Saturday, October 26, 2013

Level 23

PENCULIKAN

Pulau misterius di samudra Atlantik, 18:00. Di dalam hutan, berjalan dua orang wanita. Mereka adalah Olivia dan Megan, mengenakan baju safari dan sebuah helm yang dipasangi senter. Mereka mengikuti jejak milik James dan melewati semak-semak yang terpotong, mereka berdua berjalan sambil membawa tas ransel.

Olivia: “Nona Megan, hari sudah mulai gelap. Apakah kita tidak beristirahat saja dulu?”
Megan: “Akan kulakukan setelah menemukan James.”
Olivia: “Lebih baik jika kita menghubungi kantor pusat untuk meminta bantuan.”
Megan: “Tidak, kita tak bisa bergantung pada mereka. Kau lihat sesuatu yang aneh pada jejak ini?”
Olivia: “Ukuran sepatu ini sama dengan nona Megan, sebab tuan James juga berukuran 39 sama seperti anda. Jejak berukuran 40 ini milik Roy, ukuran 43 ini entah milik siapa. Di sini juga ada jejak seperti diseret, mungkin ini barang bawaan mereka yang dibawa memakai semacam troli.”
Megan: “Jika mereka bertiga berjalan kaki, berarti kemungkinan satu orang lagi adalah bodyguard James yang baru.”
Olivia: “Atau mungkin seseorang yang menyandera mereka berdua.”
Megan: “Jangan langsung ambil kesimpulan seperti itu, bagaimana kau bisa tahu?”
Olivia: “Saya bisa memahaminya… karena dulu beliau pernah diculik 9 tahun yang lalu.”
Megan: (berhenti berjalan) “…memang benar… dan saat itu kita juga menyaksikannya…"
  

            James sedang menceritakan masa lalunya kepada Francis dan Uchida, cerita mundur ke 9 tahun yang lalu. James yang masih kecil saat itu sedang berada di sebuah toko pakaian, dia duduk sendirian di ujung ruangan sambil melihat Megan yang sedang dipilihkan baju oleh orang yang terlihat seperti ibunya. James kemudian mengeluarkan Gameboy dari dalam saku bajunya dan bermain, seseorang yang mencurigakan mengawasinya dari luar etalase toko.

?: “James, kemarilah. Megan sudah selesai memilih bajunya, kau sudah memilih bajumu?”
James: “Aku sudah membelinya sejak kemarin, Ibu. Aku sudah bersiap-siap karena tahu pesta akan diadakan seminggu lagi, jadi Ibu tak perlu repot-repot.”
Ibu James: “Tapi tidakkah sebaiknya kau membeli satu lagi? Terakhir kali kita ke pesta perusahaan, kau basah kuyup karena jatuh ke kolam.”
James: “Aku sudah membeli 3 setel, tak perlu khawatir.”
Megan: “Jangan dengarkan dia, Ibu. Dia mengatakan itu supaya tidak menghadiri pesta, setiap ke sana dia selalu pulang lebih awal.”
Ibu James: “Megan, bicaralah yang sopan pada kakakmu. James, kau tunggu sebentar di situ. Ibu akan membayar pakaian Megan, jangan pergi ke mana-mana.”
James: “Memangnya aku mau ke mana?” 

            Setelah mengatakan hal tersebut, seseorang masuk menerobos etalase toko dan langsung menangkap James. Seorang pria bertopeng memasukkannya ke dalam karung, dia kemudian dibawa masuk ke dalam mobil dan kabur. Ibu James saat itu panik setengah mati, mereka berlari keluar. Pada saat itu Olivia baru saja datang bersama dengan mobil untuk menjemput mereka, dia segera keluar dari dalam. Megan berlari menghampiri Olivia sambil menarik-narik ujung bajunya, orang-orang mulai berkumpul di sekitar toko.

Megan: “Olivia… James… James…” (terisak-isak)
Olivia: “Nona Megan, tenanglah.” (mengusap kepala Megan)
 

            Kembali ke masa sekarang, James memandangi langit berbintang sambil tidur terlentang dengan kedua tangan berada di belakang kepalanya. Roy yang saat itu mendengar, mengusap air matanya yang keluar. Uchida sendiri terlihat sedih dan ingin menangis, namun tak ada air mata setetes pun yang keluar dari matanya. Sebagai gantinya banyak air keluar dari kedua lubang hidungnya, Francis sendiri terlihat tidur dengan pulas.

James: “Kita punya sedikit kesamaan, sebab aku juga pernah ditangkap dan disiksa. Pura-pura tidur pun percuma, aku tahu kau masih terbangun.”
Francis: “……”
Roy: “Jika saat itu aku sudah bekerja jadi pendampingnya hal seperti itu pasti takkan terjadi.”
Uchida: “Memang sejak kapan kau diterima bekerja?”
Roy: “Sekitar 5-6 tahun yang lalu, saat itu aku masih seorang pengamen. Aku tinggal dengan istri dan seorang anak lelaki, rumah kami sangat kecil tapi hidup kami begitu bahagia. Tapi rumah kami langsung digusur karena dianggap mengganggu kenyamanan lingkungan, pada saat itulah James datang dan menawarkan tempat bagi kami semua. Oh, sungguh saat yang indah.”
Uchida: (tidak mendengarkan) “Lalu bagaimana kau bisa lolos?”
James: “Aku diselamatkan.”
Roy: (jengkel) “……” 

            Mundur kembali pada saat James sedang disekap dalam sebuah ruangan yang gelap, kondisinya saat itu babak belur. Dia meringkuk di sudut ruangan, darah mengucur di hidung dan dahinya. Pada saat itu pintu ruangan terbuka, seseorang berdiri di depannya. Tapi orang itu mendadak jatuh tersungkur, ternyata dia pingsan. Ada orang lain yang masuk menyusul, James mendengar suara langkah kaki yang perlahan mendekatinya. Orang itu membalikkan tubuh James, dia melihat orang tersebut yang wajahnya tidak tampak jelas karena kegelapan. Suaranya begitu kecil, tapi ternyata dia sesungguhnya seorang anak kecil yang sebaya dengannya.

?: “James, kau tidak apa-apa? Bangunlah, (membantu berdiri) keluargamu sudah menunggu di luar.”
James: “Ugh… ternyata kau…”
  

            Kembali ke masa sekarang, di mana Olivia dan Megan masih mencari James dan yang lainnya. Mereka diikuti oleh sesosok makhluk dari atas pohon, Olivia sendiri menyadari hal tersebut. Sambil bicara, mereka meneruskan perjalanan.

Megan: “Dan pada saat itu terjadi, teman James datang menolong dan berhasil membebaskannya. Saat itu yang bisa kulakukan hanyalah menunggu hasil investigasi dari kepolisian setempat, aku tak tahu bagaimana perasaanku saat itu jika dia tidak datang membantu.”
Olivia: “Seharusnya saat itu nona mengucapkan terima kasih padanya.”
Megan: “Benar, pada anak lelaki yang sok detektif itu. Ah… tapi sekarang dia memang sudah jadi detektif ya.” 

            Pada saat itulah, makhluk yang sedari tadi mengawasi mereka menyeruak keluar dan turun dari atas pohon. Makhluk itu mengincar Megan yang sedang lengah, namun hal itu berhasil dicegah oleh Olivia yang menendang perut makhluk itu. Makhluk itu terjungkal ke balik semak-semak, Olivia dalam posisi siaga melindungi Megan.

Megan: “Apa yang…”
Olivia: “Nona Megan, jangan menjauh dari saya.” 

            Makhluk itu bergerak di balik semak-semak di belakang mereka, gerakannya begitu cepat sampai-sampai tidak tertangkap oleh cahaya senter mereka. Suara geraman diiringi dengan langkah kaki mendekati mereka dengan cepat, sepasang tangan mencoba menangkap Megan dari belakang. Olivia yang mengetahuinya dengan sigap menangkap kedua tangan itu, Megan kini berada dalam posisi di antara Olivia dan makhluk tersebut. Megan melihat dua tangan yang bercakar dan berbulu yang ditangkap Olivia, dia terlalu takut untuk membalikkan badan dan melihat.

Olivia: “Nona Megan, tiarap!”

            Megan segera merunduk, makhluk itu hampir menerkam kepalanya. Olivia dan makhluk itu jatuh berguling-guling di tanah, helm senter miliknya lepas dan jatuh, Olivia dalam keadaan ditindih oleh makhluk itu. Makhluk itu mencakar-cakar Olivia, Megan lalu mengambil sebuah tindakan. Dia mengeluarkan sebuah pistol dari dalam tasnya dan langsung menembakkannya ke makhluk tersebut, sebuah panah kecil menancap di bahunya. Perhatian makhluk itu teralihkan pada Megan, dia menatap dengan matanya yang kuning. Megan melihat sosok asli dari makhluk tersebut yang disinari senter, Jaguaron berwarna kuning dengan sebuah ikat leher merah.

Megan: “Macan tutul…? Bukan… manusia…?" 

Jaguaron mencabut panah itu dari bahunya, setelah itu dia menjatuhkannya dan melangkahi Olivia yang pingsan dengan keadaan bajunya robek-robek. Jaguaron itu bersiap untuk menerkam, dia mengambil ancang-ancang. Megan menodongkan pistol itu kepadanya, Jaguaron itu langsung meloncat ke arahnya. Terdengar suara tembakan sebanyak 3 kali, burung-burung beterbangan keluar dari pepohonan bersamaan dengan itu. Suara itu terdengar oleh James dan yang berada tidak jauh dari mereka, namun situasi di tempat mereka jauh lebih buruk. Dua Jaguaron warna hitam dan putih mengepung mereka, James dan Roy mempersenjatai diri mereka dengan batang kayu yang dibakar api.

Roy: “Kalian dengar itu?”
Francis: “Kami dengar.”
Uchida: “Tentu saja aku dengar, memangnya untuk apa kita punya telinga?”
James: “Bukannya kau tak punya telinga?” (melihat Uchida)
Uchida: (jengkel) “…apa kita tidak bisa urus masalah yang lain..."
Roy: “Hei, cepat lakukan tugasmu! Berubahlah dan hajar mereka!”
Francis: “Dari tadi aku ingin melakukan itu, tapi Uchida tak mau mengeluarkan helmnya.”
Uchida: “Mohon maaf, energiku yang tinggal sedikit tidak bisa mengoperasikan sebagian besar anggota badanku. Yang bisa kulakukan hanya mengeluarkan sebagian tangan dan kepalaku, perutku tak bisa dibuka sepenuhnya.”
James: “Kalau kau hisap semua makanan ini apa kau bisa mengeluarkannya?”
Uchida: “Mungkin.”
Roy: “Tunggu sebentar, kenapa helm itu harus dibawa olehmu?”
Uchida: “Sebab tenaganya sedang diisi, sekali pemakaian biasanya akan menghabiskan cukup banyak energi.”
Francis: “Mereka datang.”

            Jaguaron hitam menyerang Francis dan menggigit lehernya, dia terjatuh ke tanah. Cipratan darah keluar dari lehernya, Francis mencoba memukulnya tapi berhasil dihindari. Luka yang dia terima sembuh seketika, Francis kemudian mencabut pohon di belakangnya dan menjadikannya sebagai senjata.

Roy: “Hei, hei, hei, itu berlebihan bukan?”
James: “Lalu bagaimana dengan helmnya? Apa energinya sudah terisi penuh?”
Uchida: “Sebenarnya tidak perlu sampai penuh, helm masih bisa digunakan.”
James: “Kalau begitu cepat keluarkan, energimu sendiri juga belum terisi bukan? Hisap saja semua makanan sampai habis, kita dalam keadaan terdesak sekarang.”
Uchida: “Kalau itu kau tak perlu menyuruhku, akan kulakukan sekarang!”
Roy: (berbisik) “Mungkinkah tembakan itu dari ‘mereka’?”
James: “Kemungkinan besar, dia juga bukan tipe yang penyabar.”
Roy: “Kalau begitu kemungkinan mereka dalam bahaya, kita harus menolong mereka!”
James: “Dan bersiap untuk dimarahi oleh dia?”
Roy: “Ep… itu urusan mudah…" 

            Francis mengayun-ayunkan pohon yang dia gunakan untuk menyerang para Jaguaron, namun mereka terlalu cepat. Uchida saat ini sedang mengisap seluruh makanan yang ada sampai habis, Roy sendiri nyaris kena cakaran dari Jaguaron dan membuat bajunya robek. James masih mencoba mempertahankan dirinya, batang kayu yang dia gunakan patah terkena cakaran. Dia mengambil lagi batang kayu yang baru, Jaguaron putih menyerangnya dari depan. James terjatuh sambil menahan terkamannya dengan batang kayu, Roy segera membantunya dengan memukuli kepala Jaguaron.

Roy: “Lepaskan dia!” 

            Namun sayang baginya, dia ditangkap dengan menggunakan ekor dan dilempar ke sungai. Uchida sudah menghisap habis semua makanan, dia mencoba membuka pintu di perutnya.

Uchida: “Ugh, ini tidak bagus. Pintunya hanya terbuka sedikit, aku perlu sedikit energi lagi.”
Francis: “Uchida! Tidakkah kita punya persenjataan!”
Uchida: “Tidak, senjata yang terakhir digunakan sudah tertimbun di Norwegia. Lebih baik kau tidak memakai sesuatu yang besar untuk melawan mereka, ambil sesuatu yang cukup keras dan kecil untuk melawan mereka.”
Francis: “Keras dan kecil?” (melihat panci)
Uchida: “Ya, itu juga bisa.” 

            Francis menjatuhkan batang pohon yang dia pegang dan segera mengambil panci, dia langsung memukulkannya ke Jaguaron hitam yang menyerangnya dari belakang. Pukulan Francis mengenai dagunya dan membuatnya terpental, Francis kemudian melempar panci ke kepala Jaguaron putih. Lemparannya membuat beberapa giginya tanggal, James berhasil membebaskan dirinya dari terkaman. James mengambil panci yang tadi dilempar Francis dan berlari menuju dia, mereka berdiri sambil memunggungi diri.

James: “Hei, katakan padaku. Apa mereka cyborg?”
Uchida: “Tidak, mereka biologis. Tercipta dari hasil rekayasa genetic, mereka dikirim dari laboratorium.”
Francis: “Bagaimana kau bisa tahu mereka dikirim dari laboratorium?”
Uchida: “Lihat di leher mereka, ada kalung dengan lampu yang berkedip-kedip bukan? Itu berarti mereka dikirim untuk menjalankan sebuah tugas, kemungkinan mereka berniat menangkap kita.”
Roy: “Kalau memang berniat menangkap, kenapa kita nyaris dibunuh?!”
James: “Mungkinkah… perintah yang diberikan mereka adalah menangkap kalian… dan membunuh sisanya?”
Uchida: “Mungkin.” 

            James berpikir sejenak, dia meletakkan panci perlahan ke tanah. Setelah itu dia berjalan ke hadapan para Jaguaron, setelah itu dia duduk berlutut.

James: “Bawa aku pada pimpinan kalian.”
Roy: “Apa?! James, jangan!”
Uchida: “Apa maksudmu?!”
Francis: “Tunggu, lihat.”

            Kedua Jaguaron itu sama sekali tidak menyerang James, mereka mengendus-endus tubuhnya. Setelah itu James berdiri, tubuhnya diangkat oleh Jaguaron hitam dan didudukkan di atas kepalanya.

Roy: (heran) “Hah?”
James: “Humpty Dumpty, kau pernah mengatakan bahwa mereka menganggap semua yang ada di dunia ini adalah sampah daur ulang. Tak perduli mereka hidup atau mati, mereka akan menggunakan kita bukan?”
Francis: “…..”
James: “Ketika melihat keadaan sekitar aku jadi tahu apa sebenarnya tugas mereka, kau heran kenapa dari tadi mereka tidak menyentuhmu?”
Uchida: “Kau benar.”
James: “Dan sekarang ini aku menghadapi mereka tanpa perlawanan dan mereka tidak menyerangku, saat itu Francis langsung diserang karena memang itu sudah tugas mereka sejak awal.”
Francis: “Begitu, aku paham.”
Uchida: “Ah, ya.”
Roy: “Seseorang bisa jelaskan maksudnya?”
James: (mendesah) “Karena itu maksudku adalah… tugas mereka hanyalah membawa kita semua ke laboratorium, jika ada yang melawan maka tindakan ekstrim akan dilakukan.”
Francis: “Mereka sudah memperhitungkan jika aku takkan ikut mereka dengan baik-baik, jadi aku diserang lebih dulu.”
Uchida: “Ketika James dan kau membawa barang untuk dijadikan senjata, mereka menganggapmu akan melakukan perlawanan. Jadi tindakan yang tepat memang menyerahkan diri pada musuh, dengan begitu kita bisa mengetahui apakah mereka memiliki mesin waktu atau tidak."
Roy: “Semudah itu? (meletakkan batang kayu) Hahahaha, kenapa tidak dari a…”

            Jaguaron putih langsung menyambar Roy dan membawanya kabur dengan menggigit bajunya, dia berteriak kencang sekali. Bagian belakang leher Francis digigit oleh Jaguaron hitam, dia berlari menyusul Jaguaron putih. Kedua Jaguaron itu pergi membawa Francis, James dan Roy, namun Uchida ditinggalkan begitu saja di tengah hutan.

James: “Hei, kau tidak apa-apa?”
Francis: “Aku masih hidup, hampir.”
James: “Aku lupa bilang kalau mereka mungkin juga harus secepatnya membawa kita.”
Uchida: “Oi! Kenapa aku ditinggal?!”

            Setelah kedua Jaguaron pergi, sesuatu terbang di angkasa dan mengangkat Uchida. Dia terbang melayang dan dibawa masuk ke dalam semacam pesawat kecil, di dalamnya dia bertemu langsung dengan Alvon. Pria berkursi terbang, orang yang sudah tua, berkepala botak di tengah, memiliki rambut di kedua sisi kepalanya, berdagu belah, dan memakai goggle.

Alvon: “Coba lihat ini, Profesor Uchida.”
Uchida: “Dokter Alvon! Jadi kau yang menjalankan fasilitas ini?!”
Alvon: “Maaf, tapi ini adalah kendaraan khusus untukmu. Rekan-rekanmu akan diantar langsung ke laboratoriumku, kau akan pergi bersamaku ke fasilitas pribadiku.”
Uchida: “Kau mau menyerahkanku?”
Alvon: “Sebenarnya aku ingin membuat kesepakatan.”
Uchida: “Untuk apa aku mau bekerja sama denganmu?”

            Alvon menekan sebuah tombol di kursinya, sebuah pipa panjang keluar dan menusuk lubang bagian belakang bawah tubuh Uchida.

Uchida: “AIIIGH!!!”

            Ekspresi Uchida jadi tidak karuan, matanya melotot keluar. Pipa itu memasukkan cairan hijau bercahaya ke dalam tubuhnya, meteran di badan Uchida meningkat naik sampai penuh. Setelah proses selesai, pipa itu dicabut. Tubuh Uchida berubah bentuk menjadi mode tempur, dia menodongkan semua senjatanya kepada Alvon. Tapi dia tenang saja walau ditodong, dia hanya tersenyum simpul.

Uchida: “Kau mengisi tubuhku dengan Ulkamium cair, apa maksudnya ini?”
Alvon: “Seperti yang kumaksud, membuat kesepakatan.”
Uchida: “Apa yang kau mau?”
Alvon: (menyeringai) “Evolusi.”

Saturday, October 19, 2013

Level 22

PULAU

            16 Oktober 2010, 12:00, di sebuah pulau terpencil di Samudra Atlantik. Di sebuah pantai ada jejak panjang disertai dengan serpihan baja yang masuk terus menuju hutan, banyak pohon-pohon tumbang. Jejak itu berhenti di sebuah batu besar, jejak itu sendiri berasal dari bangkai pesawat yang menabrak batu besar tersebut. Sementara itu di bagian hutan yang sedikit dalam, beberapa orang berjalan menyibak semak belukar. Seseorang menarik sesuatu yang besar dengan kereta yang dibuat dari batang pohon, seorang lagi memotong semak belukar Namun satu orang lagi duduk dengan santai di atas benda besar yang diseret kereta, mereka tidak lain dan tidak bukan adalah Francis, James, dan Roy. Uchida dalam keadaan berbentuk telur, dia dinaiki oleh James yang sedang tidur-tiduran dengan santainya. Francis menyeret tubuh Uchida beserta James, Roy sendiri memotong-motong semak belukar yang menghalangi jalan mereka.

James: “Apa kita sudah sampai tujuan?”
Francis: “Kelihatannya bagaimana?”
Roy: “Sulit kupercaya kalau kita harus mengalami hal semacam ini!”
Francis: “Jangan mengeluh, kau masih hidup bukan?”
Roy: “Ya memang, tapi setidaknya sekarang aku sudah berada di Amerika menonton Oprah! Itu lebih baik daripada aku harus menebas semua semak sialan ini, kenapa harus jadi begini?!”
Francis: “Harusnya kau salahkan James.”
James: “Oh, terima kasih banyak.”
Francis: “Uchida sekarang harus menyimpan energinya yang tinggal sedikit karena serangan tersebut, komunikasi tak bisa digunakan di pulau ini karena ada medan magnetis yang kuat menyelubungi pulau.”
James: “Oh, bagus. Mungkinkah burung-burung yang barusan menyerang kita ada di sini?”
Francis: “Bisa jadi, bukankah tadi Uchida sudah menjelaskan? Sekarang ini kita berjalan menuju markas milik mereka yang berada di utara pulau ini, setidaknya begitulah prediksi dari Uchida sebelum tidur.”
James: “Sepertinya ini akan jadi perjalanan panjang, bagaimana jika kita bicara mengenai tentang siapa kalian sebenarnya?”
Francis: “Tidak ada yang bisa kuceritakan untuk orang yang hanya bisa duduk bersantai tanpa melakukan apa-apa.”
James: “…baiklah… (turun dari atas dan mulai berjalan) Bagaimana sekarang?”
Francis: “Tidak.”
James: “Oh, ayolah. Setidaknya satu atau dua kalimat saja cukup bukan? Kau sudah memperlihatkan aksimu dengan penampilan ala ‘Iron Man’-mu itu.”
Francis: “Iron Man? Apa itu?”
Roy: “Semacam jagoan super yang tingkahnya setidaknya sama dengan James.”
James: “Itu hanya tokoh fiksi, tapi tak kusangka bisa menemui orang yang punya kemampuan sejenis dengan Iron Man. Kecuali kau tidak memakai baju baja, bagaimana kalau kau ceritakan sedikit tentang dirimu?”
Francis: (berpikir sejenak) “…yang kutahu adalah kami berdua itu cyborg…”
James: “Benarkah? Jadi kau punya kemampuan apa? Bagian mana dari tubuhmu yang mesin?”
Uchida: “Biar aku saja yang menjelaskan.” (mengeluarkan sebagian kepalanya)
James: “Humpty Dumpty, kupikir kau tidur.”
Uchida: “Kalau hanya sekedar bicara, aku tak perlu membuang energiku.”
James: “Aku tahu kalian berdua datang dari masa depan, apa kalian semacam ‘Terminator’?”
Uchida: “Kami berdua kabur dari sebuah organisasi yang sekitar 300 tahun ke depan nanti akan menguasai seluruh dunia ini, namanya adalah Alterion.”
James: “Kedengarannya bagus.”
Francis: “Oh, tidak sama sekali. Percayalah di masa itu semua tak seperti apa yang ada dalam hidupmu, mereka akan menangkapmu hidup-hidup dan menjadikanmu kelinci percobaan.”
James: “Yang kumaksud adalah nama organisasinya, jadi mereka itu organisasi macam apa? Apakah mereka semuanya mesin yang dikendalikan oleh satu individu yang seperti Skynet?”
Uchida: “Tidak, itu…”
Francis: “Aku tak tahu apa itu Skynet, tapi memang benar jika sebagian dari pasukan mereka adalah mesin yang dikendalikan oleh satu super computer. Tapi tidak semuanya, sebagian lagi dari pasukan mereka adalah mutan seperti yang kau temui baru-baru ini.”
Uchida: “Mutan? Ini jadi semakin menarik, kuharap ini seperti X-Men.”
Francis: “Terserah kau saja.”
Uchida: “Jadi intinya adalah…”
Francis: “Tekhnologi mereka jauh lebih berkembang dibandingkan di zaman ini, mereka menguasai segala bidang. Senjata biologis, alkemi, kecerdasan buatan, dan semacamnya.”

            Uchida yang merasa jengkel, mengeluarkan tangan kanannya dan menyetrum Francis di belakang kepala dengan jempolnya.

Francis: “Auugh!”
Uchida: “Lebih baik kau dengarkan dulu penjelasanku sampai selesai, baru kau boleh bicara. Aku sudah katakan padamu, biar aku saja yang menjelaskan” (memasukkan tangan kanan)
James: “Kau tidak apa-apa?”
Francis: (wajah kejang) “Uh-huh.”
Uchida: “Ehm, jadi begini… Alterion mulai menguasai planet ini sejak tahun 2065, tindakan pertama yang mereka lakukan adalah membantai para pemimpin seluruh negara dan meletakkan mereka di dalam ruang oval di gedug putih.”
Roy: (berhenti sejenak) “Ka… kau serius?”
Uchida: “Bersamaan dengan itu mereka menghancurkan instalasi-instalasi militer di seluruh dunia, tiga hari kemudian terjadi invasi besar-besaran dan pendudukan secara paksa di seluruh negara. Hal itu terjadi sangat cepat selama satu hari, negara terakhir yang melawan mereka dibumi hanguskan.”
Roy: (menelan ludah) “Itu mengerikan.”
James: “Lalu Alterion itu sendiri… sebenarnya apa? Mereka alien?”
Uchida: “Sampai sejauh ini kami belum tahu pasti, tapi beberapa dari mereka memang memiliki wujud manusia tapi tidak di dalamnya. Kami yang tersisa hanya dihadapkan pada dua pilihan, bergabung atau…”
Roy: “Mati.”
Francis: “Tidak, lebih tepatnya kami diberikan kesempatan untuk bertahan hidup dengan hidup yang kosong. Keputusasaan, begitulah kau menyebutnya.”
James dan Roy: (duduk merenung) “……”
Uchida: “Alterion tidak akan begitu saja membunuh orang yang mereka temui, walaupun mereka kehilangan sebagian tubuh mereka ataupun tak memiliki jiwa. Suka atau tidak suka, mereka akan tetap digunakan untuk bekerja pada mereka. Umpamakan saja seperti sampah daur ulang, mereka bisa melakukan itu sesuka mereka.”
James: (berdiri) “Cukup, mari kita lanjutkan perjalanan. Roy, kau naik saja di atas.”
Roy: “J-James, tapi aku masih bisa…”
James: “Kau sudah kelelahan bukan? Biar aku yang menggantikan, ini perintah.”

            James mengambil golok yang diletakkan oleh Roy di tanah dan mulai menebas semak di depannya, Roy yang hanya bisa diam menuruti perkataan James dan duduk di atas Uchida. Mereka melanjutkan perjalanan mereka, sementara mereka diawasi dari balik sebuah pohon. Ada kamera pengawas di dalam pohon itu, mereka diawasi oleh seseorang dari layar monitor. Orang yang mengawasi mereka duduk di atas semacam kursi terbang, dia kemudian menggerakkan kursi itu dan membuka sebuah pintu di hadapannya. Di dalamnya ada banyak sekali makhluk aneh diletakkan di dalam tabung berisi cairan, orang itu berhenti di salah satu tabung dan mengetukkan jarinya. Makhluk di dalamnya terbangun, ternyata itu adalah Drake yang tubuhnya telanjang dan mengenakan masker. Tubuhnya berubah-ubah tidak beraturan, dia mengecil dan membesar berkali-kali. Wujudnya kini berubah saat dia melemah, setelah itu berubah menjadi ketika dia kehilangan kendali. Dia membelah diri menjadi beberapa bagian kemudian menyatu kembali, proses itu membuatnya tersiksa.

?: “Bagaimana keadaanmu? Gurkanite itu mulai mengubahmu secara perlahan, apakah nikmat? Apakah menyakitkan?”
Drake: (menatap dengan marah) “…!!!?...”
?: “Perlu dicatat, proses perubahan membuat subyek tak bisa bicara. (menekan tombol keyboard di kursi) Ah, sepertinya akan terjadi kegagalan kedua hari ini. Subyek M46 sudah masuk ke wilayahku, sayang sekali Drake. Akan kutunjukkan kepadamu kemampuan dari subyek-subyekku, sebagai pelajaran dari kegagalan yang kau alami.”

            Pria berkursi terbang itu menekan tombol, dua buah tabung terbuka secara bersamaan dan mengeluarkan dua makhluk aneh beserta dengan cairan di dalamnya. Kedua makhluk itu diangkat dengan tangan robot dan dihadapkan pada pria itu, dia meminumkannya pada makhluk yang tertidur tersebut. Dua makhluk itu mendadak terbangun dan mengeluarkan raungan keras, mereka melepaskan diri dari tangan robot. Sosok makhluk itu terlihat jelas, mereka memiliki tubuh manusia dan kepala macan tutul. Satu berwarna putih dan satu hitam, mereka kemudian membungkukkan badan di hadapan pria tersebut.

?: “Selamat siang, Jaguaron.”
 

            Di atas lautan Atlantik, ada sebuah helicopter terbang. Di dalamnya ada Olivia yang mengemudikan beserta Megan yang duduk di sebelahnya, Megan memakai sunglass dan sedang mendengarkan musik lewat I-pod. Olivia juga memakai sunglass dan memakai seragam maid, cahaya matahari yang terik menyinari wajahnya yang terlihat jelas. Wajahnya yang berbintik-bintik, hidung mancung, dan rambut pendek keperakan. Megan baru saja selesai mendengarkan lagu dan melepaskan I-podnya, dia kemudian mengeluarkan keripik dari tas tangannya.

Olivia: “Nona Megan, itu sudah keripik kentang kelima yang anda makan selama perjalanan.”
Megan: “Lalu kenapa? Aku takkan jadi gemuk dalam sehari karena itu, yang terpenting sekarang adalah menemukan James.”
Olivia: “Sinyal terakhir kali menunjukkan bahwa beliau ada di sekitar sini.”
Megan: “Dia selalu begitu, mengakali pelacak yang ditanamkan pada setiap kendaraan perusahaan yang dia naiki. Tapi yang dia naiki itu pesawat milikku, dia pikir bisa lolos begitu saja? Dia tak menyadari jika pelacak di pesawatku itu berbeda dengan pelacak lain, untung aku memasangnya sendiri.”
Olivia: “Pelacak sonic sudah diaktifkan, mulai pencarian sekarang?”
Megan: “Tentu saja.”

            Olivia menekan sebuah tombol, di layar monitor muncul sebuah peta yang dihiasi dengan semacam garis merah, garis itu terhubung ke setiap negara satu sama lain.

Megan: “Periksa rute setelah dia pergi ke Norwegia hari ini.”
Olivia: (menekan tombol) “Nona Megan…, beliau masih ada di sekitar sini.”
Megan: “Bagus, itu berarti dia belum jauh. Di arah mana dia sekarang?”
Olivia: “Beliau diam di tempatnya.”
Megan: “Apa maksudmu? Pesawatnya tidak bergerak?”
Olivia: “Gambar di radar menunjukkan bahwa sejak 2 jam yang lalu, pesawat berhenti bergerak dan berada di sekitar sini.”
Megan: (melihat sekitar) “Jika dia berhenti di sini seharusnya ada pangkalan yang memudahkan dia untuk mendarat atau…”
Olivia: “Nona Megan, saya melihat pulau di arah barat daya.”
Megan: “Aneh, seharusnya tidak ada pulau apapun di radar. Tapi lebih baik kita ke sana untuk memastikan, kita akan mengejutkan dia."
 

            Beberapa saat kemudian, helicopter mereka mendarat di pinggir pantai. Olivia dan Megan segera turun dari sana, mereka mulai berlari menyusuri pantai. Megan mulai mencari sinyal dari sebuah alat pelacak yang ada di handphonenya, mereka mendadak berhenti ketika melihat sesuatu. Mereka diam membatu dalam beberapa menit, ada jejak besar, beberapa pohon yang bergelimpangan, serta bekas tabrakan di hadapan mereka. Megan menjatuhkan handphone, Olivia segera menangkapnya sebelum jatuh ke tanah.

Megan: “Dia… memang suka bercanda, tapi sudah jelas ini bukan bercanda.”
Olivia: “Apa tindakan kita berikutnya, nona Megan?”
Megan: “Kita ikuti jejak ini, laksanakan protocol ke 3.”
Olivia: “Jika kejadian seperti ini terjadi, seharusnya kita diwajibkan melaksanakan protocol ke 2.”
Megan: “Protokol ke 2 itu dilaksanakan jika dia dalam keadaan hampir kehilangan nyawanya, dalam kasus ini kita belum tahu apakah dia masih hidup atau tidak.”
Olivia: “Tapi nona Megan, protocol ke 3 setidaknya diharuskan didampingi seorang pengawal berpengalaman?”
Megan: “Lalu untuk apa kau ada di sini? (berbalik) Aku percayakan semuanya padamu, Olivia.”
Olivia: (diam sejenak) “Baik, nona. Saya akan segera menyiapkan alat-alat yang diperlukan."
 

            Kembali pada Francis dan yang lain, mereka kini sampai di sebuah turunan yang curam. Mereka melihat ke bawah secara bersamaan, Uchida sendiri masih dalam bentuk telur.

James: “Kau yakin kita harus turun, Humpty Dumpty?”
Uchida: “Tentu saja, dan berhenti memanggilku Humpty Dumpty.”
Roy: “Kita mudah untuk turun dari sini jika kita berhati-hati, tapi kau harus mengangkat dia sambil turun ke bawah.”
Francis: “Bagiku tak masalah, tapi ada cara yang lebih mudah.”
James: “Apa kau berpikiran sama denganku?”
Francis: “Tidak, pikiranmu saja aku tidak tahu.”
James: “Kita bisa gelindingkan dia ke bawah, dia bulat seperti bola bukan?”
Uchida: “Oi, oi, oi…”
Francis: “Ide bagus, kapan kita bisa melakukannya?”
James: “Lebih cepat lebih baik.”
Francis: “Baiklah, ayo kita…” 

            Belum sempat selesai bicara, Uchida sudah tidak berada di tempatnya. Mereka semua melihat ke sana kemari, Francis melihat ke atas kemudian ke bawah. Dia geleng-geleng kepala begitu melihatnya, ternyata Uchida baru saja turun dengan sendirinya memakai mode terbang.

Uchida: “Oi, turun. Kita tak punya banyak waktu di sini.”
Francis: “Seharusnya kau lakukan itu sejak awal."
 

            Hari sudah agak gelap, Francis melanjutkan perjalanan dan sampai di sebuah sungai kecil. Mereka berhenti sejenak untuk beristirahat, Roy langsung berlari ke air dan membasahi seluruh tubuhnya dengan masuk ke sungai tersebut, James mengambil sedikit air dengan sebuah panci yang dia bawa di dalam tasnya.

James: “Untung kita bisa menyelamatkan sedikit barang yang ada di pesawat, dengan ini kita bisa memasak air untuk diminum.”
Francis: “Aku sudah mengumpulkan banyak ranting seperti yang kau minta.”
James: “Bagus, kita akan membuat api unggun di sini. Sayang sekali kita tidak bisa menemukan buah-buahan, tapi setidaknya kita mungkin bisa menangkap ikan atau makhluk-makhluk kecil di sekitar kita."
Roy: “Dan kau berniat untuk memakannya? Kita bahkan tak punya bumbunya.”
James: “Oh, ayolah. Aku bahkan tak perlu memakan mereka dengan bumbu saat berkemah, cukup dikeluarkan darahnya, kuliti, cuci bersih dengan air, kemudian dipanggang.”
Roy: “Eugh.”
Francis: “Aku juga menemukan beberapa hewan kecil, kalian mau yang mana? Ini (mengangkat kadal) atau ini?” (mengangkat tikus)
Roy: (bengong) “Kita makan ikan saja.”
 

            Di laboratorium tersembunyi di dalam sebuah gua, pria berkursi terbang itu sedang menghubungi seseorang lewat layar monitor. Di layar monitor ada lambang laba-laba dengan sebuah mata di tubuhnya, hanya suara saja yang keluar dari dalamnya.
 
?: “Sesuai rencana, subyek M46 sedang dalam perjalanan kemari. Kalian juga harus memenuhi janjimu jika aku berhasil menangkapnya, Mungo.”
Mungo: “Ya ‘jika’ kau berhasil, tapi jika gagal kami akan menarik kembali semua fasilitas yang kami berikan padamu.”
?: “Tenang saja, aku yakin ini akan berhasil. Subyek milikku saat ini sedang mengejar mereka, Jaguaron tidak pernah mengecawakan kalian selama 200 tahun ini bukan?”
Mungo: “30% dari subyekmu itu sudah mengecewakan kami dalam pertempuran, subyekmu itu masih memiliki kelemahan yang bahkan sangat mudah dipahami bahkan oleh seekor kuman.”
?: (mendesah) “Aku paham mengenai kekecewaan kalian, tapi evolusi akan membuat mereka semakin kuat. Kalian sendiri sudah berevolusi cukup lama dari wujud kalian yang masih seukuran mikroskopik bukan?”
Mungo: “Lebih baik kau tidak mengambil sedikitpun bagian tubuh dari subyek M46, sebab sehelai rambutnya pun bisa menghancurkan setengah populasi dari pulau ini.”
?: “Tentu tidak, lagipula aku masih terikat perjanjian dengan kalian. Aku tak bisa bergerak bebas, aku Doctor Alvon akan melaksanakan apapun yang bisa kulakukan untuk kalian.”
 

            Kembali kepada Francis dan yang lain, mereka sedang menikmati hidangan sup yang dimasak oleh James. Mereka juga memanggang beberapa ikan, tikus dan kadal. Uchida masih dalam wujud telur hanya bisa menatap yang lain menikmati hidangan, Francis menggigit dan melahap habis kadal dan tikus yang dijadikan sate. Roy yang melihatnya mendadak mual dan pergi menjauhi mereka sambil membawa mangkuk supnya, James duduk di atas batu sambil menyantap sup.

Uchida: “Kenapa aku tidak diberi makanan?”
Francis: “Kau akan mendapatkannya setelah kami selesai.”
James: “Apa kau tidak bisa hisap air sungai itu saja?”
Uchida: (jengkel) “Kau itu menghinaku ya?”
James: “Hm, memasukkan ikan sebagai kaldu memang pilihan yang tepat. Roy, bagaimana dengan supnya?”
Roy: “Tu… tunggu dulu… aku perlu waktu…”
James: “Masih mual ya? Francis, kau sudah sampai sejauh mana menguasai kemampuan dari baju tempur itu? Kau pasti punya kemampuan lain selain menembakkan laser di seluruh tubuhmu bukan?”
Francis: “……”
James: “Aku sudah tahu kemampuan keduamu saat tubuhmu menjadi merah sepenuhnya, lalu kau mengeluarkan senjata dari tubuhmu. Kau bisa melakukannya hanya dengan memutar lambang di dadamu dan menekannya, kau juga mampu mengeluarkan senjata dari bagian tubuhmu.”
Francis: (menyeruput kuah sup sampai habis) “Aku tidur dulu.”

            Francis berdiri dan berjalan ke sebuah pohon besar, dia kemudian duduk bersandar. Roy baru saja datang dan melihat keadaan yang begitu dingin, Uchida segera mengeluarkan selang di tubuhnya dan menghisap habis sup dalam panci. James mendesah, dia kemudian berdiri lalu berjalan menghampiri Francis.

James: “Baiklah… sepertinya memang tidak adil kalau hanya kalian yang bercerita, (duduk bersila) aku juga akan sedikit menceritakan tentang diriku.”

Tuesday, October 15, 2013

Level 21


SERANGAN UDARA

            Di atas Samudra Atlantik, 16 Oktober 2010, 03:00. Di sebuah pesawat jet dengan logo TDG, James sedang bermain game X-Box di dalam pesawat. Roy menghidangkan burger dan kentang goreng di hadapannya, sementara itu Francis memandangi pemandangan dari jendela.

James: “Sedari tadi kau melihat keluar jendela, apa kau tidak bosan?”
Francis: “……”
James: “Kau mau main bersamaku? Aku sedang butuh lawan tanding.”
Francis: (menoleh) “Kau mau bertarung?”
James: “Tidak, bukan begitu maksudku. Kita hanya bermain saja, ngomong-ngomong bagaimana dengan seragammu?”

            Francis berdiri dan berjalan ke hadapan James, penampilannya kini terlihat berbeda. Dia memakai jas hitam, kemeja kuning yang dikeluarkan bagian bawahnya, dasi merah, dan celana jeans panjang.

Francis: “Menurutmu?”
James: “Bagus, cukup keren untukmu. Aku sempat mengira ukuran perutmu lebih besar ketika pertama kali kau diukur, tapi tak kusangka…”
Francis: “Apa boleh buat, saat itu aku juga tak merasakannya.”
James: “Seharusnya kau buang dulu semua isi perutmu setelah makan, mekanisme tubuhmu itu sedikit merepotkan juga ya?”
Francis: “Sebab aku mengira setelah dioperasi cara kerja tubuhku sama seperti Uchida, semua makanan yang dia hisap diserap menjadi energi. Ngomong-ngomong di mana dia?”
Roy: “Dia ada di ruang kargo, diam dalam bentuk telur. (mendesah) Dia tak bisa berkeliaran bebas di dalam pesawat, setiap langkahnya membuat pesawat berguncang.”
James: “Sekarang yang jadi masalahnya adalah ketika melewati bea cukai nanti, kau bawa paspormu bukan?”
Francis: “Sudah disiapkan sejak awal oleh Uchida, (mengeluarkan paspor dari balik jas) merepotkan sekali.”
Roy: “Setidaknya foto di paspor itu lebih baik dari sebelumnya, bayangkan kita harus memfotomu sekitar 10 kali karena ekspresi wajahmu yang tak bisa tersenyum.”
James: “Benar, senyummu sendiri bukan senyum alamimu.” 

            James mengubah saluran di TV-nya dan menunjukkan foto-foto wajah Francis dalam berbagai ekspresi, foto pertama menujukkan dia menyeringai dengan gigi sepenuhnya terlihat, mata menyipit, dan kedua alis terangkat. Foto kedua menunjukkan wajahnya dengan mata melotot, kedua alis ditarik ke bawah, dan mulutnya yang menutup dengan lurus. Yang ketiga matanya memutih, bibir mencibir, dan pipinya menggembung. Sebelum sempat menunjukkan foto berikutnya, Francis merebut remot yang dipegang James.

Francis: “Aku akui yang pertama itu memang mimic wajahku, tapi yang sesudah itu bukankah kau yang menyuruhku begitu?”
James: “Ahahaha, ketahuan ya?”
Roy: “Lalu… kenapa kau tidak mengajak serta anak itu?”
Francis: “Anak itu?”
Roy: “Gadis kecil yang kau tolong dari para penjahat waktu itu, kalau tak salah namanya…”
Francis: “Akan lebih merepotkan jika Claudia ikut.”
James: “Benar, dia masih harus bersekolah apalagi dia masih punya orang tua yang mengurusnya.”
Francis: “Aku tak mau lagi mengingat wajahnya yang terus-terusan memohon padaku saat itu.”

            Flashback sekitar sehari yang lalu pada saat Francis masih berada di Norwegia di kediaman keluarga Welsley, sebuah mobil limosin diparkir di depan rumah. Di ruang makan, Francis, James, dan Gilbert duduk mengitari meja makan, Roy berdiri di belakang James. 

Claudia: “Tidak mau!!” (memeluk Francis)
Gilda: “Claudia sayang, ada apa ini?” (baru keluar dari dapur)
Claudia: “Aku tak mau kalau kak Zero pergi!”
Gilbert: “Ah, sebenarnya Francis dipekerjakan oleh James untuk jadi bodyguard-nya.”
Gilda: “Is that true?” (Benarkah itu?)
James: “And he gladly accept it.” (Dan dia dengan sukarela menerimanya.)
Francis: “No, it isn’t” (tidak, itu tak benar)
Gilda: “Oh, bukankah itu bagus?”
Claudia: “Tidak!”
Gilbert: “Masalahnya dia harus meninggalkan negara ini dan mengikuti kemanapun James pergi, besok James akan pulang ke Amerika.”
Gilda: “Lalu kau mengurungkan niatmu untuk tinggal bersama kami?”
Francis: “Aku tidak mengatakan itu, menolak pun belum.”
Claudia: “Jadi kak Zero mau tinggal di sini?”
Francis: “Ya, tapi tidak permanen.”
Gilbert: “Maksudmu?”
Roy: “Dia harus diuji dulu setelah James pulang, ujiannya akan diadakan di kantor pusat. Jika dia lulus, dia akan seterusnya menjaga James. Jika tidak, dia bisa tetap tinggal di sini.”
Francis: “Hei, aku baru tahu kau bisa bicara bahasa itu.”
Roy: “Terima kasih. (menganggukan kepala) Anyway James, we can’t hire someone without test.” (Bagaimanapun James, kita tak bisa mempekerjakan seseorang tanpa diuji)
James: “Hey, hey, hey. I already told you that he already approved, he has quality.” (Hei, hei, hei. Aku kan sudah katakan jika dia langsung diterima, dia itu berkualitas.)
Roy: (melihat Francis ngupil) “I don’t think so…” (Kurasa tidak…)
Claudia: “Kak Zero tak usah pergi, Claudia ingin bersama kak Zero!” (memeluk erat Francis)
Francis: “Seseorang bisa tolong lepaskan dia?”
James: “Ehm, I can’t speak Norway but could you tell her this?” (ehm, aku tak bisa berbahasa Norwegia tapi bisakah kau memberitahukan ini kepadanya?) 

            James membisikkan sesuatu pada Francis, setelah itu Francis membisikkan apa yang dikatakan oleh James kepada Claudia. Claudia melepaskan pelukannya, wajahnya berseri-seri.

Claudia: “Baik, kak Zero.” 

            Kembali ke masa sekarang, pada saat James dan yang lain di pesawat. Francis sedang bermain video game bersama James, mereka memainkan game Street Fighter.

Francis: “Kau selalu melakukan ini setiap hari?”
James: “Tidak juga, tapi menyenangkan bukan?”
Francis: “Mungkin aku bisa melawan orang ini secara langsung.”
James: “Maaf?”
Francis: “Aku mungkin bisa jadikan orang-orang di dalam game ini sebagai lawan latihanku.”
James: “Itu tak mungkin, mereka itu tidak ada dalam kehidupan nyata.”
Francis: “Ngomong-ngomong, apa maksudmu dengan ‘Jika sudah bisa mengurus bayi, aku akan tinggal bersamamu’ yang kau suruh katakan pada Claudia?”
Roy: “APA?!”
James: “Ada apa Roy? Ada masalah?”
Roy: “Kau masalahnya! Beraninya kau…”
Uchida: (mendadak muncul dari dalam monitor) “Tega sekali kau mengatakan hal seperti itu pada anak kecil yang tidak berdosa!”
Francis: “Oh, Uchida. Bukannya kau ada di ruang kargo?”
Uchida: “Aku menyadap sinyal dari tempatku berada sekarang, jadi aku tak perlu pergi ke sana! Apa kau sadar maksud dari perkataan yang kau ucapkan pada Claudia?”
James: “Sudahlah, dia kan hanya anak kecil. Kalian pasti berpikir jika dia harus melakukan hal yang seharusnya pasangan suami istri lakukan bukan?”
Roy: “Justru itu yang aku takutkan.”
Uchida: “Bagaimana kalau nanti dia benar-benar menanggapi seperti itu?! Francis, lebih baik kau hubungi Claudia dan jelaskan padanya kalau itu hanya salah paham!”
Francis: “Terserah kau saja, tapi aku sedang di tengah permainan. Setidaknya bisakah aku melanjutkan?”
Roy: “Kau benar-benar harus menghubunginya.”
Francis: “Yang naik pesawat ini hanya kita saja bukan?”
James: “Ya.”
Francis: “Siapa yang mengemudikannya sekarang?”
Roy: “Oh, tenang saja. Aku pakai auto-pilot, jadi tidak masalah selama aku tak mengemudi.”
Francis: “Oh, jadi selama ini kau yang mengemudi?”
Roy: “Sebagai pelayan dari keluarga Yorgins, aku punya beberapa bakat yang bahkan belum kau ketahui. Masih terlalu cepat untuk terkejut, apa kau mau tahu bakatku yang lain?”
Francis: “Tidak, aku tak tertarik.”
Roy: “Ayolah, setidaknya mintalah diriku menunjukkan salah satunya.”
Francis: “Lalu kau berharap aku akan meloncat keluar dengan telanjang setelah aku melihatmu?”
Roy: (bengong) “…mungkin kutunjukkan lain kali saja…”
Francis: “Ng?” (melihat keluar jendela)
James: “Kenapa? Apa kau merasakan sesuatu? Mungkinkah… ada musuh?” (tersenyum)
Roy: “Jangan bergurau, kita di ketinggian 10 ribu kaki. Kalaupun ada sesuatu pasti sudah terdeteksi radar sejak tadi.”
James: “Kalau begitu periksa lagi, sudah 10 menit sejak kita memakai pilot otomatis.”
Roy: “Siap.”
Francis: (melihat burung di kejauhan) “Hanya burung, kenapa kau kelihatan senang? Kau berharap musuh datang?”
James: “Aku hanya ingin melihatmu beraksi lagi dengan baju tempurmu.” (bersiul) 

            Sementara itu di luar pesawat, mereka tak sadar jika sedang diintai dari balik awan. Ketika pesawat mulai memasuki awan putih, sesosok siluet misterius muncul. Sosok itu terbang melayang mengitari pesawat, sosok itu tidak sendirian. Di sekitar pesawat ada setidaknya 3-5 yang mengitari, salah satu dari mereka mendarat di atas pesawat. Francis yang sibuk bermain mendadak merasakannya, dia mendongak ke atas.

Francis: (suara hati) “Uchida, kau merasakannya?”
Uchida: “Ya, mereka di sini.” 

            Francis langsung menarik James dari tempatnya dan menjatuhkannya ke lantai, dinding pesawat di sebelah James jebol bersamaan dengan itu. Semua barang di dalam pesawat terlempar keluar akibat itu, Francis segera menangkap sebuah tas yang hampir terlempar dan mengeluarkan helm transformasi dari dalamnya. Roy yang saat itu berada di kokpit hendak beranjak dati tempatnya begitu mendengar sesuatu terjadi di belakang, namun pintu ruang pilot tidak bisa dibuka karena tertahan oleh pecahan dinding pesawat yang besar.
 
Roy: “James! Hei, buka pintunya! Apa yang terjadi di sana?!”
Uchida: (bicara melalui radio) “Roy, tenanglah tetap kemudikan pesawatnya. Biar Francis yang mengatasi, aku akan segera ke sana.”

Sementara itu James berpegangan pada kursi dengan erat untuk mencegahnya terlempar keluar, namun Francis ditembaki dari luar sebelum sempat memakai helm. Tembakan itu mengenai tangan kiri, perut dan dada, Francis menjatuhkan helmnya. James menangkap helm yang terjatuh, dari lubang masuklah seseorang. Dia menggunakan baju tempur hitam dengan lambang kelelawar bersayap 4 dan sebuah mata di tengahnya, helmnya berbentuk kepala elang pemakan bangkai. Dia menodongkan senjata yang berada di lengannya pada James, dia kemudian menembakkan jaring padanya. Setelah itu dia ditarik keluar dan dibawa terbang oleh 2 orang berpenampilan sama, mereka memiliki sayap yang menyatu dengan tangan mereka. Sementara itu, Francis berhadapan dengan si penyerang misterius. Orang itu menembakkan tali dari kedua lengannya, menjerat leher dan tangan kanannya. Tali itu dialiri aliran listrik dan menyetrum Francis, namun serangannya diinterupsi oleh kedatangan Uchida yang langsung menyerangnya. Francis berhasil membebaskan diri dari jeratan dan dibawa keluar oleh Uchida, pesawat jet yang mereka tumpangi dijebol sampai terbelah 2. Bagian belakang dari pesawat itu jatuh sementara bagian depan terbang tak terkendali, orang bersayap itu keluar dari bagian pesawat yang terbelah dan jatuh. Uchida berubah wujud ke mode terbang, Roy sendiri masih berada di dalam kokpit dalam keadaan panik. Ia duduk di dalam sambil mengendalikan setengah dari pesawat, Uchida dan Francis mendarat di atas bagian depan.untuk menyeimbangkan.

Uchida: “Aku tak menyangka jika divisi udara akan langsung mendatangi kita.”
Roy: “Hei, seseorang jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?!”
Francis: (melirik dari jendela pesawat) “Kita diserang.”
Roy: “Whoa!! Kenapa kau di luar sana?! Di mana James?” (melihat James dibawa dua orang bersayap)
Francis: “Coba tebak.”
Uchida: “Roy, dengar. Aku ingin kau tetap mengemudikan pesawat, aku sekarang berada di atasmu untuk menyeimbangkan pesawatmu yang sekarang tinggal separuh.”
Roy: “Tinggal… apa katamu?! Kau rusak pesawat ini?!”
Francis: “Secara teknis mereka pelakunya.” (menunjuk orang bersayap)
Roy: “Mustahil, mereka tak terdeteksi radar.”
Uchida: “Dengarkan, aku akan menggunakan tenaga pendorongku sebagai ganti booster yang hilang. Kau cukup arahkan pesawat ini ke tempat yang kutunjukkan, kita akan menyelamatkan James.”
Roy: “Baiklah, aku siap.”
Uchida: “Arahkan ke arah jam 10.”

            Roy terbang menuju arah yang ditunjukkan, Uchida memeluk erat pesawat dan mengeluarkan tenaga pendorong dari tubuhnya. Pesawat itu kini terbang dengan begitu cepat mengikuti dua orang bersayap yang membawa James, jarak mereka begitu dekat. Saat itulah Francis meloncat ke jaring yang berisi James, dia merobek jaring itu dengan tangan kosong.

James: “Lama sekali.”
Francis: “Memangnya apa yang kau tunggu? Mana helmnya?” 

            Ketika menyadari bahwa Francis berada di jaring, salah satu orang bersayap menembakkan peluru dari lengannya kepada Francis. Dia segera menghindar dan melemparkan helmnya ke kepala orang itu, membuatnya melepaskan jaring. Hal ini membuat Francis hilang keseimbangan dan menjatuhkan helmnya, dia segera menarik James keluar dari jaring dan terjun ke bawah.

Roy: “James!”
Uchida: “Jangan lengah, mereka datang!” 

            Tiga orang bersayap mendarat di atas pesawat, menjerat tubuh Uchida dengan tali secara bersamaan. Uchida disetrum oleh mereka, dia menahan sakit sambil terus mencengkeram pesawat. Mendadak ada tembakan laser mengenai salah satu dari mereka, melepaskan salah satu jeratan. Tembakan laser datang lagi kepada dua orang yang tersisa, namun mereka berhasil menghindar. Mereka bertiga kini terbang menjauh dari pesawat, sebagai gantinya seseorang sudah berada di atas pesawat mendarat menggantikan mereka. Francis yang sudah berubah wujud menggendong James di depannya, Uchida hanya geleng-geleng kepala melihatnya.

Francis: “Kau sudah bertahan dengan baik.”
Uchida: “Terima kasih untuk pujiannya, bagaimana James?”
James: “Menurutmu? (terlihat kesal) Maaf, tapi aku bukan orang yang suka digendong seperti pengantin yang baru menikah.”
Francis: “Paling tidak kau masih hidup.”
Uchida: “Masukkan James ke dalam, kita harus mendaratkan pesawat ini di suatu tempat. Energiku menurun perlahan karena serangan barusan, aku takkan bisa lama-lama menahan keseimbangan pesawat.” 

            Francis segera melakukan apa yang diperintahkan Uchida, dia meloncat turun ke bawah dan membuka pintu kokpit. Francis memasukkan James ke dalam, sementara 4 orang bersayap bersiap hendak melancarkan serangan.

Roy: “James!”
James: “Aku baik-baik saja, tak usah berteriak.” (berdiri dan duduk di kursi)
Roy: “Aku lebih khawatir saat pulang nanti, aku tak bisa membayangkan kemarahan adikmu. Ini kan pesawat miliknya, lebih baik aku diculik mereka saja!”
James: “Tenang saja, dia akan memaafkan kita.” (memakai sabuk pengaman)
Roy: (menatap dengan pandangan kosong) “Bagaimana kau bisa berbicara sesantai itu?”
Uchida: “Roy, apa di sekitar sini ada tempat yang bisa kita gunakan untuk mendarat?”
Roy: “Tunggu sebentar, (melihat pulau) kebetulan sekali ada pulau kecil di arah 20 derajat barat daya.”

            Francis menembakkan laser ke segala arah, namun para orang bersayap itu terlalu gesit dan menghindari semua serangannya. Ketika seorang dari mereka menyerang dengan menendang, Francis menangkap kakinya dan memutar-mutar orang itu lalu dilempar. Uchida segera mengeluarkan gas dari ketiaknya untuk mengelabui para orang bersayap, dia segera meluncur keluar dari dalam asap dan terbang dengan cepat menuju pulau yang dituju. Sementara itu orang-orang bersayap yang berhasil dikecoh oleh Uchida ditinggalkan di dalam asap, ternyata salah satu dari mereka ada di luar. Seseorang yang memiliki penampilan sama seperti mereka, namun bajunya hijau, sepatunya runcing, helmnya berbentuk kepala condor dengan sebuah kuncir di atas kepalanya. Dia mengepakkan sayapnya dan membebaskan 4 orang itu dari asap, mereka segera berkumpul setelah bebas.

Orang bersayap: (bahasa Spanyol) “Kolonel Ramon, mereka kabur.”
Ramon: (bahasa Spanyol) “Aku tahu, tak perlu mengejar mereka. Untuk sementara kita mundur dulu ke markas, di pulau itu ada salah satu laboratorium cabang. Kita serahkan urusannya pada mereka, ini sudah di luar batas wilayah kita. Buitres, kita mundur.”
 

            Sementara itu di dalam dapur di sebuah mansion mewah, seorang gadis bersama seorang maid (pelayan wanita) baru saja datang sambil membawa banyak barang belanjaan. Mereka meletakkan semuanya di atas meja, gadis itu melepas topinya. Dia memiliki rambut coklat panjang bergelombang, wajahnya begitu rupawan.

Maid: “Nona Megan, apa yang akan kita masak hari ini?”
Megan: “Tentu saja sesuatu yang enak, James takkan melewatkan kesempatan untuk makan malam bersama kita setelah pulang nanti. Ngomong-ngomong Olivia, kau punya saran untuk menu hari ini?”
Olivia: “Hors D’ Oeuvre’s.”
Megan: “Kita sudah masak itu minggu lalu.”
Olivia: “Pot au Feu.”
Megan: “Terlalu sederhana.”
Olivia: “Carpaccio.”
Megan: “Itu terlalu mewah, kita perlu yang sedikit berbau… Italia.”
Olivia: “Pasta.”
Megan: “Diterima, kita akan masak itu dengan bahan-bahan yang kita beli.”
Olivia: “Nona Megan, mengapa meminta saran tentang menu dari saya… (melirik ke barang belanjaan) jika semua bahan yang kita beli barusan memang digunakan untuk membuat pasta.”
Megan: “Tidak terpikir olehku, lalu ada kabar baru mengenai kakakku? Kudengar dia baru mempekerjakan bodyguard.”
Olivia: “Beliau memang baru saja menerima seorang pria menjadi bodyguard-nya, dia menemukan orang ini di Norwegia. Asal-usulnya tidak begitu jelas, tapi kabarnya dia sudah menolong beliau dari bermacam kesulitan yang dia alami baru-baru ini.”
Megan: “Kakakku memang begitu kalau ada orang yang sudah menolongnya, dia pasti akan langsung membawanya pulang seperti halnya kucing liar yang selalu dia bawa pulang untuk dipiara.”
Olivia: “Bukankah anda juga begitu?”
Megan: “Aku? Tentu tidak Silvia, aku memilihmu karena itu memang sudah takdir. Tunggu sebentar, seharusnya sekarang James sudah menelpon.”

            Megan mengeluarkan Blackberry dari saku bajunya kemudian menyalakannya, dia memeriksa apakah ada panggilan masuk atau tidak. Ada 3 panggilan masuk, namun dia tidak melihat nama James di dalamnya. Dia kemudian mengaktifkan dan membuka sebuah peta dunia, dia terdiam sejenak setelah melihat sesuatu.

Megan: “Olivia, siapkan helicopter sekarang juga. Kita akan menjemput kakakku, dia sudah melewati batas. (tersenyum) Jangan kira kau bisa kabur dariku, James.”