Thursday, March 21, 2013

Level 14


TERTANGKAP

Oslo, Norwegia, 13 Oktober 2010, 17:00. Di gudang tempat persembunyian di mana tadinya Francis dan Uchida berada, kini menjadi puing-puing tak berbekas. Di hadapan puing-puing itu berdiri seseorang berjaket, bertudung, membawa ransel, berkacamata hitam dan memakai topi. Dia membuka kacamata hitam, tudung, dan topinya. Ternyata dia adalah James, dia perlahan berjalan menuju puing-puing. Dia berlutut dan memegang serpihan-serpihan di hadapannya, menggenggamnya dan menjatuhkannya. Setelah itu dia mengeluarkan HP dari saku jaketnya, menghubungi Roy.

James: “Halo? Jangan berteriak dulu, sebab aku butuh bantuanmu sekarang. Tamu kehormatan kita sudah tak lagi berada di tempatnya, bisa bawa beberapa orang dari bagian 'Kebersihan' kemari?”

James mendadak melihat sesuatu bersinar di puing-puing, dia langsung berlari dan menyingkirkan beberapa puing sampai dia menemukan sesuatu. Sebuah CPU komputer dengan layar yang sudah rusak, CPU itu sendiri masih utuh.

James: “Bawa juga beberapa orang dari bagian 'Pengembangan', ada sesuatu yang kutemukan dan perlu diteliti di sini. Ng?”

James sadar dia menginjak sesuatu di bawah kakinya, dia mengangkat sesuatu dari bawah tempat dia berdiri. Ketika dia berhasil mengangkatnya, dia mendapatkan sebuah helm yang dipakai Francis untuk bertransformasi.

James: “Ini...”


Francis kini disekap di dalam penjara dengan jeruji laser, dia duduk di sudut memandangi bagian luar penjara. Ada beberapa absorber yang mondar-mandir berjalan kesana kemari, salah satu mendorong kereta dorong berisi Ulkamium. Tak lama kemudian seseorang datang menuju selnya, kini di depan sel berdiri Jendral Drake.

Drake: “Subyek M46 N4 120 K, aku tak menyangka jika kau kabur ke wilayah kekuasaan kami.”
Francis: “......”
Drake: “Tak ada yang mau kau katakan? Aku sebenarnya ingin banyak mendengar cerita darimu. Jadi, kudengar kau dilarikan oleh ilmuwan kami yang sekarang sedang diinterogasi di ruang pengisian tenaga saat ini.”
Francis: “......”
Drake: “Masih tidak mau bicara? Mungkin ini bisa membuatmu bicara.”

Jendral Drake mengacungkan tongkatnya pada Francis, menembakkan listrik ke sekujur tubuhnya. Dia sedikit kejang-kejang, namun dia berdiri. Mendadak dia berlari menuju Jendral Drake, namun jeruji laser menahannya sebelum dia sempat menyentuh wajah Drake. Dia menghentikan sengatan listriknya, Francis sendiri mundur dari jeruji. Baju yang dia kenakan hangus, tubuhnya yang terluka sembuh dengan sendirinya.

Francis: “Your electricity is nothing for me, punk. His electricity is better than you.” (listrikmu tak ada apa-apanya bagiku, sialan. Listriknya lebih baik dari dirimu.”
Drake: “Bahasa Inggris, karena itu kau tak bisa menjawab pertanyaanku? Very well, I'll speak with your language.” (baiklah, aku akan berbicara dengan bahasamu)
Francis: “It's futile if you want to persuade me to join you.” (tak ada gunanya jika kau mau membujukku untuk bergabung denganmu)
Drake: “Oh, there's no need to do that. I just want you to know, your savior is being tortured in another room. But amazingly, he won't speak a word yet.” (oh, tak perlu melakukan hal seperti itu. Aku hanya ingin kau tahu, penyelamatmu sedang disiksa di ruangan lain. Tapi menariknya, dia tak mau bicara sedikitpun.)
Francis: “He's tough isn't he?” (dia tangguh, bukan?)
Drake: “Indeed, when we want to interrogate him, he change himself into defensive mode.” (Benar, saat kami ingin menginterogasinya, dia mengubah dirinya menjadi mode pertahanan.)

Di ruangan lain, Uchida kini dalam bentuk telur. Dia diperiksa oleh beberapa Absorber, sambil diperhatikan oleh Margo. Para Absorber itu mencoba untuk membukanya dengan beberapa metode, memukulinya dengan semacam palu, mengebornya, dan menembakinya dengan laser.

Francis: “What do you plan to do with me?” (apa yang mau kau rencanakan denganku?)
Drake: “First thing, my name is not 'you'. I'm Drake, and you will call me General Drake, if you may.” (pertama, namaku bukanlah 'kau'. Aku Drake, dan kau akan memanggilku Jendral Drake, jika kau tak keberatan.)
Francis: “Well... Drake, can you answer my question first?” (Baiklah... Drake, bisakah kau jawab pertanyaanku dulu?”
Drake: “You're one of the fools who still struggle hardly for what you called 'freedom', so why I should answer it? After you return to the future, you will be reprogramed into one of our finest soldier.” (kau adalah salah satu dari orang bodoh yang masih mencoba untuk berjuang keras untuk apa yang kau sebut 'kebebasan', lalu kenapa aku harus menjawabnya? Setelah kau kembali ke masa depan, kau akan diprogram ulang menjadi salah satu prajurit terbaik kami)
Francis: “You already answer it.” (kau sudah menjawabnya)
Drake: “Now its my turn to ask you a question, you will answer it immediately. Before you escape from the laboratory, Professor Uchida is the one who release you. Is that right?” (sekarang giliranku untuk mengajukan pertanyaan, kau akan menjawabnya langsung. Sebelum kau kabur dari laboratorium, Profesor Uchida adalah orang yang membebaskanmu. Benarkah itu?”
Francis: “Damn right.” (memang benar)
Drake: “When you arrive in this era, did he tell you something?” (saat kau tiba di era ini, apa dia memberitahumu sesuatu?)
Francis: “A few things.” (beberapa hal)
Drake: “And what is it?” (dan apakah itu?)
Francis: “It's complicated, I can't even remember.” (rumit sekali, aku bahkan tak bisa ingat)

Jendral Drake sekali lagi mengacungkan tongkatnya ke arah Francis, kali ini dari tongkatnya keluar laser yang menggores pipi kirinya. Darah mengucur keluar dari mulutnya, pipinya robek begitu lebar sehingga giginya terlihat. Francis berlutut memegang pipinya dan menahan rasa sakit, namun pipinya kembali sembuh dan utuh seperti sediakala.

Drake: “Then you must remember, you still have luck. Your healing factor saves you, I still have time until your departure.” (kalau begitu kau harus ingat, kau masih punya keberuntungan. Kekuatan penyembuhmu menyelamatkanmu, aku masih punya waktu sampai keberangkatanmu.)
Francis: “This pain... is nothing, you can ask me hundred times, thousand times, I don't care. You think I'll answer to a coward who wield a weapon?” (rasa sakit ini... bukan apa-apa, kau bisa tanyai aku ratusan kali, ribuan kali, aku tak peduli. Kau pikir aku akan menjawab pada pengecut yang pegang senjata?)
Drake: “...you're right, using weapon is a cowardly way. Then how about this, I'll put my weapon and I tell you something interesting?” (...kau benar, mengunakan senjata itu cara pengecut. Lalu bagaimana dengan ini, akan kutaruh senjataku dan akan kuberitahu sesuatu yang menarik?)
Francis: “If it didn't make me bored here, I'll consider it.” (jika itu tak membuatku bosan di sini, akan kupertimbangkan)
Drake: “Oh, I can guarantee it.” (oh, aku bisa jamin itu)


Di gedung TDG cabang Oslo, Norwegia, di sebuah laboratorium. James sedang duduk bersama beberapa orang ilmuwan, mereka sedang sibuk melakukan penelitian. Mengetik tuts keyboard, mencoba membuka sebuah program. Beberapa komputer dijalankan masing-masing ilmuwan

Ilmuwan 1: “Firewall pertama berhasil diterobos.”
Ilmuwan 2: “Firewall ke dua berhasil diterobos.”
Ilmuwan 3: “Ada virus yang mencoba masuk ke sistem kita, Antivirus kita tak mampu menahannya.”
James: “Kerja bagus, serahkan sisanya kepadaku. Kalian mundurlah, maaf sudah merepotkan kalian. Baiklah, mari kita lihat apa yang terjadi jika aku suntikkan imunisasi ke 'bokong'-nya.”

James memasukkan sebuah kaset ke CPU, lalu muncul tulisan 'Password' di layar monitor. Setelah menekan beberapa tombol, James menekan Enter. Di layar monitor yang besar muncul huruf besar bertuliskan 'Menjalankan Proses: Menghapus Virus'. Beberapa saat kemudian muncul tulisan 'Virus berhasil dihapus, Area aman untuk dimasuki', setelah itu James mengepalkan tangan dan menggerakkannya ke bawah bersama lengannya sedikit.

James: “Akhirnya, mari kita lihat isinya.”

James mengetik beberapa kata, muncullah wallpaper bergambar Einstein menjulurkan lidah.

James: (jengkel) “Ini cuma perasaanku atau sepertinya kita sedang diejek setelah berhasil masuk?”
Roy: (berlari masuk) “JAMES ARCHIBALD YORGINS!!”
James: “Roy, tenang dulu. Aku baru saja berhasil membuka database yang kutemukan.”
Roy: “Lagi-lagi kau keluar tanpa ijin dan tanpa pengawasan! Bagaimana jadinya aku menghadap pada ayahmu nanti?!”
James: “Bukankah kau bilang akan memberikan bantuan sepenuhnya jika aku setuju untuk pulang ke rumah?”
Roy: “Tapi setidaknya harus ada seseorang yang menemanimu ke manapun kau pergi, walau hanya satu orang.”
James: “Baik, baik, aku mengerti. Yang terpenting sekarang adalah ini.” (menunjuk layar monitor)
Roy: “Sepertinya orang yang terlihat bodoh ini mengejekmu.”
James: (jengkel) “Mari kita lanjutkan penelusurannya.”


Beberapa saat kemudian, James melihat video yang merekam saat Francis sedang berlatih di dimensi Crimson. Dia melihat video itu di laptopnya di sebuah kamar tidur, dia melihat ketika Francis berlatih dalam mode Crimson. Menciptakan bilah pisau di bagian lutut, tumit, ujung kaki, sikut, bahu, serta cakar di semua jari tangannya. Banyak bola besi terbang meluncur ke arahnya, dia menangkis semua serangan itu dengan semua pedang dan cakar yang ada di tubuhnya. Memotong-motong bola itu sambil bersalto, bergerak dengan lincahnya. Namun tak lama kemudian semua bola itu menancap di semua bilah pisau, bahkan pada semua jari tangannya yang bercakar. Beberapa bola terbang meluncur membentur perut dan kepala Francis, membuatnya melayang berputar tak terkendali.

Francis: “Matikan Crimson mode!”
Uchida: “Yang benar itu non aktifkan, Francis. Kau masih dalam mode pelatihan, takkan bisa kau matikan semudah itu. Kau harus hancurkan 50 buah untuk menyelesaikan latihan, setelah itu kau bisa menon-aktifkannya. Kau hanya kurang 17 buah, kau sudah mengeluh di saat seperti ini?”
Francis: “Aku tak mau mendengar itu dari orang yang menaikkan tingkat kesulitan latihan karena kecerobohannnya!”
Uchida: “Berhenti mengeluh, kali ini aku benar-benar mengawasimu.”
Francis: (suara hati) “Kalau aku tidak melayang di udara, aku bisa saja menghentikan semua dengan mudah. Tunggu, mungkin ini bisa berhasil.”

Francis membenturkan semua bola yang menancap di seluruh jarinya dengan cara menepukkan tangan, semua bola di tangannya hancur. Dia kemudian mencabut semua bola besi beserta pisau yang ada di tubuhnya, melemparnya satu persatu ke bola besi yang berdatangan. Namun hal itu tak membuatnya hancur, dia lalu diam dan menundukkan kepala. Kakinya mengeluarkan partikel Crimson dan menciptakan sesuatu di bawah kakinya, sesuatu berbentuk kotak di masing-masing telapak kakinya. Ketika sebuah bola besi meluncur, dia melompatinya dan mendarat di pijakan yang dia buat dengan kedua tangannya. Kedua kakinya direntangkan, dia mulai memutar kakinya. Menggerakkan putaran itu dengan kedua tangan yang berpijak di pijakan buatannya, menendang bola-bola itu jauh-jauh. Kini dia berdiri dengan satu tangan dan menangkap sebuah bola dengan kedua kakinya, dia bersalto melempar bola itu dan menendangnya ke salah satu bola yang terbang menuju ke arahnya. Hal itu membuat seluruh bola membentur layaknya bola bilyar, semua bola itu kini meluncur ke sana kemari hingga akhirnya bola-bola itu menuju satu tempat. Di atas kepala Francis seluruh bola itu bertubrukan dan hancur, di sekitarnya sudah tak ada lagi bola besi.

Francis: “Aku bisa keluar sekarang?”
Uchida: “Kau bisa keluar dengan sendirinya, aku sudah menambahkan program yang bisa membuatmu keluar kapanpun kau mau setelah menyelesaikan pelatihan. Putar kenop...”
Francis: “45 derajat ke kanan?”
Uchida: “Benar.”

Semua kristal di tubuhnya menguning setelah dia memutar dan menekan kenop di dadanya, setelah itu dia membusungkan dada dan menembakkan sinar sehingga membuat sebuah lubang dalam dimensi Crimson. Video itu kemudian habis masa penayangannya, James menutup laptopnya setelah melihat video.

James: “Menarik.”

Dia duduk di atas kasur dan membuka ranselnya, dia mengeluarkan helm yang dia temukan. Dia mengamatinya dari dekat, setelah itu dia mencoba memakainya. Beberapa saat kemudian, muncul tulisan di layar helm.

PERINGATAN
IDENTITAS PEMAKAI TAK DIKENALI
AKTIFKAN MODE EKSEKUSI

Mendadak kaget karena hal itu, dia melepas helm yang dia kenakan dan menjatuhkannya ke lantai. Helm itu mengeluarkan semacam arus listrik dari dalam serta laser yang membakar karpet tempat helm itu jatuh, James segera mengambil segelas air dan menyiramnya ke bekas terbakar. Terdengar suara ketukan dari pintu, James langsung berlari ke pintu dan menahannya.

Roy: “James, ada apa di dalam? Aku mendengar ada suara jatuh.”
James: “Tidak ada apa-apa, hanya gelas jatuh.”
Roy: “Gelas? Kenapa bunyinya tidak seperti ada yang pecah?”
James: “Ng... gelasnya jatuh bersama laptopku. Aku tak sengaja menyenggolnya, gelasnya masih ada di atas meja.”
Roy: “Katakan saja itu sejak awal, aku ingin memberitahukan bahwa aku sudah menemukan orang yang kau cari dari pelacak yang kau tanamkan.”
James: “Kerja bagus, aku akan langsung ke sana. Dengan pengawalan yang kau sudah siapkan tentunya, apa semua sudah siap.”
Roy: “Sesuai yang kau minta.”

James terengah-engah dan kembali berjalan ke tempat tidur, dia menjatuhkan dirinya di atas kasur. Menutup wajahnya dengan kedua tangan, dia kemudian tertawa.

James: “Ha... hahaha... hahahahahaha, kau memang orang yang menarik, Francis. Sudah kuputuskan, aku harus mendapatkan dia bagaimanapun juga.”


Kembali ke tempat Francis sedang disekap, Francis kini dalam keadaan terluka parah di dalam selnya. Kedua tangan dan kakinya tertusuk semacam tombak terbuat dari es, dia dalam kondisi tertancap di dinding. Drake dan Margo berada di hadapannya, luka yang berada di sekujur tubuh Francis mulai menghilang.

Margo: “Ini buang-buang waktu, boleh kubekukan dan kukeluarkan otaknya?”
Drake: “Tidak, laboratorium cabang menginginkan kita untuk mengirimnya dalam keadaan tidak ada salah satu bagian tubuhnya lepas dari tempatnya. Kau sudah diberitahu itu sebelum berangkat kemari bukan?”
Margo: “Kalau begitu berikan aku satu kesempatan lagi untuk membuatnya bicara.”
Drake: “Silahkan, dengar baik-baik M46 N4 12O K. Atau kupanggil Mr Zero saja, jika kau berkenan. Aku tahu kau bisa sedikit bahasa Norwegia, kau sempat menipuku tadi.”
Margo: “Cepat ajukan pertanyaannya dan biarkan aku bekukan dia sampai ke tulang-tulangnya.”
Drake: “Tenanglah Margo, kita takkan mendapat apa-apa jika ceroboh. Sekarang maukah menjawab pertanyaanku sekali lagi? Apakah ada orang lain selain Uchida yang datang ke zaman ini? Apakah dia pernah mengatakan pada dirimu jika dia mengirim orang lain ke zaman ini sebelum dia membawamu kabur?”
Francis: “Heh, lucu sekali.”
Drake: “Apanya?”
Francis: “Melihat pengecut sepertimu ketakutan setengah mati karena kecerobohannya sendiri, aku bisa melihatnya. Apa kau begitu takut mereka akan menghukummu karena melenyapkan sebagian dari pesanan mereka?”
Drake: “Apa maksudmu?”
Francis: “Terlihat dari mata cacingmu, rasa takut.”
Margo: “Benar, pengecut ini sangat ketakutan karena dia belum mendapatkan 6 megaton Ulkamium yang dia hilangkan.”
Drake: “Bukan dihilangkan, dicuri.” (gemetaran)
Margo: “Dia sendiri juga punya kebiasaan buruk, kau tahu dia selalu mengambil sedikit bagian dari hasil tambang untuk dirinya sendiri?”
Drake: “Margo! Tugasmu hanya untuk membuatnya bicara!”

Mendadak Margo membenturkan kepala Drake ke tanah, menahannya di lantai dengan belalai yang mendadak keluar dari hidungnya. Sebuah botol minuman jatuh tepat di bawah kaki Francis, Drake meronta-ronta dalam cengkeraman belalai Margo.

Drake: “Margo!! Apa yang kau lakukan?!”
Francis: “Kau... mutan?”
Margo: “Tidak, aku Cyborg. Tapi dirinya ya, (memandang Drake) menyedihkan. Ulkamium adalah mineral yang menjadi bahan utama tubuhku dan tubuhmu, apa kau tahu kegunaan lain dari Ulkamium?”
Francis: “Tidak.”
Margo: “Itu berguna sebagai penekan, kau juga pasti tahu mutan saat mengalami phase 'Venom'.”
Francis: “Aku... sudah mengetahuinya..., ibuku sendiri adalah mutan.”
Margo: “Benarkah? Seharusnya kau masuk ke bagian biologis, lalu kenapa mereka memasukkanmu ke divisi organisme cyber?”
Francis: “Karena ibuku... bukanlah ibu kandungku, aku sudah hidup dengan mutan selama 10 tahun. Phase 'Venom' adalah saat di mana mutan tak bisa mengendalikan kekuatannya karena emosi tertentu, mutan akan merasakan sakit yang tertahankan ketika menjalaninya. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, ibuku mengalami phase 'Venom' ketika dia merasakan suatu kesedihan.”
Margo: “Seperti yang kau katakan, dalam kasus ini Drake juga mengalaminya. Kau lihat?”

Mata Drake yang memerah berubah menjadi hijau, dia meronta-ronta dan berusaha keras mengambil botol yang ada di bawah kaki Francis. Dia hanya bisa menyaksikan ketika tubuh Drake perlahan-lahan menyusut, yang tersisa dari dirinya adalah seragam yang dia pakai. Margo kemudian melenyapkan belalainya, Francis hanya melihat dengan menyipitkan mata.

Francis: “What the...”

Mendadak dari dalam baju yang dipakai Drake, ada semacam benda panjang keluar dan menangkap botol di bawah kaki Francis. Benda itu menarik botol ke dalam pakaian, sesuatu bergerak di dalamnya. Terdengar suara tegukan dari dalam, sesuatu di dalam mulai meronta-ronta. Suara mendesis kini terdengar dari dalamnya, merobek baju dari dalam. Sebuah tangan keluar dari dalamnya, sesosok makhluk kecil keluar dari dalamnya.

Margo: “Lihat, lucu bukan?”
Drake: (terengah-engah) “Kau lakukan itu lagi... akan kubunuh kau...”
Margo: “Aku tak takut pada dirimu, penjilat.”
Francis: (tak berekspresi) “......”
Margo: “Kau tidak bereaksi apapun setelah melihat ini?”
Francis: “Lalu maksudmu aku harus memutar-mutar mataku sambil menjulurkan lidah begitu?”
Margo: (melongo) “Sepertinya itu menarik...”
Drake: “Kita sudahi dulu interogasi hari ini, aku tak mungkin bisa menanyainya dalam keadaan begini. Kau yang bertanggung jawab, kau akan menjaganya semalaman penuh.”
Margo: “Dengan senang hati.”

Dua absorber masuk ke dalam, salah satunya membawa makhluk kecil itu di atas telapak tangannya. Satu lagi membawa tongkat Drake, Margo juga ikut keluar. Penjara laser kembali menyala, Francis dibiarkan dalam keadaan tertusuk di dinding.


Kembali kepada James, kali ini dia berada dalam sebuah mobil kecil bersama Roy sebagai supirnya. Dia sedang melihat HP-nya, di dalamnya ada semacam radar. Roy mengerem mobil dan berhenti di depan sebuah gedung yang kelihatannya tak terpakai, mereka keluar dari dalam mobil.

Roy: “Kau yakin di sini tempatnya?”
James: “Sangat yakin, sebab pelacak itu menunjukkan dia berada di dalam sini. Sekarang aku akan masuk ke dalam.”
Roy: “Tunggu, kau tak bisa seenaknya langsung masuk ke gedung yang kosong ini sendirian. Kita panggil polisi saja dulu, suruh mereka memeriksa ke dalam.”
James: “Aku sudah mengatakan padamu, orang ini spesial. Kau tak perlu memanggil polisi, cukup aku saja yang memeriksa masuk ke dalam. Lebih baik kau suruh pulang para pengawal yang sedari tadi mengikuti kita, kau pikir aku tak tahu?”
Roy: “Apa maksudmu?”
James: “Aku tahu kalau dalam radius 10 meter ini ada mobil yang sedari tadi membuntuti kita, lalu dua sampai tiga orang yang menyamar jadi gelandangan di pojok perempatan itu, dan seorang tukang listrik yang mengawasi kita dengan teropong di atas sana.” (menunjuk tiang listrik)
Roy: “Seperti biasa, perhitunganmu selalu akurat.”
James: “Jadi tolong, sekali ini saja biarkan aku sendiri masuk ke dalam. Pengawalan yang kau sediakan cukup sampai di sini saja, tenang saja. Selain itu juga, aku sudah pakai rompi anti peluru dan membawa alarm kalau sesuatu terjadi padaku.”
Roy: “Tidak mau.”
James: “Ayolah, aku sudah janji akan pulang bukan?”
Roy: “Tapi tetap saja kau tak boleh masuk ke dalam, kecuali... kau membawa seseorang untuk melindungimu.”
James: “Tentu saja kau boleh ikut, sekarang... ayo kita masuk.” (memandangi gedung tua)

No comments:

Post a Comment