Wednesday, March 13, 2013

Level 13


PEKERJAAN

Oslo, Norwegia, 13 Oktober 2010, 11:00. Di sebuah lembaga permasyarakatan, ada dua orang yang sedang tidur dan mendekam di penjara. Seorang sipir mendatangi sel mereka dan mengetuk jeruji dengan pentungan yang dia bawa, dua orang itu terbangun. Ternyata mereka adalah Albert dan Jacques, sang sipir membuka sel dan segera menyuruh mereka keluar. Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di luar lembaga permasyarakatan dengan pakaian bebas. Sebuah mobil limosin berhenti di depan mereka, pintu mobil depan terbuka dan seorang supir bersetelan dan bertopi hitam keluar dari dalam. Albert dan Jacques keheranan melihatnya, orang itu kemudian membukakan pintu belakang mobil.

Supir: “Masuklah ke dalam, kalian sudah ditunggu.”
Albert: “A... ada perlu apa? Apa bos... bukan, maksudku yang menunggu adalah Francois?”
Jacques: “Maaf, tapi kami sudah berhenti bekerja pada Francois.”
Supir: “Masuk saja dan kalian akan tahu, kita harus secepatnya berangkat.”

Mereka berdua lalu masuk ke dalam mobil, orang itu kemudian menutup pintu dan kembali ke bangku pengemudi. Mobil itu langsung beranjak dari tempatnya, dengan diikuti dua sepeda motor. Albert dan Jacques kini berhadapan dengan seseorang yang sedang asyiknya main PSP, Albert dan Jacques sendiri hanya bisa menoleh ke kanan dan ke kiri sambil melihat-lihat bagian dalam mobil.

Jacques: “Permisi, apa kau juga dipanggil?”
Albert: “Sebenarnya kami mau dibawa ke mana?”
?: “......”
Albert: “Apa kau orang suruhan mantan bos kami?”
Jacques: “Permisi, apa kau dengar?”
?: “......”
Albert: “Apa dia tuli?”
Jacques: “Entah, apa kita perlu teriaki dia?”
Albert: “Coba kau hampiri dia.”
Jacques: “Baiklah.” (hendak menyentuh orang tersebut)
?: “Don't touch me, please.” (tolong, jangan sentuh aku)
Jacques: “Oooh, dia berbahasa Inggris karena itu tak paham perkataan kita.”
Albert: “Repot juga, jadi kita harus menunggu sampai tempat tujuan kita.”
Jacques: “Coba, kutanya sedikit bahasa Inggris. Name?”
?: “Quiet, please.” (tolong, diam)
Jacques: “Kuwait? Nama yang aneh?”
Albert: “Bukan, rasanya kau disuruh diam.”
?: “What the...?” (apa yang...?)
Albert: “Sepertinya dia sedang bermain.”
Jacques: “Gameboy, ya? Dia main apa?”

Jacques sedikit berdiri dan melihat PSP yang dimainkan orang itu, namun di layarnya kurang terlihat jelas. Perlahan Jacques mendekatinya dan kepalanya ditengadahkan ke atas dan matanya melirik ke bawah. Game yang dimainkannya sedikit kelihatan, namun masih kurang jelas. Jacques kemudian membungkuk dan menurunkan kepalanya untuk melihat, ternyata dia memainkan game RPG. Mendadak mobil direm mendadak karena ada anak kecil berlari di depannya, bersamaan dengan itu kepala orang yang bermain PSP itu terbentur oleh kepala Jacques yang terlalu dekat ketika dia sedang mengamati PSP.

Jacques: “Argh!”
?: “Auch!! What the heck're you doin?!” (Aduh!! Apa yang kau lakukan?!)
Supir: “Sorry boss, there is a little children running in the front.” (Maaf bos, ada anak kecil berlari di depan)
?: “I'm not askin you, but him.” (aku tak bertanya padamu, tapi dia)
Jacques: “Maaf, maaf, kau tak apa?”
?: (melihat PSP) “Aw, shoot! Another failure, I must load it again!” (ah, sial! Gagal lagi, aku harus meloadnya lagi!)

Orang itu kemudian mematikan PSP-nya dan meletakkannya di dalam ransel, orang itu kini melihat Albert dan Jacques. Dia kemudian menekan sebuah tombol di pintu mobil, sebuah woofer muncul dari bawah bangku. Dia kemudian menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, orang itu sendiri ternyata adalah James.

James: “Apa yang sebenarnya kau lakukan?”
Jacques: “Dia bicara bahasa kita, kenapa baru sekarang?”
Albert: “Bodoh, bukan. Yang bicara bukan dia tapi dari sana, (menunjuk woofer) sepertinya itu menerjemahkan perkataannya.”
Jacques: “Benarkah, coba kau bicara sekali lagi.”
James: “Salah siapa ini? Kenapa kepalamu malah berada di depan kepalaku?”
Jacques: “Ah, aku cuma penasaran dengan game yang kau mainkan di gameboy itu.”
James: “Monster Hunter, dan itu bukan gameboy tapi PSP. Ah, tapi itu kan hanya game. Kita langsung saja bicara ke intinya, mula-mula mengenai nama. Namaku James Yorgins, aku yang membebaskan kalian.”
Albert: “Yorgins? Sepertinya aku pernah dengar.”
Jacques: “Namamu mirip dengan nama orang yang memimpin sebuah perusahaan elektronik, kalau tak salah TDG.”
James: “Sebenarnya yang memimpin adalah ayahku, dan namanya adalah Henry.”
Jacques: “Oh, ayahmu...”
Albert: “Tunggu! James Yorgins yang dikenal sebagai playboy jutawan itu?”
Jacques: “Kau tahu?”
Albert: “Jelas aku tahu! Kemanapun dia pergi banyak wanita yang selalu mengikutinya, selain itu dia juga terkenal kaya!”
Jacques: “Wah, hebat! Jadi kau pemimpin perusahaan?”
James: “Apa hanya itu saja yang dikenal dari diriku? Aku tak selalu dikelilingi oleh wanita kemanapun aku pergi, sekarang ini di sekitarku hanya ada laki-laki seperti yang kalian lihat. Sudahlah, aku membebaskan kalian karena ada sesuatu yang harus kalian ceritakan.”


Sementara itu Francis sedang menjalani pelatihan di dalam Crimson Dimension, Uchida sendiri sedang tidur dengan pulas di kursi santainya. Francis yang sudah dalam keadaan memakai baju tempurnya kini berhadapan dengan selusin pedang yang melayang-layang, seluruh kristal di dalam tubuhnya memerah. Kristal di kedua bahunya mengumpulkan serpihan-serpihan merah dan membentuk senjata, dengan cepatnya dia mengambil kedua senjata itu dengan kedua tangannya. Senjata itu sendiri adalah sepasang pisau bergerigi, Francis sendiri mulai memasang kuda-kuda. Pisau itu dipegangnya dalam keadaan terbalik, keadaan sejenak menjadi hening. Sepasang mata kuning mendadak muncul dari lensa, bersamaan dengan itu pedang-pedang di sekitarnya mulai menyerang. Serangan datang dari depan dan belakangnya, Francis dengan cepatnya menangkis semua serangan dengan pisau. Beberapa menyerang dari bawah, namun berhasil dihindarinya dengan melompat. Dua buah pedang masing-masing datang dari dua arah secara bersamaan, nyaris mengenai pinggul.

Francis: “Hampir saja.”

Dua pedang yang barusan menyerangnya patah, di kedua sikutnya kini muncul sepasang pisau yang menempel. Flashback ketika kedua pedang menyerangnya dalam gerakan lambat, ternyata Francis menciptakan pisau di sikutnya ketika menghindar dan serangan hampir mengenai pinggulnya. Dia berputar ketika diserang, serangan pisau sikut itu menggores bilah pedang dan membuatnya terpotong. Sekarang ada tiga pedang dengan ujungnya mengarah pada Francis, berputar-putar mengitarinya.

Francis: “Mari kita coba sesuatu yang baru.”

Francis kini membuang kedua pisaunya, mengubahnya menjadi serpihan dan menyerapnya. Francis menyilangkan kedua lengannya di depan kepala, kini tiga pedang itu mulai terbang menerjang Francis. Begitu cepatnya serangan itu sehingga tak bisa dilihat oleh mata telanjang, tapi tidak semuanya mengenai bagian tubuh Francis. Dia merunduk sedikit kemudian kembali berdiri, posisi ketiga pedang itu hampir menyentuh lehernya dan membentuk segitiga. Mendadak pedang-pedang itu terpotong-potong menjadi beberapa bagian kecil, kini di kedua tangan Francis ada semacam cakar di semua jari-jarinya. Beberapa bilah pisau juga muncul di pundak, sikut, lutut, tumit, serta ujung kakinya. Matanya yang kuning kembali menyala, dia mulai menyerang semua pedang yang tersisa. Dia memutar badannya terus menerus sehingga membuat bilah pisau terbang ke segala arah, semua pedang yang tersisa ada yang pecah ataupun terpotong. Francis menghentikan putarannya, menghilangkan semua senjata yang ada di tubuhnya. Setelah itu Francis menekan tombol di dadanya dan memutarnya, membuat seluruh kristal di tubuhnya menguning. Setelah itu dia membusungkan dadanya dan menembakkan sinar dari dadanya, membuka sebuah portal menuju dunia nyata. Francis masuk ke dalam dan dalam sekejap sampai di ruangan tempat Uchida sedang tidur mendengkur, dia diam sejenak kemudian rubuh ke lantai. Uchida terbangun karena kaget, dia langsung berdiri dan melihat Francis dalam keadaan tengkurap.

Uchida: “Kau tak apa-apa?”
Francis: “Biarkan aku seperti ini, kepalaku pusing.”
Uchida: “Tentu saja, kau kan masih memiliki separuh bagian manusia dalam dirimu. Menjadi Cyborg itu bukan berarti kau tidak bisa merasakan semua yang kau rasakan, aku sendiri sudah tidak bisa merasakan bagaimana rasanya dingin atau panas kecuali di bagian wajah.”
Francis: “Ya, benar. Tapi kau beruntung masih bisa menikmati makanan dan minuman dari mulutmu, walau kau tak punya leher.”

Uchida membalikkan badan Francis, menekan tombol di dadanya dengan jari tengah tangan kirinya. Dalam sekejap Francis sudah tidak dalam keadaan memakai baju tempur, Uchida langsung menyetrum dahi Francis dengan jempolnya.

Francis: “AAAAUUW!! Itu kan kenyataannya! Kenapa kau malah marah?!”
Uchida: “Ya, memang aku bisa makan semua makanan itu. Tapi apakah kau sudah tahu bagaimana caraku makan dan minum?”
Francis: “Tidak.”
Uchida: “Gadis kecil itu tak memberitahumu?”
Francis: “Claudia? Tidak.”
Uchida: “Biar kuperlihatkan, ambilkan sebotol cola yang ada di belakangmu.”

Beberapa saat kemudian, Uchida duduk bersila di hadapan sebotol Cola. Dia menarik nafas sejenak dan membuka pintu di dadanya, sebuah selang mendadak keluar dan masuk ke dalam mulut botol. Dalam hitungan detik, botol Cola di hadapannya kini kosong melompong dan penyok. Selang itu kemudian kembali masuk ke dalam, pintu di dadanya kemudian ditutup.

Uchida: “Kau sudah lihat?”
Francis: “Ya.” (wajah kaku)
Uchida: “Kau itu tak bisa sedikit kaget ya?”
Francis: “Lantas jika aku melihat itu aku harus berjalan dengan tangan sambil menggonggong begitu?”
Uchida: “Kau cukup bilang 'Wow' saja.”
Francis: “Kau kan berasal dari dunia yang sama denganku, jadi apapun yang ada dalam tubuhmu aku sudah terbiasa melihatnya.”
Uchida: “Kau benar, lalu apa yang pernah membuatmu kaget?”
Francis: “Mungkin ketika aku berada di dunia ini, itu hal yang cukup mengagetkan. Kenapa? Karena semua orang bisa dengan santainya berjalan dengan riang, hampir tak ada yang saling bunuh.”
Uchida: “Ho, jadi kau baru pertama kali terkejut ketika melihat hal semacam itu?”
Francis: “Sebenarnya... ada hal di dunia kita yang pernah membuatku kaget. Aku pernah mengalaminya sekali, tapi aku tak bisa menceritakan padamu sekarang.”
Uchida: “Hmm, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan mengenai kejadian kemarin. Darimana kau mendapatkan baju ganti dengan cepat setelah insiden itu?”
Francis: “Aku mendapatkannya dari seorang penguntit.”
Uchida: “Siapa yang mengikutimu?!” (hendak menyetrum dengan jempol)
Francis: “Sebelum aku ceritakan semuanya, bisakah kau jauhkan jempolmu dari dahiku?”
Uchida: “Aku sudah pernah katakan padamu agar tak banyak menarik perhatian, tapi sekarang ada yang mengikutimu. Bagaimana bisa kau jelaskan itu?”
Francis: “Karena itu dengarkan dulu penjelasanku! Setelah kau dengarkan, kau boleh lakukan semaumu!”


Di sebuah gedung dari perusahaan TDG, James sedang menuju sebuah ruangan sambil menaiki sepeda gunung. Pintu ruangan terbuka dan James masuk ke dalamnya, dia disambut oleh beberapa orang Bodyguard (pengawal) dan beberapa Maid. (pelayan wanita) James turun dari sepeda dan mengambil tiga buah biskuit yang disajikan oleh seorang Maid di atas sebuah nampan, satu biskuit dia makan dan dua lainnya dia lemparkan pada dua orang. Mereka mendapatkan masing-masing satu, kini James berjalan dan berhenti di depan mereka.

James: “Nah, bagaimana seragam baru kalian?”

Di hadapan James, berdiri Albert dan Jacques dengan seragam berlogo TDG di belakang punggung mereka dan di bagian dada kanan tertulis 'Teknisi'. Seragam itu terdiri dari jaket merah, celana kuning, dan sebuah topi merah dengan bagian depan berwarna kuning berlogo TDG.

Albert: “Ah, aku...”
Jacques: “Bagaimana mengatakannya?”
James: “Kenapa kalian tidak makan dulu biskuitnya?”
Albert: “Oh, baik. (menggigit biskuit) Hm, enak.”
Jacques: “Manis juga, apa ini coklat?”
James: “Aku senang kalian menikmatinya, kalian sudah selesai?”
Albert: “Ah, tunggu. Kami perlu...”
James: (menjentikkan jari) “Ladies!”

Dalam sekejap, dua orang maid datang membawa nampan dengan segelas besar minuman dan menuangkannya ke dalam dua gelas kecil yang dibawa maid satunya. Mereka berdua hanya terdiam sejenak kemudian mengambil minuman di hadapan mereka, meneguknya habis sambil berkata...

Albert & Jacques: “Segar!”
James: “Sudah selesai?” (wajah dingin)
Albert: “...ah... iya...”
Jacques: “Te... terima kasih...”
James: “Ada lagi yang mau dikatakan? (Albert dan Jacques menggeleng) Bagus, sekarang katakan pendapat kalian mengenai seragam yang kalian pakai.”
Albert: “Ukurannya... pas.”
Jacques: “Warnanya... bagus...”
James: “Bergembiralah, sebab seragam itu adalah pekerjaan baru kalian.”
Albert: “Apa? Kau memberi...”
Jacques: “...pekerjaan untuk kami?”
James: “Memang kau pikir aku mau mengajak kalian ke karnaval?”
Albert: “Apakah aku tuli?”
Jacques: “Sepertinya begitu, kedengarannya aku mendengar dia berbicara dengan bahasa Norwegia.”
James: “Jadi kau baru sadar? (duduk di sofa) Itu adalah tekhnologi yang terpasang pada seragam kalian, ada di topi dan kerah jaket kalian.”
Albert dan Jacques: “Apa?” (memperhatikan seragam masing-masing)
James: “Di sini adalah Techno Dynamic Group, perusahaan dan pengembang tekhnologi terdiri dari 300 cabang di seluruh dunia. Tekhnologi itu adalah salah satu yang kalian gunakan, kemampuannya mampu menerjemahkan bahasa dari lawan bicara kalian. Di kerah jaket ada mikrofon yang membuat kalian berbicara dengan bahasa yang kugunakan, yaitu Inggris. Dan di topi kalian ada semacam earphone yang membuat perkataan yang kalian dengar menjadi bahasa Norwegia, aku sendiri masih berbahasa Inggris.”
Albert & Jacques: “Wow! Hebat!”
James: “Tapi itu masih belum dipasarkan, jadi jangan pernah coba untuk menjualnya. Kalau kalian lakukan itu, aku bisa tuntut kalian dan membuat kalian berada di tempat yang jauh lebih buruk dari penjara.” (wajah seram)
Albert: “Ehehe... tentu saja kami takkan menjualnya.” (ketakutan)
Jacques: “Lalu, apa sebenarnya yang harus kami lakukan?”
Albert: “Apa kami harus tanda tangan kontrak?”
James: “Tidak usah, lagipula kalian sudah memberiku informasi yang berharga. Kalau kalian memang tidak mau, aku bisa ambil kembali seragam itu.”
Albert: “Jangan, kami terima.”
Jacques: “Kami terima pekerjaan ini.”
James: “Bagus, kalau begitu kalian bisa mulai bekerja besok. Antarkan mereka melihat-lihat ke tempat kerja mereka, kita tak mau jika tenaga kerja kita yang baru melakukan kesalahan atau terlambat datang untuk bekerja bukan?”
Bodyguard: “Baik, tuan.”

Dua orang dari Bodyguard James mengantar kepergian mereka, James melambaikan tangannya pada mereka berdua. Setelah mereka pergi, seseorang memukul kepalanya dengan koran dari belakang. Seorang pria gendut berkacamata dengan kulit hitam legam, berkepala botak, memakai seragam pelayan sudah berdiri di belakangnya.

James: “Roy!! Itu sakit!” (menggaruk kepala)
Roy: “Sebenarnya apa yang kau pikirkan?! Mempekerjakan kriminal di perusahaan milik ayahmu, apa yang akan ayahmu katakan nanti?”
James: “Mantan kriminal, aku jamin mereka takkan membuat masalah di perusahaan ini. Lagipula mereka sudah tidak mau lagi melakukan kejahatan, kata yang tepat mungkin 'bertobat'.”
Roy: “Tapi hanya dalam 2 hari, mereka masih punya kemungkinan melakukan kejahatan lagi. Kalau kau mau mempekerjakan mereka, lebih baik kau masukkan saja dulu ke tempat rehabilitasi selama sebulan.”
James: “Kalau aku menunggu selama itu, aku takkan bisa mengenal lebih dekat dengan orang yang menyelamatkanku kemarin. Dia sudah banyak berhutang padaku, aku harus membuat dia bekerja untukku bagaimanapun caranya.”
Roy: “Tentang orang yang kau minta datanya kemarin, aku sudah coba mencari identitasnya. Dia sama sekali tak terdaftar di negara manapun, tak pernah ada orang bernama Francis Zero di dunia ini.”
James: “Di dunia ini, itu sudah jelas. Dia orang yang muncul entah dari mana dan sudah membantu keluarga Welsley meringkus Francois Orvile dan komplotannya, dia juga punya kekuatan misterius yang tak dimiliki semua makhluk yang hidup di planet ini.”
Roy: “Kau tidak berpikir dia itu...”
James: “Alien? Itu mungkin saja, dia memakai identitas palsu dan menyamar menjadi manusia seperti kita. Mencoba untuk hidup dengan kita, mempelajari budaya kita, juga...”
Roy: “Cukup, (menutup mulut James) jangan biarkan imajinasimu keluar lebih dari ini. Dia itu bukan semacam Superman yang begitu saja terbang dari atas dan menghentikan truk seberat 10 ton dengan mudahnya.”
James: (menyingkirkan tangan Roy dari mulut) “Kalau begitu, bagaimana kau bisa menjelaskan mineral yang saat itu ditinggalkan di pintu depan perusahaan sekitar seminggu yang lalu dan menjadi sumber tenaga yang cukup untuk sebuah mobil Rolls Royce selama 20 tahun ke depan?”
Roy: “Entahlah, tapi karena alasan itulah kau dilarang keluar tanpa pengawalan. Kau masih berada di negara ini karena keegoisanmu untuk keinginanmu bermain di luar, bahkan sejak kejadian pembobolan itu kau masih nekat keluar.”
James: “Roy, kali ini beda. Setelah aku mendapatkan yang kuinginkan, kita akan kembali ke New York.”
Roy: “Maksudmu pulang ke 'rumah'?”
James: “Ya, rumah.”
Roy: “Tempat adik, ayah, dan ibumu tinggal?”
James: “Kau pikir yang mana lagi?”
Roy: “Syukurlah, kalau begitu aku akan mulai mengemas barang.”
James: “Sebelum itu, temukan dia dulu. Tak ada gunanya jika aku pulang tanpa dirinya, cepat kerjakan sekarang!”
Roy: “Sir! Yes, sir!” (memberi hormat)

Roy segera keluar dari dalam ruangan, James sendiri mengeluarkan foto Francis dari saku bajunya dan melihatnya sejenak. Dia tertawa kecil, memasukkan kembali foto itu ke dalam saku bajunya. Setelah itu dia menyuruh semua orang dalam ruangan keluar, dia berjalan ke meja kerja dan mengambil sesuatu. Dia membawa ransel di punggungnya dan menghampiri sebuah lemari, membuka pintunya dan memasukinya dengan santai.

James: “Aku juga akan keluar.” (menutup pintu lemari)


Kembali ke gudang di mana Francis dan Uchida berada, di depan sudah berdiri seseorang. Ternyata orang itu adalah Margo bersama dengan beberapa absorber, pria besar itu mengeluarkan cerutu dari dalam saku celananya. Dia menggigit cerutu itu, kemudian salah satu absorber menyalakan api dan membakar ujung cerutu. Margo mengisap dan mengeluarkan asapnya dari hidung, namun cerutu yang diisapnya kini dibuang dalam keadaan membeku.

Margo: “Ah, itu sudah yang terakhir. Kalian yakin ini tempatnya?”
Absorber: “Kami sudah melacaknya dari bagian Flying Drone yang tersangkut di tubuhnya, subyek M 46 N4 120 K masuk ke dalam sini. Di dalam juga ada tanda kehidupan dari Profesor Uchida Tomizawa, mereka berdua...”
Margo: “Aku tahu, mereka ada di dalam. Aku bisa merasakan panas mereka, kalian urus sang profesor. Aku akan atasi 'aset' kalian yang dibawa kabur, kalian sendiri tak berguna di hadapan dirinya.”

Di dalam gudang, Francis masih berada di dalam ruangan bersama Uchida. Tapi suasana di dalam sedikit lain, mulut Uchida menganga lebar setelah selesai mendengar penjelasan dari Francis.

Uchida: “James... Yorgins... katamu?”
Francis: “Dia terus memaksaku sejak kejadian itu, memintaku bekerja sebagai pengawalnya. Mengikutiku waktu makan malam di rumah Claudia, sampai terbawa dalam mimpiku juga.”
Uchida: “...terima...”
Francis: “Apa?”
Uchida: “Kau harus menerimanya!”
Francis: “Hei...”
Uchida: “Jika kau bertemu dia lagi, kau harus menerimanya!”
Francis: “Tunggu, tunggu, tunggu! Kenapa mendadak...”
Uchida: “Orang ini adalah kunci penting yang bisa membawa kita pada petunjuk berikutnya, dia bisa memberitahukan padamu semua rahasia di masa kini.”
Francis: “Dia? Yang benar saja.”
Uchida: “Tidak, ini serius. Dengarlah, aku sudah mendapatkan beberapa informasi penting. Kau masih ingat pembicaraan kita mengenai Ulkamium? Mineral yang dikirim dari masa lalu ke masa depan itu kini diteliti oleh perusahaan milik ayahnya, namun tak lama kemudian terjadi sebuah insiden.”
Francis: “Tunggu, bukankah kau bilang mineral itu sama sekali belum pernah ditemukan di masa lalu?”
Uchida: “Dengarkan dulu, Ulkamium yang sedang dalam tahap penelitian itu dicuri. Kemungkinan direbut kembali oleh pihak 'Alterion', beritanya ada di koran 2 hari yang lalu. Jika kau bisa masuk ke dalam sana, ambil sedikit informasi mengenai Ulkamium itu...”
Francis: “Kita akan tahu di mana markas cabang milik Alterion di masa ini...”
Uchida: “Benar, karena itu...”

Mendadak sesuatu menjebol tembok, Francis dan Uchida meloncat ke belakang. Beberapa absorber masuk menyerang Uchida, menindihnya dalam jumlah banyak. Dari lubang, muncul semacam tentakel yang melilit dan menarik Francis keluar. Dia jatuh terguling-guling di luar gudang, mendadak dia berada dalam sebuah kurungan. Dia melihat seseorang keluar dari dalam gudang, membawa Uchida yang terjebak dalam jaring yang terbuat dari kumpulan absorber. Di hadapan Francis kini berdiri Margo yang sedang merokok, menghembuskan asap rokok ke wajah Francis. Rokok yang dia isap mendadak membeku, dia menjatuhkannya ke tanah hingga pecah.

Margo: “Drake memang tak bisa diandalkan, aku saja bisa menangkap mereka dengan mudah. Apa kabarmu, bocah?”
Francis: “Alterion...”
Margo: “Namaku Margo, ada beberapa orang yang ingin bertemu dengan kalian.”

No comments:

Post a Comment