LABORATORIUM
Pulau misterius di Samudra Atlantik,
16 Oktober 2010, 21:00. Di sebuah lorong penjara yang dijaga oleh beberapa
Jaguaron, James dan Roy dikurung dalam sebuah sel. Roy berdiri sambil memegang
terali besi sekaligus mengamati keadaan di sekelilingnya, sel-sel di sekitar
mereka kebanyakan berisi makhluk-makhluk aneh sejenis dengan Jaguaron.
Roy:
“Lagi-lagi kita dikurung.”
James:
“Maaf, ralat. Terakhir kali hanya kau yang dikurung, saat itu aku bisa
meloloskan diri dari pengejarku.”
Roy:
“Lalu apa rencanamu setelah ini? Francis dibawa ke ruang terpisah, Humpty
Dumpty tak diketahui keberadaannya.”
James:
“Kita tunggu selama 5 menit.”
Roy:
“Dan apa yang akan kau lakukan selama 5 menit itu?”
James:
“Zzzzzz.” (tidur)
Roy:
(bengong) “…terserah kau saja…”
Di sebuah laboratorium, Francis saat
ini dalam keadaan terikat. Kedua tangan dan kakinya dibelenggu oleh rantai yang
dipasang di tembok, saat itulah Alvon beserta Uchida yang kini dalam wujud
normal masuk. Tidak tampak terkejut, Francis hanya memandangi mereka dengan
sinisnya.
Uchida:
“Francis.”
Alvon:
“Menjaga subyek tetap hidup adalah tugas dari ilmuwan sepertiku, saat ini dia
sedang dipindai. Jadi jangan lakukan hal bodoh, kita masih dalam kesepakatan.”
Uchida:
“Tentu tidak, lalu bisa cepat kau beritahu apa yang kau inginkan?”
Alvon:
“Sebelum itu… bukankah ada yang harus kau katakan padaku terlebih dulu?”
Uchida:
“Memang apa yang harus kubicarakan?”
Alvon:
“Ingatlah, jika bukan karena diriku… beberapa organ dalam tubuhmu yang masih
berfungsi tidak akan bisa kaupakai sampai sekarang.”
Uchida:
“Oh, yang itu. Benar, terima kasih. Sudah berapa lama itu terjadi, 210
tahunkah?”
Alvon:
“212 tahun, dan kau masih ingat organ bagian mana yang masih ada di tubuhmu
sampai saat ini?”
Uchida:
“Jantung, paru-paru kanan, dan otakku. Walau bagian tubuhku terpisah-pisah,
tapi aku sudah melengkapi kekurangannya dengan organ buatan.”
Alvon:
“Sekarang mari kita kembali ke pokok utama, seperti yang kau lihat kita berada
di laboratorium cabang ke 32.”
Alvon menekan beberapa tombol di
kursinya, tembok-tembok di sekitarnya terbuka. Banyak tabung berisi
makhluk-makhluk eksperimen, salah satunya adalah Drake dalam wujud monsternya.
Uchida:
“Dia…!! Tapi itu mustahil… apa ini klon?”
Alvon:
“Tentu tidak, mari kuperkenalkan padamu sekali lagi. Drake, mutan reptile,
kemampuannya berganti kulit, memanjat dinding, dan membelah diri. Dia baru
dikirim kemari setelah kalian menghancurkan tambang Ulkamium, untuk
pengobatan.”
Uchida:
“Tapi aku saat itu melihatnya mati.
Alvon:
“Yang saat itu kau lihat adalah bagian tubuhnya, kemampuannya meningkat pesat
setelah mengkonsumsi ‘Absorber’. Ketika tubuhnya terpisah-pisah, dia membuat
potongan tubuhnya bergerak dan menyatu dengan sendirinya. Selama kepalanya
tidak hancur hal itu bisa terjadi, dan lihatlah keempat matanya. Ketika kau
bertemu dengannya saat lepas kendali, apakah semua matanya hijau?”
Uchida:
“Tidak, dia punya dua pasang mata, merah dan hijau.”
Alvon:
“Mutan bodoh ini juga mengkonsumsi Ulkamium secara utuh, dia kecanduan dan
lepas kendali. Dia berbagi penglihatan dengan tubuh belahannya, mata merah
adalah matanya yang asli. Dia melihat apa yang dilakukan dengan tubuh
belahannya dengan mata yang hijau, tapi itu tidak membuatku terkesan sama
sekali.”
Uchida:
“Aku paham sekarang, tapi kenapa dia
terlihat tersiksa?”
Alvon:
“Tentu saja, kau pikir semua pengobatan yang kuberikan takkan memberikan rasa
sakit? Ini hanya efek awal, pemulihan akan terjadi setelah Gurkanite di dalam
tubuhnya menguasai seluruh tubuh.”
Uchida:
“Tunggu… Gurkanite katamu? Tapi jika kau masukkan itu ke dalam tubuh, biasanya
akan berakhir dengan pembusukan.”
Alvon:
“Itu karena kau langsung pergi setelah subyek yang kau lihat dalam percobaan
pertama mati, itu tidak sepenuhnya benar. Biar kutunjukkan lanjutan fase terakhir
dari sebuah evolusi 200 tahun yang lalu, kita mulai?”
Alvon menekan sebuah tombol, kali
ini sebuah layar raksasa muncul di hadapan mereka. Sebuah video diputar, ada
adegan di mana seseorang berteriak kesakitan. Tubuhnya mengering, kulitnya
mengelupas, nanah keluar dari sekujur tubuhnya, beberapa bagian tubuhnya putus
dan pecah ketika jatuh ke tanah. Teriakan kesakitan itu berhenti, yang tersisa
dari orang itu hanyalah gumpalan nanah yang membungkus seluruh tubuhnya.
Alvon:
“Ini yang terjadi 5 menit kemudian setelah kau pergi.”
Adegan dipercepat 5 menit ke depan,
gumpalan nanah itu kini mengeras. Beberapa orang dengan masker dan baju
pelindung memeriksa keadaan, mereka menyalakan alat bor dan mulai melubangi
gumpalan itu. Namun sebelum itu terjadi, gumpalan itu bergetar sedikit. Mereka
berhenti dan menjauh perlahan, kecuali satu orang. Ternyata tangannya menempel
begitu kuat karena gumpalan itu, dia berusaha keras untuk melepaskannya.
Getaran semakin lama semakin keras, orang itu mulai panik dan akhirnya
melepaskan diri dengan melepas sarung tangannya. Orang itu jatuh ke lantai,
getaran berhenti bersamaan dengan itu. Orang itu heran dan segera berdiri, dia
mengambil semacam tongkat dan menyodok-nyodok gumpalan itu. Tak terjadi apapun,
orang itu kemudian bernafas lega. Tapi tidak lama kemudian, sebuah duri keluar
dari dalam dan menusuk dada orang itu. Dia tewas di tempat, duri-duri yang lain
mulai keluar dari gumpalan. Gumpalan itu pecah karena duri-duri itu, sebagai
gantinya keluarlah sebuah bola berduri. Bola itu menggelinding membabi buta ke
segala arah, melindas orang-orang di dalam ruangan. Video itu kemudian
dimatikan, Alvon bergerak ke sebuah tabung.
Alvon:
“Dan inilah subyek pertama yang kau anggap gagal, (menekan tombol) beri salam
kepada Warhedge.”
Tabung itu terbuka, cairan beserta
sebuah bola berduri seukuran manusia keluar dari dalamnya. Bola berduri itu
kini bergerak dan mulai berubah, dua pasang kaki keluar dari dalamnya, berikut
ekor, dan sebuah kepala. Makhluk itu memiliki sepasang taring yang mencuat
keluar dari rahang bawah, moncong tikus, lalu kaki dan ekor yang pendek seperti
kura-kura. Tubuhnya ditangkap oleh sebuah tangan robot yang besar, makhluk itu
berontak dan diangkat ke hadapan Alvon.
Alvon:
“Aku sengaja menyimpan dia untuk suatu saat nanti diperlihatkan kepadamu,
sekarang tenanglah.”
Alvon menyuntikkan Ulkamium cair ke
leher Warhedge, dia menjadi tenang secara perlahan. Lehernya dipasangkan sebuah
ikat leher dengan lampu yang berkedip-kedip, Alvon mengetikkan perintah di kursinya.
Warhedge berubah bentuk menjadi bola berduri dan menggelinding menuju Francis,
dia kembali lagi ke wujud asal. Secara tak terduga, dia menembakkan duri-duri
dari tubuhnya kepada Francis yang tak berdaya. Tubuh bagian depan mulai dari
kaki sampai dadanya tertusuk oleh duri, Francis tak berteriak tapi wajahnya
menunjukkan ekspresi kesakitan.
Uchida:
“Apa yang kau lakukan?!”
Alvon:
“Hanya sekedar demonstrasi, aku tahu dia memiliki kemampuan regenerasi. Tidak
usah marah, sebab prioritas Alterion adalah subyek ini harus diserahkan dalam
keadaan hidup. Aku tak bermaksud untuk mengambil bagian tubuhnya, jadi jika
hanya terluka sedikit tidak masalah bukan? Jadi bagaimana menurutmu?”
Uchida:
“Dia… (melihat Warhedge) apa dia bisa bicara?”
Alvon:
“Sayangnya tidak… sampai sejauh ini semua subyek yang disuntikkan Gurkanite,
otaknya tidak bekerja sepenuhnya. Mereka liar, sama halnya seperti hewan yang
tinggal di hutan. Tapi jika mengenai kemampuan berbicara, ada beberapa yang
bisa dan kusimpan di dalam situ. (menunjuk tabung) Tapi itu juga adalah sebuah
kesalahan, lebih baik jika mereka dibiarkan tidak memiliki pikiran.”
Uchida:
“Kau takut jika mereka akan belajar untuk melawan?”
Alvon:
“Tepat sekali, seperti halnya Velociraptor. Mereka mempelajari mangsa sebelum
memburunya, tentu kita tidak mau jika suatu saat itu akan terjadi bukan?”
Uchida:
“Tapi kau pasti tetap menyerahkan yang seperti itu pada mereka.”
Alvon:
(menelan ludah) “…eheheheh, kau bisa menebak sampai sejauh itu… Memang benar
aku hanya sedikit mempekerjakan mereka yang punya kecerdasan seperti kera, kau
bisa menemui beberapa dari mereka di luar sana.”
Uchida:
“Termasuk dengan 2 Jaguaron yang menangkap Francis dan yang lain? Pintar
sekali, kau sudah menunjukkan apa yang ingin kau tunjukkan. Lalu apa sebenarnya
tujuan ‘evolusi’-mu itu?”
Alvon:
“Aku ingin kau melihat diriku baik-baik, apa yang kau lihat?”
Francis:
“Cuma tua bangka yang duduk di sebuah kursi.”
Uchida:
“Jangan pedulikan dia… aku…”
Alvon:
“Katakanlah…”
Uchida:
“Kau…”
Alvon:
“Lemah?”
Uchida:
“Tidak… hanya…”
Alvon:
“Rendahan?”
Uchida:
“Bukan… lebih tepatnya…”
Alvon:
“…katakan…”
Uchida:
“Rusak.”
Alvon:
(bertepuk tangan kecil) “Bagus, bagus, kau mengatakannya dengan jujur.
Sebelumnya aku adalah ketua penelitian bio organisme untuk laboratorium cabang
ke 9, aku dirusak oleh beberapa bawahanku saat usia mulai menggerogoti tubuhku.
Tebakan yang bagus, kursi yang kududuki ini adalah satu-satunya yang
membelengguku di dalam sini.”
Uchida:
“Aku turut bersimpati.”
Alvon:
“Tidak perlu… memang apa yang bisa dilakukan seseorang hanya dengan simpati?
Pada saat masa kejayaanku, kekuatanku bisa saja membuatku bebas dari kursi ini.
Tapi itu mustahil sama sekali untukku sekarang, tubuh ini sudah rapuh.”
Uchida:
“Mereka menyuntikkan Gurkanite padamu juga, sungguh ironis. Pencipta kini
melemah oleh hasil karyanya sendiri, selama ini Gurkanite digunakan untuk
menambah kekuatan mutan yang terkena phase ‘Venom’. Tapi saat itu sendiri, kau
tak mengalami phase ‘Venom’ bukan? Jadi aku bisa menebak, kau terkena rayuan
dari bawahanmu untuk mencoba sendiri Gurkanite ketika kekuatanmu mulai
menurun.”
Alvon:
“Aku tak terkena rayuan mereka! Itu jebakan, mereka sudah tahu tak ada gunanya
jika mutan yang rapuh sepertiku dipekerjakan! Dan kau salah jika aku tak
meneliti semua kemungkinan untuk mengembalikanku seperti sedia kala, ikut aku.”
Kembali ke ruangan penjara, seekor
Jaguaron kuning baru saja masuk sambil membawa seseorang di tangan kirinya.
Orang itu memakai semacam mantel yang menutupi seluruh tubuhnya, Jaguaron
kuning bertemu dengan Jaguaron putih dan melewatinya begitu saja. Dia kemudian
berhenti di sel tempat Roy dan James disekap, Jaguaron itu menundukkan
kepalanya. Ikat lehernya memindai pintu sel, nampaknya itu adalah semacam
kunci. Roy langsung mundur dari terali ketika pintu itu dibuka, Jaguaron itu
masuk dan meletakkan seseorang di hadapan Roy.
Roy:
“James, bangun. Mereka memasukkan seseorang ke sel kita.”
James:
“Hm, (mengangguk) periksa dia masih hidup atau tidak.”
Roy:
“Apa?! Hei, aku tidak mau ambil resiko diterkam oleh harimau itu.”
James:
“Itu Jaguar bodoh, tenanglah. Mereka takkan menyerang selama kita tidak berbuat
sesuatu pada mereka.”
Roy:
“Kau yakin?”
James:
“Taruhan dengan asuransi jiwamu, aku yakin itu.”
Jaguaron itu hanya diam berdiri
memandangi mereka, Roy perlahan mendekati orang itu. Dia membuka mantelnya,
terlihat seorang manusia dengan badan tengkurap. Ketika Roy membalikkan
badannya, dia melihat Olivia tersenyum simpul di hadapannya. Wajah Roy terlihat
kaget dan ingin berteriak tapi tidak bisa, kejadian itu berlangsung selama
semenit.
Olivia:
“Sampai kapan wajahmu akan seperti itu?”
?:
“Ternyata kau di sini, kakakku yang bodoh.”
James:
“Senang bisa mendengar suaramu lagi, (bangun) Maggie.”
Megan:
(duduk di atas bahu Jaguaron) “Yang benar Megan, aku sudah bukan anak kecil
lagi.”
James:
“Kalau aku tidak memanggilmu begitu berarti kau bukan keluargaku, tapi kau
tepat waktu menjemputku.”
Megan:
“Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang menahanmu?”
James:
“Akan kujelaskan saat kita berjalan, hanya saja ada 1 pertanyaan. Bagaimana kau
bisa menjinakkannya?” (melihat Jaguaron)
Megan:
“Ah, itu…”
Kembali pada kejadian di mana Megan
hendak diserang oleh Jaguaron, semua tembakan yang diletuskan Megan tidak
mengenainya sama sekali. Jaguaron itu bergerak sangat cepat dan kini sudah
berada di belakangnya, Megan didorong jatuh olehnya. Tas ransel yang dia
kenakan digigit dan robek oleh terkaman Jaguaron, Megan melepaskan dirinya
dengan melepaskan ransel yang dia kenakan. Dia berlari menuju Olivia yang
terkapar tak berdaya, bajunya compang-camping karena cakaran Jaguaron.
Megan:
“Olivia, kau tidak apa-apa?”
Olivia:
“Ugh, hanya luka kecil…”
Megan:
“Biar kubantu kau berdiri, kita lari selagi makhluk itu lengah.”
Olivia:
“Saya bisa berdiri sendiri, (berdiri) kita harus segera menghubungi…”
Megan:
“Tapi… ponselku ada di tas yang digigit makhluk itu sekarang…”
Olivia:
“Kalau begitu kita lari sejauh mungkin, sebelum makhluk itu…”
Belum sempat menyelesaikan
perkataannya, Jaguaron sudah berdiri di belakang Megan. Olivia segera menarik
Megan ke belakangnya, dia mencoba untuk melindunginya. Jaguaron itu membuka
mulutnya lebar-lebar di hadapan mereka, Megan memejamkan matanya rapat-rapat.
Beberapa saat kemudian, Megan merasakan sesuatu yang basah dan hangat di
wajahnya. Dia perlahan-lahan membuka matanya, Jaguaron itu menjilati mereka
secara bergantian. Dia mendekatkan kepalanya ke Megan dan mengusap-usapnya ke
tubuhnya, setelah itu dia duduk dan menunjukkan sesuatu yang dia gigit dengan
mulutnya. Sebungkus keripik kentang yang diambil dari tas ransel Megan, Megan
yang menyadari apa yang dimaksud Jaguaron segera mengambil sebuah keripik
kentang dari dalam sakunya. Dia mengayun-ayunkannya ke atas, kepala Jaguaron itu
mengikuti gerakan tangannya yang memegang keripik. Megan lalu melemparkan
keripik itu ke atas, Jaguaron itu dengan sigap meloncat dan melahapnya. Kembali
ke masa sekarang, di mana James beserta yang lain menyelinap keluar dari
penjara dengan naik di atas Jaguaron.
Megan:
“Dan begitulah ceritanya.”
James:
“Kau beruntung dia tidak menggigitmu.”
Megan:
“Terima kasih, aku boleh bawa dia pulang?”
James dan yang lain: “Tidak!”
Suara keras mereka memancing
perhatian dari Jaguaron hitam yang berada tidak jauh dari mereka, dia berjalan
perlahan dan menghampiri Jaguaron kuning. Dia hanya melihatnya berdiri dengan
kedua kakinya, mereka saling mengendus satu sama lain. Setelah itu Jaguaron
hitam langsung pergi, meninggalkan Jaguaron kuning yang ternyata menyembunyikan
James dan yang lain di belakang tubuhnya yang besar. Megan bergelantungan di
belakang lehernya, Olivia dan Roy berpegangan pada punggungnya, sementara James
dibawa menggunakan ekor. Mereka semua diturunkan setelah Jaguaron hitam itu
lenyap dari pandangan, terduduk dengan keadaan lesu.
Olivia:
“Kita tak bisa terus-terusan begini.”
Roy:
“Tapi cara keluar dari sini memang harus diam-diam.”
James:
“Tapi aku lebih suka kalau ada elemen kejutan.”
Roy:
“Kau mau buat kita terbunuh?”
Olivia:
“Setidaknya di tempat ini pasti ada saluran udara atau mungkin got agar kita bisa
keluar.”
James:
“Kenapa kita tak berunding saja dahulu di suatu tempat yang sunyi sebelum
keluar dari sini?”
Roy:
“Ide bagus.”
Beberapa saat kemudian, James dan
yang lain saat ini duduk melingkar di dalam sebuah ruangan. Hanya saja Roy
tidak terlihat begitu senang, Jaguaron kuning berada di luar ruangan menunggu
mereka.
Roy:
“James, aku akui jika engkau mendapat tempat yang sunyi untuk merencanakan
bagaimana kita keluar dari sini. Tapi… kenapa kita harus kembali lagi ke sel?!”
James:
“Memangnya kau tahu tempat aman yang lain?”
Roy:
“…tidak…”
Olivia:
“Kita bahkan belum mengetahui seluk beluk dari tempat ini, bisa saja kita
tersesat.”
Roy:
“Kenapa tidak minta diantar saja oleh ‘makhluk terserah kau sebut apa’ ini?”
Megan:
“Maaf, sebenarnya tadi aku hanya minta mengantar dia untuk menemui James. Jadi belum
terpikir sampai ke situ, tapi kau pasti sudah punya rencana bukan?” (melihat
James)
James:
“Tentu ada, pertama seseorang harus pergi bersama dengan si jaguar untuk
menelusuri seluruh tempat. Kita tak bisa pergi sekaligus karena akan sangat
mencolok jika dia terlihat dinaiki oleh beberapa orang, satu orang setidaknya
cukup.”
Megan:
“Kalau begitu biar aku saja, Jaggy dan aku bisa melakukannya.”
James
dan yang lain: (menatap dengan bengong) “……”
Megan:
“Ke… kenapa?”
Olivia:
“Tidak, tapi…”
Roy:
“Kau beri dia nama?”
James:
“Kedengaran agak… kampungan.”
Megan:
“La… lagipula aku tidak mungkin menyebut dia ‘tolol’ atau semacamnya bukan?”
Roy:
“Lalu apa dia terima kalau dia sendiri dipanggil begitu?”
Megan:
“Jaggy, kemarilah.”
Jaguaron itu membuka pintu dan masuk
ke dalam, dia berdiri dan berhenti di hadapan Megan. Megan memberinya isyarat
dengan tangannya, dia menepuk lantai. Jaguaron itu kemudian berbaring, Megan
lalu membalikkan telapak tangannya di lantai. Jaguaron itu kini terlentang,
setelah itu Jaguaron berdiri ketika Megan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Megan:
“Bagaimana?”
James:
“Mari kita jalankan rencana.”
No comments:
Post a Comment