Thursday, December 6, 2012

Level 6


KONFRONTASI

Oslo, Norwegia, 12 Oktober 2010, 03:50. Di tempat pembuangan sampah di sebelah rumah keluarga Welsley, berkumpul sekelompok orang yang dipimpin oleh Francois. Kini mereka berhadapan dengan Francis yang seorang diri menaklukkan tiga orang, mereka juga menahan seluruh anggota keluarga Welsley. Gilda dan Claudia hanya mendapatkan luka ringan, namun Gilbert, sang ayah babak belur dan berdarah-darah.

Claudia: “Kak Zero!”
Gilda: “Francis...”
Gilbert: “Itu orang yang kau maksud? Kapan kalian mengenalnya?”
Francois: “Oh, jadi ini orang yang sudah menghajar kalian?”
Albert: “Benar bos! Dia yang menusuk pantatku!”
Jacques: “Kami berdua dipukuli gara-gara dia!”
Francis: “Ng, maaf, tapi aku tak pernah memukuli kalian. Kalaupun itu benar, kenapa hanya wajahmu yang tidak terluka?” (menunjuk Albert)
Jacques: (saling memandang dengan Albert) “Maaf, ralat. Aku dipukuli gara-gara dia, bagian dia menusuk pantat Albert itu benar.”
Albert: “Dia menusuk dengan tangannya yang kotor itu.”
Francis: “Maaf, tapi secara teknis aku tidak memakai tangan untuk melemparnya. Aku hanya menendangnya dan tak disengaja sampai ke bagian tubuhmu yang empuk itu, lalu bagaimana keadaannya sekarang?”
Albert: “Tapi tetap saja kau menusukku!”
Francois: “Sudah cukup!”
Albert & Jacques: “Maaf, bos.”
Francois: “Baiklah, Francis kan? Jadi apa hubunganmu dengan mereka?”
Francis: “Aku baru kenal mereka hari ini, ah bukan, kemarin. Mereka mengizinkan aku tinggal di rumah mereka selama sehari, ah bukan semalam.”
Francois: “Jadi kau hanyalah orang asing yang muncul entah dari mana.”
Francis: “Benar, dan maaf saja kalau aku bodoh.”
Francois: “Ya, kau memang bodoh. Tapi kuakui kau cukup hebat, bisa membuat tiga anak buahku tak berdaya. Aku penasaran...”

Francois memberi isyarat pada beberapa anak buahnya, dua orang maju menghampiri Francis. Salah satu dari mereka meremas-remas jari tangannya sendiri sampai berbunyi, Francis memandangi kedua orang itu dengan wajah ngantuk dan mulut menguap.

Francois: “Bisakah kau tunjukkan bagaimana kau melakukannya pada mereka?”
Francis: “Kurasa...”

Belum sempat menyelesaikan perkataannya, sebuah tinju melayang ke wajah Francis. Untungnya dia menghindarinya dengan cara jongkok, setelah itu beberapa tendangan menyusul. Francis berguling ke belakang dua kali, dua orang itu kemudian berlari ke arahnya dan menyerang. Sementara dia diserang dengan tinju dan tendangan dari dua orang itu, Francis berusaha untuk bicara sambil menghindari serangan.

Francis: “Maaf... aku takut aku tak bisa melawan kalian... ugh (menghindar) aku... ngh, tak mau... hei, ada yang terluka.”

Francis terus dan terus menghindar dari serangan mereka, lama-kelamaan dua orang itu mulai kelelahan. Mereka berhenti sejenak sambil menarik nafas, terengah-engah dan hampir kecapaian. Francis sendiri melihat mereka dengan menopang kepalanya sambil berjongkok, dia berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Dia kemudian berdiri, tanpa disadari bahwa dia sudah ditangkap oleh dua orang di sebelah kanan dan kirinya. Kini dalam keadaan kedua tangannya dipegang oleh dua orang, Francis menyadari apa yang telah terjadi. Karena terlalu sibuk menghindar dari serangan, dia tak sengaja berpindah tempat ke pihak musuh. Tapi Francis tidak berontak setelah ditangkap, dia memandangi keluarga Welsley.

Francis: “Oh, halo Claudia. Ibu Gilda dan...”
Claudia: “Ini ayahku.”
Gilbert: “Siapa kau?”
Francis: “Maaf, tapi aku tak mau menjelaskannya lagi.”
Claudia: “Ayah, dia orang yang menyelamatkanku dari mereka.”
Francis: “Kau baik-baik saja?”
Claudia: “Perutku sakit, tapi sebentar lagi sembuh.”
Gilda: “Syukurlah kau baik-baik saja.”
Francis: “Aku memang belum boleh mati sekarang.”
Francois: “Hahaha, lihatlah dirimu. Begitu bangganya kau dengan kemampuanmu sampai-sampai kau tak menyadari kebodohanmu sendiri, sekarang apa yang bisa kau katakan?”
Francis: “Jadi, ayah Claudia, kapan kau datang?”
Gilbert: “Aku dibawa mereka ke sini, entah jam berapa aku sampai di sini.”
Francis: “Lalu siapa namamu?”
Gilbert: “Gilbert, Gilbert Welsley.”
Francis: “Oh, jadi kau ahli masak yang pernah diceritakan ibu Gilda? Lain kali boleh aku mencicipi masakanmu?”
Gilbert: “Ng... itu...”
Francois: “Hei!! Dengarkan aku!”
Francis: “Oh, maaf, sepertinya aku mendengar ada lalat mendenging. Siapa kau?”
Francois: (Jengkel) “Telingamu itu pastilah sudah tak bisa dipakai lagi, bagaimana kalau kupotong saja? Apa ada yang bawa pisau?”
Jacques: “Ada bos, saya masih membawa pisau yang dia gunakan untuk menusuk pantat Albert.”
Albert: “Jangan bicarakan hal itu, luka yang kudapat jadi sakit lagi.”
Francis: “Oh, kau berteman dengan duo cebol dan jangkung ini?”
Albert & Jacques: “Argh, bukan!!”
Francois: “Teman... kau ini pandai melucu ya? Mungkin aku harus melakukan sesuatu terhadap mulutmu itu, mana pisaunya?”
Jacques: “Silahkan bos.” (menyerahkan pisau)
Francois: “Terima kasih, Jacques. Setelah aku selesai denganmu, akan kuhabisi mereka semua.”
Francis: “Maafkan aku, tapi... lebih baik jangan lakukan apapun dengan tubuhku.”
Francois: “Apa yang membuatmu bisa berkata setenang itu?”
Francis: “Percayalah, jangan lakukan apapun dengan tubuhku walaupun dengan tangan kosong. Aku tak bisa jamin apa yang akan terjadi setelah itu, aku juga sarankan itu pada seluruh rekan-rekanmu.”
Francois: “Oh, jadi maksudmu kau itu kebal? Kalian dengar itu semua? (semua tertawa kecuali keluarga Welsley) Kalau begitu akan kupotong telingamu sekarang.”

Tapi Francois tidak melakukan seperti apa yang dia katakan, dia langsung meninju wajah Francis. Setelah itu suasana menjadi hening selama 10 detik, seluruh mata yang melihat kejadian itu terbelalak melihatnya. Sebuah teriakan yang sangat keras menyusul setelahnya, Francois jatuh sambil memegangi tangannya.

Francois: “AAAAARRRRRGGGHH!! WAAAAGHH!! TANGANKU!! JARI-JARIKUU!!”

Mereka yang melihat menyangka dia sedang berakting, tapi Francois mengeliat kesakitan di tanah. Dia berguling-guling dan terus berteriak, tapi dia sendiri tidak sedang berakting. Francis yang baru saja dipukul wajahnya menggerakkan pipi kanannya dua kali, tidak ada memar sedikitpun di wajahnya.

Francois: “KENAPA KALIAN HANYA MELIHAT SAJA TOLOL!! KEMARI DAN TOLONG AKU!!”

Begitu tersadar apa yang sebenarnya terjadi, semua anak buah Francois menghampirinya. Kini tak ada lagi yang menahan Francis dan keluarga Welsley, mereka tak percaya akan apa yang mereka lihat. Tangan kanan yang digunakan untuk memukul Francis berdarah dan remuk, beberapa jarinya bengkok ke arah berlawanan. Albert sempat muntah saat melihatnya, Jacques mengusap-usap punggung Albert. Tanpa disadari mereka, Francis membebaskan keluarga Welsley.

Gilbert: “Apa yang terjadi?”
Francis: “Dia hanya menghancurkan tangannya sendiri, lebih baik kalian cepat meninggalkan tempat ini.”
Gilda: “Terima kasih, lalu bagaimana denganmu?”
Francis: “Aku masih ada urusan dengan mereka.”
Claudia: “Kak Zero mau apa?”
Francis: “Kalau kalian mau aku bisa bunuh mereka.”
Gilbert: “Bu... bunuh?!”
Francis: “Lagipula sudah seberapa parah yang mereka perbuat dengan kalian? Mereka bisa merasakan hal yang lebih mengerikan, sesuatu yang takkan bisa lupakan sampai mereka sadar apa yang telah mereka lakukan.” (wajah seram)
Claudia: “Tidak boleh.”
Francis: “Maaf?”
Claudia: “Kak Zero tak boleh membunuh, (menendang kaki Francis) auw! Kaki kakak keras sekali.”
Francis: “Untuk apa kau lakukan itu?”
Claudia: “Kak Zero tak boleh seenaknya membunuh orang.”
Gilda: “Itu benar, lebih baik serahkan mereka kepada polisi.”
Francis: “Polisi? Memang mereka akan melakukan apa pada mereka?”
Gilda: “Mereka akan menghukum sesuai dengan apa yang mereka perbuat, mereka akan dipenjara.”
Gilbert: “Dan kenapa kau bisa mudahnya berkata 'bunuh'?”
Francis: “Sebab aku sering membunuh.”
Keluarga Welsley: “......”
Francis: “Aku serius.”

Setelah mengatakan hal itu, Francis berbalik. Dia melihat Francois sudah berdiri dengan tangan dibalut dasi panjang sambil dipapah oleh Jacques, masih dengan wajah meringis kesakitan dan terlihat kesal.

Francois: “Kurang ajar... tanganku... kau akan bayar atas semua ini.”
Francis: “Maaf, tapi aku tak punya uang.”
Francois: “Sudah cukup bercandanya!! Anak-anak!! Berikan dia 'besi panas'!!”

Seluruh anak buah Francois mengeluarkan pistol dari balik jas mereka, beberapa dari mereka mengambil shotgun dari bagasi mobil masing-masing. Seluruh moncong senjata api tertuju langsung pada Francis dan keluarga Welsley, sambil berdecak kagum dia memberi isyarat pada keluarga Welsley untuk pergi dengan meletakkan kedua tangannya di belakang punggung dan mengibaskannya. Mereka merangkak perlahan di balik tumpukan tong, kemudian berjalan membungkuk menuju jalan keluar.

Francis: “Oh, senjata. Sudah lama aku tak melihat sejak Uchida menghancurkannya, walaupun agak berbeda dengan yang kupakai sebelumnya. Hei, bagaimana cara kerjanya? Boleh aku minta satu?”
Francois: “Kau akan tahu sekarang, begini.”

Francois mengangkat tangan kirinya, bersamaan dengan itu semua bawahan Francois menembakkan pistol dan shotgun mereka. Francis langsung berlari menghindari peluru-peluru yang beterbangan, dia berlari begitu jauh dan meloncati dinding bertuliskan 'tempat pembuangan besi rongsokan'. Seluruh orang termasuk Francois ikut mengejarnya ke dalam, sementara itu sesuatu muncul di dalam sebuah tong. Kepala Claudia muncul dari dalam sana, ternyata sedari tadi dia bersembunyi di dalam dan tidak ikut lari bersama orang tuanya. Dia keluar dari dalam tong dan menyusul ke dalam, mendorong pintu dari kawat dan masuk begitu saja. Sementara itu tiga orang yang baru dilumpuhkan Francis baru saja sadar, mereka mencoba melepaskan diri dari ikatan. Tapi belum sempat mencoba, datang seseorang menghampiri mereka. Dia berdiri di hadapan mereka, memandangi dengan pandangan dingin. Sosoknya tak terlihat jelas, hanya matanya yang berwarna merah menyala terlihat jelas. Orang-orang yang terikat itu langsung membentak orang itu, tapi mendadak orang bermata merah menyala itu membuka mulutnya lebar-lebar dan melahap kepala salah seorang dari mereka. Orang itu menyedot seluruh tubuh orang yang dia lahap dan menelannya bulat-bulat, dua orang yang tersisa berteriak ketakutan melihat hal itu. Perut orang itu kini terlihat membesar kemudian menyusut dengan cepat, orang yang menelan bulat-bulat sang pria itu kemudian memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Sesuatu sebesar katak yang hidup dan kemudian merangkak di hadapan dua orang yang ketakutan itu, ikatan mereka longgar karena satu orang sudah berkurang. Mereka langsung berdiri dan lari sekuat tenaga setelah lepas dari ikatan, namun makhluk yang keluar dari mulut sang pria itu meloncat ke punggung salah satu dari mereka. Makhluk itu mendadak mengeluarkan semacam sayap dan mengejar orang yang satunya sambil membawa orang yang dia tangkap, mereka bertabrakan. Sesuatu terjadi pada mereka, makhluk itu menyatu dengan orang yang mereka tangkap. Kejadian itu digambarkan dalam bentuk bayangan di dinding, kini makhluk itu tumbuh sebesar anjing herder. Orang yang memuntahkan makhluk itu berjalan di hadapannya yang sudah berubah wujud, dia lalu berbicara dengan bahasa Inggris.

?: “Cari dan bawa subyek M46 N4120 K itu hidup-hidup jika bisa, 'Absorber'
Kembali ke dalam tempat pembuangan di mana Francis melarikan diri, suasana kembali hening setelah suara teriakan tadi. Di dalam banyak sekali tumpukan besi rongsokan yang terdiri dari peralatan rumah tangga, motor atau mobil yang sudah kehilangan beberapa bagian. Di tengah-tengah tumpukan besi rongsokan, seluruh orang mencari di mana Francis berada. Tanpa disadari mereka Francis menangkap dan membuat pingsan beberapa bawahan Francois satu persatu, sudah empat orang dia lumpuhkan dan ditumpuk menjadi satu.

Francis: “Susah juga disuruh untuk tidak membunuh, apa boleh buat ini permintaan dari penolongku. Aku mungkin perlu mengambil senjata yang mereka pakai, kuambil yang ini saja. Bentuknya panjang, mungkin ini sangat kuat. Tapi tak ada tombolnya, bagaimana cara menembaknya? Mungkin tombolnya ada di dalam sini (memasukkan jari ke lubang senapan), sepertinya bukan. Ah masa bodoh, aku pakai cara manual saja.”

Francis membengkokkan senapan shotgun itu dan meremas-remasnya jadi bulat, dia melihat beberapa bayangan orang. Ada dua orang membawa pistol, Francis melihat mereka secara sembunyi-sembunyi dari balik motor yang rusak. Dia kemudian mencoba mengalihkan perhatian mereka dengan menggelindingkan shotgun yang dia remas bulat-bulat ke arah mereka, perhatian mereka berhasil dialihkan. Mendadak kepala dua orang itu disentil secara bersamaan dari belakang, membuat mereka menubruk tumpukan kulkas dan pingsan. Claudia memandang dari sebelah kanannya, adegan saling pandang terjadi selama 5 detik. Tangannya diturunkan pelan-pelan setelah menyentil mereka, dia kemudian berjalan dan mengangkat Claudia dengan kedua tangannya tanpa diketahui orang-orang yang masih mencarinya. Dia kemudian memberi isyarat untuk diam dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri, Claudia hanya mengangguk dan dia mulai bicara pelan.

Claudia: “Kak Zero baik-baik saja?”
Francis: “Kenapa kau kemari? Bagaimana dengan mereka?”
Claudia: “Ayah dan ibu? Mereka naik taksi dan pergi ke rumah sakit, tadi aku mau ditinggal di kantor polisi. Tapi aku tak mau, jadi aku menyusul saja ke sini.”
Francis: “Biarpun begitu...”

Mendadak ada pistol ditodongkan di sebelah kanan kepala Francis, dia memegang ujung pistol itu dan menurunkan Claudia. Francis mengetuk kepala orang itu dengan jari sehingga dia pingsan, Francis kemudian meletakkan pistol itu di dalam saku celananya. Dia kembali menggendong Claudia dari depan, mengendap-endap ke arah pintu keluar.

Francis: “Biarpun begitu, kau tak boleh membuat orang tuamu cemas. Cepat keluar dari sini, kau nanti bisa kena tembak.”
Claudia: (tegas) “Tidak mau.”
Francis: “Kenapa?”
Claudia: “Pasti nanti kak Zero membunuh orang-orang itu, aku mau kita keluar bersama-sama.”
Francis: “Maksudmu kabur? Boleh saja, setelah aku mengurus mereka semua.”
Claudia: (mencubit pipi Francis) “Tidak boleh.”
Francis: “Jangan salah paham, aku belum membunuh satu orang pun. Aku hanya membuat mereka pingsan, periksa saja sendiri kalau tak percaya.”
Albert: “Ketemu! Semuanya, dia di sini!”
Francis: “Ah, sial.”

Francis berlari sambil membawa Claudia, dia tak sengaja menendang kaki orang yang dia lumpuhkan barusan. Orang itu terbangun dan berteriak kesakitan, Francis berhenti sejenak.

Francis: “Lihat? Dia masih hidup, aku bahkan tak membunuhnya.”
Claudia: “Aku percaya.”

Mereka kemudian melarikan diri, tanpa disadari Francis jika orang yang dia tendang kakinya bengkok ke arah berlawanan. Bunyi peluru yang berdesing diiringi dengan suara peluru yang menembus barang-barang rongsokan di sekitar bergema di dalam tempat pembuangan, pintu masuk tempat pembuangan besi rongsokan roboh ditendang oleh Francis sambil berlari menggendong Claudia. Dia kemudian memegang bagian belakang baju Claudia, mengangkatnya dengan satu tangan seolah seperti mengangkat seekor kucing. Memasukkannya ke dalam tong, menjatuhkannya, kemudian menendangnya menggelinding sampai pintu keluar. Dengan wajah kesal, dia berbalik dan melihat Francois beserta beberapa bawahannya baru keluar.

Francois: (terengah-engah) “Hah... hah... larimu cepat juga.”
Francis: “Sudah cukup! Aku tak mau lari lagi!”
Francois: “Oh, jadi kau siap menerima kematianmu sekarang?”
Francis: “Aku tak pernah punya niat seperti itu, rencananya aku mau menghajar kalian semua dengan senjata yang kalian pakai. Tapi karena aku tak tahu cara memakainya, aku hanya bisa menghajar kalian satu persatu.”
Francois: “Menghajar kami? Jangan bercanda, memang kau tak sadar dengan keadaanmu sekarang ini?”
Francis: “Kau sendiri juga sama, orangmu sendiri tinggal sedikit.”
Francois: (melihat sekeliling) “Memang benar, tapi kau terlalu meremehkan kami. Jumlah kami memang sedikit, tapi di sini kami yang memegang senjata.”
Albert: “Benar, apa yang bisa kau lakukan tanpa itu?”
Jacques: “Kami akan membuat seluruh tubuhmu berlubang!”
Francois: “Diam!”
Albert & Jacques: “Maaf...”
Francois: “Albert, Jacques, ambilkan AK-47 dari bagasi mobilku.”
Alber & Jacques: “Siap!”

Albert dan Jacques segera berlari ke mobil mustang milik Francois, mereka membuka bagasi dan membawa sesuatu yang dibungkus dengan kain dan meletakkannya tepat di depan kaki Francois. Sekitar selusin senjata dengan tipe yang sama segera diambil oleh masing-masing dari mereka, kini mereka memegang masing-masing satu senapan dan mengisi pelurunya.

Francois: “Baiklah, aku hargai kau sanggup menghindar dari semua peluru yang telah kami habiskan untukmu. Karena itu, aku akan memberimu sebuah pistol.”

Francois melemparkan sebuah pistol kepada Francis, namun dia hanya diam saja dan membiarkan pistol itu mengenai dahinya. Dia kemudian memandangi pistol yang sekarang jatuh tepat di hadapan kakinya dengan pandangan kosong, Francois dan bawahan-bawahannya hanya bisa bengong melihatnya.

Albert: “Hei, bodoh!! Ambil pistolnya!”
Jacques: “Kau hanya bisa diam setelah diberikan pistol?”
Francis: “Kau serius?” (menunjuk pistol)
Francois: “Ambillah, dengan begitu kita akan seimbang. Kau bawa senjata, aku juga bawa senjata.”
Francis: “Kalau begitu aku terima. (membungkuk sejenak kemudian berdiri) Kau yakin?”
Francois: (jengkel) “Ambil saja!!”
Francis: “Baiklah, aku ambil. (mengambil pistol) Lalu... bagaimana cara kerjanya?”
Albert: “Tekan saja pelatuknya.”
Francis: “Pelatuk?”
Jacques: “Bagian berlubang yang bisa dimasukkan jarimu.”
Francis: “Oh, ini?”

Francois dan bawahan-bawahannya kembali bengong melihat kebodohan Francis, dia memegang pistol terbalik. Posisi moncongnya menghadap ke bawah, gagangnya berada di depan. Jempolnya dimasukkan ke dalam lubang pelatuk, kemudian dia memutar-mutar pistol itu. Tanpa sengaja dia menekan pelatuk pistol dan membuatnya meletus, pelurunya hampir mengenai Albert.

Albert: “Hei, bodoh!! Bukan begitu! Kau mau membunuhku?!”
Jacques: “Lihat baik-baik ini! Masukkan jari telunjuk ke dalam lubang, genggam gagangnya, tekan pelatuknya seperti ini!” (menembakkan pistol ke atas)
Francois: (menunduk dan menggelengkan kepala) “Kenapa aku masih mau mempekerjakan kalian?”
Francis: “Oke, terima kasih banyak.”
Francois: “TEMBAK!!”

Dalam sekejap mereka menembakkan senapan AK-47 milik mereka, Francis tak sempat menghindar dan terkena berondongan peluru. Kacamata yang dipakainya rusak terkena peluru, akhirnya Francis jatuh tersungkur. Francois dan yang lain segera menghentikan tembakan, Francois mendadak tertawa terbahak-bahak dan berlari menghampiri tubuh Francis. Bersamaan dengan itu Claudia baru saja masuk, dia melihat Francis yang sekarang dikelilingi oleh para penjahat.

Francois: “BWAHAHAHAHA!! BAGAIMANA RASANYA SEKARANG, KEPARAT?!! BAHKAN KAU SENDIRI TAK SANGGUP MENGHADAPI KEHEBATAN SENJATA INI!! SEKARANG KAU MAU BILANG APA LAGI, HAH?!! (menendang tubuh Francis) ADUH!! KAKIKU!! Auch... auch... orang ini keras juga...”
Albert: “Bos... bos... tidak apa-apa?”
Jacques: “Selanjutnya apa yang akan kita lakukan?”
Francois: “Buang dan kubur mayatnya di dalam sampah-sampah itu, setelah ini kita harus mencari Welsley dan habisi seluruh keluarganya.”
Claudia: “KAK ZEROOO!!”

Claudia berlari menuju tubuh Zero yang tidak bergerak setelah diberondong senapan mesin, beberapa bawahan Francois membidik Claudia. Namun Francois merentangkan tangan kirinya, pertanda menyuruh mereka untuk menurunkan senjata. Claudia menghampiri tubuh Francis yang berlumuran darah, tubuhnya tergeletak kaku bagaikan sudah mati.

Claudia: “Kak Zero...”
Albert: “Percuma saja bicara padanya, dia takkan bisa bangun lagi.”
Jacques: “Benar, dia sudah m-a-t-i.”
Claudia: (menangis) “Kak Zero..., kalian kejam...”
Francois: “Tangisi saja dia sepuasmu, setelah itu kau akan mengantarkan kami kepada orang tuamu.”
Claudia: “Kalian kejam! Kenapa kalian melakukan ini?! (memeluk kaki Francois) Padahal kalian ini sudah diberi kebaikan oleh Tuhan, kenapa bisa melakukan hal seperti ini?!”
Francois: “Diamlah, Albert, Jacques. (terdiam selama 5 detik) Apa kalian tidak dengar? Aku memanggil kalian?”
Albert: “Eh, memanggil kami?”
Jacques: “Bos bukannya menyuruh kami diam?”
Francois: (menundukkan kepala) “Rasanya aku harus mencari pengganti mereka berdua setelah ini, seseorang singkirkan kutu kecil ini dari kakiku.”

Seorang pria bawahan Francois menarik paksa Claudia, tapi bagian lutut celana yang dipakai Francois jadi robek karena Claudia mencengkeram celananya saat ditarik secara paksa. Dia kemudian dilempar ke tubuh Francis yang terbaring kaku, Francois sendiri memandangi bawahan yang melemparkan Claudia dengan wajah cemberut.

Francois: “Kau tahu berapa harga celana ini? Sudahlah, kita ganti rencana. Bawa dia beserta mayat keparat itu ke kantor, kita akan buat dia bicara. Jika tetap tidak mau, kita akan buat dia sebagai sandera agar orang tuanya datang.”
Albert & Jacques: “Siap bos!”
Francois: “Ah, sebelum itu. Kau tadi bilang kami diberikan kebaikan oleh Tuhan? Ya, memang benar. Kenapa? Karena, Tuhan kami adalah u... ang?”

Sebuah pemandangan yang mengejutkan mata membuat semua orang yang melihatnya tidak bisa bicara, sebuah peluru jatuh di sebelah tubuh Francis. Francis yang seharusnya sudah mati ternyata masih hidup, dia memeluk Claudia yang keheranan. Dia kemudian bangun dan duduk sambil mencabut peluru yang menancap di dahinya, dia ternyata telah mengeluarkan beberapa peluru dari tubuhnya. Peluru-peluru itu sendiri ada di sebelah tubuhnya, peluru di dahinya adalah yang terakhir. Dengan wajah dialiri darah dari dahinya, Francis mengamati peluru yang baru dia cabut.

Francis: “So this is the one you usually use to destroy enemies? So old fashioned and not cool, I prefer the one with lasers though.” (Jadi ini yang biasa kalian gunakan untuk menghancurkan lawan? Kampungan sekali dan tidak keren, padahal aku lebih suka pistol laser.)
Claudia: “Ka... kak... Zero?”
Francis: “But I admit that's hurt, luckily I'm not a normal human anymore. What're you looking at?” (Tapi kuakui itu sakit, untungnya aku bukan manusia normal lagi. Kalian lihat apa?)
Claudia: “Kak Zero, kau berbahasa Inggris?”
Francis: “Oh, sorry, I forgot about you. What did you say?” (oh, maaf, aku melupakanmu. Apa yang kau bicarakan?)
Claudia: “You're speaking English?” (kau berbicara bahasa Inggris?)
Francis: “Of course, I am. And... ah, the glasses is broken. No wonder now I can't speak in that language anymore.” (Tentu saja, aku bisa. Dan... ah, kacamatanya rusak. Pantas saja aku tak bisa berbicara dalam bahasa itu lagi.)
Francois: “Ba... BAGAIMANA KAU BISA TETAP HIDUP!!”
Albert: “Apa yang bos bicarakan? Dan kenapa kalian ketakutan begitu? Mungkin tembakan kita tadi tak mengenai bagian yang vital, makanya dia bisa tetap hidup.”
Francois: “Be... benar, pasti begitu... Seseorang... tembak kepalanya!”

Dua orang bawahan Francois mendekati Francis, menodongkan pistol langsung ke kepalanya. Mereka mulai menembaki kepala Francis, terdengar tiga kali suara tembakan. Tapi pistol yang dipegang kedua orang itu mendadak diambil secara paksa oleh Francis, dia meremukkan kedua pistol itu dan melumat-lumatnya. Dia langsung membuang pistol itu tepat di depan kaki Francois, dia memandangi kedua orang yang barusan menembakinya. Claudia sendiri memeluk erat Francis karena saking ketakutan, dia langsung membentak kedua orang itu.

Francis: “That's so damn hurt!! You make this child scared too, suckers! Augh, (mencabut peluru) now I must take it out again!” (Itu sakit sekali!! Kalian membuat anak ini ketakutan juga, sialan! Auh, sekarang aku haru mengeluarkannya lagi!)
Francois: (wajah ketakutan) “Di... DIA BUKAN MANUSIAAAA!!!”
Francis: (mengorek telinga) “So noisy... what're you talking about? Ah, you already saw it, right? All of you, then I guess I will...” (berisik sekali... apa yang kau bicarakan? Ah, kalian sudah melihatnya bukan? Kalian semua, kurasa aku akan...)

Belum sempat menyelesaikan perkataannya, teriakan keras terdengar dari belakang. Mereka melihat pemandangan yang sangat mengerikan, salah seorang bawahan Francois terbunuh oleh beberapa makhluk tak dikenal. Dia ditusuk dari belakang oleh semacam benda berujung tajam menembus dadanya, namun ternyata benda tajam itu adalah kaki sesosok makhluk. Makhluk dengan 4 pasang kaki seperti laba-laba, namun bentuk badannya seperti mobil milik bawahan Francois. Di belakang Francis juga muncul makhluk yang sama, disusul dengan beberapa makhluk sejenis yang muncul dari dalam tempat pembuangan besi rongsokan. Beberapa di antaranya memiliki sayap dan terdiri dari gabungan beberapa benda rongsokan, memiliki semacam urat nadi di sekitar tubuh mereka. Francois langsung pingsan di tempat, semua orang hanya bisa terdiam kaku dengan wajah ketakutan.

Francois: “Aw, come on. You must be kidding.” (oh, ayolah. Kau pasti bercanda)

No comments:

Post a Comment