KONFRONTASI
Oslo,
Norwegia, 12 Oktober 2010, 03:50. Di tempat pembuangan sampah di
sebelah rumah keluarga Welsley, berkumpul sekelompok orang yang
dipimpin oleh Francois. Kini mereka berhadapan dengan Francis yang
seorang diri menaklukkan tiga orang, mereka juga menahan seluruh
anggota keluarga Welsley. Gilda dan Claudia hanya mendapatkan luka
ringan, namun Gilbert, sang ayah babak belur dan berdarah-darah.
Claudia:
“Kak Zero!”
Gilda: “Francis...”
Gilbert: “Itu orang
yang kau maksud? Kapan kalian mengenalnya?”
Francois: “Oh, jadi ini
orang yang sudah menghajar kalian?”
Albert: “Benar bos! Dia
yang menusuk pantatku!”
Jacques: “Kami berdua
dipukuli gara-gara dia!”
Francis: “Ng, maaf,
tapi aku tak pernah memukuli kalian. Kalaupun itu benar, kenapa hanya
wajahmu yang tidak terluka?” (menunjuk Albert)
Jacques: (saling
memandang dengan Albert) “Maaf, ralat. Aku dipukuli gara-gara dia,
bagian dia menusuk pantat Albert itu benar.”
Albert: “Dia menusuk
dengan tangannya yang kotor itu.”
Francis: “Maaf, tapi
secara teknis aku tidak memakai tangan untuk melemparnya. Aku hanya
menendangnya dan tak disengaja sampai ke bagian tubuhmu yang empuk
itu, lalu bagaimana keadaannya sekarang?”
Albert: “Tapi tetap
saja kau menusukku!”
Francois: “Sudah
cukup!”
Albert & Jacques:
“Maaf, bos.”
Francois: “Baiklah,
Francis kan? Jadi apa hubunganmu dengan mereka?”
Francis: “Aku baru
kenal mereka hari ini, ah bukan, kemarin. Mereka mengizinkan aku
tinggal di rumah mereka selama sehari, ah bukan semalam.”
Francois: “Jadi kau
hanyalah orang asing yang muncul entah dari mana.”
Francis: “Benar, dan
maaf saja kalau aku bodoh.”
Francois: “Ya, kau
memang bodoh. Tapi kuakui kau cukup hebat, bisa membuat tiga anak
buahku tak berdaya. Aku penasaran...”
Francois memberi isyarat
pada beberapa anak buahnya, dua orang maju menghampiri Francis. Salah
satu dari mereka meremas-remas jari tangannya sendiri sampai
berbunyi, Francis memandangi kedua orang itu dengan wajah ngantuk dan
mulut menguap.
Francois:
“Bisakah kau tunjukkan bagaimana kau melakukannya pada mereka?”
Francis: “Kurasa...”
Belum sempat
menyelesaikan perkataannya, sebuah tinju melayang ke wajah Francis.
Untungnya dia menghindarinya dengan cara jongkok, setelah itu
beberapa tendangan menyusul. Francis berguling ke belakang dua kali,
dua orang itu kemudian berlari ke arahnya dan menyerang. Sementara
dia diserang dengan tinju dan tendangan dari dua orang itu, Francis
berusaha untuk bicara sambil menghindari serangan.
Francis: “Maaf... aku
takut aku tak bisa melawan kalian... ugh (menghindar) aku... ngh, tak
mau... hei, ada yang terluka.”
Francis terus dan terus
menghindar dari serangan mereka, lama-kelamaan dua orang itu mulai
kelelahan. Mereka berhenti sejenak sambil menarik nafas,
terengah-engah dan hampir kecapaian. Francis sendiri melihat mereka
dengan menopang kepalanya sambil berjongkok, dia berdecak sambil
menggelengkan kepalanya. Dia kemudian berdiri, tanpa disadari bahwa
dia sudah ditangkap oleh dua orang di sebelah kanan dan kirinya. Kini
dalam keadaan kedua tangannya dipegang oleh dua orang, Francis
menyadari apa yang telah terjadi. Karena terlalu sibuk menghindar
dari serangan, dia tak sengaja berpindah tempat ke pihak musuh. Tapi
Francis tidak berontak setelah ditangkap, dia memandangi keluarga
Welsley.
Francis: “Oh, halo
Claudia. Ibu Gilda dan...”
Claudia: “Ini ayahku.”
Gilbert: “Siapa kau?”
Francis: “Maaf, tapi
aku tak mau menjelaskannya lagi.”
Claudia: “Ayah, dia
orang yang menyelamatkanku dari mereka.”
Francis: “Kau baik-baik
saja?”
Claudia: “Perutku
sakit, tapi sebentar lagi sembuh.”
Gilda: “Syukurlah kau
baik-baik saja.”
Francis: “Aku memang
belum boleh mati sekarang.”
Francois: “Hahaha,
lihatlah dirimu. Begitu bangganya kau dengan kemampuanmu
sampai-sampai kau tak menyadari kebodohanmu sendiri, sekarang apa
yang bisa kau katakan?”
Francis: “Jadi, ayah
Claudia, kapan kau datang?”
Gilbert: “Aku dibawa
mereka ke sini, entah jam berapa aku sampai di sini.”
Francis: “Lalu siapa
namamu?”
Gilbert: “Gilbert,
Gilbert Welsley.”
Francis: “Oh, jadi kau
ahli masak yang pernah diceritakan ibu Gilda? Lain kali boleh aku
mencicipi masakanmu?”
Gilbert: “Ng... itu...”
Francois: “Hei!!
Dengarkan aku!”
Francis: “Oh, maaf,
sepertinya aku mendengar ada lalat mendenging. Siapa kau?”
Francois: (Jengkel)
“Telingamu itu pastilah sudah tak bisa dipakai lagi, bagaimana
kalau kupotong saja? Apa ada yang bawa pisau?”
Jacques: “Ada bos, saya
masih membawa pisau yang dia gunakan untuk menusuk pantat Albert.”
Albert: “Jangan
bicarakan hal itu, luka yang kudapat jadi sakit lagi.”
Francis: “Oh, kau
berteman dengan duo cebol dan jangkung ini?”
Albert & Jacques:
“Argh, bukan!!”
Francois: “Teman... kau
ini pandai melucu ya? Mungkin aku harus melakukan sesuatu terhadap
mulutmu itu, mana pisaunya?”
Jacques: “Silahkan
bos.” (menyerahkan pisau)
Francois: “Terima
kasih, Jacques. Setelah aku selesai denganmu, akan kuhabisi mereka
semua.”
Francis: “Maafkan aku,
tapi... lebih baik jangan lakukan apapun dengan tubuhku.”
Francois: “Apa yang
membuatmu bisa berkata setenang itu?”
Francis: “Percayalah,
jangan lakukan apapun dengan tubuhku walaupun dengan tangan kosong.
Aku tak bisa jamin apa yang akan terjadi setelah itu, aku juga
sarankan itu pada seluruh rekan-rekanmu.”
Francois: “Oh, jadi
maksudmu kau itu kebal? Kalian dengar itu semua? (semua tertawa
kecuali keluarga Welsley) Kalau begitu akan kupotong telingamu
sekarang.”
Tapi Francois tidak
melakukan seperti apa yang dia katakan, dia langsung meninju wajah
Francis. Setelah itu suasana menjadi hening selama 10 detik, seluruh
mata yang melihat kejadian itu terbelalak melihatnya. Sebuah teriakan
yang sangat keras menyusul setelahnya, Francois jatuh sambil
memegangi tangannya.
Francois:
“AAAAARRRRRGGGHH!! WAAAAGHH!! TANGANKU!! JARI-JARIKUU!!”
Mereka yang melihat
menyangka dia sedang berakting, tapi Francois mengeliat kesakitan di
tanah. Dia berguling-guling dan terus berteriak, tapi dia sendiri
tidak sedang berakting. Francis yang baru saja dipukul wajahnya
menggerakkan pipi kanannya dua kali, tidak ada memar sedikitpun di
wajahnya.
Francois: “KENAPA
KALIAN HANYA MELIHAT SAJA TOLOL!! KEMARI DAN TOLONG AKU!!”
Begitu tersadar apa yang
sebenarnya terjadi, semua anak buah Francois menghampirinya. Kini tak
ada lagi yang menahan Francis dan keluarga Welsley, mereka tak
percaya akan apa yang mereka lihat. Tangan kanan yang digunakan untuk
memukul Francis berdarah dan remuk, beberapa jarinya bengkok ke arah
berlawanan. Albert sempat muntah saat melihatnya, Jacques
mengusap-usap punggung Albert. Tanpa disadari mereka, Francis
membebaskan keluarga Welsley.
Gilbert: “Apa yang
terjadi?”
Francis: “Dia hanya
menghancurkan tangannya sendiri, lebih baik kalian cepat meninggalkan
tempat ini.”
Gilda: “Terima kasih,
lalu bagaimana denganmu?”
Francis: “Aku masih ada
urusan dengan mereka.”
Claudia: “Kak Zero mau
apa?”
Francis: “Kalau kalian
mau aku bisa bunuh mereka.”
Gilbert: “Bu...
bunuh?!”
Francis: “Lagipula
sudah seberapa parah yang mereka perbuat dengan kalian? Mereka bisa
merasakan hal yang lebih mengerikan, sesuatu yang takkan bisa lupakan
sampai mereka sadar apa yang telah mereka lakukan.” (wajah seram)
Claudia: “Tidak boleh.”
Francis: “Maaf?”
Claudia: “Kak Zero tak
boleh membunuh, (menendang kaki Francis) auw! Kaki kakak keras
sekali.”
Francis: “Untuk apa kau
lakukan itu?”
Claudia: “Kak Zero tak
boleh seenaknya membunuh orang.”
Gilda: “Itu benar,
lebih baik serahkan mereka kepada polisi.”
Francis: “Polisi?
Memang mereka akan melakukan apa pada mereka?”
Gilda: “Mereka akan
menghukum sesuai dengan apa yang mereka perbuat, mereka akan
dipenjara.”
Gilbert: “Dan kenapa
kau bisa mudahnya berkata 'bunuh'?”
Francis: “Sebab aku
sering membunuh.”
Keluarga Welsley:
“......”
Francis: “Aku serius.”
Setelah mengatakan hal
itu, Francis berbalik. Dia melihat Francois sudah berdiri dengan
tangan dibalut dasi panjang sambil dipapah oleh Jacques, masih dengan
wajah meringis kesakitan dan terlihat kesal.
Francois: “Kurang
ajar... tanganku... kau akan bayar atas semua ini.”
Francis: “Maaf, tapi
aku tak punya uang.”
Francois: “Sudah cukup
bercandanya!! Anak-anak!! Berikan dia 'besi panas'!!”
Seluruh anak buah
Francois mengeluarkan pistol dari balik jas mereka, beberapa dari
mereka mengambil shotgun dari bagasi mobil masing-masing. Seluruh
moncong senjata api tertuju langsung pada Francis dan keluarga
Welsley, sambil berdecak kagum dia memberi isyarat pada keluarga
Welsley untuk pergi dengan meletakkan kedua tangannya di belakang
punggung dan mengibaskannya. Mereka merangkak perlahan di balik
tumpukan tong, kemudian berjalan membungkuk menuju jalan keluar.
Francis: “Oh, senjata.
Sudah lama aku tak melihat sejak Uchida menghancurkannya, walaupun
agak berbeda dengan yang kupakai sebelumnya. Hei, bagaimana cara
kerjanya? Boleh aku minta satu?”
Francois: “Kau akan
tahu sekarang, begini.”
Francois mengangkat
tangan kirinya, bersamaan dengan itu semua bawahan Francois
menembakkan pistol dan shotgun mereka. Francis langsung berlari
menghindari peluru-peluru yang beterbangan, dia berlari begitu jauh
dan meloncati dinding bertuliskan 'tempat pembuangan besi rongsokan'.
Seluruh orang termasuk Francois ikut mengejarnya ke dalam, sementara
itu sesuatu muncul di dalam sebuah tong. Kepala Claudia muncul dari
dalam sana, ternyata sedari tadi dia bersembunyi di dalam dan tidak
ikut lari bersama orang tuanya. Dia keluar dari dalam tong dan
menyusul ke dalam, mendorong pintu dari kawat dan masuk begitu saja.
Sementara itu tiga orang yang baru dilumpuhkan Francis baru saja
sadar, mereka mencoba melepaskan diri dari ikatan. Tapi belum sempat
mencoba, datang seseorang menghampiri mereka. Dia berdiri di hadapan
mereka, memandangi dengan pandangan dingin. Sosoknya tak terlihat
jelas, hanya matanya yang berwarna merah menyala terlihat jelas.
Orang-orang yang terikat itu langsung membentak orang itu, tapi
mendadak orang bermata merah menyala itu membuka mulutnya lebar-lebar
dan melahap kepala salah seorang dari mereka. Orang itu menyedot
seluruh tubuh orang yang dia lahap dan menelannya bulat-bulat, dua
orang yang tersisa berteriak ketakutan melihat hal itu. Perut orang
itu kini terlihat membesar kemudian menyusut dengan cepat, orang yang
menelan bulat-bulat sang pria itu kemudian memuntahkan sesuatu dari
mulutnya. Sesuatu sebesar katak yang hidup dan kemudian merangkak di
hadapan dua orang yang ketakutan itu, ikatan mereka longgar karena
satu orang sudah berkurang. Mereka langsung berdiri dan lari sekuat
tenaga setelah lepas dari ikatan, namun makhluk yang keluar dari
mulut sang pria itu meloncat ke punggung salah satu dari mereka.
Makhluk itu mendadak mengeluarkan semacam sayap dan mengejar orang
yang satunya sambil membawa orang yang dia tangkap, mereka
bertabrakan. Sesuatu terjadi pada mereka, makhluk itu menyatu dengan
orang yang mereka tangkap. Kejadian itu digambarkan dalam bentuk
bayangan di dinding, kini makhluk itu tumbuh sebesar anjing herder.
Orang yang memuntahkan makhluk itu berjalan di hadapannya yang sudah
berubah wujud, dia lalu berbicara dengan bahasa Inggris.
?: “Cari dan bawa
subyek M46
N4120 K itu hidup-hidup jika bisa, 'Absorber'
Kembali ke dalam tempat
pembuangan di mana Francis melarikan diri, suasana kembali hening
setelah suara teriakan tadi. Di dalam banyak sekali tumpukan besi
rongsokan yang terdiri dari peralatan rumah tangga, motor atau mobil
yang sudah kehilangan beberapa bagian. Di tengah-tengah tumpukan besi
rongsokan, seluruh orang mencari di mana Francis berada. Tanpa
disadari mereka Francis menangkap dan membuat pingsan beberapa
bawahan Francois satu persatu, sudah empat orang dia lumpuhkan dan
ditumpuk menjadi satu.
Francis: “Susah juga
disuruh untuk tidak membunuh, apa boleh buat ini permintaan dari
penolongku. Aku mungkin perlu mengambil senjata yang mereka pakai,
kuambil yang ini saja. Bentuknya panjang, mungkin ini sangat kuat.
Tapi tak ada tombolnya, bagaimana cara menembaknya? Mungkin tombolnya
ada di dalam sini (memasukkan jari ke lubang senapan), sepertinya
bukan. Ah masa bodoh, aku pakai cara manual saja.”
Francis membengkokkan
senapan shotgun itu dan meremas-remasnya jadi bulat, dia melihat
beberapa bayangan orang. Ada dua orang membawa pistol, Francis
melihat mereka secara sembunyi-sembunyi dari balik motor yang rusak.
Dia kemudian mencoba mengalihkan perhatian mereka dengan
menggelindingkan shotgun yang dia remas bulat-bulat ke arah mereka,
perhatian mereka berhasil dialihkan. Mendadak kepala dua orang itu
disentil secara bersamaan dari belakang, membuat mereka menubruk
tumpukan kulkas dan pingsan. Claudia memandang dari sebelah kanannya,
adegan saling pandang terjadi selama 5 detik. Tangannya diturunkan
pelan-pelan setelah menyentil mereka, dia kemudian berjalan dan
mengangkat Claudia dengan kedua tangannya tanpa diketahui orang-orang
yang masih mencarinya. Dia kemudian memberi isyarat untuk diam dengan
menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri, Claudia hanya
mengangguk dan dia mulai bicara pelan.
Claudia: “Kak Zero
baik-baik saja?”
Francis: “Kenapa kau
kemari? Bagaimana dengan mereka?”
Claudia: “Ayah dan ibu?
Mereka naik taksi dan pergi ke rumah sakit, tadi aku mau ditinggal di
kantor polisi. Tapi aku tak mau, jadi aku menyusul saja ke sini.”
Francis: “Biarpun
begitu...”
Mendadak ada pistol
ditodongkan di sebelah kanan kepala Francis, dia memegang ujung
pistol itu dan menurunkan Claudia. Francis mengetuk kepala orang itu
dengan jari sehingga dia pingsan, Francis kemudian meletakkan pistol
itu di dalam saku celananya. Dia kembali menggendong Claudia dari
depan, mengendap-endap ke arah pintu keluar.
Francis: “Biarpun
begitu, kau tak boleh membuat orang tuamu cemas. Cepat keluar dari
sini, kau nanti bisa kena tembak.”
Claudia: (tegas) “Tidak
mau.”
Francis: “Kenapa?”
Claudia: “Pasti nanti
kak Zero membunuh orang-orang itu, aku mau kita keluar bersama-sama.”
Francis: “Maksudmu
kabur? Boleh saja, setelah aku mengurus mereka semua.”
Claudia: (mencubit pipi
Francis) “Tidak boleh.”
Francis: “Jangan salah
paham, aku belum membunuh satu orang pun. Aku hanya membuat mereka
pingsan, periksa saja sendiri kalau tak percaya.”
Albert: “Ketemu!
Semuanya, dia di sini!”
Francis: “Ah, sial.”
Francis berlari sambil
membawa Claudia, dia tak sengaja menendang kaki orang yang dia
lumpuhkan barusan. Orang itu terbangun dan berteriak kesakitan,
Francis berhenti sejenak.
Francis: “Lihat? Dia
masih hidup, aku bahkan tak membunuhnya.”
Claudia: “Aku percaya.”
Mereka kemudian
melarikan diri, tanpa disadari Francis jika orang yang dia tendang
kakinya bengkok ke arah berlawanan. Bunyi peluru yang berdesing
diiringi dengan suara peluru yang menembus barang-barang rongsokan di
sekitar bergema di dalam tempat pembuangan, pintu masuk tempat
pembuangan besi rongsokan roboh ditendang oleh Francis sambil berlari
menggendong Claudia. Dia kemudian memegang bagian belakang baju
Claudia, mengangkatnya dengan satu tangan seolah seperti mengangkat
seekor kucing. Memasukkannya ke dalam tong, menjatuhkannya, kemudian
menendangnya menggelinding sampai pintu keluar. Dengan wajah kesal,
dia berbalik dan melihat Francois beserta beberapa bawahannya baru
keluar.
Francois:
(terengah-engah) “Hah... hah... larimu cepat juga.”
Francis: “Sudah cukup!
Aku tak mau lari lagi!”
Francois: “Oh, jadi kau
siap menerima kematianmu sekarang?”
Francis: “Aku tak
pernah punya niat seperti itu, rencananya aku mau menghajar kalian
semua dengan senjata yang kalian pakai. Tapi karena aku tak tahu cara
memakainya, aku hanya bisa menghajar kalian satu persatu.”
Francois: “Menghajar
kami? Jangan bercanda, memang kau tak sadar dengan keadaanmu sekarang
ini?”
Francis: “Kau sendiri
juga sama, orangmu sendiri tinggal sedikit.”
Francois: (melihat
sekeliling) “Memang benar, tapi kau terlalu meremehkan kami. Jumlah
kami memang sedikit, tapi di sini kami yang memegang senjata.”
Albert: “Benar, apa
yang bisa kau lakukan tanpa itu?”
Jacques: “Kami akan
membuat seluruh tubuhmu berlubang!”
Francois: “Diam!”
Albert & Jacques:
“Maaf...”
Francois: “Albert,
Jacques, ambilkan AK-47 dari bagasi mobilku.”
Alber & Jacques:
“Siap!”
Albert dan Jacques
segera berlari ke mobil mustang milik Francois, mereka membuka bagasi
dan membawa sesuatu yang dibungkus dengan kain dan meletakkannya
tepat di depan kaki Francois. Sekitar selusin senjata dengan tipe
yang sama segera diambil oleh masing-masing dari mereka, kini mereka
memegang masing-masing satu senapan dan mengisi pelurunya.
Francois: “Baiklah, aku
hargai kau sanggup menghindar dari semua peluru yang telah kami
habiskan untukmu. Karena itu, aku akan memberimu sebuah pistol.”
Francois melemparkan
sebuah pistol kepada Francis, namun dia hanya diam saja dan
membiarkan pistol itu mengenai dahinya. Dia kemudian memandangi
pistol yang sekarang jatuh tepat di hadapan kakinya dengan pandangan
kosong, Francois dan bawahan-bawahannya hanya bisa bengong
melihatnya.
Albert: “Hei, bodoh!!
Ambil pistolnya!”
Jacques: “Kau hanya
bisa diam setelah diberikan pistol?”
Francis: “Kau serius?”
(menunjuk pistol)
Francois: “Ambillah,
dengan begitu kita akan seimbang. Kau bawa senjata, aku juga bawa
senjata.”
Francis: “Kalau begitu
aku terima. (membungkuk sejenak kemudian berdiri) Kau yakin?”
Francois: (jengkel)
“Ambil saja!!”
Francis: “Baiklah, aku
ambil. (mengambil pistol) Lalu... bagaimana cara kerjanya?”
Albert: “Tekan saja
pelatuknya.”
Francis: “Pelatuk?”
Jacques: “Bagian
berlubang yang bisa dimasukkan jarimu.”
Francis: “Oh, ini?”
Francois dan
bawahan-bawahannya kembali bengong melihat kebodohan Francis, dia
memegang pistol terbalik. Posisi moncongnya menghadap ke bawah,
gagangnya berada di depan. Jempolnya dimasukkan ke dalam lubang
pelatuk, kemudian dia memutar-mutar pistol itu. Tanpa sengaja dia
menekan pelatuk pistol dan membuatnya meletus, pelurunya hampir
mengenai Albert.
Albert: “Hei, bodoh!!
Bukan begitu! Kau mau membunuhku?!”
Jacques: “Lihat
baik-baik ini! Masukkan jari telunjuk ke dalam lubang, genggam
gagangnya, tekan pelatuknya seperti ini!” (menembakkan pistol ke
atas)
Francois: (menunduk dan
menggelengkan kepala) “Kenapa aku masih mau mempekerjakan kalian?”
Francis: “Oke, terima
kasih banyak.”
Francois: “TEMBAK!!”
Dalam sekejap mereka
menembakkan senapan AK-47 milik mereka, Francis tak sempat menghindar
dan terkena berondongan peluru. Kacamata yang dipakainya rusak
terkena peluru, akhirnya Francis jatuh tersungkur. Francois dan yang
lain segera menghentikan tembakan, Francois mendadak tertawa
terbahak-bahak dan berlari menghampiri tubuh Francis. Bersamaan
dengan itu Claudia baru saja masuk, dia melihat Francis yang sekarang
dikelilingi oleh para penjahat.
Francois: “BWAHAHAHAHA!!
BAGAIMANA RASANYA SEKARANG, KEPARAT?!! BAHKAN KAU SENDIRI TAK SANGGUP
MENGHADAPI KEHEBATAN SENJATA INI!! SEKARANG KAU MAU BILANG APA LAGI,
HAH?!! (menendang tubuh Francis) ADUH!! KAKIKU!! Auch... auch...
orang ini keras juga...”
Albert: “Bos... bos...
tidak apa-apa?”
Jacques: “Selanjutnya
apa yang akan kita lakukan?”
Francois: “Buang dan
kubur mayatnya di dalam sampah-sampah itu, setelah ini kita harus
mencari Welsley dan habisi seluruh keluarganya.”
Claudia: “KAK ZEROOO!!”
Claudia berlari menuju
tubuh Zero yang tidak bergerak setelah diberondong senapan mesin,
beberapa bawahan Francois membidik Claudia. Namun Francois
merentangkan tangan kirinya, pertanda menyuruh mereka untuk
menurunkan senjata. Claudia menghampiri tubuh Francis yang berlumuran
darah, tubuhnya tergeletak kaku bagaikan sudah mati.
Claudia: “Kak Zero...”
Albert: “Percuma saja
bicara padanya, dia takkan bisa bangun lagi.”
Jacques: “Benar, dia
sudah m-a-t-i.”
Claudia: (menangis) “Kak
Zero..., kalian kejam...”
Francois: “Tangisi saja
dia sepuasmu, setelah itu kau akan mengantarkan kami kepada orang
tuamu.”
Claudia: “Kalian kejam!
Kenapa kalian melakukan ini?! (memeluk kaki Francois) Padahal kalian
ini sudah diberi kebaikan oleh Tuhan, kenapa bisa melakukan hal
seperti ini?!”
Francois: “Diamlah,
Albert, Jacques. (terdiam selama 5 detik) Apa kalian tidak dengar?
Aku memanggil kalian?”
Albert: “Eh, memanggil
kami?”
Jacques: “Bos bukannya
menyuruh kami diam?”
Francois: (menundukkan
kepala) “Rasanya aku harus mencari pengganti mereka berdua setelah
ini, seseorang singkirkan kutu kecil ini dari kakiku.”
Seorang pria bawahan
Francois menarik paksa Claudia, tapi bagian lutut celana yang dipakai
Francois jadi robek karena Claudia mencengkeram celananya saat
ditarik secara paksa. Dia kemudian dilempar ke tubuh Francis yang
terbaring kaku, Francois sendiri memandangi bawahan yang melemparkan
Claudia dengan wajah cemberut.
Francois: “Kau tahu
berapa harga celana ini? Sudahlah, kita ganti rencana. Bawa dia
beserta mayat keparat itu ke kantor, kita akan buat dia bicara. Jika
tetap tidak mau, kita akan buat dia sebagai sandera agar orang tuanya
datang.”
Albert & Jacques:
“Siap bos!”
Francois: “Ah, sebelum
itu. Kau tadi bilang kami diberikan kebaikan oleh Tuhan? Ya, memang
benar. Kenapa? Karena, Tuhan kami adalah u... ang?”
Sebuah pemandangan yang
mengejutkan mata membuat semua orang yang melihatnya tidak bisa
bicara, sebuah peluru jatuh di sebelah tubuh Francis. Francis yang
seharusnya sudah mati ternyata masih hidup, dia memeluk Claudia yang
keheranan. Dia kemudian bangun dan duduk sambil mencabut peluru yang
menancap di dahinya, dia ternyata telah mengeluarkan beberapa peluru
dari tubuhnya. Peluru-peluru itu sendiri ada di sebelah tubuhnya,
peluru di dahinya adalah yang terakhir. Dengan wajah dialiri darah
dari dahinya, Francis mengamati peluru yang baru dia cabut.
Francis: “So this is
the one you usually use to destroy enemies? So old fashioned and not
cool, I prefer the one with lasers though.” (Jadi ini yang biasa
kalian gunakan untuk menghancurkan lawan? Kampungan sekali dan tidak
keren, padahal aku lebih suka pistol laser.)
Claudia: “Ka... kak...
Zero?”
Francis: “But I admit
that's hurt, luckily I'm not a normal human anymore. What're you
looking at?” (Tapi kuakui itu sakit, untungnya aku bukan manusia
normal lagi. Kalian lihat apa?)
Claudia: “Kak Zero, kau
berbahasa Inggris?”
Francis: “Oh, sorry, I
forgot about you. What did you say?” (oh, maaf, aku melupakanmu.
Apa yang kau bicarakan?)
Claudia: “You're
speaking English?” (kau berbicara bahasa Inggris?)
Francis: “Of course, I
am. And... ah, the glasses is broken. No wonder now I can't speak in
that language anymore.” (Tentu saja, aku bisa. Dan... ah,
kacamatanya rusak. Pantas saja aku tak bisa berbicara dalam bahasa
itu lagi.)
Francois: “Ba...
BAGAIMANA KAU BISA TETAP HIDUP!!”
Albert: “Apa yang bos
bicarakan? Dan kenapa kalian ketakutan begitu? Mungkin tembakan kita
tadi tak mengenai bagian yang vital, makanya dia bisa tetap hidup.”
Francois: “Be... benar,
pasti begitu... Seseorang... tembak kepalanya!”
Dua orang bawahan
Francois mendekati Francis, menodongkan pistol langsung ke kepalanya.
Mereka mulai menembaki kepala Francis, terdengar tiga kali suara
tembakan. Tapi pistol yang dipegang kedua orang itu mendadak diambil
secara paksa oleh Francis, dia meremukkan kedua pistol itu dan
melumat-lumatnya. Dia langsung membuang pistol itu tepat di depan
kaki Francois, dia memandangi kedua orang yang barusan menembakinya.
Claudia sendiri memeluk erat Francis karena saking ketakutan, dia
langsung membentak kedua orang itu.
Francis: “That's so
damn hurt!! You make this child scared too, suckers! Augh, (mencabut
peluru) now I must take it out again!” (Itu sakit sekali!! Kalian
membuat anak ini ketakutan juga, sialan! Auh, sekarang aku haru
mengeluarkannya lagi!)
Francois: (wajah
ketakutan) “Di... DIA BUKAN MANUSIAAAA!!!”
Francis: (mengorek
telinga) “So noisy... what're you talking about? Ah, you already
saw it, right? All of you, then I guess I will...” (berisik
sekali... apa yang kau bicarakan? Ah, kalian sudah melihatnya bukan?
Kalian semua, kurasa aku akan...)
Belum sempat
menyelesaikan perkataannya, teriakan keras terdengar dari belakang.
Mereka melihat pemandangan yang sangat mengerikan, salah seorang
bawahan Francois terbunuh oleh beberapa makhluk tak dikenal. Dia
ditusuk dari belakang oleh semacam benda berujung tajam menembus
dadanya, namun ternyata benda tajam itu adalah kaki sesosok makhluk.
Makhluk dengan 4 pasang kaki seperti laba-laba, namun bentuk badannya
seperti mobil milik bawahan Francois. Di belakang Francis juga muncul
makhluk yang sama, disusul dengan beberapa makhluk sejenis yang
muncul dari dalam tempat pembuangan besi rongsokan. Beberapa di
antaranya memiliki sayap dan terdiri dari gabungan beberapa benda
rongsokan, memiliki semacam urat nadi di sekitar tubuh mereka.
Francois langsung pingsan di tempat, semua orang hanya bisa terdiam
kaku dengan wajah ketakutan.
Francois: “Aw, come on.
You must be kidding.” (oh, ayolah. Kau pasti bercanda)
No comments:
Post a Comment