PULAU
16 Oktober 2010, 12:00, di sebuah
pulau terpencil di Samudra Atlantik. Di sebuah pantai ada jejak panjang
disertai dengan serpihan baja yang masuk terus menuju hutan, banyak pohon-pohon
tumbang. Jejak itu berhenti di sebuah batu besar, jejak itu sendiri berasal
dari bangkai pesawat yang menabrak batu besar tersebut. Sementara itu di bagian
hutan yang sedikit dalam, beberapa orang berjalan menyibak semak belukar.
Seseorang menarik sesuatu yang besar dengan kereta yang dibuat dari batang
pohon, seorang lagi memotong semak belukar Namun satu orang lagi duduk dengan
santai di atas benda besar yang diseret kereta, mereka tidak lain dan tidak
bukan adalah Francis, James, dan Roy. Uchida dalam keadaan berbentuk telur, dia
dinaiki oleh James yang sedang tidur-tiduran dengan santainya. Francis menyeret
tubuh Uchida beserta James, Roy sendiri memotong-motong semak belukar yang
menghalangi jalan mereka.
James:
“Apa kita sudah sampai tujuan?”
Francis:
“Kelihatannya bagaimana?”
Roy:
“Sulit kupercaya kalau kita harus mengalami hal semacam ini!”
Francis:
“Jangan mengeluh, kau masih hidup bukan?”
Roy:
“Ya memang, tapi setidaknya sekarang aku sudah berada di Amerika menonton
Oprah! Itu lebih baik daripada aku harus menebas semua semak sialan ini, kenapa
harus jadi begini?!”
Francis:
“Harusnya kau salahkan James.”
James:
“Oh, terima kasih banyak.”
Francis:
“Uchida sekarang harus menyimpan energinya yang tinggal sedikit karena serangan
tersebut, komunikasi tak bisa digunakan di pulau ini karena ada medan magnetis
yang kuat menyelubungi pulau.”
James:
“Oh, bagus. Mungkinkah burung-burung yang barusan menyerang kita ada di sini?”
Francis:
“Bisa jadi, bukankah tadi Uchida sudah menjelaskan? Sekarang ini kita berjalan
menuju markas milik mereka yang berada di utara pulau ini, setidaknya begitulah
prediksi dari Uchida sebelum tidur.”
James:
“Sepertinya ini akan jadi perjalanan panjang, bagaimana jika kita bicara
mengenai tentang siapa kalian sebenarnya?”
Francis:
“Tidak ada yang bisa kuceritakan untuk orang yang hanya bisa duduk bersantai
tanpa melakukan apa-apa.”
James:
“…baiklah… (turun dari atas dan mulai berjalan) Bagaimana sekarang?”
Francis:
“Tidak.”
James:
“Oh, ayolah. Setidaknya satu atau dua kalimat saja cukup bukan? Kau sudah
memperlihatkan aksimu dengan penampilan ala ‘Iron Man’-mu itu.”
Francis:
“Iron Man? Apa itu?”
Roy:
“Semacam jagoan super yang tingkahnya setidaknya sama dengan James.”
James:
“Itu hanya tokoh fiksi, tapi tak kusangka bisa menemui orang yang punya
kemampuan sejenis dengan Iron Man. Kecuali kau tidak memakai baju baja,
bagaimana kalau kau ceritakan sedikit tentang dirimu?”
Francis:
(berpikir sejenak) “…yang kutahu adalah kami berdua itu cyborg…”
James:
“Benarkah? Jadi kau punya kemampuan apa? Bagian mana dari tubuhmu yang mesin?”
Uchida:
“Biar aku saja yang menjelaskan.” (mengeluarkan sebagian kepalanya)
James:
“Humpty Dumpty, kupikir kau tidur.”
Uchida:
“Kalau hanya sekedar bicara, aku tak perlu membuang energiku.”
James:
“Aku tahu kalian berdua datang dari masa depan, apa kalian semacam
‘Terminator’?”
Uchida:
“Kami berdua kabur dari sebuah organisasi yang sekitar 300 tahun ke depan nanti
akan menguasai seluruh dunia ini, namanya adalah Alterion.”
James:
“Kedengarannya bagus.”
Francis:
“Oh, tidak sama sekali. Percayalah di masa itu semua tak seperti apa yang ada
dalam hidupmu, mereka akan menangkapmu hidup-hidup dan menjadikanmu kelinci
percobaan.”
James:
“Yang kumaksud adalah nama organisasinya, jadi mereka itu organisasi macam apa?
Apakah mereka semuanya mesin yang dikendalikan oleh satu individu yang seperti
Skynet?”
Uchida:
“Tidak, itu…”
Francis:
“Aku tak tahu apa itu Skynet, tapi memang benar jika sebagian dari pasukan
mereka adalah mesin yang dikendalikan oleh satu super computer. Tapi tidak
semuanya, sebagian lagi dari pasukan mereka adalah mutan seperti yang kau temui
baru-baru ini.”
Uchida:
“Mutan? Ini jadi semakin menarik, kuharap ini seperti X-Men.”
Francis:
“Terserah kau saja.”
Uchida:
“Jadi intinya adalah…”
Francis:
“Tekhnologi mereka jauh lebih berkembang dibandingkan di zaman ini, mereka menguasai
segala bidang. Senjata biologis, alkemi, kecerdasan buatan, dan semacamnya.”
Uchida yang merasa jengkel,
mengeluarkan tangan kanannya dan menyetrum Francis di belakang kepala dengan
jempolnya.
Francis:
“Auugh!”
Uchida:
“Lebih baik kau dengarkan dulu penjelasanku sampai selesai, baru kau boleh
bicara. Aku sudah katakan padamu, biar aku saja yang menjelaskan” (memasukkan
tangan kanan)
James:
“Kau tidak apa-apa?”
Francis:
(wajah kejang) “Uh-huh.”
Uchida:
“Ehm, jadi begini… Alterion mulai menguasai planet ini sejak tahun 2065, tindakan
pertama yang mereka lakukan adalah membantai para pemimpin seluruh negara dan
meletakkan mereka di dalam ruang oval di gedug putih.”
Roy:
(berhenti sejenak) “Ka… kau serius?”
Uchida:
“Bersamaan dengan itu mereka menghancurkan instalasi-instalasi militer di
seluruh dunia, tiga hari kemudian terjadi invasi besar-besaran dan pendudukan
secara paksa di seluruh negara. Hal itu terjadi sangat cepat selama satu hari,
negara terakhir yang melawan mereka dibumi hanguskan.”
Roy:
(menelan ludah) “Itu mengerikan.”
James:
“Lalu Alterion itu sendiri… sebenarnya apa? Mereka alien?”
Uchida:
“Sampai sejauh ini kami belum tahu pasti, tapi beberapa dari mereka memang
memiliki wujud manusia tapi tidak di dalamnya. Kami yang tersisa hanya dihadapkan
pada dua pilihan, bergabung atau…”
Roy:
“Mati.”
Francis:
“Tidak, lebih tepatnya kami diberikan kesempatan untuk bertahan hidup dengan
hidup yang kosong. Keputusasaan, begitulah kau menyebutnya.”
James
dan Roy: (duduk merenung) “……”
Uchida:
“Alterion tidak akan begitu saja membunuh orang yang mereka temui, walaupun
mereka kehilangan sebagian tubuh mereka ataupun tak memiliki jiwa. Suka atau
tidak suka, mereka akan tetap digunakan untuk bekerja pada mereka. Umpamakan
saja seperti sampah daur ulang, mereka bisa melakukan itu sesuka mereka.”
James:
(berdiri) “Cukup, mari kita lanjutkan perjalanan. Roy, kau naik saja di atas.”
Roy:
“J-James, tapi aku masih bisa…”
James:
“Kau sudah kelelahan bukan? Biar aku yang menggantikan, ini perintah.”
James mengambil golok yang
diletakkan oleh Roy di tanah dan mulai menebas semak di depannya, Roy yang
hanya bisa diam menuruti perkataan James dan duduk di atas Uchida. Mereka
melanjutkan perjalanan mereka, sementara mereka diawasi dari balik sebuah
pohon. Ada kamera pengawas di dalam pohon itu, mereka diawasi oleh seseorang
dari layar monitor. Orang yang mengawasi mereka duduk di atas semacam kursi
terbang, dia kemudian menggerakkan kursi itu dan membuka sebuah pintu di
hadapannya. Di dalamnya ada banyak sekali makhluk aneh diletakkan di dalam
tabung berisi cairan, orang itu berhenti di salah satu tabung dan mengetukkan
jarinya. Makhluk di dalamnya terbangun, ternyata itu adalah Drake yang tubuhnya
telanjang dan mengenakan masker. Tubuhnya berubah-ubah tidak beraturan, dia
mengecil dan membesar berkali-kali. Wujudnya kini berubah saat dia melemah,
setelah itu berubah menjadi ketika dia kehilangan kendali. Dia membelah diri
menjadi beberapa bagian kemudian menyatu kembali, proses itu membuatnya
tersiksa.
?:
“Bagaimana keadaanmu? Gurkanite itu mulai mengubahmu secara perlahan, apakah
nikmat? Apakah menyakitkan?”
Drake:
(menatap dengan marah) “…!!!?...”
?:
“Perlu dicatat, proses perubahan membuat subyek tak bisa bicara. (menekan
tombol keyboard di kursi) Ah, sepertinya akan terjadi kegagalan kedua hari ini.
Subyek M46 sudah masuk ke wilayahku, sayang sekali Drake. Akan kutunjukkan
kepadamu kemampuan dari subyek-subyekku, sebagai pelajaran dari kegagalan yang
kau alami.”
Pria berkursi terbang itu menekan
tombol, dua buah tabung terbuka secara bersamaan dan mengeluarkan dua makhluk
aneh beserta dengan cairan di dalamnya. Kedua makhluk itu diangkat dengan
tangan robot dan dihadapkan pada pria itu, dia meminumkannya pada makhluk yang
tertidur tersebut. Dua makhluk itu mendadak terbangun dan mengeluarkan raungan
keras, mereka melepaskan diri dari tangan robot. Sosok makhluk itu terlihat
jelas, mereka memiliki tubuh manusia dan kepala macan tutul. Satu berwarna
putih dan satu hitam, mereka kemudian membungkukkan badan di hadapan pria
tersebut.
?:
“Selamat siang, Jaguaron.”
Di atas lautan Atlantik, ada sebuah
helicopter terbang. Di dalamnya ada Olivia yang mengemudikan beserta Megan yang
duduk di sebelahnya, Megan memakai sunglass dan sedang mendengarkan musik lewat
I-pod. Olivia juga memakai sunglass dan memakai seragam maid, cahaya matahari
yang terik menyinari wajahnya yang terlihat jelas. Wajahnya yang
berbintik-bintik, hidung mancung, dan rambut pendek keperakan. Megan baru saja
selesai mendengarkan lagu dan melepaskan I-podnya, dia kemudian mengeluarkan
keripik dari tas tangannya.
Olivia:
“Nona Megan, itu sudah keripik kentang kelima yang anda makan selama
perjalanan.”
Megan:
“Lalu kenapa? Aku takkan jadi gemuk dalam sehari karena itu, yang terpenting
sekarang adalah menemukan James.”
Olivia:
“Sinyal terakhir kali menunjukkan bahwa beliau ada di sekitar sini.”
Megan:
“Dia selalu begitu, mengakali pelacak yang ditanamkan pada setiap kendaraan
perusahaan yang dia naiki. Tapi yang dia naiki itu pesawat milikku, dia pikir
bisa lolos begitu saja? Dia tak menyadari jika pelacak di pesawatku itu berbeda
dengan pelacak lain, untung aku memasangnya sendiri.”
Olivia:
“Pelacak sonic sudah diaktifkan, mulai pencarian sekarang?”
Megan:
“Tentu saja.”
Olivia menekan sebuah tombol, di
layar monitor muncul sebuah peta yang dihiasi dengan semacam garis merah, garis
itu terhubung ke setiap negara satu sama lain.
Megan:
“Periksa rute setelah dia pergi ke Norwegia hari ini.”
Olivia:
(menekan tombol) “Nona Megan…, beliau masih ada di sekitar sini.”
Megan:
“Bagus, itu berarti dia belum jauh. Di arah mana dia sekarang?”
Olivia:
“Beliau diam di tempatnya.”
Megan:
“Apa maksudmu? Pesawatnya tidak bergerak?”
Olivia:
“Gambar di radar menunjukkan bahwa sejak 2 jam yang lalu, pesawat berhenti
bergerak dan berada di sekitar sini.”
Megan:
(melihat sekitar) “Jika dia berhenti di sini seharusnya ada pangkalan yang
memudahkan dia untuk mendarat atau…”
Olivia:
“Nona Megan, saya melihat pulau di arah barat daya.”
Megan:
“Aneh, seharusnya tidak ada pulau apapun di radar. Tapi lebih baik kita ke sana
untuk memastikan, kita akan mengejutkan dia."
Beberapa saat kemudian, helicopter
mereka mendarat di pinggir pantai. Olivia dan Megan segera turun dari sana,
mereka mulai berlari menyusuri pantai. Megan mulai mencari sinyal dari sebuah
alat pelacak yang ada di handphonenya, mereka mendadak berhenti ketika melihat
sesuatu. Mereka diam membatu dalam beberapa menit, ada jejak besar, beberapa
pohon yang bergelimpangan, serta bekas tabrakan di hadapan mereka. Megan menjatuhkan
handphone, Olivia segera menangkapnya sebelum jatuh ke tanah.
Megan:
“Dia… memang suka bercanda, tapi sudah jelas ini bukan bercanda.”
Olivia:
“Apa tindakan kita berikutnya, nona Megan?”
Megan:
“Kita ikuti jejak ini, laksanakan protocol ke 3.”
Olivia:
“Jika kejadian seperti ini terjadi, seharusnya kita diwajibkan melaksanakan
protocol ke 2.”
Megan:
“Protokol ke 2 itu dilaksanakan jika dia dalam keadaan hampir kehilangan
nyawanya, dalam kasus ini kita belum tahu apakah dia masih hidup atau tidak.”
Olivia:
“Tapi nona Megan, protocol ke 3 setidaknya diharuskan didampingi seorang
pengawal berpengalaman?”
Megan:
“Lalu untuk apa kau ada di sini? (berbalik) Aku percayakan semuanya padamu,
Olivia.”
Olivia:
(diam sejenak) “Baik, nona. Saya akan segera menyiapkan alat-alat yang
diperlukan."
Kembali pada Francis dan yang lain,
mereka kini sampai di sebuah turunan yang curam. Mereka melihat ke bawah secara
bersamaan, Uchida sendiri masih dalam bentuk telur.
James:
“Kau yakin kita harus turun, Humpty Dumpty?”
Uchida:
“Tentu saja, dan berhenti memanggilku Humpty Dumpty.”
Roy:
“Kita mudah untuk turun dari sini jika kita berhati-hati, tapi kau harus
mengangkat dia sambil turun ke bawah.”
Francis:
“Bagiku tak masalah, tapi ada cara yang lebih mudah.”
James:
“Apa kau berpikiran sama denganku?”
Francis:
“Tidak, pikiranmu saja aku tidak tahu.”
James:
“Kita bisa gelindingkan dia ke bawah, dia bulat seperti bola bukan?”
Uchida:
“Oi, oi, oi…”
Francis:
“Ide bagus, kapan kita bisa melakukannya?”
James:
“Lebih cepat lebih baik.”
Francis:
“Baiklah, ayo kita…”
Belum sempat selesai bicara, Uchida
sudah tidak berada di tempatnya. Mereka semua melihat ke sana kemari, Francis
melihat ke atas kemudian ke bawah. Dia geleng-geleng kepala begitu melihatnya,
ternyata Uchida baru saja turun dengan sendirinya memakai mode terbang.
Uchida:
“Oi, turun. Kita tak punya banyak waktu di sini.”
Francis:
“Seharusnya kau lakukan itu sejak awal."
Hari sudah agak gelap, Francis
melanjutkan perjalanan dan sampai di sebuah sungai kecil. Mereka berhenti
sejenak untuk beristirahat, Roy langsung berlari ke air dan membasahi seluruh
tubuhnya dengan masuk ke sungai tersebut, James mengambil sedikit air dengan
sebuah panci yang dia bawa di dalam tasnya.
James:
“Untung kita bisa menyelamatkan sedikit barang yang ada di pesawat, dengan ini
kita bisa memasak air untuk diminum.”
Francis:
“Aku sudah mengumpulkan banyak ranting seperti yang kau minta.”
James:
“Bagus, kita akan membuat api unggun di sini. Sayang sekali kita tidak bisa
menemukan buah-buahan, tapi setidaknya kita mungkin bisa menangkap ikan atau
makhluk-makhluk kecil di sekitar kita."
Roy:
“Dan kau berniat untuk memakannya? Kita bahkan tak punya bumbunya.”
James:
“Oh, ayolah. Aku bahkan tak perlu memakan mereka dengan bumbu saat berkemah,
cukup dikeluarkan darahnya, kuliti, cuci bersih dengan air, kemudian
dipanggang.”
Roy:
“Eugh.”
Francis:
“Aku juga menemukan beberapa hewan kecil, kalian mau yang mana? Ini (mengangkat
kadal) atau ini?” (mengangkat tikus)
Roy:
(bengong) “Kita makan ikan saja.”
Di laboratorium tersembunyi di dalam
sebuah gua, pria berkursi terbang itu sedang menghubungi seseorang lewat layar
monitor. Di layar monitor ada lambang laba-laba dengan sebuah mata di tubuhnya,
hanya suara saja yang keluar dari dalamnya.
?:
“Sesuai rencana, subyek M46 sedang dalam perjalanan kemari. Kalian juga harus
memenuhi janjimu jika aku berhasil menangkapnya, Mungo.”
Mungo:
“Ya ‘jika’ kau berhasil, tapi jika gagal kami akan menarik kembali semua
fasilitas yang kami berikan padamu.”
?:
“Tenang saja, aku yakin ini akan berhasil. Subyek milikku saat ini sedang
mengejar mereka, Jaguaron tidak pernah mengecawakan kalian selama 200 tahun ini
bukan?”
Mungo:
“30% dari subyekmu itu sudah mengecewakan kami dalam pertempuran, subyekmu itu
masih memiliki kelemahan yang bahkan sangat mudah dipahami bahkan oleh seekor
kuman.”
?:
(mendesah) “Aku paham mengenai kekecewaan kalian, tapi evolusi akan membuat
mereka semakin kuat. Kalian sendiri sudah berevolusi cukup lama dari wujud
kalian yang masih seukuran mikroskopik bukan?”
Mungo:
“Lebih baik kau tidak mengambil sedikitpun bagian tubuh dari subyek M46, sebab
sehelai rambutnya pun bisa menghancurkan setengah populasi dari pulau ini.”
?:
“Tentu tidak, lagipula aku masih terikat perjanjian dengan kalian. Aku tak bisa
bergerak bebas, aku Doctor Alvon akan melaksanakan apapun yang bisa kulakukan
untuk kalian.”
Kembali kepada Francis dan yang
lain, mereka sedang menikmati hidangan sup yang dimasak oleh James. Mereka juga
memanggang beberapa ikan, tikus dan kadal. Uchida masih dalam wujud telur hanya
bisa menatap yang lain menikmati hidangan, Francis menggigit dan melahap habis
kadal dan tikus yang dijadikan sate. Roy yang melihatnya mendadak mual dan
pergi menjauhi mereka sambil membawa mangkuk supnya, James duduk di atas batu
sambil menyantap sup.
Uchida:
“Kenapa aku tidak diberi makanan?”
Francis:
“Kau akan mendapatkannya setelah kami selesai.”
James:
“Apa kau tidak bisa hisap air sungai itu saja?”
Uchida:
(jengkel) “Kau itu menghinaku ya?”
James:
“Hm, memasukkan ikan sebagai kaldu memang pilihan yang tepat. Roy, bagaimana
dengan supnya?”
Roy:
“Tu… tunggu dulu… aku perlu waktu…”
James:
“Masih mual ya? Francis, kau sudah sampai sejauh mana menguasai kemampuan dari
baju tempur itu? Kau pasti punya kemampuan lain selain menembakkan laser di
seluruh tubuhmu bukan?”
Francis:
“……”
James:
“Aku sudah tahu kemampuan keduamu saat tubuhmu menjadi merah sepenuhnya, lalu
kau mengeluarkan senjata dari tubuhmu. Kau bisa melakukannya hanya dengan
memutar lambang di dadamu dan menekannya, kau juga mampu mengeluarkan senjata
dari bagian tubuhmu.”
Francis:
(menyeruput kuah sup sampai habis) “Aku tidur dulu.”
Francis berdiri dan berjalan ke
sebuah pohon besar, dia kemudian duduk bersandar. Roy baru saja datang dan
melihat keadaan yang begitu dingin, Uchida segera mengeluarkan selang di
tubuhnya dan menghisap habis sup dalam panci. James mendesah, dia kemudian
berdiri lalu berjalan menghampiri Francis.
James:
“Baiklah… sepertinya memang tidak adil kalau hanya kalian yang bercerita,
(duduk bersila) aku juga akan sedikit menceritakan tentang diriku.”
No comments:
Post a Comment