Monday, November 5, 2012

Level 4


BERMALAM

Di sebuah rumah yang terletak di antara lapangan sepak bola dan sebuah tempat pembuangan sampah, dulu hidup keluarga yang terdiri dari tiga orang. Seorang ayah, seorang ibu, dan satu anak perempuan. Sang ayah bekerja sebagai seorang koki di restoran kecil, sementara sang ibu mengurus keperluan rumah tangga di rumah. Anak mereka yang masih berumur 6 tahun bersekolah di taman kanak-kanak, mereka adalah keluarga kecil yang hidup dengan bahagia. Namun kebahagiaan itu menghilang begitu saja, sang ibu jatuh sakit setelah itu. Sang ayah berusaha keras untuk mencari cara untuk menyembuhkan penyakit istrinya, sementara sang ibu terbaring di rumah sakit. Segala cara dia coba untuk mendapatkan biaya pengobatan, salah satunya adalah berhutang. Pada akhirnya sang ibu berhasil mendapatkan pengobatan yang layak dan berhasil meninggalkan rumah sakit, namun sebagai gantinya sang ayah tak pernah kembali kepada keluarganya. Oslo, Norwegia, 11 Oktober 2010, 18:45. Rumah itu sekarang ditempati oleh sang ibu dan anaknya yang berumur 8 tahun, Francis sendiri sekarang diterima di rumah itu sebagai tamu. Sang ibu baru keluar dari dapur membawa kuali berisi masakan yang sedang dia buat, anaknya menata piring beserta peralatan makan di meja. Setelah selesai, mereka semua duduk di kursi masing-masing.

Ibu: “Kau sudah mencuci tanganmu, Claudia?”
Claudia: “Tentu saja sudah.”
Ibu: “Bagaimana dengan temanmu?”
Claudia: “Tentu saja sudah, tadi aku yang mengajaknya. Kak Zero, mau memimpin doa?”
Francis: “Maaf?”
Ibu: “Dia memintamu untuk memimpin doa, apakah kau bersedia?”
Francis: “Ah, maaf... tapi apa itu doa?”
Claudia: “Kak Zero tidak pernah berdoa sebelum makan?”
Francis: “Jujur saja, aku bahkan tak tahu berdoa itu seperti apa.”
Claudia: “Itu tidak baik, kak Zero. Seharusnya kak Zero sering berdoa, sebab itu bermanfaat untuk kita semua.”
Ibu: “Baiklah, kalau begitu biar ibu yang akan memimpin doa, Claudia. Ikuti saja apa yang saya katakan dan ucapkan di dalam hati.”
Claudia: “Baik, ayo kak Zero.”

Mereka berdua mengatupkan kedua tangannya dan menundukkan kepala, Francis mengikuti sesuai dengan apa yang mereka lakukan. Setelah itu mereka berdua menutup mata mereka, tapi Francis hanya menyipitkan matanya.

Ibu: “Oh Tuhan, terima kasih atas segala pemberian yang telah kau berikan kepada kami hari ini. Kami semua berkumpul di sini untuk menikmati pemberian-Mu yang telah kami dapatkan dan diolah dengan usaha kami sendiri, semoga di kesempatan berikutnya kami sekeluarga masih bisa berkumpul bersama dan menikmati pemberian-Mu sekali lagi. Amin.”
Claudia: “Amin.”
Ibu: “Jangan ambil terlalu banyak, sup ini juga akan dimakan untuk sarapan besok.”
Claudia: “Baik ibu, ng?”

Claudia dan ibunya melihat Francis masih mengatupkan kedua tangannya dan menutupi mulutnya sambil menyipitkan kedua matanya dan melirik mereka berdua, Claudia langsung menggoyang tubuh Francis.

Claudia: “Kak Zero, sudah selesai. Kak Zero bisa mengambil makanan, kakak tidak apa-apa?”
Francis: (sadar) “Oh, baiklah. (suara hati) Jadi itu yang disebut berdoa?”
Claudia: “Kak Zero, aku sudah ambilkan sup untuk kakak.”
Francis: “Terima kasih.”

Francis memandangi sepiring sup yang ada di hadapannya, warna kuahnya bening, ada macam-macam sayuran di dalamnya, disertai potongan-potongan sosis. Bau yang sedap tercium di hidung Francis dan membuatnya menelan ludah, uapnya membuat kacamata yang dipakainya dipenuhi embun. Dia kemudian melepas kacamatanya dan membersihkan embun di lensanya, tapi Claudia memegang tangannya sebelum sempat memakainya lagi.

Claudia: (bahasa Norwegia) “Kak Zero, lepas saja kacamatanya. Tidak sopan jika saat makan memakainya.”
Francis: (suara hati) “Gawat, aku tak memahami perkataannya. Tapi aku tahu maksudnya, apa boleh buat aku menurut saja.”

Francis melihat Claudia dan ibunya menggunakan sendok dan garpu untuk makan, hal inipun ditiru olehnya. Dia mengambil alat makan seperti yang dilakukan mereka, tapi posisi alat makan yang dia pegang berlawanan dengan yang mereka pakai. Dia menusuk sepotong wortel dengan garpu, memandanginya sebentar dan memasukkannya ke mulutnya, setelah mengunyahnya dia kemudian menelannya. Setelah itu dia memandangi sup itu lagi, berikutnya dia menusuk sepotong sosis dan melakukan hal yang sama. Hal itu terus menerus dia lakukan sampai tak ada lagi yang bisa dia tusuk, yang tersisa adalah kuah sup di dalam piring. Tindakan yang dia lakukan berikutnya adalah memakai sendok untuk mengambil kuah sup, meneteskannya di atas mulutnya yang terbuka. Lidahnya menjilat bibir setelah merasakan kuahnya, setelah itu dia mengambil kuah lagi dan menyedotnya dengan suara keras. Tindakan ini disaksikan oleh Claudia dan ibunya, badan Francis bergetar setelah mencoba dua sendok kuah. Claudia langsung mengambil sup dari kuali dan memenuhi piring Francis, tanpa pikir panjang Francis menggunakan garpunya sekali lagi. Namun hal itu dihentikan Claudia yang memegang pergelangan tangannya, dalam sekejap gerakan Francis terhenti.

Claudia: (bahasa Norwegia) “Kak Zero, jangan hanya mencicipi secara terpisah. Nikmati saja semua sekaligus, letak sendok dan garpu yang kak Zero pegang juga salah. Seharusnya sendok letaknya di tangan di mana kak Zero memegang garpu, begitu juga sebaliknya.”
Francis: (suara hati) “Gawat, aku jadi tak memahami perkataannya setelah melepas kacamata. Bagaimana ini? Aku pura-pura mengerti saja.”
Claudia: (bahasa Norwegia) “Selain itu jika kak Zero ingin makan dengan praktis pakai saja sendok, (mempraktikkan) lihat kak Zero bisa mengambil makanan beserta dengan kuahnya.”
Francis: (mengangguk) “Hm. (suara hati) Kalau kau mempraktikkannya aku masih bisa paham, tapi aku jadi pusing jika lama kelamaan aku mendengarmu berbicara tanpa terjemahan.” (mengikuti)
Claudia: (bahasa Norwegia) “Kak Zero, lepaskan dulu sendok dan garpumu. Pakai tangan kanan untuk memegang sendok, setelah itu lakukan seperti yang kulakukan.”


Francis meletakkan kepalanya di meja dengan wajah kelelahan, Claudia membawa tumpukan piring ke belakang untuk dicuci oleh ibunya.

Francis: “Ugh, aku harus segera kembali ke tempat Uchida secepatnya. Di mana kacamata itu aku taruh?” (meraba-raba meja)
Ibu: “Mencari sesuatu?”
Francis: “Ya, kacamata.”
Ibu: “Ini, silahkan.”
Francis: “Terima kasih, eh?” (mendadak bangkit)
Ibu: “Ada apa?”
Francis: “Barusan kau bicara bahasaku?”
Ibu: “Oh, saya memang bisa berbahasa Inggris. Saya memang asli dari sana, jadi itu alasan kenapa kau sedari tadi diam saja?”
Francis: (jatuh terduduk) “Haaah, aku lega sekali ada orang yang berbahasa sama denganku. Aku hanya tahu sedikit beberapa bahasa negara ini, apa Claudia sendiri bisa?”
Ibu: “Hanya sedikit, tapi saya masih mengajari dia.”
Francis: “Terima kasih banyak, ibu...”
Ibu: “Panggil saja Gilda, lalu kau sendiri?”
Francis: “Francis Zero, terima kasih sudah bertanya.”
Gilda: “Zero... itu nama keluarga?”
Francis: “Ah tidak, wanita yang membesarkanku yang memberi nama ini. Walau aku sendiri tidak lahir dari dirinya, tapi dia sudah kuanggap sebagai keluarga.”
Gilda: “Oh, berarti orang tuamu...”
Francis: “Aku bahkan tak pernah melihat atau mendengar suara mereka.”
Gilda: “Oh...”
Claudia: (bahasa Norwegia) “Ibu, aku sudah meletakkan semua peralatan makan di lemari.”
Gilda: (bahasa Norwegia) “Terima kasih bidadari kecilku, bisakah kau masuk ke kamarmu dulu? Ada yang ingin ibu bicarakan dengan temanmu.”
Claudia: (bahasa Norwegia) “...baik, ibu...”
Francis: (bahasa Norwegia) “Tunggu, Claudia.”

Francis menghentikan langkah Claudia yang akan pergi ke kamarnya, dia sendiri sudah mengenakan kacamata itu lagi.

Francis: “Bukankah tadi kau ingin menyerahkan sesuatu pada ibumu?”
Claudia: “Eh? Apa maksud kak Zero?”
Francis: “Tadi kau mengatakan sesuatu tentang sebuah bungkusan untuk ultah ibumu, bukankah tadi kau membawanya?”
Gilda: “Benarkah itu?”
Francis: “Ya, tadi dia dikejar oleh...”

Sebelum sempat berkata, mulut Francis dibungkam oleh buah apel oleh Claudia. Dia kemudian berlari ke hadapan Gilda, mendadak dia memberikan bungkusan yang tadi dibawa olehnya.

Claudia: “Selamat ulang tahun, Ibu. Maaf, tadi aku bermaksud memberikannya secara langsung.”
Gilda: “Wah, terima kasih. Ibu sampai lupa ulang tahun sendiri, kau membelinya?”
Claudia: (menggeleng) “Kurang tepat ibu, aku membuatnya sendiri. Sebagian bahannya aku beli, sebagian lagi aku ambil dari tempat sampah di sebelah.”
Gilda: “Buatan sendiri? Boleh ibu buka?”
Claudia: “Tentu saja! Itu kan hadiah untuk ibu.”

Francis melihat mereka dalam keadaan mulut masih disumpal buah apel, kemudian dia menggigit sebagian apel itu sampai lepas dari mulutnya. Dia menangkap apel bekas digigit itu dengan tangan kanannya, dia kemudia mengunyah-ngunyah dan menelannya.

Francis: “Tak kusangka makanan ini bisa dimakan dengan cara seperti ini, akan kuhabiskan sekali lahap.”

Francis memasukkan langsung buah apel itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya, bersamaan dengan itu Gilda sudah membuka bungkusan yang diberikan oleh Claudia. Kertas pembungkus yang dia buka berserakan di bawah kakinya, mendadak dia berdiri.

Gilda: “Ini...”
Claudia: “Maaf, aku saat itu tak sengaja melihat isi kamera ayah.”

Kedua tangannya memegang sebuah bingkai foto yang dihiasi dengan manik-manik warna-warni, di bagian atas tengah ada tulisan 'Ayah, Ibu, dan Claudia' yang terbuat dari potongan tusuk gigi. Di sekitar bingkai ditempeli gambar kupu-kupu kecil, di dalamnya ada foto Gilda yang masih muda menggendong seorang bayi didampingi oleh seorang pria.

Claudia: “Waktu sedang membersihkan kamar, aku menemukan kamera milik ayah. Karena penasaran, aku kemudian membawanya ke percetakan foto. Tapi karena perlu biaya, akhirnya aku menggunakan uang celenganku. Setelah dicetak, ternyata isi fotonya hanya satu. Itu adalah fotonya... dan... aku tahu itu di dalamnya adalah foto ayah, aku, dan ibu. Jadi...”

Mendadak Gilda memeluk Claudia dengan erat, menitikkan air matanya tanpa disadari oleh Claudia. Francis melihat mereka sambil duduk di lantai sambil menghabiskan apel di dalam bungkusan yang dia bawa tanpa tersisa sedikitpun, mengunyah-ngunyah dan menelannya bulat-bulat.

Gilda: “Terima kasih...”
Claudia: “I... ibu?”
Gilda: “Terima kasih...”


Beberapa saat kemudian, Francis sudah kembali duduk di ruang makan berhadap-hadapan dengan Gilda. Dia tidak memakai kacamata, menopang dagunya dengan tangan kanan. Bingkai foto yang diberikan sebagai hadiah oleh Claudia dipasang di dinding tepat di belakang Gilda, di belakang Francis ada sebuah jam dinding dengan bandul yang menunjukkan waktu 19:30.

Gilda: “Sebelumnya terima kasih karena sudah mengantar anak saya pulang.”
Francis: “Sebenarnya aku tidak mengantarnya pulang, dia sendiri yang mengajakku kemari.”
Gilda: “Tadi kau bilang kau lega karena ada orang yang berbahasa sama denganmu, apa kau bukan berasal dari negara ini?”
Francis: “Tanpa kujawab bukankah kau sudah tahu jawabannya?”
Gilda: “Benar, boleh kupanggil Francis?”
Francis: “Silahkan saja, ibu Gilda.”
Gilda: “Lalu darimana asalmu?”
Francis: “Amerika.”
Gilda: “Oh, orang Amerika. Di bagian mana?”
Francis: “Ah... di suatu tempat yang kecil...”
Gilda: “Di mana itu tepatnya.”
Francis: “Tempat yang penuh dengan besi rongsokan, aku tinggal dengan beberapa orang di sana.”
Gilda: “Francis... apa kau tukang sampah?”
Francis: “Maksudmu?”
Gilda: “Bukan? Jadi apa kau... maaf... seorang gelandangan?”
Francis: “Aku bahkan tak tahu apa yang engkau maksud.”
Gilda: “Kalau begitu... bagaimana caranya kau datang ke negara ini?”
Francis: “Aku hanya tahu seseorang dengan wajah buruk rupa membawaku kabur sampai ke negara 'entah apa namanya' ini, setelah itu aku dipaksa untuk bekerja untuknya.”
Gilda: (suara hati) “Dia imigran gelap? Kasihan sekali, sampai diculik dan harus dipaksa bekerja oleh seseorang yang tak dia kenal.”


Sementara itu Uchida yang masih bersama dengan para gelandangan sedang menghangatkan diri di depan perapian yang dibuat di dalam sebuah tong, dia bersin sangat keras sehingga membuat api di depannya hampir padam.

Uchida: (bahasa Jepang) “Francis, di mana kau sialan?! Aku sudah kedinginan dan hanya ditemani tiga orang dan seekor anjing di sebelahku.”

Uchida memandang anjing herder yang sedari tadi melihatnya dengan tatapan memelas, tak lama kemudian anjing tersebut mengencingi kaki Uchida. Dia langsung merespon dengan menendang tong di hadapannya sampai terjatuh, api di dalamnya keluar dan masuk ke dalam tempat sampah dan mengakibatkan kebakaran.


Kembali ke rumah di mana Francis sedang berbicara dengan Gilda, di atas meja sudah ada dua cangkir teh panas. Gilda dan Francis masih duduk berhadap-hadapan, Francis masih menopang dagunya dengan tangan kanan.

Gilda: “Saya paham tentang keadaanmu yang diculik oleh orang tak bertanggung jawab dan dipaksa melakukan apa yang tidak kau inginkan, karena kau tak bisa berbahasa Norwegia pasti sulit sekali untukmu meminta tolong pada orang-orang di sekitarmu.”
Francis: “Memang benar, aku sendiri sampai kerepotan untuk berkomunikasi dengan orang sekitar.”
Gilda: “Kau sudah mencoba untuk melaporkannya ke polisi?”
Francis: “Justru sebaliknya, aku malah dikejar oleh mereka. Aku tersesat mencari jalan untuk kembali, tapi aku malah bertemu dengan Claudia.”
Gilda: “Kasihan sekali dirimu, kalau begitu menginaplah di sini.”
Francis: “Eh?”
Gilda: “Kau pasti kelelahan bukan? Besok kita bersama-sama pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian yang terjadi padamu, kau bisa pulang ke negaramu setelah masalah diselesaikan.”
Francis: “Ah, tidak. Bukan begitu, sebenarnya aku memang masih ada urusan di sini.”
Gilda: “Maksudmu?”
Francis: “Setelah penculikan, seseorang membebaskanku dari mereka. Kemudian aku dibawa kabur ke negara ini, orang yang kukatakan tadi itulah yang menyuruhku bekerja saat ini.”
Gilda: “...jadi sebenarnya... orang ini menyelamatkanmu?”
Francis: “Ya.”
Gilda: “...dan dia... memaksamu untuk bekerja?”
Francis: “Ya, tapi bukan dipaksa. Karena kondisi tubuhnya yang tak memungkinkan, aku terpaksa membantunya. Hari ini aku mencarikan informasi yang dia minta, tapi sialnya aku malah tersesat.”
Gilda: (menepuk tangan) “Ah, aku paham. Dia membawamu kabur dari orang-orang tak bertanggung jawab itu, tapi setelah menolongmu dia sakit parah. Sungguh mulia sekali hatimu.”
Francis: “Em... aduh... bukan... ibu Gilda.”
Gilda: “Baiklah, sudah diputuskan kau akan bermalam di sini. Besok kita akan bersama-sama mengantar ke tempat penolongmu itu.”
Francis: (suara hati) “Percuma, dia tak mendengarku.”


Francis diantar oleh Gilda ke dalam sebuah kamar, di dalamnya sedikit terang karena ada sinar bulan yang menembus jendela. Di dalam kamar ada sebuah sofa, di dindingnya banyak kertas berisi tulisan-tulisan tangan. Di depan jendela ada sebuah meja penuh dengan kertas dan alat tulis, kursi di depan meja itu jatuh tergeletak di lantai.

Gilda: “Maaf, dulunya ini kamar suami saya. Agak berantakan, tapi saya harap kau mau tidur di sini.”
Francis: “Tulisan-tulisan apa ini?”
Gilda: “Itu catatan resep milik suami saya, dulu dia adalah seorang koki di restoran kecil.”
Francis: “Oh, tapi sepertinya suamimu orang asli negara ini. Tulisannya saja menggunakan bahasa Norwegia, apakah orang itu adalah lelaki yang ada di foto?”
Gilda: “Benar, saya bertemu dia di Prancis ketika saya masih bersekolah di SMA. Dulu dia adalah seorang pelayan di sebuah kafe, waktu itu saya sedang membeli kue manis bersama dengan teman-teman saya. Saat itu dia cukup ceroboh sehingga pemilik kafe sering memarahinya, misalnya saja ketika dia tak sengaja memberikan makanan pesanan saya pada pelanggan lain. Akhirnya saya tak bisa memakan kue manis yang sudah lama ingin sekali saya makan, karena kue itu sudah terlanjur dimakan pelanggan dan hanya satu-satunya yang terjual.”
Francis: “Tapi paling tidak kau masih bisa makan kue kan?”
Gilda: “Memang benar, sebagai gantinya saya mendapatkan kue pengganti. Walau saya sebenarnya lebih ingin makan roll cake, tapi bagian terbaiknya adalah setelah itu. Ketika saya sudah selesai dan hendak pulang dia datang dan memberikan roll cake yang saya idam-idamkan untuk dibawa pulang, dia bilang dia sendiri yang membuatnya.” (mata berbinar-binar)
Francis: “Ibu Gilda, kau tak usah bicara dengan mata seperti itu.”
Gilda: “Akhirnya saya jadi sering berkunjung untuk menikmati kue buatannya, selain enak tapi di dalam ciptaannya selalu ada perasaan mendalam. Saya yang dulunya adalah seorang gadis yang hanya suka makan dan belum pernah merasakan cinta akhirnya terpikat pada seorang pria, tidakkah itu romantis?”
Francis: (duduk di sofa) “Ya, ya, terserah. Lalu... di mana suamimu, ibu Gilda?”
Gilda: “Dia... sudah pergi cukup lama... meninggalkan kami berdua...”
Francis: “Aku paham, lalu apa pendapat Claudia sendiri mengenai ini?”
Gilda: “Dia... percaya kalau suatu saat ayahnya akan kembali...”
Francis: “Tapi kalian tidak tahu dia sendiri masih hidup atau tidak bukan? Memangnya kalian tak bisa melupakannya?”
Gilda: “Kenapa kau bisa mudahnya berkata seperti itu?”
Francis: “Di duniaku, orang-orang di sekitar kami selalu diculik dan dibawa paksa oleh para prajurit ketika sedang mencari bahan makanan. Mereka dibawa ke sebuah kamp untuk dipekerjakan, beberapa dari mereka juga dijadikan sebagai kelinci percobaan di laboratorium milik mereka. Kalaupun berhasil lolos hanya sedikit dari mereka yang bisa kembali, namun setelah itu mereka mati. Karena itu daripada selalu mengkhawatirkan orang-orang yang tak pernah kembali, akhirnya mereka kemudian mencoba untuk melupakannya.”
Gilda: “Kau bicara seolah-olah tinggal di medan perang.”
Francis: “Memang benar.”
Gilda: (menyentuh bibirnya dengan kedua tangan) “Hah?! Francis... apakah kau... tinggal di medan perang?”
Francis: “Kau baru sadar sekarang?! Ugh!”

Francis melihat dengan raut wajah jijik kepada pandangan mata Gilda yang sudah berubah menjadi berkaca-kaca, dia langsung menggenggam kedua tangan Francis dan menangis tersedu-sedu sambil menggigit bibir dan hidung berair.

Gilda: “Maafkan saya, ternyata hidupmu lebih buruk dari yang saya pikirkan.”
Francis: “I... iya... iya, daripada itu lebih baik hapus dulu ingus dan air mata itu!”
Claudia: (mendadak masuk) “Ibu, ada apa? Berisik sekali.”
Francis: “Ah, Claudia! Lakukan sesuatu terhadap ibumu!”
Claudia: “?”


Sementara itu di tempat pembuangan sampah di sebelah rumah keluarga Gilda, beberapa buah mobil masuk ke dalam dan berhenti di hadapan dua orang. Ternyata mereka adalah Albert dan Jacques yang sedari tadi menunggu, bersamaan dengan itu beberapa orang keluar dari mobil. Penampilan mereka seperti mafia, dengan jas dan kacamata hitam. Salah seorang dari mereka membuka pintu mobil Mustang, dari dalamnya keluar seorang pria. Pria ini menghisap sebatang cerutu dari mulutnya, berambut pirang panjang sampai lehernya, berdagu belah, berhidung mancung, dan memakai kacamata dengan lensa bulat. Pria itu berdiri di hadapan Albert dan Jacques, meremas wajah Jacques yang terluka.

Jacques: “AAAAARRRGHHH!!”
?: “Memalukan, kenapa aku harus datang ke tempat seperti ini hanya untuk melihat 'anjing peliharaanku' yang diganggu seseorang?”
Albert: “Bos, bos! Kami mohon maaf karena sudah memanggil bos ke tempat ini, tapi bukankah bos sendiri yang datang atas keinginan sendiri?!”
?: “Benar, aku memang kemari atas keinginanku sendiri. Kenapa? (melepas cengkeraman) Karena orang itu, keluarkan dia dari bagasi.”

Pintu bagasi salah satu mobil itu dibuka oleh seorang dari anak buah pria itu, dari dalamnya dikeluarkan sebuah karung besar. Karung itu digotong oleh dua orang dan dilempar ke hadapan sang pria, dari dalamnya ada sesuatu yang bergerak.

?: “Kalian, bukalah.”
Albert: “Ka... kami bos?”
?: “Memang siapa lagi yang sedang kulihat sekarang?”
Albert & Jacques: “Ba... baik!”

Mereka berdua berlari menghampiri karung itu dan membukanya, dari dalamnya muncul sepasang kaki yang diikat. Mereka berdua saling berpandangan dan menarik kaki itu, sekarang isi karung itu terlihat jelas. Seorang pria dengan tubuh babak belur dan berlumuran darah, diikat kedua tangan dan kakinya.

?: “Selamat pulang ke rumah.”

No comments:

Post a Comment