Tuesday, March 25, 2014

Level 30

JEBAKAN

            New York, Amerika Serikat, 16 Oktober 2010, 03:30. Di sebuah mansion yang cukup besar, ada sebuah helicopter baru meninggalkan tempat. Di dalamnya ada Olivia dan Megan, ada beberapa pelayan mengantar kepergian mereka. Setelah mereka pergi dan para maid dan pelayan hendak masuk ke dalam, terdengar suara baling-baling helikopter beberapa saat kemudian. Para pelayan langsung berhenti, dari kejauhan ada sebuah kendaraan yang mirip dengan helicopter mengarah ke mansion. Beberapa saat kemudian helicopter itu sudah mendarat tepat di landasan heli di mansion, para pelayan melihat orang yang baru turun dari heli. Ternyata itu adalah Roy, para pelayan yang melihat malah mendesah.

Roy: “Ayolah… kenapa kalian selalu berwajah begitu setiap aku ke sini?”
Pelayan: “Justru itu masalahnya.”
Maid: “Nona Megan dan Olivia baru saja berangkat untuk menjemputmu dan Tuan James.”
Roy: “Cuma itu?”
Para pelayan: (suara hati) “Kenapa dia bisa begitu santai?”
Pelayan: “Kapan kau kembali? Apa Tuan James bersamamu?”
Maid: “Seharusnya kau juga memberitahu tentang kedatanganmu dan Tuan James.”
?: “Maaf saja, tapi aku memang suka memberi kejutan.”

            Seseorang turun dari helicopter, para pelayan langsung kaget dan membungkuk memberi hormat. Hampir semua maid yang melihatnya terpesona, Ternyata ia adalah James, dia menggunakan topi dan kacamata hitam.

Para Maid: (bersemangat) “Selamat datang, tuan muda James!”
Para Pelayan: “Se-selamat datang… Tuan James.”
James: “Sudahlah tak perlu seformal itu, aku juga tahu saat ini Megan sedang tidak ada.”
Pelayan: “Apakah anda ingin langsung menggunakan kamar anda? Mohon maaf sebelumnya, kami saat ini sedang membersihkannya.”
James: “Tak perlu, aku ingin ke dapur.”
Maid: “Da-dapur, tuan? Anda ingin makan? Kalau begitu biar kami…”
James: “Tidak usah, terima kasih. Aku bertaruh Maggie sudah menyiapkan sesuatu untuk kami sebelum dia pulang, bahan-bahannya sendiri pasti sudah ada di dapur. Tapi… (memegang tangan seorang maid sambil memandang matanya dari dekat) mungkin kau bisa bantu aku untuk mencicipi masakanku.”

            Dalam sekejap maid itu berwajah merah merona, semua maid yang melihat kejadian itu menjadi tersipu-sipu. Roy hanya bisa melihat dengan wajah mual, seseorang melihat dari dalam dengan pandangan dingin.

Roy: “Mereka memang benar-benar bersaudara.”
James: “Baiklah siapa yang mau menurunkan barang yang ada di dalam dan menaruhnya di kamarku?”
Para Maid: “Saya!”
Pelayan: “Siap… tapi Tuan James… kendaraan apa ini?”
James: “Sudah jelas bukan? Sebuah helicopter.”
Para pelayan: (suara hati) “Kenapa helicopter punya 4 roda seperti mobil?”
James: “Kalau kalian heran, ini adalah sebuah prototype produk dan belum diedarkan. Belum ada nama untuk kendaraan ini, tapi cukup efisien untuk digunakan.”
Para Pelayan: “Ooooh.”
James: “Roy, kau yang jelaskan sisanya.”
Roy: “Siap, e-eh? Aku?”
James: (menatap dengan seram) “Keberatan?”
Roy: “Te-tentu saja tidak, baiklah. Kendaraan ini punya dua fungsi seperti mobil dan helicopter, bisa terbang di udara dan berjalan di darat.”

            Beberapa saat kemudian, James masuk ke sebuah kamar mandi. Dia melepaskan topi dan kacamatanya, tak diduga jika di balik topinya ada rambut yang cukup panjang. Ternyata yang sedari tadi mereka anggap James adalah Megan yang sedang dalam penyamaran, dia memandangi dirinya sendiri di cermin.

Megan: “Semoga kau cepat kembali, kakakku yang bodoh.”


            Mundur atau maju ke masa kejadian sebenarnya yang terjadi saat ini, di sebuah laboratorium di pulau misterius di samudra Atlantik. Di hangar tempat James dan yang lain menunggu Francis, terjadi keributan.

Roy: “Apa maksudmu tidak akan ikut?!”
James: “Kalian bisa pergi terlebih dahulu, aku tetap akan menunggu Francis di sini.”
Megan: “Kau gila?! Waktunya bahkan tinggal sedikit, dia takkan sempat!”
James: “Dia akan tepat waktu.”
Roy: “Tepat waktu sampai waktunya habis maksudmu? Tidak, James Archibald Yorgins. Masuk ke sini sekarang juga, kita akan…”
James: “…pulang bersama-sama, tentu saja… memang sejak kapan aku tak pernah pulang?”
Roy: “Jangan tatap aku dengan mata seperti itu.”
James: “Dia adalah pegawaiku, aku akan menunggu. (duduk) Karena dia akan kembali, aku bisa jamin.”

            Roy menatap matanya yang terlihat serius, selama beberapa saat akhirnya dia mendesah. Dia duduk kembali di tempatnya dan menutup pintu, James sendiri melihat Megan dan mereka berdua mengangguk secara bersamaan. Heli itu kemudian berjalan mundur dan memutari James, setelah itu mengebut dengan kecepatan tinggi ke dalam gerbang.

James: “Aku lupa menanyakan bagaimana cara melepas ini.” (melihat senjata di tangan)


            Di laboratorium, Francis masih berada bersama Alvon. Waktu yang tersisa sebelum penghancuran 2 menit, mereka berdua saling berhadapan.

Francis: “Jaguaron memang memiliki penciuman yang tajam, tapi ada beberapa kelemahan untuk mutan yang bisa berubah menjadi hewan. Pertama, mereka hanya bisa mencium musuh dari kejauhan berjarak sekitar 3 km. Kedua, adalah tidak mampu melihat dalam jarak dekat.”
Alvon: “Bagian pertama memang benar, kelemahan ini sudah secara umum diketahui di masa depan. Hal itu bisa diantisipasi dengan gas air mata atau menyembunyikan diri di tempat di mana bau tersebut tak bisa tercium, tapi bagaimana kau tahu tentang yang kedua?”
Francis: “Aku tahu setelah serangan fisik yang pertama, dari kejauhan kau tahu bahwa aku akan menyerang. Kau sempat menghindari semua tembakan karena aku melakukannya dari jarak jauh, tapi saat aku melakukan serangan fisik dari jarak dekat kau bahkan tak sempat menghindar.”
Alvon: “Ugh, jadi itu kekurangannya? Baguslah dengan begini aku tahu apa yang perlu diperbaiki.”
Francis: “Kau takkan kubiarkan.”
Alvon: (menepuk tangan) “Ah, benar. Masih ada seseorang menunggumu di hangar, seorang manusia.”
Francis: (suara hati) “James.”
Alvon: “Daya penciumanku memang meningkat sejauh 1 km karena wujud ini, begitu juga dengan kecepatan yang hanya meningkat sedikit. Apa kau yakin tak ingin menyusul mereka?”

            Francis langsung terbang menerjang Alvon, tapi dia berhasil menghindar dan meloncatinya. Sayangnya ketika dia meloncat, telapak kaki Francis sudah tepat berada di hadapan wajahnya dan menembakkan laser. Dia terkena serangan telak, ekornya kemudian ditarik berikut tubuhnya. Dia dibanting ke lantai, lehernya lalu dicekik. Alvon langsung menendang tubuh Francis jauh dari dirinya, dia bangkit dengan setengah wajah hangus. Ia langsung meloncat ke atas kepalanya dan mencoba melepas helmnya, kedua pergelangan tangannya dibelit oleh ekornya. Tapi Francis kemudian terbang bersama dengan Alvon menembus langit-langit, setelah itu dia menjatuhkan diri dan meluncur terbang ke bawah menembus lantai. Mereka menembus lantai terbawah di mana James sedang menunggu, mereka berdua jatuh terguling-guling. Alvon jatuh di hadapan James, Francis jatuh menimpa satu dari kendaraan di hangar sampai ringsek.

PERHATIAN
SISA WAKTU PENGHANCURAN DIRI
1 MENIT

James: “Tepat waktu.”
Alvon: “Ugh…” (bangkit berdiri)
James: “Oh, kau jelek sekali.”

            Wajah Alvon dan James begitu dekat satu sama lain, mereka saling pandang selama beberapa saat. Alvon kemudian memegang senjata yang terpasang di lengan James, mulutnya dicengekeram dan didekatkan ke lubang kecil di atas senjata oleh Alvon.

MENGAKTIFKAN PENGAMAN
MELEPASKAN MARSCANNON

            Marscannon terlepas dari lengan James, selama sesaat dia terdiam. Ketika James hendak mengatakan sesuatu, mendadak Francis menerjang Alvon. Dia dijatuhkan dan dicekik, tangan kanan Francis bersiap untuk memukul. Tapi sebelum melakukannya, tangannya ditahan oleh James.

James: “Sudah cukup, kita pergi.”
Francis: “Setidaknya… (menoleh ke belakang) bisakah kau beri aku kesempatan untuk memberinya kematian yang terhormat?”
James: “Aku sedang tak ingin melihat mayat, kita sudah kehabisan waktu.”
Francis: “Di mana yang lain?”
James: “Mereka sudah pergi terlebih dahulu, hanya kita yang tersisa.”
Francis: “Seharusnya kau ikut bersama mereka.” (berdiri)
James: “Kau bisa kendarai itu kan?” (menunjuk kendaraan di belakang)
Francis: “Cepat masuk saja dan jangan tanyakan apapun.”
James: “Tunggu, setidaknya aku sampaikan beberapa patah kata untuknya. Nyalakan dulu kendaraan itu, kalau kau masih ingin melanjutkan misimu.”
Francis: “Terserah kau saja.”

            James melihat keadaan Alvon yang terluka cukup parah, wajahnya hangus separuh. Tangan kirinya bengkok ke arah berlawanan, beberapa giginya patah. Dengan terengah-engah dia mencoba mengambil sesuatu dari saku jasnya, James dengan cepat mengambilnya sebelum tangannya bisa mengeluarkannya. Yang ternyata hendak dia ambil adalah sebuah goggle, dia kemudian memakaikannya pada Alvon. Dia menepuk dadanya kemudian berdiri, Francis sudah berada di belakangnya sambil mengendarai kendaraan.

Francis: “Cepat masuk.”
James: “Terima kasih.”
Francis: “Tak perlu.”
James: “Bukan kau.”

PENGHANCURAN DIMULAI DALAM
10… 9… 8…

Alvon: “Sama-sama.”

            James langsung masuk ke dalam, Francis langsung tancap gas dan masuk ke dalam portal. Mereka masuk ketika hitungan mencapai 1, Alvon menekan tombol di goggle yang dia kenakan. Gerbang mesin waktu langsung menutup, mendadak hitung mundur berhenti dan sama sekali tak terjadi apapun. Beberapa saat kemudian sesuatu jatuh dari lubang di langit-langit, ternyata dua Jaguaron pengawal Alvon. Mereka berdua terluka seperti habis ditusuk di perut mereka, tapi kondisi tubuh mereka agak aneh. Tubuh mereka merah menyala, seakan-akan terbakar dari dalam. Kobaran api menyelimuti tubuh mereka sampai hangus tak tersisa, Alvon yang terkejut melihat itu mencoba bangkit. Tapi karena tubuhnya luka parah, dia hanya sanggup mengangkat tubuh bagian atas saja.

Alvon: “Penghancuran dihentikan… seharusnya itu tak bisa dilakukan kecuali dari kursi atau ruang pengawas… siapa…”

            Ada yang masuk menyusul dari langit-langit, Alvon mendongak ke atas. Itu adalah mutan tokek yang tadi menangkap Olivia, perlahan dia merayap dan turun menghampiri Alvon yang sekarat. Sebuah mata muncul dari dada mutan itu, mata Absorber. Mulut tokek itu terbuka, dia mengeluarkan lidahnya.

Alvon: “Ternyata kau…”

            Ujung lidah yang dikeluarkan memiliki wajah, tak disangka itu adalah wajah Drake. Memiliki mata merah dan bulu mata seperti cacing, dengan mulut yang sangat tipis. Ada suara langkah kaki di dalam kegelapan, sepasang kaki muncul dari dalam. Dia adalah pria yang menangkap Drake di pertambangan ulkamium di Norwegia, memiliki lambang laba-laba dengan sebuah bola mata di dahinya. Rambut keriting hitam panjang, dagu belah dan kumis tebal.

Alvon: “Mungo…”
Mungo: “Alvon… atau kusebut saja… pengkhianat…”
Alvon: “Jadi kalian sudah berencana sejak awal untuk menjebakku?”
Drake: “Gehyahahahahah! Kau tak menyangka bukan bahwa penangkapan dan pengiriman diriku ke sini adalah disengaja? Sekarang kami juga punya bukti jika kau telah melakukan upaya pengkhianatan.”
Mungo: “Kau juga sudah tahu peraturannya, seharusnya kau sudah memberikan kami hasil pada hari ini tapi kau malah menyimpannya untukmu sendiri.”
Alvon: “Kalau begitu bagaimana dengan dia? Drake juga menyimpan dan mengkonsumsi Ulkamium untuk dirinya sendiri.”
Drake: “Mereka sudah memberiku pengampunan, dan kau salah jika mengira aku sudah gila karena Ulkamium yang selama ini kulahap. Berkat Gurkanite ciptaanmu, aku bisa dengan bebas membagi kesadaranku pada semua makhluk reptil yang aku inginkan. Gehyahahahahah!”
Alvon: “Kau justru lebih gila dari yang terlihat.”
Mungo: “Kau memang sudah berevolusi, tapi tingkatanmu masih lebih rendah dari seekor kera. Kau mengira hal yang menahanmu untuk berevolusi adalah kursi yang mengekangmu, tapi bukankah kau sudah tahu jika kau berada di bawah pengawasan ‘Fuhrer’?”
Drake: “Fuhrer sudah mengetahui niatmu sebelum aku dikirim ke sini, kau sudah tahu takkan ada yang bisa lepas dari pengawasan Fuhrer.”
Alvon: “Fuhrer… hanyalah salah satu bagian tubuh dari Alterion, tidak semuanya bisa dilihat oleh kalian.”
Mungo: “Baiklah, Drake ambil darahnya.”
Drake: “Dengan senang hati, sepertinya kaulah yang takkan mendendam padaku setelah kau lahir kembali.”
Mungo: “Ada kata-kata terakhir?”

            Mulut Drake terbuka lebar dan bersiap untuk menggigitnya dengan sepasang taring, Alvon melihat sisa-sisa tubuh dari Jaguaron yang hangus.

Alvon: “Sebenarnya ada 1 hal yang ingin kutanyakan.”
Mungo: “Drake, berhenti.”
Drake: “Ta-tapi…”
Mungo: “Berikan dia kesempatan sebentar.”
Drake: “Cih, baiklah.”
Mungo: “Apa yang ingin kau tanyakan?”
Alvon: “Kau bunuh dua Jaguaron milikku, tapi aku tahu kematian seperti itu bukanlah sesuatu yang bisa kau lakukan. Bagaimana kau melakukan itu?”

            Mungo sejenak terdiam, dia kemudian mengeluarkan sebuah tabung besar berisi sebuah jarum panjang dan besar. Jarum itu berlumuran darah, bagian dalam tabung agak tertutup oleh uap.

Mungo: “Yang membunuh mereka adalah ini, bagian dari tubuh salah satu eksperimenmu.”
Alvon: “Warhedge…”
Mungo: “Kami berterima kasih padamu karena kami berhasil mendapatkan sampel darah dari ‘sang penghancur’.”

            Alvon teringat kata-kata yang terakhir kali diucapkan saat dia dihubungi oleh Mungo.

Mungo: “Lebih baik kau tidak mengambil sedikitpun bagian tubuh dari subyek M46, sebab sehelai rambutnya pun bisa menghancurkan setengah populasi dari pulau ini.”

Alvon: (suara hati) “Subyek M46 N4 120K… jadi itu yang dimaksud…”
Mungo: “Drake, lanjutkan.”
Drake: “Akhirnya…”

            Drake membuka mulutnya lebar-lebar dan bersiap hendak menerkamnya, tapi Alvon sendiri ternyata masih punya tenaga untuk bergerak. Dia merebut tabung yang dibawa Mungo dan memecahkannya ke lantai, dia mengambil duri Warhedge. Drake tak tinggal diam, dia langsung menggigit leher Alvon dari belakang.
Mungo: “Percuma melawan, sekali kau digigit olehnya kau takkan bisa menggerakkan tubuhmu. Bisa di dalam taringnya mampu melumpuhkan seekor gajah dalam 10 detik.”
Drake: “Gehyahahahaha! Sekarang dirimu…”

            Mendadak Drake merasakan sesuatu di tubuhnya, Alvon menekan tombol di gogglenya. Drake melihat Alvon menusuk dirinya dengan duri hingga menembus tubuhnya, duri itu sendiri juga menusuk tubuh tokek yang juga bagian utamanya.

Drake: “…mati…?”
Alvon: “Merekam proses.”

            Tubuh Alvon dan Drake mulai memerah dan mengeluarkan uap, tubuh mereka terbakar secara bersamaan dari dalam dengan cepat. Drake melepaskan gigitannya dan berlari membabi buta, dia menggelepar dan berteriak kesakitan. Alvon sendiri berbalik ke belakang dengan tenang, dia melihat Mungo sambil tersenyum.

Alvon: “Setidaknya… aku tak perlu melihat wajahmu lagi…”

            Mungo melihat Alvon yang tubuhnya kini terbakar habis oleh api, yang tersisa darinya hanyalah goggle yang dia kenakan. Drake yang tubuh utamanya sudah terbakar dan hanya menyisakan tubuhnya yang kecil, melata perlahan menuju Mungo.

Drake: “To… tolong…”

            Mungo mengambil goggle milik Alvon, dia melihat di kaca goggle itu ada tulisan ‘Berhasil mengirim data’. Mungo mengambil duri yang tergeletak di hadapannya, dia memandang Drake dengan tatapan sinis.

Mungo: “Maaf, tapi aku tak bisa membantumu lebih dari ini.”
Drake: “Ap… ja… jangan, tidak… TIDAAAAAAKK!!”

            Mungo menusuk Drake dan membuatnya terbakar sampai menjadi abu, di saat bersamaan duri yang dia pegang kini meleleh. Mungo langsung berjalan dan mengoperasikan mesin waktu, gerbang mulai terbuka. Dia menaiki kendaraan dan mulai menghubungi seseorang melalui sebuah layar monitor, ada lambang Kristal es berwarna merah muncul di layar.

Mungo: “Kedua pengkhianat sudah dimusnahkan, objek gagal didapatkan. Tapi subyek M46 masih dalam pengejaran, operasi akan dilanjutkan.”


            Mungo langsung mengendarai kendaraan masuk ke dalam portal, dia mengeluarkan sebuah tombol dari dalam sakunya. Ketika dia menekan tombol, hitung mundur penghancuran kembali berjalan dari 1 menjadi 0. Ledakan besar muncul di tengah lautan, pulau tersebut lenyap tak berbekas.

No comments:

Post a Comment