SERANGAN
UDARA
Di atas Samudra
Atlantik, 16 Oktober 2010, 03:00. Di sebuah pesawat jet dengan logo TDG, James
sedang bermain game X-Box di dalam pesawat. Roy menghidangkan burger dan
kentang goreng di hadapannya, sementara itu Francis memandangi pemandangan dari
jendela.
James:
“Sedari tadi kau melihat keluar jendela, apa kau tidak bosan?”
Francis:
“……”
James:
“Kau mau main bersamaku? Aku sedang butuh lawan tanding.”
Francis:
(menoleh) “Kau mau bertarung?”
James:
“Tidak, bukan begitu maksudku. Kita hanya bermain saja, ngomong-ngomong
bagaimana dengan seragammu?”
Francis berdiri dan berjalan ke
hadapan James, penampilannya kini terlihat berbeda. Dia memakai jas hitam,
kemeja kuning yang dikeluarkan bagian bawahnya, dasi merah, dan celana jeans panjang.
Francis:
“Menurutmu?”
James:
“Bagus, cukup keren untukmu. Aku sempat mengira ukuran perutmu lebih besar
ketika pertama kali kau diukur, tapi tak kusangka…”
Francis:
“Apa boleh buat, saat itu aku juga tak merasakannya.”
James:
“Seharusnya kau buang dulu semua isi perutmu setelah makan, mekanisme tubuhmu
itu sedikit merepotkan juga ya?”
Francis:
“Sebab aku mengira setelah dioperasi cara kerja tubuhku sama seperti Uchida,
semua makanan yang dia hisap diserap menjadi energi. Ngomong-ngomong di mana
dia?”
Roy:
“Dia ada di ruang kargo, diam dalam bentuk telur. (mendesah) Dia tak bisa
berkeliaran bebas di dalam pesawat, setiap langkahnya membuat pesawat
berguncang.”
James:
“Sekarang yang jadi masalahnya adalah ketika melewati bea cukai nanti, kau bawa
paspormu bukan?”
Francis:
“Sudah disiapkan sejak awal oleh Uchida, (mengeluarkan paspor dari balik jas)
merepotkan sekali.”
Roy:
“Setidaknya foto di paspor itu lebih baik dari sebelumnya, bayangkan kita harus
memfotomu sekitar 10 kali karena ekspresi wajahmu yang tak bisa tersenyum.”
James:
“Benar, senyummu sendiri bukan senyum alamimu.”
James mengubah saluran di TV-nya dan
menunjukkan foto-foto wajah Francis dalam berbagai ekspresi, foto pertama
menujukkan dia menyeringai dengan gigi sepenuhnya terlihat, mata menyipit, dan
kedua alis terangkat. Foto kedua menunjukkan wajahnya dengan mata melotot,
kedua alis ditarik ke bawah, dan mulutnya yang menutup dengan lurus. Yang
ketiga matanya memutih, bibir mencibir, dan pipinya menggembung. Sebelum sempat
menunjukkan foto berikutnya, Francis merebut remot yang dipegang James.
Francis:
“Aku akui yang pertama itu memang mimic wajahku, tapi yang sesudah itu bukankah
kau yang menyuruhku begitu?”
James:
“Ahahaha, ketahuan ya?”
Roy:
“Lalu… kenapa kau tidak mengajak serta anak itu?”
Francis:
“Anak itu?”
Roy:
“Gadis kecil yang kau tolong dari para penjahat waktu itu, kalau tak salah
namanya…”
Francis:
“Akan lebih merepotkan jika Claudia ikut.”
James:
“Benar, dia masih harus bersekolah apalagi dia masih punya orang tua yang mengurusnya.”
Francis:
“Aku tak mau lagi mengingat wajahnya yang terus-terusan memohon padaku saat
itu.”
Flashback sekitar sehari yang lalu
pada saat Francis masih berada di Norwegia di kediaman keluarga Welsley, sebuah
mobil limosin diparkir di depan rumah. Di ruang makan, Francis, James, dan Gilbert
duduk mengitari meja makan, Roy berdiri di belakang James.
Claudia:
“Tidak mau!!” (memeluk Francis)
Gilda:
“Claudia sayang, ada apa ini?” (baru keluar dari dapur)
Claudia:
“Aku tak mau kalau kak Zero pergi!”
Gilbert:
“Ah, sebenarnya Francis dipekerjakan oleh James untuk jadi bodyguard-nya.”
Gilda:
“Is that true?” (Benarkah itu?)
James:
“And he gladly accept it.” (Dan dia dengan sukarela menerimanya.)
Francis:
“No, it isn’t” (tidak, itu tak benar)
Gilda:
“Oh, bukankah itu bagus?”
Claudia:
“Tidak!”
Gilbert:
“Masalahnya dia harus meninggalkan negara ini dan mengikuti kemanapun James
pergi, besok James akan pulang ke Amerika.”
Gilda:
“Lalu kau mengurungkan niatmu untuk tinggal bersama kami?”
Francis:
“Aku tidak mengatakan itu, menolak pun belum.”
Claudia:
“Jadi kak Zero mau tinggal di sini?”
Francis:
“Ya, tapi tidak permanen.”
Gilbert:
“Maksudmu?”
Roy:
“Dia harus diuji dulu setelah James pulang, ujiannya akan diadakan di kantor
pusat. Jika dia lulus, dia akan seterusnya menjaga James. Jika tidak, dia bisa
tetap tinggal di sini.”
Francis:
“Hei, aku baru tahu kau bisa bicara bahasa itu.”
Roy:
“Terima kasih. (menganggukan kepala) Anyway James, we can’t hire someone
without test.” (Bagaimanapun James, kita tak bisa mempekerjakan seseorang tanpa
diuji)
James:
“Hey, hey, hey. I already told you that he already approved, he has quality.” (Hei,
hei, hei. Aku kan sudah katakan jika dia langsung diterima, dia itu
berkualitas.)
Roy:
(melihat Francis ngupil) “I don’t think so…” (Kurasa tidak…)
Claudia:
“Kak Zero tak usah pergi, Claudia ingin bersama kak Zero!” (memeluk erat
Francis)
Francis:
“Seseorang bisa tolong lepaskan dia?”
James:
“Ehm, I can’t speak Norway but could you tell her this?” (ehm, aku tak bisa
berbahasa Norwegia tapi bisakah kau memberitahukan ini kepadanya?)
James membisikkan sesuatu pada
Francis, setelah itu Francis membisikkan apa yang dikatakan oleh James kepada
Claudia. Claudia melepaskan pelukannya, wajahnya berseri-seri.
Claudia:
“Baik, kak Zero.”
Kembali ke masa sekarang, pada saat
James dan yang lain di pesawat. Francis sedang bermain video game bersama
James, mereka memainkan game Street Fighter.
Francis:
“Kau selalu melakukan ini setiap hari?”
James:
“Tidak juga, tapi menyenangkan bukan?”
Francis:
“Mungkin aku bisa melawan orang ini secara langsung.”
James:
“Maaf?”
Francis:
“Aku mungkin bisa jadikan orang-orang di dalam game ini sebagai lawan
latihanku.”
James:
“Itu tak mungkin, mereka itu tidak ada dalam kehidupan nyata.”
Francis:
“Ngomong-ngomong, apa maksudmu dengan ‘Jika sudah bisa mengurus bayi, aku akan
tinggal bersamamu’ yang kau suruh katakan pada Claudia?”
Roy:
“APA?!”
James:
“Ada apa Roy? Ada masalah?”
Roy:
“Kau masalahnya! Beraninya kau…”
Uchida:
(mendadak muncul dari dalam monitor) “Tega sekali kau mengatakan hal seperti
itu pada anak kecil yang tidak berdosa!”
Francis:
“Oh, Uchida. Bukannya kau ada di ruang kargo?”
Uchida:
“Aku menyadap sinyal dari tempatku berada sekarang, jadi aku tak perlu pergi ke
sana! Apa kau sadar maksud dari perkataan yang kau ucapkan pada Claudia?”
James:
“Sudahlah, dia kan hanya anak kecil. Kalian pasti berpikir jika dia harus
melakukan hal yang seharusnya pasangan suami istri lakukan bukan?”
Roy:
“Justru itu yang aku takutkan.”
Uchida:
“Bagaimana kalau nanti dia benar-benar menanggapi seperti itu?! Francis, lebih
baik kau hubungi Claudia dan jelaskan padanya kalau itu hanya salah paham!”
Francis:
“Terserah kau saja, tapi aku sedang di tengah permainan. Setidaknya bisakah aku
melanjutkan?”
Roy:
“Kau benar-benar harus menghubunginya.”
Francis:
“Yang naik pesawat ini hanya kita saja bukan?”
James:
“Ya.”
Francis:
“Siapa yang mengemudikannya sekarang?”
Roy:
“Oh, tenang saja. Aku pakai auto-pilot, jadi tidak masalah selama aku tak
mengemudi.”
Francis:
“Oh, jadi selama ini kau yang mengemudi?”
Roy:
“Sebagai pelayan dari keluarga Yorgins, aku punya beberapa bakat yang bahkan
belum kau ketahui. Masih terlalu cepat untuk terkejut, apa kau mau tahu bakatku
yang lain?”
Francis:
“Tidak, aku tak tertarik.”
Roy:
“Ayolah, setidaknya mintalah diriku menunjukkan salah satunya.”
Francis:
“Lalu kau berharap aku akan meloncat keluar dengan telanjang setelah aku
melihatmu?”
Roy:
(bengong) “…mungkin kutunjukkan lain kali saja…”
Francis:
“Ng?” (melihat keluar jendela)
James:
“Kenapa? Apa kau merasakan sesuatu? Mungkinkah… ada musuh?” (tersenyum)
Roy:
“Jangan bergurau, kita di ketinggian 10 ribu kaki. Kalaupun ada sesuatu pasti
sudah terdeteksi radar sejak tadi.”
James:
“Kalau begitu periksa lagi, sudah 10 menit sejak kita memakai pilot otomatis.”
Roy:
“Siap.”
Francis:
(melihat burung di kejauhan) “Hanya burung, kenapa kau kelihatan senang? Kau
berharap musuh datang?”
James:
“Aku hanya ingin melihatmu beraksi lagi dengan baju tempurmu.” (bersiul)
Sementara itu di luar pesawat,
mereka tak sadar jika sedang diintai dari balik awan. Ketika pesawat mulai
memasuki awan putih, sesosok siluet misterius muncul. Sosok itu terbang
melayang mengitari pesawat, sosok itu tidak sendirian. Di sekitar pesawat ada
setidaknya 3-5 yang mengitari, salah satu dari mereka mendarat di atas pesawat.
Francis yang sibuk bermain mendadak merasakannya, dia mendongak ke atas.
Francis:
(suara hati) “Uchida, kau merasakannya?”
Uchida:
“Ya, mereka di sini.”
Francis langsung menarik James dari
tempatnya dan menjatuhkannya ke lantai, dinding pesawat di sebelah James jebol
bersamaan dengan itu. Semua barang di dalam pesawat terlempar keluar akibat
itu, Francis segera menangkap sebuah tas yang hampir terlempar dan mengeluarkan
helm transformasi dari dalamnya. Roy yang saat itu berada di kokpit hendak
beranjak dati tempatnya begitu mendengar sesuatu terjadi di belakang, namun
pintu ruang pilot tidak bisa dibuka karena tertahan oleh pecahan dinding
pesawat yang besar.
Roy:
“James! Hei, buka pintunya! Apa yang terjadi di sana?!”
Uchida:
(bicara melalui radio) “Roy, tenanglah tetap kemudikan pesawatnya. Biar Francis
yang mengatasi, aku akan segera ke sana.”
Sementara itu James berpegangan pada
kursi dengan erat untuk mencegahnya terlempar keluar, namun Francis ditembaki
dari luar sebelum sempat memakai helm. Tembakan itu mengenai tangan kiri, perut
dan dada, Francis menjatuhkan helmnya. James menangkap helm yang terjatuh, dari
lubang masuklah seseorang. Dia menggunakan baju tempur hitam dengan lambang kelelawar
bersayap 4 dan sebuah mata di tengahnya, helmnya berbentuk kepala elang pemakan
bangkai. Dia menodongkan senjata yang berada di lengannya pada James, dia
kemudian menembakkan jaring padanya. Setelah itu dia ditarik keluar dan dibawa
terbang oleh 2 orang berpenampilan sama, mereka memiliki sayap yang menyatu
dengan tangan mereka. Sementara itu, Francis berhadapan dengan si penyerang
misterius. Orang itu menembakkan tali dari kedua lengannya, menjerat leher dan
tangan kanannya. Tali itu dialiri aliran listrik dan menyetrum Francis, namun
serangannya diinterupsi oleh kedatangan Uchida yang langsung menyerangnya.
Francis berhasil membebaskan diri dari jeratan dan dibawa keluar oleh Uchida,
pesawat jet yang mereka tumpangi dijebol sampai terbelah 2. Bagian belakang
dari pesawat itu jatuh sementara bagian depan terbang tak terkendali, orang
bersayap itu keluar dari bagian pesawat yang terbelah dan jatuh. Uchida berubah
wujud ke mode terbang, Roy sendiri masih berada di dalam kokpit dalam keadaan
panik. Ia duduk di dalam sambil mengendalikan setengah dari pesawat, Uchida dan
Francis mendarat di atas bagian depan.untuk menyeimbangkan.
Uchida:
“Aku tak menyangka jika divisi udara akan langsung mendatangi kita.”
Roy:
“Hei, seseorang jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?!”
Francis:
(melirik dari jendela pesawat) “Kita diserang.”
Roy:
“Whoa!! Kenapa kau di luar sana?! Di mana James?” (melihat James dibawa dua
orang bersayap)
Francis:
“Coba tebak.”
Uchida:
“Roy, dengar. Aku ingin kau tetap mengemudikan pesawat, aku sekarang berada di
atasmu untuk menyeimbangkan pesawatmu yang sekarang tinggal separuh.”
Roy:
“Tinggal… apa katamu?! Kau rusak pesawat ini?!”
Francis:
“Secara teknis mereka pelakunya.” (menunjuk orang bersayap)
Roy:
“Mustahil, mereka tak terdeteksi radar.”
Uchida:
“Dengarkan, aku akan menggunakan tenaga pendorongku sebagai ganti booster yang
hilang. Kau cukup arahkan pesawat ini ke tempat yang kutunjukkan, kita akan
menyelamatkan James.”
Roy:
“Baiklah, aku siap.”
Uchida:
“Arahkan ke arah jam 10.”
Roy terbang menuju arah yang
ditunjukkan, Uchida memeluk erat pesawat dan mengeluarkan tenaga pendorong dari
tubuhnya. Pesawat itu kini terbang dengan begitu cepat mengikuti dua orang
bersayap yang membawa James, jarak mereka begitu dekat. Saat itulah Francis
meloncat ke jaring yang berisi James, dia merobek jaring itu dengan tangan
kosong.
James:
“Lama sekali.”
Francis:
“Memangnya apa yang kau tunggu? Mana helmnya?”
Ketika menyadari bahwa Francis
berada di jaring, salah satu orang bersayap menembakkan peluru dari lengannya
kepada Francis. Dia segera menghindar dan melemparkan helmnya ke kepala orang
itu, membuatnya melepaskan jaring. Hal ini membuat Francis hilang keseimbangan
dan menjatuhkan helmnya, dia segera menarik James keluar dari jaring dan terjun
ke bawah.
Roy:
“James!”
Uchida:
“Jangan lengah, mereka datang!”
Tiga orang bersayap mendarat di atas
pesawat, menjerat tubuh Uchida dengan tali secara bersamaan. Uchida disetrum
oleh mereka, dia menahan sakit sambil terus mencengkeram pesawat. Mendadak ada
tembakan laser mengenai salah satu dari mereka, melepaskan salah satu jeratan.
Tembakan laser datang lagi kepada dua orang yang tersisa, namun mereka berhasil
menghindar. Mereka bertiga kini terbang menjauh dari pesawat, sebagai gantinya
seseorang sudah berada di atas pesawat mendarat menggantikan mereka. Francis
yang sudah berubah wujud menggendong James di depannya, Uchida hanya
geleng-geleng kepala melihatnya.
Francis:
“Kau sudah bertahan dengan baik.”
Uchida:
“Terima kasih untuk pujiannya, bagaimana James?”
James:
“Menurutmu? (terlihat kesal) Maaf, tapi aku bukan orang yang suka digendong
seperti pengantin yang baru menikah.”
Francis:
“Paling tidak kau masih hidup.”
Uchida:
“Masukkan James ke dalam, kita harus mendaratkan pesawat ini di suatu tempat.
Energiku menurun perlahan karena serangan barusan, aku takkan bisa lama-lama
menahan keseimbangan pesawat.”
Francis segera melakukan apa yang
diperintahkan Uchida, dia meloncat turun ke bawah dan membuka pintu kokpit.
Francis memasukkan James ke dalam, sementara 4 orang bersayap bersiap hendak
melancarkan serangan.
Roy:
“James!”
James:
“Aku baik-baik saja, tak usah berteriak.” (berdiri dan duduk di kursi)
Roy:
“Aku lebih khawatir saat pulang nanti, aku tak bisa membayangkan kemarahan
adikmu. Ini kan pesawat miliknya, lebih baik aku diculik mereka saja!”
James:
“Tenang saja, dia akan memaafkan kita.” (memakai sabuk pengaman)
Roy:
(menatap dengan pandangan kosong) “Bagaimana kau bisa berbicara sesantai itu?”
Uchida:
“Roy, apa di sekitar sini ada tempat yang bisa kita gunakan untuk mendarat?”
Roy:
“Tunggu sebentar, (melihat pulau) kebetulan sekali ada pulau kecil di arah 20
derajat barat daya.”
Francis menembakkan laser ke segala
arah, namun para orang bersayap itu terlalu gesit dan menghindari semua
serangannya. Ketika seorang dari mereka menyerang dengan menendang, Francis
menangkap kakinya dan memutar-mutar orang itu lalu dilempar. Uchida segera
mengeluarkan gas dari ketiaknya untuk mengelabui para orang bersayap, dia
segera meluncur keluar dari dalam asap dan terbang dengan cepat menuju pulau
yang dituju. Sementara itu orang-orang bersayap yang berhasil dikecoh oleh
Uchida ditinggalkan di dalam asap, ternyata salah satu dari mereka ada di luar.
Seseorang yang memiliki penampilan sama seperti mereka, namun bajunya hijau,
sepatunya runcing, helmnya berbentuk kepala condor dengan sebuah kuncir di atas
kepalanya. Dia mengepakkan sayapnya dan membebaskan 4 orang itu dari asap,
mereka segera berkumpul setelah bebas.
Orang
bersayap: (bahasa Spanyol) “Kolonel Ramon, mereka kabur.”
Ramon:
(bahasa Spanyol) “Aku tahu, tak perlu mengejar mereka. Untuk sementara kita
mundur dulu ke markas, di pulau itu ada salah satu laboratorium cabang. Kita
serahkan urusannya pada mereka, ini sudah di luar batas wilayah kita. Buitres,
kita mundur.”
Sementara itu di dalam dapur di
sebuah mansion mewah, seorang gadis bersama seorang maid (pelayan wanita) baru
saja datang sambil membawa banyak barang belanjaan. Mereka meletakkan semuanya
di atas meja, gadis itu melepas topinya. Dia memiliki rambut coklat panjang
bergelombang, wajahnya begitu rupawan.
Maid:
“Nona Megan, apa yang akan kita masak hari ini?”
Megan:
“Tentu saja sesuatu yang enak, James takkan melewatkan kesempatan untuk makan
malam bersama kita setelah pulang nanti. Ngomong-ngomong Olivia, kau punya
saran untuk menu hari ini?”
Olivia:
“Hors D’ Oeuvre’s.”
Megan:
“Kita sudah masak itu minggu lalu.”
Olivia:
“Pot au Feu.”
Megan:
“Terlalu sederhana.”
Olivia:
“Carpaccio.”
Megan:
“Itu terlalu mewah, kita perlu yang sedikit berbau… Italia.”
Olivia:
“Pasta.”
Megan:
“Diterima, kita akan masak itu dengan bahan-bahan yang kita beli.”
Olivia:
“Nona Megan, mengapa meminta saran tentang menu dari saya… (melirik ke barang
belanjaan) jika semua bahan yang kita beli barusan memang digunakan untuk
membuat pasta.”
Megan:
“Tidak terpikir olehku, lalu ada kabar baru mengenai kakakku? Kudengar dia baru
mempekerjakan bodyguard.”
Olivia:
“Beliau memang baru saja menerima seorang pria menjadi bodyguard-nya, dia
menemukan orang ini di Norwegia. Asal-usulnya tidak begitu jelas, tapi kabarnya
dia sudah menolong beliau dari bermacam kesulitan yang dia alami baru-baru
ini.”
Megan:
“Kakakku memang begitu kalau ada orang yang sudah menolongnya, dia pasti akan
langsung membawanya pulang seperti halnya kucing liar yang selalu dia bawa
pulang untuk dipiara.”
Olivia:
“Bukankah anda juga begitu?”
Megan:
“Aku? Tentu tidak Silvia, aku memilihmu karena itu memang sudah takdir. Tunggu
sebentar, seharusnya sekarang James sudah menelpon.”
Megan mengeluarkan Blackberry dari
saku bajunya kemudian menyalakannya, dia memeriksa apakah ada panggilan masuk
atau tidak. Ada 3 panggilan masuk, namun dia tidak melihat nama James di
dalamnya. Dia kemudian mengaktifkan dan membuka sebuah peta dunia, dia terdiam
sejenak setelah melihat sesuatu.
Megan:
“Olivia, siapkan helicopter sekarang juga. Kita akan menjemput kakakku, dia
sudah melewati batas. (tersenyum) Jangan kira kau bisa kabur dariku, James.”
No comments:
Post a Comment