ALVON
Pulau misterius di Samudra Atlantik,
17 Oktober 2010, 00:30. Di sebuah lorong rahasia, beberapa Jaguaron berjalan
sambil mengawal Alvon. Dia menekan tombol-tombol di kursinya, beberapa saat
kemudian terdengar suara di seisi fasilitas.
PERHATIAN
SISTEM PENGHANCURAN DIRI TELAH DIAKTIFKAN
WAKTU YANG TERSISA 15 MENIT
Francis yang sekarang sibuk
menghajar beberapa mutan di laboratorium bersama dengan James dan yang lain
juga mendengar hal tersebut, dia baru saja menghabisi beberapa mutan di ruangan
dengan tinjunya. Uchida diletakkan di depan pintu masuk, masih dalam bentuk
telur. Kini lampu dalam ruangan menyala merah dan berkedip-kedip, tanda bahwa
penghancuran diri dimulai.
James:
“Kita harus keluar dari sini.”
Roy:
“Ide bagus.”
Uchida:
“Sayangnya takkan semudah itu.”
Roy:
“Kenapa?”
Olivia:
“Kau yang tadi bersama dengan orang tua itu bukan?”
Uchida:
“Maaf soal tadi, tapi aku tak ada maksud menyakiti.”
James:
“Olivia, ini Uchida Tomizawa. Dia…”
Uchida:
“Ilmuwan, bukan bawahannya.”
James:
“Aku tidak ingin bilang begitu, lagipula bawahanku itu Francis.”
Uchida:
“Lalu kau anggap aku apa?”
James:
“Mungkin rekan kerja.”
Uchida:
“Aku bisa terima itu, semuanya dengarlah. Sistem penghancuran diri ini
radiusnya lebih besar dari yang kalian kira, tidak hanya bangunan ini tapi juga
seluruh pulau akan hancur.”
Roy:
“Jadi kita tetap saja mati walaupun sudah keluar dari bangunan ini?”
Olivia:
“Mungkin masih ada waktu untuk itu, helicopter yang kami pakai untuk pergi ke
pulau ini sudah dipindahkan ke ruangan yang tidak jauh dari sini.”
Roy:
“Kalau begitu cepat kita ke sana!”
James:
“Maggie… (melihat Megan yang berlutut) aku tahu perasaanmu, Jaggy sudah
mengorbankan diri untuk kita.”
Megan:
“James… (berbalik) aku boleh bawa dia pulang?”
Megan berbalik memperlihatkan sesuatu
yang dia peluk erat-erat di dadanya, seekor bayi Jaguar yang tadinya adalah
Jaggy. Mereka yang melihat, terkecuali Francis merasa tertarik dengan wujudnya
yang kini sangat imut.
Semua
(kecuali Francis): “Aww, manis sekali.”
Roy:
“Eh, tunggu! Jangan, lebih baik…”
Olivia:
“Nona Megan, tidakkah anda mau mempertimbangkan lagi?”
Megan:
(mata berkaca-kaca) “Kumohon.”
James:
“Keluar juga senjata andalannya.”
Roy:
“Ugh… mata itu…”
Francis:
“Lebih baik bawa saja dia, sebab kita tak punya waktu lagi.”
Bagian
badan Drake yang berwujud ular dan berada di luar tabung mengambil beberapa
batu dan mencoba memecahkan tabung yang menyekap Drake, batu itu dipukulkan
dengan keras dan retak perlahan-lahan. Tabung itu kini pecah seluruhnya,
dirinya sudah terbebas dari dalam. Dengan perlahan dia berdiri dan menampakkan
wujudnya saat ini, kakinya seperti tentakel gurita dengan kepala ular di
ujungnya, seluruh kulitnya berwarna ungu, di perutnya ada mata Absorber,
memiliki sepasang tangan seperti cicak, masih memiliki bulu mata seperti cacing
dengan keempat mata berwarna merah.
James:
“Hei, bukankah dia…”
Roy:
“…dia masih hidup?”
Francis:
“Kau lagi?”
Megan:
“Siapa?”
Sementara itu Alvon sampai di sebuah
pintu besar, dia menekan beberapa tombol. Ada sebuah layar monitor muncul,
semacam pemindai memeriksa seluruh tubuhnya. Di layar monitor muncul gambar
kerangka, kali ini muncul sebuah lensa. Dia membuka kacamatanya dan mendekatkan
matanya ke lensa itu, sebuah sinar menyinari bola matanya.
AKSES DITERIMA
DOCTOR ALVON UBOS
Pintu terbuka, Alvon masuk ke dalam
bersama para Jaguaron. Di dalam ruangan terdapat sebuah laboratorium kecil,
para Jaguaron itu kini mengoperasikan mesin di sekitarnya. Ada sebuah
Rhugarator yang sudah terpasang pada tempatnya, Alvon menyalakan seluruh mesin
dalam laboratorium.
Alvon:
“Untungnya sebagian besar energi yang dikeluarkan barusan sudah kusisihkan
sebagian untuk ini, aku masih ada waktu untuk 1 eksperimen terakhirku.”
Alvon menuju ke depan Rhugarator,
Jaguaron hitam menarik tuas dan menyalakannya. Jaguaron putih memasangkan infus
ke lengan Alvon, memasukkan Gurkanite ke dalam tubuhnya.
Alvon:
“Akhirnya evolusiku akan dimulai.” (memasang masker)
Rhugarator ditembakkan langsung pada
Alvon, dia sama sekali tak merasakan apa-apa. Tapi perubahan terjadi padanya
sedikit demi sedikit, jari-jari tangannya mulai membesar dan mengeluarkan
cakar. Tubuhnya mulai tumbuh bulu, totol-totol muncul di sekujur tubuhnya.
Kepalanya sedikit membesar, kupingnya menjadi runcing. Goggle yang dia pakai
talinya putus karena tidak muat dengan kepalanya, kini mata aslinya yang
seperti seekor kucing terlihat. Kedua kakinya menjebol kursi yang dia pakai,
disertai ekor yang panjang. Tembakan yang dikeluarkan oleh Rhugarator berhenti,
energi dalam ruangan telah terkuras habis. Kursi yang dinaiki oleh Alvon kini
rusak dan tergeletak di tanah, dia berjalan dalam kegelapan. Matanya melihat
dengan jelas dalam keadaan gelap, dia memperhatikan kondisi tubuhnya saat ini.
Seringai di mulutnya muncul, menampakkan gigi taringnya.
Kembali ke laboratorium, Francis dan
yang lain berhadapan dengan Drake yang baru bebas dari dalam tabung. Dia
menyerang membabi buta ke segala arah, beberapa mutan yang sudah mati dilahap
bulat-bulat.
Francis:
“Kenapa dia ada di sini? Apa dia klon?”
Uchida:
“Bukan, dia asli. Alterion menemukannya setelah kita berhasil lolos dari
pertambangan, sepertinya dia dijadikan kelinci percobaan setelah kegagalannya
waktu itu.”
Francis:
“Jadi dia masih seekor hewan buas yang tak berakal, lebih mudah membereskannya.”
Uchida:
“Tunggu! Francis, biarkan dia!”
Francis langsung menyerang Drake,
namun dia sempat melihatnya dan menyemburkan api dari setiap tentakelnya. Francis
mendadak meloncat menghindarinya, dia menginjak salah satu kepala ular dan
meloncat ke tubuh utama Drake untuk meninjunya. Tapi keempat anggota badannya
sudah digigit oleh keempat tentakelnya, dia berhasil ditangkap dan dihadapkan
kepada Drake.
Drake:
“Jadi kita bertemu lagi, subyek M46 N4 120 K.”
Francis:
“Oh, jadi kau masih bisa bicara?”
Drake:
“Jika kau pikir aku sudah kehilangan akal sehatku, kau salah besar. Kuakui aku
hanya sedikit lapar setelah dikurung tanpa diberi makan beberapa hari terakhir
ini, jadi harap dimaklumi saja.”
Francis:
“Dan kau berencana untuk memakanku bersama dengan mereka juga?”
Drake:
“Kau? Apa gunanya aku memakanmu? Kau hanyalah bongkahan besi yang terbungkus
daging, tapi lain halnya jika… (melihat James dan yang lain) mereka yang masih
punya tulang yang renyah.”
Francis:
“Ide yang bagus, kalau begitu kau suka mereka mentah, setengah matang, atau
matang.”
Drake:
“Bercanda, memangnya kita punya waktu untuk itu? Tapi memang benar, aku sangat
ingin melahap Alvon keparat itu karena membuatku begini.”
Francis:
“Ok.”
Mendadak Francis menembakkan laser
dari dadanya, dengan sigap Drake menghindarinya. Gigitan ular Drake dilepaskan
sehingga Francis bebas, dia langsung menembakkan laser dari kedua telapak
tangannya. Semua tembakan yang dia keluarkan berhasil dihindari Drake, dia
bergerak dengan gesit di tembok layaknya seekor cicak. Drake menyemburkan api
dari tentakelnya sambil memanjat tembok, baku tembak terjadi di antara mereka.
James dan yang lain melihat dari balik tembok, Uchida sendiri sudah berada
bersama mereka.
James:
“Kita harus segera pergi ke hangar.”
Megan:
“Olivia, bisa tunjukkan jalannya?”
Olivia:
“Tentu saja.”
Uchida:
“Tunggu! Bawa aku juga.”
Roy:
“Membawamu? Bukankah kau sudah kehabisan tenaga?”
Uchida:
“Aku masih punya 15% dalam tubuhku, lagipula kalian juga perlu bantuanku.”
James:
“Dia benar, kita masih memerlukannya untuk melakukan sesuatu.”
Roy:
“Yang itu ya…”
Megan:
“Sebentar, apa maksudmu?”
Roy:
“Tapi bagaimana kita bisa membawanya? Jika dia berjalan ke sana, pasti
energinya akan berkurang banyak.”
James:
“Bagaimana jika digelindingkan? Mengingat tubuhnya sendiri bulat.”
Uchida:
“Aku menolak dengan tegas, lebih baik jika Francis membawaku sampai ke sana.
Tapi kau tahu sifatnya, dia takkan mau pergi sebelum lawannya kalah.”
Megan:
“Ng, aku sebenarnya mau membantu. Tapi Jaggy tak bisa menbawamu dalam keadaan
begini.”
?:
“Mungkin aku bisa membantu.”
Dikejutkan oleh sebuah suara dari
belakang mereka, semuanya menoleh ke belakang. Ada dua Jaguaron beserta
seseorang yang tidak asing lagi bagi mereka, wujudnya sudah berubah drastis.
Uchida:
“Suara itu… Alvon?”
Alvon:
“Kelihatannya kalian sedang kesulitan.”
Roy:
“Mundur! Sentuh kami sedikit saja…” (menodongkan senjata)
Alvon:
“Aku sudah tak ada minat dengan kalian, terutama pada kau.” (melihat Olivia)
Megan:
“Beraninya kau melakukan hal seperti itu pada Olivia.”
Alvon:
(mendesah) “Sebenarnya itu hanya tindakan darurat karena aku sudah kehabisan
specimen untuk percobaan, tadinya aku berniat memakai dia.” (menunjuk Jaggy)
Megan:
“Tidak! Takkan kuijinkan kau! Kenapa kau tak pakai saja mereka berdua?!”
Alvon:
“Mereka sudah cukup bisa diandalkan, kepandaian mereka sendiri sudah melebihi
seekor kera. Dia adalah satu-satunya karya gagal yang tidak punya perkembangan,
kecerdasannya masih setingkat seekor anjing.”
Megan:
(menodongkan senjata) “Kau…”
Uchida:
(menahan Megan dengan tangannya) “Kesampingkan hal itu dulu, bagaimana kau bisa
melepaskan dirimu dari kursi itu? Dan wujudmu sekarang…”
Alvon:
“Percobaan berhasil, aku sudah menggunakan 100% tenaga Rhugarator untuk
meningkatkan kemampuanku. Seperti yang kau lihat, inilah evolusiku.”
Uchida:
“Kau pastilah cukup nekad sampai berani menggunakannya langsung pada dirimu, seharusnya
kau gunakan saja dulu pada salah satu mutan milikmu.”
Alvon:
“Aku berani ambil risiko untuk itu, dan sebenarnya saat ini aku sedang ingin
mencoba kemampuanku. Subyek M46 N4 120 K masih ada di ruangan itu bukan?”
James:
“Maksudmu Francis.”
Alvon:
“Sebuah nama tak diperlukan untuk kelinci percobaan, bukankah kalian ingin
keluar dari pulau ini? Mereka bisa mengantar kalian ke hangar, transportasi
kalian bahkan sudah disiapkan.”
Roy:
“Memangnya kau harap kami akan percaya padamu?”
Alvon:
“Aku tak perlu dipercaya oleh siapapun. Jaguaron, antar mereka ke hangar
setelah itu kembalilah kemari.”
Jaguaron hitam menaikkan James, Roy,
Megan dan Olivia ke atas punggungnya satu persatu menggunakan ekor, Uchida
dipanggul oleh Jaguaron putih.
Uchida:
“Ini… sebenarnya…”
Alvon:
“Anggap saja itu adalah balas budi terakhirku, nona yang ada di sana (melihat
Megan) juga boleh membawa dia sebagai piaraanmu.”
James:
“Bagaimana dengan Francis? Kami takkan mau meninggalkannya begitu saja.”
Alvon:
“Sayangnya dia harus tetap di sini, tapi tenang saja dia masih punya kesempatan
untuk kembali. Kalian masih punya 10 menit, dia akan bebas jika berhasil
menyelesaikan uji coba dariku.”
Roy:
“James…”
James:
“Baiklah, kami akan pergi.”
Alvon:
“Keputusan yang bijak.”
James:
“Kami akan ke hangar dan menunggunya sampai dia kembali, sebab dia adalah
Francis Zero, satu-satunya bodyguardku.”
Alvon:
“Terserah kalian saja, berangkatlah.”
Kedua Jaguaron itu berlari sampai mereka
menghilang dari pandangan, Alvon sendiri langsung berjalan masuk ke laboratorium.
Ruangan itu setengahnya sudah dilalap api, Francis terbang dilempar menabrak
tembok di samping pintu.
Francis:
“Dia tangguh juga.”
Alvon:
“Nampaknya kau terlihat kesulitan.”
Francis:
(menodongkan tangan ke arah suara) “Siapa?”
Alvon masuk ke dalam ruangan,
wujudnya yang sebenarnya kini terlihat jelas. Dia masih memakai jas putih yang
dikenakannya, tapi kali ini agak robek-robek karena ukuran tubuhnya yang
membesar. Tubuh bagian bawahnya setengah hewan dengan dua kaki seperti kucing,
ekor panjang, dan tangan bercakar, penampilannya mirip Jaguaron hanya yang
berbeda adalah dia memiliki rambut hitam panjang.
Francis:
“Jaguaron, tapi wujudnya sedikit berbeda.”
Alvon:
“Subyek M46 N4 120K, sepertinya kau belum sepenuhnya memahami kemampuanmu. Kau
melawan Drake yang sudah bermutasi dan punya kemampuan menyemburkan api,
seharusnya kau menyadari bahwa serangan seperti itu takkan mempan terhadapmu.”
Francis:
“Gaya bicara itu… kau ilmuwan yang tadi…”
Alvon:
“Doctor Alvon (membungkuk) senang bisa membantu.”
Drake:
“ALVOOOOONN!!”
Dari balik kobaran api, muncul Drake
yang sama sekali tidak terpengaruh oleh api. Terlihat marah dan kesal, dia
menyerang langsung dengan tentakelnya. Alvon langsung menusuk tentakel itu
dengan cakarnya. Dia kemudian menarik dan mencabut kepala ular di tentakel itu,
kepalanya menggelepar sampai tak bisa bergerak lagi. Tapi kepalanya tumbuh
kembali dan menjadi dua, kepala-kepala itu kemudian mendadak terpotong. Dua
Jaguaron pengawal Alvon baru saja memotongnya dengan cakar mereka yang panjang,
kepala itu tumbuh lagi menjadi empat.
Francis:
“Dia memperbanyak dirinya.”
Alvon:
“Seperti Hydra, potong 1 kepala lalu tumbuh lagi kepala baru.”
Drake:
“Benar, karena itu sekarang… panggil aku Hydrake!”
Di hangar tempat banyak kendaraan
disimpan, James dan yang lain sudah berkumpul di dalam. James, Uchida dan Roy
kini berada di sebuah pintu besar yang terhubung dengan sebuah mesin. Olivia dan
Megan berada di dalam helicopter, mencoba untuk menghubungi lewat radio.
Olivia:
“Markas cabang, harap dijawab. Di sini pegawai elit TDG dengan nomor seri 9012,
Olivia Duggan. Markas cabang…”
Megan:
“Sudah 3 kali kau mengatakan begitu, radio sama sekali tak mau bekerja.”
Olivia:
“Saya tahu, tapi…”
Megan:
“Lebih aku melihat perkembangan dari James, kita tak punya banyak waktu. Kau
terus coba, kabari jika ada perkembangan.”
Olivia:
“Siap nona.”
Megan:
“Dan Jaggy, tolong jangan keluar.”
Jaggy hanya menjawab dengan
mendengkur dan menggaruk kepalanya dengan kaki, dia kemudian tidur terlentang. Megan
turun dari heli dan menghampiri James, dia kini melihat Uchida sudah dalam
wujudnya yang biasa. Dia melihat dari atas ke bawah, dia juga memastikan apakah
tubuhnya benar-benar melayang dengan menggerak-gerakkan tangannya di antara
bagian tubuhnya yang tak terpasang. Ketika Megan hendak meletakkan tangannya di
antara kepala dan badan Uchida, mendadak kepalanya menoleh ke belakang dan
melihat Megan. Terkejut dan hampir jatuh, tapi beruntung dia menangkap tubuhnya
dengan tangannya yang besar.
Megan:
“A-arigato.” (terima kasih)
Uchida:
“Kini shinai de.” (tak usah dipikirkan)
Megan:
“Omae wa… nanda?” (kau itu… apa?)
Uchida:
“Kaizo ningen, shoyu koto.” (cyborg, begitulah)
Kepala Uchida kembali berbalik ke
depan, Megan masih berdiri memandanginya. Pandangannya kemudian beralih pada
James yang sedang berusaha mengoperasikan mesin, dia berlari ke arahnya.
Megan:
“James, dari mana kau menemukan orang ini?”
James:
“E-bay.”
Megan:
(jengkel) “Serius.”
James:
“Dari masa depan, bisa dikatakan begitu.”
Megan:
“Hah?!”
James:
“Aku sudah menjawab dengan serius, apa lagi?”
Roy:
“Kata-katanya memang kedengaran gila, tapi tidak dengan pikirannya.”
Megan:
“Sebenarnya… bukan aku tidak mau percaya, memang tekhnologi yang terpasang di
tubuhnya terlihat lebih maju. Tapi kau mau mengatakan dia datang mengarungi
waktu?”
Roy:
“Bukan dia saja.”
James:
“Yang benar adalah mereka.”
Megan:
(teringat Francis) “Ah, dia.”
James:
“Bagaimana kalau sedikit kubuktikan? Humpty dumpty, siap untuk pertunjukan?”
Uchida:
“Segera dilakukan.”
No comments:
Post a Comment