Saturday, October 19, 2013

Level 22

PULAU

            16 Oktober 2010, 12:00, di sebuah pulau terpencil di Samudra Atlantik. Di sebuah pantai ada jejak panjang disertai dengan serpihan baja yang masuk terus menuju hutan, banyak pohon-pohon tumbang. Jejak itu berhenti di sebuah batu besar, jejak itu sendiri berasal dari bangkai pesawat yang menabrak batu besar tersebut. Sementara itu di bagian hutan yang sedikit dalam, beberapa orang berjalan menyibak semak belukar. Seseorang menarik sesuatu yang besar dengan kereta yang dibuat dari batang pohon, seorang lagi memotong semak belukar Namun satu orang lagi duduk dengan santai di atas benda besar yang diseret kereta, mereka tidak lain dan tidak bukan adalah Francis, James, dan Roy. Uchida dalam keadaan berbentuk telur, dia dinaiki oleh James yang sedang tidur-tiduran dengan santainya. Francis menyeret tubuh Uchida beserta James, Roy sendiri memotong-motong semak belukar yang menghalangi jalan mereka.

James: “Apa kita sudah sampai tujuan?”
Francis: “Kelihatannya bagaimana?”
Roy: “Sulit kupercaya kalau kita harus mengalami hal semacam ini!”
Francis: “Jangan mengeluh, kau masih hidup bukan?”
Roy: “Ya memang, tapi setidaknya sekarang aku sudah berada di Amerika menonton Oprah! Itu lebih baik daripada aku harus menebas semua semak sialan ini, kenapa harus jadi begini?!”
Francis: “Harusnya kau salahkan James.”
James: “Oh, terima kasih banyak.”
Francis: “Uchida sekarang harus menyimpan energinya yang tinggal sedikit karena serangan tersebut, komunikasi tak bisa digunakan di pulau ini karena ada medan magnetis yang kuat menyelubungi pulau.”
James: “Oh, bagus. Mungkinkah burung-burung yang barusan menyerang kita ada di sini?”
Francis: “Bisa jadi, bukankah tadi Uchida sudah menjelaskan? Sekarang ini kita berjalan menuju markas milik mereka yang berada di utara pulau ini, setidaknya begitulah prediksi dari Uchida sebelum tidur.”
James: “Sepertinya ini akan jadi perjalanan panjang, bagaimana jika kita bicara mengenai tentang siapa kalian sebenarnya?”
Francis: “Tidak ada yang bisa kuceritakan untuk orang yang hanya bisa duduk bersantai tanpa melakukan apa-apa.”
James: “…baiklah… (turun dari atas dan mulai berjalan) Bagaimana sekarang?”
Francis: “Tidak.”
James: “Oh, ayolah. Setidaknya satu atau dua kalimat saja cukup bukan? Kau sudah memperlihatkan aksimu dengan penampilan ala ‘Iron Man’-mu itu.”
Francis: “Iron Man? Apa itu?”
Roy: “Semacam jagoan super yang tingkahnya setidaknya sama dengan James.”
James: “Itu hanya tokoh fiksi, tapi tak kusangka bisa menemui orang yang punya kemampuan sejenis dengan Iron Man. Kecuali kau tidak memakai baju baja, bagaimana kalau kau ceritakan sedikit tentang dirimu?”
Francis: (berpikir sejenak) “…yang kutahu adalah kami berdua itu cyborg…”
James: “Benarkah? Jadi kau punya kemampuan apa? Bagian mana dari tubuhmu yang mesin?”
Uchida: “Biar aku saja yang menjelaskan.” (mengeluarkan sebagian kepalanya)
James: “Humpty Dumpty, kupikir kau tidur.”
Uchida: “Kalau hanya sekedar bicara, aku tak perlu membuang energiku.”
James: “Aku tahu kalian berdua datang dari masa depan, apa kalian semacam ‘Terminator’?”
Uchida: “Kami berdua kabur dari sebuah organisasi yang sekitar 300 tahun ke depan nanti akan menguasai seluruh dunia ini, namanya adalah Alterion.”
James: “Kedengarannya bagus.”
Francis: “Oh, tidak sama sekali. Percayalah di masa itu semua tak seperti apa yang ada dalam hidupmu, mereka akan menangkapmu hidup-hidup dan menjadikanmu kelinci percobaan.”
James: “Yang kumaksud adalah nama organisasinya, jadi mereka itu organisasi macam apa? Apakah mereka semuanya mesin yang dikendalikan oleh satu individu yang seperti Skynet?”
Uchida: “Tidak, itu…”
Francis: “Aku tak tahu apa itu Skynet, tapi memang benar jika sebagian dari pasukan mereka adalah mesin yang dikendalikan oleh satu super computer. Tapi tidak semuanya, sebagian lagi dari pasukan mereka adalah mutan seperti yang kau temui baru-baru ini.”
Uchida: “Mutan? Ini jadi semakin menarik, kuharap ini seperti X-Men.”
Francis: “Terserah kau saja.”
Uchida: “Jadi intinya adalah…”
Francis: “Tekhnologi mereka jauh lebih berkembang dibandingkan di zaman ini, mereka menguasai segala bidang. Senjata biologis, alkemi, kecerdasan buatan, dan semacamnya.”

            Uchida yang merasa jengkel, mengeluarkan tangan kanannya dan menyetrum Francis di belakang kepala dengan jempolnya.

Francis: “Auugh!”
Uchida: “Lebih baik kau dengarkan dulu penjelasanku sampai selesai, baru kau boleh bicara. Aku sudah katakan padamu, biar aku saja yang menjelaskan” (memasukkan tangan kanan)
James: “Kau tidak apa-apa?”
Francis: (wajah kejang) “Uh-huh.”
Uchida: “Ehm, jadi begini… Alterion mulai menguasai planet ini sejak tahun 2065, tindakan pertama yang mereka lakukan adalah membantai para pemimpin seluruh negara dan meletakkan mereka di dalam ruang oval di gedug putih.”
Roy: (berhenti sejenak) “Ka… kau serius?”
Uchida: “Bersamaan dengan itu mereka menghancurkan instalasi-instalasi militer di seluruh dunia, tiga hari kemudian terjadi invasi besar-besaran dan pendudukan secara paksa di seluruh negara. Hal itu terjadi sangat cepat selama satu hari, negara terakhir yang melawan mereka dibumi hanguskan.”
Roy: (menelan ludah) “Itu mengerikan.”
James: “Lalu Alterion itu sendiri… sebenarnya apa? Mereka alien?”
Uchida: “Sampai sejauh ini kami belum tahu pasti, tapi beberapa dari mereka memang memiliki wujud manusia tapi tidak di dalamnya. Kami yang tersisa hanya dihadapkan pada dua pilihan, bergabung atau…”
Roy: “Mati.”
Francis: “Tidak, lebih tepatnya kami diberikan kesempatan untuk bertahan hidup dengan hidup yang kosong. Keputusasaan, begitulah kau menyebutnya.”
James dan Roy: (duduk merenung) “……”
Uchida: “Alterion tidak akan begitu saja membunuh orang yang mereka temui, walaupun mereka kehilangan sebagian tubuh mereka ataupun tak memiliki jiwa. Suka atau tidak suka, mereka akan tetap digunakan untuk bekerja pada mereka. Umpamakan saja seperti sampah daur ulang, mereka bisa melakukan itu sesuka mereka.”
James: (berdiri) “Cukup, mari kita lanjutkan perjalanan. Roy, kau naik saja di atas.”
Roy: “J-James, tapi aku masih bisa…”
James: “Kau sudah kelelahan bukan? Biar aku yang menggantikan, ini perintah.”

            James mengambil golok yang diletakkan oleh Roy di tanah dan mulai menebas semak di depannya, Roy yang hanya bisa diam menuruti perkataan James dan duduk di atas Uchida. Mereka melanjutkan perjalanan mereka, sementara mereka diawasi dari balik sebuah pohon. Ada kamera pengawas di dalam pohon itu, mereka diawasi oleh seseorang dari layar monitor. Orang yang mengawasi mereka duduk di atas semacam kursi terbang, dia kemudian menggerakkan kursi itu dan membuka sebuah pintu di hadapannya. Di dalamnya ada banyak sekali makhluk aneh diletakkan di dalam tabung berisi cairan, orang itu berhenti di salah satu tabung dan mengetukkan jarinya. Makhluk di dalamnya terbangun, ternyata itu adalah Drake yang tubuhnya telanjang dan mengenakan masker. Tubuhnya berubah-ubah tidak beraturan, dia mengecil dan membesar berkali-kali. Wujudnya kini berubah saat dia melemah, setelah itu berubah menjadi ketika dia kehilangan kendali. Dia membelah diri menjadi beberapa bagian kemudian menyatu kembali, proses itu membuatnya tersiksa.

?: “Bagaimana keadaanmu? Gurkanite itu mulai mengubahmu secara perlahan, apakah nikmat? Apakah menyakitkan?”
Drake: (menatap dengan marah) “…!!!?...”
?: “Perlu dicatat, proses perubahan membuat subyek tak bisa bicara. (menekan tombol keyboard di kursi) Ah, sepertinya akan terjadi kegagalan kedua hari ini. Subyek M46 sudah masuk ke wilayahku, sayang sekali Drake. Akan kutunjukkan kepadamu kemampuan dari subyek-subyekku, sebagai pelajaran dari kegagalan yang kau alami.”

            Pria berkursi terbang itu menekan tombol, dua buah tabung terbuka secara bersamaan dan mengeluarkan dua makhluk aneh beserta dengan cairan di dalamnya. Kedua makhluk itu diangkat dengan tangan robot dan dihadapkan pada pria itu, dia meminumkannya pada makhluk yang tertidur tersebut. Dua makhluk itu mendadak terbangun dan mengeluarkan raungan keras, mereka melepaskan diri dari tangan robot. Sosok makhluk itu terlihat jelas, mereka memiliki tubuh manusia dan kepala macan tutul. Satu berwarna putih dan satu hitam, mereka kemudian membungkukkan badan di hadapan pria tersebut.

?: “Selamat siang, Jaguaron.”
 

            Di atas lautan Atlantik, ada sebuah helicopter terbang. Di dalamnya ada Olivia yang mengemudikan beserta Megan yang duduk di sebelahnya, Megan memakai sunglass dan sedang mendengarkan musik lewat I-pod. Olivia juga memakai sunglass dan memakai seragam maid, cahaya matahari yang terik menyinari wajahnya yang terlihat jelas. Wajahnya yang berbintik-bintik, hidung mancung, dan rambut pendek keperakan. Megan baru saja selesai mendengarkan lagu dan melepaskan I-podnya, dia kemudian mengeluarkan keripik dari tas tangannya.

Olivia: “Nona Megan, itu sudah keripik kentang kelima yang anda makan selama perjalanan.”
Megan: “Lalu kenapa? Aku takkan jadi gemuk dalam sehari karena itu, yang terpenting sekarang adalah menemukan James.”
Olivia: “Sinyal terakhir kali menunjukkan bahwa beliau ada di sekitar sini.”
Megan: “Dia selalu begitu, mengakali pelacak yang ditanamkan pada setiap kendaraan perusahaan yang dia naiki. Tapi yang dia naiki itu pesawat milikku, dia pikir bisa lolos begitu saja? Dia tak menyadari jika pelacak di pesawatku itu berbeda dengan pelacak lain, untung aku memasangnya sendiri.”
Olivia: “Pelacak sonic sudah diaktifkan, mulai pencarian sekarang?”
Megan: “Tentu saja.”

            Olivia menekan sebuah tombol, di layar monitor muncul sebuah peta yang dihiasi dengan semacam garis merah, garis itu terhubung ke setiap negara satu sama lain.

Megan: “Periksa rute setelah dia pergi ke Norwegia hari ini.”
Olivia: (menekan tombol) “Nona Megan…, beliau masih ada di sekitar sini.”
Megan: “Bagus, itu berarti dia belum jauh. Di arah mana dia sekarang?”
Olivia: “Beliau diam di tempatnya.”
Megan: “Apa maksudmu? Pesawatnya tidak bergerak?”
Olivia: “Gambar di radar menunjukkan bahwa sejak 2 jam yang lalu, pesawat berhenti bergerak dan berada di sekitar sini.”
Megan: (melihat sekitar) “Jika dia berhenti di sini seharusnya ada pangkalan yang memudahkan dia untuk mendarat atau…”
Olivia: “Nona Megan, saya melihat pulau di arah barat daya.”
Megan: “Aneh, seharusnya tidak ada pulau apapun di radar. Tapi lebih baik kita ke sana untuk memastikan, kita akan mengejutkan dia."
 

            Beberapa saat kemudian, helicopter mereka mendarat di pinggir pantai. Olivia dan Megan segera turun dari sana, mereka mulai berlari menyusuri pantai. Megan mulai mencari sinyal dari sebuah alat pelacak yang ada di handphonenya, mereka mendadak berhenti ketika melihat sesuatu. Mereka diam membatu dalam beberapa menit, ada jejak besar, beberapa pohon yang bergelimpangan, serta bekas tabrakan di hadapan mereka. Megan menjatuhkan handphone, Olivia segera menangkapnya sebelum jatuh ke tanah.

Megan: “Dia… memang suka bercanda, tapi sudah jelas ini bukan bercanda.”
Olivia: “Apa tindakan kita berikutnya, nona Megan?”
Megan: “Kita ikuti jejak ini, laksanakan protocol ke 3.”
Olivia: “Jika kejadian seperti ini terjadi, seharusnya kita diwajibkan melaksanakan protocol ke 2.”
Megan: “Protokol ke 2 itu dilaksanakan jika dia dalam keadaan hampir kehilangan nyawanya, dalam kasus ini kita belum tahu apakah dia masih hidup atau tidak.”
Olivia: “Tapi nona Megan, protocol ke 3 setidaknya diharuskan didampingi seorang pengawal berpengalaman?”
Megan: “Lalu untuk apa kau ada di sini? (berbalik) Aku percayakan semuanya padamu, Olivia.”
Olivia: (diam sejenak) “Baik, nona. Saya akan segera menyiapkan alat-alat yang diperlukan."
 

            Kembali pada Francis dan yang lain, mereka kini sampai di sebuah turunan yang curam. Mereka melihat ke bawah secara bersamaan, Uchida sendiri masih dalam bentuk telur.

James: “Kau yakin kita harus turun, Humpty Dumpty?”
Uchida: “Tentu saja, dan berhenti memanggilku Humpty Dumpty.”
Roy: “Kita mudah untuk turun dari sini jika kita berhati-hati, tapi kau harus mengangkat dia sambil turun ke bawah.”
Francis: “Bagiku tak masalah, tapi ada cara yang lebih mudah.”
James: “Apa kau berpikiran sama denganku?”
Francis: “Tidak, pikiranmu saja aku tidak tahu.”
James: “Kita bisa gelindingkan dia ke bawah, dia bulat seperti bola bukan?”
Uchida: “Oi, oi, oi…”
Francis: “Ide bagus, kapan kita bisa melakukannya?”
James: “Lebih cepat lebih baik.”
Francis: “Baiklah, ayo kita…” 

            Belum sempat selesai bicara, Uchida sudah tidak berada di tempatnya. Mereka semua melihat ke sana kemari, Francis melihat ke atas kemudian ke bawah. Dia geleng-geleng kepala begitu melihatnya, ternyata Uchida baru saja turun dengan sendirinya memakai mode terbang.

Uchida: “Oi, turun. Kita tak punya banyak waktu di sini.”
Francis: “Seharusnya kau lakukan itu sejak awal."
 

            Hari sudah agak gelap, Francis melanjutkan perjalanan dan sampai di sebuah sungai kecil. Mereka berhenti sejenak untuk beristirahat, Roy langsung berlari ke air dan membasahi seluruh tubuhnya dengan masuk ke sungai tersebut, James mengambil sedikit air dengan sebuah panci yang dia bawa di dalam tasnya.

James: “Untung kita bisa menyelamatkan sedikit barang yang ada di pesawat, dengan ini kita bisa memasak air untuk diminum.”
Francis: “Aku sudah mengumpulkan banyak ranting seperti yang kau minta.”
James: “Bagus, kita akan membuat api unggun di sini. Sayang sekali kita tidak bisa menemukan buah-buahan, tapi setidaknya kita mungkin bisa menangkap ikan atau makhluk-makhluk kecil di sekitar kita."
Roy: “Dan kau berniat untuk memakannya? Kita bahkan tak punya bumbunya.”
James: “Oh, ayolah. Aku bahkan tak perlu memakan mereka dengan bumbu saat berkemah, cukup dikeluarkan darahnya, kuliti, cuci bersih dengan air, kemudian dipanggang.”
Roy: “Eugh.”
Francis: “Aku juga menemukan beberapa hewan kecil, kalian mau yang mana? Ini (mengangkat kadal) atau ini?” (mengangkat tikus)
Roy: (bengong) “Kita makan ikan saja.”
 

            Di laboratorium tersembunyi di dalam sebuah gua, pria berkursi terbang itu sedang menghubungi seseorang lewat layar monitor. Di layar monitor ada lambang laba-laba dengan sebuah mata di tubuhnya, hanya suara saja yang keluar dari dalamnya.
 
?: “Sesuai rencana, subyek M46 sedang dalam perjalanan kemari. Kalian juga harus memenuhi janjimu jika aku berhasil menangkapnya, Mungo.”
Mungo: “Ya ‘jika’ kau berhasil, tapi jika gagal kami akan menarik kembali semua fasilitas yang kami berikan padamu.”
?: “Tenang saja, aku yakin ini akan berhasil. Subyek milikku saat ini sedang mengejar mereka, Jaguaron tidak pernah mengecawakan kalian selama 200 tahun ini bukan?”
Mungo: “30% dari subyekmu itu sudah mengecewakan kami dalam pertempuran, subyekmu itu masih memiliki kelemahan yang bahkan sangat mudah dipahami bahkan oleh seekor kuman.”
?: (mendesah) “Aku paham mengenai kekecewaan kalian, tapi evolusi akan membuat mereka semakin kuat. Kalian sendiri sudah berevolusi cukup lama dari wujud kalian yang masih seukuran mikroskopik bukan?”
Mungo: “Lebih baik kau tidak mengambil sedikitpun bagian tubuh dari subyek M46, sebab sehelai rambutnya pun bisa menghancurkan setengah populasi dari pulau ini.”
?: “Tentu tidak, lagipula aku masih terikat perjanjian dengan kalian. Aku tak bisa bergerak bebas, aku Doctor Alvon akan melaksanakan apapun yang bisa kulakukan untuk kalian.”
 

            Kembali kepada Francis dan yang lain, mereka sedang menikmati hidangan sup yang dimasak oleh James. Mereka juga memanggang beberapa ikan, tikus dan kadal. Uchida masih dalam wujud telur hanya bisa menatap yang lain menikmati hidangan, Francis menggigit dan melahap habis kadal dan tikus yang dijadikan sate. Roy yang melihatnya mendadak mual dan pergi menjauhi mereka sambil membawa mangkuk supnya, James duduk di atas batu sambil menyantap sup.

Uchida: “Kenapa aku tidak diberi makanan?”
Francis: “Kau akan mendapatkannya setelah kami selesai.”
James: “Apa kau tidak bisa hisap air sungai itu saja?”
Uchida: (jengkel) “Kau itu menghinaku ya?”
James: “Hm, memasukkan ikan sebagai kaldu memang pilihan yang tepat. Roy, bagaimana dengan supnya?”
Roy: “Tu… tunggu dulu… aku perlu waktu…”
James: “Masih mual ya? Francis, kau sudah sampai sejauh mana menguasai kemampuan dari baju tempur itu? Kau pasti punya kemampuan lain selain menembakkan laser di seluruh tubuhmu bukan?”
Francis: “……”
James: “Aku sudah tahu kemampuan keduamu saat tubuhmu menjadi merah sepenuhnya, lalu kau mengeluarkan senjata dari tubuhmu. Kau bisa melakukannya hanya dengan memutar lambang di dadamu dan menekannya, kau juga mampu mengeluarkan senjata dari bagian tubuhmu.”
Francis: (menyeruput kuah sup sampai habis) “Aku tidur dulu.”

            Francis berdiri dan berjalan ke sebuah pohon besar, dia kemudian duduk bersandar. Roy baru saja datang dan melihat keadaan yang begitu dingin, Uchida segera mengeluarkan selang di tubuhnya dan menghisap habis sup dalam panci. James mendesah, dia kemudian berdiri lalu berjalan menghampiri Francis.

James: “Baiklah… sepertinya memang tidak adil kalau hanya kalian yang bercerita, (duduk bersila) aku juga akan sedikit menceritakan tentang diriku.”

No comments:

Post a Comment