ekspresi di
matanya terlihat terkejut begitu melihatnya.
Uchida:
“Yare yare, mendo kuze.” (wah, wah, merepotkan sekali)
No comments:
Post a Comment