PHOBIA
24
Oktober 2010, 21:00. Kapal Pesiar Deiguscorp, di Laut Pasifik Selatan dekat
pantai Acapulco. Penyanderaan masih terjadi di atas kapal, sandera dijatuhkan
ke laut dari kapal. Sementara itu Olivia berlindung di balik dinding dari
berondongan senjata, mencari kesempatan untuk kabur. Perhatian Olivia mendadak
teralihkan, dia melihat sesuatu yang mengejutkan. Kepala Roy mengintip dari
balik anjungan, tak ada respon sama sekali dari mereka berdua selama beberapa
detik. Roy beranjak sebentar, sesuatu dilemparkan ke Olivia beberapa detik
kemudian. Olivia menangkapnya, ternyata itu sebuah ikat pinggang yang
dilengkapi dengan pistol lengkap dengan sarungnya. Isi dalam sarung senjata itu
diperiksa, ada semacam pistol yang terlihat canggih walau ukurannya kecil.
Setelah diamati dengan seksama, ada kenop di bagian belakang atas. Senjata itu
digenggam dengan posisi jempol menyentuh kenop, sebuah garis bersinar muncul
menghiasi pistol tersebut.
DIKONFIRMASI
OLIVIA CRANE
MULTIFUNGSI
DIAKTIFKAN SEPENUHNYA
Olivia: “Multifungsi? Kuharap ini tidak
meledak.”
KONFIRMASI SUARA
DITERIMA
MODE GRANAT
DIAKTIFKAN
Olivia: “Gra...?! Harus kuapakan ini?!”
Olivia
melihat Roy memperagakan dengan tangannya, tangannya mengepal dan jempolnya
bergerak naik turun seperti mencubit. Olivia menekan kenop seperti yang
diperagakan Roy, sesuatu keluar di bagian ujung dan meluncur ke atas. Olivia
dan Roy melihat benda tersebut terbang cukup tinggi kemudian jatuh, benda itu
jatuh tepat di tengah-tengah bajak laut yang sedang menembak. Salah satu bajak
laut itu menyadari benda jatuh tersebut, dia melihat ke bawah di belakangnya.
Dia melihat semacam koin dengan angka 5, namun angka itu mendadak berubah jadi
hitungan mundur dari 4 3 2 1. Ledakan besar membuat para bajak laut itu
terlempar ke segala arah, beberapa jatuh ke laut. Olivia dan Roy saling
pandang, senjata itu dipandangi oleh Olivia yang mendadak tersenyum.
Olivia: “Coba kita lihat apa ada fungsi
untuk melumpuhkan?”
KONFIRMASI SUARA
DITERIMA
MODE PEMBIUS
DIAKTIFKAN
Olivia
keluar dari persembunyiannya dan menembaki bajak laut yang tersisa, yang keluar
dari pistol itu ada semacam bola kecil yang menempel di masing-masing tubuh
mereka. Bola-bola itu mengeluarkan tegangan listrik yang membuat mereka kejang,
salah satu tak sengaja menembak ke segala arah. Namun untungnya tidak ada yang
kena, senjata mereka berjatuhan. Olivia langsung maju dan menendang senjata
yang berjatuhan ke laut sebelum mereka mengambilnya, dipandanginya bajak laut
itu dengan pandangan sinis.
Olivia: “Itu bukan pembius itu penyetrum.”
James
dan Megan naik ke atas kapal dengan tambang yang masih terkait, Roy sendiri menyusul
naik. Ternyata dia sedari tadi melihat sambil duduk di atas bahu Francis. Dia diturunkan
dengan kasar oleh Francis, tapi untungnya dia tidak terjatuh.
Roy: “Hei, hati-hati!”
Olivia: “Nona, syukurlah anda selamat.”
Megan: “Ya, aku tidak apa-apa. Yang
terpenting sekarang kita harus menghubungi polisi dan menyelamatkan penumpang.”
James: “Wow, tidak ada yang bilang kalau
pestanya akan seramai ini. Harusnya aku datang lebih awal.”
Ketika Francis
naik ke kapal, dia melihat ke kanan dan kiri mencari sesuatu, dia langsung
berjalan ke meja yang menyajikan makanan. Dia mengambil apapun makanan yang dia
lihat dan langsung memakannya dengan lahap, James menyusul dan mengambil 2
gelas minuman di atas meja. James memberikan minuman tersebut pada Roy, mereka
berdua langsung minum dan meneguknya dengan cepat.
Megan: “Setidaknya tolong bantu mereka dulu.”
James: “Kami belum makan malam sejak
tadi, setidaknya sepotong sandwich cukup.”
Olivia: (melihat Francis) “Kurasa itu
bukan Cuma sepotong.”
James: “Francis, jangan habiskan semua.
Sisakan untuk kami setidaknya 2 atau 3 buah.”
Sementara
itu di dalam kapal, sang pemimpin bajak laut dan beberapa anak buahnya berada
di depan sebuah pintu brankas yang besar bersama dengan sang kapten. Dia
dilepaskan dan didorong ke depan, sang pemimpin mengambil senapan dari belakang
punggungnya dan menodongkannya ke bagian belakang kepala Mendez.
?: “(Kapitan, kami tak punya banyak
waktu. Buka pintu itu.)”
Mendez: “(Tapi di sini tak ada perhiasan
ataupun uang.)”
?: “(Aku tahu.)”
Mendez
mencoba membuka pintu dengan menekan tombol di sebelah pintu, muncul semacam
panel berisi angka. Dia memasukkan kode dengan menekan angka-angka pada panel,
kemudian muncul semacam layar di balik panel tersebut. Tangan kanannya
diletakkan pada layar, muncul garis bercahaya di layar yang bergerak dari atas
ke bawah. Muncul tulisan ‘akses diterima’ dalam bahasa Spanyol. Pintu itu
kemudian terbuka ke atas, mereka semua menunggu sampai pintu terbuka lebar.
?: “(Panggil Julio, tanyakan dia keadaan
di atas.)”
Sementara
itu di kapal nelayan milik para bajak laut, mereka semua ada di atas kapal
dalam kondisi terikat. Terdengar suara seseorang dari walkie talkie yang ada di
ruang kemudi, memanggil-manggil Julio yang terikat dan tak sadarkan diri.
Bajak Laut: “(Julio, apa kau di sana?
Jawablah, Julio.)”
Julio
tersadar saat mendengar suara tersebut, dia menemukan dirinya dalam keadaan
terikat tambang dan mulutnya diplester. Dia melihat awak yang lain juga terikat,
dia melihat dari jendela kapal pesiar tersebut sudah separuh tenggelam dan
beberapa awak dan penumpang sedang diselamatkan
oleh Roy dan Olivia menggunakan speedboat. Terdengar suara sirine dari
kejauhan, Julio mencoba untuk melepaskan dirinya begitu mendengar suara tersebut.
Dengan sekuat tenaga dia memutuskan tambang itu memakai tubuhnya yang besar,
plester di mulutnya dilepas kencang dan membuat mulutnya kesakitan. Tapi dia
mencegah dirinya berteriak dengan menutup mulutnya rapat memakai tangan
kanannya, dia mengendap-endap mengambil walkie talkie yang ada di ruangan
pengemudi dengan tangan kiri.
Julio: “(Julio di sini.)”
Bajak Laut: “(Dari mana saja kau? Lama
sekali, kau tidak sedang bercinta bukan?)”
Julio: “(Aku tadi mau melakukannya, tapi
gagal. Ada yang melumpuhkan semua anggota kita, aku sekarang ada di kapal dan
ada polisi pantai yang sedang menuju kemari!)”
Bajak Laut: “(Hei, jangan bercanda...)”
Julio: “(Kalau kau kira aku bohong,
dengar ini!)”
Julio
menjulurkan tangannya yang memegang walkie talkie keluar jendela, terdengar
suara sirine yang kecil dan lama kelamaan mengeras. Mendengar hal tersebut,
sang pemimpin memberi perintah dengan anggukan. Beberapa anak buahnya langsung
pergi, sementara sisanya mengawal sang pemimpin masuk ke dalam ruangan. Mendez
menyalakan lampu ruangan dengan menekan saklar di dinding, isi dalam ruangan
itu terlihat jelas. Ada banyak tempat tidur berjejer, ada pria dan wanita
berbaring di masing-masing tempat tidur hanya diselimuti selembar kain dan
tidak memakai baju. Di mulut mereka terpasang regulator yang terhubung dengan
sebuah tabung, ada pengukur detak jantung yang terhubung dengan kabel di dada
dan kepala mereka.
?: “(Cari dia, salah satu pasti di
antara mereka.)”
Mereka
mulai memeriksa setiap ranjang, sang pemimpin mengamati sekelilingnya. Dia
melihat sebuah tabung kaca berisi cairan hijau dan pria yang tertidur di
dalamnya, wajahnya tak terlihat jelas karena memakai semacam helm.
?: “(Keluarkan dia.)”
Mendez: “(Aku takkan melakukan itu jika
jadi kau, dia akan mati jika kau keluarkan dia dari tabung.)”
?: “(Kalau begitu kau keluarkan dia.)”
Mendez: “(Itu bukan keahlianku.)”
?: “(Kalau begitu panggil orang yang
ahli.)”
Sang
wanita menodongkan senjatanya masuk ke mulut Mendez, mata Mendez melirik ke
tabung. Salah satu dari jari pria dalam tabung bergerak sedikit, mendadak
denyut jantung orang-orang yang tertidur di ranjang meningkat sedikit. Tapi tak
ada yang mempedulikan, salah satu perompak melapor pada sang wanita.
Perompak: “(Dia tidak ada di antara
mereka.)”
?: “(Dia belum diperiksa bukan?)”
Sang
wanita menunjuk pria dalam tabung, Mendez mencoba untuk bicara dengan bahasa
isyarat. Dia menganggukkan kepala dan menunjuk-nunjuk tabung, wanita itu mengeluarkan
senjatanya dari mulut Mendez.
Mendez: “(Kalau kau ingin mengeluarkan
dia dari sana, tidak perlu repot-repot.)”
?: “(Kenapa?)”
Mendez: “(Karena dia sendiri bisa keluar
dari sana.)”
Mendadak
salah satu dari jari kaki seorang wanita yang ada di ranjang bergerak sedikit,
salah satu perompak menyadari hal tersebut. Beberapa orang di ranjang juga
mengalami hal yang sama, jari-jari mereka mulai bergerak. Ada yang membuka
mulutnya sedikit Mesin menunjukkan denyut jantung semua orang di ranjang meningkat
sedikit demi sedikit, perompak itu mencoba mengamati wajah wanita itu dari
dekat. Ketika wajah mereka hampir bersentuhan, mendadak perompak itu merasakan
sesuatu di dadanya. Dia ditusuk dengan tangan kosong tembus sampai punggungnya,
wanita itu membuka matanya lebar-lebar. Bola matanya seperti bola mata kucing, dengan
pupil yang tipis tapi berwarna kemerahan. Wanita itu melempar sang perompak dan
hampir mengenai Mendez dan sang pemimpin, mereka berdua menghindar. Sang
pemimpin melihat anak buahnya yang terluka parah dan mencoba menggapai, tangannya
jatuh dan akhirnya dia tewas. Melihat hal tersebut, pemimpin perompak itu
menodongkan senjatanya pada sang wanita dengan marah. Namun apa yang didapati
dia selanjutnya adalah kejadian yang mengerikan, orang-orang yang terbangun
dari ranjang langsung membantai seluruh anak buahnya. Ada yang digigit, dicabik
anggota badannya sampai lepas dan dipukul sampai lumat. Senjata yang dia pegang
mendadak diambil oleh Mendez dan dihancurkan dengan tangan kosong, membuat sang
wanita terkejut dan jatuh terduduk.
Mendez: “(Senorita, kau tidak pantas
untuk memegang senjata.)”
Tabung
kaca tempat pria berhelm itu mendadak bergetar, cairan dalam tabung berubah
merah. Kepala pria itu mendadak mendongak dan dia langsung meninju tabung itu
sampai pecah, cairan dalam tabung tumpah membanjiri ruangan. Pria itu keluar
dari tabung, menginjak kepala mayat di depannya sampai hancur. Dia memandangi
seisi ruangan, semua orang kecuali si wanita bajak laut menundukkan kepala
mereka dan melakukan salam khas. Memukul dada sebelah kiri dengan tangan kanan
kemudian menyilangkan dua tangan di depan dada, pria itu kemudian mengangkat
mayat yang kepalanya dia injak dan mengambil pakaiannya. Setelah dia memakai
pakaian, helm tersebut dia lepas. Wajahnya tidak begitu kelihatan, dia melihat
sang wanita kemudian menghampiri Mendez.
??: “(Jelaskan.)”
Sementara
di luar kapal, para penumpang dan awak sudah diselamatkan oleh petugas
perairan. Kapal pesiar itu sendiri sudah separuh tenggelam, James, Roy,
Francis, Megan dan Olivia sudah berada di atas speedboat. James sendiri sedang
menelpon dengan HP-nya, dia menelepon kamar hotel tempat Uchida saat ini
berada. Telpon itu diangkat oleh sebuah tangan yang kurus sampai kelihatan
tulang, dengan lemahnya telpon itu dijawab oleh suara yang terdengar serak.
James: “Halo, kuharap kau tak kesepian
di sana. Pestanya sudah selesai dan kami akan segera kembali ke hotel.”
Uchida: “Mengenai itu... kenapa kalian
tidak berkeliling saja dulu... aku tidak masalah sendirian...”
James: “Humpty Dumpty? Ada apa dengan
suaramu?”
Uchida: “Tidak apa-apa, mungkin hanya
gangguan dari telepon.”
James: “Kau yakin kau tidak apa-apa?”
Uchida: “Aku yakin... apa kau bawa
sesuatu untuk dibawa pulang?”
James: “Ah, kau benar. Aku sebenarnya
ingin membawa oleh-oleh, tapi sayangnya ada sedikit masalah di pesta. Kalau
begitu kau tunggu saja sebentar lagi, aku akan membawakan sesuatu.”
Uchida: “Terima kasih... akan
kutunggu...”
Tangan
kurus itu menutup telpon, tapi tangan itu mendadak menjadi serpihan dan tinggal
tersisa tulang.
Uchida: “...untuk waktu yang lama...”
Di
dalam kapal, di ruangan tempat wanita pemimpin bajak laut itu berada. Dia dalam
kondisi tak sadarkan diri, berbaring dan terikat rantai di atas ranjang.
Posisinya sendiri terbalik karena kapal yang tenggelam, mendadak seseorang
muncul memasuki ruangan dari atas dan mendarat di dinding kapal. Dia melihat
sekeliling dan pandangannya langsung terarah pada wanita itu, rantai yang
mengikatnya langsung diputuskan dengan tangan kosong. Sang wanita perompak itu
sendiri sedang bermimpi buruk dengan melihat dirinya berhadapan dengan sosok
berhelm yang mengejarnya, dari langit turun hujan darah disertai dengan
potongan-potongan tubuh manusia. Pria berhelm itu melangkah maju, namun
tubuhnya makin lama makin besar setiap kali dia melangkah. Wanita itu mencoba
kabur, tapi dia ditangkap oleh tangan raksasa sang pria. Saking paniknya,
wanita itu berontak mencoba melepaskan diri. Dalam tidurnya dia juga berontak
hingga menendang dan memukuli penyelamatnya, dia jatuh dan akhirnya tersadar.
Kepalanya terasa pusing, dia bangkit terhuyung-huyung dan samar-samar melihat
seseorang di depannya. Wanita itu mendadak memukulnya di wajah, namun dia
terlalu lemah dan pukulannya tidak berpengaruh apa-apa. Wajah orang di depannya
kini terlihat jelas, ternyata dia adalah Francis. Di pipi kirinya menempel
tinju dari wanita tersebut, Francis sama sekali tidak bergerak dan memandangi
wanita itu dengan sorot mata yang tajam. Dia menurunkan dan menjauhkan tangan
wanita tersebut dari wajahnya, mengacuhkan sang wanita dan melihat
sekelilingnya. Dia memandangi cairan merah yang membasahi ruangan, setelah itu
membungkuk dan mengusap cairan tersebut. Dia mengamati cairan kemerahan yang
ada di tangannya, menggosok-gosok dengan jarinya.
?: “(Kau siapa?)”
Flashback
setelah kejadian saat James menelepon Uchida, Francis sedang mengamati kapal
yang tenggelam. Dia melihat beberapa anggota dari bajak laut itu muncul dari
dalam laut, ternyata mereka keluar dari kapal secara sembunyi-sembunyi melewati
sebuah jendela kecil yang terendam air. Tanpa pikir panjang, Francis terjun ke
dalam laut dan menyelam. Dia langsung berenang dengan kecepatan abnormal dan
menangkap salah satu dari mereka, Francis sedikit kaget saat melihat siapa yang
dia tangkap. Sesosok makhluk berwajah ikan mengenakan pakaian dari bajak laut
itu, makhluk itu menyemburkan gelembung pada Francis. Namun itu tak membuatnya
bergeming, justru membuatnya mematahkan tangan makhluk yang dia pegang. Makhluk
itu akhirnya lolos dengan kondisi terluka dan kehilangan satu tangan. Francis
mencoba mengejar, tapi dia menyadari ada sesuatu di dalam kapal. Tanpa pikir
panjang dia masuk ke dalam kapal, melalui jendela yang dipakai bajak laut itu
kabur. Di dalamnya, air belum begitu banyak membanjiri ruangan. Dia mulai memanjat
bagian dalam kapal yang tegak berdiri, hingga pada akhirnya menemukan sang
wanita.
Sementara
di luar kapal, James, Olivia, Megan dan Roy masih menunggu. Para polisi sudah
menangkap bajak laut yang dilumpuhkan, terkecuali Julio yang sudah kabur dengan
berenang sampai ke pantai. Dia berjalan sempoyongan dan ambruk, kemudian dia
berbaring sambil bernafas terengah-engah. Wajahnya terlihat sangat ketakutan, di
pikirannya terngiang-ngiang suara teriakan dari rekan-rekannya yang dibantai
lewat walkie talkie.
Julio: “Kenapa aku jadi pengecut seperti
ini...”
Kembali
ke dalam kapal, Francis sedang berusaha memanjat keluar ruangan kapal, saat ini
dia berada di sebuah dapur. Di pinggangnya terikat sebuah tali yang panjang,
tali tersebut digunakan untuk memanjat oleh sang wanita perompak. Francis mulai
memanjat lagi, tapi mendadak bajunya ditarik.
?: “(Tunggu!)”
Francis berhenti dan menoleh
pada sang wanita yang terlihat lelah, dia terduduk di lantai.
?: “(Biarkan aku istirahat sejenak, kau
paham maksudku?)”
Mendadak
Francis mengangkat tinggi sang wanita, mereka berdua saling berpandangan.
Dirinya kemudian dipanggul Francis dengan posisi wajah di belakang dan pinggang
di depannya, dia kemudian meloncat sekuat tenaga sampai ke ruangan berikut.
Kedua tangan Francis memegang pintu yang terbuka, dia menggunakan satu
tangannya untuk mengangkat sang wanita dan mendorongnya ke atas. Sang wanita
mendarat jatuh dengan pantat terlebih dulu, menyusul Francis yang melompat
naik.
?: “(Aduh! Bisakah kau lakukan pelan-pelan?!
Idiota!)
Kapal
mendadak bergetar, seisi ruangan mendadak jungkir balik. Francis dan sang
wanita berpegangan pada pipa yang ada di dinding, namun pegangan Francis
terlalu kuat sehingga pipa yang dia pegang patah. Dia jatuh menghantam dinding
sampai dindingnya penyok, tangan kanannya menembus tembok. Di satu sisi sang
wanita masih bergelantungan di pipa, mendadak terdengar suara pintu tertutup
dari dua arah. Dari jendela terlihat air yang menutupi bagian luar, ternyata
kapal itu sendiri tenggelam dengan cepat. James dan penumpang yang telah
diselamatkan melihat bagian depan kapal meledak dan membuat bagian belakang
tenggelam tanpa mereka sadari, kejadian itu sendiri dilihat oleh Mendez yang
berada di antara kerumunan penumpang. Sementara di dalam bagian kapal yang
tenggelam, air mulai masuk membanjiri ruangan tempat Francis dan sang wanita
berada. Sang wanita berayun dari satu pipa ke pipa lainnya dan turun ke bawah
menghampiri Francis, dia melihat dinding yang penyok karena benturan badan
Francis. Air dalam ruangan sudah sebatas mata kaki sang wanita, dia
menggoyang-goyang badan Francis.
?: “(Bangun, kita harus cepat keluar!
Kapal ini sudah tenggelam!)”
Namun
Francis tidak menanggapi, sang wanita menyadari kondisi Francis yang aneh. Raut
wajahnya menunjukkan rasa takut, bibir dan giginya menggigil, matanya bergerak
ke sana kemari. Sang wanita mencoba mengangkat tubuhnya, tapi badan robotnya
terlalu berat. Sang wanita memasukkan kepalanya sendiri ke dalam air, dia
melihat tangan Francis yang tersangkut di tembok. Wanita tersebut mengeluarkan
kepalanya dari air, ketinggian air dalam ruangan semakin meninggi. Air di wajah
Francis sudah mulai masuk ke hidung dan mulutnya, sebuah ingatan lama mendadak
muncul dari pikirannya. Dia melihat sebuah ruangan gelap dan air yang turun
dari atas membanjiri ruangan dari pandangannya, ketinggian air tersebut sudah
sampai lehernya. Dia memukuli dinding dan berteriak-teriak, sampai akhirnya air
sudah memenuhi ruangan dan membuatnya tenggelam. Dia meronta-ronta di dalam
air, mencoba berenang sampai ke langit-langit. Namun dia sendiri mulai
kesulitan bernafas sebelum tangannya sempat menyentuh langit-langit, pada akhirnya
dia tenggelam. Francis kembali ke dunia nyata, mendadak dia berteriak kencang
sampai membuat sang wanita menutup telinga.
Francis: “AAAAAAAAAAAARGGGGH!!!”
No comments:
Post a Comment