REUNI
Oslo, Norwegia,
12 Oktober 2010, 02:30. Kediaman keluarga Welsley, Francis sedang
berbaring di sofa di dalam kamar. Di dalam kamar yang hanya diterangi
sinar bulan dari luar jendela, ia memandangi langit-langit kamar
sambil memikirkan apa yang baru dikatakan oleh Gilda.
Gilda: “Francis, apa
kau atheis?”
Francis: “Maksudmu?”
Gilda: “Tidakkah kau
punya agama? Tidakkah kau punya keyakinan dalam dirimu bahwa Tuhan
itu ada?”
Francis: “Tuhan, heh,
lucu. Terakhir kali aku mendengar kata itu, hal yang kuingat adalah
sekumpulan maniak yang mengelu-elukan orang tak berotak.”
Gilda: “Tapi Tuhan
bukanlah orang, 'Dia' adalah pelindung bagi semua orang, yang
memberikan anugerah bagi kita, dan juga pencipta kita.”
Francis: “Bukan orang,
lalu seperti apa wujudnya?”
Gilda: “Tidak tahu.”
Francis: “Jadi maksudmu
kau percaya pada sesuatu yang bahkan tak pernah kau lihat sama
sekali?”
Gilda: “'Dia' memang
tak bisa dilihat, tapi saya tahu 'Dia' selalu dekat. Selama masih
hidup mempercayai keberadaan Tuhan adalah hal yang paling utama,
sebab 'Dia' selalu mengawasi kita.”
Francis: “Untuk apa?”
Gilda: “Sebagai bukti
bahwa 'Dia' menyayangi kita, dengan rasa sayangnya yang besar dia
melindungi kita. Jika kita percaya dan sering berbuat baik di dunia
ini, kita akan mendapatkan balasannya di surga nanti.”
Francis: “Lalu apa yang
terjadi dengan mereka yang tidak percaya?”
Gilda: “Mereka dianggap
sudah gagal dan disiksa di neraka sampai mereka benar-benar mau
bertobat, tapi mereka masih bisa lepas dari siksaan selama masih ada
yang peduli pada mereka.”
Francis: “Dan sampai
sekarang kau masih mempercayai-Nya?”
Gilda: “Sampai
sekarang, kepercayaan saya tak akan hilang walau sudah mati
sekalipun. Ketika menghadapi kesulitan, Tuhan akan membantu jika kita
meminta. Selama kita terus berusaha dengan kekuatan kita sendiri,
sisanya akan dimudahkan oleh-Nya.”
Francis: “Hmph,
konyol.”
Gilda: “Jangan berkata
begitu, kau bahkan belum menjawab pertanyaan yang saya tanyakan
tadi.”
Francis: (berdiri) “Aku
hanya bisa berkata begini... Tuhan itu... tidak ada.”
Kaca jendela di dalam
kamar mendadak sedikit retak, tidak ada reaksi sekalipun dari Gilda.
Francis melihat wajah Gilda yang sekarang terlihat sedih, mata
sebelah kanannya mengeluarkan air mata.
Gilda: “Bagaimana...
kau bisa mengatakan hal itu?”
Francis: “Di duniaku,
semuanya berjuang untuk bertahan hidup. Mereka sama sekali tak pernah
memikirkan apakah Tuhan itu ada atau tidak, yang ada hanyalah
keputusasaan, kemarahan, dan rasa takut. Setiap hari adalah 'neraka'
bagi kami, 'surga' bisa didapat jika kami tidak tertangkap oleh
mereka. Darah dan air mata manusia terus menetes dari tubuh mereka
sampai habis, tubuh manusia yang sudah mati berserakan di mana-mana.
Ekspresimu yang sekarang itu adalah salah satu ekspresi yang kulihat
dari manusia yang sudah mati, memang apa yang kau harapkan dari orang
yang lahir di dunia seperti itu?”
Gilda: “Maka mulailah
berdoa...” (berjalan keluar)
Francis: “Berdoa? Pada
sosok yang belum kukenal?”
Gilda: (berhenti di
ambang pintu) “Masih ada waktu untuk bertobat dan meminta harapan,
'Dia' takkan pernah mengabaikan orang yang mencari pertolongan-Nya.”
(menutup pintu)
Francis: “Terserah.”
Kembali pada saat
Francis merenungi perkataan Gilda sambil berbaring, dia menutup
matanya sejenak lalu mengambil dan memakai kacamata di saku
celananya.
Francis: “Aku tahu kau
di sana, jadi keluarlah.”
Claudia muncul dari
jendela, dia berada di luar memandangi Francis. Perlahan dia membuka
jendela tersebut dari luar, dia kemudian meloncat masuk ke dalam.
Francis: “Bukankah
seharusnya kau sudah tidur?”
Claudia: “Aku mau tidur
dengan kak Zero.”
Francis: “Maaf nak,
tapi kau belum cukup besar untuk itu.”
Claudia: “Kenapa ibu
tadi menangis?”
Francis: “Aku hanya
menceritakan beberapa kisah.”
Claudia: (duduk di kursi)
“Aku... tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi sepertinya kakak
tidak percaya kepada Tuhan ya?”
Francis: “Dia bercerita
padamu?”
Claudia: “Tidak, aku
sudah tahu sejak makan malam tadi.”
Francis: “Kalau begitu
kembalilah ke kamarmu, anak kecil sepertimu pun...”
Claudia: “Aku tahu
kalau aku masih anak kecil, tapi aku juga ingin melihat senyum kak
Zero.”
Francis: (bangun dan
menyeringai) “Sudah, puas?”
Francis kembali
berbaring, Claudia bangkit dari kursi dan langsung menindih Francis.
Francis terdiam sejenak dan mendesah, Claudia mencengkeram baju
Francis dengan erat.
Francis: “Apa yang kau
lakukan? Kau mencengkeram perutku.”
Claudia: “Aku ingin
menghangatkan kak Zero.”
Francis: “Aku tak perlu
dihangatkan dengan tubuhmu, yang paling kedinginan di sini itu
dirimu.”
Claudia: “Kak Zero
memiliki kehangatan yang bisa kurasakan sejak pertama kita bertemu,
tapi sekarang kak Zero sudah sangat kedinginan sampai membuat ibu
menangis.”
Francis: “Kehangatan?”
Claudia: “Aku sudah
mengalami banyak masalah sehingga hatiku sempat membeku, tapi ibu
mengajariku agar hati itu tetap hangat. Aku terus dan terus
melakukannya dengan cara bersabar walau ada musibah apapun yang
menimpa kami dan saling menolong satu sama lain, sampai sekarang
usaha ini membuat hatiku tetap hangat.”
Francis: “Aku bukan
orang seperti itu.”
Claudia: “Lalu kenapa
tadi kak Zero menolongku?”
Francis: “Aku hanya
teringat dengan keadaan yang sama di tempat tinggalku, jadi secara
tak sadar aku melakukan hal itu.”
Claudia: “Itu adalah
bukti kak Zero masih memiliki kehangatan di dalam hatinya, karena kak
Zero masih mau menolong Claudia. Aku takkan melepaskan kak Zero
sampai hati kakak hangat kembali, kakak tidur saja dengan tenang.”
Francis: (suara hati)
“...kehangatan ya...”
Kini Francis mengingat
di saat dia berada di masa depan, ketika masih kecil dia digendong
dari belakang oleh seorang wanita. Kemudian dia mengingat di mana dia
sedang membantu membawakan satu tas besar bersama sekelompok
anak-anak, wanita yang tadi menggendongnya sedang menunggu di dalam
sebuah gubuk kecil. Setelah itu dia juga teringat pada saat dia dan
anak-anak lainnya disuguhi semacam kapsul oleh sang wanita, mereka
semua menyedot isi kapsul itu dengan bahagia. Tanpa sadar dia
mengeluarkan sedikit air mata ketika dia membayangkan sesosok wanita
yang sudah merawatnya, dia kemudian menggumamkan sebuah nama.
Francis: “Annete...
Annete...”
Di saat bersamaan,
terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah. Gilda keluar dari
kamarnya, menuju pintu depan. Dia mengambil kunci dan membuka pintu
depan yang terkunci, dia terkejut ketika membuka pintu. Di hadapannya
berdiri pimpinan Albert dan Jacques beserta dua orang mendapinginya,
pria itu merokok cerutu dan menghembuskan asapnya ke bawah.
?: “Bisa kita bicara
sebentar?”
Sementara itu Uchida
tidur-tiduran sambil memandangi langit berbintang bersama dengan
anjing yang tadi mengencingi kakinya, dia mengelus-elus kepala anjing
itu dengan jari telunjuknya yang besar.
Uchida: “Bintang,
akhirnya aku melihat bintang sungguhan. Selama ini aku hanya melihat
bintang di planetarium, kau pasti senang bukan melihat semua ini?
(memandang anjing) Aku berada di sini dengan dirimu, kalau aku
membawamu pulang apa kata anakku nanti? Tidakkah kau pikir itu indah?
(perut berbunyi) Maksudku bukan itu.”
Anjing itu melihat
dengan pandangan heran, Uchida langsung bangkit dari tidurnya. Dia
kemudian mengacak-acak isi tasnya, dia mengeluarkan sebuah alat
berbentuk bola kecil. Dia kemudian memencet mata buatannya sehingga
sebuah lubang terbuka, bola itu kemudian dia masukkan ke dalamnya.
Kini mata mesinnya berubah warna menjadi hijau, di dalamnya ada
semacam kompas.
Uchida: “Ini sudah
terlalu lama, aku akan mencarinya sekarang juga. Kebetulan kota
sedang sepi, sekarang aku bisa mengeluarkan semua kemampuanku tanpa
ragu-ragu. Oh, maaf ya. Aku harus mencari seseorang, kita tak tahu
mungkin kita akan bertemu lagi atau tidak. Jadi jangan bersedih,
kalau sempat aku akan...”
Belum sempat
menyelesaikan perkataannya, anjing itu mengencingi kaki Uchida.
Kemudian dia berlari keluar gang, diiringi dengan suara kucing yang
mengeong keras.
Uchida: “Terima kasih.”
Mata buatan Uchida
mengedip sehingga muncul semacam titik kecil, semacam garis muncul
dan mulai berputar searah jarum jam. Uchida kemudian membuka jubahnya
sehingga seluruh tubuhnya terlihat, tangan, kaki, dan kepalanya tidak
menempel pada tubuhnya yang berbentuk oval. Dia menekan ubun-ubun
besinya, semacam perubahan terjadi padanya. Seluruh anggota tubuhnya
yang melayang kini terpasang pada tubuhnya, kepalanya berubah bentuk.
Muncul dua buah antena di kanan dan kiri kepalanya, wajahnya tertutup
semacam topeng yang hanya memiliki sebuah lubang panjang untuk mata
mesinnya. Kedua kakinya bergabung menjadi satu bagian, kini tubuhnya
tampak terlihat seperti roket. Bagian bawah kakinya mengeluarkan asap
kemudian percikan api, dalam hitungan detik dia terbang melesat ke
atas menembus awan. Mata mesinnya melacak ada dua titik, warna merah
dan biru.
Uchida: “Gawat,
sepertinya pihak musuh sudah mulai bergerak. Mereka sudah menemukan
dia dan menuju ke sana, terlebih lagi...” (menoleh ke belakang)
Uchida samar-samar
melihat dua benda asing terbang mendekatinya dari belakang, tapi
keduanya mendadak menghilang dari pandangannya. Dia mendadak
merasakan sesuatu melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya,
untungnya dia menghindar tapi terserempet di bagian tangan sehingga
tercipta percikan api. Kini di dahinya ada semacam titik kecil
berwarna merah, bersamaan dengan itu sesuatu menabrak dahinya dengan
keras. Mendadak dia hilang keseimbangan namun bisa menyeimbangkan
lagi posisinya, dia mendadak berhenti dan terbang mengambang. Dia
memegang dahinya yang mengeluarkan sedikit asap, ternyata dia baru
saja ditembak.
Uchida: “Stealth...
jadi mereka memutuskan untuk mengirim mereka agar tidak repot ya?
Tapi aku tidak punya waktu untuk mengurus mereka, terlebih lagi aku
harus secepatnya sampai untuk mengantarkan alat ini. Aku tak bisa
mendeteksi mereka dengan radarku, tapi mungkin ini bisa memperlambat
mereka.”
Uchida merentangkan
kedua tangannya ke atas kemudian menariknya ke bawah dengan cepat,
mendadak muncul semburan gas dari ketiaknya. Setelah itu dia
merentangkan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan, tubuh bagian
atasnya berputar dengan cepat seperti baling-baling helikopter.
Daerah di sekitarnya kini diselimuti gas putih, mendadak sesuatu yang
sangat kecil dan tak terlihat oleh mata keluar dari dalamnya.
Beberapa peluru berdesing ke arah Uchida yang diselimuti gas, namun
sesuatu terjadi ketika peluru hampir mendekatinya. Peluru-peluru itu
mengenai sesuatu yang tak terlihat dan hancur tak berbekas, kini
Uchida terbang meluncur keluar dari gas dengan sangat cepat. Dua
benda asing yang tak terlihat itu kini ikut mengejarnya, namun
sesuatu terjadi sebelum benda-benda itu sempat bergerak satu inci
pun. Percikan listrik muncul di udara, dua siluet muncul dari dalam
percikan listrik. Uchida sekarang sudah terbang begitu jauh, wujud
dua siluet itu kini terlihat jelas. Semacam robot berbentuk lalat
kini muncul dalam gelapnya langit malam, kejang-kejang dengan dialiri
listrik.
Uchida: “Serbuk
elektromagnit itu bekerja juga, tunggu aku Francis.”
Sementara itu di tempat
pembuangan sampah dekat kediaman Welsley, Gilda dan Claudia kini
berada di tengah-tengah sekumpulan orang berpenampilan mafia. Dengan
wajah bekas ditampar, dia memeluk dengan erat Claudia yang menangis
tersedu-sedu. Di hadapan mereka terduduk pria yang tadi dimasukkan ke
dalam karung dalam keadaan babak belur, dia dipegangi oleh Albert dan
Jacques. Pemandangan itu disaksikan dengan wajah sinis oleh pimpinan
mereka yang duduk di atas kap mobil miliknya, dia menyalakan sebatang
cerutu dan mengisapnya dengan santai.
Claudia: “Ibu... aku
takut...”
Gilda: “Tenanglah
Claudia, kita akan baik-baik saja.”
?: “Betapa indah bukan?
Kalian akhirnya bertemu kembali setelah sekian lama, kenapa kau tak
memberikannya sebuah kecupan?”
Gilda: “Bagaimana bisa
kau melakukan hal seperti ini, Pak Francois.”
Albert: “Beraninya
wanita rendahan sepertimu memanggilnya dengan sebutan pak!”
Jacques: “Benar,
panggil beliau Bos!”
Francois: “Albert,
Jacques, tidak apa-apa. Kau tahu kenapa aku mempertemukan kalian
berdua sekarang?”
Gilda: “Saya mohon
maafkan atas apa yang telah diperbuat oleh suami saya, bukankah dia
masih punya hutang yang masih perlu dilunasi pada anda?”
Francois: “Oh, mengenai
itu memang benar. Dia masih harus bekerja padaku selama kurang lebih
3 tahun dan jika tidak salah sisa waktunya tinggal 3 bulan lagi,
tapi... karena aku merasa itu agak berlebihan akhirnya aku menawarkan
padanya sebuah solusi.”
Gilda: “Solusi?”
Francois: “Benar, aku
mengatakan padanya suatu cara jika ingin hutangnya cepat lunas. Tapi
dia menolak mentah-mentah saat mendengarnya, padahal aku hanya minta
dia untuk menjual rumah yang sekarang dia miliki.”
Gilda: “Apa?! Tapi...
itu...”
?: “Sudah jelas... aku
menolak solusi seperti itu dari awal... Francois...”
Claudia: “A... ayah?”
Gilda: “Gilbert?”
Francois: “Ah, akhirnya
kau bicara juga. Bagaimana rasanya saat bertemu kembali dengan
keluargamu?”
Gilbert: “Rumah itu...
adalah tempat kenangan bagi kami... awal dari hidup kami...”
Francois: “Albert,
Jacques, bantu dia berdiri.”
Albert dan Jacques
memberdirikan Gilbert, Francois berjalan perlahan ke arahnya. Dia
mengangkat dagu Gilbert kemudian meninjunya, Francois mengibas-ngibas
tangannya dengan wajah meringis.
Francois: “Auuuuf!! Aku
seharusnya tak menggunakan tangan ini untuk memukul orang rendahan
sepertimu.”
Claudia: “Ayaah!!”
Francois: “Kalau begitu
bukankah kau bisa memulai semuanya dari awal kembali? Kalian bisa
tinggal bersama para gelandangan itu.”
Gilbert: “Kau pikir...
aku rela membiarkan istri dan anakku menjalani kehidupan seperti
itu?”
Francois: “Memang
benar, kau tak mau jika keluargamu hidup dengan sampah-sampah
berbentuk manusia itu. Lagipula aku tak membutuhkan rumah itu,
jadi... kalau dilenyapkan tidak apa-apa bukan?”
Gilda: “Apa?”
Gilbert: “Kau kep...
ohok!!” (perut dipukul)
Jacques: “Diam!”
Claudia: “Ayaah!!”
Claudia melepaskan
dirinya dari pelukan Gilda dan berlari menuju ayahnya, tapi dia
ditendang oleh Francois sebelum sempat menghampirinya. Tubuhnya yang
kecil jatuh terguling-guling di tanah, dia meringis kesakitan sambil
memandangi ayahnya. Gilda yang melihatnya langsung berlari
menghampiri Claudia,
Gilda: “Claudia!!”
Francois: “Ah, sepatuku
jadi kotor. Sampai mana aku tadi?”
Albert: “Melenyapkan
rumah.”
Francois: “Terima
kasih, Albert. Jadi intinya aku tak pernah menginginkan rumah
tersebut, tapi tanah yang berada di bawahnya. Tanah itu adalah salah
satu bagian dari properti yang berharga, bersama dengan lapangan bola
yang ada di sebelahnya. Aku akan membangun sebuah tempat usaha
kecil-kecilan di atasnya, dan jika kau mau aku bisa mempekerjakanmu
kembali di sana.”
Gilbert: “Aku... tak
sudi menerima pekerjaan hina seperti itu!”
Gilda: “Gilbert,
sebenarnya apa yang terjadi?”
Gilbert: “Gilda,
dengarkanlah. Ketika aku mencari modal untuk menyembuhkanmu dari
penyakit, aku meminjam uang pada orang ini dan menerima pekerjaan
yang dia berikan. Awalnya pekerjaan yang dia berikan sama sekali tak
mencurigakan karena aku hanya bekerja sebagai koki di restorannya,
tapi... itu hanya bagian luarnya saja.”
Gilda: “Apa maksudmu?”
Gilbert: “Orang ini...
dia menjual narkotika di bagian dalam bisnisnya...”
Gilda: “?!” (memegang
bibirnya)
Gilbert: “Ketika aku
mengantarkan masakan untuk pelanggan, aku tak sengaja melihatnya. Dia
berbisnis narkotika dengan beberapa orang, mereka... mengkonsumsi
obat terkutuk itu.”
Francois: “Terkutuk?
Jangan bilang begitu, sebut saja itu sebagai penghilang rasa sakit.
Jika kau umpamakan sebagai permen, rasanya sangat manis sekali.”
Albert: “Bos, bagaimana
dengan orang yang telah menghajar kami berdua?”
Jacques: “Benar,
seharusnya dia ada bersama mereka.”
Claudia: “Kak...
Zero...”
Francois: “Tenang saja,
bukankah tadi dia sudah dihabisi? Sebentar lagi mayatnya akan
dilenyapkan bersama dengan rumah itu, (mengambil hp dari saku celana)
seharusnya persiapannya sekarang sudah selesai.”
Gilbert: “Francois!!
Kalau kau merusak satu bagian saja dari rumah itu...”
Francois: “Kau mau
apa?”
Francois mengirimkan
sebuah sms melalui hp yang dia miliki, setelah itu dia memberikan
sebuah isyarat pada seluruh anak buahnya. Claudia dan Gilda dihampiri
oleh dua orang pria besar, mereka kemudian dipegang supaya tidak
kabur.
Francois: “Kau dan
keluargamu sepertinya sangat menyayangi rumah itu, kalau begitu
berterimakasihlah. Aku akan biarkan kalian tinggal di sana, sebagai
tambahan akan kuberikan kalian perapian untuk menghangatkan badan.”
Claudia: “Ibu...
ayah... apa maksudnya?”
Gilbert: “Jangan
dengarkan apa yang dia ucapkan.”
Claudia: “Ibu,
bagaimana dengan kak Zero?”
Gilda: “Dia pasti akan
baik-baik saja, sebab Tuhan melindunginya.”
Gilbert: “Zero? Siapa
itu?”
Claudia: “Dia temanku.”
Francois: (hp berdering
dan diangkat) “Apa semua persiapannya sudah beres?”
?: “Maaf, tapi apa yang
sebenarnya harus kulakukan?”
Francois: “Apa kau
dungu? Bukankah kau sudah tahu?”
?: “Maaf, tapi aku
tidak tahu maksud perkataanmu.”
Francois: “Hei, ini
aku. Kau lupa pada pimpinanmu sendiri?”
?: “Oh, maaf. Aku masih
baru dalam urusan ini, sebenarnya ada beberapa masalah.”
Francois: “Orang baru?
Kenapa tidak kau tanyakan pada seniormu? Bukankah mereka ada di
sana?”
?: “Masalahnya mereka
semua sedang tidur sejenak.”
Francois: “Sesuatu
terjadi pada mereka? Baik, orang baru, akan kukatakan sekali lagi.
Tugasmu sebenarnya adalah menuangkan kerosin di bagian dalam rumah,
nyalakan apinya kemudian keluar dan lihat rumah itu terbakar.”
Albert: “Orang baru?
Memang kita menerima orang baru hari ini?”
Jacques: “Aku juga baru
dengar.”
Francois: “Diam!”
Albert: “Maaf, bos.”
Francois: “Aku tak
bicara padamu.”
Jacques: “Bicara pada
siapa?”
Francois: “Diam!
Maksudku bukan kau orang baru, seharusnya di dalam ada orang bukan
apa sudah dihabisi?”
?: “Kalau orang-orang
yang tidur sejenak itu memang ada di dalam sana.”
Francois: “Bukan itu
maksudku, seharusnya selain seorang wanita dan anak ada seorang
lelaki di dalam sana sebelum kalian masuk.”
?: “Seperti apa
orangnya?”
Francois: “Seperti apa
dia?” (mengarahkan hp pada Albert & Jacques)
Albert: “Pemuda dengan
rambut merah dan ada sedikit kuning di poninya.”
Jacques: “Dia pakai
kacamata dan ada bekas luka di pelipis kirinya.”
Francois: “Kau sudah
dengar? Carilah orang bodoh dengan ciri seperti itu, bunuh dia dan
bawa mayatnya keluar untuk dipertontonkan.”
?: “Sepertinya aku tak
bisa melakukan itu.”
Francois: “Kenapa?
Dengan siapa aku bicara saat ini?”
?: “Berbaliklah dan kau
akan tahu.”
Francois berbalik dan
melihat pemandangan yang sulit dipercayai oleh dirinya sendiri,
begitu juga Albert dan Jacques beserta para anak buah Francois.
Seorang lelaki menyeret tiga orang sekaligus dengan kondisi tubuh
terikat oleh tali yang terbuat dari jas yang mereka pakai, lelaki
yang ternyata adalah lawan bicara Francois itu berhenti berjalan.
Francis: “Namaku
Francis Zero, aku menumpang tinggal di rumah mereka. Dan maaf saja
kalau aku bodoh, tapi lebih baik kau lepaskan mereka.”
No comments:
Post a Comment