Wednesday, November 20, 2013

Level 25

EKSPERIMEN 

            Pulau misterius di Samudra Atlantik, 16 Oktober 22:00. Di dalam laboratorium tempat Francis disekap, dia masih terikat oleh rantai. Di bawahnya ada beberapa duri yang jatuh, Francis mengeluarkan duri yang menancap di tubuhnya dengan kemampuan regenerasinya. Dia sedang diamati dari layar monitor oleh Uchida dalam sebuah ruangan yang gelap, di belakangnya ada Alvon yang sedang mencari sebuah data di dalam computer. Uchida melihat ke tempat di mana James dan Roy disekap, Roy terlihat duduk diam. Mendadak James muncul, dia memperlihatkan lubang hidungnya di depan kamera. Karena jijik ia beralih ke tempat lain, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Seekor Jaguaron berjalan di sebuah lorong, dia melihat sebuah kejanggalan dalam rekaman itu.

Alvon: “Akhirnya kutemukan, Profesor Uchida.”
Uchida: “Oh, ada apa?”
Alvon: “Ini adalah hasil penelitianku selama 200 tahun.”
Uchida: “Ini…”
Alvon: “Aku menemukan cara untuk mengembalikan kekuatanku kembali, hanya saja aku butuh alat yang saat itu kau kembangkan saat terakhir kali kita bertemu.”
Uchida: “Lalu kenapa kau tidak mendapatkannya sendiri? Bukankah lebih mudah bagimu sebagai ilmuwan untuk memintanya ke laboratorium pusat?”
Alvon: “Andai saja bisa semudah itu, tapi mereka sudah mengetahui niatku. Kedua Jaguaron yang kau temui saat itu diciptakan dari DNA-ku, mereka adalah percobaan yang berhasil bertahan tanpa mengalami pembusukan setelah disuntikkan Gurkanite.”
Uchida: (mendesah) “Kita sudah hidup cukup lama setelah bekerja pada mereka, tidakkah kau pernah terpikir untuk lepas dari mereka?”
Alvon: “Kau tahu kenapa aku secara sukarela bergabung dengan mereka?”
Uchida: “Yang kutahu semua yang sukarela bekerja sama itu egois dan mudah terpikat oleh apa yang mereka tawarkan.”
Alvon: “Bagian yang pertama itu benar, tapi aku bukan orang bodoh yang mudah terpikat dengan rayuan. Dengan bergabung bersama mereka, aku bisa menemukan cara untuk mempercepat proses evolusi mutan. Keegoisanku ini memang bukan sesuatu yang patut dibanggakan, tapi saat ini yang kubutuhkan adalah bisa berdiri lagi dengan kedua kakiku dan lepas dari kursi sial ini.”
Uchida: “Dan apa yang aku dapat setelah aku membantumu?”
Alvon: “Tentu saja kau bisa pergi melanjutkan misimu itu.”
Uchida: “Bagaimana dengan Francis dan yang lain?”
Alvon: “Mereka juga akan kulepaskan, tapi sayangnya subyek M46 harus tinggal.”
Uchida: “Itu tidak bisa jadi sebuah jaminan.”
Alvon: “……”
Uchida: “Sepertinya kau tidak tahu situasimu saat ini, kau bahkan membiarkan beberapa ekor tikus masuk ke dalam bangunan ini.”
Alvon: “Membiarkan kalian masuk memang sudah jadi bagian rencana.”
Uchida: “Maksudku bukan ‘kami’.”
 

            Sementara itu di suatu tempat di dalam laboratorium, terlihat seseorang menyelinap masuk ke dalam sebuah ruangan. Di dalam ruangan tersebut ada semacam gerbang besar beserta beberapa kendaraan, orang itu kemudian menghubungi seseorang melalui semacam alat komunikasi yang terpasang di telinganya.

?: “Saya menemukan sebuah ruangan kosong dengan sebuah gerbang besar dan beberapa kendaraan, kurasa di balik gerbang itu adalah pintu keluar. Tidak ada siapapun yang menjaga tempat ini, bagaimana selanjutnya tuan James?”
James: “Gerbang besar katamu? Olivia, coba periksa apakah di situ ada semacam mesin yang terhubung ke gerbang itu?”
Olivia: “Memang ada semacam mesin dengan kabel terhubung ke gerbang, apakah saya harus menggunakan flash disk yang anda berikan di sini?”
James: “Tidak, seharusnya di sekitar situ ada computer. Kita membutuhkan peta dari bangunan ini, yang perlu kau lakukan hanya menyalakan dan memasangnya saja.”
Olivia: “Siap, saya juga harus melaporkan satu hal.”
James: “Maggie terpisah denganmu? Aku sudah bisa menduga itu, tapi dia bukan orang yang bisa tersesat segampang itu. Kalaupun dia kena masalah, dia punya perlindungan sendiri.”

 
            Mendadak langit-langit terbuka, Olivia langsung bersembunyi di balik kendaraan. Langit malam terlihat jelas ketika langit-langit terbuka dengan lebar, sebuah kendaraan masuk dan turun dari atas. Sebuah helicopter masuk ke dalamnya, diangkut oleh dua pesawat kecil tanpa awak. Heli itu diangkat menggunakan semacam gelombang energi yang dipancarkan oleh pesawat tersebut, Olivia mengenali heli itu yang ternyata heli yang mereka gunakan. Kedua pesawat kecil itu mematikan gelombang energi dan meletakkan heli itu, kedua pesawat kecil itu segera terbang keluar dan langit-langit tertutup. Olivia keluar dari dalam persembunyian dan mendekati heli, dia mengambil sebuah tas dari dalam.
 
Olivia: “Tuan James, ada hal lain yang harus saya sampaikan. Heli yang kami gunakan untuk pergi mencari anda baru saja dimasukkan ke dalam ruangan ini.”
James: “Senang mendengarnya, tapi kurasa kita butuh kursi tambahan untuk dua orang lagi. Apa mereka membongkar bagian-bagiannya?”
Olivia: “Tidak, masih utuh.”
James: “Bagaimana dengan pemancar soniknya?”
Olivia: “Maksud tuan?”
James: “Percuma pura-pura tidak tahu, kau kira aku tak tahu apapun mengenai itu? Tak ada yang tidak kuketahui mengenai Megan, lagipula dia adalah adikku.”
Olivia: “Masih terpasang di tempatnya.”
James: “Bagus, kalau begitu biar kuberitahu apa yang harus kau lakukan sekarang.”
 
            Saat James menjelaskan mengenai rencananya, sesosok makhluk mengawasinya dari atas langit-langit. Ukuran tubuhnya sebesar gajah, makhluk itu merayap pelan-pelan menuju Olivia. Namun ketika berada tepat di atasnya, Olivia segera menyadari hal tersebut.
 
Olivia: “Tuan James, mohon maaf sepertinya kita harus mengganti sedikit rencana anda.”
James: “Kau dapat masalah?”
Olivia: “Masalah ‘besar’.”
 

            Kembali ke laboratorium tempat Francis berada, dia masih tergantung dan terikat rantai. Uchida dan Alvon sudah berada di dalam, di hadapan mereka ada sebuah tabung berisi Drake yang masih tidak bisa mengendalikan perubahan wujudnya. Di sekitar tabung itu ada semacam alat yang ditodongkan ke arahnya, Uchida mengaktifkan beberapa dengan kabel dari tubuhnya.

Uchida: “Persiapan selesai.”
Alvon: “Baik, mari kita mulai percobaannya.” 

            Alvon mulai mengetikkan perintah, cairan dalam tabung tempat Drake dikurung dikeringkan. Alat di sekitar tabung itu mulai mengeluarkan semacam arus listrik, Drake yang melihat mencoba untuk mengeluarkan dirinya.

Alvon: “Melepaskan Dopregas.” 

            Tabung tempat Drake dikurung kini mulai dipenuhi oleh gas berwarna jingga, Drake semakin beringas dan mencoba untuk keluar. Dia berhasil membuat retakan di tabung, sedikit gas keluar dari dalam. Tapi lama-kelamaan dia mulai lemas dan terbaring tak berdaya, Alvon mengetikkan perintah. Alat-alat di sekitarnya mulai mengeluarkan semacam arus listrik, lampu dalam ruangan berkedip-kedip.

Alvon: “Mengaktifkan Rhugarator, daya 10%.” 

            Alat di sekitarnya kini bercahaya dan menembakkan sinar pada Drake secara bersamaan, tidak terjadi apa-apa. Alvon menaikkan dayanya menjadi 20%, gas di dalam tabung mulai berubah warna menjadi keunguan. Daya dinaikkan menjadi 30%, gas di dalam tabung perlahan memadat dan menjadi semacam lendir. Daya naik menjadi 40%, terjadi pergerakan di dalam tabung. Namun ketika daya dinaikkan menjadi 50%, mendadak lampu di dalam ruangan mati bersamaan dengan generator yang memberi tenaga di seluruh bangunan. Bersamaan dengan itu, penjara tempat James dan Roy dikurung terbuka.

Alvon: “Kurang ajar, energi tidak mencukupi untuk mengaktifkan Rhugarator.”
Uchida: “Apa boleh buat generator di fasilitas sekecil ini takkan bisa memberi tenaga 100% pada Rhugarator, hanya laboratorium cabang ke 1-5 yang memilikinya.”
Alvon: “Nyalakan generator cadangan.”

            Lampu dalam ruangan kembali menyala, Alvon kemudian mengetikkan perintah. Tabung tempat Drake dikurung mengeluarkan sedikit lendir, sesuatu yang kecil, panjang dan tertutup oleh lendir keluar dari dalam lubang retakan. Kini tabung itu terisi lagi oleh cairan, lendir ungu itu menghilang dan larut bersama cairan. Di dalamnya sudah tidak ada lagi Drake, tapi sebagai gantinya sesuatu yang lebih buruk ada di dalam. Uchida melihat dengan pandangan ngeri, tapi Alvon sendiri kagum melihatnya.
 

            Sementara itu Megan yang menaiki Jaggy sempat bertemu dengan James dan Roy yang melarikan diri dari penjara di sebuah lorong.

James: “Senang bertemu lagi.”
Megan: “Terima kasih.”
Roy: “Seharusnya kau tidak berpisah dengan Olivia.”
Megan: “Lebih cepat jika aku sendiri yang melakukannya, tapi yang terpenting aku sudah mendapatkan data peta yang kau cari.” (menunjukkan I-pad)
Roy: “Kalau begitu cepat tunjukkan jalan keluarnya, sepertinya listrik padam. Kita beruntung, ini kesempatan kita untuk kabur.”
Megan: “Belum tentu kesempatan itu akan datang, masih ada penjaga yang berkeliaran.”
James: “Benar, jangan terlalu gegabah. Setidaknya kita perlu senjata untuk bertahan dari mereka, di tempat ini pasti ada persenjataan.”
Megan: “Oh ya, aku bawa beberapa oleh-oleh untuk kalian juga.” 

            Megan mengambil beberapa barang dan melemparkannya ke bawah, James bersiul ketika melihat apa yang dijatuhkan. James mengambil barang itu, ternyata itu adalah semacam alat. Dia mencoba membidik dan mengarahkannya pada Roy, dia sempat angkat tangan dan marah.

Roy: “Hei, apa yang kau lakukan?! Mau membunuhku?!”
James: “Hanya mencoba, kau juga ambillah satu.”
Roy: (mengambil alat) “Lalu… bagaimana cara mengaktifkannya? Tak ada pelatuk atau semacam tombol di sini.”
Megan: “Ada lubang yang bisa dimasuki oleh tangan.”
James: “Oh, benar. Roy, coba kau masukkan tanganmu ke dalam.”
Roy: “Dan kehilangan tanganku? Kurasa tidak, lagipula mungkin ini hanya semacam pispot atau semacamnya.”
James: (memasukkan tangan) “Ukurannya pas.”
Roy: “He-hei!”
James: “Aku tidak apa-apa, lihat?” 

            Mendadak lengan James terjepit, alat itu mulai menyala. James sendiri menahan sakit karenanya, dia memperhatikan senjata itu secara cermat. Sebuah suara muncul dari dalamnya, mereka bertiga sempat terkejut.

CONTOH DNA TERSIMPAN
IDENTIFIKASI PEMILIK DNA

James: “Identifikasi?”
Roy: “Hei! James, lepaskan itu!”
Megan: “Ugh, kau tidak apa-apa?”
James: “Aku masih hidup, kalian tak usah panik.”

PERHATIAN
SEGERA IDENTIFIKASI
SISTEM PELEBURAN DIAKTIFKAN DALAM
10

Roy: (mencoba melepaskan) “Ugh! Lepas, lepaslah!”
James: “Roy, hentikan!”
Megan: “Roy, tenanglah.”
James: “Bukan, hentikanlah itu Roy! Biarkan aku mencoba!”
Roy: “Tidak bisa, kurang 5 detik lagi!”
James: “Kubilang… lepas!” (menendang Roy jatuh)
Roy: “Argh!”
James: “James Archibald Yorgins.”

SISTEM PELEBURAN DIHENTIKAN
PEMILIK DNA TERIDENTIFIKASI
SEBUTKAN TIPE MENYERANG

Megan: “Lihat? Ini bukan seperti yang kalian kira.”
Roy: “Ugh, perutku.”
James: “Lalu bagaimana setelahnya?”

PERINGATAN
SEBUTKAN TIPE MENYERANG
SISTEM PENGHANCURAN AKAN DIMULAI DALAM
10

Roy: “Lihat, sudah kubilang itu bom!”
Megan: “Roy, setidaknya diamlah.”
James: (memikirkan sesuatu) “Udara.”

SISTEM PENGHANCURAN DIHENTIKAN
MENGKONFIRMASI TIPE MENYERANG
MEMULAI PENCIPTAAN SENJATA

            Alat itu mulai bergetar, bagian dalamnya bergerak dan membentuk sesuatu. Alat itu menggembung kemudian mengempis berkali-kali, setelah itu alat tersebut berubah bentuk menjadi semacam senapan. Kini di tangan James ada sebuah senjata yang menyatu dengan lengannya, proses itu membuat James terengah-engah.

Roy: “James!”
James: “Hh, hh, hehehehe…”
Megan: “Bagaimana?”
James: “Awesome.” (keren)
Roy: “Kau harus secepatnya melepaskan itu, kau mulai jadi gila.”
James: “Aku dengar itu, kita harus cepat menyusul Olivia. Mari kita berikan ini padanya, sepertinya dia baru mendapat masalah.”
Roy: “Memang kau tahu di mana dia?”
James: “Jika sudah meloloskan diri, mungkin saja dia sudah tertangkap. Aku punya kemungkinan di mana dia berada, ada dua tempat.”
Megan: “Biar kutunjukkan jalannya, naiklah.”
 

            Di laboratorium, sesosok makhluk membawa Olivia yang baru saja ditangkap. Francis dan Olivia sempat bertemu pandang, ia dibawa ke hadapan Alvon dan Uchida. Makhluk yang baru saja membawanya kini terlihat jelas, seekor tokek seukuran tubuh manusia membawa Olivia dengan mulutnya.

Alvon: “Coba lihat… kita mendapatkan kelinci percobaan berikutnya…”
Uchida: “Tunggu, bukankah dia manusia?”
Alvon: “Lalu? Dia juga penyusup yang kau maksud barusan bukan?”
Uchida: “Bukankah… laboratorium cabang ini hanya menjadikan mutan sebagai subyeknya?”
Alvon: “Sejujurnya Profesor… aku belum mengatakan semua hal mengenai laboratorium ini…”
Uchida: “Kau tidak mengatakan…”
Alvon: “Benar, hampir semua yang menjadi subyek di sini adalah manusia.”
Uchida: “Tapi bukankah seharusnya kau mendapatkan subyek untuk diteliti yang dikirim oleh laboratorium pusat?”
Alvon: “Sebagai satu-satunya peneliti yang tinggal di pulau ini, hampir semuanya kukerjakan sendiri. Aku mulai menciptakan beberapa pembantu dengan Jaguaron yang kukloning dari DNA-ku sendiri, laboratorium pusat jarang memberikanku kelinci percobaan. Setiap ilmuwan yang bekerja di laboratorium cabang harus menyerahkan hasil penelitian mereka pada laboratorium pusat, mereka akan menilai kita. Jika hasilnya seperti yang mereka inginkan, kita akan ditempatkan di laboratorium dengan fasilitas yang lebih baik. Bukankah mereka juga sudah menjelaskannya padamu?”
Uchida: “……”
Alvon: “Laboratorium cabang ini sendiri adalah laboratorium dengan fasilitas rendahan, sama halnya dengan semua fasilitas yang mereka miliki. Pertambangan, pabrik, dan markas, semuanya dibagi menjadi 4 kelas. Cabang 1-5 adalah yang terelit dengan anggota yang berkualitas, cabang ke 6-20 adalah perisai untuk cabang teratas, cabang ke 21-30 adalah tempat untuk mereka yang berhasil lolos dari neraka, tapi aku… ditempatkan di cabang terburuk 31-50 di mana aku hanya bisa meneliti sampah tidak berguna.”
Uchida: “Kau hanya ingin diperhatikan oleh mereka.”
Alvon: “Oh, ini bukan sekedar perhatian. Aku hanya ingin ‘kebebasan’, tidak bisakah tua bangka sepertiku menikmati sisa hidupnya walau hanya sesaat? Karena itulah percobaan harus terus berjalan.”
Uchida: “Tapi kau tahu bahwa kita tak bisa meneruskannya karena 50% daya Rhugarator menghabiskan tenaga seluruh fasilitas ini.”
Alvon: “Karena itulah… (melirik pada Francis) kita memerlukan bantuannya.”

Wednesday, November 6, 2013

Level 24

LABORATORIUM

            Pulau misterius di Samudra Atlantik, 16 Oktober 2010, 21:00. Di sebuah lorong penjara yang dijaga oleh beberapa Jaguaron, James dan Roy dikurung dalam sebuah sel. Roy berdiri sambil memegang terali besi sekaligus mengamati keadaan di sekelilingnya, sel-sel di sekitar mereka kebanyakan berisi makhluk-makhluk aneh sejenis dengan Jaguaron.

Roy: “Lagi-lagi kita dikurung.”
James: “Maaf, ralat. Terakhir kali hanya kau yang dikurung, saat itu aku bisa meloloskan diri dari pengejarku.”
Roy: “Lalu apa rencanamu setelah ini? Francis dibawa ke ruang terpisah, Humpty Dumpty tak diketahui keberadaannya.”
James: “Kita tunggu selama 5 menit.”
Roy: “Dan apa yang akan kau lakukan selama 5 menit itu?”
James: “Zzzzzz.” (tidur)
Roy: (bengong) “…terserah kau saja…”
 

            Di sebuah laboratorium, Francis saat ini dalam keadaan terikat. Kedua tangan dan kakinya dibelenggu oleh rantai yang dipasang di tembok, saat itulah Alvon beserta Uchida yang kini dalam wujud normal masuk. Tidak tampak terkejut, Francis hanya memandangi mereka dengan sinisnya.

Uchida: “Francis.”
Alvon: “Menjaga subyek tetap hidup adalah tugas dari ilmuwan sepertiku, saat ini dia sedang dipindai. Jadi jangan lakukan hal bodoh, kita masih dalam kesepakatan.”
Uchida: “Tentu tidak, lalu bisa cepat kau beritahu apa yang kau inginkan?”
Alvon: “Sebelum itu… bukankah ada yang harus kau katakan padaku terlebih dulu?”
Uchida: “Memang apa yang harus kubicarakan?”
Alvon: “Ingatlah, jika bukan karena diriku… beberapa organ dalam tubuhmu yang masih berfungsi tidak akan bisa kaupakai sampai sekarang.”
Uchida: “Oh, yang itu. Benar, terima kasih. Sudah berapa lama itu terjadi, 210 tahunkah?”
Alvon: “212 tahun, dan kau masih ingat organ bagian mana yang masih ada di tubuhmu sampai saat ini?”
Uchida: “Jantung, paru-paru kanan, dan otakku. Walau bagian tubuhku terpisah-pisah, tapi aku sudah melengkapi kekurangannya dengan organ buatan.”
Alvon: “Sekarang mari kita kembali ke pokok utama, seperti yang kau lihat kita berada di laboratorium cabang ke 32.”

            Alvon menekan beberapa tombol di kursinya, tembok-tembok di sekitarnya terbuka. Banyak tabung berisi makhluk-makhluk eksperimen, salah satunya adalah Drake dalam wujud monsternya.

Uchida: “Dia…!! Tapi itu mustahil… apa ini klon?”
Alvon: “Tentu tidak, mari kuperkenalkan padamu sekali lagi. Drake, mutan reptile, kemampuannya berganti kulit, memanjat dinding, dan membelah diri. Dia baru dikirim kemari setelah kalian menghancurkan tambang Ulkamium, untuk pengobatan.”
Uchida: “Tapi aku saat itu melihatnya mati.
Alvon: “Yang saat itu kau lihat adalah bagian tubuhnya, kemampuannya meningkat pesat setelah mengkonsumsi ‘Absorber’. Ketika tubuhnya terpisah-pisah, dia membuat potongan tubuhnya bergerak dan menyatu dengan sendirinya. Selama kepalanya tidak hancur hal itu bisa terjadi, dan lihatlah keempat matanya. Ketika kau bertemu dengannya saat lepas kendali, apakah semua matanya hijau?”
Uchida: “Tidak, dia punya dua pasang mata, merah dan hijau.”
Alvon: “Mutan bodoh ini juga mengkonsumsi Ulkamium secara utuh, dia kecanduan dan lepas kendali. Dia berbagi penglihatan dengan tubuh belahannya, mata merah adalah matanya yang asli. Dia melihat apa yang dilakukan dengan tubuh belahannya dengan mata yang hijau, tapi itu tidak membuatku terkesan sama sekali.”
Uchida: “Aku paham sekarang, tapi  kenapa dia terlihat tersiksa?”
Alvon: “Tentu saja, kau pikir semua pengobatan yang kuberikan takkan memberikan rasa sakit? Ini hanya efek awal, pemulihan akan terjadi setelah Gurkanite di dalam tubuhnya menguasai seluruh tubuh.”
Uchida: “Tunggu… Gurkanite katamu? Tapi jika kau masukkan itu ke dalam tubuh, biasanya akan berakhir dengan pembusukan.”
Alvon: “Itu karena kau langsung pergi setelah subyek yang kau lihat dalam percobaan pertama mati, itu tidak sepenuhnya benar. Biar kutunjukkan lanjutan fase terakhir dari sebuah evolusi 200 tahun yang lalu, kita mulai?” 

            Alvon menekan sebuah tombol, kali ini sebuah layar raksasa muncul di hadapan mereka. Sebuah video diputar, ada adegan di mana seseorang berteriak kesakitan. Tubuhnya mengering, kulitnya mengelupas, nanah keluar dari sekujur tubuhnya, beberapa bagian tubuhnya putus dan pecah ketika jatuh ke tanah. Teriakan kesakitan itu berhenti, yang tersisa dari orang itu hanyalah gumpalan nanah yang membungkus seluruh tubuhnya.

Alvon: “Ini yang terjadi 5 menit kemudian setelah kau pergi.” 

            Adegan dipercepat 5 menit ke depan, gumpalan nanah itu kini mengeras. Beberapa orang dengan masker dan baju pelindung memeriksa keadaan, mereka menyalakan alat bor dan mulai melubangi gumpalan itu. Namun sebelum itu terjadi, gumpalan itu bergetar sedikit. Mereka berhenti dan menjauh perlahan, kecuali satu orang. Ternyata tangannya menempel begitu kuat karena gumpalan itu, dia berusaha keras untuk melepaskannya. Getaran semakin lama semakin keras, orang itu mulai panik dan akhirnya melepaskan diri dengan melepas sarung tangannya. Orang itu jatuh ke lantai, getaran berhenti bersamaan dengan itu. Orang itu heran dan segera berdiri, dia mengambil semacam tongkat dan menyodok-nyodok gumpalan itu. Tak terjadi apapun, orang itu kemudian bernafas lega. Tapi tidak lama kemudian, sebuah duri keluar dari dalam dan menusuk dada orang itu. Dia tewas di tempat, duri-duri yang lain mulai keluar dari gumpalan. Gumpalan itu pecah karena duri-duri itu, sebagai gantinya keluarlah sebuah bola berduri. Bola itu menggelinding membabi buta ke segala arah, melindas orang-orang di dalam ruangan. Video itu kemudian dimatikan, Alvon bergerak ke sebuah tabung.

Alvon: “Dan inilah subyek pertama yang kau anggap gagal, (menekan tombol) beri salam kepada Warhedge.” 

            Tabung itu terbuka, cairan beserta sebuah bola berduri seukuran manusia keluar dari dalamnya. Bola berduri itu kini bergerak dan mulai berubah, dua pasang kaki keluar dari dalamnya, berikut ekor, dan sebuah kepala. Makhluk itu memiliki sepasang taring yang mencuat keluar dari rahang bawah, moncong tikus, lalu kaki dan ekor yang pendek seperti kura-kura. Tubuhnya ditangkap oleh sebuah tangan robot yang besar, makhluk itu berontak dan diangkat ke hadapan Alvon.
 
Alvon: “Aku sengaja menyimpan dia untuk suatu saat nanti diperlihatkan kepadamu, sekarang tenanglah.” 

            Alvon menyuntikkan Ulkamium cair ke leher Warhedge, dia menjadi tenang secara perlahan. Lehernya dipasangkan sebuah ikat leher dengan lampu yang berkedip-kedip, Alvon mengetikkan perintah di kursinya. Warhedge berubah bentuk menjadi bola berduri dan menggelinding menuju Francis, dia kembali lagi ke wujud asal. Secara tak terduga, dia menembakkan duri-duri dari tubuhnya kepada Francis yang tak berdaya. Tubuh bagian depan mulai dari kaki sampai dadanya tertusuk oleh duri, Francis tak berteriak tapi wajahnya menunjukkan ekspresi kesakitan.

Uchida: “Apa yang kau lakukan?!”
Alvon: “Hanya sekedar demonstrasi, aku tahu dia memiliki kemampuan regenerasi. Tidak usah marah, sebab prioritas Alterion adalah subyek ini harus diserahkan dalam keadaan hidup. Aku tak bermaksud untuk mengambil bagian tubuhnya, jadi jika hanya terluka sedikit tidak masalah bukan? Jadi bagaimana menurutmu?”
Uchida: “Dia… (melihat Warhedge) apa dia bisa bicara?”
Alvon: “Sayangnya tidak… sampai sejauh ini semua subyek yang disuntikkan Gurkanite, otaknya tidak bekerja sepenuhnya. Mereka liar, sama halnya seperti hewan yang tinggal di hutan. Tapi jika mengenai kemampuan berbicara, ada beberapa yang bisa dan kusimpan di dalam situ. (menunjuk tabung) Tapi itu juga adalah sebuah kesalahan, lebih baik jika mereka dibiarkan tidak memiliki pikiran.”
Uchida: “Kau takut jika mereka akan belajar untuk melawan?”
Alvon: “Tepat sekali, seperti halnya Velociraptor. Mereka mempelajari mangsa sebelum memburunya, tentu kita tidak mau jika suatu saat itu akan terjadi bukan?”
Uchida: “Tapi kau pasti tetap menyerahkan yang seperti itu pada mereka.”
Alvon: (menelan ludah) “…eheheheh, kau bisa menebak sampai sejauh itu… Memang benar aku hanya sedikit mempekerjakan mereka yang punya kecerdasan seperti kera, kau bisa menemui beberapa dari mereka di luar sana.”
Uchida: “Termasuk dengan 2 Jaguaron yang menangkap Francis dan yang lain? Pintar sekali, kau sudah menunjukkan apa yang ingin kau tunjukkan. Lalu apa sebenarnya tujuan ‘evolusi’-mu itu?”
Alvon: “Aku ingin kau melihat diriku baik-baik, apa yang kau lihat?”
Francis: “Cuma tua bangka yang duduk di sebuah kursi.”
Uchida: “Jangan pedulikan dia… aku…”
Alvon: “Katakanlah…”
Uchida: “Kau…”
Alvon: “Lemah?”
Uchida: “Tidak… hanya…”
Alvon: “Rendahan?”
Uchida: “Bukan… lebih tepatnya…”
Alvon: “…katakan…”
Uchida: “Rusak.”
Alvon: (bertepuk tangan kecil) “Bagus, bagus, kau mengatakannya dengan jujur. Sebelumnya aku adalah ketua penelitian bio organisme untuk laboratorium cabang ke 9, aku dirusak oleh beberapa bawahanku saat usia mulai menggerogoti tubuhku. Tebakan yang bagus, kursi yang kududuki ini adalah satu-satunya yang membelengguku di dalam sini.”
Uchida: “Aku turut bersimpati.”
Alvon: “Tidak perlu… memang apa yang bisa dilakukan seseorang hanya dengan simpati? Pada saat masa kejayaanku, kekuatanku bisa saja membuatku bebas dari kursi ini. Tapi itu mustahil sama sekali untukku sekarang, tubuh ini sudah rapuh.”
Uchida: “Mereka menyuntikkan Gurkanite padamu juga, sungguh ironis. Pencipta kini melemah oleh hasil karyanya sendiri, selama ini Gurkanite digunakan untuk menambah kekuatan mutan yang terkena phase ‘Venom’. Tapi saat itu sendiri, kau tak mengalami phase ‘Venom’ bukan? Jadi aku bisa menebak, kau terkena rayuan dari bawahanmu untuk mencoba sendiri Gurkanite ketika kekuatanmu mulai menurun.”
Alvon: “Aku tak terkena rayuan mereka! Itu jebakan, mereka sudah tahu tak ada gunanya jika mutan yang rapuh sepertiku dipekerjakan! Dan kau salah jika aku tak meneliti semua kemungkinan untuk mengembalikanku seperti sedia kala, ikut aku.”
  

            Kembali ke ruangan penjara, seekor Jaguaron kuning baru saja masuk sambil membawa seseorang di tangan kirinya. Orang itu memakai semacam mantel yang menutupi seluruh tubuhnya, Jaguaron kuning bertemu dengan Jaguaron putih dan melewatinya begitu saja. Dia kemudian berhenti di sel tempat Roy dan James disekap, Jaguaron itu menundukkan kepalanya. Ikat lehernya memindai pintu sel, nampaknya itu adalah semacam kunci. Roy langsung mundur dari terali ketika pintu itu dibuka, Jaguaron itu masuk dan meletakkan seseorang di hadapan Roy.

Roy: “James, bangun. Mereka memasukkan seseorang ke sel kita.”
James: “Hm, (mengangguk) periksa dia masih hidup atau tidak.”
Roy: “Apa?! Hei, aku tidak mau ambil resiko diterkam oleh harimau itu.”
James: “Itu Jaguar bodoh, tenanglah. Mereka takkan menyerang selama kita tidak berbuat sesuatu pada mereka.”
Roy: “Kau yakin?”
James: “Taruhan dengan asuransi jiwamu, aku yakin itu.”

Jaguaron itu hanya diam berdiri memandangi mereka, Roy perlahan mendekati orang itu. Dia membuka mantelnya, terlihat seorang manusia dengan badan tengkurap. Ketika Roy membalikkan badannya, dia melihat Olivia tersenyum simpul di hadapannya. Wajah Roy terlihat kaget dan ingin berteriak tapi tidak bisa, kejadian itu berlangsung selama semenit.

Olivia: “Sampai kapan wajahmu akan seperti itu?”
?: “Ternyata kau di sini, kakakku yang bodoh.”
James: “Senang bisa mendengar suaramu lagi, (bangun) Maggie.”
Megan: (duduk di atas bahu Jaguaron) “Yang benar Megan, aku sudah bukan anak kecil lagi.”
James: “Kalau aku tidak memanggilmu begitu berarti kau bukan keluargaku, tapi kau tepat waktu menjemputku.”
Megan: “Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang menahanmu?”
James: “Akan kujelaskan saat kita berjalan, hanya saja ada 1 pertanyaan. Bagaimana kau bisa menjinakkannya?” (melihat Jaguaron)
Megan: “Ah, itu…” 

            Kembali pada kejadian di mana Megan hendak diserang oleh Jaguaron, semua tembakan yang diletuskan Megan tidak mengenainya sama sekali. Jaguaron itu bergerak sangat cepat dan kini sudah berada di belakangnya, Megan didorong jatuh olehnya. Tas ransel yang dia kenakan digigit dan robek oleh terkaman Jaguaron, Megan melepaskan dirinya dengan melepaskan ransel yang dia kenakan. Dia berlari menuju Olivia yang terkapar tak berdaya, bajunya compang-camping karena cakaran Jaguaron.

Megan: “Olivia, kau tidak apa-apa?”
Olivia: “Ugh, hanya luka kecil…”
Megan: “Biar kubantu kau berdiri, kita lari selagi makhluk itu lengah.”
Olivia: “Saya bisa berdiri sendiri, (berdiri) kita harus segera menghubungi…”
Megan: “Tapi… ponselku ada di tas yang digigit makhluk itu sekarang…”
Olivia: “Kalau begitu kita lari sejauh mungkin, sebelum makhluk itu…” 

            Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Jaguaron sudah berdiri di belakang Megan. Olivia segera menarik Megan ke belakangnya, dia mencoba untuk melindunginya. Jaguaron itu membuka mulutnya lebar-lebar di hadapan mereka, Megan memejamkan matanya rapat-rapat. Beberapa saat kemudian, Megan merasakan sesuatu yang basah dan hangat di wajahnya. Dia perlahan-lahan membuka matanya, Jaguaron itu menjilati mereka secara bergantian. Dia mendekatkan kepalanya ke Megan dan mengusap-usapnya ke tubuhnya, setelah itu dia duduk dan menunjukkan sesuatu yang dia gigit dengan mulutnya. Sebungkus keripik kentang yang diambil dari tas ransel Megan, Megan yang menyadari apa yang dimaksud Jaguaron segera mengambil sebuah keripik kentang dari dalam sakunya. Dia mengayun-ayunkannya ke atas, kepala Jaguaron itu mengikuti gerakan tangannya yang memegang keripik. Megan lalu melemparkan keripik itu ke atas, Jaguaron itu dengan sigap meloncat dan melahapnya. Kembali ke masa sekarang, di mana James beserta yang lain menyelinap keluar dari penjara dengan naik di atas Jaguaron.

Megan: “Dan begitulah ceritanya.”
James: “Kau beruntung dia tidak menggigitmu.”
Megan: “Terima kasih, aku boleh bawa dia pulang?”
James dan yang lain: “Tidak!” 

            Suara keras mereka memancing perhatian dari Jaguaron hitam yang berada tidak jauh dari mereka, dia berjalan perlahan dan menghampiri Jaguaron kuning. Dia hanya melihatnya berdiri dengan kedua kakinya, mereka saling mengendus satu sama lain. Setelah itu Jaguaron hitam langsung pergi, meninggalkan Jaguaron kuning yang ternyata menyembunyikan James dan yang lain di belakang tubuhnya yang besar. Megan bergelantungan di belakang lehernya, Olivia dan Roy berpegangan pada punggungnya, sementara James dibawa menggunakan ekor. Mereka semua diturunkan setelah Jaguaron hitam itu lenyap dari pandangan, terduduk dengan keadaan lesu.

Olivia: “Kita tak bisa terus-terusan begini.”
Roy: “Tapi cara keluar dari sini memang harus diam-diam.”
James: “Tapi aku lebih suka kalau ada elemen kejutan.”
Roy: “Kau mau buat kita terbunuh?”
Olivia: “Setidaknya di tempat ini pasti ada saluran udara atau mungkin got agar kita bisa keluar.”
James: “Kenapa kita tak berunding saja dahulu di suatu tempat yang sunyi sebelum keluar dari sini?”
Roy: “Ide bagus.”
 

            Beberapa saat kemudian, James dan yang lain saat ini duduk melingkar di dalam sebuah ruangan. Hanya saja Roy tidak terlihat begitu senang, Jaguaron kuning berada di luar ruangan menunggu mereka.

Roy: “James, aku akui jika engkau mendapat tempat yang sunyi untuk merencanakan bagaimana kita keluar dari sini. Tapi… kenapa kita harus kembali lagi ke sel?!”
James: “Memangnya kau tahu tempat aman yang lain?”
Roy: “…tidak…”
Olivia: “Kita bahkan belum mengetahui seluk beluk dari tempat ini, bisa saja kita tersesat.”
Roy: “Kenapa tidak minta diantar saja oleh ‘makhluk terserah kau sebut apa’ ini?”
Megan: “Maaf, sebenarnya tadi aku hanya minta mengantar dia untuk menemui James. Jadi belum terpikir sampai ke situ, tapi kau pasti sudah punya rencana bukan?” (melihat James)
James: “Tentu ada, pertama seseorang harus pergi bersama dengan si jaguar untuk menelusuri seluruh tempat. Kita tak bisa pergi sekaligus karena akan sangat mencolok jika dia terlihat dinaiki oleh beberapa orang, satu orang setidaknya cukup.”
Megan: “Kalau begitu biar aku saja, Jaggy dan aku bisa melakukannya.”
James dan yang lain: (menatap dengan bengong) “……”
Megan: “Ke… kenapa?”
Olivia: “Tidak, tapi…”
Roy: “Kau beri dia nama?”
James: “Kedengaran agak… kampungan.”
Megan: “La… lagipula aku tidak mungkin menyebut dia ‘tolol’ atau semacamnya bukan?”
Roy: “Lalu apa dia terima kalau dia sendiri dipanggil begitu?”
Megan: “Jaggy, kemarilah.” 

            Jaguaron itu membuka pintu dan masuk ke dalam, dia berdiri dan berhenti di hadapan Megan. Megan memberinya isyarat dengan tangannya, dia menepuk lantai. Jaguaron itu kemudian berbaring, Megan lalu membalikkan telapak tangannya di lantai. Jaguaron itu kini terlentang, setelah itu Jaguaron berdiri ketika Megan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Megan: “Bagaimana?”
James: “Mari kita jalankan rencana.”

Saturday, October 26, 2013

Level 23

PENCULIKAN

Pulau misterius di samudra Atlantik, 18:00. Di dalam hutan, berjalan dua orang wanita. Mereka adalah Olivia dan Megan, mengenakan baju safari dan sebuah helm yang dipasangi senter. Mereka mengikuti jejak milik James dan melewati semak-semak yang terpotong, mereka berdua berjalan sambil membawa tas ransel.

Olivia: “Nona Megan, hari sudah mulai gelap. Apakah kita tidak beristirahat saja dulu?”
Megan: “Akan kulakukan setelah menemukan James.”
Olivia: “Lebih baik jika kita menghubungi kantor pusat untuk meminta bantuan.”
Megan: “Tidak, kita tak bisa bergantung pada mereka. Kau lihat sesuatu yang aneh pada jejak ini?”
Olivia: “Ukuran sepatu ini sama dengan nona Megan, sebab tuan James juga berukuran 39 sama seperti anda. Jejak berukuran 40 ini milik Roy, ukuran 43 ini entah milik siapa. Di sini juga ada jejak seperti diseret, mungkin ini barang bawaan mereka yang dibawa memakai semacam troli.”
Megan: “Jika mereka bertiga berjalan kaki, berarti kemungkinan satu orang lagi adalah bodyguard James yang baru.”
Olivia: “Atau mungkin seseorang yang menyandera mereka berdua.”
Megan: “Jangan langsung ambil kesimpulan seperti itu, bagaimana kau bisa tahu?”
Olivia: “Saya bisa memahaminya… karena dulu beliau pernah diculik 9 tahun yang lalu.”
Megan: (berhenti berjalan) “…memang benar… dan saat itu kita juga menyaksikannya…"
  

            James sedang menceritakan masa lalunya kepada Francis dan Uchida, cerita mundur ke 9 tahun yang lalu. James yang masih kecil saat itu sedang berada di sebuah toko pakaian, dia duduk sendirian di ujung ruangan sambil melihat Megan yang sedang dipilihkan baju oleh orang yang terlihat seperti ibunya. James kemudian mengeluarkan Gameboy dari dalam saku bajunya dan bermain, seseorang yang mencurigakan mengawasinya dari luar etalase toko.

?: “James, kemarilah. Megan sudah selesai memilih bajunya, kau sudah memilih bajumu?”
James: “Aku sudah membelinya sejak kemarin, Ibu. Aku sudah bersiap-siap karena tahu pesta akan diadakan seminggu lagi, jadi Ibu tak perlu repot-repot.”
Ibu James: “Tapi tidakkah sebaiknya kau membeli satu lagi? Terakhir kali kita ke pesta perusahaan, kau basah kuyup karena jatuh ke kolam.”
James: “Aku sudah membeli 3 setel, tak perlu khawatir.”
Megan: “Jangan dengarkan dia, Ibu. Dia mengatakan itu supaya tidak menghadiri pesta, setiap ke sana dia selalu pulang lebih awal.”
Ibu James: “Megan, bicaralah yang sopan pada kakakmu. James, kau tunggu sebentar di situ. Ibu akan membayar pakaian Megan, jangan pergi ke mana-mana.”
James: “Memangnya aku mau ke mana?” 

            Setelah mengatakan hal tersebut, seseorang masuk menerobos etalase toko dan langsung menangkap James. Seorang pria bertopeng memasukkannya ke dalam karung, dia kemudian dibawa masuk ke dalam mobil dan kabur. Ibu James saat itu panik setengah mati, mereka berlari keluar. Pada saat itu Olivia baru saja datang bersama dengan mobil untuk menjemput mereka, dia segera keluar dari dalam. Megan berlari menghampiri Olivia sambil menarik-narik ujung bajunya, orang-orang mulai berkumpul di sekitar toko.

Megan: “Olivia… James… James…” (terisak-isak)
Olivia: “Nona Megan, tenanglah.” (mengusap kepala Megan)
 

            Kembali ke masa sekarang, James memandangi langit berbintang sambil tidur terlentang dengan kedua tangan berada di belakang kepalanya. Roy yang saat itu mendengar, mengusap air matanya yang keluar. Uchida sendiri terlihat sedih dan ingin menangis, namun tak ada air mata setetes pun yang keluar dari matanya. Sebagai gantinya banyak air keluar dari kedua lubang hidungnya, Francis sendiri terlihat tidur dengan pulas.

James: “Kita punya sedikit kesamaan, sebab aku juga pernah ditangkap dan disiksa. Pura-pura tidur pun percuma, aku tahu kau masih terbangun.”
Francis: “……”
Roy: “Jika saat itu aku sudah bekerja jadi pendampingnya hal seperti itu pasti takkan terjadi.”
Uchida: “Memang sejak kapan kau diterima bekerja?”
Roy: “Sekitar 5-6 tahun yang lalu, saat itu aku masih seorang pengamen. Aku tinggal dengan istri dan seorang anak lelaki, rumah kami sangat kecil tapi hidup kami begitu bahagia. Tapi rumah kami langsung digusur karena dianggap mengganggu kenyamanan lingkungan, pada saat itulah James datang dan menawarkan tempat bagi kami semua. Oh, sungguh saat yang indah.”
Uchida: (tidak mendengarkan) “Lalu bagaimana kau bisa lolos?”
James: “Aku diselamatkan.”
Roy: (jengkel) “……” 

            Mundur kembali pada saat James sedang disekap dalam sebuah ruangan yang gelap, kondisinya saat itu babak belur. Dia meringkuk di sudut ruangan, darah mengucur di hidung dan dahinya. Pada saat itu pintu ruangan terbuka, seseorang berdiri di depannya. Tapi orang itu mendadak jatuh tersungkur, ternyata dia pingsan. Ada orang lain yang masuk menyusul, James mendengar suara langkah kaki yang perlahan mendekatinya. Orang itu membalikkan tubuh James, dia melihat orang tersebut yang wajahnya tidak tampak jelas karena kegelapan. Suaranya begitu kecil, tapi ternyata dia sesungguhnya seorang anak kecil yang sebaya dengannya.

?: “James, kau tidak apa-apa? Bangunlah, (membantu berdiri) keluargamu sudah menunggu di luar.”
James: “Ugh… ternyata kau…”
  

            Kembali ke masa sekarang, di mana Olivia dan Megan masih mencari James dan yang lainnya. Mereka diikuti oleh sesosok makhluk dari atas pohon, Olivia sendiri menyadari hal tersebut. Sambil bicara, mereka meneruskan perjalanan.

Megan: “Dan pada saat itu terjadi, teman James datang menolong dan berhasil membebaskannya. Saat itu yang bisa kulakukan hanyalah menunggu hasil investigasi dari kepolisian setempat, aku tak tahu bagaimana perasaanku saat itu jika dia tidak datang membantu.”
Olivia: “Seharusnya saat itu nona mengucapkan terima kasih padanya.”
Megan: “Benar, pada anak lelaki yang sok detektif itu. Ah… tapi sekarang dia memang sudah jadi detektif ya.” 

            Pada saat itulah, makhluk yang sedari tadi mengawasi mereka menyeruak keluar dan turun dari atas pohon. Makhluk itu mengincar Megan yang sedang lengah, namun hal itu berhasil dicegah oleh Olivia yang menendang perut makhluk itu. Makhluk itu terjungkal ke balik semak-semak, Olivia dalam posisi siaga melindungi Megan.

Megan: “Apa yang…”
Olivia: “Nona Megan, jangan menjauh dari saya.” 

            Makhluk itu bergerak di balik semak-semak di belakang mereka, gerakannya begitu cepat sampai-sampai tidak tertangkap oleh cahaya senter mereka. Suara geraman diiringi dengan langkah kaki mendekati mereka dengan cepat, sepasang tangan mencoba menangkap Megan dari belakang. Olivia yang mengetahuinya dengan sigap menangkap kedua tangan itu, Megan kini berada dalam posisi di antara Olivia dan makhluk tersebut. Megan melihat dua tangan yang bercakar dan berbulu yang ditangkap Olivia, dia terlalu takut untuk membalikkan badan dan melihat.

Olivia: “Nona Megan, tiarap!”

            Megan segera merunduk, makhluk itu hampir menerkam kepalanya. Olivia dan makhluk itu jatuh berguling-guling di tanah, helm senter miliknya lepas dan jatuh, Olivia dalam keadaan ditindih oleh makhluk itu. Makhluk itu mencakar-cakar Olivia, Megan lalu mengambil sebuah tindakan. Dia mengeluarkan sebuah pistol dari dalam tasnya dan langsung menembakkannya ke makhluk tersebut, sebuah panah kecil menancap di bahunya. Perhatian makhluk itu teralihkan pada Megan, dia menatap dengan matanya yang kuning. Megan melihat sosok asli dari makhluk tersebut yang disinari senter, Jaguaron berwarna kuning dengan sebuah ikat leher merah.

Megan: “Macan tutul…? Bukan… manusia…?" 

Jaguaron mencabut panah itu dari bahunya, setelah itu dia menjatuhkannya dan melangkahi Olivia yang pingsan dengan keadaan bajunya robek-robek. Jaguaron itu bersiap untuk menerkam, dia mengambil ancang-ancang. Megan menodongkan pistol itu kepadanya, Jaguaron itu langsung meloncat ke arahnya. Terdengar suara tembakan sebanyak 3 kali, burung-burung beterbangan keluar dari pepohonan bersamaan dengan itu. Suara itu terdengar oleh James dan yang berada tidak jauh dari mereka, namun situasi di tempat mereka jauh lebih buruk. Dua Jaguaron warna hitam dan putih mengepung mereka, James dan Roy mempersenjatai diri mereka dengan batang kayu yang dibakar api.

Roy: “Kalian dengar itu?”
Francis: “Kami dengar.”
Uchida: “Tentu saja aku dengar, memangnya untuk apa kita punya telinga?”
James: “Bukannya kau tak punya telinga?” (melihat Uchida)
Uchida: (jengkel) “…apa kita tidak bisa urus masalah yang lain..."
Roy: “Hei, cepat lakukan tugasmu! Berubahlah dan hajar mereka!”
Francis: “Dari tadi aku ingin melakukan itu, tapi Uchida tak mau mengeluarkan helmnya.”
Uchida: “Mohon maaf, energiku yang tinggal sedikit tidak bisa mengoperasikan sebagian besar anggota badanku. Yang bisa kulakukan hanya mengeluarkan sebagian tangan dan kepalaku, perutku tak bisa dibuka sepenuhnya.”
James: “Kalau kau hisap semua makanan ini apa kau bisa mengeluarkannya?”
Uchida: “Mungkin.”
Roy: “Tunggu sebentar, kenapa helm itu harus dibawa olehmu?”
Uchida: “Sebab tenaganya sedang diisi, sekali pemakaian biasanya akan menghabiskan cukup banyak energi.”
Francis: “Mereka datang.”

            Jaguaron hitam menyerang Francis dan menggigit lehernya, dia terjatuh ke tanah. Cipratan darah keluar dari lehernya, Francis mencoba memukulnya tapi berhasil dihindari. Luka yang dia terima sembuh seketika, Francis kemudian mencabut pohon di belakangnya dan menjadikannya sebagai senjata.

Roy: “Hei, hei, hei, itu berlebihan bukan?”
James: “Lalu bagaimana dengan helmnya? Apa energinya sudah terisi penuh?”
Uchida: “Sebenarnya tidak perlu sampai penuh, helm masih bisa digunakan.”
James: “Kalau begitu cepat keluarkan, energimu sendiri juga belum terisi bukan? Hisap saja semua makanan sampai habis, kita dalam keadaan terdesak sekarang.”
Uchida: “Kalau itu kau tak perlu menyuruhku, akan kulakukan sekarang!”
Roy: (berbisik) “Mungkinkah tembakan itu dari ‘mereka’?”
James: “Kemungkinan besar, dia juga bukan tipe yang penyabar.”
Roy: “Kalau begitu kemungkinan mereka dalam bahaya, kita harus menolong mereka!”
James: “Dan bersiap untuk dimarahi oleh dia?”
Roy: “Ep… itu urusan mudah…" 

            Francis mengayun-ayunkan pohon yang dia gunakan untuk menyerang para Jaguaron, namun mereka terlalu cepat. Uchida saat ini sedang mengisap seluruh makanan yang ada sampai habis, Roy sendiri nyaris kena cakaran dari Jaguaron dan membuat bajunya robek. James masih mencoba mempertahankan dirinya, batang kayu yang dia gunakan patah terkena cakaran. Dia mengambil lagi batang kayu yang baru, Jaguaron putih menyerangnya dari depan. James terjatuh sambil menahan terkamannya dengan batang kayu, Roy segera membantunya dengan memukuli kepala Jaguaron.

Roy: “Lepaskan dia!” 

            Namun sayang baginya, dia ditangkap dengan menggunakan ekor dan dilempar ke sungai. Uchida sudah menghisap habis semua makanan, dia mencoba membuka pintu di perutnya.

Uchida: “Ugh, ini tidak bagus. Pintunya hanya terbuka sedikit, aku perlu sedikit energi lagi.”
Francis: “Uchida! Tidakkah kita punya persenjataan!”
Uchida: “Tidak, senjata yang terakhir digunakan sudah tertimbun di Norwegia. Lebih baik kau tidak memakai sesuatu yang besar untuk melawan mereka, ambil sesuatu yang cukup keras dan kecil untuk melawan mereka.”
Francis: “Keras dan kecil?” (melihat panci)
Uchida: “Ya, itu juga bisa.” 

            Francis menjatuhkan batang pohon yang dia pegang dan segera mengambil panci, dia langsung memukulkannya ke Jaguaron hitam yang menyerangnya dari belakang. Pukulan Francis mengenai dagunya dan membuatnya terpental, Francis kemudian melempar panci ke kepala Jaguaron putih. Lemparannya membuat beberapa giginya tanggal, James berhasil membebaskan dirinya dari terkaman. James mengambil panci yang tadi dilempar Francis dan berlari menuju dia, mereka berdiri sambil memunggungi diri.

James: “Hei, katakan padaku. Apa mereka cyborg?”
Uchida: “Tidak, mereka biologis. Tercipta dari hasil rekayasa genetic, mereka dikirim dari laboratorium.”
Francis: “Bagaimana kau bisa tahu mereka dikirim dari laboratorium?”
Uchida: “Lihat di leher mereka, ada kalung dengan lampu yang berkedip-kedip bukan? Itu berarti mereka dikirim untuk menjalankan sebuah tugas, kemungkinan mereka berniat menangkap kita.”
Roy: “Kalau memang berniat menangkap, kenapa kita nyaris dibunuh?!”
James: “Mungkinkah… perintah yang diberikan mereka adalah menangkap kalian… dan membunuh sisanya?”
Uchida: “Mungkin.” 

            James berpikir sejenak, dia meletakkan panci perlahan ke tanah. Setelah itu dia berjalan ke hadapan para Jaguaron, setelah itu dia duduk berlutut.

James: “Bawa aku pada pimpinan kalian.”
Roy: “Apa?! James, jangan!”
Uchida: “Apa maksudmu?!”
Francis: “Tunggu, lihat.”

            Kedua Jaguaron itu sama sekali tidak menyerang James, mereka mengendus-endus tubuhnya. Setelah itu James berdiri, tubuhnya diangkat oleh Jaguaron hitam dan didudukkan di atas kepalanya.

Roy: (heran) “Hah?”
James: “Humpty Dumpty, kau pernah mengatakan bahwa mereka menganggap semua yang ada di dunia ini adalah sampah daur ulang. Tak perduli mereka hidup atau mati, mereka akan menggunakan kita bukan?”
Francis: “…..”
James: “Ketika melihat keadaan sekitar aku jadi tahu apa sebenarnya tugas mereka, kau heran kenapa dari tadi mereka tidak menyentuhmu?”
Uchida: “Kau benar.”
James: “Dan sekarang ini aku menghadapi mereka tanpa perlawanan dan mereka tidak menyerangku, saat itu Francis langsung diserang karena memang itu sudah tugas mereka sejak awal.”
Francis: “Begitu, aku paham.”
Uchida: “Ah, ya.”
Roy: “Seseorang bisa jelaskan maksudnya?”
James: (mendesah) “Karena itu maksudku adalah… tugas mereka hanyalah membawa kita semua ke laboratorium, jika ada yang melawan maka tindakan ekstrim akan dilakukan.”
Francis: “Mereka sudah memperhitungkan jika aku takkan ikut mereka dengan baik-baik, jadi aku diserang lebih dulu.”
Uchida: “Ketika James dan kau membawa barang untuk dijadikan senjata, mereka menganggapmu akan melakukan perlawanan. Jadi tindakan yang tepat memang menyerahkan diri pada musuh, dengan begitu kita bisa mengetahui apakah mereka memiliki mesin waktu atau tidak."
Roy: “Semudah itu? (meletakkan batang kayu) Hahahaha, kenapa tidak dari a…”

            Jaguaron putih langsung menyambar Roy dan membawanya kabur dengan menggigit bajunya, dia berteriak kencang sekali. Bagian belakang leher Francis digigit oleh Jaguaron hitam, dia berlari menyusul Jaguaron putih. Kedua Jaguaron itu pergi membawa Francis, James dan Roy, namun Uchida ditinggalkan begitu saja di tengah hutan.

James: “Hei, kau tidak apa-apa?”
Francis: “Aku masih hidup, hampir.”
James: “Aku lupa bilang kalau mereka mungkin juga harus secepatnya membawa kita.”
Uchida: “Oi! Kenapa aku ditinggal?!”

            Setelah kedua Jaguaron pergi, sesuatu terbang di angkasa dan mengangkat Uchida. Dia terbang melayang dan dibawa masuk ke dalam semacam pesawat kecil, di dalamnya dia bertemu langsung dengan Alvon. Pria berkursi terbang, orang yang sudah tua, berkepala botak di tengah, memiliki rambut di kedua sisi kepalanya, berdagu belah, dan memakai goggle.

Alvon: “Coba lihat ini, Profesor Uchida.”
Uchida: “Dokter Alvon! Jadi kau yang menjalankan fasilitas ini?!”
Alvon: “Maaf, tapi ini adalah kendaraan khusus untukmu. Rekan-rekanmu akan diantar langsung ke laboratoriumku, kau akan pergi bersamaku ke fasilitas pribadiku.”
Uchida: “Kau mau menyerahkanku?”
Alvon: “Sebenarnya aku ingin membuat kesepakatan.”
Uchida: “Untuk apa aku mau bekerja sama denganmu?”

            Alvon menekan sebuah tombol di kursinya, sebuah pipa panjang keluar dan menusuk lubang bagian belakang bawah tubuh Uchida.

Uchida: “AIIIGH!!!”

            Ekspresi Uchida jadi tidak karuan, matanya melotot keluar. Pipa itu memasukkan cairan hijau bercahaya ke dalam tubuhnya, meteran di badan Uchida meningkat naik sampai penuh. Setelah proses selesai, pipa itu dicabut. Tubuh Uchida berubah bentuk menjadi mode tempur, dia menodongkan semua senjatanya kepada Alvon. Tapi dia tenang saja walau ditodong, dia hanya tersenyum simpul.

Uchida: “Kau mengisi tubuhku dengan Ulkamium cair, apa maksudnya ini?”
Alvon: “Seperti yang kumaksud, membuat kesepakatan.”
Uchida: “Apa yang kau mau?”
Alvon: (menyeringai) “Evolusi.”