Saturday, October 26, 2013

Level 23

PENCULIKAN

Pulau misterius di samudra Atlantik, 18:00. Di dalam hutan, berjalan dua orang wanita. Mereka adalah Olivia dan Megan, mengenakan baju safari dan sebuah helm yang dipasangi senter. Mereka mengikuti jejak milik James dan melewati semak-semak yang terpotong, mereka berdua berjalan sambil membawa tas ransel.

Olivia: “Nona Megan, hari sudah mulai gelap. Apakah kita tidak beristirahat saja dulu?”
Megan: “Akan kulakukan setelah menemukan James.”
Olivia: “Lebih baik jika kita menghubungi kantor pusat untuk meminta bantuan.”
Megan: “Tidak, kita tak bisa bergantung pada mereka. Kau lihat sesuatu yang aneh pada jejak ini?”
Olivia: “Ukuran sepatu ini sama dengan nona Megan, sebab tuan James juga berukuran 39 sama seperti anda. Jejak berukuran 40 ini milik Roy, ukuran 43 ini entah milik siapa. Di sini juga ada jejak seperti diseret, mungkin ini barang bawaan mereka yang dibawa memakai semacam troli.”
Megan: “Jika mereka bertiga berjalan kaki, berarti kemungkinan satu orang lagi adalah bodyguard James yang baru.”
Olivia: “Atau mungkin seseorang yang menyandera mereka berdua.”
Megan: “Jangan langsung ambil kesimpulan seperti itu, bagaimana kau bisa tahu?”
Olivia: “Saya bisa memahaminya… karena dulu beliau pernah diculik 9 tahun yang lalu.”
Megan: (berhenti berjalan) “…memang benar… dan saat itu kita juga menyaksikannya…"
  

            James sedang menceritakan masa lalunya kepada Francis dan Uchida, cerita mundur ke 9 tahun yang lalu. James yang masih kecil saat itu sedang berada di sebuah toko pakaian, dia duduk sendirian di ujung ruangan sambil melihat Megan yang sedang dipilihkan baju oleh orang yang terlihat seperti ibunya. James kemudian mengeluarkan Gameboy dari dalam saku bajunya dan bermain, seseorang yang mencurigakan mengawasinya dari luar etalase toko.

?: “James, kemarilah. Megan sudah selesai memilih bajunya, kau sudah memilih bajumu?”
James: “Aku sudah membelinya sejak kemarin, Ibu. Aku sudah bersiap-siap karena tahu pesta akan diadakan seminggu lagi, jadi Ibu tak perlu repot-repot.”
Ibu James: “Tapi tidakkah sebaiknya kau membeli satu lagi? Terakhir kali kita ke pesta perusahaan, kau basah kuyup karena jatuh ke kolam.”
James: “Aku sudah membeli 3 setel, tak perlu khawatir.”
Megan: “Jangan dengarkan dia, Ibu. Dia mengatakan itu supaya tidak menghadiri pesta, setiap ke sana dia selalu pulang lebih awal.”
Ibu James: “Megan, bicaralah yang sopan pada kakakmu. James, kau tunggu sebentar di situ. Ibu akan membayar pakaian Megan, jangan pergi ke mana-mana.”
James: “Memangnya aku mau ke mana?” 

            Setelah mengatakan hal tersebut, seseorang masuk menerobos etalase toko dan langsung menangkap James. Seorang pria bertopeng memasukkannya ke dalam karung, dia kemudian dibawa masuk ke dalam mobil dan kabur. Ibu James saat itu panik setengah mati, mereka berlari keluar. Pada saat itu Olivia baru saja datang bersama dengan mobil untuk menjemput mereka, dia segera keluar dari dalam. Megan berlari menghampiri Olivia sambil menarik-narik ujung bajunya, orang-orang mulai berkumpul di sekitar toko.

Megan: “Olivia… James… James…” (terisak-isak)
Olivia: “Nona Megan, tenanglah.” (mengusap kepala Megan)
 

            Kembali ke masa sekarang, James memandangi langit berbintang sambil tidur terlentang dengan kedua tangan berada di belakang kepalanya. Roy yang saat itu mendengar, mengusap air matanya yang keluar. Uchida sendiri terlihat sedih dan ingin menangis, namun tak ada air mata setetes pun yang keluar dari matanya. Sebagai gantinya banyak air keluar dari kedua lubang hidungnya, Francis sendiri terlihat tidur dengan pulas.

James: “Kita punya sedikit kesamaan, sebab aku juga pernah ditangkap dan disiksa. Pura-pura tidur pun percuma, aku tahu kau masih terbangun.”
Francis: “……”
Roy: “Jika saat itu aku sudah bekerja jadi pendampingnya hal seperti itu pasti takkan terjadi.”
Uchida: “Memang sejak kapan kau diterima bekerja?”
Roy: “Sekitar 5-6 tahun yang lalu, saat itu aku masih seorang pengamen. Aku tinggal dengan istri dan seorang anak lelaki, rumah kami sangat kecil tapi hidup kami begitu bahagia. Tapi rumah kami langsung digusur karena dianggap mengganggu kenyamanan lingkungan, pada saat itulah James datang dan menawarkan tempat bagi kami semua. Oh, sungguh saat yang indah.”
Uchida: (tidak mendengarkan) “Lalu bagaimana kau bisa lolos?”
James: “Aku diselamatkan.”
Roy: (jengkel) “……” 

            Mundur kembali pada saat James sedang disekap dalam sebuah ruangan yang gelap, kondisinya saat itu babak belur. Dia meringkuk di sudut ruangan, darah mengucur di hidung dan dahinya. Pada saat itu pintu ruangan terbuka, seseorang berdiri di depannya. Tapi orang itu mendadak jatuh tersungkur, ternyata dia pingsan. Ada orang lain yang masuk menyusul, James mendengar suara langkah kaki yang perlahan mendekatinya. Orang itu membalikkan tubuh James, dia melihat orang tersebut yang wajahnya tidak tampak jelas karena kegelapan. Suaranya begitu kecil, tapi ternyata dia sesungguhnya seorang anak kecil yang sebaya dengannya.

?: “James, kau tidak apa-apa? Bangunlah, (membantu berdiri) keluargamu sudah menunggu di luar.”
James: “Ugh… ternyata kau…”
  

            Kembali ke masa sekarang, di mana Olivia dan Megan masih mencari James dan yang lainnya. Mereka diikuti oleh sesosok makhluk dari atas pohon, Olivia sendiri menyadari hal tersebut. Sambil bicara, mereka meneruskan perjalanan.

Megan: “Dan pada saat itu terjadi, teman James datang menolong dan berhasil membebaskannya. Saat itu yang bisa kulakukan hanyalah menunggu hasil investigasi dari kepolisian setempat, aku tak tahu bagaimana perasaanku saat itu jika dia tidak datang membantu.”
Olivia: “Seharusnya saat itu nona mengucapkan terima kasih padanya.”
Megan: “Benar, pada anak lelaki yang sok detektif itu. Ah… tapi sekarang dia memang sudah jadi detektif ya.” 

            Pada saat itulah, makhluk yang sedari tadi mengawasi mereka menyeruak keluar dan turun dari atas pohon. Makhluk itu mengincar Megan yang sedang lengah, namun hal itu berhasil dicegah oleh Olivia yang menendang perut makhluk itu. Makhluk itu terjungkal ke balik semak-semak, Olivia dalam posisi siaga melindungi Megan.

Megan: “Apa yang…”
Olivia: “Nona Megan, jangan menjauh dari saya.” 

            Makhluk itu bergerak di balik semak-semak di belakang mereka, gerakannya begitu cepat sampai-sampai tidak tertangkap oleh cahaya senter mereka. Suara geraman diiringi dengan langkah kaki mendekati mereka dengan cepat, sepasang tangan mencoba menangkap Megan dari belakang. Olivia yang mengetahuinya dengan sigap menangkap kedua tangan itu, Megan kini berada dalam posisi di antara Olivia dan makhluk tersebut. Megan melihat dua tangan yang bercakar dan berbulu yang ditangkap Olivia, dia terlalu takut untuk membalikkan badan dan melihat.

Olivia: “Nona Megan, tiarap!”

            Megan segera merunduk, makhluk itu hampir menerkam kepalanya. Olivia dan makhluk itu jatuh berguling-guling di tanah, helm senter miliknya lepas dan jatuh, Olivia dalam keadaan ditindih oleh makhluk itu. Makhluk itu mencakar-cakar Olivia, Megan lalu mengambil sebuah tindakan. Dia mengeluarkan sebuah pistol dari dalam tasnya dan langsung menembakkannya ke makhluk tersebut, sebuah panah kecil menancap di bahunya. Perhatian makhluk itu teralihkan pada Megan, dia menatap dengan matanya yang kuning. Megan melihat sosok asli dari makhluk tersebut yang disinari senter, Jaguaron berwarna kuning dengan sebuah ikat leher merah.

Megan: “Macan tutul…? Bukan… manusia…?" 

Jaguaron mencabut panah itu dari bahunya, setelah itu dia menjatuhkannya dan melangkahi Olivia yang pingsan dengan keadaan bajunya robek-robek. Jaguaron itu bersiap untuk menerkam, dia mengambil ancang-ancang. Megan menodongkan pistol itu kepadanya, Jaguaron itu langsung meloncat ke arahnya. Terdengar suara tembakan sebanyak 3 kali, burung-burung beterbangan keluar dari pepohonan bersamaan dengan itu. Suara itu terdengar oleh James dan yang berada tidak jauh dari mereka, namun situasi di tempat mereka jauh lebih buruk. Dua Jaguaron warna hitam dan putih mengepung mereka, James dan Roy mempersenjatai diri mereka dengan batang kayu yang dibakar api.

Roy: “Kalian dengar itu?”
Francis: “Kami dengar.”
Uchida: “Tentu saja aku dengar, memangnya untuk apa kita punya telinga?”
James: “Bukannya kau tak punya telinga?” (melihat Uchida)
Uchida: (jengkel) “…apa kita tidak bisa urus masalah yang lain..."
Roy: “Hei, cepat lakukan tugasmu! Berubahlah dan hajar mereka!”
Francis: “Dari tadi aku ingin melakukan itu, tapi Uchida tak mau mengeluarkan helmnya.”
Uchida: “Mohon maaf, energiku yang tinggal sedikit tidak bisa mengoperasikan sebagian besar anggota badanku. Yang bisa kulakukan hanya mengeluarkan sebagian tangan dan kepalaku, perutku tak bisa dibuka sepenuhnya.”
James: “Kalau kau hisap semua makanan ini apa kau bisa mengeluarkannya?”
Uchida: “Mungkin.”
Roy: “Tunggu sebentar, kenapa helm itu harus dibawa olehmu?”
Uchida: “Sebab tenaganya sedang diisi, sekali pemakaian biasanya akan menghabiskan cukup banyak energi.”
Francis: “Mereka datang.”

            Jaguaron hitam menyerang Francis dan menggigit lehernya, dia terjatuh ke tanah. Cipratan darah keluar dari lehernya, Francis mencoba memukulnya tapi berhasil dihindari. Luka yang dia terima sembuh seketika, Francis kemudian mencabut pohon di belakangnya dan menjadikannya sebagai senjata.

Roy: “Hei, hei, hei, itu berlebihan bukan?”
James: “Lalu bagaimana dengan helmnya? Apa energinya sudah terisi penuh?”
Uchida: “Sebenarnya tidak perlu sampai penuh, helm masih bisa digunakan.”
James: “Kalau begitu cepat keluarkan, energimu sendiri juga belum terisi bukan? Hisap saja semua makanan sampai habis, kita dalam keadaan terdesak sekarang.”
Uchida: “Kalau itu kau tak perlu menyuruhku, akan kulakukan sekarang!”
Roy: (berbisik) “Mungkinkah tembakan itu dari ‘mereka’?”
James: “Kemungkinan besar, dia juga bukan tipe yang penyabar.”
Roy: “Kalau begitu kemungkinan mereka dalam bahaya, kita harus menolong mereka!”
James: “Dan bersiap untuk dimarahi oleh dia?”
Roy: “Ep… itu urusan mudah…" 

            Francis mengayun-ayunkan pohon yang dia gunakan untuk menyerang para Jaguaron, namun mereka terlalu cepat. Uchida saat ini sedang mengisap seluruh makanan yang ada sampai habis, Roy sendiri nyaris kena cakaran dari Jaguaron dan membuat bajunya robek. James masih mencoba mempertahankan dirinya, batang kayu yang dia gunakan patah terkena cakaran. Dia mengambil lagi batang kayu yang baru, Jaguaron putih menyerangnya dari depan. James terjatuh sambil menahan terkamannya dengan batang kayu, Roy segera membantunya dengan memukuli kepala Jaguaron.

Roy: “Lepaskan dia!” 

            Namun sayang baginya, dia ditangkap dengan menggunakan ekor dan dilempar ke sungai. Uchida sudah menghisap habis semua makanan, dia mencoba membuka pintu di perutnya.

Uchida: “Ugh, ini tidak bagus. Pintunya hanya terbuka sedikit, aku perlu sedikit energi lagi.”
Francis: “Uchida! Tidakkah kita punya persenjataan!”
Uchida: “Tidak, senjata yang terakhir digunakan sudah tertimbun di Norwegia. Lebih baik kau tidak memakai sesuatu yang besar untuk melawan mereka, ambil sesuatu yang cukup keras dan kecil untuk melawan mereka.”
Francis: “Keras dan kecil?” (melihat panci)
Uchida: “Ya, itu juga bisa.” 

            Francis menjatuhkan batang pohon yang dia pegang dan segera mengambil panci, dia langsung memukulkannya ke Jaguaron hitam yang menyerangnya dari belakang. Pukulan Francis mengenai dagunya dan membuatnya terpental, Francis kemudian melempar panci ke kepala Jaguaron putih. Lemparannya membuat beberapa giginya tanggal, James berhasil membebaskan dirinya dari terkaman. James mengambil panci yang tadi dilempar Francis dan berlari menuju dia, mereka berdiri sambil memunggungi diri.

James: “Hei, katakan padaku. Apa mereka cyborg?”
Uchida: “Tidak, mereka biologis. Tercipta dari hasil rekayasa genetic, mereka dikirim dari laboratorium.”
Francis: “Bagaimana kau bisa tahu mereka dikirim dari laboratorium?”
Uchida: “Lihat di leher mereka, ada kalung dengan lampu yang berkedip-kedip bukan? Itu berarti mereka dikirim untuk menjalankan sebuah tugas, kemungkinan mereka berniat menangkap kita.”
Roy: “Kalau memang berniat menangkap, kenapa kita nyaris dibunuh?!”
James: “Mungkinkah… perintah yang diberikan mereka adalah menangkap kalian… dan membunuh sisanya?”
Uchida: “Mungkin.” 

            James berpikir sejenak, dia meletakkan panci perlahan ke tanah. Setelah itu dia berjalan ke hadapan para Jaguaron, setelah itu dia duduk berlutut.

James: “Bawa aku pada pimpinan kalian.”
Roy: “Apa?! James, jangan!”
Uchida: “Apa maksudmu?!”
Francis: “Tunggu, lihat.”

            Kedua Jaguaron itu sama sekali tidak menyerang James, mereka mengendus-endus tubuhnya. Setelah itu James berdiri, tubuhnya diangkat oleh Jaguaron hitam dan didudukkan di atas kepalanya.

Roy: (heran) “Hah?”
James: “Humpty Dumpty, kau pernah mengatakan bahwa mereka menganggap semua yang ada di dunia ini adalah sampah daur ulang. Tak perduli mereka hidup atau mati, mereka akan menggunakan kita bukan?”
Francis: “…..”
James: “Ketika melihat keadaan sekitar aku jadi tahu apa sebenarnya tugas mereka, kau heran kenapa dari tadi mereka tidak menyentuhmu?”
Uchida: “Kau benar.”
James: “Dan sekarang ini aku menghadapi mereka tanpa perlawanan dan mereka tidak menyerangku, saat itu Francis langsung diserang karena memang itu sudah tugas mereka sejak awal.”
Francis: “Begitu, aku paham.”
Uchida: “Ah, ya.”
Roy: “Seseorang bisa jelaskan maksudnya?”
James: (mendesah) “Karena itu maksudku adalah… tugas mereka hanyalah membawa kita semua ke laboratorium, jika ada yang melawan maka tindakan ekstrim akan dilakukan.”
Francis: “Mereka sudah memperhitungkan jika aku takkan ikut mereka dengan baik-baik, jadi aku diserang lebih dulu.”
Uchida: “Ketika James dan kau membawa barang untuk dijadikan senjata, mereka menganggapmu akan melakukan perlawanan. Jadi tindakan yang tepat memang menyerahkan diri pada musuh, dengan begitu kita bisa mengetahui apakah mereka memiliki mesin waktu atau tidak."
Roy: “Semudah itu? (meletakkan batang kayu) Hahahaha, kenapa tidak dari a…”

            Jaguaron putih langsung menyambar Roy dan membawanya kabur dengan menggigit bajunya, dia berteriak kencang sekali. Bagian belakang leher Francis digigit oleh Jaguaron hitam, dia berlari menyusul Jaguaron putih. Kedua Jaguaron itu pergi membawa Francis, James dan Roy, namun Uchida ditinggalkan begitu saja di tengah hutan.

James: “Hei, kau tidak apa-apa?”
Francis: “Aku masih hidup, hampir.”
James: “Aku lupa bilang kalau mereka mungkin juga harus secepatnya membawa kita.”
Uchida: “Oi! Kenapa aku ditinggal?!”

            Setelah kedua Jaguaron pergi, sesuatu terbang di angkasa dan mengangkat Uchida. Dia terbang melayang dan dibawa masuk ke dalam semacam pesawat kecil, di dalamnya dia bertemu langsung dengan Alvon. Pria berkursi terbang, orang yang sudah tua, berkepala botak di tengah, memiliki rambut di kedua sisi kepalanya, berdagu belah, dan memakai goggle.

Alvon: “Coba lihat ini, Profesor Uchida.”
Uchida: “Dokter Alvon! Jadi kau yang menjalankan fasilitas ini?!”
Alvon: “Maaf, tapi ini adalah kendaraan khusus untukmu. Rekan-rekanmu akan diantar langsung ke laboratoriumku, kau akan pergi bersamaku ke fasilitas pribadiku.”
Uchida: “Kau mau menyerahkanku?”
Alvon: “Sebenarnya aku ingin membuat kesepakatan.”
Uchida: “Untuk apa aku mau bekerja sama denganmu?”

            Alvon menekan sebuah tombol di kursinya, sebuah pipa panjang keluar dan menusuk lubang bagian belakang bawah tubuh Uchida.

Uchida: “AIIIGH!!!”

            Ekspresi Uchida jadi tidak karuan, matanya melotot keluar. Pipa itu memasukkan cairan hijau bercahaya ke dalam tubuhnya, meteran di badan Uchida meningkat naik sampai penuh. Setelah proses selesai, pipa itu dicabut. Tubuh Uchida berubah bentuk menjadi mode tempur, dia menodongkan semua senjatanya kepada Alvon. Tapi dia tenang saja walau ditodong, dia hanya tersenyum simpul.

Uchida: “Kau mengisi tubuhku dengan Ulkamium cair, apa maksudnya ini?”
Alvon: “Seperti yang kumaksud, membuat kesepakatan.”
Uchida: “Apa yang kau mau?”
Alvon: (menyeringai) “Evolusi.”

No comments:

Post a Comment