BERMALAM
Di
sebuah rumah yang terletak di antara lapangan sepak bola dan sebuah
tempat pembuangan sampah, dulu hidup keluarga yang terdiri dari tiga
orang. Seorang ayah, seorang ibu, dan satu anak perempuan. Sang ayah
bekerja sebagai seorang koki di restoran kecil, sementara sang ibu
mengurus keperluan rumah tangga di rumah. Anak mereka yang masih
berumur 6 tahun bersekolah di taman kanak-kanak, mereka adalah
keluarga kecil yang hidup dengan bahagia. Namun kebahagiaan itu
menghilang begitu saja, sang ibu jatuh sakit setelah itu. Sang ayah
berusaha keras untuk mencari cara untuk menyembuhkan penyakit
istrinya, sementara sang ibu terbaring di rumah sakit. Segala cara
dia coba untuk mendapatkan biaya pengobatan, salah satunya adalah
berhutang. Pada akhirnya sang ibu berhasil mendapatkan pengobatan
yang layak dan berhasil meninggalkan rumah sakit, namun sebagai
gantinya sang ayah tak pernah kembali kepada keluarganya. Oslo,
Norwegia, 11 Oktober 2010, 18:45. Rumah itu sekarang ditempati oleh
sang ibu dan anaknya yang berumur 8 tahun, Francis sendiri sekarang
diterima di rumah itu sebagai tamu. Sang ibu baru keluar dari dapur
membawa kuali berisi masakan yang sedang dia buat, anaknya menata
piring beserta peralatan makan di meja. Setelah selesai, mereka semua
duduk di kursi masing-masing.
Ibu:
“Kau sudah mencuci tanganmu, Claudia?”
Claudia:
“Tentu saja sudah.”
Ibu:
“Bagaimana dengan temanmu?”
Claudia:
“Tentu saja sudah, tadi aku yang mengajaknya. Kak Zero, mau
memimpin doa?”
Francis:
“Maaf?”
Ibu:
“Dia memintamu untuk memimpin doa, apakah kau bersedia?”
Francis:
“Ah, maaf... tapi apa itu doa?”
Claudia:
“Kak Zero tidak pernah berdoa sebelum makan?”
Francis:
“Jujur saja, aku bahkan tak tahu berdoa itu seperti apa.”
Claudia:
“Itu tidak baik, kak Zero. Seharusnya kak Zero sering berdoa, sebab
itu bermanfaat untuk kita semua.”
Ibu:
“Baiklah, kalau begitu biar ibu yang akan memimpin doa, Claudia.
Ikuti saja apa yang saya katakan dan ucapkan di dalam hati.”
Claudia:
“Baik, ayo kak Zero.”
Mereka
berdua mengatupkan kedua tangannya dan menundukkan kepala, Francis
mengikuti sesuai dengan apa yang mereka lakukan. Setelah itu mereka
berdua menutup mata mereka, tapi Francis hanya menyipitkan matanya.
Ibu:
“Oh Tuhan, terima kasih atas segala pemberian yang telah kau
berikan kepada kami hari ini. Kami semua berkumpul di sini untuk
menikmati pemberian-Mu yang telah kami dapatkan dan diolah dengan
usaha kami sendiri, semoga di kesempatan berikutnya kami sekeluarga
masih bisa berkumpul bersama dan menikmati pemberian-Mu sekali lagi.
Amin.”
Claudia:
“Amin.”
Ibu:
“Jangan ambil terlalu banyak, sup ini juga akan dimakan untuk
sarapan besok.”
Claudia:
“Baik ibu, ng?”
Claudia
dan ibunya melihat Francis masih mengatupkan kedua tangannya dan
menutupi mulutnya sambil menyipitkan kedua matanya dan melirik mereka
berdua, Claudia langsung menggoyang tubuh Francis.
Claudia:
“Kak Zero, sudah selesai. Kak Zero bisa mengambil makanan, kakak
tidak apa-apa?”
Francis:
(sadar) “Oh, baiklah. (suara hati) Jadi itu yang disebut berdoa?”
Claudia:
“Kak Zero, aku sudah ambilkan sup untuk kakak.”
Francis:
“Terima kasih.”
Francis
memandangi sepiring sup yang ada di hadapannya, warna kuahnya bening,
ada macam-macam sayuran di dalamnya, disertai potongan-potongan
sosis. Bau yang sedap tercium di hidung Francis dan membuatnya
menelan ludah, uapnya membuat kacamata yang dipakainya dipenuhi
embun. Dia kemudian melepas kacamatanya dan membersihkan embun di
lensanya, tapi Claudia memegang tangannya sebelum sempat memakainya
lagi.
Claudia:
(bahasa Norwegia) “Kak Zero, lepas saja kacamatanya. Tidak sopan
jika saat makan memakainya.”
Francis: (suara hati) “Gawat, aku tak memahami perkataannya. Tapi aku tahu maksudnya, apa boleh buat aku menurut saja.”
Francis: (suara hati) “Gawat, aku tak memahami perkataannya. Tapi aku tahu maksudnya, apa boleh buat aku menurut saja.”
Francis
melihat Claudia dan ibunya menggunakan sendok dan garpu untuk makan,
hal inipun ditiru olehnya. Dia mengambil alat makan seperti yang
dilakukan mereka, tapi posisi alat makan yang dia pegang berlawanan
dengan yang mereka pakai. Dia menusuk sepotong wortel dengan garpu,
memandanginya sebentar dan memasukkannya ke mulutnya, setelah
mengunyahnya dia kemudian menelannya. Setelah itu dia memandangi sup
itu lagi, berikutnya dia menusuk sepotong sosis dan melakukan hal
yang sama. Hal itu terus menerus dia lakukan sampai tak ada lagi yang
bisa dia tusuk, yang tersisa adalah kuah sup di dalam piring.
Tindakan yang dia lakukan berikutnya adalah memakai sendok untuk
mengambil kuah sup, meneteskannya di atas mulutnya yang terbuka.
Lidahnya menjilat bibir setelah merasakan kuahnya, setelah itu dia
mengambil kuah lagi dan menyedotnya dengan suara keras. Tindakan ini
disaksikan oleh Claudia dan ibunya, badan Francis bergetar setelah
mencoba dua sendok kuah. Claudia langsung mengambil sup dari kuali
dan memenuhi piring Francis, tanpa pikir panjang Francis menggunakan
garpunya sekali lagi. Namun hal itu dihentikan Claudia yang memegang
pergelangan tangannya, dalam sekejap gerakan Francis terhenti.
Claudia:
(bahasa Norwegia) “Kak Zero, jangan hanya mencicipi secara
terpisah. Nikmati saja semua sekaligus, letak sendok dan garpu yang
kak Zero pegang juga salah. Seharusnya sendok letaknya di tangan di
mana kak Zero memegang garpu, begitu juga sebaliknya.”
Francis:
(suara hati) “Gawat, aku jadi tak memahami perkataannya setelah
melepas kacamata. Bagaimana ini? Aku pura-pura mengerti saja.”
Claudia:
(bahasa Norwegia) “Selain itu jika kak Zero ingin makan dengan
praktis pakai saja sendok, (mempraktikkan) lihat kak Zero bisa
mengambil makanan beserta dengan kuahnya.”
Francis:
(mengangguk) “Hm. (suara hati) Kalau kau mempraktikkannya aku masih
bisa paham, tapi aku jadi pusing jika lama kelamaan aku mendengarmu
berbicara tanpa terjemahan.” (mengikuti)
Claudia:
(bahasa
Norwegia) “Kak
Zero, lepaskan dulu sendok dan garpumu. Pakai tangan kanan untuk
memegang sendok, setelah itu lakukan seperti yang kulakukan.”
Francis
meletakkan kepalanya di meja dengan wajah kelelahan, Claudia membawa
tumpukan piring ke belakang untuk dicuci oleh ibunya.
Francis:
“Ugh, aku harus segera kembali ke tempat Uchida secepatnya. Di mana
kacamata itu aku taruh?” (meraba-raba meja)
Ibu:
“Mencari sesuatu?”
Francis:
“Ya, kacamata.”
Ibu:
“Ini, silahkan.”
Francis:
“Terima kasih, eh?” (mendadak bangkit)
Ibu:
“Ada apa?”
Francis:
“Barusan kau bicara bahasaku?”
Ibu:
“Oh, saya memang bisa berbahasa Inggris. Saya memang asli dari
sana, jadi itu alasan kenapa kau sedari tadi diam saja?”
Francis:
(jatuh terduduk) “Haaah, aku lega sekali ada orang yang berbahasa
sama denganku. Aku hanya tahu sedikit beberapa bahasa negara ini, apa
Claudia sendiri bisa?”
Ibu:
“Hanya sedikit, tapi saya masih mengajari dia.”
Francis:
“Terima kasih banyak, ibu...”
Ibu:
“Panggil saja Gilda, lalu kau sendiri?”
Francis:
“Francis Zero, terima kasih sudah bertanya.”
Gilda:
“Zero... itu nama keluarga?”
Francis:
“Ah tidak, wanita yang membesarkanku yang memberi nama ini. Walau
aku sendiri tidak lahir dari dirinya, tapi dia sudah kuanggap sebagai
keluarga.”
Gilda:
“Oh, berarti orang tuamu...”
Francis:
“Aku bahkan tak pernah melihat atau mendengar suara mereka.”
Gilda:
“Oh...”
Claudia:
(bahasa Norwegia) “Ibu, aku sudah meletakkan semua peralatan makan
di lemari.”
Gilda:
(bahasa Norwegia) “Terima kasih bidadari kecilku, bisakah kau masuk
ke kamarmu dulu? Ada yang ingin ibu bicarakan dengan temanmu.”
Claudia:
(bahasa Norwegia) “...baik, ibu...”
Francis:
(bahasa Norwegia) “Tunggu, Claudia.”
Francis
menghentikan langkah Claudia yang akan pergi ke kamarnya, dia sendiri
sudah mengenakan kacamata itu lagi.
Francis:
“Bukankah tadi kau ingin menyerahkan sesuatu pada ibumu?”
Claudia:
“Eh? Apa maksud kak Zero?”
Francis:
“Tadi kau mengatakan sesuatu tentang sebuah bungkusan untuk ultah
ibumu, bukankah tadi kau membawanya?”
Gilda:
“Benarkah itu?”
Francis:
“Ya, tadi dia dikejar oleh...”
Sebelum
sempat berkata, mulut Francis dibungkam oleh buah apel oleh Claudia.
Dia kemudian berlari ke hadapan Gilda, mendadak dia memberikan
bungkusan yang tadi dibawa olehnya.
Claudia:
“Selamat ulang tahun, Ibu. Maaf, tadi aku bermaksud memberikannya
secara langsung.”
Gilda:
“Wah, terima kasih. Ibu sampai lupa ulang tahun sendiri, kau
membelinya?”
Claudia:
(menggeleng) “Kurang tepat ibu, aku membuatnya sendiri. Sebagian
bahannya aku beli, sebagian lagi aku ambil dari tempat sampah di
sebelah.”
Gilda:
“Buatan sendiri? Boleh ibu buka?”
Claudia:
“Tentu saja! Itu kan hadiah untuk ibu.”
Francis
melihat mereka dalam keadaan mulut masih disumpal buah apel, kemudian
dia menggigit sebagian apel itu sampai lepas dari mulutnya. Dia
menangkap apel bekas digigit itu dengan tangan kanannya, dia kemudia
mengunyah-ngunyah dan menelannya.
Francis:
“Tak kusangka makanan ini bisa dimakan dengan cara seperti ini,
akan kuhabiskan sekali lahap.”
Francis
memasukkan langsung buah apel itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya,
bersamaan dengan itu Gilda sudah membuka bungkusan yang diberikan
oleh Claudia. Kertas pembungkus yang dia buka berserakan di bawah
kakinya, mendadak dia berdiri.
Gilda:
“Ini...”
Claudia:
“Maaf, aku saat itu tak sengaja melihat isi kamera ayah.”
Kedua
tangannya memegang sebuah bingkai foto yang dihiasi dengan
manik-manik warna-warni, di bagian atas tengah ada tulisan 'Ayah,
Ibu, dan Claudia' yang terbuat dari potongan tusuk gigi. Di sekitar
bingkai ditempeli gambar kupu-kupu kecil, di dalamnya ada foto Gilda
yang masih muda menggendong seorang bayi didampingi oleh seorang
pria.
Claudia:
“Waktu sedang membersihkan kamar, aku menemukan kamera milik ayah.
Karena penasaran, aku kemudian membawanya ke percetakan foto. Tapi
karena perlu biaya, akhirnya aku menggunakan uang celenganku. Setelah
dicetak, ternyata isi fotonya hanya satu. Itu adalah fotonya...
dan... aku tahu itu di dalamnya adalah foto ayah, aku, dan ibu.
Jadi...”
Mendadak
Gilda memeluk Claudia dengan erat, menitikkan air matanya tanpa
disadari oleh Claudia. Francis melihat mereka sambil duduk di lantai
sambil menghabiskan apel di dalam bungkusan yang dia bawa tanpa
tersisa sedikitpun, mengunyah-ngunyah dan menelannya bulat-bulat.
Gilda:
“Terima kasih...”
Claudia:
“I... ibu?”
Gilda:
“Terima kasih...”
Beberapa
saat kemudian, Francis sudah kembali duduk di ruang makan
berhadap-hadapan dengan Gilda. Dia tidak memakai kacamata, menopang
dagunya dengan tangan kanan. Bingkai foto yang diberikan sebagai
hadiah oleh Claudia dipasang di dinding tepat di belakang Gilda, di
belakang Francis ada sebuah jam dinding dengan bandul yang
menunjukkan waktu 19:30.
Gilda:
“Sebelumnya terima kasih karena sudah mengantar anak saya pulang.”
Francis:
“Sebenarnya aku tidak mengantarnya pulang, dia sendiri yang
mengajakku kemari.”
Gilda:
“Tadi kau bilang kau lega karena ada orang yang berbahasa sama
denganmu, apa kau bukan berasal dari negara ini?”
Francis:
“Tanpa kujawab bukankah kau sudah tahu jawabannya?”
Gilda:
“Benar, boleh kupanggil Francis?”
Francis:
“Silahkan saja, ibu Gilda.”
Gilda:
“Lalu darimana asalmu?”
Francis:
“Amerika.”
Gilda:
“Oh, orang Amerika. Di bagian mana?”
Francis:
“Ah... di suatu tempat yang kecil...”
Gilda:
“Di mana itu tepatnya.”
Francis:
“Tempat yang penuh dengan besi rongsokan, aku tinggal dengan
beberapa orang di sana.”
Gilda:
“Francis... apa kau tukang sampah?”
Francis:
“Maksudmu?”
Gilda:
“Bukan? Jadi apa kau... maaf... seorang gelandangan?”
Francis:
“Aku bahkan tak tahu apa yang engkau maksud.”
Gilda:
“Kalau begitu... bagaimana caranya kau datang ke negara ini?”
Francis:
“Aku hanya tahu seseorang dengan wajah buruk rupa membawaku kabur
sampai ke negara 'entah apa namanya' ini, setelah itu aku dipaksa
untuk bekerja untuknya.”
Gilda:
(suara hati) “Dia imigran gelap? Kasihan sekali, sampai diculik dan
harus dipaksa bekerja oleh seseorang yang tak dia kenal.”
Sementara
itu Uchida yang masih bersama dengan para gelandangan sedang
menghangatkan diri di depan perapian yang dibuat di dalam sebuah
tong, dia bersin sangat keras sehingga membuat api di depannya hampir
padam.
Uchida:
(bahasa Jepang) “Francis, di mana kau sialan?! Aku sudah kedinginan
dan hanya ditemani tiga orang dan seekor anjing di sebelahku.”
Uchida
memandang anjing herder yang sedari tadi melihatnya dengan tatapan
memelas, tak lama kemudian anjing tersebut mengencingi kaki Uchida.
Dia langsung merespon dengan menendang tong di hadapannya sampai
terjatuh, api di dalamnya keluar dan masuk ke dalam tempat sampah dan
mengakibatkan kebakaran.
Kembali
ke rumah di mana Francis sedang berbicara dengan Gilda, di atas meja
sudah ada dua cangkir teh panas. Gilda dan Francis masih duduk
berhadap-hadapan, Francis masih menopang dagunya dengan tangan kanan.
Gilda:
“Saya paham tentang keadaanmu yang diculik oleh orang tak
bertanggung jawab dan dipaksa melakukan apa yang tidak kau inginkan,
karena kau tak bisa berbahasa Norwegia pasti sulit sekali untukmu
meminta tolong pada orang-orang di sekitarmu.”
Francis:
“Memang benar, aku sendiri sampai kerepotan untuk berkomunikasi
dengan orang sekitar.”
Gilda:
“Kau sudah mencoba untuk melaporkannya ke polisi?”
Francis:
“Justru sebaliknya, aku malah dikejar oleh mereka. Aku tersesat
mencari jalan untuk kembali, tapi aku malah bertemu dengan Claudia.”
Gilda:
“Kasihan sekali dirimu, kalau begitu menginaplah di sini.”
Francis:
“Eh?”
Gilda:
“Kau pasti kelelahan bukan? Besok kita bersama-sama pergi ke kantor
polisi untuk melaporkan kejadian yang terjadi padamu, kau bisa pulang
ke negaramu setelah masalah diselesaikan.”
Francis:
“Ah, tidak. Bukan begitu, sebenarnya aku memang masih ada urusan di
sini.”
Gilda:
“Maksudmu?”
Francis:
“Setelah penculikan, seseorang membebaskanku dari mereka. Kemudian
aku dibawa kabur ke negara ini, orang yang kukatakan tadi itulah yang
menyuruhku bekerja saat ini.”
Gilda:
“...jadi sebenarnya... orang ini menyelamatkanmu?”
Francis:
“Ya.”
Gilda:
“...dan dia... memaksamu untuk bekerja?”
Francis:
“Ya, tapi bukan dipaksa. Karena kondisi tubuhnya yang tak
memungkinkan, aku terpaksa membantunya. Hari ini aku mencarikan
informasi yang dia minta, tapi sialnya aku malah tersesat.”
Gilda:
(menepuk tangan) “Ah, aku paham. Dia membawamu kabur dari
orang-orang tak bertanggung jawab itu, tapi setelah menolongmu dia
sakit parah. Sungguh mulia sekali hatimu.”
Francis:
“Em... aduh... bukan... ibu Gilda.”
Gilda:
“Baiklah, sudah diputuskan kau akan bermalam di sini. Besok kita
akan bersama-sama mengantar ke tempat penolongmu itu.”
Francis:
(suara hati) “Percuma, dia tak mendengarku.”
Francis
diantar oleh Gilda ke dalam sebuah kamar, di dalamnya sedikit terang
karena ada sinar bulan yang menembus jendela. Di dalam kamar ada
sebuah sofa, di dindingnya banyak kertas berisi tulisan-tulisan
tangan. Di depan jendela ada sebuah meja penuh dengan kertas dan alat
tulis, kursi di depan meja itu jatuh tergeletak di lantai.
Gilda:
“Maaf, dulunya ini kamar suami saya. Agak berantakan, tapi saya
harap kau mau tidur di sini.”
Francis:
“Tulisan-tulisan apa ini?”
Gilda:
“Itu catatan resep milik suami saya, dulu dia adalah seorang koki
di restoran kecil.”
Francis:
“Oh, tapi sepertinya suamimu orang asli negara ini. Tulisannya saja
menggunakan bahasa Norwegia, apakah orang itu adalah lelaki yang ada
di foto?”
Gilda:
“Benar, saya bertemu dia di Prancis ketika saya masih bersekolah di
SMA. Dulu dia adalah seorang pelayan di sebuah kafe, waktu itu saya
sedang membeli kue manis bersama dengan teman-teman saya. Saat itu
dia cukup ceroboh sehingga pemilik kafe sering memarahinya, misalnya
saja ketika dia tak sengaja memberikan makanan pesanan saya pada
pelanggan lain. Akhirnya saya tak bisa memakan kue manis yang sudah
lama ingin sekali saya makan, karena kue itu sudah terlanjur dimakan
pelanggan dan hanya satu-satunya yang terjual.”
Francis:
“Tapi paling tidak kau masih bisa makan kue kan?”
Gilda:
“Memang benar, sebagai gantinya saya mendapatkan kue pengganti.
Walau saya sebenarnya lebih ingin makan roll cake, tapi bagian
terbaiknya adalah setelah itu. Ketika saya sudah selesai dan hendak
pulang dia datang dan memberikan roll cake yang saya idam-idamkan
untuk dibawa pulang, dia bilang dia sendiri yang membuatnya.” (mata
berbinar-binar)
Francis:
“Ibu Gilda, kau tak usah bicara dengan mata seperti itu.”
Gilda:
“Akhirnya saya jadi sering berkunjung untuk menikmati kue
buatannya, selain enak tapi di dalam ciptaannya selalu ada perasaan
mendalam. Saya yang dulunya adalah seorang gadis yang hanya suka
makan dan belum pernah merasakan cinta akhirnya terpikat pada seorang
pria, tidakkah itu romantis?”
Francis:
(duduk di sofa) “Ya, ya, terserah. Lalu... di mana suamimu, ibu
Gilda?”
Gilda:
“Dia... sudah pergi cukup lama... meninggalkan kami berdua...”
Francis:
“Aku paham, lalu apa pendapat Claudia sendiri mengenai ini?”
Gilda:
“Dia... percaya kalau suatu saat ayahnya akan kembali...”
Francis:
“Tapi kalian tidak tahu dia sendiri masih hidup atau tidak bukan?
Memangnya kalian tak bisa melupakannya?”
Gilda:
“Kenapa kau bisa mudahnya berkata seperti itu?”
Francis:
“Di duniaku, orang-orang di sekitar kami selalu diculik dan dibawa
paksa oleh para prajurit ketika sedang mencari bahan makanan. Mereka
dibawa ke sebuah kamp untuk dipekerjakan, beberapa dari mereka juga
dijadikan sebagai kelinci percobaan di laboratorium milik mereka.
Kalaupun berhasil lolos hanya sedikit dari mereka yang bisa kembali,
namun setelah itu mereka mati. Karena itu daripada selalu
mengkhawatirkan orang-orang yang tak pernah kembali, akhirnya mereka
kemudian mencoba untuk melupakannya.”
Gilda:
“Kau bicara seolah-olah tinggal di medan perang.”
Francis:
“Memang benar.”
Gilda:
(menyentuh bibirnya dengan kedua tangan) “Hah?! Francis... apakah
kau... tinggal di medan perang?”
Francis:
“Kau baru sadar sekarang?! Ugh!”
Francis
melihat dengan raut wajah jijik kepada pandangan mata Gilda yang
sudah berubah menjadi berkaca-kaca, dia langsung menggenggam kedua
tangan Francis dan menangis tersedu-sedu sambil menggigit bibir dan
hidung berair.
Gilda:
“Maafkan saya, ternyata hidupmu lebih buruk dari yang saya
pikirkan.”
Francis:
“I... iya... iya, daripada itu lebih baik hapus dulu ingus dan air
mata itu!”
Claudia:
(mendadak masuk) “Ibu, ada apa? Berisik sekali.”
Francis:
“Ah, Claudia! Lakukan sesuatu terhadap ibumu!”
Claudia:
“?”
Sementara
itu di tempat pembuangan sampah di sebelah rumah keluarga Gilda,
beberapa buah mobil masuk ke dalam dan berhenti di hadapan dua orang.
Ternyata mereka adalah Albert dan Jacques yang sedari tadi menunggu,
bersamaan dengan itu beberapa orang keluar dari mobil. Penampilan
mereka seperti mafia, dengan jas dan kacamata hitam. Salah seorang
dari mereka membuka pintu mobil Mustang, dari dalamnya keluar seorang
pria. Pria ini menghisap sebatang cerutu dari mulutnya, berambut
pirang panjang sampai lehernya, berdagu belah, berhidung mancung, dan
memakai kacamata dengan lensa bulat. Pria itu berdiri di hadapan
Albert dan Jacques, meremas wajah Jacques yang terluka.
Jacques:
“AAAAARRRGHHH!!”
?:
“Memalukan, kenapa aku harus datang ke tempat seperti ini hanya
untuk melihat 'anjing peliharaanku' yang diganggu seseorang?”
Albert:
“Bos, bos! Kami mohon maaf karena sudah memanggil bos ke tempat
ini, tapi bukankah bos sendiri yang datang atas keinginan sendiri?!”
?:
“Benar, aku memang kemari atas keinginanku sendiri. Kenapa?
(melepas cengkeraman) Karena orang itu, keluarkan dia dari bagasi.”
Pintu
bagasi salah satu mobil itu dibuka oleh seorang dari anak buah pria
itu, dari dalamnya dikeluarkan sebuah karung besar. Karung itu
digotong oleh dua orang dan dilempar ke hadapan sang pria, dari
dalamnya ada sesuatu yang bergerak.
?:
“Kalian, bukalah.”
Albert:
“Ka... kami bos?”
?:
“Memang siapa lagi yang sedang kulihat sekarang?”
Albert
& Jacques: “Ba... baik!”
Mereka
berdua berlari menghampiri karung itu dan membukanya, dari dalamnya
muncul sepasang kaki yang diikat. Mereka berdua saling berpandangan
dan menarik kaki itu, sekarang isi karung itu terlihat jelas. Seorang
pria dengan tubuh babak belur dan berlumuran darah, diikat kedua
tangan dan kakinya.
?:
“Selamat pulang ke rumah.”
No comments:
Post a Comment