Friday, February 21, 2014

Level 27

OPERASI

            Pulau misterius di Samudra Atlantik, 16 Oktober 2010, 23:50. Sepuluh menit sebelum Francis menerobos masuk ke dalam laboratorium, Megan menunggangi Jaggy di dalam lorong yang gelap, Jaggy berjalan sambil menarik Francis yang dibelenggu.

Megan: “Kau pikir bisa membodohi adikmu sendiri? (melihat Francis di belakangnya) Padahal aku tak tahu dia siapa, tapi kau sudah menyimpulkan dia sebagai ‘orang’. (kembali ke depan) Kau sejak awal sudah mengenal dia dan tahu di mana dia saat ini, kau juga berpikir begitu bukan? (menoleh ke belakang) Ah, aku lupa kau masih pingsan. Jika bisa dibilang begitu, kenapa aku harus menuruti perkataan James? (kembali ke depan) Aku bisa saja meninggalkanmu dan menyelamatkan Olivia terlebih dulu, kalau tidak karena dirimu. Sebagai Bodyguard dari James, pastilah kau kerepotan mengurus dirinya. Sudah banyak orang yang dia buat repot karena ulahnya, tapi jangan salahkan dia. Sebab pada dasarnya dia hanya ingin teman, aku penasaran kenapa kau mau saja menerima pekerjaan ini?”

            Mendadak Megan ditangkap oleh sesosok mutan kelelawar, dia dibawa terbang ke atas langit-langit. Jaggy berusaha mengejar Megan, dia meloncat menerjang mutan itu. Namun mutan kelelawar itu tidak hanya ada satu, sekitar dua atau tiga ekor sudah mengerumuni Jaggy. Dia berontak mencoba melepaskan diri dari mereka, Megan yang dibawa terbang mencoba meloloskan diri dengan melepaskan backpack miliknya yang dicengkeram oleh sang mutan. Megan jatuh ke bawah, namun dia salah mengira dirinya sudah bebas. Seekor mutan kelelawar sudah berada di hadapannya bersiap untuk menggigitnya, Megan menutup mata saking ketakutan. Mendadak kepala mutan itu hancur, Megan sendiri membuka matanya sedikit. Dirinya kini melihat dia sudah diselamatkan oleh Francis yang sudah sadar, dia memegang tangannya erat-erat dan turun ke bawah. Ketika mendarat, Megan kehilangan keseimbangan dan jatuh dengan pantat terlebih dulu.

Megan: “Auw! Sakit! Tidak bisakah kau lebih pelan?!”
Francis: “Apa kau hanya bisa berteriak marah setelah diselamatkan? Mundurlah, biar kuatasi semua ini.”

            Francis melihat banyak mutan kelelawar bergelantungan di langit-langit, mereka baru saja terbangun dan bersiap untuk menyerang. Francis mengaktifkan lingkaran di kedua telapak tangannya, Megan yang melihat langsung mundur ke tembok. Kelelawar mutan itu langsung menyerang bersama-sama, Francis menembakkan laser di kedua tangannya dan membunuh sekitar 5-10 ekor dalam sekali tembak. Dia berputar menendang dan mengeluarkan laser dari telapak kakinya, menghanguskan 3 ekor. Dia kemudian menembakkan laser berkali-kali dari lututnya satu persatu pada seekor yang mendekatinya, mendorong mundur sampai menabrak beberapa ekor dan akhirnya menjebol tembok. Seekor berhasil lolos dan hendak menerkam Megan, untungnya Jaggy datang menyelamatkannya. Dia menerkam dan mencabik lehernya, kemudian melemparnya ke arah Francis yang masih melawan mutan kelelawar. Francis langsung terbang menghindar, dia melihat Jaggy yang berada di dekat Megan.

Francis: “Kau? Kebetulan sekali, ada yang ingin kutanyakan padamu.”

            Jaggy menggeram saat Francis menodongkan tangannya padanya, dia bersiap menembakkan laser. Jaggy langsung menaikkan Megan ke punggungnya dan membawanya kabur, Francis langsung terbang mengejarnya. Dia mencoba menangkap Megan yang dibawa lari, beberapa mutan kelelawar ikut mengejarnya. Mutan itu mengeluarkan gelombang suara dari mulut mereka, serangan suara itu mempengaruhi Francis dan Jaggy. Bagian dalam kepala mereka berdenging, Francis terhuyung dan menabrak tembok. Jaggy juga ambruk sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit,  Megan yang masih menaikinya langsung turun.

Megan: “Jaggy! Hei, Jaggy! Kau tidak apa?! Apa yang kelelawar itu lakukan?!”

            Francis bangkit berdiri, dia berjalan sempoyongan. Pandangan dalam helmnya menjadi buram, dia samar-samar melihat beberapa kelelawar terbang di depannya. Francis mulai menembak, tapi yang dia tembak sebenarnya hanyalah bayangan dari mereka. Puing-puing berjatuhan dan hampir menimpa Megan, Francis menggelengkan kepalanya berkali-kali.

PERHATIAN
TELAH TERJADI KERUSAKAN SYARAF
MENCARI SOLUSI
SEGERA LAKUKAN DEFIBRILASI PADA TUBUH

Francis: “Ugh… pusatkan 10% energi ke seluruh tubuh… ubah laser menjadi tenaga listrik.”

MEMUSATKAN ENERGI 10%
MENGUBAH LASER MENJADI LISTRIK

            Seluruh lingkaran di badannya kini mengeluarkan percikan listrik, dia bisa merasakan listrik mengalir di seluruh tubuhnya. Jantungnya berdetak dengan cepat, otaknya seakan mau pecah. Beberapa gambaran ingatan yang samar-samar mengalir dalam dirinya, dalam pandangannya itu dia terbaring di sebuah meja operasi dan dikelilingi beberapa mesin. Sekitar dua sampai tiga orang mengelilinginya, tubuhnya mulai dibedah. Darah bercipratan ke seluruh penjuru, tubuhnya kejang-kejang. Trauma yang dia terima membuat listrik yang dia keluarkan dari tubuhnya menyebar ke segala arah, menyetrum beberapa mutan kelelawar sampai hangus. Berkat kejadian itu, mutan kelelawar menghentikan serangan suara mereka dan memberi kesempatan pada Jaggy untuk menyerang balik. Pandangan Francis kembali normal, kini dia melihat Jaggy melawan segerombolan mutan kelelawar sambil melindungi Megan. Francis kemudian berlutut, dia langsung terbang meluncur dan menyerang menggunakan lariat sehingga dua kepala mutan terpenggal. Kini Francis dan Jaggy saling berhadapan, Megan berada di belakangnya.

Francis: “Maaf, tapi dia kuambil kembali.” (menunjuk Megan)

            Jaggy menyerang, begitu juga dengan Francis. Tapi ternyata mereka tidak menyerang satu sama lain, mereka menyerang mutan kelelawar yang tersisa. Francis menghantamkan kepala mutan kelelawar yang dia tangkap ke tembok, sedangkan Jaggy mencabik-cabik dengan cakarnya. Megan berada tepat di sebelah mutan kelelawar yang baru dibunuh Francis, mereka saling bertatapan. Francis melepaskan cengkeramannya kemudian menoleh ke belakang, Jaggy baru selesai menghabisi mutan kelelawar.
Francis: “Bukan musuh ya?”
Megan: “Jaggy, kemari.”

            Jaggy berjalan dengan keempat kakinya dan mengusap-usapkan kepalanya pada Megan, setelah itu dia menjilat-jilatnya.

Megan: “Jaggy, sudah, sudah, ahahaha, geli.”
Francis: (memandangi Megan) “Kau sepertinya berhasil menjinakkan Jaguaron.”
Megan: “Kau tak mau tahu bagaimana caranya, jadi dia disebut Jaguaron?”
Francis: “Aku bahkan tak ingin tahu, lalu kau mau ke mana dengan Jaguaron ini?”
Megan: “Namanya Jaggy.”
Francis: “Terserah kau, kenapa kau tak memakai Marscannon di tanganmu?”
Megan: “Itu nama senjata ini? Kau cukup tahu banyak.”
Francis: “Sepertinya kau belum tahu benar cara menggunakannya. Untungnya kau berhasil lolos, tapi… tak kusangka mereka mengubahmu jadi wanita.”
Megan: “Maaf?”
Francis: “Walau sebenarnya kau lebih cocok jadi perempuan.”
Megan: “Permisi, tapi aku memang…”
Francis: “Lebih baik kita cepat bergegas, Uchida dan Roy pasti disekap di suatu tempat.”
Megan: “Uchida siapa dia?”
Francis: “Kau juga lupa ingatan? Ah, lupakan.”
Megan: (suara hati) “Apa-apaan dia?”
Francis: “Aktifkan X-Ray.”

            Kini Francis bisa memandang tembus pandang apapun yang dia lihat, termasuk Jaggy dan Megan yang berupa kerangka. Ada beberapa mutan berkeliaran di beberapa tempat yang tertutup oleh tembok, Francis melihat sesuatu di bawah lantai yang dia injak. Beberapa orang berada di bawah, dia mengenal salah satu dari mereka. Uchida dengan badan bulat seperti telur, seorang menodongkan senjata kepada seseorang. Di sekitar mereka ada mutan da nada seseorang di dalam tabung, Francis langsung mematikan pandangan X-Ray nya.

Francis: “Aku menemukan dia di bawah, tampaknya sedang ada keributan di sana. Sepertinya mereka hendak melakukan percobaan kepada seseorang.”
Megan: “Itu Olivia!”
Francis: “Siapa?”
Megan: “Maid-ku, dia…”
Francis: “Oh, jadi ada orang yang tahu keberadaanmu dan mencoba menyelamatkanmu? Mungkinkah dia wanita yang tadi kulihat?”
Megan: “Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?”
Francis: “Nampaknya dia sekarat.”
Megan: “Kalau begitu kita harus cepat turun! Bebaskan dia!”
Francis: “Mudah saja, mundurlah.”

Francis memancarkan cahaya di kepalan tangan kanannya, Megan langsung mundur ke belakang. Francis mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan meninju lantai yang dia injak. Pukulannya membuat langit-langit ruangan di bawahnya berlubang, dia terjun dan menjebol tabung tempat Olivia disekap. Di saat bersamaan Rhugarator mulai ditembakkan, Francis segera menghindar sambil membawa Olivia. Dopregas di dalam tabung menyembur dan memenuhi ruangan, Francis segera menutup mulut dan hidung Olivia. Di dalam laboratorium tempat Francis dan yang lain berkumpul, beberapa mutan jatuh bergelimpangan karena keracunan Dopregas. Setelah itu Francis menyandarkan Olivia ke dinding dan melenyapkan gas dengan menepukkan kedua tangannya menggunakan energi yang dia gunakan, beberapa mutan terhempas karena angin ledakan yang dihasilkan oleh tepukannya. Setelah itu Francis segera menyuruh Megan untuk turun ke bawah, dia turun sambil menaiki Jaggy.

Francis: “Aku sudah membebaskannya seperti yang kau minta.”
Megan: (melihat Olivia) “Olivia! Kenapa dia?!” (turun dari Jaggy)
Francis: “Sepertinya kita terlambat sedikit, dia sudah terkontaminasi oleh semacam zat kimia.”
Megan: “Tidak bisakah kau melakukan sesuatu?!”
Francis: “Jangan lihat aku, aku bukan ahlinya. Tapi kita berada di laboratorium, setidaknya ada seseorang yang bisa membantu kita. (melihat Uchida di kejauhan) Ah, itu dia…”

            Francis juga melihat James dan Roy di balik mesin bersama Uchida, dia kemudian memandang Megan yang parasnya hampir sama dengan James. Dia berulang kali melihat James lalu Megan, setelah itu dia berhenti dan menodongkan tangannya ke arah Megan dan bersiap untuk menembak.

Francis: “Kau siapa?”
Megan: “Aku sudah coba bilang aku bukan James.”
Francis: “Klon? Kalau ya harus ku…”
James: (berlari) “Tunggu, aku bisa jelaskan.”
Francis: “Ternyata kau masih hidup.”
James: “Setidaknya bergembiralah karena masih melihat wajahku, baiklah biar kuperkenalkan kalian lagi. Francis, ini Megan adikku. Maggie, ini…”
Megan: “Aku tahu, dia bodyguard-mu. Entah apa yang mereka lakukan padanya sampai jadi begini, dia kasar sekali.”
James: “Halo, sejak awal dia bertemu denganku sifatnya sudah seperti ini.”
Megan: “Kau selalu pilih orang yang tak bertanggung jawab untuk dipekerjakan, memang seperti ini sikap pewaris perusahaan?”
James: “Kau masih sempat membicarakan hal itu dalam keadaan seperti ini?”
Uchida: “Ehm, maaf. (menyela) Bisakah kalian lanjutkan pertengkaran kalian nanti, di sini ada orang sekarat yang harus diselamatkan.” (wajah seram)
Megan: (terdiam melihat Uchida) “…silahkan…”

            Uchida berjalan menuju Olivia yang kondisinya mencemaskan, dia memeriksa setiap bagian tubuhnya dari kepala sampai ke kaki. Dia melihat ada gumpalan keunguan berkumpul di sekitar jantung, ada yang sudah menyebar ke tangan sampai kakinya.

Uchida: “Masui, (gawat) Gurkanite sudah mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. Ada sebagian yang akan masuk ke otaknya, Gurkanite di dalam tubuhnya harus dikeluarkan.”
Megan: “Apa dia akan mati?”
Uchida: “Tidak, kalau Gurkanite itu sampai masuk ke otak, dia akan jadi monster buas tanpa akal dan pikiran.”
Roy: “Kalau begitu cepat lakukan sesuatu! Kau dokter kan?!”
Uchida: “Profesor, dan jika kau pikir aku bisa menyelamatkannya…”
Megan: “…bisakah?”
Uchida: “Bisa… tapi aku perlu beberapa bantuan.”
Roy: “Apa yang kau perlukan? Air panas? Handuk?”
James: “Kita bukan mau membantu persalinan, bodoh.”
Francis: “Lalu, kau akan mengoperasinya?”
Uchida: “Sebenarnya… kaulah yang akan melakukannya. Energiku sudah tinggal sedikit untuk melakukan operasi.”
Francis: (melihat Olivia) “…jangan salahkan aku jika dia kehilangan lengan atau kaki…”
Uchida: “Lakukan saja sesuai instruksiku, dan kalian bertiga… lebih baik kalian hadapi setiap musuh yang mencoba menyerang.”
James: “Memang sejak awal itu tujuanku, kau juga akan membantu bukan?”
Roy: “Tentu saja, kita akan keluar dari pulau sialan ini hidup-hidup.”
Megan: “Aku akan berusaha keras melindunginya, kau sendiri…”
Uchida: “Tidak apa, setelah operasi selesai kalian cepat lari ke hangar dan gunakan kendaraan untuk kabur. Aku belum memperkenalkan diriku, Uchida Tomizawa, yoroshiku.” (mohon bantuannya)
Megan: “Arigato.” (terima kasih)

            Beberapa mutan di dalam tabung yang retak karena hempasan angin yang dibuat Francis kini sadar dan memecahkan tabung dari dalam, termasuk dengan Drake yang sudah berubah bentuk. Tapi tidak seluruh tubuhnya keluar dari tabung, tentakel-tentakel berkepala ular keluar melahap apapun di dekatnya. Alvon sendiri melarikan diri dari sebuah pintu rahasia yang terbuka di dinding bersama para Jaguaron, Megan, James, Roy, serta Jaggy mempertahankan diri mereka dari serangan mutan yang datang. Francis membaringkan Olivia di lantai, Uchida berubah bentuk menjadi wujud telur.

Uchida: “Akan aku jelaskan sambil menyimpan tenagaku, aktifkan X-Ray-mu.”
Francis: “Sudah.” (melihat tembus pandang tubuh Olivia)
Uchida: “Yang harus kita keluarkan dari tubuhnya adalah Gurkanite yang ada dalam pembuluh darahnya, buat sayatan kecil di salah satu bagian tubuhnya agar Gurkanite mudah dikeluarkan.”
Francis: “Tidak bisakah dikeluarkan lewat lubang alami di bagian tubuhnya?”
Uchida: “Cuma ini satu-satunya cara yang aman, ada resiko kalau kita keluarkan dari bagian itu.”
Francis: “Tapi tidak membuatnya mati kan?”
Uchida: “Ya, benar. Tapi… bagian lubang itu akan sedikit tersumbat, kau paham maksudku?”
Francis: “Oh… baiklah, aku sempat berpikir mengeluarkannya lewat p…”
Uchida: “Jangan disebutkan! Buat sayatan sekarang!”

Francis mencubit pergelangan tangan Olivia, dia merobek sedikit kulitnya hingga berdarah.

Uchida: “Itu juga bisa, sekarang aku ingin kau pusatkan semua energi listrik ke seluruh jarimu.”
Francis: “Pakai listrik lagi?”
Uchida: “Tenang saja, kau hanya perlu mengatur 1% tenaga di setiap ujung jari. Kita akan menggunakan electromagnet, karena Gurkanite bersifat magnetis.”

            Francis mendadak merobek baju yang dipakai Olivia, keadaannya kini setengah telanjang. James sempat melihat dan sedikit bersiul, Megan sendiri menembaki para mutan dengan semacam cairan lengket. Tubuh mereka menempel di lantai atau tembok, beberapa tabung yang retak dipecahkan dari dalam oleh beberapa mutan yang sadar. Mereka yang baru keluar menyerang mutan di dekatnya satu sama lain. Salah satu dari mereka menabrak mesin pengoperasian sampai rusak, Rhugarator di dalam ruangan kini mulai menyala dan menembakkan sinar ke segala arah. Beberapa mutan yang terkena mengalami perubahan wujud yang tak beraturan, ada yang tubuhnya mengecil dan membesar. James dan yang lain langsung tiarap, Francis membawanya ke balik tembok untuk menghindari sinar. Uchida sendiri hanya diam di tempat karena tak bisa bergerak karena masih berbentuk telur.

Francis: “Sekarang bagaimana?” (melihat dari balik tembok)
Uchida: “Lanjutkan saja, jangan pedulikan aku. Rhugarator takkan berpengaruh padaku, mereka hanya mengubah struktur DNA mutan dan manusia yang menghirup Dopregas.”
Francis: “Kalau begitu aku tak perlu menyelamatkan mereka.”
Uchida: “Kita akan melakukannya dengan cepat, aktifkan listriknya.”

            Francis menepuk tangan sekali dan mengeluarkan listrik di setiap ujung jarinya, dia langsung meletakkan tangannya di jantung Olivia. Tangan yang satunya mengalirkan Gurkanite ke sayatan di pergelangan tangannya, gumpalan ungu keluar dari dalam sayatan sedikit demi sedikit. Gurkanite yang menuju ke otaknya perlahan mengalir turun ke jantung. Sementara itu James dan yang lain masih menembaki mutan yang menyerang sambil tiarap, mutan-mutan yang lain berusaha menghindari tembakan cahaya Rhugarator. Mendadak Rhugarator mengarah kepada Megan dan menembak, Jaggy langsung melindunginya dan terkena tembakan sebagai gantinya.

Megan: “Jaggy!!”

            Tembakan itu mengubah wujud Jaggy, dia perlahan menyusut. Francis masih mengeluarkan Gurkanite dari tubuh Olivia, sudah banyak gumpalan yang dikeluarkannya. Dia memijat-mijat lengannya untuk mengeluarkan sisa Gurkanite terakhir dalam tubuhnya, di genggaman tangannya kini melayang kumpulan Gurkanite yang diselimuti oleh gelombang electromagnet.

Francis: “Aku sudah mengeluarkan semuanya.”
Uchida: “Bagus, sekarang tutup lukanya untuk menghentikan pendarahan. Balut dia dengan kain.”

            Ketika Francis hendak menutup lukanya, Olivia sudah menghilang dari tempatnya. Mutan-mutan masih menyerang James dan yang lain, mendadak seseorang menembaki mutan-mutan itu dengan pistol. Olivia dengan baju yang agak robek kini sudah berdiri di depan mereka, bagian dadanya dia ikat dengan baju yang robek sehingga hanya memperlihatkan perutnya. James yang melihat kembali meyiulinya, Olivia merunduk sambil menghindari tembakan Rhugarator dengan tubuhnya yang fleksibel. Olivia meloncat dan mendarat ke lantai, sayangnya keempat Rhugarator sudah membidik ke arahnya. Semuanya bersiap untuk menembak dengan kekuatan penuh, tapi mendadak seluruh Rhugarator mati bersama dengan semua fasilitas dalam markas. Keadaan sejenak menjadi hening dalam kegelapan, hanya suara nafas terdengar.

Uchida: “Sepertinya Rhugarator sudah menguras habis tenaga seluruh fasilitas.”
Roy: (bernafas lega) “Kita beruntung.”
James: (suara pelan) “Jangan bergerak, mereka masih di sini.” (memegang Roy)
Megan: (suara pelan) “Bagaimana dengan Jaggy dan Olivia?”
Olivia: “Saya di sini, nona.”

            Roy kaget karena di sebelahnya dia mendengar suara Olivia, mulutnya yang hendak berteriak dibungkam.

Olivia: “Jangan bergerak dulu.”
Megan: “Olivia, untunglah kau selamat.”
Olivia: “Saya juga senang anda selamat.”
Megan: “Kau pakai night vision goggle? Bisa tolong ambilkan di tasku?”
Olivia: “Baik nona, tunggu sebentar. Tuan James, bisa lepaskan tangan anda dari lutut saya?”
James: “Oh, maaf salah pegang.”
Roy: (mulutnya dilepas) “Puah, kita harus cepat pergi sebelum mereka…”

            Mendadak Francis muncul dengan seluruh lingkaran di tubuhnya bersinar di hadapan mereka, membuat James dan yang lain terlihat dalam gelap. Dia memanggul Uchida dalam bentuk telur dan melihat keberadaan semua mutan yang mengelilinginya, James beserta yang lain terlihat dan menarik perhatian beberapa mutan di sekitarnya.

Roy: “…menemukan kita…”

Francis: “Kalian dalam masalah sekarang.”

No comments:

Post a Comment