PEKERJAAN
Oslo,
Norwegia, 13 Oktober 2010, 11:00. Di sebuah lembaga permasyarakatan,
ada dua orang yang sedang tidur dan mendekam di penjara. Seorang
sipir mendatangi sel mereka dan mengetuk jeruji dengan pentungan yang
dia bawa, dua orang itu terbangun. Ternyata mereka adalah Albert dan
Jacques, sang sipir membuka sel dan segera menyuruh mereka keluar.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di luar lembaga
permasyarakatan dengan pakaian bebas. Sebuah mobil limosin berhenti
di depan mereka, pintu mobil depan terbuka dan seorang supir
bersetelan dan bertopi hitam keluar dari dalam. Albert dan Jacques
keheranan melihatnya, orang itu kemudian membukakan pintu belakang
mobil.
Supir:
“Masuklah ke dalam, kalian sudah ditunggu.”
Albert:
“A... ada perlu apa? Apa bos... bukan, maksudku yang menunggu
adalah Francois?”
Jacques:
“Maaf, tapi kami sudah berhenti bekerja pada Francois.”
Supir:
“Masuk saja dan kalian akan tahu, kita harus secepatnya berangkat.”
Mereka
berdua lalu masuk ke dalam mobil, orang itu kemudian menutup pintu
dan kembali ke bangku pengemudi. Mobil itu langsung beranjak dari
tempatnya, dengan diikuti dua sepeda motor. Albert dan Jacques kini
berhadapan dengan seseorang yang sedang asyiknya main PSP, Albert dan
Jacques sendiri hanya bisa menoleh ke kanan dan ke kiri sambil
melihat-lihat bagian dalam mobil.
Jacques:
“Permisi, apa kau juga dipanggil?”
Albert:
“Sebenarnya kami mau dibawa ke mana?”
?:
“......”
Albert:
“Apa kau orang suruhan mantan bos kami?”
Jacques:
“Permisi, apa kau dengar?”
?:
“......”
Albert:
“Apa dia tuli?”
Jacques:
“Entah, apa kita perlu teriaki dia?”
Albert:
“Coba kau hampiri dia.”
Jacques:
“Baiklah.” (hendak menyentuh orang tersebut)
?:
“Don't touch me, please.” (tolong, jangan sentuh aku)
Jacques:
“Oooh, dia berbahasa Inggris karena itu tak paham perkataan kita.”
Albert:
“Repot juga, jadi kita harus menunggu sampai tempat tujuan kita.”
Jacques:
“Coba, kutanya sedikit bahasa Inggris. Name?”
?:
“Quiet, please.” (tolong, diam)
Jacques:
“Kuwait? Nama yang aneh?”
Albert:
“Bukan, rasanya kau disuruh diam.”
?:
“What the...?” (apa yang...?)
Albert:
“Sepertinya dia sedang bermain.”
Jacques:
“Gameboy, ya? Dia main apa?”
Jacques
sedikit berdiri dan melihat PSP yang dimainkan orang itu, namun di
layarnya kurang terlihat jelas. Perlahan Jacques mendekatinya dan
kepalanya ditengadahkan ke atas dan matanya melirik ke bawah. Game
yang dimainkannya sedikit kelihatan, namun masih kurang jelas.
Jacques kemudian membungkuk dan menurunkan kepalanya untuk melihat,
ternyata dia memainkan game RPG. Mendadak mobil direm mendadak karena
ada anak kecil berlari di depannya, bersamaan dengan itu kepala orang
yang bermain PSP itu terbentur oleh kepala Jacques yang terlalu dekat
ketika dia sedang mengamati PSP.
Jacques:
“Argh!”
?:
“Auch!! What the heck're you doin?!” (Aduh!! Apa yang kau
lakukan?!)
Supir:
“Sorry boss, there is a little children running in the front.”
(Maaf bos, ada anak kecil berlari di depan)
?:
“I'm not askin you, but him.” (aku tak bertanya padamu, tapi dia)
Jacques:
“Maaf, maaf, kau tak apa?”
?:
(melihat PSP) “Aw, shoot! Another failure, I must load it again!”
(ah, sial! Gagal lagi, aku harus meloadnya lagi!)
Orang
itu kemudian mematikan PSP-nya dan meletakkannya di dalam ransel,
orang itu kini melihat Albert dan Jacques. Dia kemudian menekan
sebuah tombol di pintu mobil, sebuah woofer muncul dari bawah bangku.
Dia kemudian menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, orang itu
sendiri ternyata adalah James.
James:
“Apa yang sebenarnya kau lakukan?”
Jacques:
“Dia bicara bahasa kita, kenapa baru sekarang?”
Albert:
“Bodoh, bukan. Yang bicara bukan dia tapi dari sana, (menunjuk
woofer) sepertinya itu menerjemahkan perkataannya.”
Jacques:
“Benarkah, coba kau bicara sekali lagi.”
James:
“Salah siapa ini? Kenapa kepalamu malah berada di depan kepalaku?”
Jacques:
“Ah, aku cuma penasaran dengan game yang kau mainkan di gameboy
itu.”
James:
“Monster Hunter, dan itu bukan gameboy tapi PSP. Ah, tapi itu kan
hanya game. Kita langsung saja bicara ke intinya, mula-mula mengenai
nama. Namaku James Yorgins, aku yang membebaskan kalian.”
Albert:
“Yorgins? Sepertinya aku pernah dengar.”
Jacques:
“Namamu mirip dengan nama orang yang memimpin sebuah perusahaan
elektronik, kalau tak salah TDG.”
James:
“Sebenarnya yang memimpin adalah ayahku, dan namanya adalah Henry.”
Jacques:
“Oh, ayahmu...”
Albert:
“Tunggu! James Yorgins yang dikenal sebagai playboy jutawan itu?”
Jacques:
“Kau tahu?”
Albert:
“Jelas aku tahu! Kemanapun dia pergi banyak wanita yang selalu
mengikutinya, selain itu dia juga terkenal kaya!”
Jacques:
“Wah, hebat! Jadi kau pemimpin perusahaan?”
James:
“Apa hanya itu saja yang dikenal dari diriku? Aku tak selalu
dikelilingi oleh wanita kemanapun aku pergi, sekarang ini di
sekitarku hanya ada laki-laki seperti yang kalian lihat. Sudahlah,
aku membebaskan kalian karena ada sesuatu yang harus kalian
ceritakan.”
Sementara
itu Francis sedang menjalani pelatihan di dalam Crimson Dimension,
Uchida sendiri sedang tidur dengan pulas di kursi santainya. Francis
yang sudah dalam keadaan memakai baju tempurnya kini berhadapan
dengan selusin pedang yang melayang-layang, seluruh kristal di dalam
tubuhnya memerah. Kristal di kedua bahunya mengumpulkan
serpihan-serpihan merah dan membentuk senjata, dengan cepatnya dia
mengambil kedua senjata itu dengan kedua tangannya. Senjata itu
sendiri adalah sepasang pisau bergerigi, Francis sendiri mulai
memasang kuda-kuda. Pisau itu dipegangnya dalam keadaan terbalik,
keadaan sejenak menjadi hening. Sepasang mata kuning mendadak muncul
dari lensa, bersamaan dengan itu pedang-pedang di sekitarnya mulai
menyerang. Serangan datang dari depan dan belakangnya, Francis dengan
cepatnya menangkis semua serangan dengan pisau. Beberapa menyerang
dari bawah, namun berhasil dihindarinya dengan melompat. Dua buah
pedang masing-masing datang dari dua arah secara bersamaan, nyaris
mengenai pinggul.
Francis:
“Hampir saja.”
Dua
pedang yang barusan menyerangnya patah, di kedua sikutnya kini muncul
sepasang pisau yang menempel. Flashback ketika kedua pedang
menyerangnya dalam gerakan lambat, ternyata Francis menciptakan pisau
di sikutnya ketika menghindar dan serangan hampir mengenai
pinggulnya. Dia berputar ketika diserang, serangan pisau sikut itu
menggores bilah pedang dan membuatnya terpotong. Sekarang ada tiga
pedang dengan ujungnya mengarah pada Francis, berputar-putar
mengitarinya.
Francis:
“Mari kita coba sesuatu yang baru.”
Francis
kini membuang kedua pisaunya, mengubahnya menjadi serpihan dan
menyerapnya. Francis menyilangkan kedua lengannya di depan kepala,
kini tiga pedang itu mulai terbang menerjang Francis. Begitu cepatnya
serangan itu sehingga tak bisa dilihat oleh mata telanjang, tapi
tidak semuanya mengenai bagian tubuh Francis. Dia merunduk sedikit
kemudian kembali berdiri, posisi ketiga pedang itu hampir menyentuh
lehernya dan membentuk segitiga. Mendadak pedang-pedang itu
terpotong-potong menjadi beberapa bagian kecil, kini di kedua tangan
Francis ada semacam cakar di semua jari-jarinya. Beberapa bilah pisau
juga muncul di pundak, sikut, lutut, tumit, serta ujung kakinya.
Matanya yang kuning kembali menyala, dia mulai menyerang semua pedang
yang tersisa. Dia memutar badannya terus menerus sehingga membuat
bilah pisau terbang ke segala arah, semua pedang yang tersisa ada
yang pecah ataupun terpotong. Francis menghentikan putarannya,
menghilangkan semua senjata yang ada di tubuhnya. Setelah itu Francis
menekan tombol di dadanya dan memutarnya, membuat seluruh kristal di
tubuhnya menguning. Setelah itu dia membusungkan dadanya dan
menembakkan sinar dari dadanya, membuka sebuah portal menuju dunia
nyata. Francis masuk ke dalam dan dalam sekejap sampai di ruangan
tempat Uchida sedang tidur mendengkur, dia diam sejenak kemudian
rubuh ke lantai. Uchida terbangun karena kaget, dia langsung berdiri
dan melihat Francis dalam keadaan tengkurap.
Uchida:
“Kau tak apa-apa?”
Francis:
“Biarkan aku seperti ini, kepalaku pusing.”
Uchida:
“Tentu saja, kau kan masih memiliki separuh bagian manusia dalam
dirimu. Menjadi Cyborg itu bukan berarti kau tidak bisa merasakan
semua yang kau rasakan, aku sendiri sudah tidak bisa merasakan
bagaimana rasanya dingin atau panas kecuali di bagian wajah.”
Francis:
“Ya, benar. Tapi kau beruntung masih bisa menikmati makanan dan
minuman dari mulutmu, walau kau tak punya leher.”
Uchida
membalikkan badan Francis, menekan tombol di dadanya dengan jari
tengah tangan kirinya. Dalam sekejap Francis sudah tidak dalam
keadaan memakai baju tempur, Uchida langsung menyetrum dahi Francis
dengan jempolnya.
Francis:
“AAAAUUW!! Itu kan kenyataannya! Kenapa kau malah marah?!”
Uchida:
“Ya, memang aku bisa makan semua makanan itu. Tapi apakah kau sudah
tahu bagaimana caraku makan dan minum?”
Francis:
“Tidak.”
Uchida:
“Gadis kecil itu tak memberitahumu?”
Francis:
“Claudia? Tidak.”
Uchida:
“Biar kuperlihatkan, ambilkan sebotol cola yang ada di belakangmu.”
Beberapa
saat kemudian, Uchida duduk bersila di hadapan sebotol Cola. Dia
menarik nafas sejenak dan membuka pintu di dadanya, sebuah selang
mendadak keluar dan masuk ke dalam mulut botol. Dalam hitungan detik,
botol Cola di hadapannya kini kosong melompong dan penyok. Selang itu
kemudian kembali masuk ke dalam, pintu di dadanya kemudian ditutup.
Uchida:
“Kau sudah lihat?”
Francis:
“Ya.” (wajah kaku)
Uchida:
“Kau itu tak bisa sedikit kaget ya?”
Francis:
“Lantas jika aku melihat itu aku harus berjalan dengan tangan
sambil menggonggong begitu?”
Uchida:
“Kau cukup bilang 'Wow' saja.”
Francis:
“Kau kan berasal dari dunia yang sama denganku, jadi apapun yang
ada dalam tubuhmu aku sudah terbiasa melihatnya.”
Uchida:
“Kau benar, lalu apa yang pernah membuatmu kaget?”
Francis:
“Mungkin ketika aku berada di dunia ini, itu hal yang cukup
mengagetkan. Kenapa? Karena semua orang bisa dengan santainya
berjalan dengan riang, hampir tak ada yang saling bunuh.”
Uchida:
“Ho, jadi kau baru pertama kali terkejut ketika melihat hal semacam
itu?”
Francis:
“Sebenarnya... ada hal di dunia kita yang pernah membuatku kaget.
Aku pernah mengalaminya sekali, tapi aku tak bisa menceritakan padamu
sekarang.”
Uchida:
“Hmm, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan mengenai kejadian
kemarin. Darimana kau mendapatkan baju ganti dengan cepat setelah
insiden itu?”
Francis:
“Aku mendapatkannya dari seorang penguntit.”
Uchida:
“Siapa yang mengikutimu?!” (hendak menyetrum dengan jempol)
Francis:
“Sebelum aku ceritakan semuanya, bisakah kau jauhkan jempolmu dari
dahiku?”
Uchida:
“Aku sudah pernah katakan padamu agar tak banyak menarik perhatian,
tapi sekarang ada yang mengikutimu. Bagaimana bisa kau jelaskan itu?”
Francis:
“Karena itu dengarkan dulu penjelasanku! Setelah kau dengarkan, kau
boleh lakukan semaumu!”
Di
sebuah gedung dari perusahaan TDG, James sedang menuju sebuah ruangan
sambil menaiki sepeda gunung. Pintu ruangan terbuka dan James masuk
ke dalamnya, dia disambut oleh beberapa orang Bodyguard (pengawal)
dan beberapa Maid. (pelayan wanita) James turun dari sepeda dan
mengambil tiga buah biskuit yang disajikan oleh seorang Maid di atas
sebuah nampan, satu biskuit dia makan dan dua lainnya dia lemparkan
pada dua orang. Mereka mendapatkan masing-masing satu, kini James
berjalan dan berhenti di depan mereka.
James:
“Nah, bagaimana seragam baru kalian?”
Di
hadapan James, berdiri Albert dan Jacques dengan seragam berlogo TDG
di belakang punggung mereka dan di bagian dada kanan tertulis
'Teknisi'. Seragam itu terdiri dari jaket merah, celana kuning, dan
sebuah topi merah dengan bagian depan berwarna kuning berlogo TDG.
Albert:
“Ah, aku...”
Jacques:
“Bagaimana mengatakannya?”
James:
“Kenapa kalian tidak makan dulu biskuitnya?”
Albert:
“Oh, baik. (menggigit biskuit) Hm, enak.”
Jacques:
“Manis juga, apa ini coklat?”
James:
“Aku senang kalian menikmatinya, kalian sudah selesai?”
Albert:
“Ah, tunggu. Kami perlu...”
James:
(menjentikkan jari) “Ladies!”
Dalam
sekejap, dua orang maid datang membawa nampan dengan segelas besar
minuman dan menuangkannya ke dalam dua gelas kecil yang dibawa maid
satunya. Mereka berdua hanya terdiam sejenak kemudian mengambil
minuman di hadapan mereka, meneguknya habis sambil berkata...
Albert
& Jacques: “Segar!”
James:
“Sudah selesai?” (wajah dingin)
Albert:
“...ah... iya...”
Jacques:
“Te... terima kasih...”
James:
“Ada lagi yang mau dikatakan? (Albert dan Jacques menggeleng)
Bagus, sekarang katakan pendapat kalian mengenai seragam yang kalian
pakai.”
Albert:
“Ukurannya... pas.”
Jacques:
“Warnanya... bagus...”
James:
“Bergembiralah, sebab seragam itu adalah pekerjaan baru kalian.”
Albert:
“Apa? Kau memberi...”
Jacques:
“...pekerjaan untuk kami?”
James:
“Memang kau pikir aku mau mengajak kalian ke karnaval?”
Albert:
“Apakah aku tuli?”
Jacques:
“Sepertinya begitu, kedengarannya aku mendengar dia berbicara
dengan bahasa Norwegia.”
James:
“Jadi kau baru sadar? (duduk di sofa) Itu adalah tekhnologi yang
terpasang pada seragam kalian, ada di topi dan kerah jaket kalian.”
Albert
dan Jacques: “Apa?” (memperhatikan seragam masing-masing)
James:
“Di sini adalah Techno Dynamic Group, perusahaan dan pengembang
tekhnologi terdiri dari 300 cabang di seluruh dunia. Tekhnologi itu
adalah salah satu yang kalian gunakan, kemampuannya mampu
menerjemahkan bahasa dari lawan bicara kalian. Di kerah jaket ada
mikrofon yang membuat kalian berbicara dengan bahasa yang kugunakan,
yaitu Inggris. Dan di topi kalian ada semacam earphone yang membuat
perkataan yang kalian dengar menjadi bahasa Norwegia, aku sendiri
masih berbahasa Inggris.”
Albert
& Jacques: “Wow! Hebat!”
James:
“Tapi itu masih belum dipasarkan, jadi jangan pernah coba untuk
menjualnya. Kalau kalian lakukan itu, aku bisa tuntut kalian dan
membuat kalian berada di tempat yang jauh lebih buruk dari penjara.”
(wajah seram)
Albert:
“Ehehe... tentu saja kami takkan menjualnya.” (ketakutan)
Jacques:
“Lalu, apa sebenarnya yang harus kami lakukan?”
Albert:
“Apa kami harus tanda tangan kontrak?”
James:
“Tidak usah, lagipula kalian sudah memberiku informasi yang
berharga. Kalau kalian memang tidak mau, aku bisa ambil kembali
seragam itu.”
Albert:
“Jangan, kami terima.”
Jacques:
“Kami terima pekerjaan ini.”
James:
“Bagus, kalau begitu kalian bisa mulai bekerja besok. Antarkan
mereka melihat-lihat ke tempat kerja mereka, kita tak mau jika tenaga
kerja kita yang baru melakukan kesalahan atau terlambat datang untuk
bekerja bukan?”
Bodyguard:
“Baik, tuan.”
Dua
orang dari Bodyguard James mengantar kepergian mereka, James
melambaikan tangannya pada mereka berdua. Setelah mereka pergi,
seseorang memukul kepalanya dengan koran dari belakang. Seorang pria
gendut berkacamata dengan kulit hitam legam, berkepala botak, memakai
seragam pelayan sudah berdiri di belakangnya.
James:
“Roy!! Itu sakit!” (menggaruk kepala)
Roy:
“Sebenarnya apa yang kau pikirkan?! Mempekerjakan kriminal di
perusahaan milik ayahmu, apa yang akan ayahmu katakan nanti?”
James:
“Mantan kriminal, aku jamin mereka takkan membuat masalah di
perusahaan ini. Lagipula mereka sudah tidak mau lagi melakukan
kejahatan, kata yang tepat mungkin 'bertobat'.”
Roy:
“Tapi hanya dalam 2 hari, mereka masih punya kemungkinan melakukan
kejahatan lagi. Kalau kau mau mempekerjakan mereka, lebih baik kau
masukkan saja dulu ke tempat rehabilitasi selama sebulan.”
James:
“Kalau aku menunggu selama itu, aku takkan bisa mengenal lebih
dekat dengan orang yang menyelamatkanku kemarin. Dia sudah banyak
berhutang padaku, aku harus membuat dia bekerja untukku bagaimanapun
caranya.”
Roy:
“Tentang orang yang kau minta datanya kemarin, aku sudah coba
mencari identitasnya. Dia sama sekali tak terdaftar di negara
manapun, tak pernah ada orang bernama Francis Zero di dunia ini.”
James:
“Di dunia ini, itu sudah jelas. Dia orang yang muncul entah dari
mana dan sudah membantu keluarga Welsley meringkus Francois Orvile
dan komplotannya, dia juga punya kekuatan misterius yang tak dimiliki
semua makhluk yang hidup di planet ini.”
Roy:
“Kau tidak berpikir dia itu...”
James:
“Alien? Itu mungkin saja, dia memakai identitas palsu dan menyamar
menjadi manusia seperti kita. Mencoba untuk hidup dengan kita,
mempelajari budaya kita, juga...”
Roy:
“Cukup, (menutup mulut James) jangan biarkan imajinasimu keluar
lebih dari ini. Dia itu bukan semacam Superman yang begitu saja
terbang dari atas dan menghentikan truk seberat 10 ton dengan
mudahnya.”
James:
(menyingkirkan tangan Roy dari mulut) “Kalau begitu, bagaimana kau
bisa menjelaskan mineral yang saat itu ditinggalkan di pintu depan
perusahaan sekitar seminggu yang lalu dan menjadi sumber tenaga yang
cukup untuk sebuah mobil Rolls Royce selama 20 tahun ke depan?”
Roy:
“Entahlah, tapi karena alasan itulah kau dilarang keluar tanpa
pengawalan. Kau masih berada di negara ini karena keegoisanmu untuk
keinginanmu bermain di luar, bahkan sejak kejadian pembobolan itu kau
masih nekat keluar.”
James:
“Roy, kali ini beda. Setelah aku mendapatkan yang kuinginkan, kita
akan kembali ke New York.”
Roy:
“Maksudmu pulang ke 'rumah'?”
James:
“Ya, rumah.”
Roy:
“Tempat adik, ayah, dan ibumu tinggal?”
James:
“Kau pikir yang mana lagi?”
Roy:
“Syukurlah, kalau begitu aku akan mulai mengemas barang.”
James:
“Sebelum itu, temukan dia dulu. Tak ada gunanya jika aku pulang
tanpa dirinya, cepat kerjakan sekarang!”
Roy:
“Sir! Yes, sir!” (memberi hormat)
Roy
segera keluar dari dalam ruangan, James sendiri mengeluarkan foto
Francis dari saku bajunya dan melihatnya sejenak. Dia tertawa kecil,
memasukkan kembali foto itu ke dalam saku bajunya. Setelah itu dia
menyuruh semua orang dalam ruangan keluar, dia berjalan ke meja kerja
dan mengambil sesuatu. Dia membawa ransel di punggungnya dan
menghampiri sebuah lemari, membuka pintunya dan memasukinya dengan
santai.
James:
“Aku juga akan keluar.” (menutup pintu lemari)
Kembali
ke gudang di mana Francis dan Uchida berada, di depan sudah berdiri
seseorang. Ternyata orang itu adalah Margo bersama dengan beberapa
absorber, pria besar itu mengeluarkan cerutu dari dalam saku
celananya. Dia menggigit cerutu itu, kemudian salah satu absorber
menyalakan api dan membakar ujung cerutu. Margo mengisap dan
mengeluarkan asapnya dari hidung, namun cerutu yang diisapnya kini
dibuang dalam keadaan membeku.
Margo:
“Ah, itu sudah yang terakhir. Kalian yakin ini tempatnya?”
Absorber:
“Kami sudah melacaknya dari bagian Flying Drone yang tersangkut di
tubuhnya, subyek M 46 N4 120 K masuk ke dalam sini. Di dalam juga ada
tanda kehidupan dari Profesor Uchida Tomizawa, mereka berdua...”
Margo:
“Aku tahu, mereka ada di dalam. Aku bisa merasakan panas mereka,
kalian urus sang profesor. Aku akan atasi 'aset' kalian yang dibawa
kabur, kalian sendiri tak berguna di hadapan dirinya.”
Di
dalam gudang, Francis masih berada di dalam ruangan bersama Uchida.
Tapi suasana di dalam sedikit lain, mulut Uchida menganga lebar
setelah selesai mendengar penjelasan dari Francis.
Uchida:
“James... Yorgins... katamu?”
Francis:
“Dia terus memaksaku sejak kejadian itu, memintaku bekerja sebagai
pengawalnya. Mengikutiku waktu makan malam di rumah Claudia, sampai
terbawa dalam mimpiku juga.”
Uchida:
“...terima...”
Francis:
“Apa?”
Uchida:
“Kau harus menerimanya!”
Francis:
“Hei...”
Uchida:
“Jika kau bertemu dia lagi, kau harus menerimanya!”
Francis:
“Tunggu, tunggu, tunggu! Kenapa mendadak...”
Uchida:
“Orang ini adalah kunci penting yang bisa membawa kita pada
petunjuk berikutnya, dia bisa memberitahukan padamu semua rahasia di
masa kini.”
Francis:
“Dia? Yang benar saja.”
Uchida:
“Tidak, ini serius. Dengarlah, aku sudah mendapatkan beberapa
informasi penting. Kau masih ingat pembicaraan kita mengenai
Ulkamium? Mineral yang dikirim dari masa lalu ke masa depan itu kini
diteliti oleh perusahaan milik ayahnya, namun tak lama kemudian
terjadi sebuah insiden.”
Francis:
“Tunggu, bukankah kau bilang mineral itu sama sekali belum pernah
ditemukan di masa lalu?”
Uchida:
“Dengarkan dulu, Ulkamium yang sedang dalam tahap penelitian itu
dicuri. Kemungkinan direbut kembali oleh pihak 'Alterion', beritanya
ada di koran 2 hari yang lalu. Jika kau bisa masuk ke dalam sana,
ambil sedikit informasi mengenai Ulkamium itu...”
Francis:
“Kita akan tahu di mana markas cabang milik Alterion di masa
ini...”
Uchida:
“Benar, karena itu...”
Mendadak
sesuatu menjebol tembok, Francis dan Uchida meloncat ke belakang.
Beberapa absorber masuk menyerang Uchida, menindihnya dalam jumlah
banyak. Dari lubang, muncul semacam tentakel yang melilit dan menarik
Francis keluar. Dia jatuh terguling-guling di luar gudang, mendadak
dia berada dalam sebuah kurungan. Dia melihat seseorang keluar dari
dalam gudang, membawa Uchida yang terjebak dalam jaring yang terbuat
dari kumpulan absorber. Di hadapan Francis kini berdiri Margo yang
sedang merokok, menghembuskan asap rokok ke wajah Francis. Rokok yang
dia isap mendadak membeku, dia menjatuhkannya ke tanah hingga pecah.
Margo:
“Drake memang tak bisa diandalkan, aku saja bisa menangkap mereka
dengan mudah. Apa kabarmu, bocah?”
Francis:
“Alterion...”
Margo:
“Namaku Margo, ada beberapa orang yang ingin bertemu dengan
kalian.”
No comments:
Post a Comment