Tuesday, November 27, 2012

Level 5


REUNI

Oslo, Norwegia, 12 Oktober 2010, 02:30. Kediaman keluarga Welsley, Francis sedang berbaring di sofa di dalam kamar. Di dalam kamar yang hanya diterangi sinar bulan dari luar jendela, ia memandangi langit-langit kamar sambil memikirkan apa yang baru dikatakan oleh Gilda.

Gilda: “Francis, apa kau atheis?”
Francis: “Maksudmu?”
Gilda: “Tidakkah kau punya agama? Tidakkah kau punya keyakinan dalam dirimu bahwa Tuhan itu ada?”
Francis: “Tuhan, heh, lucu. Terakhir kali aku mendengar kata itu, hal yang kuingat adalah sekumpulan maniak yang mengelu-elukan orang tak berotak.”
Gilda: “Tapi Tuhan bukanlah orang, 'Dia' adalah pelindung bagi semua orang, yang memberikan anugerah bagi kita, dan juga pencipta kita.”
Francis: “Bukan orang, lalu seperti apa wujudnya?”
Gilda: “Tidak tahu.”
Francis: “Jadi maksudmu kau percaya pada sesuatu yang bahkan tak pernah kau lihat sama sekali?”
Gilda: “'Dia' memang tak bisa dilihat, tapi saya tahu 'Dia' selalu dekat. Selama masih hidup mempercayai keberadaan Tuhan adalah hal yang paling utama, sebab 'Dia' selalu mengawasi kita.”
Francis: “Untuk apa?”
Gilda: “Sebagai bukti bahwa 'Dia' menyayangi kita, dengan rasa sayangnya yang besar dia melindungi kita. Jika kita percaya dan sering berbuat baik di dunia ini, kita akan mendapatkan balasannya di surga nanti.”
Francis: “Lalu apa yang terjadi dengan mereka yang tidak percaya?”
Gilda: “Mereka dianggap sudah gagal dan disiksa di neraka sampai mereka benar-benar mau bertobat, tapi mereka masih bisa lepas dari siksaan selama masih ada yang peduli pada mereka.”
Francis: “Dan sampai sekarang kau masih mempercayai-Nya?”
Gilda: “Sampai sekarang, kepercayaan saya tak akan hilang walau sudah mati sekalipun. Ketika menghadapi kesulitan, Tuhan akan membantu jika kita meminta. Selama kita terus berusaha dengan kekuatan kita sendiri, sisanya akan dimudahkan oleh-Nya.”
Francis: “Hmph, konyol.”
Gilda: “Jangan berkata begitu, kau bahkan belum menjawab pertanyaan yang saya tanyakan tadi.”
Francis: (berdiri) “Aku hanya bisa berkata begini... Tuhan itu... tidak ada.”

Kaca jendela di dalam kamar mendadak sedikit retak, tidak ada reaksi sekalipun dari Gilda. Francis melihat wajah Gilda yang sekarang terlihat sedih, mata sebelah kanannya mengeluarkan air mata.

Gilda: “Bagaimana... kau bisa mengatakan hal itu?”
Francis: “Di duniaku, semuanya berjuang untuk bertahan hidup. Mereka sama sekali tak pernah memikirkan apakah Tuhan itu ada atau tidak, yang ada hanyalah keputusasaan, kemarahan, dan rasa takut. Setiap hari adalah 'neraka' bagi kami, 'surga' bisa didapat jika kami tidak tertangkap oleh mereka. Darah dan air mata manusia terus menetes dari tubuh mereka sampai habis, tubuh manusia yang sudah mati berserakan di mana-mana. Ekspresimu yang sekarang itu adalah salah satu ekspresi yang kulihat dari manusia yang sudah mati, memang apa yang kau harapkan dari orang yang lahir di dunia seperti itu?”
Gilda: “Maka mulailah berdoa...” (berjalan keluar)
Francis: “Berdoa? Pada sosok yang belum kukenal?”
Gilda: (berhenti di ambang pintu) “Masih ada waktu untuk bertobat dan meminta harapan, 'Dia' takkan pernah mengabaikan orang yang mencari pertolongan-Nya.” (menutup pintu)
Francis: “Terserah.”

Kembali pada saat Francis merenungi perkataan Gilda sambil berbaring, dia menutup matanya sejenak lalu mengambil dan memakai kacamata di saku celananya.

Francis: “Aku tahu kau di sana, jadi keluarlah.”

Claudia muncul dari jendela, dia berada di luar memandangi Francis. Perlahan dia membuka jendela tersebut dari luar, dia kemudian meloncat masuk ke dalam.

Francis: “Bukankah seharusnya kau sudah tidur?”
Claudia: “Aku mau tidur dengan kak Zero.”
Francis: “Maaf nak, tapi kau belum cukup besar untuk itu.”
Claudia: “Kenapa ibu tadi menangis?”
Francis: “Aku hanya menceritakan beberapa kisah.”
Claudia: (duduk di kursi) “Aku... tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi sepertinya kakak tidak percaya kepada Tuhan ya?”
Francis: “Dia bercerita padamu?”
Claudia: “Tidak, aku sudah tahu sejak makan malam tadi.”
Francis: “Kalau begitu kembalilah ke kamarmu, anak kecil sepertimu pun...”
Claudia: “Aku tahu kalau aku masih anak kecil, tapi aku juga ingin melihat senyum kak Zero.”
Francis: (bangun dan menyeringai) “Sudah, puas?”

Francis kembali berbaring, Claudia bangkit dari kursi dan langsung menindih Francis. Francis terdiam sejenak dan mendesah, Claudia mencengkeram baju Francis dengan erat.

Francis: “Apa yang kau lakukan? Kau mencengkeram perutku.”
Claudia: “Aku ingin menghangatkan kak Zero.”
Francis: “Aku tak perlu dihangatkan dengan tubuhmu, yang paling kedinginan di sini itu dirimu.”
Claudia: “Kak Zero memiliki kehangatan yang bisa kurasakan sejak pertama kita bertemu, tapi sekarang kak Zero sudah sangat kedinginan sampai membuat ibu menangis.”
Francis: “Kehangatan?”
Claudia: “Aku sudah mengalami banyak masalah sehingga hatiku sempat membeku, tapi ibu mengajariku agar hati itu tetap hangat. Aku terus dan terus melakukannya dengan cara bersabar walau ada musibah apapun yang menimpa kami dan saling menolong satu sama lain, sampai sekarang usaha ini membuat hatiku tetap hangat.”
Francis: “Aku bukan orang seperti itu.”
Claudia: “Lalu kenapa tadi kak Zero menolongku?”
Francis: “Aku hanya teringat dengan keadaan yang sama di tempat tinggalku, jadi secara tak sadar aku melakukan hal itu.”
Claudia: “Itu adalah bukti kak Zero masih memiliki kehangatan di dalam hatinya, karena kak Zero masih mau menolong Claudia. Aku takkan melepaskan kak Zero sampai hati kakak hangat kembali, kakak tidur saja dengan tenang.”
Francis: (suara hati) “...kehangatan ya...”

Kini Francis mengingat di saat dia berada di masa depan, ketika masih kecil dia digendong dari belakang oleh seorang wanita. Kemudian dia mengingat di mana dia sedang membantu membawakan satu tas besar bersama sekelompok anak-anak, wanita yang tadi menggendongnya sedang menunggu di dalam sebuah gubuk kecil. Setelah itu dia juga teringat pada saat dia dan anak-anak lainnya disuguhi semacam kapsul oleh sang wanita, mereka semua menyedot isi kapsul itu dengan bahagia. Tanpa sadar dia mengeluarkan sedikit air mata ketika dia membayangkan sesosok wanita yang sudah merawatnya, dia kemudian menggumamkan sebuah nama.

Francis: “Annete... Annete...”

Di saat bersamaan, terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah. Gilda keluar dari kamarnya, menuju pintu depan. Dia mengambil kunci dan membuka pintu depan yang terkunci, dia terkejut ketika membuka pintu. Di hadapannya berdiri pimpinan Albert dan Jacques beserta dua orang mendapinginya, pria itu merokok cerutu dan menghembuskan asapnya ke bawah.

?: “Bisa kita bicara sebentar?”


Sementara itu Uchida tidur-tiduran sambil memandangi langit berbintang bersama dengan anjing yang tadi mengencingi kakinya, dia mengelus-elus kepala anjing itu dengan jari telunjuknya yang besar.

Uchida: “Bintang, akhirnya aku melihat bintang sungguhan. Selama ini aku hanya melihat bintang di planetarium, kau pasti senang bukan melihat semua ini? (memandang anjing) Aku berada di sini dengan dirimu, kalau aku membawamu pulang apa kata anakku nanti? Tidakkah kau pikir itu indah? (perut berbunyi) Maksudku bukan itu.”

Anjing itu melihat dengan pandangan heran, Uchida langsung bangkit dari tidurnya. Dia kemudian mengacak-acak isi tasnya, dia mengeluarkan sebuah alat berbentuk bola kecil. Dia kemudian memencet mata buatannya sehingga sebuah lubang terbuka, bola itu kemudian dia masukkan ke dalamnya. Kini mata mesinnya berubah warna menjadi hijau, di dalamnya ada semacam kompas.

Uchida: “Ini sudah terlalu lama, aku akan mencarinya sekarang juga. Kebetulan kota sedang sepi, sekarang aku bisa mengeluarkan semua kemampuanku tanpa ragu-ragu. Oh, maaf ya. Aku harus mencari seseorang, kita tak tahu mungkin kita akan bertemu lagi atau tidak. Jadi jangan bersedih, kalau sempat aku akan...”

Belum sempat menyelesaikan perkataannya, anjing itu mengencingi kaki Uchida. Kemudian dia berlari keluar gang, diiringi dengan suara kucing yang mengeong keras.

Uchida: “Terima kasih.”

Mata buatan Uchida mengedip sehingga muncul semacam titik kecil, semacam garis muncul dan mulai berputar searah jarum jam. Uchida kemudian membuka jubahnya sehingga seluruh tubuhnya terlihat, tangan, kaki, dan kepalanya tidak menempel pada tubuhnya yang berbentuk oval. Dia menekan ubun-ubun besinya, semacam perubahan terjadi padanya. Seluruh anggota tubuhnya yang melayang kini terpasang pada tubuhnya, kepalanya berubah bentuk. Muncul dua buah antena di kanan dan kiri kepalanya, wajahnya tertutup semacam topeng yang hanya memiliki sebuah lubang panjang untuk mata mesinnya. Kedua kakinya bergabung menjadi satu bagian, kini tubuhnya tampak terlihat seperti roket. Bagian bawah kakinya mengeluarkan asap kemudian percikan api, dalam hitungan detik dia terbang melesat ke atas menembus awan. Mata mesinnya melacak ada dua titik, warna merah dan biru.

Uchida: “Gawat, sepertinya pihak musuh sudah mulai bergerak. Mereka sudah menemukan dia dan menuju ke sana, terlebih lagi...” (menoleh ke belakang)

Uchida samar-samar melihat dua benda asing terbang mendekatinya dari belakang, tapi keduanya mendadak menghilang dari pandangannya. Dia mendadak merasakan sesuatu melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya, untungnya dia menghindar tapi terserempet di bagian tangan sehingga tercipta percikan api. Kini di dahinya ada semacam titik kecil berwarna merah, bersamaan dengan itu sesuatu menabrak dahinya dengan keras. Mendadak dia hilang keseimbangan namun bisa menyeimbangkan lagi posisinya, dia mendadak berhenti dan terbang mengambang. Dia memegang dahinya yang mengeluarkan sedikit asap, ternyata dia baru saja ditembak.

Uchida: “Stealth... jadi mereka memutuskan untuk mengirim mereka agar tidak repot ya? Tapi aku tidak punya waktu untuk mengurus mereka, terlebih lagi aku harus secepatnya sampai untuk mengantarkan alat ini. Aku tak bisa mendeteksi mereka dengan radarku, tapi mungkin ini bisa memperlambat mereka.”

Uchida merentangkan kedua tangannya ke atas kemudian menariknya ke bawah dengan cepat, mendadak muncul semburan gas dari ketiaknya. Setelah itu dia merentangkan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan, tubuh bagian atasnya berputar dengan cepat seperti baling-baling helikopter. Daerah di sekitarnya kini diselimuti gas putih, mendadak sesuatu yang sangat kecil dan tak terlihat oleh mata keluar dari dalamnya. Beberapa peluru berdesing ke arah Uchida yang diselimuti gas, namun sesuatu terjadi ketika peluru hampir mendekatinya. Peluru-peluru itu mengenai sesuatu yang tak terlihat dan hancur tak berbekas, kini Uchida terbang meluncur keluar dari gas dengan sangat cepat. Dua benda asing yang tak terlihat itu kini ikut mengejarnya, namun sesuatu terjadi sebelum benda-benda itu sempat bergerak satu inci pun. Percikan listrik muncul di udara, dua siluet muncul dari dalam percikan listrik. Uchida sekarang sudah terbang begitu jauh, wujud dua siluet itu kini terlihat jelas. Semacam robot berbentuk lalat kini muncul dalam gelapnya langit malam, kejang-kejang dengan dialiri listrik.

Uchida: “Serbuk elektromagnit itu bekerja juga, tunggu aku Francis.”


Sementara itu di tempat pembuangan sampah dekat kediaman Welsley, Gilda dan Claudia kini berada di tengah-tengah sekumpulan orang berpenampilan mafia. Dengan wajah bekas ditampar, dia memeluk dengan erat Claudia yang menangis tersedu-sedu. Di hadapan mereka terduduk pria yang tadi dimasukkan ke dalam karung dalam keadaan babak belur, dia dipegangi oleh Albert dan Jacques. Pemandangan itu disaksikan dengan wajah sinis oleh pimpinan mereka yang duduk di atas kap mobil miliknya, dia menyalakan sebatang cerutu dan mengisapnya dengan santai.

Claudia: “Ibu... aku takut...”
Gilda: “Tenanglah Claudia, kita akan baik-baik saja.”
?: “Betapa indah bukan? Kalian akhirnya bertemu kembali setelah sekian lama, kenapa kau tak memberikannya sebuah kecupan?”
Gilda: “Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti ini, Pak Francois.”
Albert: “Beraninya wanita rendahan sepertimu memanggilnya dengan sebutan pak!”
Jacques: “Benar, panggil beliau Bos!”
Francois: “Albert, Jacques, tidak apa-apa. Kau tahu kenapa aku mempertemukan kalian berdua sekarang?”
Gilda: “Saya mohon maafkan atas apa yang telah diperbuat oleh suami saya, bukankah dia masih punya hutang yang masih perlu dilunasi pada anda?”
Francois: “Oh, mengenai itu memang benar. Dia masih harus bekerja padaku selama kurang lebih 3 tahun dan jika tidak salah sisa waktunya tinggal 3 bulan lagi, tapi... karena aku merasa itu agak berlebihan akhirnya aku menawarkan padanya sebuah solusi.”
Gilda: “Solusi?”
Francois: “Benar, aku mengatakan padanya suatu cara jika ingin hutangnya cepat lunas. Tapi dia menolak mentah-mentah saat mendengarnya, padahal aku hanya minta dia untuk menjual rumah yang sekarang dia miliki.”
Gilda: “Apa?! Tapi... itu...”
?: “Sudah jelas... aku menolak solusi seperti itu dari awal... Francois...”
Claudia: “A... ayah?”
Gilda: “Gilbert?”
Francois: “Ah, akhirnya kau bicara juga. Bagaimana rasanya saat bertemu kembali dengan keluargamu?”
Gilbert: “Rumah itu... adalah tempat kenangan bagi kami... awal dari hidup kami...”
Francois: “Albert, Jacques, bantu dia berdiri.”

Albert dan Jacques memberdirikan Gilbert, Francois berjalan perlahan ke arahnya. Dia mengangkat dagu Gilbert kemudian meninjunya, Francois mengibas-ngibas tangannya dengan wajah meringis.

Francois: “Auuuuf!! Aku seharusnya tak menggunakan tangan ini untuk memukul orang rendahan sepertimu.”
Claudia: “Ayaah!!”
Francois: “Kalau begitu bukankah kau bisa memulai semuanya dari awal kembali? Kalian bisa tinggal bersama para gelandangan itu.”
Gilbert: “Kau pikir... aku rela membiarkan istri dan anakku menjalani kehidupan seperti itu?”
Francois: “Memang benar, kau tak mau jika keluargamu hidup dengan sampah-sampah berbentuk manusia itu. Lagipula aku tak membutuhkan rumah itu, jadi... kalau dilenyapkan tidak apa-apa bukan?”
Gilda: “Apa?”
Gilbert: “Kau kep... ohok!!” (perut dipukul)
Jacques: “Diam!”
Claudia: “Ayaah!!”

Claudia melepaskan dirinya dari pelukan Gilda dan berlari menuju ayahnya, tapi dia ditendang oleh Francois sebelum sempat menghampirinya. Tubuhnya yang kecil jatuh terguling-guling di tanah, dia meringis kesakitan sambil memandangi ayahnya. Gilda yang melihatnya langsung berlari menghampiri Claudia,

Gilda: “Claudia!!”
Francois: “Ah, sepatuku jadi kotor. Sampai mana aku tadi?”
Albert: “Melenyapkan rumah.”
Francois: “Terima kasih, Albert. Jadi intinya aku tak pernah menginginkan rumah tersebut, tapi tanah yang berada di bawahnya. Tanah itu adalah salah satu bagian dari properti yang berharga, bersama dengan lapangan bola yang ada di sebelahnya. Aku akan membangun sebuah tempat usaha kecil-kecilan di atasnya, dan jika kau mau aku bisa mempekerjakanmu kembali di sana.”
Gilbert: “Aku... tak sudi menerima pekerjaan hina seperti itu!”
Gilda: “Gilbert, sebenarnya apa yang terjadi?”
Gilbert: “Gilda, dengarkanlah. Ketika aku mencari modal untuk menyembuhkanmu dari penyakit, aku meminjam uang pada orang ini dan menerima pekerjaan yang dia berikan. Awalnya pekerjaan yang dia berikan sama sekali tak mencurigakan karena aku hanya bekerja sebagai koki di restorannya, tapi... itu hanya bagian luarnya saja.”
Gilda: “Apa maksudmu?”
Gilbert: “Orang ini... dia menjual narkotika di bagian dalam bisnisnya...”
Gilda: “?!” (memegang bibirnya)
Gilbert: “Ketika aku mengantarkan masakan untuk pelanggan, aku tak sengaja melihatnya. Dia berbisnis narkotika dengan beberapa orang, mereka... mengkonsumsi obat terkutuk itu.”
Francois: “Terkutuk? Jangan bilang begitu, sebut saja itu sebagai penghilang rasa sakit. Jika kau umpamakan sebagai permen, rasanya sangat manis sekali.”
Albert: “Bos, bagaimana dengan orang yang telah menghajar kami berdua?”
Jacques: “Benar, seharusnya dia ada bersama mereka.”
Claudia: “Kak... Zero...”
Francois: “Tenang saja, bukankah tadi dia sudah dihabisi? Sebentar lagi mayatnya akan dilenyapkan bersama dengan rumah itu, (mengambil hp dari saku celana) seharusnya persiapannya sekarang sudah selesai.”
Gilbert: “Francois!! Kalau kau merusak satu bagian saja dari rumah itu...”
Francois: “Kau mau apa?”

Francois mengirimkan sebuah sms melalui hp yang dia miliki, setelah itu dia memberikan sebuah isyarat pada seluruh anak buahnya. Claudia dan Gilda dihampiri oleh dua orang pria besar, mereka kemudian dipegang supaya tidak kabur.

Francois: “Kau dan keluargamu sepertinya sangat menyayangi rumah itu, kalau begitu berterimakasihlah. Aku akan biarkan kalian tinggal di sana, sebagai tambahan akan kuberikan kalian perapian untuk menghangatkan badan.”
Claudia: “Ibu... ayah... apa maksudnya?”
Gilbert: “Jangan dengarkan apa yang dia ucapkan.”
Claudia: “Ibu, bagaimana dengan kak Zero?”
Gilda: “Dia pasti akan baik-baik saja, sebab Tuhan melindunginya.”
Gilbert: “Zero? Siapa itu?”
Claudia: “Dia temanku.”
Francois: (hp berdering dan diangkat) “Apa semua persiapannya sudah beres?”
?: “Maaf, tapi apa yang sebenarnya harus kulakukan?”
Francois: “Apa kau dungu? Bukankah kau sudah tahu?”
?: “Maaf, tapi aku tidak tahu maksud perkataanmu.”
Francois: “Hei, ini aku. Kau lupa pada pimpinanmu sendiri?”
?: “Oh, maaf. Aku masih baru dalam urusan ini, sebenarnya ada beberapa masalah.”
Francois: “Orang baru? Kenapa tidak kau tanyakan pada seniormu? Bukankah mereka ada di sana?”
?: “Masalahnya mereka semua sedang tidur sejenak.”
Francois: “Sesuatu terjadi pada mereka? Baik, orang baru, akan kukatakan sekali lagi. Tugasmu sebenarnya adalah menuangkan kerosin di bagian dalam rumah, nyalakan apinya kemudian keluar dan lihat rumah itu terbakar.”
Albert: “Orang baru? Memang kita menerima orang baru hari ini?”
Jacques: “Aku juga baru dengar.”
Francois: “Diam!”
Albert: “Maaf, bos.”
Francois: “Aku tak bicara padamu.”
Jacques: “Bicara pada siapa?”
Francois: “Diam! Maksudku bukan kau orang baru, seharusnya di dalam ada orang bukan apa sudah dihabisi?”
?: “Kalau orang-orang yang tidur sejenak itu memang ada di dalam sana.”
Francois: “Bukan itu maksudku, seharusnya selain seorang wanita dan anak ada seorang lelaki di dalam sana sebelum kalian masuk.”
?: “Seperti apa orangnya?”
Francois: “Seperti apa dia?” (mengarahkan hp pada Albert & Jacques)
Albert: “Pemuda dengan rambut merah dan ada sedikit kuning di poninya.”
Jacques: “Dia pakai kacamata dan ada bekas luka di pelipis kirinya.”
Francois: “Kau sudah dengar? Carilah orang bodoh dengan ciri seperti itu, bunuh dia dan bawa mayatnya keluar untuk dipertontonkan.”
?: “Sepertinya aku tak bisa melakukan itu.”
Francois: “Kenapa? Dengan siapa aku bicara saat ini?”
?: “Berbaliklah dan kau akan tahu.”

Francois berbalik dan melihat pemandangan yang sulit dipercayai oleh dirinya sendiri, begitu juga Albert dan Jacques beserta para anak buah Francois. Seorang lelaki menyeret tiga orang sekaligus dengan kondisi tubuh terikat oleh tali yang terbuat dari jas yang mereka pakai, lelaki yang ternyata adalah lawan bicara Francois itu berhenti berjalan.

Francis: “Namaku Francis Zero, aku menumpang tinggal di rumah mereka. Dan maaf saja kalau aku bodoh, tapi lebih baik kau lepaskan mereka.”

No comments:

Post a Comment