JEBAKAN
New York, Amerika Serikat, 16
Oktober 2010, 03:30. Di sebuah mansion yang cukup besar, ada sebuah helicopter
baru meninggalkan tempat. Di dalamnya ada Olivia dan Megan, ada beberapa
pelayan mengantar kepergian mereka. Setelah mereka pergi dan para maid dan pelayan
hendak masuk ke dalam, terdengar suara baling-baling helikopter beberapa saat
kemudian. Para pelayan langsung berhenti, dari kejauhan ada sebuah kendaraan
yang mirip dengan helicopter mengarah ke mansion. Beberapa saat kemudian
helicopter itu sudah mendarat tepat di landasan heli di mansion, para pelayan
melihat orang yang baru turun dari heli. Ternyata itu adalah Roy, para pelayan
yang melihat malah mendesah.
Roy:
“Ayolah… kenapa kalian selalu berwajah begitu setiap aku ke sini?”
Pelayan:
“Justru itu masalahnya.”
Maid:
“Nona Megan dan Olivia baru saja berangkat untuk menjemputmu dan Tuan James.”
Roy:
“Cuma itu?”
Para
pelayan: (suara hati) “Kenapa dia bisa begitu santai?”
Pelayan:
“Kapan kau kembali? Apa Tuan James bersamamu?”
Maid:
“Seharusnya kau juga memberitahu tentang kedatanganmu dan Tuan James.”
?:
“Maaf saja, tapi aku memang suka memberi kejutan.”
Seseorang turun dari helicopter,
para pelayan langsung kaget dan membungkuk memberi hormat. Hampir semua maid
yang melihatnya terpesona, Ternyata ia adalah James, dia menggunakan topi dan
kacamata hitam.
Para
Maid: (bersemangat) “Selamat datang, tuan muda James!”
Para
Pelayan: “Se-selamat datang… Tuan James.”
James:
“Sudahlah tak perlu seformal itu, aku juga tahu saat ini Megan sedang tidak
ada.”
Pelayan:
“Apakah anda ingin langsung menggunakan kamar anda? Mohon maaf sebelumnya, kami
saat ini sedang membersihkannya.”
James:
“Tak perlu, aku ingin ke dapur.”
Maid:
“Da-dapur, tuan? Anda ingin makan? Kalau begitu biar kami…”
James:
“Tidak usah, terima kasih. Aku bertaruh Maggie sudah menyiapkan sesuatu untuk
kami sebelum dia pulang, bahan-bahannya sendiri pasti sudah ada di dapur. Tapi…
(memegang tangan seorang maid sambil memandang matanya dari dekat) mungkin kau
bisa bantu aku untuk mencicipi masakanku.”
Dalam sekejap maid itu berwajah
merah merona, semua maid yang melihat kejadian itu menjadi tersipu-sipu. Roy
hanya bisa melihat dengan wajah mual, seseorang melihat dari dalam dengan
pandangan dingin.
Roy:
“Mereka memang benar-benar bersaudara.”
James:
“Baiklah siapa yang mau menurunkan barang yang ada di dalam dan menaruhnya di
kamarku?”
Para
Maid: “Saya!”
Pelayan:
“Siap… tapi Tuan James… kendaraan apa ini?”
James:
“Sudah jelas bukan? Sebuah helicopter.”
Para
pelayan: (suara hati) “Kenapa helicopter punya 4 roda seperti mobil?”
James:
“Kalau kalian heran, ini adalah sebuah prototype produk dan belum diedarkan.
Belum ada nama untuk kendaraan ini, tapi cukup efisien untuk digunakan.”
Para
Pelayan: “Ooooh.”
James:
“Roy, kau yang jelaskan sisanya.”
Roy:
“Siap, e-eh? Aku?”
James:
(menatap dengan seram) “Keberatan?”
Roy:
“Te-tentu saja tidak, baiklah. Kendaraan ini punya dua fungsi seperti mobil dan
helicopter, bisa terbang di udara dan berjalan di darat.”
Beberapa saat kemudian, James masuk ke
sebuah kamar mandi. Dia melepaskan topi dan kacamatanya, tak diduga jika di
balik topinya ada rambut yang cukup panjang. Ternyata yang sedari tadi mereka
anggap James adalah Megan yang sedang dalam penyamaran, dia memandangi dirinya
sendiri di cermin.
Megan:
“Semoga kau cepat kembali, kakakku yang bodoh.”
Mundur atau maju ke masa kejadian
sebenarnya yang terjadi saat ini, di sebuah laboratorium di pulau misterius di
samudra Atlantik. Di hangar tempat James dan yang lain menunggu Francis,
terjadi keributan.
Roy:
“Apa maksudmu tidak akan ikut?!”
James:
“Kalian bisa pergi terlebih dahulu, aku tetap akan menunggu Francis di sini.”
Megan:
“Kau gila?! Waktunya bahkan tinggal sedikit, dia takkan sempat!”
James:
“Dia akan tepat waktu.”
Roy:
“Tepat waktu sampai waktunya habis maksudmu? Tidak, James Archibald Yorgins.
Masuk ke sini sekarang juga, kita akan…”
James:
“…pulang bersama-sama, tentu saja… memang sejak kapan aku tak pernah pulang?”
Roy:
“Jangan tatap aku dengan mata seperti itu.”
James:
“Dia adalah pegawaiku, aku akan menunggu. (duduk) Karena dia akan kembali, aku
bisa jamin.”
Roy menatap matanya yang terlihat
serius, selama beberapa saat akhirnya dia mendesah. Dia duduk kembali di
tempatnya dan menutup pintu, James sendiri melihat Megan dan mereka berdua
mengangguk secara bersamaan. Heli itu kemudian berjalan mundur dan memutari
James, setelah itu mengebut dengan kecepatan tinggi ke dalam gerbang.
James:
“Aku lupa menanyakan bagaimana cara melepas ini.” (melihat senjata di tangan)
Di laboratorium, Francis masih
berada bersama Alvon. Waktu yang tersisa sebelum penghancuran 2 menit, mereka
berdua saling berhadapan.
Francis:
“Jaguaron memang memiliki penciuman yang tajam, tapi ada beberapa kelemahan
untuk mutan yang bisa berubah menjadi hewan. Pertama, mereka hanya bisa mencium
musuh dari kejauhan berjarak sekitar 3 km. Kedua, adalah tidak mampu melihat
dalam jarak dekat.”
Alvon:
“Bagian pertama memang benar, kelemahan ini sudah secara umum diketahui di masa
depan. Hal itu bisa diantisipasi dengan gas air mata atau menyembunyikan diri
di tempat di mana bau tersebut tak bisa tercium, tapi bagaimana kau tahu
tentang yang kedua?”
Francis:
“Aku tahu setelah serangan fisik yang pertama, dari kejauhan kau tahu bahwa aku
akan menyerang. Kau sempat menghindari semua tembakan karena aku melakukannya
dari jarak jauh, tapi saat aku melakukan serangan fisik dari jarak dekat kau
bahkan tak sempat menghindar.”
Alvon:
“Ugh, jadi itu kekurangannya? Baguslah dengan begini aku tahu apa yang perlu
diperbaiki.”
Francis:
“Kau takkan kubiarkan.”
Alvon:
(menepuk tangan) “Ah, benar. Masih ada seseorang menunggumu di hangar, seorang
manusia.”
Francis:
(suara hati) “James.”
Alvon:
“Daya penciumanku memang meningkat sejauh 1 km karena wujud ini, begitu juga
dengan kecepatan yang hanya meningkat sedikit. Apa kau yakin tak ingin menyusul
mereka?”
Francis langsung terbang menerjang
Alvon, tapi dia berhasil menghindar dan meloncatinya. Sayangnya ketika dia
meloncat, telapak kaki Francis sudah tepat berada di hadapan wajahnya dan menembakkan
laser. Dia terkena serangan telak, ekornya kemudian ditarik berikut tubuhnya.
Dia dibanting ke lantai, lehernya lalu dicekik. Alvon langsung menendang tubuh
Francis jauh dari dirinya, dia bangkit dengan setengah wajah hangus. Ia
langsung meloncat ke atas kepalanya dan mencoba melepas helmnya, kedua
pergelangan tangannya dibelit oleh ekornya. Tapi Francis kemudian terbang
bersama dengan Alvon menembus langit-langit, setelah itu dia menjatuhkan diri
dan meluncur terbang ke bawah menembus lantai. Mereka menembus lantai terbawah
di mana James sedang menunggu, mereka berdua jatuh terguling-guling. Alvon
jatuh di hadapan James, Francis jatuh menimpa satu dari kendaraan di hangar
sampai ringsek.
PERHATIAN
SISA WAKTU PENGHANCURAN DIRI
1 MENIT
James:
“Tepat waktu.”
Alvon:
“Ugh…” (bangkit berdiri)
James:
“Oh, kau jelek sekali.”
Wajah Alvon dan James begitu dekat
satu sama lain, mereka saling pandang selama beberapa saat. Alvon kemudian
memegang senjata yang terpasang di lengan James, mulutnya dicengekeram dan
didekatkan ke lubang kecil di atas senjata oleh Alvon.
MENGAKTIFKAN PENGAMAN
MELEPASKAN MARSCANNON
Marscannon terlepas dari lengan
James, selama sesaat dia terdiam. Ketika James hendak mengatakan sesuatu,
mendadak Francis menerjang Alvon. Dia dijatuhkan dan dicekik, tangan kanan
Francis bersiap untuk memukul. Tapi sebelum melakukannya, tangannya ditahan
oleh James.
James:
“Sudah cukup, kita pergi.”
Francis:
“Setidaknya… (menoleh ke belakang) bisakah kau beri aku kesempatan untuk
memberinya kematian yang terhormat?”
James:
“Aku sedang tak ingin melihat mayat, kita sudah kehabisan waktu.”
Francis:
“Di mana yang lain?”
James:
“Mereka sudah pergi terlebih dahulu, hanya kita yang tersisa.”
Francis:
“Seharusnya kau ikut bersama mereka.” (berdiri)
James:
“Kau bisa kendarai itu kan?” (menunjuk kendaraan di belakang)
Francis:
“Cepat masuk saja dan jangan tanyakan apapun.”
James:
“Tunggu, setidaknya aku sampaikan beberapa patah kata untuknya. Nyalakan dulu
kendaraan itu, kalau kau masih ingin melanjutkan misimu.”
Francis:
“Terserah kau saja.”
James melihat keadaan Alvon yang
terluka cukup parah, wajahnya hangus separuh. Tangan kirinya bengkok ke arah
berlawanan, beberapa giginya patah. Dengan terengah-engah dia mencoba mengambil
sesuatu dari saku jasnya, James dengan cepat mengambilnya sebelum tangannya
bisa mengeluarkannya. Yang ternyata hendak dia ambil adalah sebuah goggle, dia
kemudian memakaikannya pada Alvon. Dia menepuk dadanya kemudian berdiri,
Francis sudah berada di belakangnya sambil mengendarai kendaraan.
Francis:
“Cepat masuk.”
James:
“Terima kasih.”
Francis:
“Tak perlu.”
James:
“Bukan kau.”
PENGHANCURAN DIMULAI DALAM
10… 9… 8…
Alvon:
“Sama-sama.”
James langsung masuk ke dalam,
Francis langsung tancap gas dan masuk ke dalam portal. Mereka masuk ketika
hitungan mencapai 1, Alvon menekan tombol di goggle yang dia kenakan. Gerbang
mesin waktu langsung menutup, mendadak hitung mundur berhenti dan sama sekali
tak terjadi apapun. Beberapa saat kemudian sesuatu jatuh dari lubang di
langit-langit, ternyata dua Jaguaron pengawal Alvon. Mereka berdua terluka
seperti habis ditusuk di perut mereka, tapi kondisi tubuh mereka agak aneh.
Tubuh mereka merah menyala, seakan-akan terbakar dari dalam. Kobaran api
menyelimuti tubuh mereka sampai hangus tak tersisa, Alvon yang terkejut melihat
itu mencoba bangkit. Tapi karena tubuhnya luka parah, dia hanya sanggup
mengangkat tubuh bagian atas saja.
Alvon:
“Penghancuran dihentikan… seharusnya itu tak bisa dilakukan kecuali dari kursi
atau ruang pengawas… siapa…”
Ada yang masuk menyusul dari
langit-langit, Alvon mendongak ke atas. Itu adalah mutan tokek yang tadi
menangkap Olivia, perlahan dia merayap dan turun menghampiri Alvon yang
sekarat. Sebuah mata muncul dari dada mutan itu, mata Absorber. Mulut tokek itu
terbuka, dia mengeluarkan lidahnya.
Alvon:
“Ternyata kau…”
Ujung lidah yang dikeluarkan
memiliki wajah, tak disangka itu adalah wajah Drake. Memiliki mata merah dan
bulu mata seperti cacing, dengan mulut yang sangat tipis. Ada suara langkah
kaki di dalam kegelapan, sepasang kaki muncul dari dalam. Dia adalah pria yang
menangkap Drake di pertambangan ulkamium di Norwegia, memiliki lambang
laba-laba dengan sebuah bola mata di dahinya. Rambut keriting hitam panjang,
dagu belah dan kumis tebal.
Alvon:
“Mungo…”
Mungo:
“Alvon… atau kusebut saja… pengkhianat…”
Alvon:
“Jadi kalian sudah berencana sejak awal untuk menjebakku?”
Drake:
“Gehyahahahahah! Kau tak menyangka bukan bahwa penangkapan dan pengiriman
diriku ke sini adalah disengaja? Sekarang kami juga punya bukti jika kau telah
melakukan upaya pengkhianatan.”
Mungo:
“Kau juga sudah tahu peraturannya, seharusnya kau sudah memberikan kami hasil
pada hari ini tapi kau malah menyimpannya untukmu sendiri.”
Alvon:
“Kalau begitu bagaimana dengan dia? Drake juga menyimpan dan mengkonsumsi
Ulkamium untuk dirinya sendiri.”
Drake:
“Mereka sudah memberiku pengampunan, dan kau salah jika mengira aku sudah gila
karena Ulkamium yang selama ini kulahap. Berkat Gurkanite ciptaanmu, aku bisa
dengan bebas membagi kesadaranku pada semua makhluk reptil yang aku inginkan.
Gehyahahahahah!”
Alvon:
“Kau justru lebih gila dari yang terlihat.”
Mungo:
“Kau memang sudah berevolusi, tapi tingkatanmu masih lebih rendah dari seekor
kera. Kau mengira hal yang menahanmu untuk berevolusi adalah kursi yang
mengekangmu, tapi bukankah kau sudah tahu jika kau berada di bawah pengawasan
‘Fuhrer’?”
Drake:
“Fuhrer sudah mengetahui niatmu sebelum aku dikirim ke sini, kau sudah tahu
takkan ada yang bisa lepas dari pengawasan Fuhrer.”
Alvon:
“Fuhrer… hanyalah salah satu bagian tubuh dari Alterion, tidak semuanya bisa
dilihat oleh kalian.”
Mungo:
“Baiklah, Drake ambil darahnya.”
Drake:
“Dengan senang hati, sepertinya kaulah yang takkan mendendam padaku setelah kau
lahir kembali.”
Mungo:
“Ada kata-kata terakhir?”
Mulut Drake terbuka lebar dan
bersiap untuk menggigitnya dengan sepasang taring, Alvon melihat sisa-sisa
tubuh dari Jaguaron yang hangus.
Alvon:
“Sebenarnya ada 1 hal yang ingin kutanyakan.”
Mungo:
“Drake, berhenti.”
Drake:
“Ta-tapi…”
Mungo:
“Berikan dia kesempatan sebentar.”
Drake:
“Cih, baiklah.”
Mungo:
“Apa yang ingin kau tanyakan?”
Alvon:
“Kau bunuh dua Jaguaron milikku, tapi aku tahu kematian seperti itu bukanlah
sesuatu yang bisa kau lakukan. Bagaimana kau melakukan itu?”
Mungo sejenak terdiam, dia kemudian
mengeluarkan sebuah tabung besar berisi sebuah jarum panjang dan besar. Jarum
itu berlumuran darah, bagian dalam tabung agak tertutup oleh uap.
Mungo:
“Yang membunuh mereka adalah ini, bagian dari tubuh salah satu eksperimenmu.”
Alvon:
“Warhedge…”
Mungo:
“Kami berterima kasih padamu karena kami berhasil mendapatkan sampel darah dari
‘sang penghancur’.”
Alvon teringat kata-kata yang terakhir
kali diucapkan saat dia dihubungi oleh Mungo.
Mungo:
“Lebih baik kau tidak mengambil sedikitpun bagian tubuh dari subyek M46, sebab
sehelai rambutnya pun bisa menghancurkan setengah populasi dari pulau ini.”
Alvon:
(suara hati) “Subyek M46 N4 120K… jadi itu yang dimaksud…”
Mungo:
“Drake, lanjutkan.”
Drake:
“Akhirnya…”
Drake membuka mulutnya lebar-lebar
dan bersiap hendak menerkamnya, tapi Alvon sendiri ternyata masih punya tenaga
untuk bergerak. Dia merebut tabung yang dibawa Mungo dan memecahkannya ke
lantai, dia mengambil duri Warhedge. Drake tak tinggal diam, dia langsung
menggigit leher Alvon dari belakang.
Mungo:
“Percuma melawan, sekali kau digigit olehnya kau takkan bisa menggerakkan
tubuhmu. Bisa di dalam taringnya mampu melumpuhkan seekor gajah dalam 10
detik.”
Drake:
“Gehyahahahaha! Sekarang dirimu…”
Mendadak Drake merasakan sesuatu di
tubuhnya, Alvon menekan tombol di gogglenya. Drake melihat Alvon menusuk
dirinya dengan duri hingga menembus tubuhnya, duri itu sendiri juga menusuk
tubuh tokek yang juga bagian utamanya.
Drake:
“…mati…?”
Alvon:
“Merekam proses.”
Tubuh Alvon dan Drake mulai memerah
dan mengeluarkan uap, tubuh mereka terbakar secara bersamaan dari dalam dengan
cepat. Drake melepaskan gigitannya dan berlari membabi buta, dia menggelepar
dan berteriak kesakitan. Alvon sendiri berbalik ke belakang dengan tenang, dia
melihat Mungo sambil tersenyum.
Alvon:
“Setidaknya… aku tak perlu melihat wajahmu lagi…”
Mungo melihat Alvon yang tubuhnya
kini terbakar habis oleh api, yang tersisa darinya hanyalah goggle yang dia
kenakan. Drake yang tubuh utamanya sudah terbakar dan hanya menyisakan tubuhnya
yang kecil, melata perlahan menuju Mungo.
Drake:
“To… tolong…”
Mungo mengambil goggle milik Alvon,
dia melihat di kaca goggle itu ada tulisan ‘Berhasil mengirim data’. Mungo
mengambil duri yang tergeletak di hadapannya, dia memandang Drake dengan
tatapan sinis.
Mungo:
“Maaf, tapi aku tak bisa membantumu lebih dari ini.”
Drake:
“Ap… ja… jangan, tidak… TIDAAAAAAKK!!”
Mungo menusuk Drake dan membuatnya
terbakar sampai menjadi abu, di saat bersamaan duri yang dia pegang kini
meleleh. Mungo langsung berjalan dan mengoperasikan mesin waktu, gerbang mulai
terbuka. Dia menaiki kendaraan dan mulai menghubungi seseorang melalui sebuah
layar monitor, ada lambang Kristal es berwarna merah muncul di layar.
Mungo:
“Kedua pengkhianat sudah dimusnahkan, objek gagal didapatkan. Tapi subyek M46
masih dalam pengejaran, operasi akan dilanjutkan.”
Mungo langsung mengendarai kendaraan
masuk ke dalam portal, dia mengeluarkan sebuah tombol dari dalam sakunya.
Ketika dia menekan tombol, hitung mundur penghancuran kembali berjalan dari 1
menjadi 0. Ledakan besar muncul di tengah lautan, pulau tersebut lenyap tak
berbekas.